
Sania menangis sejadi-jadinya di kamar Steven, dia belum pernah terpisah dari Steven sebelumnya. Ibu Ilyas turut prihatin atas menghilangnya Steven, padahal kemarin dia sudah menasehati Steven agar menurut pada mamanya, Steven juga makan dengan lahap saat dia suapi tidak ada tanda-tanda anak itu akan nekat meninggalkan rumah.
"Non Sania yang tenang ya, yakinlah Steven pasti akan ketemu dan dia akan baik-baik saja."
"Mana mungkin aku bisa tenang bu, Steven pergi dalam kondisi marah kepadaku."
Ibu Ilyas memeluk Sania, dia tahu bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh anak yang sangat dia sayangi.
Tomi meminta bantuan kepada Dio dan yang lainnya untuk membantu mencari Steven. Mereka berpencar untuk mencari keberadaan Steven di sekitar club. Siapa tahu ada orang yang tahu kemana Steven pergi.
Hingga larut malam mereka belum menemukan Steven sama sekali. Tomi mencoba menghubungi Zaki karena kejadian ini ada hubungannya dengan Zaki.
"Apa Stev menghilang?" Suara Zaki meninggi di sambungan telfon.
"Kalian ini bagaimana sih, menjaga satu anak saja sampai hilang begitu!" Zaki memaki Tomi yang dia anggap tidak bisa menjaga Steven dengan baik.
"Aku menelfon kamu bukan untuk berdebat Za, aku justru mau menanyakan apakah Steven pergi ke tempatmu. Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi belum juga menemukannya."
Zaki menutup sambungan telfonnya, kemudian bergegas ke luar dari club untuk mencari Steven.
Dini hari rombongan Arfan sampai di kota Z, setelah mengantarkan paman Faisal ke rumahnya, selanjutnya Arfan akan mengantarkan Arman dan Siska terlebih dahulu sebelum kembali ke club.
Siska turun dari mobil Arfan di depan asrama, setelah mobil Arfan pergi Siska baru masuk ke asrama.
"Kak...," panggil seorang anak kecil yang membuat Siska kaget karena dini hari begini ada anak kecil yang berada di luar rumah.
Siska berkali-kali mengucek-ucek matanya, khawatir penglihatannya bermasalah.
"Stev... Kau kah itu?" Siska menghampiri Steven yang duduk dengan tubuh mengginggil.
"Ya Allah tubuh kamu panas sekali?" Siska tanpa pikir panjang langsung menggendong tubuh Steven dan membawanya masuk ke asrama. Beruntung penjaga asrama mengizinkan Siska untuk membawa Steven masuk ke kamarnya.
Siska meletakkan tubuh Steven di atas ranjang, setelah mengompres Steven dengan air hangat dia mencoba menghubungi Mentari. Namun, untuk panggilan kesekian kalinya gadis itu belum juga merespon.
"Duh Mentari kemana sih?" Siska mondar mandir di kamarnya, tidak tahu harus melakukan apa, dia sendiri sangat bingung.
Menghubungi Arman pun percuma karena mungkin saja Arman sudah tidur sekarang setelah menempuh perjalanan yang jauh.
Mentari dan Arfan baru tiba di club, mereka merasa heran karena sudah hampir pagi tapi club masih ramai dan semua lampu dibiarkan menyala.
Tidak biasanya mereka akan begadang hingga dini hari sedangkan esok hari mereka harus beraktivitas seperti biasanya.
"Ada apa ini, kenapa kalian masih berkumpul di sini?" Tanya Arfan yang melihat tidak ada satupun orang di club yang beristirahat di kamar mereka.
"Steven menghilang Fan, kami sedang berusaha mencarinya tapi belum juga berhasil menemukannya!" jawab Sania dengan suara parau karena tidak berhenti menangis sejak sore tadi.
"Kenapa bisa sampai Steven menghilang Sa?"
"Apa yang terjadi hah?"
Sania hanya bisa menggeleng dan air matanya kembali lolos mengingat Steven yang belum ditemukan. Dia tidak mau sampai terjadi sesuatu pada Steven.
Arfan mendekat dan memeluk Sania, "Tenanglah Sa, Stev pasti baik-baik saja."
"Tom apakah kamu sudah mencoba menghubungi Zaki?" Arfan memiliki pikiran yang sama dengan Tomi mengingat Zaki cukup dekat dengan Steven.
"Sudah Fan, tapi Stev tidak ada di sana."
"Apa kau yakin Zaki tidak berbohong?"
"Aku tidak tahu Fan, saat ini aku tidak bisa berpikir jernih."
"Kak Tomi sebaiknya bawa kak Sania beristirahat di kamar dulu ya, kasihan kak Sania." Mentari memberikan usul agar Sania bisa beristirahat dulu.
