My Old Star

My Old Star
#109 Bintang Libra



"Sayang ayo kita pulang sekarang!" Arfan membangunkan lembut Mentari yang sudah terlelap, entah mengapa kamarnya di rumah menjadi tempat ternyaman bagi Arfan untuk mengarungi mimpi, padahal dulu club menjadi tempat paling disukai olehnya sehingga dia merasa enggan untuk pulang ke rumah Nenek karena pasti akan ditanyakan soal pernikahan.


Mentari menggeliat dan menyibak selimut, sudah pukul sepuluh malam lewat. Ngantuk yang Mentari rasakan tiba-tiba hilang karena dia tidak mau membuat Arfan tidak nyaman untuk beristirahat.


"Aku cuci muka dulu sebentar ya Kak." Mentari masuk ke dalam kamar mandi dan tidak lama diapun kembali menghampiri suaminya.


Mereka berpamitan pada penghuni club yang masih berada di luar kamar mereka, ada Zaki dan Tomi yang masih mengobrol santai di depan. Zaki juga sepertinya akan kembali ke club tapi urung karena Steven yang sudah tertidur terbangun kembali dan memanggil-manggil dirinya.


"Sepertinya memang kamu harus menginap disini Za," Arfan menepuk pundak Zaki.


Zaki menarik nafasnya dan menghembuskannya kembali, "Aku akan belajar menjadi Ayah yang baik untuk Stev."


Dia melenggang masuk ke kamar Steven dan menemani anak laki-lakinya itu untuk tidur kembali.


Arfan dan Mentari sudah dalam perjalanan pulang ke rumah mereka, cuaca malam ini terlihat cukup cerah banyak bintang bertaburan di langit menambah indah suasana malam meskipun bulan masih tampak malu-malu mengintip dari balik awan, mereka tidak menyangka jika langit akan secerah begini padahal tadi siang hingga sore awan hitam bergumul menjadi satu meneteskan butiran air hujan secara berjamaah bahkan petir menyambar begitu keras membelah langit.


Kuasa sang Pencipta alam sungguh tidak memiliki tandingan, manusia selayaknya selalu bersyukur karena alam dengan segala isinya diciptakan untuk manusia. Kenikmatan yang tiada tara diberikan sebagai bukti kasih sayangNya kepada jutaan manusia yang hidup di bumi Allah yang maha luas.


Mentari mengintip bintang dari balik jendela mobil, "Kak lihat itu indah sekali, bintang Libra itu berbentuk layang-layang!"


"Bisakah kau menghitung luasnya?"


"Jika aku tahu diagonal dan juga panjang sisi-sisinya aku akan bisa menghitungnya, tapi ini jagad raya Kak yang tidak mungkin kita ukur menggunakan penggaris buatan manusia."


"Ah kau benar sayang, apakah seharusnya kita selalu bersyukur?"


"Bersyukur itu sebuah kewajiban Kak, Allah telah memberikan nikmat yang tiada tandingannya bahkan harta sekalipun tidak akan pernah bisa menggantikan setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita manusia."


"Aku bersyukur memiliki kamu Mentari sayang!" Arfan memandang istrinya lekat dengan tetap memperhatikan jalan.


"Jika esok hari kamu pergi, maka ingatlah jika aku akan selalu menunggumu untuk kembali!"


Mentari memeluk lengan Arfan dan bersandar di bahu laki-laki itu, jika bisa memilih dia ingin selalu bersama suaminya tanpa harus pergi kemanapun ataupun jika harus pergi mereka bisa pergi bersama, hanya saja Mentari tahu jika beban Arfan kali ini cukup berat selain sebentar lagi akan ujian semesteran untuk mahasiswanya, dia juga harus memperhatikan anak-anak saat berlatih, mengatur strategi dan tentunya memikirkan finansial untuk keberlangsungan club hingga dia sudah tidak bisa lagi memikirkan perusahaan Nenek.


Arfan bahkan baru bisa mengecek laporan perusahaan saat malam hari, ditambah lagi menyiapkan soal ujian. Arfan seringkali harus rela tidur larut malam karena harus menyelesaikan urusannya sekaligus.


"Maafkan aku Kak, jika keberadaanku menambah beban dalam hidup kamu."


"Jangan pernah katakan itu lagi sayang, kamu bukan beban tapi tempat untuk bersandar bagi jiwa dan ragaku ketika aku lelah."


Mentari mengeratkan pelukan di tangan suaminya hingga terlelap tanpa sadar.


Arfan untuk kesekian kalinya harus menggendong Mentari masuk ke dalam rumah karena selalu saja dia tidak tega membangunkan Mentari dengan melihat wajahnya yang begitu damai ketika terlelap.


Arfan meletakkan tubuh Mentari di atas kasur dan menyelimutinya.


Arfan mengambil laptopnya dan mulai mengerjakan pekerjaannya, mengecek email yang Arman kirimkan untuknya dan meneliti setiap angka demi angka yang tertera disana, menandai bagian yang kurang atau membutuhkan penjelasan dari pengirim laporan. Ditambah Arfan masih harus mengecek tugas yang sudah dikerjakan oleh mahasiswanya, memberikan nilai yang sesuai dengan hasil pekerjaan mereka.


