
Mentari menyiapkan sarapan untuk mereka semua dengan dibantu oleh Siska. Hari ini baik Mentari maupun Siska belum ada yang berencana ke kampus, mereka masih ingin beristirahat setelah perjalanan yang melelahkan.
"Sis aku hari ini tidak ke kampus dulu, lagian tidak ada jadwal ujian hari ini." Ucap Mentari dikala dia sedang mengupas bawang.
"Aku juga Mentari, rasanya habis perjalanan jauh dengan ditambah berbagai macam drama membuat tubuh eneng lelah." Siska tertawa mengingat semua kejadian yang telah mereka lalui bersama.
"Maafkan aku ya Sis karena kamu selalu saja terlibat dalam masalahku."
"Kenapa harus minta maaf sayang, aku seneng kok jadi banyak berpetualang bersamamu."
"Kapan lagi kita bisa seperti ini kalau bukan saat ini, setelah kita sibuk dengan dunia kita masing-masing nanti, kita tidak akan sebahagia ini."
"Sis aku jadi terharu," Mentari memeluk Siska, persahabatan mereka memang tulus sejak awal mereka bertemu sehingga bisa merasakan suka duka bersama.
Mentari mengurai pelukannya karena dia mendengar suara Arfan, "Aku tinggal dulu Sis, kamu lanjutkan ya!" perintahnya kepada Siska.
Mentari bergegas ke kamarnya, dia menemukan Arfan terduduk di kamar mandi. Arfan sangat lemas, "Kamu kenapa Kak?"
Arfan tidak menjawab pertanyaan istrinya, "Kakak pasti seperti ini setiap pagi kan?"
Mentari membantu Arfan keluar dari kamar mandi dan membaringkannya di ranjang.
"Aku akan buatkan teh hangat untukmu Kak."
Mentari beranjak dari ranjang namun Arfan menarik lengannya untuk mencegah Mentari pergi meninggalkannya.
"Jangan pergi, tetaplah di sini!" ucap Arfan dengan suara yang sangat lemah.
"Aku membutuhkanmu Mentari."
Mentari merebahkan dirinya di samping Arfan, dia membiarkan suaminya memeluk tubuhnya erat.
Arfan merasa sangat nyaman jika berada di samping istrinya, mualnya mereda dan perlahan dia bisa mengontrol tubuhnya sendiri agar tidak lemas.
Arfan membuka matanya perlahan, senyumnya mengembang ketika melihat Mentari terlelap di sampingnya.
"Kakak sudah bangun?" Tanya Mentari begitu membuka mata dan menemukan jika Arfan sedang memandangi wajahnya.
"Bagaimana kondisi Kakak sekarang?"
"Aku sudah lebih baik sayang, aku hanya akan seperti itu jika pagi."
"Apakah selama aku tidak ada Kakak selalu seperti ini?"
Arfan mengangguk, dia teringat kejadian saat Mona menerobos ke kamarnya. Entah apa yang akan terjadi pada pernikahannya jika sampai Mona melakukan hal yang tak bermoral kepadanya.
"Kenapa Kakak melamun?" Mentari membuyarkan lamunan Arfan.
"Hari ini kita kunjungi dokter Sandra ya sayang," Arfan mengingatkan Mentari.
"Iya Kak, jadwalnya nanti siang pukul dua."
"Aku akan mengantarmu sayang!"
"Jam berapa sekarang Kak?"
"Jam sembilan lewat sayang."
"Oh ya ampun tadi aku sedang memasak sarapan bersama Siska."
"Sebaiknya kita bangun sekarang karena mereka pasti sedang menunggu kita."
Mentari dan Arfan turun menuju ke ruang makan, mereka tidak menemukan Siska dan Arman di sana. Sedangkan sarapan masih utuh.
"Kemana kira-kira mereka Kak?"
Arfan mengedikan bahunya karena memang tidak tahu mereka pergi kemana.
"Coba telfon Kak Arman saja."
Arfan mencoba menghubungi Arman, namun ponsel Arman ternyata tertinggal di atas kulkas.
Mentari dan Arfan memiliki pikiran yang sama, mereka sama-sama mengecek ke kamar Arfan dan Siska. Jika benar pikiran mereka maka Arman dan Siska harus segera menikah.
Perlahan mereka membuka kamar Arman dan Siska satu persatu namun kamar itu kosong, mereka tidak menemukan keduanya di sana. Perasaan lega menyergap karena mereka tidak melakukan apa yang seperti Arfan dan Mentari pikirkan.
"Kita cek di taman belakang sayang." Arfan mengajak Mentari ke belakang dan menemukan Arman sedang naik ke atas pohon kelengkeng yang memang sedang berbuah cukup banyak. Sedangkan Siska menunggu hasil petikan kelengkeng dari Arman di bawah pohon.
"Ternyata kalian berdua di sini, pantas saja dicari kemana-mana tidak ada."
"Habisnya kalian lama, jadi kita mau sarapan duluan juga sungkan dari pada bosan menunggu akhirnya kami menemukan pohon buah di belakang rumah."
"Lihat ini Mentari buahnya besar-besar dan manis." Siska memperlihatkan hasil petikan mereka yang berhasil dikumpulkannya.
Mentari mengambil satu buah dan memakannya, "Ini benar-benar manis Sis."
"Nah kan apa kataku,"
"Arman sudah cukup ayo turun!" Arfan menyuruh Arman agar turun karena mereka sudah memetik cukup banyak. Bukan tidak boleh tapi mereka belum sarapan jadi kalau terlalu banyak memakan buah khawatir jika perut mereka akan sakit.
Dengan sekejap Arman sudah turun ke bawah, mereka memasuki rumah untuk sarapan bersama.
