
Mentari dan Siska terus berlari hingga ke parkiran, mereka baru berhenti ketika memastikan tidak ada yang mengejar.
Mentari dan Siska saling pandang kemudian tertawa bersama. Mereka sama-sama berpikir jika hal yang mereka lakukan benar-benar konyol.
"Kenapa hari ini seperti naik roler coster ya Sis, aku belum pernah merasakan hidup seperti hari ini." Mentari berucap sambil terengah.
"Benar-benar kamu Tari banyak masalah, tapi asyik juga sih, aku menikmatinya." Siska membuka botol air mineral yang sempat dibelinya di kampus kemudian meminumnya hingga tandas.
"Kok aku nggak dibagi sih Sis?" Mentari juga kehausan.
Siska memandang Mentari berniat meledek sahabatnya, "Kamu haus juga? Yah sudah habis Tari." Siska menampakkan muka seolah menyesal.
"Yuk anterin aku ke minimarket depan Sis!"
"Panas... ogah ah Tar, kamu saja yang pergi."
"Ya udah deh kalau nggak mau," Mentari berbalik arah dan hendak melangkah, tetapi dicegah oleh Siska.
"Nih buat kamu!" Siska menyodorkan sebotol air mineral untuk Mentari.
"Ih kamu ini Sis, ngerjain aku ya?"
"Tidak Mentari sayang, cuma pingin lihat kamu kesal saja!" Siska kemudian tertawa melihat Mentari yang menekuk sedikit wajahnya.
Mereka berdua masih menunggu Arfan dan Ayesh ke luar, namun hingga sore penantian mereka tidak kunjung membuahkan hasil.
"Sampai kapan kita mesti di sini sih Tar, dah sore nih, gerah pengin mandi."
"Mungkin bentar lagi kelar Sis, kita tunggu saja gimana?"
Siska setuju dengan usul Mentari, dia merasa kasihan dengan sahabatnya itu apalagi hari ini banyak kejadian kurang menyenangkan yang Mentari lalui, Siska merasa harus tetap berada di samping Mentari untuk menguatkannya, sama seperti banyak hari yang sudah mereka lalui bersama, Mentari banyak membantu Siska dalam berbagai hal. Jadi mungkin ini saatnya bagi Siska untuk bisa membalas semua kebaikan Mentari kepadanya selama ini.
Usai sholat maghrib, Arfan dan Ayesh menemui mereka berdua yang baru kembali dari mushola.
"Maaf membuat kalian menunggu sangat lama." Arfan meminta maaf kepada keduanya.
"Tidak apa-apa kak," jawab Mentari.
"Tidak apa-apa pak," Siska ikut menjawab.
"Bagaimana apakah penyidik menyulitkanmu kak?" Sambung gadis itu.
"Tidak ada yang menyulitkanku, hanya saja banyak yang ingin mereka ketahui jadi butuh waktu yang lama untuk memberikan penjelasan."
"Begitu rupanya ya kak," Mentari menggembungkan pipinya sehingga membuatnya semakin imut.
Arfan tersenyum melihat tingkah Mentari, "Ayo sebaiknya kita pulang sekarang!" ajaknya.
Arfan mengantarkan Ayesh ke Firma Hukum Akbar Grup setelah makan malam bersama karena sewaktu mereka pergi hanya membawa satu mobil saja, sedangkan mobil Ayesh dia tinggal di kantor.
"Terimakasih untuk semua bantuannya hari ini Yesh," Arfan mengucapkan terimakasih di depan kantor milik Ayesh.
"Tidak perlu sungkan Fan, jika butuh bantuanku tinggal hubungi aku saja. Meskipun kamu tidak ditahan tapi bukan berarti kamu terbebas dari segala tuntutan. Kita masih harus mencari bukti-bukti yang kuat sekaligus dalang di balik semua ini."
Arfan mengangguk kemudian masuk ke dalam mobilnya, "Hati-hati di jalan kalian ya, jangan lupa kapan-kapan main ke rumah. Hyorin pasti suka jika kalian mau datang!" ucap Ayesh sebelum Arfan tancap gas.
Selanjutnya mereka mengantarkan Siska ke asrama, Arfan sebenarnya kasihan kepada Siska yang harus terlibat ke dalam masalahnya dan Mentari.
"Siska terimakasih karena kamu selalu ada untuk Mentariku." Ucap Arfan kepada Siska.
"Sama-sama pak, Mentari adalah sahabat rasa saudara bagiku pak jadi aku siap menjadi bagian dari apa yang dia lalui, meskipun sepahit apapun aku akan selalu ada di sampingnya." Siska berucap dengan sangat mantap hingga membuat Mentari berkaca-kaca.
Mendengar semua itu Mentari turun dari mobil kemudian memeluk Siska dengan erat, "Terimakasih Sis, aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu!"
"Sama-sama Mentari, kamu harus bahagia jadi jangan menangis lagi ya." Siska mengusap air mata yang mengucur di pipi sahabatnya.
"Dah sekarang masuk mobil gih, aku juga mau masuk ke asrama!" Siska menyuruh Mentari masuk ke dalam mobil, sebab jika dibiarkan Mentari tidak akan pernah tega meninggalkan dirinya.
Mentari menuruti perkataan Siska kemudian mereka berpisah untuk sementara.
"Mentari sayang aku antarkan kamu pulang ke rumah ya?"
"Aku mau pulang ke club saja kak," jawab Mentari.
"Aku mau menyusul anak-anak yang sedang bertanding malam ini, aku tinggal apakah tidak apa-apa?"
"Jangan khawatirkan aku ya, aku sudah terbiasa seperti ini."
