
Arfan baru saja selesai dengan pekerjaannya mengajar di jam pertama pagi ini, hingga sebuah dering telfon mengusik jalannya menuju ke ruang dosen. Arfan segera mengambil ponsel di saku celananya dan melihat siapa yang menelfonnya.
"Hallo... Ada apa Sa?" Tanya Arfan begitu panggilan mereka tersambungkan.
"Aku minta tolong Fan, bisakah kamu kesini sekarang?"
"Apa terjadi sesuatu Sa?"
"Stev naik ke pohon belakang club dan tidak mau turun sebelum Zaki datang, aku sudah mencoba menghubungi Zaki tapi tidak tersambung sedangkan Tomi sedang tidak ada di club bersama anak-anak." Suara Sania terdengar bergetar saat menyampaikan kalimat demi kalimat kepada Arfan.
"Aku akan segera kesana Sa, kau tenanglah!"
Arfan menyimpan kembali ponselnya, mempercepat langkah ke ruang dosen dan bergegas pergi meninggalkan kampus.
Arfan sampai di club dengan wajah tegang yang disambut oleh Ibu Ilyas yang juga terlihat panik. Wajar saja karena hanya mereka berdua yang saat ini ada di club.
"Dimana dia Sa?" Arfan berjalan ke taman belakang untuk melihat Steven.
"Stev ayo turun!" Arfan berharap anak itu mematuhi ucapannya.
"Aku tidak mau uncle, aku maunya Papa Zaki datang kesini!" teriak Steven dari atas pohon.
"Nanti uncle antar ke Papa Zaki sayang, sekarang Stev turun dulu kasihan Mama." Arfan terus membujuk Steven yang tetap kekeh pada pendiriannya.
"Uncle tidak usah membujuk Stev, pokoknya Stev mau Papa Zaki!"
Arfan sudah kehabisan akal untuk membuat Steven turun dari atas pohon. Dia teringat jika dirinya meninggalkan Mentari di kampus.
"Sa aku harus menjemput Mentari sekarang, kasihan jika dia menungguku terlalu lama. Aku akan kembali lagi nanti!"
"Aku juga akan menghubungi Zaki, semoga dia bisa datang kesini secepatnya." Sambung Arfan sebelum menghilang dari hadapan Sania dan Ibu Ilyas.
Arfan tiba di kampus untuk mengambil barang-barangnya, dia melihat tugas mahasiswanya sudah tergeletak di atas meja kerjanya karena tadi dia harus meninggalkan kelas. Arfan membawa serta pekerjaan mereka untuk dia periksa di rumah.
Mentari sudah menunggu di depan gerbang kampus saat Arfan datang menjemputnya.
"Apakah sudah menunggu lama sayang?"
"Lumayan kak, tapi tidak apa-apa cuma sedikit panas saja."
"Ayo masuk!" Arfan membukakan pintu untuk istrinya.
"Kita akan ke club dulu sebelum pulang, kamu tidak keberatan kan sayang?"
"Aku sebenarnya capek sekali kak, tapi aku bisa istirahat di club nanti."
Mereka sampai di club, disana tambah heboh karena Tomi dan anak-anak sudah sampai di club. Mereka sedang membujuk Steven secara bergantian karena langit sudah mendung dan sepertinya akan segera turun hujan disertai dengan petir.
Arfan belum bisa menghubungi Zaki hingga saat ini karena sepertinya ponsel Zaki sedang tidak aktif. Zaki sendiri sedang berada di tepi pantai bersama keluarga Marryana setelah semalam mereka merayakan ulang tahun Marryana.
Zaki sedang menikmati makan siang di pantai saat tiba-tiba awan hitam menggulung sinar matahari yang tadi terasa begitu terik. Entah kenapa perasaannya berubah tidak enak, seperti sedang ada yang sedang merindukannya.
Dia teringat Steven karena sudah lama dia tidak mengunjungi Steven karena padatnya jadwal pekerjaannya.
Zaki bersama keluarga Marryana kembali ke hotel karena langit berubah hitam dan siap menumpahkan butiran bening yang dikandungnya.
Zaki baru mengambil ponselnya yang kehabisan baterai sejak tadi pagi, dia mengecek banyak sekali panggilan masuk dari Sania dan Arfan.
Zaki baru saja akan memencet nomor Sania untuk menelfon balik Mama Steven itu khawatir ada hal penting hingga Sania menghubunginya berulang kali, bersamaan dengan Marryana yang memanggilnya untuk bergegas check out dari hotel sebelum cuaca semakin buruk.
"Za ayo cepatlah kita harus meninggalkan tempat ini segera!" Marryana memanggil Zaki dari pintu kamar lelaki itu karena mereka berada di kamar yang terpisah.
Zaki menyimpan ponselnya memilih bergegas dan berniat menghubungi Sania nanti saja di jalan saat mereka sudah merasa lebih aman.
