My Old Star

My Old Star
#61 Mengulang Sejarah



Arfan menarik kerah baju Mentari dari belakang kemudian merangkul pundak gadis itu ketika dia berniat kabur darinya.


"Ayo kita pulang!" bisik Arfan di telinga Mentari.


Mentari bergidik ngeri sebab dibalik perkataan Arfan menyimpan sejuta misteri, ada rasa takut dalam diri Mentari seperti orang yang tertangkap basah dan harus siap menanggung segala resikonya.


Mentari akhirnya pasrah dengan pengaturan Arfan, setelah berpamitan kepada Farhan dan mengucapkan terimakasih mereka akhirnya meninggalkan penginapan milik Farhan.


Arfan berjanji kepada Farhan jika suatu saat nanti dia akan menginap di tempat Farhan bersama dengan anak-anak asuhnya.


Di dalam perjalanan pulang ke hotel, Mentari dan Siska saling berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat tubuh mereka, Siska merasa sangat takut karena Arfan tampak dingin, tidak ada lagi seulas senyum di bibir pemuda itu.


Begitu sampai di hotel, Arman langsung pamit untuk masuk ke kamarnya. Dia merasa sangat lelah dan mengantuk. Siska pun masuk ke dalam kamarnya karena takut melihat wajah serius Arfan.


"Kak aku juga mau ke kamar!" pamit Mentari hendak mengikuti Siska.


"Siapa yang menyuruh kamu masuk ke kamar!" suara Arfan membuat Mentari mengurungkan niatnya.


Mentari tidak menjawab, Arfan sudah sangat menakutkan baginya.


Arfan membawa Mentari masuk ke kamarnya, "Duduk!" perintah Arfan.


Arfan sendiri masuk ke dalam kamar mandi dan keluar dengan wajah yang lebih segar.


"Aku akan tidur sekarang karena kamu sudah membuatku harus terjaga semalaman, jadi jangan pernah mencoba untuk kabur dari sini!" ucap Arfan sambil naik ke atas ranjang.


"Awas kalau sampai kabur, ada hukuman yang jauh lebih berat lagi dari ini!" Imbuh Arfan penuh nada ancaman.


Nyali Mentari mulai menciut, dia pasrah dengan apa yang akan Arfan lakukan terhadapnya, namun jika Arfan akan berbuat kurang ajar tentu saja dia akan melawan.


Dua jam menunggu Arfan yang tak kunjung terbangun dari tidurnya, Mentari merasa bosan karena tidak ada hal yang bisa dia lakukan. Mentari sebenarnya ingin kabur, tapi teringat pesan Arfan membuatnya takut jika hal itu dia lakukan, Arfan pasti akan mengamuk. Jadi tidak ada pilihan lain selain menunggu Arfan terjaga, karena lelah Mentari akhirnya terlelap di sofa.


Sore hari Arfan bangun, dia melihat Mentari yang terlelap di sofa yang sempit membuatnya kasihan kepada gadis itu. Sehingga dia mengangkat tubuh Mentari ke atas ranjang.


Sore ini club Arfan ada jadwal pertandingan sehingga dia bergegas keluar dari kamar setelah membersihkan diri untuk menemui anak asuhnya.


"Bos kemana saja kenapa tidak kelihatan, kami mencarimu sejak semalam!" tanya Dio mewakili teman-temannya.


"Aku di kamar sejak siang tadi!" jawab Arfan.


Siska yang sudah bergabung dengan Arfan dan yang lainnya celingukan mencari Mentari yang tidak ada dalam rombongan.


"Mentari ada di kamarku sedang beristirahat, sepertinya dia sangat lelah jadi aku tidak berani membangunkannya!" Arfan memberitahu Siska karena sudah jelas jika Siska sedang mencari sahabatnya.


Siska langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, pikirannya sudah traveling kemana-mana.


"Jangan berpikir yang macam-macam, kami tidak seperti yang ada di benak kalian semua!" Arfan berlalu pergi menuju bus yang sudah menunggu mereka sejak tadi.


Anak-anak asuh Arfan mengikuti langkahnya, mereka akan bertanding jadi harus fokus tidak boleh berpikiran buruk terhadap bosnya.


Siska memutuskan tidak jadi ikut bersama rombongan karena Mentari tidak ikut bersamanya.


Arman juga ternyata memilih berada di hotel, semalaman tidak tidur membuatnya sangat lelah. Dia yang baru saja keluar dari kamar menghampiri Siska yang sedang duduk termenung sendirian.


"Kenapa bengong sendirian di sini Sis?" Tanya Arman.


"Kak Arman tidak ikut bersama mereka pergi bertanding?"


"Aku sangat lelah, jadi aku ingin istirahat saja di sini."


"Oh ya Sis, dimana Mentari kenapa kamu disini sendirian?"


"Mentari ada di kamar pak Arfan!"


