
Arfan menghempaskan tangan Mona dengan kasar, sungguh dia sangat kesal karena Mona seringkali mengganggunya sehingga sudah sejak lama dia tidak ingin berhubungan dengan Mona dalam hal pekerjaan sekalipun.
Arfan kesal karena Mona seperti tidak memiliki harga diri, berkali-kali Arfan menolaknya berkali-kali pula perempuan itu mengejarnya.
"Mona pergilah, aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun!" usir Arfan agar Mona meninggalkan mejanya, Arfan terang-terangan sebab Mona tidak akan mempan dengan sindiran bahkan secara gamblang pun perempuan itu sering tidak mau pergi.
"Fan kapan sih kamu bisa bersikap lebih lembut terhadapku?" Tanya Mona dengan sedikit memelas.
Arfan menyeringai, "Ketika kamu tidak lagi mengangguku!"
Mona berdiri dari duduknya, menghentakkan kaki sebelum meninggalkan meja Arfan.
"Kurang ajar!" umpatnya sambil berlalu pergi meninggalkan restoran bersama dengan teman-temannya.
"Mon apa istimewanya pemuda tadi sih, dari dulu kamu kejar dia tapi tidak pernah dapat. Lihatlah dirimu yang cantik ini, tubuh kamu juga aduhai begitu, banyak laki-laki yang mengantri kok. Kenapa harus capek-capek mengejar pria tak mau diuntung itu?"
"Benar kata Maya Mon, apa menariknya sih dia itu?"
"Kalian ini tidak tahu ya, Arfan itu seorang legenda futsal, aku mengejarnya karena dia istimewa!" jawab Mona sambil membayangkan tubuh atletis Arfan yang akan menggoyangnya dengan kuat.
"Lihatlah dirimu Mon, apakah kau sendiri istimewa?" Cibir Maya.
"Iya Mon mau dikemanain tuh si Bram, Roy, Riky dan masih banyak lagi yang pernah icip-icip manja!" Maya dan Ratu menertawakan Mona, mereka memang sebelas dua belas dengan Mona kelakuan mereka juga sama saja suka bergonta ganti pasangan, sehingga hal seperti itu seolah sebuah candaan.
Maya dan Ratu juga sengaja bertanya seperti itu karena sudah paham sepak terjang Mona yang sudah berkali-kali bergonta ganti pasangan bahkan tidak jarang mereka tinggal serumah seperti layaknya pasangan suami istri, sehingga sudah tidak ada lagi ketersinggungan diantara mereka padahal seharusnya hal itu merupakan sebuah privacy bagi Mona.
"Diam kalian semua, mereka itu laki-laki lemah tidak sanggup memuaskanku. Jadi pantaslah aku tinggalkan mereka!"
"Oh ya ampun Mona kita May suka sekali cowok perkasa rupanya?!" Mereka tertawa bersama, membenarkan tingkah laku Mona yang sebenarnya tidaklah pantas dan melanggar norma yang berlaku.
Di restoran Arman menghampiri Arfan yang tampak kesal di pojok ruangan, pemuda itu sedang termangu menatap jalanan yang ramai dilalui orang malam itu.
"Sudah lama menunggu Fan?" Arman membuyarkan lamunan Arfan dengan menepuk pundak laki-laki yang sedang melamun tersebut.
"Heeemmm...," jawab Arfan.
"Sorry bro jalanan macet jadi sedikit terlambat sampai disini!"
"Kenapa sepertinya kesal begitu Fan, jelek banget mukanya tahu?!"
"Ada Nenek Lampir tadi lewat!"
"Pasti si lubang berjalan itu lagi kan?" Arman menebak.
"Siapa lagi Man, dari dulu sampai sekarang tidak ada kapoknya tuh cewek satu!"
"Kenapa tidak kamu ladeni saja Fan, lumayan santapan gratis!" Arman menaik turunkan alisnya menggoda Arfan.
"Sana buat kamu saja Man, aku nggak suka sama yang gratis-gratis begitu!"
"Dia kan ngejar-ngejar kamu Fan bukan aku, lubang berjalan itu sudah pasti yahut kan sudah banyak pengalaman!"
"Kamu ini sembarangan kalau ngomong, siapa yang sudi sama perempuan obral gratis macam lubang berjalan itu!"
"Sadis!" Arman tertawa.
"Dah ah males bahas perempuan itu lagi, menambah mood makin jelek saja."
"Tapi kamu suka kan digangguin?" Arman meledek Arfan.
"Armaaaaannnnn...!!!!" Arfan bersedekap kesal, geram dengan tingkah absurd Arman.
Arman meminta ampun kepada Arfan yang sudah tidak bisa lagi menahan emosi karena digoda terus-terusan, "Untung sahabat, kalau bukan sudah aku pites kamu Man!"
Arman kemudian memesan makan malam untuk mereka berdua, setelah makan malam selesai mereka membicarakan sebuah hal yang lebih serius.
"Man apa kau yakin masuk ke club Zaky?"
"Yakin dan tidak yakin itu urusanku Fan, aku hanya ingin kita bisa berkumpul kembali seperti dulu!"
"Man ingat umurlah,"
"Dahlah Fan kita tatap masa depan, saat ini kita rival!" Arman tertawa, di dalam hatinya terasa kecut. Penyesalan kenapa salalu hadir belakangan, masa-masa kelam yang membuat mereka tercerai-berai mendadak hadir kembali menjadi kabut di dalam hati.
Arman memaksakan senyumnya di depan wajah Arfan yang selalu datar.
Arfan melirik jam tangannya, "Sudah malam ayo kita pergi!" Arfan mengajak Arman meninggalkan restoran.
Mereka sudah berada di jalan besar sekarang, "Fan bukankah ke club Zaky seharusnya belok kiri tadi, kenapa ini lurus?"