Keluarga Marryana sendiri sudah lebih dulu meninggalkan hotel karena mereka menaiki kendaraan yang berbeda dengan mereka berdua.
Steven masih setia di atas pohon, Tomi bahkan sudah lelah membujuknya. Dia berniat menebang pohon itu karena memiliki andil besar penyebab kekacauan hari ini.
"Sabar sebentar lagi Tom, kita coba bujuk Stev sekali lagi." Arfan memberikan saran kepada Tomi yang sudah tidak bisa sabar menghadapi Steven.
"Kamu lihat Fan, sebentar lagi hujan turun. Rasanya aku sudah tidak tahan lagi untuk menebang pohon itu!"
Mentari yang sedari tadi hanya menyaksikan saja bagaimana semua orang di club sibuk membujuk Steven juga merasa tidak tahan karena Steven susah sekali dibujuk. Dia menuju ke taman belakang untuk melihat anak itu.
Mentari berdiri di bawah pohon dan memandang lurus ke atas, di saat bersamaan Steven juga memandang ke arah Mentari. Pandangan mereka bertemu, Steven tak kuasa menahan rindunya kepada Mentari yang sudah lama tidak mengunjunginya tetapi karena gengsinya dia tetap tidak mau turun.
"Stev...," Mentari mulai mengeluarkan suaranya.
"Kakak tahu kamu kangen sama Papa Zaki, tapi apa Stev pernah memikirkan perasaan Mama Sania yang sangat mengkhawatirkan kamu sama seperti saat Stev kabur dari club?"
"Papa Zaki mungkin sedang sibuk saat ini, tapi kakak yakin dia pasti akan datang kesini, Stev coba lihat Mama yang berdiri disana, Mama Stev selalu mencoba mengambulkan apa yang Stev inginkan tapi untuk beberapa hal Mama juga memiliki keterbatasan, bukankah Stev tahu itu?"
Steven mulai mengeluarkan air matanya, dia sudah berjanji tidak akan membuat Mamanya sedih lagi. Namun, hari ini dia menggunakan egonya yang dominan untuk memaksa Mamanya sendiri.
"Kamu lihat Stev, langit mulai terlihat hitam karena mendung. Perasaan Mama kamu juga seperti itu, mendung karena sedih. Mama tentu tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu Stev."
"Sekarang turun ya atau kamu mau kakak yang menyusul kamu ke atas?"
"Stev tidak mau turun kak sebelum Papa Zaki datang!" Steven tetap pada pendiriannya.
"Baiklah kalau begitu kakak akan tetap menunggu Stev di bawah sini, kita mandi air hujan bersama!"
Mentari tetap berdiri di bawah pohon hingga rintik hujan mulai turun, Arfan yang melihat itu tidak tega dengan istrinya yang kekeh tidak mau berteduh karena Mentari berharap hati Steven akan terbuka jika banyak orang yang menyayanginya.
Arfan menyusul istrinya berdiri di bawah guyuran air hujan, disusul dengan Tomi dan Sania yang ikut bersama mereka. Anak-anak asuh Arfan pun tidak mau kalah, mereka saling memberikan dukungan agar Steven bisa melihat ketulusan mereka.
Zaki yang baru sampai di club setelah mengantar Marryana ke kediam keluarganya di kota Z, baru teringat jika dia harus menelfon balik Sania. Dia sangat lelah sebenarnya karena menempuh perjalanan jauh di bawah guyuran hujan dan harus ekstra hati-hati karena jalan licin ditambah petir yang menggelegar khawatir jika ada pohon tumbang.
Zaki memasuki kamarnya, mengambil ponsel di saku jasnya kemudian menekan nomor Sania. Sayangnya tidak terjawab hingga panggilan ke sekian kalinya. Zaki semakin dibuat khawatir dengan situasi itu. Dia mengambil jasnya kembali dan memacu mobilnya ke arah club Arfan untuk memastikan sendiri jika tidak terjadi apapun pada mereka.
Hujan masih setia menemaninya disepanjang perjalanan menuju club. Zaki sampai di club, mengetuk pintu hingga beberapa kali namun tidak ada yang membukakan pintu untuknya. Dia masuk ke dalam karena pintu tidak dikunci, suasana club lengang dan sepi di beberapa sudut.
Zaki menuju taman belakang karena melihat pintu ke arah belakang terbuka. Zaki tercengang melihat semua orang sudah basah kuyup di bawah pohon.
Steven melihat Zaki datang dari atas club, "Papa Zaki!!" teriaknya yang membuat semua orang tertuju ke arah Zaki yang baru datang.
Steven bergegas untuk turun dari pohon, namun permukaan batang pohon menjadi licin karena hujan, Steven pun tergelincir dari atas pohon.
"Aaaaaaaaaaaaa....!!!!!"