
Marryana mendekat ke arah tempat duduk Arfan dan menyapanya.
"Hai Fan apa kabar?" Sapa Marryana kepada Arfan.
"Aku baik An, kamu apa kabar?" Tanya Arfan formal.
"Seperti yang kamu lihat Fan, aku baik." Jawab Marryana dengan terus memandang wajah Arfan.
"Selamat ya An, kamu bisa menjadi dosen di kampus ini." Arfan memberikan ucapan selamat kepada Marryana dengan menjabat tangan wanita itu.
"Iya Fan terimakasih, tentunya kita akan sering bertemu."
Arfan hanya tersenyum dan melepaskan jabat tangan mereka karena tatapan berbeda terpancar dari mata Marryana saat memandang Arfan dan dari cara wanita itu tersenyum.
Arfan tidak mau pak Rio dan rekan yang lainnya mengira yang tidak baik tentang mereka berdua sedangkan Arfan sendiri sudah menikah dengan Mentari, meskipun mereka belum menggelar resepsi tapi sudah banyak yang tahu jika mereka sudah menikah.
Arfan melirik jam di balik kemejanya. Sudah saatnya dia menjemput Mentari di fakultas sebelah.
"An aku pergi dulu ya, selamat datang di universitas Z, semoga kamu betah di sini."
Arfan meninggalkan Marryana dan bergegas keluar dari ruang dosen. Dia tidak mau Mentari menunggu lama. Arfan berharap kedatangan Marryana kali ini tidak membuat masalah baru bagi dirinya.
Marryana sedikit kecewa karena Arfan buru-buru pergi meninggalkannya. Padahal dia berharap bisa berbicara lama dengan Arfan setelah sekian lama tidak bertemu.
Marryana menarik nafasnya, "Mungkin lain kali, aku harus bersabar untuk bisa menarik hati kamu kembali Fan," tuturnya lirih.
Arfan menjemput Mentari di depan gerbang fakultasnya, "Apakah sudah menunggu lama?" Tanya Arfan sembari membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Mentari tersenyum, "Terimakasih kak, aku belum lama disini. Tadi Siska juga bersamaku, tapi kak Arman menjemputnya."
"Wah benarkah? Berani juga pria itu." Arfan tertawa mengingat wajah Arman yang kini sudah mulai bisa hidup dengan baik setelah bekerja di perusahaan milik neneknya di bawah bimbingan paman Faisal, dia bisa berkembang lebih cepat.
Mentari masuk ke dalam mobil, Arfan mengusap rambut Mentari dengan lembut.
"Aku mencintaimu sayang," ucap Arfan membuat hati Mentari meleleh.
"Aku juga mencintaimu kak!" jawab gadis itu dengan senyum mengembang.
Arfan membawa Mentari ke rumah neneknya, ada barang yang harus Arfan ambil disana.
Arfan bertemu dengan kakek Mahmud yang tampak sedang merenung sendirian di ruang keluarga.
"Kakek kenapa termenung sendirian di sini, nenek mana kek?" Tanya Arfan kepada kakek Mahmud.
"Nenek sedang bersama bibi di kebun belakang Fan."
Pandangan Arfan mengarah pada Mentari, "Sayang susul nenek di belakang sana!"
Mentari paham maksud Arfan yang mungkin ingin berbicara berdua saja dengan kakek Mahmud.
Mentari meninggalkan mereka berdua untuk berbicara, "Kakek ada masalah?"
"Ceritakan padaku kek, aku siap mendengarkan kakek."
Kakek Mahmud sepertinya sedikit ragu, "Kek aku ini cucu kakek, jangan pernah meragukanku kek."
Kakek Mahmud menceritakan perihal mantan istrinya yang kini justru datang kembali dalam hidupnya yang sudah lebih baik meskipun tanpa mereka ditambah wanita itu memintanya untuk rujuk kembali.