"Akhir pekan ini kita akan ke luar kota, apakah kalian siap?" Tanya Arfan kepada semuanya.
"Apa sudah ada kabar dari Tomi?" Tanya Arman.
"Belum tapi sepertinya tim kita terus melaju menuju partai final jadi kita punya harapan untuk sampai ke babak puncak."
Kini mereka sudah dengan kendaraan masing-masing, Arman dan Siska menggunakan taksi menuju ke perusahaan untuk mengambil mobil Arman yang dibawa oleh anak buah Nenek Wijaya kemarin sedangkan Arfan dan Mentari akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Mentari.
"Pertumbuhannya semakin hari semakin bagus, tapi tetap tidak boleh terlalu capek Bundanya ya?" Pesan dokter Sandra kepada mereka berdua usai dilakukan pemeriksaan.
"Vitaminnya diminum rutin ya, jangan sampai lupa."
"Apakah ada pertanyaan lain?"
"Dok kenapa ya untuk kehamilan simpatik ini tak kunjung usai morning sicknessnya karena saya merasa sangat lelah ketika pagi, ditambah saya selalu lemas tak berdaya sebelum menghirup bau tubuh istri saya?"
"Pak Arfan sabar ya, nanti itu akan hilang dengan sendirinya jika sudah memasuki trimester kedua dan selanjutnya, untuk trimester awal memang biasanya begitu tapi Bapak jangan khawatir sebentar lagi semua itu akan berakhir."
"Baik dok, terimakasih."
Arfan dan Mentari pamit undur diri, mereka keluar dari rumah sakit setelah semua urusan mereka selesai.
"Kak aku kangen Stev, kita ke club ya Kak?"
"Apa kamu tidak merindukan Nenek dan orangtuamu?"
"Bukan begitu Kak, kita ke club dulu ya baru kita ke rumah Nenek dan orangtuaku."
"Baiklah ikut kata Nyonya saja."
Tidak lama kemudian mereka sampai di club, mereka disambut oleh Steven yang memang sudah sangat kangen dengan Mentari.
"Kak Mentari kemana saja kenapa tidak pernah datang kesini akhir-akhir ini?"
"Maafkan Kakak ya Stev karena Kakak sangat sibuk." Mentari memeluk Steven dan mengajaknya menemui Ibu Ilyas, sedangkan Arfan berbicara cukup serius dengan Sania.
"Bagaimana Sa apakah ada yang mencurigakan selama kami tidak ada disini?"
"Tidak ada Fan, semua baik-baik saja meskipun aku tetap khawatir."
"Kita harus segera membebaskan Ilyas Sa,"
"Bagaimana caranya Fan?"
"Temukan bukti jika Ilyas tidak bersalah."
"Apa kamu sudah menemukan kuncinya?"
Arfan mengangguk, "Kita urus setelah pertandingan usai, akhir pekan bersiaplah karena kita akan keluar kota bersama."
"Apakah menyusul Tomi?"
"Tentu saja, bukankah kamu sudah merindukannya?"
"Aku tidak sebucin kamu Fan!"
"Sama saja Sa, tapi persiapkan dirimu karena kamu akan menemukan jika Zaki dan Marryana selalu bersama."
"Itu tidak ada artinya lagi bagiku Fan, mereka mau ngapain juga terserah."
"Oh ya?" Arfan terus menggoda Sania.
"Sudahlah Fan, stop jangan bahas lagi ok?"
"Baiklah," jawab Arfan menertawakan Sania.
"Dasar menyebalkan, mau jadi Ayah juga kelakuannya tidak pernah berubah!" Sania menggeleng-gelengkan kepalanya, bagi Sania baik Arfan maupun Mentari sudah seperti keluarganya sendiri.
Arfan dan Mentari pamit setelah makan malam, mereka masih harus berkunjung ke rumah Nenek dan berencana menginap disana dan baru esok hari setelah Mentari menyelesaikan ujiannya mereka akan ke rumah orangtua Mentari.
Nenek menyongsong kedatangan keduanya dengan perasaan bahagia.
"Kemana saja kalian kenapa lama sekali tidak berkunjung?"
"Maafkan kami Nek karena sangat sibuk."
"Baiklah tidak masalah, bagaimana dengan cicit Nenek apakah dia baik-baik saja?"
"Iya Nek, dia sangat sehat."
"Nenek jadi tidak sabar menunggunya lahir sayang."
"Iya Nek, kami juga."
Arfan membawa Mentari ke kamarnya, dia sendiri turun kembali untuk menyapa Kakek Mahmud.
"Apa?!!"
"Seburuk itukan perangai Mona di luar sana?"
"Bisakah Kakek membantuku jika diperlukan?"
"Aku pasti akan membantumu Fan, meskipun dia putriku sekalipun tapi jika dia berbuat keji maka dia pantas mendapatkan hukuman yang setimpal."
"Apakah Kakek sudah melakukan tes DNA?"
Kakek Mahmud menggeleng, "Aku belum melakukannya Fan, aku masih bimbang antara kembali pada istriku atau tidak."
"Bagaimana dengan kata hatimu Kek?"
"Aku tidak ingin kembali kepadanya setelah apa yang dia lakukan kepadaku."
"Lalu apa alasan Kakek belum berani menolaknya?"
"Mona Fan, dia selalu menekan Kakek agar mau kembali dengan Ibunya."
"Jika Mona alasannya maka tes DNA akan menjadi sebuah jawaban yang akan membantu Kakek dalam memutuskan kembali atau tidak."
"Kau benar Fan, aku akan segera melakukannya."
"Baiklah Kek, aku tunggu hasilnya."
Arfan meninggalkan Kakek Mahmud dan kembali ke kamarnya, strategi menyerang balik Mona sedang dia susun untuk membuat wanita itu jera.