
"Ne-nek...!" Arfan terjungkit kaget di tepuk dari belakang oleh neneknya.
"Kanapa nenek ada di sini?" Tanya Arfan yang penasaran kenapa sepagi ini neneknya sudah berada di clubnya.
"Apa tidak boleh jika nenek ada di sini?"
"Tentu saja boleh nek, tapi sejak kapan?"
"Itu tidak penting, sekarang nenek tanya kenapa subuh-subuh begini mengendap-endap seperti maling kamu Fan?"
Arfan menempelkan telunjuknya di bibir, "Ssttt... jangan keras-keras nek!" Arfan mencoba mengkondisikan neneknya.
Nenek Wijaya menyipitkan matanya, merasa curiga dengan sikap cucu kesayangannya itu, "Pasti ada yang tidak beres!" pikir nenek Wijaya.
Nenek Wijaya menerabas masuk ke dalam kamar di mana tadi Arfan ke luar, Arfan tidak bisa mencegah neneknya.
"Mentari kau kah itu?" Nenek Wijaya melihat Mentari sedang terduduk di depan meja belajarnya, dia melanjutkan mengerjakan tugas yang semalam belum dia selesaikan.
"Nenek... nenek ada di sini?" Mentari bangkit dari duduknya menyambut nenek yang sangat menyayanginya seperti cucunya sendiri.
"Kau sedang apa sayang?"
"Aku sedang mengerjakan tugas nek," Mentari tersenyum.
"Apakah Arfan mengganggumu atau dia berbuat kurang ajar terhadapmu?"
Mentari mengeleng, Arfan merasa sedikit lega melihat reaksi Mentari.
"Tidak nek, kak Arfan sangat baik terhadapku bahkan pagi ini saja dia membangunkanku karena tahu jika semalam tugasku belum selesai nek. Dia sangat menghormatiku, jadi tidak mungkin jika kak Arfan berbuat kurang ajar terhadapku." Mentari mencoba menjelaskan kepada nenek karena memang mereka tidak melakukan apapun semalam, Mentari juga tahu jika Arfan tertangkap basah oleh neneknya sendiri sewaktu ke luar dari kamarnya.
"Baiklah sayang, kalau kamu yang mengatakannya sendiri tidak mungkin jika nenek tidak percaya kepadamu. Sekarang selesaikan tugasmu, nenek akan ke luar dulu dari sini!" nenek Wijaya melangkah ke luar dari kamar.
Arfan mengikuti neneknya ke luar dari kamar Mentari setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih kepada Mentari dengan bahasa isyarat karena telah membantu menjelaskan kepada nenek sedangkan dia tadi dalam keadaan terdesak, tidak tahu harus menjelaskan apa kepada neneknya.
Kini Arfan dan Mentari sudah berada di dalam mobil untuk perjalanan ke kampus, mereka baru saja mengantarkan nenek ke rumahnya.
Ternyata nenek Wijaya datang semalam saat mereka belum kembali ke club, nenek ingin menanyakan kepada Arfan perihal rencana pernikahannya dengan Mentari namun Arfan selalu saja sibuk sehingga lupa mengunjungi neneknya di rumah.
"Mentari sepulang kuliah nanti kita main ke rumah Ayesh ya, jangan kemana-mana nanti aku jemput!" pesan Arfan sebelum Mentari turun dari dalam mobil.
Mentari mengikuti kuliah seperti biasa sedangkan Arfan kembali ke club untuk bertemu dengan Tomi membahas pertandingan yang akan segera mereka ikuti.
Sania baru saja pulang berbelanja setelah mengantar Steven ke sekolah. Sania masuk ke dalam club dengan bersungut, sepertinya dia sangat marah hari ini.
"Kau kenapa Sania?" Tanya Arfan yang berbarengan masuk dengan Sania.
"Aku jengkel Fan, kenapa Zaki masih saja mengganggu hidupku dan Steven!"