"Aku akan menculikmu!" Arfan tertawa.
"Jahatnya...!!!" balas Arman, mereka tertawa bersama.
Mentari meregangkan otot-ototnya yang lelah, hampir seharian berada di rumah sakit membuat tubuhnya terasa kaku dan lengket. Dia ingin segera pulang ke asrama dan mandi dengan air hangat. Bu Kartika sore tadi sudah pulang bersama Pak Mahendra, mereka meninggalkan Mentari bersama Ilyas di rumah sakit.
"Kalau kamu capek pulanglah dulu Mentari!" ucap Ilyas yang melihat Mentari sepertinya sudah sangat lelah.
"Iya Yas, aku juga berniat begitu. Kamu bukankah juga harus pulang?"
"Aku akan disini saja Tari menemani Ibuku,"
"Kamu juga butuh istirahat Yas, ayo kita pulang Yas!"
"Disini ada perawat yang akan menjaga Ibumu, beliau akan baik-baik saja."
Ilyas yang awalnya ragu-ragu akhirnya mengikuti Mentari keluar dari rumah sakit, mereka menunggu taksi online yang tadi Mentari pesan.
"Sebentar ya Yas, mungkin sebentar lagi taksinya datang."
"Aku bahagia bisa begini bersamamu Mentari, menunggu sampai pagi pun aku tidak akan keberatan!"
"Kau ini Yas, apa mau hipotermia disini?"
Mereka masih tertawa ketika sebuah mobil yang Mentari kenali berhenti di depan mereka berdua. Arfan turun dari mobil dengan wajah ditekuk, dia tadi melihat Mentari sangat akrab dengan Ilyas.
"Masuk Mentari!" perintah Arfan.
"Kau juga masuk!" perintah Arfan lagi.
"Aku sedang menunggu taksi online Kak, tidak enak karena sedang menuju kesini."
"Batalkan pesanannya, aku yang akan ganti kerugian mereka!"
Mentari beranjak masuk ke dalam mobil saat taksi online yang dia pesan tiba di hadapan mereka.
"Ilyas pulanglah dengan mobil itu dan kau Mentari pulang bersamaku!" ucap Arfan tegas dan tidak mau dibantah.
"Aku akan pulang bersama Mentari!" jawab Ilyas tidak kalah sengit.
"Tidak ya tidak!" balas Arfan.
"Mentari akan pulang bersamaku!" Arfan bersikeras.
"Baiklah kita tanya saja pada Mentari dia akan pulang bersama siapa!" Ilyas terus melawan.
"Bagaimana Mentari kamu pulang bersamaku kan?" Ilyas melemparkan pertanyaan kepada Mentari.
Mentari melihat ekspresi Arfan yang tampak sudah tidak bersahabat, "Aku pulang bersama Kak Arfan saja Yas, kamu pulanglah dengan taksi itu!" Mentari menunjuk taksi di depannya.
"Sudah dengar bukan?" Arfan merasa menang karena ternyata Mentari memilih pulang bersamanya.
Tidak ada pilihan lain lagi bagi Ilyas kecuali menurut dari pada memperpanjang masalah sedangkan dirinya juga sudah sangat lelah. Ilyas masuk ke dalam taksi dan membanting pintunya dengan sangat keras.
Arfan membayarkan biaya taksi untuk Ilyas, kemudian masuk ke dalam mobilnya setelah taksi yang membawa Ilyas melaju pergi.
Mentari duduk di kabin belakang karena ada Arman di kursi depan. Arman sedari tadi memperhatikan tingkah Arfan yang seolah sedang berebut seperti anak kecil. Arman sedikit menertawakan kelakuan Arfan ketika pemuda itu duduk di balik kemudi dan siap melajukan mobilnya. Tawa Arman meledak tatkala melihat ekpresi Arfan yang biasa saja.
"Apa yang kau tertawakan, hah!!!???"
"Kau lucu Fan, tadi saja kesal dengan lubang berjalan itu. Sekarang merebutkan seorang gadis belia dengan pria kecil, kau ini Fan tidak disangka suka berebut juga!" tawa Arman semakin meledak.
"Diam kau Arman, lebih baik tutup mulutmu dari pada aku timpuk nanti!"
"Gadis ini bukan lubang berjalan kan?" Arman semakin menjadi dan tidak memperdulikan peringatan sahabatnya yang sudah meradang.
"Jangan samakan dia dengan orang lain, dia berbeda!"
"Kak apa maksudnya dengan lubang berjalan?" Mentari yang sedari tadi menyimak obrolan dua sahabat itu membuka suara karena merasa bingung dengan obrolan keduanya.
"Kau tidak perlu tahu Mentari, yang jelas kau bukanlah lubang berjalan!"
"Fan dia siapa, masa nggak dikenalkan sih!" Arman menggerutu.
Arman berbalik ke arah Mentari, "Kenalkan aku Arman, teman seperjuangan Arfan di masa lalu tapi sekarang kita rival!" Arman mengulurkan tangannya kepada Mentari yang langsung dipukul oleh Arfan.
"Kau ini pelit sekali!" omel Arman sambil mengibas-ibaskan tangannya yang terasa panas karena tadi Arfan memukulnya cukup keras.
"Aku ingatkan kamu ya Man, dia Mentari calon Ibu dari anak-anakku, puas kamu Man!"
Mentari tersipu malu dengan ucapan Arfan sekaligus heran dengan tingkah mereka berdua yang sejak tadi berseteru.
Mentari menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum, "Kalau kalian bertengkar terus aku turun saja ya Kak!"
"Eiitttsss...tunggu!" Arfan dan Arman mencegah Mentari bersamaan, mereka saling bertatapan sinis setelah menyadarinya.