"Apakah kakek akan menerimanya kembali?" Tanya Arfan penasaran.
"Kakek masih harus banyak berpikir Fan setelah apa yang mereka lakukan pada kakek di masa lalu, meskipun aku menyayangi Mona karena dia memang anakku, darah dagingku tapi untuk menerima ibunya kembali sepertinya kakek sangat berat, tapi Mona terus mendesak agar kakek bisa menerima ibunya kembali."
"Iya kek saranku pikirkan baik-baik karena kita tidak boleh sampai mengulang kesalahan yang sama, ambil semua pelajaran di masa lalu dan pertimbangkan baik dan buruknya juga."
Arfan memberikan semangat kepada kakek Mahmud, "Kek sering-seringlah mengunjungi apartemen Mona dan tidak perlu memberitahu jika kakek akan datang, temukan apa yang mereka mungkin tutup-tutupi di belakang kakek. Temukan ketulusan mereka atau mungkin sebaliknya."
Arfan meninggalkan kakek Mahmud karena harus mengambil barangnya, setelah memasukkan semua yang dia butuhkan ke dalam tas, Arfan memanggil Mentari yang masih di kebun belakang bersama nenek.
"Kenapa kalian buru-buru nak, makan malamlah dulu di sini. Kita masak sayuran segar ini dulu."
"Mungkin lain kali saja nek, Mentari sepertinya sedang riweh dengan tugas kuliahnya." Jawab Arfan yang sudah bersiap untuk pergi.
Mentari berpamitan kepada nenek Wijaya dan bibi, "Titip nenek ya bi, aku pergi dulu." Pesan Mentari kepada bibi.
"Siap non, bibi akan selalu ingat pesan non Mentari."
Arfan mendekat ke arah nenek untuk berpamitan, "Tolong awasi kakek Mahmud nek, jangan sampai dia terjerumus untuk kedua kalinya di lembah hitam di masa lalu, jangan biarkan hidupnya kembali menderita nek." Bisik Arfan kepada neneknya yang langsung paham kemana arah pembicaraan cucunya itu.
"Jangan khawatirkan itu Fan, nenek pasti akan mengawasinya dengan baik."
Arfan pergi membawa Mentari untuk pulang ke rumah mereka, di tengah perjalanan Mentari teringat jika ada kebutuhan rumah yang harus dibelinya, "Kak bagaimana kalau kita mampir ke supermarket dulu, ada yang mau aku beli."
"Ah baiklah kalau begitu, ayo kita berbelanja!" Arfan menyetujui permintaan Mentari dengan senang hati.
"Ternyata begini rasanya menjadi seorang suami, kenapa tidak dari dulu saja ya," Arfan membatin sekaligus menertawakan dirinya sendiri, Arfan melirik Mentari yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Mereka mengambil troli belanja kemudian memilih barang-barang yang mereka butuhkan.
"Apakah ini sudah cukup?" Tanya Arfan setelah mereka berbelanja cukup lama kesana kemari.
"Aku mau mencari satu barang lagi kak, tunggu ya." Mentari meninggalkan Arfan untuk mencari barang yang dia butuhkan.
Kini mereka sudah selesai membayar di kasir, mereka bergegas meninggalkan pusat perbelanjaan dengan membawa barang belanjaan mereka.
Ponsel Arfan berdering ketika mereka belum sampai di parkiran, "Sayang kamu mau tunggu di sini atau mau duluan, ada telfon dari Tomi, aku angkat dulu sebentar ya, siapa tahu penting."
"Aku tunggu di sini saja kak, itu ada tempat duduk." Mentari menunjuk tempat duduk yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Arfan meninggalkan Mentari setelah memastikan gadis itu aman di tempatnya, dia ingin mencari tempat yang sedikit tidak riuh untuk mengangkat telfon dari Tomi karena pusat perbelanjaan malam ini ramai dikunjungi oleh orang-orang yang hendak berbelanja atau sekedar jalan-jalan semata, belum lagi suara bising kendaraan yang berlalu lalang di sekitarnya membuat Arfan harus sedikit menyingkir agar bisa mendengar suara Tomi.
