
Semua anak-anak asuh Arfan mengelilingi Mentari dan Arfan, mereka sangat bahagia sebab anugerah yang mereka dapatkan hari ini benar-benar tidak akan pernah terlupakan.
"Aku akan memasak makanan yang enak untuk kalian semua, sebaiknya kita kembali ke club sekarang!" ucap Mentari yang disambut antusias oleh semuanya.
Mereka melangkah meninggalkan kampus, "Sayang apakah kau yakin akan membuatkan makanan untuk mereka?" Tanya Arfan ketika mereka sedah masuk ke dalam mobil.
"Apa Kakak meragukanku?"
"Bukan begitu sayang, aku hanya tidak mau kamu terlalu lelah. Bukankah tadi kamu baru saja selesai berjuang?"
"Lihat kondisimu, dengan perut sebesar itu apakah kau akan bisa memasak banyak makanan untuk mereka?"
Mentari tersenyum, "Kakak jangan khawatir ya, aku pasti akan berhati-hati."
"Kalau begitu baiklah, aku akan membantumu nanti."
"Terimakasih Kak!"
Mentari dan Arfan kini sudah sampai di club, Siska dan Arman yang diberi tugas oleh Arfan untuk berbelanja juga sepertinya baru saja memarkirkan mobil mereka di depan club.
Anak-anak berhamburan keluar untuk membantu keduanya menurunkan belanjaan dan membawanya masuk.
Mentari dan para perempuan yang lainnya bersiap untuk memasak.
"Mentari aku ucapkan selamat atas keberhasilanmu!" Ilyas yang baru saja datang mengulurkan tangannya untuk memberikan selamat kepada Mentari.
Mentari berdiri dari duduknya, dia tersenyum bahagia melihat Ilyas yang sudah semakin terlihat baik tidak seperti saat dia berada di dalam tahanan. Mentari menyabut uluran tangan Ilyas dengan senang hati.
"Terimakasih Ilyas, kau juga pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan baik."
"Aku akan berusaha lebih keras lagi Mentari."
"Demi Ibuku!" sambung Ilyas.
"Ibumu pantas mendapatkannya dari kamu Yas!" Mentari menepuk lengan Ilyas sebagai seorang sahabat yang pernah berjuang bersama.
Arfan datang menghampiri keduanya, "Yas aku minta maaf ya karena permasalahan kita hubungan persahabatan kalian jadi sempat merenggang."
"Saya yang seharusnya minta maaf Pak, saya tahu Bapak adalah kebahagiaan Mentari jadi saya benar-benar ikhlas sebab fokus saya sekarang adalah Ibu dan Bapak telah menjaga Ibu saya dengan sangat baik, jadi tidak ada alasan bagi saya untuk membenci kalian lagi."
Suasana akrab nan haru benar terlihat, mereka bahu membahu sebab ternyata ketulusan dan kesabaranlah yang mampu memecah karang yang sangat keras sekalipun apalagi hati manusia yang pada hakekatnya sangat lembut kecuali bagi orang-orang yang telah tertutup mata hatinya.
Setelah acara memasak usai, suasana malam ini terasa begitu meriah. Mereka semua berkumpul bersama merayakan pencapaian yang telah berhasil mereka peroleh.
Makan malam diselingi canda tawapun tercipta begitu hangat, namun tiba-tiba perasaan Arfan mendadak tidak enak. Dia merasakan kekosongan yang begitu dalam seperti ada yang kurang.
Mentari yang melihat perubahan air muka Arfan menghampiri suaminya usai makan malam.
"Kak ada apa?"
"Sepertinya ada yang sedang Kakak pikirkan?"
Arfan menoleh dan membalikkan badannya ke arah Mentari, "Aku tidak apa-apa sayang, hanya saja perasaanku tiba-tiba berubah. Semua sudah aku dapatkan, namun aku merasa ada hal yang terasa kurang dan aku tidak tahu itu apa."
Mentari memeluk Arfan dengan perut buncitnya yang memberikan jarak kepada keduanya.
"Kak kamu harus yakin jika tidak ada hal buruk yang terjadi, aku tahu pasti ada hal yang mungkin sedang coba kamu ingat tapi pelan-pelan saja. Kasihan anak-anak jika melihatmu seperti ini."
"Aku tahu sayang, maafkan aku."
Mentari mengurai pelukannya, "Sebaiknya kita bergabung bersama mereka lagi Kak!"
