My Old Star

My Old Star
#63 Tatapan Permusuhan



Arfan memakaikan cincin yang tadi ia beli ke jari manis Mentari dan memakaikan cincin yang satunya ke jari manisnya sendiri. Cincin itu semakin terlihat indah dipakai oleh Mentari dengan kulit putih bersihnya.


"Terimakasih kak," ucap Mentari sambil memandangi jari manisnya.


Arfan memeluk Mentari dan mengusap lembut kepala gadis itu, "Kelak menualah bersamaku!" bisik Arfan di telinga Mentari yang hanya dijawab dengan anggukan pelan olehnya.


Arfan membawa Mentari ke rumah neneknya, mereka masuk ke dalam rumah dan mendapati Mona ada di rumah nenek Wijaya.


"Kalian datang sayang?" Nenek Wijaya menyongsong kehadiran Arfan dan Mentari.


"Ayo masuklah!" ajak nenek Wijaya tetapi ditolak oleh Arfan.


"Sepertinya kami kurang tepat berkunjung hari ini, kami permisi dulu nek!" Arfan tidak menyukai ada Mona diantara mereka.


"Tunggu dulu Fan!"


"Tidak ada gunanya aku di sini nek, aku hanya ingin hidup tenang!" Arfan menatap tajam ke arah Mona.


"Mentari sayang, tolong tinggallah sebentar di rumah nenek. Apa kamu tidak merindukan nenek nak?" Nenek Wijaya sengaja menggunakan Mentari untuk membujuk Arfan agar menunda kepergiannya.


Mentari memandang Arfan yang tetap menatap lurus ke depan, "Ayolah Mentari, nenek merindukanmu jadi biarlah Arfan pergi dulu tapi kau tetap di sini bagaimana?" Nenek Wijaya terus membujuk.


Mentari mengangguk, "Baiklah nek!" jawab Mentari karena merasa tidak enak dengan nenek Wijaya.


"Kalau begitu besok pagi kita bisa masak bersama lagi sayang?" Nenek Wijaya tersenyum senang karena memenangkan Mentari.


"Kalian bersenang-senanglah, aku pergi dulu!" Arfan meninggalkan Mentari di rumah neneknya sedangkan dia akan pergi ke luar terlebih dahulu.


"Kak... Kok aku ditinggal?" Mentari memanggil Arfan.


Arfan melambaikan tangannya tanpa menoleh ke arah Mentari, dia terus keluar dan meninggalkan rumah neneknya barang sejenak.


"Ups... Ada yang ditinggalkan nih," celetuk Mona mencibir Mentari sedangkan gadis itu tetap tenang tidak mau terprovokasi.


"Kau tenanglah sayang, Arfan pasti akan menjemputmu nanti." Ucap nenek Wijaya menenangkan Mentari yang bukan karena takut ditinggal, dia hanya khwatir jika Arfan pergi dalam keadaan marah.


"Sekarang naiklah untuk beristirahat!" perintah nenek Wijaya.


Mentari mematuhi perintah nenek, sedangkan Mona merasa kesal karena meskipun sudah menjadi salah satu anggota keluarga Wijaya namun dia tidak diperlakukan istimewa seperti Mentari oleh nenek Wijaya.


"Nenek kenapa tidak adil kepadaku?" Protes Mona kepada nenek Wijaya.


"Tidak adil bagaimana maksud kamu Mona?"


"Nenek memperlakukan Mentari begitu istimewa, tapi kenapa kepadaku tidak demikian nek?"


"Bukankah aku yang sudah jelas adalah keturunan keluarga Wijaya, seharusnya aku yang nenek perlakukan istimewa bukan Mentari!"


"Mona yang perlu kamu pahami adalah aku menyayangi Mentari seperti cucuku sendiri, sedangkan kamu mungkin aku masih harus belajar untuk hal itu."


"Mona kamu sudah dengar sendiri kan nak, kakakku tidak membencimu hanya saja dia sedang berusaha untuk memperlakukanmu dengan baik, jadi kamu harus sabar ya nak!"


Mona kembali duduk di sofa dengan kesal, "Tidak nenek, tidak cucu sama saja!" kesalnya dalam hati.


Malamnya Mentari turun dari kamar menuju meja makan, nenek Wijaya menyuruhnya untuk makan malam bersama. Mentari celingukan mencari Arfan yang belum ada diantara mereka.


"Duduklah sayang, Arfan pasti akan segera kembali kesini untuk menjemputmu." Nenek Wijaya paham akan kegelisahan Mentari.


"Iya nek, tapi sudah malam begini kenapa kak Arfan belum kembali juga."


"Dia mungkin sedang ada urusan, jadi tidak perlu risaukan dia ya, sekarang makanlah dulu!"


"Heh gadis tengil ribet banget sih hidupmu, Arfan itu sudah besar. Dia tahu apa yang dia butuhkan. Mana mungkin dia tahan dengan gadis kurus dan berdada rata seperti kamu!"