Tomi memaksa Sania untuk istirahat meskipun Sania menolak keras, tapi Sania harus kuat. Dia tidak boleh tumbang di saat seperti ini.
"Kamu juga harus beristirahat Mentari, biar aku dan anak-anak yang akan melanjutkan pencarian."
Mentari mengangguk dan masuk ke dalam kamarnya, setelah membersihkan diri Mentari mengecek ponselnya ternyata ada puluhan panggilan dari Siska, karena khawatir jika terjadi sesuatu pada Siska, dia memanggil balik Siska.
"Hallo Sis, ada apa?" Tanya Mentari begitu panggilannya tersambung.
"Mentari bisakah kau datang ke asrama sekarang?"
"Ada apa Sis?"
"Akan aku ceritakan nanti, cepat datanglah kesini."
Mentari kembali turun menemui Arfan, mereka berdua bergegas pergi ke asrama. Arfan memerintahkan anak-anak untuk beristirahat karena pencarian akan dilanjutkan besok pagi saja.
Mentari bergegas turun dari mobil Arfan, sedangkan Arfan tetap berada di dalam mobil karena tidak mungkin pagi buta begini dia ikut masuk ke dalam asrama putri.
Siska membawa Mentari masuk ke dalam kamar, "Stev?" Ucapnya kaget melihat Steven tengah berbaring di ranjang Siska dengan kompresan di dahinya.
"Sis di mana kamu menemukan Stev?"
"Club sedang heboh karena kehilangan Stev!"
Siska menceritakan semuanya kepada Mentari, "Bagaimana ini Sis, suhu tubuhnya semakin naik. Apa sebaiknya kita bawa saja Stev ke rumah sakit?"
"Aku pikir juga begitu, aku khawatir dia bisa kejang kalau suhu tubuhnya terus naik."
Mentari membawa Steven ke luar dari asrama yang diikuti oleh Siska.
Arfan melajukan mobilnya menuju rumah sakit tanpa banyak bertanya. Mentari meletakkan kepala Steven di pangkuannya sambil terus mengecek suhu badan Steven dengan telapak tangannya.
"Kak apakah bisa lebih cepat lagi?"
"Aku akan lakukan yang terbaik, kalian tenanglah dan jangan panik."
Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di rumah sakit, petugas rumah sakit dengan sigap membantu mereka menurunkan Steven dan langsung membawa Steven ke IGD untuk mendapatkan perawatan.
"Silahkan tunggu di luar, kami akan melakukan pemeriksaan pasien!" ucap seorang perawat kemudian menutup pintu ruang IGD.
"Terimakasih Sis, sudah menjaga Steven kami." Mentari memeluk Siska.
"Aku juga menyayangi anak itu Tari, aku sangat bersyukur karena Stev mau mendatangiku di saat dia membutuhkan pertolongan."
"Beruntung kita pulang tepat pada waktunya."
Setelah dilakukan pemeriksaan oleh tim dokter yang berjaga malam itu, Steven dibawa ke ruang perawatan guna dilakukannya observasi kondisi pasien untuk beberapa hari ke depan.
"Kalian istirahat saja, aku yang akan menjaga Stev sampai dia terjaga." Arfan melihat Mentari dan Siska yang tampak sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan harus menjaga Steven malam ini.
"Kak Arfan juga pasti lelah setelah berkendara sejak sore tadi tanpa beristirahat."
"Aku akan baik-baik saja, sekarang kalian dulu istirahat nanti kita bisa bergantian!"
Arfan duduk di samping ranjang rawat Steven, dia memegangi satu tangan Steven yang terbebas dari selang infus.
Steven mulai sadarkan diri, "uncle...," panggilnya.
Merasa ada pergerakan, Arfan terjaga dari tidurnya.
"Kau sudah sadar Stev?"
"Aku dimana uncle?" Steven mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan dia melihat Mentari dan Siska sedang terlelap di sofa.
"Kita di rumah sakit Stev, kamu demam."
"Uncle... Di mana mama dan papa?" Tanya Steven dengan suara masih lemas.
"Mereka akan segera datang sayang, mamamu terus menangis karena kehilangan kamu."
Steven mengingat-ingat kejadian sebelum dia pergi meninggalkan club, rasa kecewanya begitu besar sehingga rasa itu mendorongnya untuk kabur dari club.
"Stev segala permasalahan itu pasti ada jalan ke luarnya, jadi setiap ada masalah Stev tidak boleh kabur. Meskipun uncle tidak tahu apa yang sedang Stev rasakan tapi Stev tidak boleh membenci mama, karena mama sudah bersusah payah membesarkan Stev."
"Stev janji ya sama uncle tidak boleh marah sama mama lagi."
"Iya uncle Stev janji!"