
Marryana sudah berjam-jam menunggu Zaki di club tetapi Zaki tidak kunjung bisa dia temui, laki-laki itu masih sibuk mengawasi anak-anak berlatih.
Marryana sibuk membolak-balik ponselnya tanpa membuka layarnya, dia merasa bosan sekaligus kesal sebab Papinya pun tidak bisa dihubungi sama sekali sedangkan Papinya menurut keterangan Manager club, tadi pagi ternyata sudah terbang kembali ke luar negeri tanpa memberitahu apa-apa kepadanya. Dia merasa dipermainkan oleh mereka saat ini.
Hufttt....
Marryana menghembuskan nafasnya kasar, beranjak dari tempat duduk berniat meninggalkan club milik Papinya itu.
"Kamu mau kemana Marry?" Zaki yang berdiri di belakang tempat duduk Marryana tadi bertanya, sontak Marryana berbalik ke arah Zaki.
"A-aku mau pergi Za, tidak ada yang mengerti apa yang aku rasakan saat ini!" jawab Marryana sedikit menyindir Zaki.
"Mau berbicara denganku?" Tawar Zaki yang membuat Marryana membuang muka dan melipat tangannya di depan dada.
"Bukankah kau sibuk Za?" Marryana mulai melangkah meninggalkan Zaki.
"Marry aku bisa jelaskan soal yang tadi!" Zaki mengejar Marryana dan mengikuti wanita itu memasuki mobil dan mengambil alih kemudi.
"Aku bisa sendiri Za!"
Zaki diam saja tidak menjawab ucapan Marryana. Dia terus mengemudi meninggalkan club. Marryana yang sebenarnya merasa diperhatikan oleh Zaki tersenyum di dalam hati, meskipun dia tidak tahu kemana sebenarnya Zaki akan membawanya.
Ponsel Marryana berdering di saat suasana hening sehingga terdengar jelas disela-sela deru mesin mobil yang mereka tumpangi saat ini.
"Angkat saja Marry!" perintah Zaki dan Marryana mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menganggunya malam-malam begini. Dia memang tidak membuka pesan dari siapapun sejak siang karena pikirannya terfokus pada berita yang sedang menjadi tranding topic di internet.
"Bram?" Pikirnya.
Marryana menggeser tombol hijau dan terdengarlah suara Bram dari seberang telfon.
"Marry kamu dimana, kenapa aku susah sekali menghubungi kamu, kemana saja kamu seharian ini?" Nada bicara Bram menyiratkan kekhawatiran yang sangat dalam.
"Aku baik-baik saja Bram, saat ini aku sedang bersama temanku."
"Kenapa kamu tidak menjawab telfonku Marry?"
"Maafkan aku Bram, aku sibuk dan aku sedang malas untuk melihat ponselku sendiri."
"Apa karena berita itu?"
"Kamu sudah membacanya?"
"Aku berharap kamu tidak menerimanya Marry, laki-laki itu sudah menikah dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah!"
"Bram aku tidak sekonyol itu, sudahlah jangan bahas lagi karena aku hanya ingin menenangkan diri."
Marryana menutup sambungan telfonnya bersama Bram meskipun sebenarnya laki-laki itu masih ingin berbicara dengannya.
"Siapa Marry?" Tanya Zaki penasaran karena mendengar pembicaraan mereka sejak tadi.
"Bram!" jawab Marryana singkat.
"Bram?" Zaki mengerutkan dahi mencoba mengingat nama itu yang terasa tidak asing baginya.
"Jangan bahas dia Za, dia tidak penting bagiku. Dia teman sekaligus sisi gelap sahabat-sahabatku, tapi aku tidak seperti mereka Za."
Zaki terdiam, dia masih memikirkan nama orang yang menelfon Marryana barusan, rasanya sungguh tidak asing baginya.
"Za sebenarnya kita mau kemana sih?" Tanya Marryana karena mereka semakin jauh dari pusat kota.
Zaki hanya menjawab dengan senyumnya, berbeda dengan Arfan dan Mentari yang sedang bersantai di depan televisi setelah makan malam bersama.
"Kak boleh berbicara sesuatu?" Tanya Mentari hati-hati.
Arfan mengangguk, dia sudah tahu kemana arah pembicaraan Mentari kali ini. Hati Arfan sebenarnya berdegup kencang menanti kata-kata yang akan keluar dari bibir Mentari yang sudah menjadi candunya.
"Kak...," Mentari menjeda ucapannya.
"Bolehkah aku keluar kota untuk melakukan penelitian?"
Arfan tidak langsung menjawab permintaan istrinya, dia mengelus dagunya sendiri karena dia memang sedang memikirkan hal itu.
"Jika penelitianku cepat selesai maka tesis yang akan aku kerjakan juga pasti segera selesai sebelum anak kita lahir kak, nantinya aku ingin fokus mengurus kamu dan anak kita kak." Mentari mencoba menjelaskan kenapa dirinya harus segera pergi.
"Kapan jadwal kamu memeriksakan kandunganmu bulan ini?" Tanya Arfan tidak nyambung.
"Kak...,"
"Jawab saja sayang!"
"Lusa kak," jawab Mentari.
"Kalau begitu aku akan menjawab boleh dan tidaknya kamu pergi setelah kita memeriksakan kandunganmu!" jawab tegas Arfan tanpa mau dibantah.
Mentari pasrah dengan keputusan suaminya, dia paham jika Arfan pasti akan memikirkannya terlebih dulu baru membuat keputusan setelah semuanya jelas.
"Malam-malam begini kak, apa tidak salah? Nanti malah menganggu pak Reza bagaimana, aku yang nanti tidak enak kak. Aku telfon besok saja ya kak?"