Arfan melangkah bersama istrinya, menghampiri anak-anak yang masih saling bercengkrama. Steven juga sedang asyik bersama Mama dan Papanya, begitu pula dengan Zaki dan Marryana mereka sedang berusaha mengambil hati Steven dan memberikan pengertian jika dia nantinya akan memiliki dua Papa dan dua Mama.
Arman tergopoh menghampiri Arfan yang baru saja duduk di dekat anak-anak, sedikit menyeruput kopi buatan Mentari yang asapnya saja masih mengepul sembari menikmati suasana malam yang akan berjalan cukup panjang karena mungkin saja mereka tidak terpikirkan untuk tidur padahal mereka baru saja menempuh perjalanan yang cukup jauh.
"Fan ada kabar yang kurang baik untuk kita!" bisik Arman di telinga Arfan.
"Ada apa Man, katakan pelan-pelan!"
Mentari mengernyitkan dahinya, Arman yang menyadari keberadaan Mentari bersama mereka tentu tidak akan mengatakan berita yang dibawanya di depan istri Arfan itu.
"Fan sebaiknya kita bicara di tempat lain saja!"
Arfan bangkit dari duduknya, mengikuti langkah Arman.
"Di sini saja Man, katakan apa yang terjadi?"
"Paman Faisal masuk rumah sakit Fan!"
"Apa maksudmu Man?"
"Aku baru saja menerima telfon dari rumah sakit Fan!"
"Kenapa bisa begitu Man?"
"Ada penyusup masuk ke perusahaan Fan, dia mencuri data-data penting perusahaan di saat kita lengah Fan, Paman Faisal sudah berusaha menyelamatkan apa yang bisa beliau lakukan namun beliau kelelahan sehingga beliau jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit."
"Kenapa kamu tidak mengatakannya sedari awal Man?"
"Semuanya terjadi sangat cepat Fan, aku juga tidak tahu. Aku baru saja mengetahuinya tadi Fan."
"Baiklah, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Paman Faisal sedang mendapatkan penanganan, Nenek Wijaya dan Kakek Mahmud juga sudah ada bersama Paman Faisal, yang perlu kita lakukan adalah menyelamatkan data perusahaan agar saham kita besok pagi tidak anjlok di level paling dasar Fan."
"Apa maksudmu Man?"
"Pencuri itu tidak hanya mengambil data kita, tapi dia juga menyebarkan virus yang menjangkiti hampir keseluruhan komputer perusahaan dan hanya komputer milik Paman Faisal saja yang berhasil selamat. Jadi kita harus menyelamatkannya sebelum terlambat!"
"Kalau begitu sebaiknya kita pergi sekarang!"
"Kami ikut!" ucap kompak Mentari, Siska dan Ilyas yang ternyata mendengarkan sejak tadi obrolan mereka berdua.
"Ka-kalian?"
"Pak biarakan saya membalas kebaikan Bapak dengan sedikit hal yang mungkin bisa saya lakukan untuk Anda Pak." Ucap Ilyas meyakinkan Arfan.
"Benar Kak, mungkin kami bisa membantu."
"Kami paham algoritma komputer jadi mungkin kami bisa sedikit berguna!" Siska juga ikut menambahi.
"Kalau begitu baiklah, mungkin dengan banyak orang akan lebih cepat kita mengatasinya!"
Mereka bersiap untuk pergi namun Marryana dan Zaki menghadang langkah mereka berlima, "Eits... Jangan lupakan kami karena kami juga bisa membantu dalam misi penyelamatan ini!"
"Baiklah ayo!" ucap Arfan mengintruksi agar semuanya bergegas sebab sudah tidak ada waktu lagi.
"Tom titip anak-anak ya, maaf aku selalu merepotkan!" ucap Arfan sambil berlalu.
"Hei... Sebenarnya ada apa ini, kenapa kalian semua sepertinya sedang terburu-buru?"
"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya Tom, kami pergi dulu!"
Rombongan Arfan meninggalkan club dengan menaiki tiga mobil, menyisakan Tomi dengan kebingungannya.
"Sa sebenarnya apa yang terjadi, kenapa sepertinya mereka serius sekali?"
Sania mengangkat bahunya tanda dia juga tidak tahu apa-apa.
"Sudahlah Tom sebaiknya kita masuk, kasihan anak-anak. Lagipula, Arfan memang begitu kan, dia tidak akan bercerita sebelum semuanya selesai."
