My Old Star

My Old Star
#93 Video Mona



Mona dan Marryana sama-sama terkejut melihat Arfan dan Mentari ada di dalam ruang rawat Zaki, keduanya khawatir jika pembicaraan mereka tadi di depan terdengar oleh Arfan ataupun Mentari.


"Arfan kapan kamu datang?" Mona tersenyum genit sembari berjalan mendekat ke arah Arfan.


"Baru saja tante!" jawab Arfan.


"Apakah aku terlalu tua hingga kamu memanggilku demikian?"


"Bukankah kamu memang tanteku?" Tanya balik Arfan kepada Mona yang membuatnya merubah ekspresi di wajah Mona menjadi di tekuk.


Mona tersenyum dengan dipaksakan, "Baiklah keponakan aku merekomendasikan kamu untuk bisa berkencan dengan teman baikku Marryana!"


"Rekomendasi macam apa itu tante, lagi pula aku sudah menikah jadi untuk apa tante merekomendasikan orang lain untukku, sungguh tidak menarik!" Arfan bersedekap mengejek kelakuan Mona yang diambang batas kewajaran manusia normal.


"Menikah dengan gadis ingusan seperti dia, apa untungnya bagimu Fan, lihat tubuhnya yang kurus tidak ada bagus-bagusnya sama sekali!" Mona menghina Mentari yang memang memiliki tubuh yang kurus dengan tinggi yang standar.


Mentari mendekati Mona, "Tante boleh aku menceritakan sesuatu kepada suamiku tentangmu?" Bisik Mentari di telinga Mona.


"Jangan pernah mengancamku gadis tengik!"


"Aku tidak mengancam tapi ini ulah dari pasangan tante sendiri, sekali klik kak Arfan akan tahu kelakuan tante selama ini atau kakek Mahmud juga sekalian?"


"Bram?" Mona Membatin.


"Aku tidak takut!" Mona menantang Mentari karena selama ini dia melakukannya dengan bermain cantik.


"Baiklah kalau itu mau tante!"


Mentari melangkah kembali ke arah Arfan, "Kak aku mau memperlihatkan sesuatu kepadamu!" Mentari melirik ke arah Mona yang sudah terlihat pucat.


Mentari mulai membuka galeri ponselnya, dia siap membuka sebuah video yang dia simpan selama ini.


"Stop!!!" Mona mencegah Mentari agar tidak memperlihatkannya kepada Arfan.


"Apakah tante berubah pikiran?" Mentari menghentikan gerak tangannya untuk memencet tombol putar.


"Iya-iya aku tidak akan mengganggu hubungan kamu dengan Arfan lagi asalkan Marryana ikhlas melepaskan Arfan dengan keinginannya sendiri."


Arfan mencibir ucapan Mona dengan senyum mengejeknya, "Hei tante, kau ini aneh sekali. Apa hak Ana atas diriku hah? Ucapan tante seperti orang mabuk!"


Marryana dibuat tidak habis pikir dengan ucapan Mona, wanita itu telah memperlakukan dirinya di depan semua orang. Marryana sendiri sedang berusaha sangat keras untuk melupakan Arfan sejak kejadian malam itu.


Dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri terutama di depan Zaki. Entah sejak kapan Marryana merasa mulai nyaman dengan Zaki, padahal mereka belum dekat dan tidak banyak bicara karena kondisi Zaki masih lemah.


"Mona kamu jangan seperti itu, karena sama saja kamu mempermalukanku di depan semua orang, kamu telah menjatuhkan harga diriku sebagai seorang wanita Mon!"


Mona semakin merasa tersudutkan karena Marryana ternyata tidak membelanya sama sekali.


Mona ke luar dari dalam ruangan dengan sangat kesal, wajahnya bersungut-sungut marah dengan Marryana.


"Awas kamu Marryana akan aku buat kamu menyesal karena tidak mendukungku!" Mona menghentak-hentakkan kakinya sepanjang perjalanan ke luar dari area rumah sakit ke tempat dia memarkirkan mobilnya.


Arfan masih berbincang dengan Zaki mengenai pertandingan final antara kedua club yang akan segera digelar. Sedangkan Mentari dan Marryana juga memilih mengobrol dengan duduk di sofa ruang perawatan.


Sepertinya mereka akan segera menjadi teman, pribadi Mentari yang sangat menyenangkan ternyata membuat Marryana merasa nyaman berbicara dengan gadis itu.


"Pantas saja Arfan memilihmu Mentari karena kamu memang pantas mendampingi Arfan!" Marryana membatin.


"Mentari apakah boleh aku tahu rahasia apa yang kamu miliki tentang Mona?"


"Maafkan aku kak, aku tidak bisa memberitahukannya kepada kakak karena jika itu aku lakukan, maka sama saja aku mengumbar aib orang lain sedangkan Rabbku melarangku melakukan hal itu karena aibku saja Allah menyembunyikannya dari orang lain."


"Baiklah kalau begitu Mentari, aku bisa memahaminya." Marryana memandang wajah Mentari yang teduh dan bersikap tenang padahal banyak sekali wanita yang mengejar-ngejar suaminya bahkan dirinya pun sama.