Tidak ada lagi percakapan yang tercipta diantara keduanya, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing hingga sampai di depan club.
"Kau masuklah, aku tinggal dulu ya!" Arfan kembali mengendarai mobilnya menuju tempat anak-anak sedang bertanding.
Mentari menuju ke kamarnya di lantai atas dan bertemu dengan Sania yang baru saja ke luar dari kamar Steven.
"Mentari kau datang, di mana Arfan?" Tanya Sania ramah sambil celingukan karena tidak ada Arfan bersama Mentari.
"Kak Arfan langsung pergi tadi begitu mengantarkanku kemari kak, katanya mau melihat anak-anak yang sedang bertanding."
"Oh iya anak-anak memang sedang bertanding, Tomi juga pergi bersama mereka."
"Aku harap mereka akan baik-baik saja, aku sangat khawatir mereka akan berkelahi lagi." Sania berwajah murung karena mengkhawatirkan Tomi yang kemungkinan besar malam ini bertemu dengan Zaki.
"Maksud kak Sania, perkelahian kemarin itu antara kak Tomi dan Zaki?"
Sania mengangguk, "Semua itu karena masa lalu kami yang sangat buruk Mentari, aku berharap kamu dan Arfan bisa saling menjaga diri tidak sepertiku, penyesalannya hingga hari ini belum bisa hilang dari ingatan."
"Maksud kak Sania?" Tanya Mentari penasaran.
"Ceritanya panjang Mentari, lain kali aku ceritakan ya. Sepertinya kamu sangat lelah, sekarang masuklah bersihkan dirimu dan beristirahatlah!" Sania tidak ingin banyak membebani Mentari kali ini, dia melihat wajah kusut Mentari yang sepertinya cukup lelah membuatnya iba, sehingga jika harus ditambah dengan cerita kelam masa lalunya, Sania khawatir akan semakin membebani pikiran Mentari.
Arfan sampai di tempat anak-anak asuhnya sedang bertanding dengan club di bawah kepemimpinan Zaki. Dia melihat papan skor, rupanya club Zaki sudah tertinggal dua skor dari clubnya, mereka hampir selesai bertanding.
Arfan menemui Tomi di pinggir lapangan tanpa sepatah katapun, pertandingan sengit masih terjadi sehingga dia hanya akan duduk diam sambil menyimak pergerakan anak-anak yang sedang bermain. Di antara anak-anak yang sedang bertanding rupanya ada Arman yang juga turun ke lapangan.
Arfan mengamati Arman yang sudah tidak segesit masa mereka dulu, bertambahnya usia dan frekuensi vakum yang cukup lama membuatnya harus memiliki penyesuian diri yang ekstra agar tetap mampu bersaing dengan pemain muda.
Pertandingan pun usai dengan kemenangan untuk club Arfan, "Selamat Fan, anak-anak asuhmu memang hebat!" Zaki menemui Arfan di pinggir lapangan.
"Terimakasih Za," jawab Arfan ramah.
Zaki tersenyum puas dengan jawaban dari Arfan, baru kali ini Arfan mau menjawab pertanyaannya dengan hangat tidak sedingin biasanya.
"Bagaimana kalau aku traktir minum kopi bersama Fan, aku ingin berbicara denganmu sebuah hal," pinta Zaki.
"Maaf Za, mungkin lain kali. Aku tidak ada waktu malam ini."
"Baiklah aku tunggu kapanpun kamu siap!" jawab Zaki.
Arfan meninggalkan Zaki yang masih berdiri di pinggir lapangan.
"Ayo kita pergi Za!" Arman menghampiri Zaki dan mengajaknya menyusul anak-anak yang sudah masuk ke mobil lebih dulu.
Arfan dan rombongan sampai di club, mereka sangat lelah setelah bertanding sehingga mereka segera masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Arfan memasuki kamarnya, setelah ritual bersih-bersih selesai. Dia naik ke atas ranjang dan mengambil ponselnya, Arfan tidak ingin menganggu Mentari karena di yakin gadis itu sudah tertidur karena lelah seharian.
Arfan melihat pesan dari Mentari kemudian membukanya. Arfan tersenyum sendiri karena Mentari ternyata sangat khawatir terhadapnya.
[Aku sudah di club, jangan khawatirkan aku lagi, ok 👍👍]
Arfan mengirimkan pesan teks kepada Mentari yang mungkin sudah terlelap saat ini.
Arfan kembali membuka beberapa pesan yang masuk ke ponselnya salah satunya dari Mona.
[Fan kau tahu tadi siang aku bertemu dengan Mentarimu itu, dia di kantor polisi sepertinya dia menemui seseorang karena aku melihatnya ke luar dari arah ruang tahanan, apakah kamu tidak mencurigainya?]
Pesan teks bernada provokasi di kirimkan oleh Mona kepadanya.
Arfan hanya membacanya saja dan tidak berniat sama sekali untuk membalas pesan itu.
"Apakah Mentari menemui Ilyas, tapi kenapa dia tidak menceritakannya kepadaku? Lalu untuk apa Mona juga datang ke kantor polisi tadi siang?" Arfan membatin dan berpikir keras untuk menghubungkan semua hal yang terjadi.
Arfan berselancar ke dunia maya, dia ingin melihat berita-berita tentang Mona atau apa yang terjadi sehingga membuat wanita itu harus berurusan dengan pihak kepolisian.
Namun tidak ada berita apapun mengenai wanita itu, padahal dengan popularitasnya sebagai selebgram dunia olahraga tidak akan sulit menemukan berita tentang Mona di internet karena pemburu berita pasti akan selalu melakukan update.
Arfan semakin merasa penasaran dengan datangnya Mona ke kantor polisi siang tadi.