Arfan memang lelah namun tanggungjawab yang membuatnya harus tetap bertahan dalam setiap hal yang harus dia hadapi. Belum lagi tanggungjawab sebagai seorang suami yang telah mengambil seorang gadis dari pundak orangtuanya untuk diberikan nafkah dan dibimbing hingga menjadi istri yang sholehah.


Mentari melihat laptop Arfan masih tergeletak di atas meja, "Kak Arfan pasti lembur lagi tadi malam!" pikir Mentari.


Mentari bergegas mengambil air wudlu untuk sholat subuh kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan Arfan sarapan.


Arfan kembali dari masjid dan pergi lagi untuk joging dengan sudah mengenakan pakaian olahraga lengkap dengan handuk kecil di tangannya, sebenarnya Mentari ingin ikut tapi dia tidak berani mengatakannya kepada Arfan. Sarapanpun siap, dia menata makanan di atas meja kemudian naik kembali ke kamarnya untuk mandi.


Mentari keluar dari kamar mandi dan menemukan Arfan sudah berada di kamar mereka, "Sejak kapan Kak Arfan ada disini, bukankah tadi sudah pergi untuk joging?" Pikir Mentari heran karena Arfan tengah menunggunya. Mentari ragu untuk mendekat karena takut jika itu hanya ilusinya saja.


"Sini sayang!" Arfan menepuk sisi tepi ranjang di sebelahnya, namun Mentari masih tetap ragu untuk mendekat.


"Jangan takut, aku ini suamimu. Pasti kamu heran bukan kenapa aku cepat sekali kembali dari joging?"


Mentari mengangguk, "Aku teringat sesuatu makanya kembali ke rumah. Sini duduklah!"


Arfan merogoh kantong celananya, mengambil sesuatu dari dalam dan memberikannya kepada Mentari.


"Ini pakailah untuk keperluanmu saat di luar kota nanti, aku mengizinkanmu pergi meskipun kemarin aku mengatakan jika aku akan memberikan jawaban setelah memeriksakan kandunganmu, tapi aku sudah memikirkannya dengan matang, lebih baik pergi sekarang dan pulang lebih cepat!"


"Aku merasa perkataanmu benar Mentari, saat kau menunda keberangkatanmu maka akan semakin membuncit perutmu dan itu akan membuatmu pasti akan kesulitan saat harus melakukan banyak hal, padahal aku tidak bisa selalu berada di sisimu. Jadi aku tidak ingin menjadi laki-laki yang egois yang demi diriku sendiri harus membuatmu kesusahan nantinya."


"Ini ambillah dan gunakan sesukamu karena limitnya tidak terbatas!" Arfan memberikan sebuah kartu kepada Mentari.


"Kak aku tidak bisa menerimanya, aku masih memiliki uang untuk keperluan pendidikanku, aku rasa beasiswaku saja sudah lebih dari cukup untuk keperluan kuliahku Kak!"


"Aku ini suamimu dan aku berkewajiban memberikanmu nafkah baik lahir maupun batin, jangan menolaknya karena setiap bulan aku selalu menambahkan isinya bahkan saat kamu tidak mau menerimanya sekalipun."


"Tapi Kak...,"


"Terima saja sayang, aku mandi dulu. Tunggu aku ya, kita sarapan bersama!"


Arfan masuk ke dalam kamar mandi, menyalakan air dan mengguyur tubuhnya. Dia menangis bersama guyuran air agar tidak terdengar oleh siapapun untuk menutupi betapa rapuh hatinya tanpa Mentari di sisinya.


Arfan memang sebenarnya masih tidak rela jika harus membiarkan Mentari pergi, tapi demi masa depan Mentari dia harus bisa tegar untuk beberapa waktu ke depan tanpa istrinya.


Mentari sendiri menunggu Arfan di luar sambil membolak-balik kartu yang Arfan berikan kepadanya.


"Apa aku harus menggunakannya?" Mentari merasa dilema, dia tahu Arfan sedang membutuhkan biaya cukup besar untuk club tapi kenapa malah Arfan memberikan semua itu kepadanya?


"Sayang ayo kita sarapan, aku sudah lapar dan harus pergi ke kampus!"


Mentari dibuat gelagapan karena tidak tahu jika Arfan sudah berdiri di depannya, "Ya Allah Kak, aku sampai kaget."


"Ayo sarapan karena beberapa hari ke depan aku akan sangat merindukan masakanmu sayang."


"Kakak sudah tidak mual-mual lagi di pagi hari?"


Arfan menggeleng padahal sebenarnya Arfan sedang menahan gejolak di dalam dirinya agar jangan sampai dia terlihat masih mengalami morning sickness di depan Mentari dan dia tidak mau jika Mentari melihatnya maka Mentari akan mengurungkan keberangkatannya ke luar kota.