
Pada panggilan pertama Bu Kartika sudah tersambung dengan Mentari.
"Hallo Bu, ada apa?" Tanya Mentari.
"Kamu di mana sekarang Mentari?!"
"A-aku ada di...,"
"Di asrama Bu, ya di asrama...,"
"Kamu sedang bersama pria tua itu kan?"
"Ibu dan Ayah sudah tahu semuanya Mentari karena Ilyas sudah menceritakan semua kelakuan kamu di belakang Ayah dan Ibu!"
"Bu???"
Arfan yang melihat Mentari sedang menerima telfon di depan menghampirinya, Arfan mendengar makian-makian yang terlontar dari seberang telfon. Arfan mengambil ponsel di telinga Mentari.
"Saya bertanggung jawab atas putri ibu!" suara berat Arfan menjawab makian dari Bu Kartika.
"Kau...!"
"Apa yang sudah kamu lakukan pada putriku hah!"
"Kau ini memang pria tua tidak tahu diri!"
"Bolehkah kita bertemu besok tante, saya ingin berbicara serius dengan om dan tante."
Bu Kartika tidak menjawab permintaan Arfan dan langsung menutup sambungan telfonnya.
Saat ini Ilyas merasa berada di atas angin karena berhasil mempengaruhi orangtua Mentari terutama ibunya yang sedari awal tidak menyukai Arfan yang dianggap oleh Bu Kartika sebagai pria tua dan tidak pantas untuk putrinya.
"Bagaimana ini Kak?" Mentari merasa cemas.
"Aku akan mengatasinya, kamu tidak perlu khawatir dengan masalah ini. Sekarang saatnya kamu beristirahat!"
Mentari masuk ke kamar yang sudah dipersiapkan untuknya, malam ini dia benar-benar tidak bisa tidur. Ibunya marah besar, dia tahu jika Ibunya mengetahui hal ini pasti akan murka. Tetapi Mentari memang tidak mempunyai pilihan lain selain menghadapinya.
Arfan dan Mentari kini sudah berada di depan rumah orangtua Mentari. Mereka memutuskan untuk segera datang atas saran dari Nenek Wijaya agar masalah tidak semakin berlarut-larut.
"Kak aku takut," Mentari merasa gugup untuk bertemu dengan orangtuanya sendiri.
"Bukankah mereka orangtuamu, seharusnya yang takut adalah aku, coba kau lihatlah aku apakah ada raut ketakutan di wajahku!" Arfan sedikit tertawa, dia berusaha memecahkan suasana di tengah-tengah kegugupannya, Arfan berusaha mengatasi hal itu. Bukan berarti dia takut berhadapan dengan orangtua Mentari, hanya saja menemui orangtua dari gadis yang dia cintai bukanlah sebuah perkara yang mudah.
Arfan dipersilakan masuk oleh Pak Mahendra, sedangkan Bu Kartika terlihat sangat cuek dan memasang wajah tidak bersahabat sama sekali.
"Mari Nak, silakan duduk dulu!" perintah Pak Mahendra.
"Terimakasih om,"
"Nak Arfan sebelumnya kami memang kaget atas apa yang Ilyas ceritakan semalam, kami ingin mendengarnya langsung dari kalian agar tidak terjadi salah paham."
"Untuk apa meminta penjelasan, Ilyas tidak mungkin berbohong kepada kita!"
"Bu kami tidak melakukan apapun seperti yang kalian bayangkan!"
"Mentari pergi ke kamarmu sekarang!" perintah Bu Kartika yang mulai sewot.
"Aku akan di sini Bu!" tolak Mentari.
"Ibu bilang pergi ke kamarmu sekarang!"
Arfan mengangguk kepada Mentari agar dia mematuhi perkataan ibunya.
"Apa yang sudah kalian lakukan, cepat jelaskan pada kami!" Bu Kartika sudah mulai tidak sabaran.
Arfan menjelaskan semua kejadian yang menimpa Mentari tempo hari, hingga kejadian sore kemarin yang dilakukan oleh Ilyas kepada Mentari. Bu Kartika dengan menutup mata hatinya tidak mempercayai perkataan Arfan sama sekali.
