My Old Star

My Old Star
#31 Tamu tak Diundang



Arman ke luar dari club, dia ingin mencari angin segar yang bisa mengobati rasa hatinya. Arman sadar jika saat ini kemampuannya sudah tidak seperti dulu lagi, tetapi tidak sepantasnya Zaky berkata yang tidak mengenakan hati terhadapnya. Arman mau kembali ke dunia yang sudah lama dia tinggalkan juga karena dia memiliki harapan untuk bisa menyatukan teman-temannya kembali.


Kini Arman sampai di sebuah danau yang tidak jauh dari universitas Z, dia sengaja menunggu Arfan di sana sampai sahabatnya itu selesai mengajar.


Siska yang sedang berjalan menuju ke asrama bersama Mentari mengenali sosok yang sedang berada di tepi danau meskipun berjarak beberapa meter dari jalan yang sedang mereka lalui.


"Mentari apa kau lihat di sana di tepian danau itu seperti Kak Arman!" Siska menunjuk ke arah yang dia maksudkan.


"Kamu salah lihat kali Sis, Kak Arman berada di club mana mungkin siang-siang begini dia ada di sini!" Mentari tidak percaya jika itu benar-benar Arman.


"Kalau begitu ayo kita turun, kita lihat langsung saja!" Siska menarik lengan Mentari agar mau mengikutinya.


"Pelan-pelan Sis nanti kita bisa terpelanting!" cegah Mentari sebab Siska berjalan sangat cepat seperti orang yang tidak sabaran ingin bertemu dengan seseorang.


Mereka berdua sampai di tempat di mana Arman sedang berdiri melempari air danau dengan kerikil-kerikil kecil.


"Hai... apakah sedang marah dengan ikan?" Siska menyapa Arman.


Arman menoleh ke arahnya, "Ikan itu terlalu membuat aku khawatir!" jawab Arman.


Mereka sama-sama tertawa, hati Arman sedikit lebih baik saat ini.


"Apakah Kak Arman menunggu seseorang?" Tanya Mentari ketika mereka sudah duduk di tepian danau dengan beralaskan rumput.


"Aku menunggu Arfan selesai kelas!"


Mentari melihat jam tangannya, " Hari ini Kak Arfan mungkin sore baru selesai mengajar Kak!"


"Apa Kakak akan menunggu selama itu?"


"Ah benarkah?" Arman tertawa merasa dirinya sangatlah terlihat konyol.


"Apa Kak Arman tidak menghubunginya?" Tanya Siska.


"A-aku belum menghubunginya!"


"Aku akan menghubunginya segera!" Arman menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Mentari menyadari jika telah terjadi sesuatu pada Arman sehingga dia pergi mencari Arfan siang ini tanpa tahu jadwal mengajarnya karena tidak meminta informasi terlebih dahulu kepada orang yang dia tunggu.


"Sis aku lupa kalau hari ini aku ada janji, bagaimana kalau aku tinggal dulu?" Mentari memberikan kode kepada Siska yang langsung dipahami oleh gadis itu.


"Ah benarkah, sayang sekali padahal aku masih ingin berada di sini lebih lama," jawab Siska.


"Kalau begitu kalian berdua di sini saja!"


"Aku titip Siska ya Kak, aku pergi dulu!"


"Bye... bye ..."


Mentari pamit meninggalkan Siska dan Arman di tepian danau, Mentari ingin memberikan ruang kepada sahabatnya untuk berdua saja dengan Arman. Dia juga berharap Siska bisa menghibur Arman agar dia tidak merasa sendirian.


Mentari memutuskan untuk menemui Arfan di fakultas tempatnya mengajar, kebetulan Arfan baru saja ke luar dari kelas saat Mentari tiba.


"Mentari kau ke sini?" Tanya Arfan yang melihat Mentari lebih dulu.


"Iya Kak, apakah mengganggu?"


"Tentu saja tidak, sendirian saja?"


"Siska mana?" Arfan celingukan mencari-cari Siska yang biasanya selalu bersama Mentari.


"Dia sedang bersama Kak Arman!"


"Wah benarkah?"


"Ada kemajuan juga mereka ya?"


Mentari mengangguk dan tersenyum, "Apakah kau senang jika mereka bersama?" Tanya Arfan.


"Tentu saja Kak, aku juga ingin melihat Siska bahagia."


Arfan mengacak rambut Mentari pelan, "Ayo ikut!"


"Kemana Kak?" Tanya Mentari.


"Ikut saja!" Arfan menarik tangan Mentari, dia membawa Mentari masuk ke kelasnya karena dia masih ada jam mengajar hari ini, tetapi dia tidak mau jika Mentari pergi karena sebab itu.


Kelas di jurusan olahraga memang di dominasi mahasiswa laki-laki sehingga tidak heran jika ketika melihat Mentari mereka sangat antusias karena jarang sekali ada gadis yang memasuki kelas mereka.


"Mentari duduklah di sana!" perintah Arfan menunjuk sebuah bengku kosong di bagian belakang agar Mentari bisa duduk.


Mentari patuh dengan apa yang Arfan ucapkan, kemudian Arfan memulai mata kuliahnya.


