
Satu jam sudah Arfan menunggu Arman di restoran Z, tetapi Arman tak kunjung menampakkan batang hidungnya hingga membuat Arfan begitu kesal dibuatnya.
"Selalu saja Arman seperti ini!" umpat Arfan.
Bosan menunggu, Arfan akhirnya meninggalkan restoran Z. Sia-sia baginya menunggu orang yang tidak bisa menepati janji dengan baik padahal Arfan sengaja meluangkan waktu hanya untuk bertemu dengannya.
Selepas Arfan pergi, Arman tiba di tempat itu. Dia mencari Arfan ke segala penjuru dengan mengedarkan pandangannya, dia mencari sosok Arfan yang tidak dapat dia temukan di tempat itu.
Arman sadar pasti Arfan marah terhadapnya, namun dirinya terlambat datang bukan tanpa alasan. Dia harus mengemasi barangnya terlebih dahulu dan salahnya tidak mengabari Arfan jika dirinya tidak bisa datang tepat waktu.
Pikiran Arman terasa kalut, sehingga dia memutuskan untuk menemui Siska di kampusnya. Arman mungkin bisa bercerita dengan Siska terkait masalah yang sedang dihadapinya. Arman sengaja tidak memberitahu Siska jika dirinya akan menemui gadis itu.
Siska dan Mentari baru saja keluar dari kelas, mereka menuju ke arah asrama. Senyum mengembang di wajah Arman ketika melihat Siska, "Bolehkah aku ikut bersama kalian?"
"Kak Arman?"
"Ada apa ini kenapa kak Arman membawa koper sebesar ini, apa yang terjadi kak?" Siska merasa panik karena Arman tiba-tiba ada di hadapan mereka dengan banyak barang bawaan.
Arman hanya tersenyum, "Ayo kak ikut aku!" ajak Mentari di tengah-tengah kebingungan mereka, Mentari yakin telah terjadi sesuatu pada Arman sehingga dia harus bisa berpikir jernih dan tenang, oleh sebab itu mereka harus mencari tempat yang nyaman sebab tidak tepat jika harus berbicara di jalan.
Arfan tiba di tempat yang diberitahukan oleh Mentari melalui pesan teks yang dia kirimkan, "Arman berani juga kau menampakkan batang hidungmu dihadapanku!" Arfan mulai emosi.
"Kak tenang dulu!" cegah Mentari.
"Aku akan pulang hari ini juga Fan,"
"Berani kamu pulang Man, ingat ada orangtuamu di rumah yang menantikan kepulanganmu dengan membawa prestasi, bukan pulang dengan tangan kosong!"
"Mereka melepasmu untuk kembali ke lapangan dengan sebuah harapan, jangan berani pulang sebelum kamu mewujudkan impian mereka!"
Saat ini mereka sudah tiba di depan sebuah kontrakan, mereka berniat mencarikan Arman tempat tinggal sementara untuknya.
"Fan aku tidak punya cukup uang kedepannya untuk membayar uang sewa jika aku tidak memiliki pekerjaan."
"Makanya jangan ambil keputusan jika kamu belum memikirkannya dengan baik!"
Arman hanya nyengir kuda, dia tahu jika dirinya salah. Hal yang dipikirkannya adalah pulang ke rumah orangtuanya, dia tidak memikirkan bagaimana perasaan orangtuanya jika dia pulang tanpa membawa apapun. Apalagi jika mereka sampai tahu kegagalan yang Arman berikan kepada mereka untuk yang kedua kalinya tentu mereka akan sangat kecewa.
Arman mendapatkan sebuah kontrakan yang pas untukknya, Arfan membayarkan uang sewa untuk Arman meskipun dia menolaknya.
"Ayo kita bantu Arman membereskan rumah!" Arfan mengajak Mentari dan Siska untuk membereskan rumah Arman agar hari ini juga siap di huni.
"Maaf jadi merepotkan kalian!"
"Apa kamu pikir kamu tidak pernah merepotkan kami?" Arfan menggoda Arman.
"Apakah aku semerepotkan itu?"
"Tentu saja!" jawab Arfan.
"Awas kamu ya Fan!" Arman mengejar Arfan yang sedang mengepel lantai hingga air di ember tumpah berantakan.
Mentari keluar dari arah dapur karena mendengar ribut-ribut dari arah depan.
"Hentikan kak, kalian bukan anak kecil lagi!" Mentari menaikkan suaranya satu oktaf karena mereka tidak mau berhenti bermain kejar-kejaran.
Mereka akhirnya berhenti berlari karena mendengar teriakan Mentari.
Acara bersih-bersih akhirnya selesai, Mentari dan Siska sudah masak untuk makan malam. Meskipun hanya makanan sederhana tetapi mereka bisa makan dengan lahap.
"Enak sekali makanan ini, kalau seperti ini aku mau dimasakkan setiap hari." Cletuk Arman sembari memasukkan makanan ke mulutnya.
"Ngarep banget kamu Man!"
"Biarin yang penting aku kenyang!"
"Dasar kamu Man, dari dulu tidak pernah berubah!" Arfan menggelengkan kepalanya.
"Aku bisa memasakkan makanan buat kak Arman setiap hari, kalau kak Arman mau." Ucap Siska membuat Mentari dan Arfan saling memandang.
