My Old Star

My Old Star
#123 Menjalankan Perintah



Arfan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi di ikuti oleh Arman di belakang mereka. Orang-orang yang tadi cukup mencurigakan saat mereka berada di masjid ternyata mengikuti mereka di belakang.


"Kak ini terlalu kencang!" Protes Mentari karena tubuhnya terombang-ambing di dalam mobil.


"Kau berpeganganlah yang erat, kita harus menghindar dari mereka sampai orang kepercayaan Nenek tiba."


Mentari berpegangan erat sambil memegangi perutnya, dia tidak mau terjadi apa-apa pada bayi yang dikandungnya.


Arfan berusaha lebih keras untuk melindungi keduanya, bukan Arfan tidak bisa melawan mereka hanya saja dia tidak mau terjadi apa-apa pada Mentari dan juga Siska yang saat ini bersamanya meskipun mereka berbeda mobil.


Incaran mereka adalah Mentari jadi saat ini Arman dan Siska dalam posisi aman tetapi mereka tidak boleh lengah karena bisa saja mereka tertangkap dan dijadikan sebagai umpan.


Orang-orang yang mengejar mereka terus mengejar dengan kecepatan tinggi. Mereka berhasil menghadang mobil Arfan di depan sehingga Arfan tidak bisa lagi berkutik.


"Bagaimana ini Kak?" Mentari ketakutan.


"Kamu tenanglah, aku akan menghadapi mereka."


"Jangan Kak, mereka terlalu banyak," cegah Mentari.


"Kamu jangan khawatir sayang," Arfan mencoba meyakinkan Mentari.


Orang-orang yang menghadang mereka turun dari mobil dan mendekati mobil Arfan, "Turun!"


Arfan mengikuti ucapan mereka, "Kamu tetap di sini, aku akan turun!" Perintahnya kepada Mentari.


"Tapi Kak...,"


"Aku akan baik-baik saja, aku berjanji!"


Arfan turun dari mobilnya, "Apa mau kalian sebenarnya?"


"Kami hanya mau sidik jari gadis yang bersamamu!"


"Untuk apa sidik jari itu?"


"Kami hanya menjalankan perintah!"


"Kalau begitu siapa yang menyuruh kalian?"


"Tidak perlu banyak tanya, serahkan saja gadis itu kepada kami!"


"Dia istriku jadi kalian tidak berhak membawanya!"


"Jangan banyak omong!" Orang yang sedang berbicara dengan Arfan melayangkan pukulannya dan dapat di tepis oleh Arfan.


"Hentikan!!!" Teriak Arman yang pada saat bersamaan tiba di lokasi.


Arman mendekati mereka, "Pak Arman?" Ucap salah seorang pria yang menghadang Arfan.


"Kau mengenalnya Man?"


Arman mengangguk, "Lepaskan dia!" Perintah Arman kepada orang itu.


"Baik Pak Arman." Mereka mematuhi perintah Arman.


"Sekarang kalian pergilah, Arfan adalah keluargaku. Bahkan dia bisa memberikan pekerjaan yang lebih baik untuk kalian ketimbang menjadi orang bayaran dengan resiko tinggi!"


"Maafkan kami Pak Arman, kami hanya menjalankan tugas."


"Mona yang menyuruh kalian?" Tanya Arfan.


"Anda mengenal Bos kami?"


"Dia adalah tanteku sendiri, jadi tidak usah bekerja lagi dengannya. Aku akan memberikan pekerjaan yang jauh lebih baik untuk kalian semua asalkan kalian mau berubah."


"Ini terimalah dan bawa kartu ini ke perusahaan milik keluarga Wijaya, katakan jika kalian di suruh olehku." Arfan memberikan kartu namanya dan memberikan otoritas agar mereka menggunakan namanya.


"Terimakasih Tuan, kami sungguh minta maaf telah berlaku tidak sopan."


"Apakah tante Mona sudah membayar kalian?"


"Belum Tuan, dia akan membayar kami jika kami berhasil melakukan pekerjaan kami dan jika tidak berhasil maka kami akan kena marah olehnya."


"Mulai sekarang ganti semua nomor kalian, hidup kalian akan dijamin oleh kelurga Wijaya asalkan kalian bisa bekerja dengan baik."


Arfan masuk ke dalam mobil dan mengambil uang tunai yang dibawanya, "Ini ambillah, semoga cukup untuk menopang hidup kalian sampai diterima bekerja di perusahaan keluarga Wijaya!"


"Terimakasih Tuan, tapi ini terlalu banyak."


"Tidak masalah, ambilah dan sekarang kalian boleh pergi!"


"Sekali lagi terimakasih Tuan!"


"Kami permisi!"


Orang-orang suruhan Mona itu kemudian pergi, Arfan memberikan uang kepada mereka sebanyak dua puluh lima juta rupiah untuk mereka berlima.


"Fan ternyata kamu baik sekali kepada mereka," ucap Arman menepuk pundak Arfan.


"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan Man."


Mentari dan Siska turun dari mobil secara bersamaan, Mentari langsung memeluk Arfan.


"Aku tadi khawatir sekali!"


"Aku sudah bilang bukan, tidak akan terjadi apa-apa."


"Wah benarkah Kak?"


