My Old Star

My Old Star
#71 Ditinggal Tanpa Pesan



Mentari terbangun dan baru sadar jika dia tidak berada di kamarnya sendiri, Mentari teringat jika dia tidur bersama Arfan karena sangat lelah setelah perjalanan jauh dan tidak tidur semalaman karena mencari Steven yang hilang hingga berakhir di rumah sakit.


Mentari melihat sekeliling namun tidak menemukan Arfan ada di dalam kamar bersamanya, dia juga tidak mendengar tanda-tanda Arfan ada di dalam kamar mandi karena tidak ada suara gemericik air disana, pintu kamar mandipun tampak terbuka.


"Kemana dia?" Pikirnya.


Mentari pergi ke kamarnya sendiri untuk membersihkan diri, perutnya terasa lapar karena belum makan apapun sejak pagi sehingga dia memutuskan untuk pergi ke dapur mencari sesuatu yang dapat dia makan atau dia masak dengan cepat.


Suasana club sangat sepi mungkin karena anak-anak sedang berlatih atau mungkin sedang bertanding di luar. Ibu Ilyas menghampiri Mentari yang sedang sibuk menyelesaikan masakannya.


"Nak... Kamu lapar?" Ibu Ilyas mengagetkan Mentari yang sedang fokus memasak.


"Iya bu, aku belum makan apapun sejak pagi." Jawab Mentari menjelaskan.


"Sini biar ibu saja yang masak nak, kamu istirahat saja."


"Ini sudah hampir selesai kok bu,"


"Oh ya bu, apakah ibu melihat kak Arfan?"


"Tadi ibu melihatnya ke luar dengan taksi, tapi ibu tidak berani bertanya kemana dia akan pergi nak."


Mentari teringat jika mobil Arfan masih terparkir di sekitar kampus, mungkin saja Arfan sedang mengambil mobilnya disana.


"Iya bu tidak apa-apa, terimakasih ya bu."


"Iya nak, sudah sekarang makanlah. Ibu akan kembali ke kamar."


"Ayo makan bersamaku bu,"


"Tidak usah nak, ibu sudah makan tadi. Ibu ke kamar dulu. Kamu makanlah dan cepat istirahat!"


Mentari mengangguk, dia merasa iba dengan ibu Ilyas yang harus berpisah dengan Ilyas saat ini. Seharusnya di masa tuanya, ibu Ilyas bisa hidup bahagia dengan anak laki-lakinya yang sudah dengan susah payah dia besarkan, tapi malah sebaliknya Ilyas mengecewakan ibunya sendiri karena mengikuti kehendaknya sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaan ibunya.


Ilyas memang sudah salah dalam melangkah tapi bukan berarti dia tidak bisa berubah suatu saat nanti.


Di tempat yang sudah dijanjikan, Arfan tiba bersama dengan neneknya. Orangtua Mentari sudah menunggu mereka karena jarak rumah mereka lebih dekat ke tempat itu.


"Maafkan kami yang datang terlambat om, tante." Arfan meminta maaf dengan sopan kepada orangtua Mentari.


"Tidak apa-apa nak, kami juga belum lama sampai." Jawab Ayah Mentari sekaligus mewakili istrinya.


"Mari silakan duduk!" ibu Mentari mempersilakan nenek Wijaya duduk di dekatnya.


"Maafkan kami karena kami yang mengundang justru kami yang terlambat datang."


"Tak apalah, kami tahu jika Arfan sangat sibuk jadi mungkin terlambat menjemput nenek."


Mereka kemudian menikmati makan malam bersama dengan mengobrol santai, tiba-tiba ponsel Arfan berdering. Arfan melihat ada panggilan dari Mentari yang mungkin mencarinya karena dia pergi tanpa pamit.


"Siapa nak, angkat saja dulu."


"Mentari tante, saya permisi dulu sebentar."


Arfan ke luar dari ruangan untuk mengangkat panggilan dari Mentari.


"Hallo Mentari sayang, ada apa?"


"Kakak di mana, kenapa pergi tidak memberitahuku?"


"Aku sedang bersama orangtuamu dan juga nenek."


"Ma-maksud kakak?"


"Iya kami sedang makan malam bersama."


"Kakak jahat sekali, kenapa tidak memberitahuku!"


"Sudah dulu ya, tidak enak terlalu lama meninggalkan mereka di dalam." Arfan tidak menjawab pertanyaan Mentari dan langsung menutup sambungan telfon mereka.


Mentari merasa sedikit kesal, bukankah yang akan menikah itu dirinya dan Arfan kenapa Arfan tidak mau mengajaknya pergi bersama. Dia juga berhak tahu apa yang mereka bicarakan, bukan malah ditinggal tanpa pesan begini.


Mentari cepat-cepat menyelesaikan makan malamnya yang tanpa ditemani oleh siapapun kemudian pergi ke kamarnya untuk sedikit menekan rasa yang masih saja bergejolak di dalam hatinya.


Arfan kembali ke dalam ruangan setelah menyimpan kembali ponselnya untuk menyelesaikan makan malam bersama keluarga Mentari. Pertemuan mereka kali ini membahas rencana pernikahan Arfan dan Mentari hingga sampai pada kata sepakat antara kedua belah pihak.