"Percayalah aku tidak akan pernah melampaui batas sebelum kami menikah,"
"Hah menikah katamu, jangan pernah berharap bisa menikah dengan putriku. Aku tidak akan pernah merestui kalian!" Bu Kartika beranjak meninggalkan Arfan dan suaminya, sejurus kemudian terdengar bunyi bantingan pintu kamar.
"Fan cepat temui Mentari di kamarnya, dia mungkin sedang bersedih sekarang karena ucapan ibunya, selama ini dia belum pernah dimarahi oleh ibunya barang sekali pun!"
"Tapi om,"
"Om mempercayai semua perkataanmu. Om yakin kamu adalah pria yang bertanggungjawab."
"Naiklah, hibur dia." Pak Mahendra mempersilahkan Arfan menuju ke kamar Mentari.
Arfan menaiki tangga dengan perlahan dan mengetuk pintu kamar gadis itu.
"Boleh aku masuk?"
Mentari mempersilakan Arfan masuk ke dalam kamarnya, "Maafkan aku Mentari, kamu jadi dimarahi oleh ibumu karena aku."
"Aku baik Kak, justru aku mengkhawatirkan kamu!"
"Mulai sekarang tetaplah di sisiku karena aku tidak akan pernah melepaskanmu, kita akan berjuang bersama."
Arfan memeluk Mentari, "Aku mencintaimu Mentari kecil, sesakit apapun aku akan menahannya asalkan kamu tetap bersamaku. Maukah kamu berjuang bersamaku?"
"Jangan pernah menangis lagi!"
"Berjanjilah!"
Mentari hanya mengangguk, "Aku akan kembali ke club, mimpikan aku malam ini dan aku akan memimpikanmu juga."
Arfan ke luar dari kamar Mentari, berpamitan dengan pak Mahendra kemudian pergi dari kediaman orangtua Mentari.
Arfan sampai di club, di sana sepertinya tengah terjadi keributan. Arfan melihat Tomi terkapar dengan beberapa luka memar di wajahnya. Beberapa anak sedang membantu untuk membersihkan lukanya, Sania tampak menangis melihat kondisi Tomi.
"Ada apa ini hah?" Tanya Arfan.
"Manager berkelahi Bos," jawab Rafi yang berdiri di dekat Arfan.
Arfan menerabas kerumunan, "Sania sebaiknya kau bawa Steven masuk, aku akan mengurusnya!"
Sania enggan meninggalkan Tomi, "Aku akan tetap di sini!"
"Sania tolong jangan keras kepala!"
Arfan dengan dibantu anak-anak membawa Tomi masuk ke dalam mobil untuk dilarikan ke rumah sakit, Tomi harus mendapatkan perawatan medis segera karena lukanya cukup banyak, Arfan khawatir sesuatu terjadi pada manager kepercayaannya itu.
Arfan yang ditemani Rafi dan Dio menuju rumah sakit terdekat. Sore itu jalanan cukup macet sebab bertepatan dengan waktu orang-orang pulang dari bekerja.
"Bagaimana ini Bos, jalanan sangat macet." Dio yang menyetir tampak khawatir dengan kondisi Tomi, sedangkan berputarpun sudah tidak memungkinkan.
"Kita tunggu sebentar lagi, semoga jalan cepat lancar kembali."
Jalanan semakin ramai dengan kendaraan, bunyi klakson terdengar silih berganti. Ditambah hujan turun sangat deras, "Bos di depan terjadi longsor yang menutup sebagian bahu jalan sehingga menyebabkan macet cukup panjang!" Rafi melaporkan kejadian penyebab kemacetan setelah tadi mencari informasi kepada pengendara lain.
"Pantas saja kemacetan ini tidak cepat terurai,"
"Petugas sedang membersihkan material longsoran, sebentar lagi kemungkinan selesai!" Rafi menjelaskan.