"Aku mengenal mereka tidak sengaja, salah satu diantara mereka pernah terluka dan dalam posisi dikejar oleh musuh, jadi tanpa pikir panjang aku menyuruhnya masuk ke dalam gudang di toko milik orangtuaku sampai kondisinya aman. Setelahnya kami bahu membahu mengobati lukanya dan memberikan tumpangan untuk sementara waktu," Arman menjeda ceritanya.


"Aku pikir dia tidak lagi menggeluti dunia hitam ternyata masih juga dia bekerja seperti itu."


"Aku berterimakasih kepadamu Fan, mungkin dengan begini mereka akan bisa memulai hidup mereka yang baru."


Ketika Arman masih bercerita, orang-orang kepercayaan Nenek datang.


"Bagaimana kondisi Tuan?"


"Kami baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir."


"Maafkan kami karena terlambat datang, posisi kami terlalu jauh jadi kami berusaha datang tepat waktu tapi ternyata tidak bisa. Syukurlah Anda baik-baik saja Tuan."


"Tidak masalah aku tahu kalian sudah berusaha, sekarang mereka sudah pergi. Jadi sekarang kalian bisa melanjutkan pekerjaan yang lain karena kami juga akan melanjutkan perjalanan."


"Oh ya minta tolong bawakan mobil Arman ke perusahaan karena kami hanya akan memakai satu mobil saja!"


"Baik Tuan!"


Mereka memindahkan barang-barang milik Arman dan Siska ke mobil Arfan, tujuan mereka satu mobil adalah agar bisa bergantian mengemudi mengingat perjalanan mereka masih sangat jauh.


Kini Arfan dan rombongan sudah melanjutkan perjalanan mereka dengan Arman yang menyetir.


"Fan segeralah bergabung dengan perusahaan, Paman Faisal sudah berkali-kali meminta kepada Nenek untuk membujukmu Fan."


"Aku masih memikirkannya Man!"


"Jangan terlalu banyak pertimbangan Fan, lagi pula kamu memiliki club agar keahlianmu tidak hilang begitu saja."


"Aku suka mengajar Man, rasanya sangat sulit untuk melepaskan semua itu."


"Aku tahu Fan, tapi pikirkan juga Nenek yang sudah merawatmu sedari kamu masih kecil. Kamu harapan satu-satunya bagi Nenek."


"Aku akan memikirkannya lagi Man!"


"Aku akan menunggu keputusanmu Fan!"


Mentari dan Siska yang duduk di belakang tengah tertidur pulas, mereka kecapaian setelah ketegangan yang mereka alami hari ini.


Mobil mulai memasuki pinggiran kota, lampu-lampu jalan sudah menyala dan rumah-rumah penduduk pun sama menandakan jika hari sudah mulai memasuki malam.


Mentari menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang kaku karena terlalu lama duduk. Mau senyaman apapun ketika di dalam mobil tetap tubuh mereka akan terasa sangat lelah.


"Kak aku lapar," ucapnya begitu membuka mata.


Arman yang mendengar itu sedikit menertawakan Mentari, "Rupanya putri tidur sudah lapar ya?" Godanya.


"Kau ini Man, namanya juga lapar. Lagi pula Mentari tidak sendirian, yang di perut juga butuh nutrisi."


"Aku lupa Fan, habisnya dia masih cantik saja meskipun sedang hamil."


"Jangan mulai deh Man!"


"Waduh pawangnya galak bener?" Arman tertawa.


"Kita cari tempat sholat kemudian makan malam dulu setelahnya!" Perintahnya kepada Arman.


"Sayang sabar sebentar lagi ya, kita sholat maghrib dulu kemudian makan."


Mentari mengiyakan perkataan Arfan, dia kembali bersandar di kursi untuk sedikit meredakan rasa pegal di pinggangnya.


Kini mereka telah menyelesaikan semuanya termasuk makan malam, saatnya melanjutkan perjalanan agar jangan terlalu larut sampai di rumah.


Kini gantian Arfan yang menyetir, "Man malam ini kamu dan Siska menginap di rumahku saja ya, pulang besok pagi saja!"


"Baiklah ikut kata tuan saja!"


"Iya benar Sis, kalau harus mengantarkan kalian satu persatu akan tambah lama perjalanan kita."


"Aku setuju Mentari, aku masih belum ingin ke asrama karena tidak ada kamu Mentari."


"Man kode tuh?" Arfan mulai meledek Arman.


"Segera Fan, aku harus punya rumah dulu untuk itu biar kami bebas mau bergulat berapa rondepun sehari!" Arman tertawa.


"Dasar kamu Man, otakmu itu sepertinya perlu dicuci pakai detergen!"


"Dikiranya aku cucian kotor apa?"


"Emang!" jawab Arfan yang membuat Arman terlihat sedikit kesal.


Mereka kini sudah sampai di rumah Arfan, rasanya sudah kangen sekali dengan rumah.


Mereka masuk ke dalam kamar mereka masing-masing untuk membersihkan diri kemudian beristirahat.


"Aku merindukanmu Mentari sayang?" Arfan memeluk Mentari dari belakang ketika Mentari sedang menyisir rambutnya di depan cermin.


"Tahan dulu ya Kak, besok kita temui dokter Sandra untuk hal ini."


"Baiklah, puasa lagi deh!"