My Old Star

My Old Star
#60 Titik Koordinat



"Siska malam ini sebaiknya kita menginap di sini saja ya!" ucap Mentari sambil merebahkan tubuhnya di kasur.


"Kamu yakin Mentari?"


"Apa kamu tidak takut kalau pak Arfan akan marah dengan kita?"


"Salah sendiri mengerjai kita Sis, biar tahu rasa mereka. Kita jangan mau dianggap lemah oleh mereka meskipun kita perempuan!"


"Tapi Mentari...,"


"Sudah tidur saja Sis!"


Mentari dan Siska melarikan diri dari hotel tempat Arfan dan yang lainnya menginap atau lebih tepatnya mereka tidak kembali lagi ke hotel setelah pertandingan usai, Mentari sangat kesal karena Arfan bersekongkol dengan Arman untuk mengerjai mereka.


"Sekali-kali ngambek boleh bukan?" Pikirnya.


Mentari dan Siska tengah tertidur pulas, sedangkan di tempat lain Arfan dan Arman masih menunggu mereka berdua kembali ke hotel, Arfan merasa sangat khawatir meskipun masih bisa bersikap cukup tenang.


Arfan hanya khawatir jika sampai terjadi sesuatu kepada mereka berdua sedangkan yang mengajak mereka ke luar kota adalah dirinya, pasti sudah barang tentu dialah orang pertama yang akan disalahkan, bahkan saking khawatirnya mereka berdua sampai melewatkan makan malam bersama anak-anak.


"Bagaimana ini Fan, sudah larut malam begini mereka tidak ada kabar sama sekali." Arman gundah memikirkan sebenarnya mereka berdua ada di mana saat ini.


Arfan bangkit dari duduknya, menyambar jaket di kursi kemudian pergi dari lobi hotel untuk mencari keberadaan Mentari dan Siska, sebab hingga saat ini ponsel mereka tidak ada yang aktif satupun.


"Hei Fan, kau mau kemana?" Tanya Arman.


"Kamu mau ikut atau mau tetap menunggu di sini?" Tanya balik Arfan.


Arman memilih ikut dengan Arfan, mungkin dengan begitu dia akan lebih tenang ketimbang harus menunggu tanpa pasti sendirian.


"Kita akan cari mereka kemana Fan?"


"Kita akan segera menemukan mereka!" jawab Arfan.


"Kau melacaknya?"


"Cerdas!" Arman tertawa bangga memiliki sahabat seperti Arfan yang dalam kondisi genting pun dia tetap tenang dan berpikir secara jernih.


Mereka sampai di sebuah penginapan, Arfan turun dari mobilnya kemudian berjalan menuju meja resepsionis untuk menanyakan kebaradan Mentari dan Siska.


"Mohon maaf tuan, kami tidak bisa memberikan informasi apapun mengenai pengunjung kami." Jawab resepsionis itu dengan sopan atas pertanyaan Arfan.


"Nona tolong kami karena kami sedang mencari adik-adik kami yang kabur dari rumah dan lokasi terakhir dari signal yang berhasil saya lacak adalah di tempat ini, saya yakin mereka ada di sini!"


"Sekali lagi saya mohon maaf tuan, saya tidak bisa melakukan itu."


"Kalau begitu tolong panggil manager penginapan ini biar saya berbicara dengannya!"


"Baik tuan, silakan bisa duduk dulu di sana sambil menunggu!" resepsionis itu mempersilakan tamunya untuk duduk di kursi tamu sembari dirinya memanggil manager tempatnya bekerja.


"Mohon maaf apakah tuan-tuan mencari saya?" Ucap sopan manager sekaligus pemilik penginapan itu.


Arfan berbalik ke arah sumber suara, "Farhan, benar kau kah ini?"


"Arfan... Arman?" mereka bertiga saling berpelukan.


Farhan adalah teman satu tim mereka sepuluh tahun yang lalu.


"Kau sekarang bekerja di sini?" Tanya Arman.


"Iya Man, ini penginapan milikku. Mekipun kecil tapi bisa menghidupiku selama sepuluh tahun terakhir ini. Sejak tim kita bubar, aku tidak tahu harus bekerja apa akhirnya aku beranikan diri untuk membuka usaha kecil-kecilan ini." Farhan bercerita panjang lebar kepada mereka berdua.


Arfan menepuk pundak Farhan, "Aku salut kepadamu Han, ternyata kamu mampu membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain."


"Sebenarnya aku ke sini mencari dua orang gadis, mereka datang ke kota ini bersamaku tapi usai menonton pertandingan mereka menghilang, lokasi terakhir ada di penginapan ini." Arfan memperlihatkan titik koordinat dari ponselnya yang menunjukkan keberadaan Mentari dan Siska.