Mentari duduk sambil bermain ponsel untuk menghilangkan kebosanannya karena tidak ada teman untuk dia ajak berbicara.
"Kamu Mentari kan yang tempo hari bertemu denganku di tribun saat pertadingan futsal?" Marryana yang melihat gadis yang dia kenal waktu itu menyapa Mentari.
"Kak Marry, kakak ada di sini juga?" Tanya balik Mentari.
"Iya nih, aku mau berbelanja. Kamu sendiri ngapain di sini?"
"Aku juga baru saja selesai berbelanja kak," jawab Mentari.
"Kamu sendirian atau sedang menunggu seseorang, tidak mungkin kan belanja sebanyak ini sendirian?" Marryana memperhatikan banyak barang yang ada di dekat Mentari.
"Aku tidak sendirian kok kak, aku bersama seseorang. Dia sedang menelfon sebentar kak, mungkin sebentar lagi kesini."
"Oh benarkah, akan aku temani kamu sembari menunggu."
"Tidak usah kak, bukankah kak Marry mau berbelanja nanti kelamaan dan keburu malam."
"Tidak masalah Mentari lagi pula temanku sepertinya belum sampai, kami janjian jam delapan di sini." Marryana melihat jam di tangannya.
"Sepertinya temanku akan terlambat, aku akan menelfonnya sebentar."
Baru saja Marryana menempelkan ponselnya di telinga, dia terkejut dengan kehadiran Arfan yang sepertinya sedang menuju ke arah mereka. Marryana menurunkan ponselnya dari telinga tanpa sadar, hingga orang yang dia telfon sepertinya berteriak-teriak dari seberang telfon karena terabaikan.
"Ayo Mentari kita pulang, aku sudah selesai!" ajak Arfan kepada Mentari yang kemudian mengangkat barang belanjaan mereka.
"Tunggu kak, aku kenalkan pada seseorang."
"Siapa Mentari?" Tanya Arfan yang akhirnya menurunkan barang belanjaan mereka kembali.
"Arfan kamu di sini juga?" Tanya Marryana sebelum Mentari sempat memperkenalkan mereka berdua.
"Iya An... kamu ngapain di sini?"
"Kak Marry dan kak Arfan, kalian sudah saling mengenal?" Tanya Mentari kepada Marryana yang malah diabaikan oleh wanita itu.
"Aku mau berbelanja Fan, sedang menunggu teman tapi dia belum datang." Jawab Marryana menjawab pertanyaan Arfan.
"Iya Mentari aku sudah mengenal Ana, dia rekan baruku di kampus. Dia baru beberapa hari ini menjadi dosen di universitas Z." Jawab Arfan agar Mentari tidak kecewa karena Marryana sepertinya enggan untuk menjawab pertanyaan Mentari.
Mentari tersenyum mendengar penjelasan dari Arfan, "Ayo kita pulang sudah malam!" Arfan mengajak Mentari segera pergi dari tempat itu.
"Kak Marry kita duluan ya kak, selamat berbelanja. Mohon maaf tidak bisa menemani kakak sampai teman kakak kesini."
"Tidak apa-apa Mentari pulanglah!" Marryana merasa mendapatkan angin segar, dia bisa menggunakan Mentari untuk mendekati Arfan.
Dia mengira jika Arfan dan Mentari merupakan kakak beradik terlihat dari wajah Mentari yang masih sangat muda, tetapi dia lupa jika Arfan sudah ditinggal oleh kedua orangtuanya sejak kecil jadi mana mungkin Arfan memiliki seorang adik kandung, apalagi dari cara Arfan memperlakukan Mentari dengan sangat lembut.
Mungkin kali ini Marryana salah perhitungan karena menganggap mereka demikian.