"Iya Sa aku tahu, tapi kenapa mereka semua ikut bersama Arfan. Sedangkan kita seperti monyet kena peluru, tidak tahu apa-apa."
"Sudahlah Tom tidak perlu dipikirkan, ayo kita masuk!"
Sania melangkah masuk meninggalkan Tomi yang masih bertanya-tanya mengenai hal apa yang sebenarnya terjadi dan dia tidak akan pernah menemukan jawabannya, sampai Arfan nanti kembali.
Kini Arfan dan rombongan sudah sampai di depan perusahaan milik Neneknya. Perusahaan yang dibangun dengan kerja keras dan air mata.
Arfan menghembuskan nafasnya kasar, "Aku pasti akan menyelematkannya Nek, aku janji!" Arfan membatin sebab dia tahu jika Neneknya pasti sedang sedih saat ini sebab perusahaan yang telah dibangunnya dengan susah payah akan hancur hanya dengan hitungan jam dari sekarang jika mereka tidak berhasil menyelamatkannya malam ini.
"Teman-teman apakah kalian siap?"
"Kami siap Fan!" jawab mereka serempak.
"Mentari kau jangan terlalu lelah ya, jika sudah tidak sanggup maka beristirahatlah!"
"Iya Kak, jangan khawatirkan itu. Kita semua pasti kuat!" jawab Mentari meyakinkan suaminya.
Mereka memasuki perusahaan, tampak wajah-wajah lelah masih berada disana. Arfan tahu jika karyawan perusahaan sedang berusaha keras untuk menyelamatkan perusahaan.
Arfan melihat gelagat mencurigakan dari salah satu karyawan, dia tampak kaget begitu melihat Arfan dan rombongan masuk ke dalam perusahaan.
"Akan aku bereskan dia nanti, jika benar dugaanku maka aku tidak akan melepaskannya." Pikir Arfan sebab fokusnya kali ini bukan mencari siapa pelakunya namun menstabilkan perusahaan terlebih dahulu baru mencari siapa pelakunya.
Arfan berhenti di depan semua karyawan, "Kalian semua pulanglah, kami akan mengatasinya. Terimakasih karena kalian sudah bekerja keras!" ucapnya yang membuat semua karyawan menyambut baik perintah Arfan tersebut karena memang mereka sudah lelah dengan semuanya sejak tadi pagi.
"Kau tetap di sini!" perintah Arfan kepada salah satu karyawan dengan tanda pengenal bernama Indra.
"Saya Pak?" Tunjuk Indra kepada dirinya sendiri.
"Iya kamu, mari ikut kami!"
Arfan membawa Indra ke ruangan Paman Faisal dan memerintahkannya untuk duduk selama mereka sedang bekerja.
Laki-laki itu nampak gugup dan ketakutan sehingga dia tidak berani untuk melarikan diri, dia sudah pasrah. Sedangkan di rumah sakit, Paman Faisal baru saja sadar setelah cairan infus masuk ke dalam tubuhnya. Wajahnya pucat dengan bibir yang membiru.
Nenek Wijaya menghampiri saudara laki-laki suaminya itu, "Faisal kau sudah sadar?"
Paman Faisal tersenyum, "Maafkan aku Kak, aku tidak becus mengurus perusahaan sehingga terjadi hal seperti ini."
"Faisal semua ini bukan salahmu, kau jangan merasa bersalah seperti itu."
"Ta-tapi Kak?"
"Sekarang fokuslah pada kesehatannmu, jangan pikirkan apa-apa lagi. Kau sudah bekerja sangat keras."
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Hai Kak, Author datang menyapa kalian nih. Maafkan author ya karena lama sekali tidak update. Tapi, semua itu author lakukan bukan tanpa alasan ya, Ibu author baru saja meninggal dunia saat bulan ramadhan jadi beberapa hari ini baru saja selesai memperingati 40 hari kepergian beliau 😭😭😭 banyak hal yang harus dipersiapakan dan dilakukan jadi tenaga dan pikiran author benar-benar terkuras hingga tidak bisa konsentrasi untuk update, semoga bisa dimaklumi ya Kak. Sekali lagi maafkan author ya Kak 🙏🙏🙏🙏, dan mohon do'anya semoga Ibu author husnul hotimah. Aamiin 🤲🤲🤲
Salam sayang dan cinta dari author untuk kakak-kakak semua 💕💕💕🥰🥰🥰
Peluk online 🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘😘