
Arfan menatap tajam Mona, "Awas kamu sampai Mentari terluka sedikit saja, aku akan membuat perhitungan dengan kamu!"
"Maafkan aku Fan, ak-aku..."
"Tutup mulut kamu, aku tidak sudi mendengar apapun yang ke luar dari mulut kamu itu!"
Arfan tidak ingin mendengarkan Mona lagi, dia membawa Mentari pergi dari hadapan Mona.
"Kalau kamu masih memiliki rasa malu, sebaiknya cepat pergi dari sini sebelum diusir paksa!" ucap Arfan sebelum pergi.
Arfan membawa Mentari keluar dari rumah neneknya, rencana berbicara dengan nenek hari ini gagal total.
Arfan menelfon nenek saat sudah berada di mobil, dia memberitahukan jika Mentari sekarang bersamanya dan jangan dicari.
"Kenapa kalian pergi begitu saja, kenapa tidak memberitahukan kepada nenek?"
"Tanyakan saja pada Mona nek!"
Arfan menutup sambungan telfonnya, "Nenek pasti mencari kita kan kak karena kita pergi tidak memberitahu nenek dulu."
"Jangan pikirkan soal nenek, aku tidak mau Mona menyakiti kamu lagi!" Arfan mengusap lembut kepala Mentari dengan satu tangannya.
Mentari tersenyum, "Terimakasih kak, tapi kenapa kak Mona sepertinya tidak menyukaiku, bukankah kak Mona itu sekarang adalah tante kamu kak?"
"Mona tidak akan pernah menyukaimu ataupun gadis manapun yang dekat denganku sayang!"
"Sudahlah tidak perlu pikirkan dia sebab dia tidak penting untuk kita!"
Keesokan paginya nenek mendatangi club Arfan dengan diantarkan supir saat matahari belum menampakkan sinarnya. Nenek sangat mengkhwatirkan keadaan Mentari setelah tahu jika Mona telah berbuat kasar kepadanya, nenek mendengar semua itu dari bibi yang ketika kembali ke dapur setelah mencari orang di sekitaran rumah tetapi tidak menemukan siapapun membuat bibi memutuskan untuk kembali lebih cepat takut terjadi sesuatu pada Mentari, tetapi bibi sudah tidak menemukan Mentari bersama Mona lagi saat itu.
Mentari yang sedang bersiap untuk berangkat ke kampus melihat nenek sudah ada di ruang tamu bersama Arfan.
Mentari sengaja tidak langsung masuk karena khawatir mengganggu obrolan mereka.
"Nek aku hanya tidak mau Mona selalu ada di rumah nenek, aku jadi malas karena setiap kali aku kesana dia selalu ada!"
"Maafkan nenek Fan, kemarin membiarkan Mentari ada di rumah nenek tapi malah Mona menyakitinya beruntung kamu cepat datang sehingga tidak sampai terjadi luka yang serius padanya."
"Makanya aku tidak mau Mentari tinggal saat ada Mona di rumah nenek, tapi nenek memaksa bukan?"
"Maafkan nenek Fan, sekarang dimana Mentari Fan?"
"Dia masih di kamar sedang bersiap untuk pergi ke kampus!"
"Nenek akan tunggu sampai dia selesai bersiap!"
Mentari merasa kasihan jika membuat nenek harus menunggunya, gadis itu berniat masuk ke ruang tamu tapi baru selangkah akhirnya dia urungkan karena mendengar Arfan tampak akan berbicara serius kepada neneknya.
"Bolehkah aku minta tolong sekali lagi nek?" Pinta Arfan.
"Katakanlah, nenek pasti akan mengabulkannya!"
Arfan membisikan sesuatu kepada neneknya dan langsung disetujui oleh orangtua itu.
"Besok antarkan dia ke kantor, sekretaris nenek akan mengatur semuanya."
"Terimakasih nek," Arfan memeluk neneknya, disaat seperti ini ternyata nenek bisa diajak bekerja sama dengan baik, paling tidak satu masalah Arfan untuk sementara dapat teratasi dengan baik.
"Fan bagaimana dengan rencana kita, kapan kita akan mengundang mereka makan malam?"
"Atur saja nek, aku ikut rencana nenek saja."
"Kau ini memang tidak pernah memiliki inisiatif!" cibir neneknya.
Mentari yang masih berdiri di tempatnya dikagetkan oleh Steven yang baru saja ke luar dari kamarnya.
"Sssttt... Jangan berisik ya Stev?" Mentari khawatir jika Arfan dan nenek tahu jika dirinya berdiri disana sejak tadi tetapi tidak berani masuk ke dalam.
Steven mengangguk, "Kakak sedang apa disini, kenapa tidak masuk saja?" Bisiknya.
"Kakak baru saja mau masuk Stev!" jawab Mentari terpaksa berbohong karena sudah tertangkap basah.
"Siapa di luar?" Arfan sebenarnya tahu jika Mentari sudah berdiri lama di balik pintu ketika dia sedang berbicara dengan neneknya.
"Iya uncle, ini aku Stev."
"Sini masuk saja sayang!" Perintah nenek Wijaya.