"Arfan ternyata gesit juga," Arman tertawa karena berpikiran sama seperti yang lainnya.


"Jangan berbicara macam-macam kak, aku tahu Mentari seperti apa, tentu kak Arman juga tahu bagaimana perangai pak Arfan bukan." Siska membela sahabatnya karena dia yakin jika Mentari tidak seberani yang ada di pikiran mereka.


"Kamu benar Sis, aku yakin Arfan tidak akan pernah mengulang sejarah!"


"Maksud kak Arman?"


"Akan aku ceritakan suatu saat nanti Sis!"


"Ayo kita pergi berjalan-jalan di sekitar sini!" Arman mengajak Siska untuk berjalan-jalan melepas penat.


Arfan masuk ke kamarnya usai menyelesaikan pertandingan sore tadi, dia tersenyum sendiri karena Mentari masih berada di kamarnya sedang memandangi jalan di bawah kamarnya memalui kaca jendela.


"Gadis ini ternyata patuh juga," Arfan membatin.


"Kamu masih di sini sayang?" Ucap Arfan membuat Mentari membalikan tubuhnya.


"Kakak sudah pulang?"


"Bagaimana pertandingannya kak, apakah sesuai harapan?"


"Iya meskipun menang dengan skor tipis," jawab Arfan sambil meletakkan sepatu di rak.


"Syukurlah kak, aku ikut senang."


"Aku mau mandi dulu, setelah makan malam kita akan bersiap untuk pulang." Ucap Arfan sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


"Kak sebentar!"


Arfan kembali membuka pintu kamar mandi, "Bolehkah aku kembali ke kamar, aku mau mengemas barang-barangku dulu."


Arfan hanya mengangguk kemudian menutup pintu kamar mandi kembali.


Mentari kembali ke kamarnya sebelum makan malam, dia harus berkemas terlebih dahulu.


"Mentari kau baik-baik saja?" Siska menyongsong kedatangan Mentari.


"Aku tidak apa-apa Sis, kak Arfan hanya mengurungku di kamar seharian ini sebagai bentuk hukumannya kepadaku."


"Dia tidak berbuat kurang ajar kepadamu kan?"


"Kak Arfan bukan laki-laki seperti itu Sis," Mentari menjelaskan kepada Siska agar dia tidak salah paham.


Mereka selesai berkemas, kemudian turun untuk makan malam bersama.


Kini anak-anak sudah berada di bus untuk pulang ke club, sedangkan Arfan menaiki mobilnya bersama Mentari, Siska dan juga Arman seperti saat berangkat, hanya saja saat berangkat tidak ada Arman bersama mereka.


Arfan mengantarkan Siska terlebih dahulu kemudian mengantarkan Arman ke club Zaki.


Zaki dari atas gedung memandangi kedatangan Arman yang turun dari dalam mobil Arfan.


Arfan dan Mentari kemudian melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang ke club.


Sesampainya di club, ternyata bus yang membawa anak-anak baru saja tiba dan anak-anak sedang menurunkan barang bawaan mereka.


Di club Zaki, Arman bergegas memasuki kamarnya. Rasa lelah selama perjalanan membuatnya cepat ingin beristirahat.


Zaki menghadang langkah Arman, "Dari mana saja kamu akhir pekan ini Man?" Zaki bersedekap.


"Aku hanya berakhir pekan itu saja tidak lebih," jawab Arman santai.


"Bagaimana kamu bisa bersantai di akhir pekan sedangkan kamu tidak mengalami kenaikan kemampuan akhir-akhir ini. Menurut catatan performa kamu cenderung menurun dari waktu ke waktu!"


"Tim kita butuh kemenangan Man, jika kamu masih seperti ini bagaimana kamu bisa bermain dengan baik bersama mereka. Jangan sampai tim kita gagal meraih kemenangan hanya gara-gara kamu!"


Arman diam saja mendengarkan Zaki menceramahinya panjang lebar, Arman tahu dia salah karena memilih ikut pergi bersama Arfan dibanding berlatih bersama timnya.


Arman hanya ingin beristirahat sejenak setelah latihan demi latihan yang dilakukannya tanpa jeda.


Arman tahu jika Zaki juga berada dalam tekanan jika tim yang dipimpinnya tidak bisa meraih kemenangan. Arman tidak bisa marah kepada Zaki saat sahabatnya itu menegurnya.


Arman merenung di dalam kamar, rasa lelahnya sudah hilang bersama emosi yang dia coba tahan.


Arfan memasuki kamarnya untuk beristirahat, dia membuka sebuah pesan dari Arman sembari merebahkan tubuhnya di kasur.


[Aku akan mengundurkan diri dari club]


Pesan teks Arman membuat Arfan terkejut, dia mencoba menelfon Arman berkali-kali namun tidak mendapatkan jawaban dari Arman sama sekali.


Arfan sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.


[Temui aku besok di restoran Z, kita harus bicara!]