"Apakah mereka kekasih kalian berdua?" Tanya Farhan penuh selidik.


"Kalau yang satu iya Han, calon istrinya Arfan. Tapi kalau yang satu masih calon pacar!" Arman tertawa sambil mengingat wajah cantik Siska.


"Kalian cepatlah menikah karena aku bahkan sudah punya anak,"


"Benarkah Han, kenapa menikah diam-diam tidak mengabari kami?"


"Bagaimana aku bisa mengabari kalian, kalau semenjak kita bubar kita sibuk dengan dunia kita masing-masing, bahkan aku tidak tahu bagaimana caranya bisa menemukan kalian."


Tampak penyesalan yang mendalam di raut wajah Farhan, semua orang memang sangat menyayangkan kenapa tim mereka harus bubar, padahal semua orang menjuluki tim mereka dengan sebutan tim terkuat pada saat itu terbukti dengan kemenangan yang selalu mereka raih di setiap pertandingan.


"Maafkan aku Han karena aku tidak bisa mengendalikan emosiku pada waktu itu hingga membuat kita semua hancur bersama!" Arfan mengakui kesalahannya di masa lalu.


"Kamu tidak bersalah Fan, aku pun memiliki emosi yang sama sepertimu."


Mereka bertiga kembali berpelukan, mengenang masa kejayaan mereka di masa lalu seringkali menguras emosi. Namun mereka tetap percaya jika kejayaan itu tidak kekal selamanya, ada kalanya harus jatuh agar kita bisa mengerti rasanya sakit.


Jika tidak ada kejadian di masa lalu tentu mereka tidak akan pernah menjadi seperti sekarang.


Arfan teringat akan tujuannya datang ke penginapan milik Farhan, dia tahu jika Mentari pasti aman berada di tempat itu namun dia tidak ingin pergi tanpa membawa Mentari bersamanya.


"Han bagaimana apakah kami bisa membawa mereka?"


"Apa sebaiknya tidak besok pagi saja Fan karena ini sudah sangat larut malam, aku sebagai pemilik penginapan ini khawatir jika reputasi kami menjadi jelek karena kalian membawa tamu kami malam-malam begini ke luar dari penginapan, nanti malah penginapan ini di cap buruk oleh orang yang tidak menyukai kami Fan."


"Farhan benar Fan, kita tidak mungkin mengacaukan usahanya karena keegoisan kita."


"Lalu apakah aku bisa memastikan jika mereka berdua memang ada di penginapan ini?"


"Aku akan cek identitas mereka sebentar!"


Farhan menyuruh resepsionis untuk mengecek data pengunjung mereka malam ini, ternyata benar memang Mentari dan Siska ada di penginapan itu.


"Mereka aman di sini, kalian tidak perlu khawatir."


"Apakah kami boleh menunggu di sini sampai pagi?"


"Tentu saja boleh, akan aku siapkan kamar untuk kalian!"


"Tidak usah Han, kami akan menunggu mereka di sini saja."


Farhan sebenarnya memaksa agar sahabat lamanya itu bisa beristirahat di kamar, namun Arfan tetap menolak karena dia tidak mau merepotkan Farhan lebih jauh lagi, sudah diizinkan untuk menunggu saja Arfan sudah sangat berterimakasih.


"Kalau begitu akan aku temani kalian di sini, anggap saja kita sedang melepaskan rindu meskipun ini sebuah kebetulan."


Mereka bertiga mengobrol di lobi hingga pagi, bernostalgia dan menceritakan banyak hal yang lainnya. Arfan baru beranjak ketika dia akan menunaikan ibadah paginya. Arman sebenarnya sudah tidak kuat menahan kantuk sehingga dia sudah terlihat sangat lemas.


Selesai sarapan pagi, Mentari dan Siska ke luar dari kamar untuk segera check out dari penginapan itu, mereka akan kembali ke hotel. Mentari merasa cukup untuk memberikan pelajaran kepada Arfan yang telah membuatnya kesal.


Mereka berdua sampai di lobi, "Mentari kau lihat mereka sepertinya pak Arfan dan kak Arman! Siska menunjuk ke arah sebuah tempat duduk yang ada di lobi penginapan itu.


"Kita harus cepat-cepat pergi dari sini, sebelum mereka menyadari kehadiran kita!" ucap Mentari sambil memberikan kode agar Siska jangan berisik.


Selesai check out mereka perlahan menuju ke pintu keluar. Baru beberapa meter mereka melangkah menuju pintu, suara Arfan membuat nyali mereka menciut.


"Mau kemana lagi kalian?!"