"Besok datanglah ke rumah untuk mengambil surat-surat milik Mentari yang dibutuhkan untuk mengurus pendaftaran pernikahan kalian!" pak Mahendra memerintahkan Arfan agar segera mengurus segala sesuatunya.


"Jangan lupa ajak juga Mentari ke rumah ya Fan, mungkin untuk sementara kalian harus tinggal terpisah dulu!" imbuh bu Kartika.


"Baik om, tante besok aku akan datang ke rumah setelah dari kampus. Aku juga akan mengurus kepindahan Mentari segera."


Mereka berpisah jalan karena menuju ke tujuan mereka masing-masing. Arfan mengantarkan neneknya terlebih dahulu sebelum kembali ke club.


"Nenek masuk dulu ya Fan, kamu tidak masuk dulu barang sebentar?"


"Tidak nek lain kali saja, kasihan Mentari mungkin saja sedang menungguku pulang nek."


"Oh ya nek ada yang mau aku sampaikan ke nenek."


"Nenek harus berhati-hati dengan Mona dan juga kakek Mahmud, aku khawatir jika Mona sudah mempengaruhi kakek."


"Apa mungkin seperti itu Fan?"


Arfan kemudian menceritakan kedatangan Mona ke perusahaan milik nenek dan apa yang Mona sampaikan ke paman Faisal.


"Nenek akan segera menemui Faisal Fan!"


"Baiklah nek, lakukan segera jangan sampai nenek kehilangan paman."


Arfan kemudian pamit untuk pulang ke club, sesampainya di club ternyata Zaki sudah ada di sana tengah menunggu kepulangannya.


"Ada apa Za?" Tanya Arfan.


"Fan aku hanya ingin meminta saranmu, apa yang harus aku lakukan agar Steven tidak membenciku."


"Bukankah Stev tidak pernah membencimu?"


"Dia mengira jika aku akan merebut Sania dari Tomi, ternyata dia mendengar pembicaraanku dan Sania di taman tempo hari."


"Begini saja Za, kalian memang harus bicara. Katakanlah kebenarannya pada Stev. Bukankah tidak mungkin kalian akan menyembunyikan rahasia itu selamanya dari Stev?"


"Aku takut Stev tergoncang jiwanya karena mengetahui kenyataan pahit ini Fan."


"Cobalah dulu Za, carilah waktu yang tepat untuk bicara dari hati ke hati. Stev anak yang cerdas, aku yakin dia bisa menerima kenyataan ini Za."


"Kau benar Fan."


Zaki pamit dari club Arfan, dia merasa sedikit lega setelah berbicara banyak hal dengan Arfan. Sahabat memang selamanya akan menjadi sahabat, Zaki sangat menyesal akan keputusannya di masa lalu.


Steven baru saja kembali ke tempat tidur setelah dari kamar mandi, Sania dan Tomi dengan setia menunggunya di rumah sakit. Mereka sangat kompak dalam merawat Steven.


"Mama apakah Stev melukai hati om baik?"


Sania memandang Tomi, situasi mereka memanglah sangat sulit untuk bisa menjelaskan yang sebenarnya kepada Steven.


"Tidak sayang, om baik pasti paham mengapa Stev berkata saperti itu. Sekarang Stev bobo ya, biar besok papa yang akan bicara sama om baik."


Steven patuh dengan perkataan Tomi, anak itu tidur ditemani oleh Sania di sampingnya.


Arfan memasuki kamarnya, dia sudah tidak melihat Mentari ada di kamarnya lagi. Arfan kembali ke luar dari kamar untuk melihat keberadaan Mentari.


Suasana club memang sangat sepi, anak-anak sepertinya belum kembali ke club karena masih menjalani latihan mereka bersama club lain sebelum kembali bertanding dalam kompetisi yang sesungguhnya.


Arfan masuk ke kamar Mentari, dia mendekati Mentari yang tengah berbaring menghadap ke arah yang berlawanan dengannya.


"Mentari sayang, apakah kamu sudah tidur?"


Tidak ada jawaban dari gadis itu, meskipun Arfan tahu jika Mentari belumlah terlelap.


Arfan berjongkok di depan Mentari, kemudian menggelitiki perut Mentari yang membuatnya tidak tahan untuk tidak mengeluarkan suara.


"Cukup kak... Cukup aku mohon kak."


Arfan menghentikan keisengannya, "Makanya kalau calon suami bertanya itu dijawab, bukan malah pura-pura tidur, tahu rasa kan sekarang?"


"Aku kan lagi ngambek kak!"


"Idih emang ada ya orang ngambek ngaku?" Arfan tertawa merasa konyol dengan tingkah Mentari.


"Memangnya tidak boleh?"


"Boleh... Boleh...,"


"Mentari besok kamu kemasi barang-barangmu ya, aku akan mengantarkanmu ke rumah orangtuamu!"


"Kakak mengusirku?"


Arfan mengedikan bahu dan tersenyum penuh arti, kemudian ke luar dari kamar Mentari tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.