
Mona yang merasa sangat malu karena dipermalukan balik dari pihak Arfan, akhirnya pergi meninggalkan gedung bersama ibunya.
Banyak orang yang mencibir mereka sehingga Mona sangat kesal. Kakek Mahmud sendiri tidak habis pikir dengan kelakuan Mona dan mantan istrinya itu. Dia berharap kejadian hari ini bisa membuat mereka kapok untuk tidak lagi membuat ulah.
Acara akhirnya selesai juga, semua tamu undangan sudah meninggalkan gedung tempat berlangsungnya acara termasuk anak-anak asuh Arfan dan juga keluarga Tomi. Kini tinggal keluarga inti Arfan dan Mentari yang masih ada di dalam gedung dan beberapa orang terdekat mereka.
Mentari terlihat sangat lelah hari ini, namun dia mendekat ke arah Hyorin yang sedang merapikan rambut putrinya yang berantakan selesai bermain tadi bersama Steven.
"Kak Hyorin terimakasih atas bantuannya tadi!" Mentari memeluk Hyorin.
"Sama-sama Mentari, kami juga tidak bisa berbuat apa-apa jika kalian tidak memiliki dokumen yang bisa menguatkan argumen kami."
"Kami berhutang budi pada kalian kak,"
"Tidak perlu sungkan Mentari, kita sudah seperti keluarga."
Ayesh menghampiri Hyorin yang masih berbincang dengan Mentari, "Bunda sayang sudah saatnya kita pulang, Sherly sepertinya sudah mengantuk."
"Baik mas tunggu sebentar ya,"
"Mentari aku pamit dulu ya, jika ada apa-apa jangan sungkan hubungi kami. Siapa tahu kami bisa membantu."
"Terimakasih sebelumnya kak!" Mentari kembali memeluk Hyorin.
Arfan melihat wajah kusut istrinya, kehebohan tadi membuat hatinya geram, emosi bercampur menjadi satu.
"Mahmud aku tahu jika Mona bukanlah darah dagingmu, tapi tolong nasehati dia agar jangan selalu membuat kekacauan di hidup cucuku!" nenek Wijaya sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan Mona.
"Akan aku lakukan kak!"
Arfan mengantarkan orangtua Mentari terlebih dahulu sebelum mereka pulang ke rumah, sedangkan nenek pulang bersama kakek Mahmud dengan diantarkan supir.
"Apa tidak sebaiknya kalian menginap di sini saja, lagian ini sudah malam ditambah kalian sudah sangat lelah." Ucap bu Kartika saat turun dari mobil Arfan.
"Iya benar kata ibumu Mentari, sebaiknya kalian pulang besok pagi saja." Pak Mahendra membenarkan ucapan istrinya.
Arfan dan Mentari menyetujui keinginan orangtuanya ditambah lagi memang mereka sudah sangat lelah hari ini.
Entah mengapa rasanya pagi ini mereka berdua tidak ingin beranjak dari tempat tidur seandainya tidak harus melakukan kewajiban ibadah pagi mereka. Rasanya baru beristirahat sebentar tapi sudah pagi kembali.
Selesai melakukan rutinitas pagi, Arfan kembali ke atas ranjang karena dia merasa mual. Mentari mendekatinya bermaksud membalurkan minyak kayu putih ke bagian perut Arfan untuk membuatnya lebih hangat, Arfan malah menarik lengan Mentari dan mendekapnya erat.
Arfan seperti anak kecil yang bersembunyi di ketiak ibunya. Arfan merasa nyaman sekali dengan posisi seperti itu, baru sebentar saja sudah terdengar dengkuran halus dari Arfan.
Dia terlelap begitu nyaman seperti anak kecil. Bau tubuh Mentari seperti obat baginya sehingga mualnya hilang begitu saja. Mentari berusaha meloloskan diri tapi dekapan Arfan terasa begitu kuat di tubuhnya.
Bu Kartika sedang sibuk memasak sarapan di dapur, dia menanti Mentari dan Arfan turun dari kamar mereka namun tak kunjung terlihat batang hidung mereka sampai semua hidangan tersaji di atas meja makan.
"Duh anak ini sudah menjadi seorang istri tapi masih saja tidak memperhatikan suaminya, seharusnya dia membuatkan minuman hangat untuk Arfan, mana ini belum turun juga sejak tadi!" bu Kartika mengomel sembari melangkah ke lantai atas untuk memanggil putrinya.
"Nak... Mentari ayo sarapan, suruh juga Arfan untuk sarapan sayang!" panggil ibu Mentari dari luar.