Tomi datang menghampiri mereka, "Apa yang dia lakukan kepada kalian Sania?"
"Dia tadi meminta izin kepadaku sepulang sekolah Stev nanti, dia yang akan menjemput Stev."
"Kau izinkan?" Tanya Tomi menyelidik.
"Tidak... Mana mungkin aku mengizinkannya Tom, tapi dia terus saja memaksaku!"
"Lalu?"
"Dia meminta sendiri kepada Stev, tentu saja Stev setuju dengan hal itu karena Stev memang belum tahu apa-apa!"
"Akan aku cari dia sekarang!" Tomi tersulut emosi.
"Jangan kau lakukan itu Tom!" cegah Arfan.
"Aku tidak rela jika anakku dekat dengan Zaki!"
"Aku tahu itu Tom, kita urus Zaki nanti. Sekarang biarkan saja dia, lagi pula Stev juga berhak mendapatkan kasih sayang dari Zaki. Kita berikan keadilan untuk Stev juga, karena dia juga berhak mendapatkan kebahagiaan. Mungkin Stev belum paham saat ini, biarkan dia yang akan memilih, sebab jika kalian terlalu keras Stev tidak akan merasa nyaman tinggal bersama dengan kalian. Dia malah akan mencari pelarian, bukankah kalian tidak ingin Stev justru memilih tinggal bersama Zaki jika tahu Zaki adalah ayah kandungnya?"
Sania dan Tomi tampak berpikir, perkataan Arfan memang ada benarnya. Mereka tidak boleh terlalu keras melarang Steven jika mereka tidak ingin kehilangan Steven.
"Aku mengerti Fan," jawab Sania.
"Sekarang tenangkan diri kalian dulu, nanti temui aku di ruang rapat Tom!" Arfan meninggalkan pasangan suami istri itu, memang tidak mudah bagi Sania melupakan masa lalunya namun saat ini yang bisa mereka lakukan adalah berdamai dengan keadaan agar mereka jangan sampai kehilangan Steven.
Selesai membahas turnamen yang akan mereka ikuti, Arfan kembali ke kampus Mentari untuk menjemput gadis itu.
Di tempat lain, Zaki juga sudah berada di depan sekolah Steven. Dia sengaja datang lebih awal dari waktu selesainya anak itu mengikuti pelajaran. Dia tidak ingin keduluan Sania maupun Tomi, mengingat tadi pagi Sania bersikeras tidak mengizinkan Zaki bermain sebentar dengan Steven.
"Om baaaaiiiiiikkkkk...," teriak Steven begitu ke luar dari kelas dan melihat Zaki sudah menjemputnya.
"Tidak om, aku bisa mengatasinya pelajaran di sini lebih mudah dibanding saat aku bersekolah di luar negeri om!"
"Di luar negeri?" Zaki mengerutkan dahinya.
"Iya om, tapi aku bisa mengikutinya dengan baik!"
"Kamu memang anak yang cerdas Stev!" puji Zaki yang membuat Steven merasa sangat dihargai.
"Apakah kau lapar?" Tanya Zaki kemudian karena memang sudah waktunya makan siang.
Steven mengangguk, "Kalau begitu ayo kita cari makan sebelum pergi bermain!"
Steven menghentikan langkahnya, "Kenapa Stev?" Tanya Zaki merasa heran dengan Steven yang tiba-tiba berhenti berjalan.
"Kata mama, tidak boleh sembarangan menerima ajakan orang untuk makan bersama om karena pasti akan merepotkan!" jawab Steven polos.
Zaki malah tertawa mendengar jawaban dari Steven, "Sania sungguh mengajarkan adab kepada Steven dengan sangat baik." Zaki membatin dan merutuki dirinya sendiri yang sekarang merasa menyesal kenapa dulu dia menyianyiakan mereka.
"Om baik kenapa melamun?" Steven menggoyang-goyangkan lengan Zaki.