"Aku yang akan bicara padanya, sekarang telfon saja!"
Mentari mencari nomor pak Reza kemudian menelfonnya, Arfan mengambil alih ponsel Mentari kemudian berbicara dengan Reza di belakang setelah Reza menerima panggilan dari Mentari.
Mentari penasaran dengan apa yang sebenarnya mereka bicarakan, sebab sudah hampir setengah jam Arfan belum juga kembali. Namun, Mentari sendiri tidak punya nyali apalagi keberanian untuk menyusul Arfan di taman belakang.
Lelah menunggu, Mentari tertidur di sofa depan televisi.
Arfan kembali dari taman belakang dan mendapati jika istrinya sudah terlelap. Arfan tersenyum kemudian mencium kening Mentari, "Dasar putri tidur!" gemasnya mencubit hidung Mentari yang membuat istrinya menggeliat.
Zaki dan Marryana sudah sampai di tempat yang mereka tuju, "Turunlah Marry!" Zaki membukakan pintu untuk Marryana yang tertidur pulas di dalam mobil karena menempuh perjalanan yang cukup jauh.
"Kita dimana ini Za?" Tanyanya bingung karena mereka sudah berada di pinggir pantai dengan deru ombak yang terdengar jelas.
"Ayo ikuti aku!" Zaki melangkah meninggalkan Marryana yang masih celingukan karena bingung, dia merasa sedikit ragu mengingat pesan Arfan kepadanya agar berhati-hati dengan Zaki dan jangan sampai dia bernasib sama dengan Sania.
Zaki berhenti melangkah karena dia tidak melihat Marryana mengikutinya, "Ayo Marry!"
Zaki melambaikan tangannya mengajak Marryana untuk bergegas.
Marryana mengejar Zaki, "Sebenarnya kita mau kemana sih Za?" Tanya Marryana untuk ke sekian kalinya.
"Ikut saja, nanti kamu akan tahu!"
Mereka memasuki sebuah lobi hotel, tampak Zaki berbicara dengan seorang recepsionis. Setelahnya dia kembali menghampiri Marryana dan mengajaknya ke sebuah kamar dengan nomor yang tertulis pada kunci yang dia bawa.
"Za kamu jangan main-main, kalau kamu berani macam-macam padaku, Papi pasti tidak akan tinggal diam!" Marryana yang gugup mengeluarkan uneg-uneg yang sedari tadi coba dia pendam.
"Bukankah kita akan bicara Marry?" Zaki sangat mengerikan kali ini menurut Marryana.
"Ayo kita bicarakan di dalam!"
Marryana tetap tidak mau masuk ke dalam kamar, "Aku tidak mau Za, aku bukan Sania jadi jangan harap aku akan mau mengikuti keinginanmu!"
"Kali ini tolong menurutlah, agar tugasku lebih mudah!" pernyataan Zaki kali ini membuat Marryana sedikit tercengang dan semakin panik.
"Dia diperintah orang lain?" Pikirnya.
Perlahan Marryana masuk ke dalam kamar bersama Zaki, lampu kamar menyala. Dia disambut dengan tepuk tangan bersamaan dengan lagu selamat ulang tahun yang dinyanyikan oleh kedua orangtuanya dan juga saudara-saudaranya yang jauh-jauh datang dari luar negeri hanya untuk merayakan ulang tahunnya.
Marryana menangis haru, ternyata mereka sudah merencanakan ini semua untuknya. Dia meniup lilin setelah berdo'a dan memeluk keluarganya satu persatu.
"Papi yang merencanakan kekacauan ini?"
"Awalnya Papi serius meminta Arfan untuk menikahimu, tapi setelah Papi tahu Arfan sudah menikah maka Papi tetap melanjutkan rencana Papi hanya untuk mengerjaimu saja."
"Maksud Papi, berita di internet itu?"
"Jangan khawatir berita itu tidak akan ada lagi!"
"Cek saja kalau tidak percaya!"
"Lalu bagaimana dengan Arfan dan istrinya Pi?"
"Arfan mengetahui ini semua, Papi harap dia bisa menjelaskan kepada istrinya."
Mereka semua merayakan ulang tahun Marryana dengan Zaki yang ikut bergabung bersama keluarga Marryana. Semua ketegangan telah terurai dengan jelas.
****
Steven yang baru bangun tidur pagi ini mendadak menangis mencari Mamanya, padahal tidak biasanya dia bersikap manja seperti itu.
"Kamu kenapa Stev?" Tanya Sania panik karena Steven tidak seperti biasanya.
"Mama aku mau bertemu Papa Zaki hari ini, cepat telfon dia Ma!"
"Papa Zaki sedang sibuk sayang, sebaiknya akhir pekan saja kita hubungi Papa kamu itu ya?" Sania mencoba membujuk Steven.
"Aku tidak mau Ma, pokoknya sekarang!"
Sania mengalah, dia mengambil ponselnya dan menekan nomor Zaki. Namun, Zaki tidak menjawab sampai berulang kali Sania melakukan hal yang sama.
"Bagaimana Ma, apakah Papa Zaki akan kesini?" Tanya Steven antusias.
"Sepertinya Papa kamu sedang sibuk Stev, nanti Mama telfon lagi ya."
Steven berlari ke taman belakang, kemudian naik ke atas pohon yang cukup tinggi. Steven mengancam tidak akan turun sampai Zaki datang. Sania dibuat pusing kali ini dengan sikap Steven. Tomi juga sedang tidak ada di club dan dia tidak mungkin menganggu Tomi yang sedang fokus dengan anak-anak.
"Stev Mama mohon jangan mempersulit Mama dengan tingkah kamu yang seperti ini nak!"