Setelah memanggil mereka beberapa kali tetapi tidak memperoleh jawaban, bu Kartika memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar karena ternyata tidak di kunci pintunya.
Arfan tertidur dalam posisi mendekap Mentari yang juga tertidur dengan menyangga kepalanya dengan bantal agar posisinya lebih tinggi di bandingkan Arfan.
Bu Kartika tersenyum dan menggelengkan kepalanya merasa lucu dengan tingkah mereka. Bu Kartika memutuskan untuk ke luar dari kamar dan mengajak suaminya sarapan terlebih dahulu.
"Mana mereka bu?"
Bu Kartika menempelkan telunjuknya di bibir, "Mereka masih terlelap yah, sepertinya selesai sholat subuh tadi mereka kembali tidur, mungkin mereka masih sangat lelah."
Tengah hari Arfan terbangun dari tidurnya, rasanya sangat nyaman hari ini karena dia tidak perlu bolak-balik ke kamar mandi karena mual-mual. Mentari masih terlelap di sampingnya dengan nyaman, Arfan tidak ingin mengganggu istrinya, sehingga dia turun dari atas ranjang dengan perlahan. Namun, pergerakan Arfan sedikit mengusik Mentari.
Selesai membersihkan diri, Arfan turun untuk mengambil air minum di dapur.
"Sudah bangun nak?" Tanya bu Kartika yang sedang memasak rendang di dapur.
Arfan langsung menutup hidungnya karena tidak kuat dengan bau rendang yang masih ada di atas kompor. Perutnya terasa mual sehingga dia berlari ke kamar mandi.
Mentari yang masih terlelap tiba-tiba terbangun dari tidurnya karena mendengar suara Arfan yang sedang mual-mual di bawah. Mentari bergegas turun dari ranjang karena merasa khawatir dengan Arfan.
"Bu... Kak Arfan di mana?" Tanya Mentari dengan nada cemas.
Bu Kartika menunjuk kamar mandi yang sedang Arfan gunakan.
Mentari mengetok-ngetok pintu kamar mandi itu, Arfan ke luar dengan wajah pucat. Dia seperti biasa terlihat sangat lemas.
Tubuh Arfan terkulai lemas di bahu Mentari, dia menyukai bau tubuh Mentari yang membuat perutnya nyaman.
"Jangan lepas!" Arfan terus memeluk Mentari erat.
"Kita duduk dulu di sana ya kak?" Mentari mengajak Arfan untuk duduk.
Arfan terus memeluk Mentari, "Kak malu ih di lihat sama ibu!"
"Sebentar lagi sayang, aku sangat nyaman seperti ini."
Bu Kartika mendekati mereka, "Maafkan ibu ya Fan, membuat kamu mual-mual begini."
"Tidak apa-apa bu, aku sudah ketemu obatnya." Arfan memejamkan matanya di dada Mentari, dia sangat manja semenjak Mentari mengandung.
"Kalian belum sarapan kan, nanti kalian makan dulu. Ibu sudah siapkan di meja makan."
Bu Kartika meninggalkan keduanya karena harus mengurus pekerjaan yang lain.
Setelah sarapan sekaligus makan siang karena sudah terlalu siang untuk sarapan, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah mereka karena harus menyelesaikan pekerjaan lain yang harus mereka bawa besok ke kampus.
Di tempat lain, Marryana sedang berkunjung ke tempat Zaki. Dia sengaja menemui Zaki di club karena ingin lebih dekat dengan laki-laki itu, entah mengapa seolah ada magnet yang menariknya untuk selalu bertemu Zaki.
"Hai Marry sudah lama?" Zaki baru bisa menemui Marryana karena baru saja mengawasi anak-anak berlatih untuk pertandingan di tingkat nasional setelah kemarin kalah dari club Arfan tentu ada banyak hal yang perlu mereka evaluasi agar permainan mereka kembali pada performa sebelumnya.
"Aku belum lama kok Za, sorry ya aku jadi ganggu kamu!"
"Sudah selesai kok Marry, ada apa tumben datang ke mari?"
"Za boleh aku kenal sama anak kamu?"
"Marry kamu sedang tidak demam kan?"
"Apa aku terlihat sedang sakit?"
"Tidak Marry tapi baru kali ini ada wanita yang memintaku seperti itu."
"Benarkah?"
Zaki mengangguk membenarkan pertanyaan Marryana, "Marry sebentar ya, ada bos datang. Kamu tunggu dulu di sini ya?"
Zaki menghampiri bosnya itu, Marryana duduk santai menunggu Zaki. Tapi betapa terkejutnya Marryana melihat siapa bos yang Zaki maksudkan.
"Papi...?"