Mentari sangat terkesima dengan cara Arfan mengajar, dia sosok yang tegas dan menyejukkan mata. Cara mengajar Arfan juga sangat mudah untuk dipahami. Mentari mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas, kebetulan tidak ada satupun mahasiswa perempuan di kelas itu. Mentari bersyukur sebab tidak ada pesaing yang akan memandangi wajah Arfan selama Arfan mengajar di kelas.


"Apakah ada pertanyaan?" Ucap Arfan di sela-sela penjelasannya.


Seorang Mahasiswa mengangkat tangannya, Pak siapakah gadis yang tadi masuk bersama dengan Bapak?" Kelas menjadi riuh karena mahasiswa lain menyoraki mahasiswa yang bertanya tadi sebab pertanyaan yang dia sampaikan tidak ada hubungannya dengan penjelasan Arfan.


Arfan tersenyum miring, "Apakah saya perlu menjawabnya?"


"Tentu saja Pak, ayo jelaskan kepada kami Pak!" jawab mahasiswa lain.


"Iya benar Pak, siapa tahu kami punya kesempatan untuk dekat dengannya."


"Iya Pak, gadis itu sangat cantik!"


Kelas menjadi semakin tidak kondusif, baru kali ini mereka benar-benar tidak memiliki rasa takut kepada Arfan.


"Eheeemmm...," Arfan berdehem yang membuat mereka terdiam seketika.


Arfan menuju ke tempat di mana Mentari tengah duduk mendengar semua yang Mahasiswa Arfan katakan, wajah Mentari sudah seperti kepiting rebus karena merasa malu dan canggung. Mendadak udara menjadi sangat tipis, Mentari terlihat sangat gugup. Ketika Arfan berjalan semua mata memandang ke arahnya.


"Mentari berdirilah!" perintah Arfan.


"Kak apa sebaiknya aku ke luar saja, aku sangat mengganggu kalian!" Mentari berbisik.


"Jelaskan dulu pada mereka!"


"Hah... serius Kak!"


Arfan mengajak Mentari maju ke depan kelas, Arfan merangkul pundak Mentari dan membawa gadis kecilnya berjalan maju ke depan kelas.


"Kalian dengar semuanya ya, ini Mentari calon Nyonya Arfan!"


"Dia sedang mengambil S2 jurusan Matematika di universitas Z," Arfan menjelaskan.


"Wah benarkah Pak, tapi kelihatannya masih sangat muda!" ucap salah seorang mahasiswa Arfan.


"Dia memang masih muda, usianya baru 19 tahun!"


"Pak Arfan hebat bisa mendapatkan gadis belia yang cerdas seperti Nona Mentari!"


"Kalian tahu dia yang telah membuat saya tertarik kepadanya, saya jatuh cinta kepadanya sejak pandangan pertama sebab dia terlihat begitu dewasa padahal usianya masih belia, kalian tahu kenapa? Sebab kedewasaan seseorang itu tidak ditentukan oleh usia tetapi tergantung bagaimana cara mereka berpikir."


Mereka semua speechless mendengar penjelasan Pak Arfan. Mereka yang awalnya ingin mendekati Mentari akhirnya mengurungkan niat mereka setelah mendengar penjelasan dari Arfan barusan.


"Kak Arfan bukankah terbalik ya, aku yang jatuh cinta kepadamu ketika pertama kali melihatmu malam itu!" Mentari membatin kemudian menyapa semua mahasiswa Arfan.


"Hallo semua senang bertemu dengan kalian, mohon maaf kalian jadi terganggu karena kedatanganku ke kelas ini!" Mentari meminta maaf karena merasa tidak enak hati.


"Kami malah senang Nona kemari," jawab salah seorang.


"Terimakasih atas pengertiannya, kalau begitu aku permisi, lebih baik aku akan menunggu di luar saja!"


Mentari berpamitan kepada Arfan dan semua orang yang ada di kelas kemudian ke luar dan duduk di bangku yang ada di depan kelas hingga Arfan selesai mengajar.


"Bagaimana apakah menunggu lama?" Tanya Arfan yang melihat Mentari sedang melihat-lihat pemandangan sekitar.


"Tidak Kak, di sini udaranya sejuk jadi terasa cukup nyaman!" Mentari tersenyum, Arfan mengacak rambut Mentari pelan.


"Ayo kita temui mereka!"


Mereka berduapun berlalu pergi meninggalkan kampus, semua mahasiswa Arfan yang melihat pemandangan yang menyejukkan mata mereka pun terkagum-kagum sebab mereka baru saja melihat sisi lain dari seorang Arfan yang selama ini mereka kenal sebagai dosen yang disiplin sehingga terkesan killer di kalangan para mahasiswanya.


"Kak kenapa kita menuju ke arah club, bukankah mereka ada di tepi danau kampus Z?" Tanya Mentari ketika dia sadar bahwa jalan yang mereka lalui bukan menuju ke danau tetapi ke arah club milik Arfan.


"Mereka ada di sana sekarang, aku yang menyuruh Arman untuk menunggu di club saja!"


Mereka berdua sampai di club, betapa terkejutnya Arfan ketika masuk ke dalam club ternyata tidak hanya Arman dan Siska saja yang datang hari ini. Namun, Arfan kedatangan tamu tak di undang juga hari ini.


"Hallo uncle apa kabar?"