"Dia itu sukanya dengan perempuan bertubuh aduhai sepertiku, kamu tahu tidak di luaran sana dia sedang mencari kehangatan lain, jadi jangan mudah percaya dengan janji manis yang keluar dari mulut seorang laki-laki, apalagi pria yang usianya jauh lebih tua dari kamu!"


"Mona jaga ucapan kamu, hati-hati kalau bicara dia cucuku dan aku tahu bagaimana sifatnya sedari kecil!" nenek Wijaya mulai naik pitam.


"Aku bicara apa adanya kok nek, nenek saja yang tidak tahu bagaimana kelakuannya di luaran sana!"


"Mona kamu tahu sedang berbicara dengan siapa, jangan kurang ajar nak!" kakek Mahmud memberikan peringatan kepada putrinya.


Mentari melihat nenek Wijaya menahan emosinya, Mentari memegang tangan nenek Wijaya untuk sedikit menenangkannya.


"Sudahlah nek tidak usah didengarkan, yang tahu bagaimana cucu nenek adalah nenek sendiri bukan orang lain, nenek lanjutkan dulu makannya ya nek!" Mentari tersenyum lembut kepada nenek Wijaya dengan memberi penekanan pada beberapa kata yang dia ucapkan agar Mona bisa mendengar dengan jelas ucapannya.


Mona terus menatap Mentari yang dibalas oleh gadis itu dengan tatapan permusuhan.


Di tempat lain, Arfan sedang berbicara serius bersama Arman di kontrakan.


"Fan aku tidak mungkin menerima tawaran kamu, aku baru saja mengundurkan diri dari club Zaki, tentu akan ada suara-suara miring yang tidak enak di dengar."


"Lalu bagaimana dengan hidupmu, kamu butuh pekerjaan Man!"


"Aku tahu Fan, anggaplah saat ini aku sedang beristirahat sejenak!"


"Sudahlah terserah kau saja!" Arfan bersedekap dengan membuang mukanya ke arah lain.


"Jangan terlalu memikirkanku Fan, aku pasti akan baik-baik saja. Kamu pikirkan saja rencana pernikahan kamu dengan Mentari. Kasihan gadis itu jika terlalu lama menunggumu, Kau dan Mentari juga berhak bahagia Fan."


"Jangan alihkan pembicaraan!"


"Aku berbicara apa adanya Fan, ingat umur kita sudah semakin bertambah!"


"Kamu pikir kamu masih muda hah, kita sama-sama sudah kepala tiga Man!"


"Ah sudahlah aku pergi dulu!" Arfan bangkit dari duduknya keluar dari kontrakan Arman.


Mentari dan yang lainnya baru saja menyelesaikan makan malam mereka, tetapi mereka masih ada di meja makan.


"Aku akan bereskan ini dulu nek," Mentari mengangkat piring-piring kotor untuk dia bawa ke dapur.


"Biarkan bibi saja non yang bereskan!"


"Aku akan membantu bibi biar lebih cepat selesai."


"Cari perhatian tuh!" celetuk Mona.


"Mahmud aku pusing dengan putrimu itu, sepertinya apa yang Mentari lakukan selalu saja salah di matanya."l


"Maafkan putriku kak, aku mohon!"


Nenek Wijaya tidak menjawab, dia memilih masuk ke kamarnya dari pada tambah pusing mendengarkan ocehan Mona.


Mona melihat nenek Wijaya sudah masuk ke dalam kamar, perlahan dia mencari Mentari yang sedang berada di dapur bersama bibi membersihkan alat masak dan yang lainnya.


"Kamu ini ya, aku peringatkan jangan terlalu sering datang kesini!"


"Loh memangnya ada masalah kak?"


"Kamu pikir kehadiran kamu di sini ada gunanya yang ada merepotkan!" Mona menjambak rambut Mentari.


Mentari mengaduh kesakitan memegangi rambutnya yang ditarik oleh Mona.


"Kamu itu harus tahu diri, kamu itu tidak pantas untuk Arfan!"


"Baiklah kak aku akan mundur, tapi dengan syarat kak Arfan yang mengatakannya sendiri kepadaku!"


"Berani juga kamu gadis kecil?!!!"


Mona semakin kencang menjambak Mentari, bibi keluar dari dapur untuk meminta bantuan tetapi dia tidak menemukan seorangpun di rumah itu.


"Pada pergi kemana saja nih orang-orang, begitu mau dibutuhkan pakai ngilang semua mereka!"


Bibi masih mencari pertolongan, Mona masih terus menjambak Mentari.


"Ini baru peringatan, kalau maju selangkah lagi tidak segan aku akan menghabisimu!"


"Mona lepaskan dia!" Arfan yang baru masuk rumah mendengar suara Mentari yang seperti orang kesakitan lalu mencari keberadaan gadis itu.


"Arfan...!" ucap Mona terperanjat kaget dengan kedatangan Arfan yang tiba-tiba, dia melepaskan tangannya dari rambut Mentari, kali ini dia benar-benar tertangkap basah.