"Eh enggak Stev, om hanya teringat dengan anak om saja!"
"Om juga punya seorang anak, kalau begitu kenalkan pada Stev om biar kami bisa bermain bersama!"
"Iya Stev lain kali ya, anak om sekarang tinggal bersama mamanya."
"Ayo kita pergi mencari makan!" Zaki mengajak Steven masuk ke dalam mobil untuk pergi mencari restauran terdekat agar mereka bisa makan siang.
"Terimakasih om, mohon maaf Stev jadi merepotkan om!"
"Jangan sungkan Stev, bukankah kita berteman?"
Steven tersenyum bahagia, dia merasa jika Zaki sangat menyayanginya.
Arfan kini sudah bersama Mentari, mereka akan pergi ke rumah Ayesh, hari ini Ayesh tidak ke kantor karena ingin bermain bersama putrinya sehingga Arfan diminta datang ke rumah ketika semalam dia menelfon Ayesh bahwa ada hal penting yang harus Arfan sampaikan kepadanya.
Mereka berdua disambut oleh istri Ayesh yang sudah menunggu mereka sejak tadi.
"Mari silakan masuk, mas Ayesh sudah menunggu di dalam!" Hyorin mempersilakan tamunya untuk masuk dengan senyum yang mengembang ramah.
Mereka berdua masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu menunggu Ayesh.
Ayesh ke luar dengan menggendong putri kecilnya yang menggemaskan. Mereka berjabat tangan kemudian duduk kembali, Hyorin datang membawakan minum dan camilan untuk tamu mereka kemudian ikut duduk bergabung bersama mereka.
"Ini putriku Fan namanya Yesherly, pelipur lelah dan stresku dengan aktivitas sehari-hari."
"Kalau ini bidadari hatiku, namanya Hyorin." Ayesh memperkenalkan istri dan anaknya.
Mereka saling memperkenalkan diri, Mentari juga cepat akrab dengan Hyorin dan Sherly gadis kecil yang cantik seperti ibunya.
Hyorin juga sangat senang dengan kedatangan Mentari, dia jadi memiliki teman mengobrol.
Setelah bercengkrama cukup lama dengan keluarga Ayesh, Arfan menyampaikan maksud kedatangan mereka hari ini ke rumah Ayesh dan menyerahkan kamera yang dibawanya kepada Ayesh.
"Seharusnya di dalam sini ada bukti yang bisa membebaskanku dari semua tuduhan, aku juga memiliki saksi karena kedua orangtua Mentari siap mendukungku dengan bersaksi atas apa yang Ilyas lakukan malam itu."
"Kau tahu di mana bisa mengakses rekaman ini?" Tanya Ayesh.
"Seharusnya Mentari bisa memberikan rekamannya kepada kita Yesh karena aku menemukan ini di kamarnya."
"Aku memang menyimpan kamera itu di kamarku, tapi aku lupa meletakannya di mana karena itu merupakan kamera yang sengaja aku pasang untuk uji coba penelitianku kak."
"Kalau begitu kamu bisa mengaksesnya kan Mentari?"
"Tentu saja aku bisa kak, hanya saja masalahnya ponsel yang aku hubungkan dengan kamera itu mati karena terkena air."
"Lalu sekarang di mana ponsel itu?" Tanya Arfan yang sangat berharap ponsel itu bisa mereka temukan.
Mentari memandang Arfan kemudian berkata, "Ponsel itu ada pada Ilyas, waktu itu aku meminta bantuan Ilyas untuk membawanya ke tukang servis karena kami memang sedang sibuk dengan penelitian bersama."
"Sampai sekarang belum selesai perbaikannya?"
"Sepertinya belum sebab Ilyas belum mengembalikannya kepadaku."
"Apa kau tahu di mana Ilyas melakukan perbaikan ponselmu itu?"
Mentari menjawab dengan satu anggukan pasti.