Mentari mencium punggung tangan nenek dengan takzim yang diikuti oleh Stev.
"Ini Steven putra Sania kan Fan?"
"Iya nek, sudah besar kan sekarang nek?"
"Kamu ganteng sekali sayang?" Puji nenek Wijaya.
Steven tersenyum, "Nek sekarang aku punya dua nenek, yang satu nenek dan yang satu lagi nenek yang selalu membuatkanku makanan lezat setiap hari."
Mereka yang ada di ruangan itu tertawa mendengar ucapan polos Steven. Anak itu kemudian pergi meninggalkan ruang tamu karena sudah harus berangkat ke sekolah, Sania tidak tahu jika ada nenek Wijaya di club sehingga dia tidak menyapa nenek terlebih dahulu. Nenek Wijaya merupakan salah satu orang yang sangat berarti untuknya, bahkan selalu ada disaat-saat paling buruk dalam hidupnya.
"Fan terimakasih sudah menjadi orang baik, ayahmu yang mewariskan seluruh hartanya hingga kamu bisa membangun tempat ini pasti akan bahagia karena kamu menggunakan apa yang dia tinggalkan untuk menolong banyak orang, teruslah seperti ini Fan. Nenek bangga kepadamu!"
Arfan hanya tersenyum karena dia merasa belum seperti yang neneknya ucapkan, dia masih harus banyak belajar, mungkin saat ini dia banyak menampung orang di tempatnya bahkan menanggung kehidupan dasar mereka namun belum bisa dikatakan jika Arfan adalah orang yang dermawan sebab mereka juga menyumbangkan tenaga dan pikiran mereka untuk club yang Arfan bangun.
"Maafkan nenek sayang karena sudah membiarkanmu sampai disakiti oleh Mona." Nenek Wijaya mengalihkan pandangannya kepada Mentari.
"Apakah kamu baik-baik saja sayang?"
"Nenek jangan khawatir ya, aku baik-baik saja kok nek."
"Syukurlah kalau seperti itu sayang, nenek jadi lega."
Nenek Wijaya pamit untuk pulang setelah menyelesaikan urusannya karena Arfan juga akan pergi ke kampus bersama dengan Mentari.
Mona pagi ini ternyata masih ada di rumah nenek Wijaya, wanita tidak tahu malu itu enggan pergi dari sana karena masih memiliki tujuan yang belum dia capai. Nenek Wijaya sampai di rumahnya, Mona menyapa nenek dengan ramah tetapi nenek justru mengacuhkannya begitu saja.
"Kak kenapa pergi pagi sekali sampai melewatkan sarapan bersama kami!" kakek Mahmud menghampiri kakaknya.
"Aku ada urusan jadi aku pergi tidak memberitahumu dulu karena aku terburu-buru."
"Kalau begitu kakak istirahat saja, aku juga mau kembali berkebun."
Nenek Wijaya masuk ke kamarnya untuk beristirahat, Mona berpikir mungkin saja dia bisa menggunakan bapaknya untuk membujuk nenek Wijaya agar rencananya berjalan dengan mulus sebab nenek Wijaya tidak mungkin menolak jika bapaknya yang meminta.
Keesokan paginya, Arfan mendatangi kontrakan Arman untuk mengajaknya ke suatu tempat.
"Malas sekali kamu Man, jam segini masa baru bangun, sudah jam berapa ini Man. Pantas saja rezekimu seret!" Arfan mengejek sahabatnya saat Arman membukakan pintu dan tampaklah muka bantalnya.
"Apaan sih Fan, masih pagi begini juga. Lah kamu sendiri pagi-pagi begini kenapa ribut-ribut di kontrakan orang sih, berisik tahu nggak!"
"Biarin emangnya aku perduli?"
"Nggak tuh!" Arfan tertawa.
Arman di buat kesal oleh Arfan yang selalu saja mengganggunya.
"Mandi sana, jangan tidur lagi. Aku tungguin disini!"
Arman masuk ke dalam kamar mandi dengan malas, dia tidak tahu kemana Arfan akan membawanya pergi tapi kalau dia tidak mau mengikuti keinginan Arfan, bisa tamat riwayatnya.
Arman sudah rapi dengan menggunakan setelan kemeja beserta celana bahannya karena di suruh oleh Arfan. Dia dibuat semakin bingung dengan perlakuan Arfan kepadanya dan tidak diizinkan untuk protes sedikitpun.
"Sebenarnya kita mau kemana sih Fan?" Tanya Arman saat dia sudah naik ke mobil Arfan.
"Ikut saja nanti kamu juga pasti akan tahu!"
Mereka sampai di sebuah gedung yang menjulang tinggi dengan tulisan besar di bagian depan gedung itu.
"Wijaya Corporation!" Arman membaca nama gedung itu.
"Kamu mau aku bekerja di sini?" Tanya Arman lagi.
"Tentu saja!" Arfan tertawa sembari berjalan ke arah lobi meninggalkan Arman yang masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan Arfan sekaligus tidak bisa menebak isi pikiran pria itu yang selalu saja misterius.