"Kode itu Man, kode!" Arfan tergelak.
"Emmm... Boleh Sis, kalau tidak merepotkan!" Arman menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mentari dan Arfan kini sudah tiba di club, setelah sebelumnya mengantarkan Siska ke asrama, mereka sangat lelah hari ini.
"Aku rasa juga seperti itu kak, biarlah semua berjalan dengan natural saja kak. Tugas kita hanya mendukung mereka saja."
Mereka memasuki kamar masing-masing, Mentari memilih segera membersihkan diri dan cepat beristirahat. Sedangkan Arfan masih memikirkan masalah Arman. Dia masih tidak habis pikir kenapa Arman mengambil keputusan yang terlalu cepat tanpa memikirkan bagaimana akibat yang harus dia tanggung.
Arfan menelfon Zaki untuk berbicara berdua saja sepulang dari kampus. Zaki menyetujui ajakan Arfan dan dia sudah bisa menebak apa maksud di balik ajakan Arfan itu, sudah pasti ada hubungannya dengan Arman.
"Kamu pasti mau membicarakan soal Arman bukan?" Tanya Zaki begitu Arfan duduk di depannya.
"Tentu kamu sudah tahu maksudku Za."
"Kenapa kamu menyetujui permintaan Arman Za, mana tanggungjawabmu sebagai orang yang telah meminta Arman dari orangtuanya untuk kembali ke lapangan!"
"Aku tidak memiliki pilihan lain Fan, sudah lama aku mempertahankan Arman. Berkali-kali juga aku sudah memberikan peringatan kepadanya, tapi dia sama sekali tidak bisa memberikan performa terbaiknya."
"Kamu tentu tahu posisiku Fan, tidak sepertimu yang bisa memutuskan segalanya sesuai kehendakmu sendiri!"
Arfan terdiam, dia larut dalam pikirannya sendiri.
"Maafkan aku Fan, aku berkali-kali mengecewakan kalian. Semoga Arman baik-baik saja."
"Salahku yang tidak berbicara baik-baik kepadanya hingga membuat Arman merasa sakit hati."
Arfan bangkit dari tempat duduknya, "Aku pamit dulu, terimakasih sudah mau datang!"
Arfan pergi meninggalkan Zaki, pikirannya kacau. Dia ingin sekali menarik Arman masuk ke clubnya, hanya saja dia masih memikirkan posisi mana yang tepat untuk Arman, sedangkan semua posisi sudah terisi oleh orang-orang kepercayaannya. Dia tidak mungkin membiarkan Arman menjadi pemain sama seperti ketika dia di club Zaki.
Arfan menjemput Mentari yang masih ada di kampus, "Kita pulang ke rumah nenek ya?"
Mentari mengangguk, "Aku mau beli sesuatu dulu untuk nenek kak!"
"Baiklah kalau begitu kita cari hadiah untuk nenek dulu."
Mentari sibuk mencari hadiah yang tepat untuk nenek, "Kak ini bagus tidak?" Mentari memilih kalung mutiara air laut berwarna peach dengan rangka rodium untuk nenek. Kalung itu tampak elegan meskipun dipakai oleh orangtua.
"Bagus!" jawab Arfan singkat setelah mengamati barang yang Mentari pilih.
"Aku ambil yang ini mbak!"
Pelayan toko membungkuskan barang pilihan Mentari kemudian menyerahkannya kepada gadis itu.
Mentari hendak membayar ketika Arfan juga akan membayarnya, "Kak ini aku yang mau beli, jadi aku akan membayarna sendiri."
"Tidak... Aku saja yang akan membayarnya!"
"Ya sudah kalau begitu tidak jadi ambil saja!"
Arfan akhirnya mengalah dari pada Mentari ngambek kepadanya, tapi Arfan melihat sepasang cincin yang menarik baginya. Cincin couple meskipun bukan emas, tapi cukup estetik.
"Mbak bisa ambilkan yang itu!" Arfan menunjukkan pilihannya.
"Yang ini tuan," pelayan itu mengambilkan sepasang cincin yang Arfan minta.
"Wah pilihan anda sungguh tepat sekali tuan, cincin pasangan ini merupakan produk kami yang limited edition karena hanya dibuat sepasang saja dan anda sangat beruntung karena datang kemari hari ini, sebab barang ini baru saja ready siang tadi." Pelayan itu menjelaskan panjang lebar.
"Terimakasih mbak,"
Arfan beralih kepada Mentari, "Mentari lihatlah apakah kamu menyukainya?" Tanyanya.
"Wah ini bagus sekali kak, aku suka."
"Kalau begitu aku ambil yang ini mbak, tolong dibungkus ya!"
Pelayan toko mengerjakan perintah Arfan dengan cepat kemudian menyerahkan kepadanya setelah Arfan menyelesaikan pembayaran.
"Pakailah ini Mentari dan aku akan memakai yang satunya!" ucap Arfan ketika mereka baru saja duduk di atas mobil.
Mentari memandang Arfan, "Cincin yang kakak beli ini untukku?"
"Iya tentu saja, untuk siapa lagi kalau bukan kamu Mentari."
"Aku pikir kakak beli untuk diberikan kepada nenek."