"Memangnya kenapa Mentari? Dia sangat baik kepada siapa saja dan suka membantu orang lain. Aku mengenalnya karena dia juga dekat dengan Mona."


"Iya kak, tapi pesanku kak Marry harus tetap berhati-hati dengannya."


Marryana berpikir sejenak, di dalam hati dia mempercayai Mentari karena tidak mungkin gadis itu akan berani berkata demikian jika tidak memiliki alasan yang kuat sama seperti dia melawan Mona.


"Mentari ayo kita pulang sudah sore!" Mentari mengambil tasnya dan memasangkannya di punggung.


"Za aku pamit ya, maafkan jika kedatanganku malah menganggu waktu istirahat kamu Za."


"Tidak Fan, aku sangat berterimakasih karena aku jadi memiliki semangat untuk tetap meneruskan hidup ini walau sulit akan tetap datang dalam setiap perjalanan."


Arfan menepuk pundak Zaki, "Ayo Mentari!" panggilnya.


Mentari bangkit dari duduknya dan mulai melangkah ke arah pintu ke luar, "Tunggu!" Marryana mencegah Mentari agar jangan dulu ke luar.


"Ada apa kak?" Tanya Mentari kepada Marryana.


"Katakan satu hal agar aku bisa mempercayai ucapan kamu mengenai Bram dan kedekatannya dengan Mona."


"Jika kak Marry menyayangi diri kakak sendiri, maka dengarkan pesanku!" Mentari berkata dengan sangat yakin.


"Baiklah...," jawab Marryana.


Sepeninggal Arfan dan Mentari kini tinggal mereka berdua saja di dalam kamar rawat. Suasana berubah canggung karena mereka sama-sama malu.


Mereka berbicara secara formal dan terlihat kaku. Zaki yang masih belum bisa merespon dengan baik ucapan Marryana sesekali tersenyum karena mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh Marryana.


"Marry lusa temani aku menyaksikan pertandingan antara club milik Arfan dan club yang aku pimpin, bagaimana apakah kamu tidak ada acara lain?" Zaki menawarkan kepada Marryana agar mau menemaninya.


"Baiklah kalau begitu, aku akan datang bersamamu."


Ruangan kembali hening, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing.


Arfan dan Mentari sendiri akan mampir ke dalam club untuk melihat anak-anak berlatih, Mentari telah mempersiapkan analisis data yang dia buat dan sudah dia hitung dengan baik sesuai dengan instruksi suaminya.


"Mentari sebenarnya apa yang kamu miliki dari Mona hingga dia ketakutan seperti tadi?" Arfan bertanya sambil mengemudi yang sudah separuh jalan mereka lewati agar bisa sampai di club.


"Aku tidak mungkin memperlihatkannya kepada kakak, nanti kakak malah jatuh cinta sama dia karena tubuhnya yang menarik." Mentari bahkan tidak rela Arfan sampai melihat video itu, selain tidak boleh mengumbar aib orang lain dia juga tidak mau Arfan mendapatkan tontonan gratis yang mengotori pikirannya.


Mentari mendapatkan video itu saat masih tinggal di asrama bersama Siska karena mereka sering kali pergi berdua ketika hendak membeli sesuatu.


Sore itu mereka pergi ke sebuah Mall dekat universitas Z, disana mereka tidak sengaja bertemu dengan Mona yang sedang bergandengan mesra dengan laki-laki bernama bram.


Mereka bahkan tidak malu untuk berpelukan dan berciuman di depan umum, seolah dunia ini hanya milik mereka berdua sedangkan yang lainnya ngontrak.


Di saat bersamaan kebetulan mereka duduk di sebuah restoran di dalam Mall dan bertemu dengan wanita bernama Maya dan Ratu yang sedang menggunjing Mona padahal setahu Mentari mereka bertiga berteman dan selalu kompak.


Mentari dan Siska secara tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka berdua karena jarak meja mereka yang saling berdekatan.


Maya menceritakan adegan hot nya dengan Bram kepada Ratu, begitu pula sebaliknya. Sedangkan kini mereka sedang mencibir Mona di belakang.


Mentari sempat memvideo Mona dan Bram saat mereka saling berciuman di Mall tanpa rasa malu. Mentari sendiri merasa penasaran dengan laki-laki bernama Bram itu yang sepertinya memacari ketiga sahabat itu.


Sehingga ketika Mentari sampai di asrama, dia bergegas mencari informasi tentang Bram dengan berselancar ke dunia maya.


Mentari justru menemukan video yang dapat dia unduh, sehingga dia jadi tahu kelakuan Mona dan teman-temannya selama ini ketika di luar.


Mentari tidak bermaksud menonton video yang berdurasi sekitar tiga puluh menit itu sebab di bagian awal saja telah membuat dia muntah-muntah karena mual melihat kelakuan dua orang manusia yang seperti binatang, tetapi dia sengaja menyimpannya untuk dia jadikan senjata ketika melawan Mona.