Arfan beralih memandang Tomi, "Bertahanlah Tom, ada Sania dan Steven yang menunggumu untuk selalu berada di sisi mereka!" Arfan menggenggam tangan Tomi.
"Maafkan aku Fan," Tomi berkata lirih dan sangat lemah.
Perlahan antrean kendaraan mulai bisa bergerak, meskipun pelan namun pasti. Kini mereka sudah terbebas dari kemacetan, Dio segera melajukan kendaraannya menuju rumah sakit.
Tomi dibawa ke instalasi gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan. Arfan belum mengetahui dengan siapa sebenarnya Tomi berkelahi hingga terkapar tidak berdaya. Di saat bersamaan datanglah Arman yang sepertinya baru saja membeli air mineral menuju ke kamar rawat pasien.
"Fan sedang apa kamu di sini?" Tanya Arman yang melihat Arfan lebih dulu.
"Kamu sendiri Man?" Tanya balik Arfan.
"Aku menemani Zaki, dia sore tadi baru saja berkelahi. Dia sampai di club dalam keadaan hampir pingsan jadi aku bawa ke sini untuk mendapatkan perawatan."
"Zaki berkelahi?"
"Dengan siapa dia berkelahi?"
"Aku belum bisa memastikan Fan, Zaki belum mau menceritakan apapun meskipun dia sudah sadar saat ini."
"Apa aku boleh menemuinya Man?"
"Aku rasa sebaiknya jangan sekarang Fan, kondisinya belum stabil. Aku khawatir jika kalian bertemu malah akan memperkeruh suasana."
"Baiklah, kalau begitu lain kali saja."
Arman kembali melangkah menuju ruang perawatan, sedangkan Tomi juga sudah cukup stabil kondisinya dan akan dipindahkan ke ruang perawatan yang kebetulan letaknya berdekatan dengan kamar rawat Zaki.
"Tom kamu di sini ditemani Dio dan Rafi dulu ya, aku akan kembali lagi besok bersama Sania dan Steven. Malam ini aku ada urusan, jadi tidak bisa menemanimu."
Tomi hanya mengangguk, tenaganya belum cukup pulih sehingga masih berat hanya untuk sekedar berbicara.
"Kalian berdua jaga Tomi malam ini ya, awas kalian jangan ada yang berani membuat keributan di sini!" pesan Arfan kepada Dio dan Rafi.
"Baik..., Bos tidak perlu khawatir." Jawab Dio meyakinkan.
Arfan melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit, Arfan memiliki asumsi jika Tomi memang berkelahi dengan Zaki. Namun, saat ini dia belum bisa memastikan kebenaran semua itu. Dia masih harus bertanya langsung dengan Tomi, sebab sejak kemarin Tomi seperti merahasiakan sesuatu darinya.
Jalanan masih diguyur hujan lebat sama seperti tadi ketika mereka hendak berangkat ke rumah sakit sehingga jalanan cukup lengang. Hujan juga mengingatkan Arfan pada Mentari yang senang sekali bermain di bawah guyuran air hujan. Arfan tersenyum sendiri saat teringat gerakan lincah Mentari kesana kemari seolah sedang menari bersama hujan.
"Sedang apa kamu Mentari? Apakah kamu masih bersedih? Aku berharap kamu bisa selalu tersenyum, sebab kau lah energi bagiku untuk terus melangkah dengan bijak." Arfan bermonolog di dalam hatinya.
Saat melintasi tikungan ke sekian, Arfan melihat pria paruh baya berjalan tanpa alas kaki dan payung di tengah-tengah guyuran hujan. Rasa iba Arfan membuatnya menghentikan mobil yang sedang dikendarainya.
Arfan berhenti dan menurunkan kaca mobilnya, "Paman anda mau ke mana?"
"Saya sedang mencari penginapan dekat sini anak muda," jawab pria itu.
"Kalau begitu naiklah paman!"
"Nanti merepotkanmu Nak,"
"Ayolah paman, baju paman sudah basah nanti masuk angin," Arfan terus membujuk.
Pria paruh baya yang bernama Pak Mahmud itu akhirnya menerima niat baik Arfan.