My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 99. Heat Waves



💌 : Baby, aku pikir habisi musuhmu dan sedikit mungkin buatmu terlibat dengan mereka bisa redakan amarahmu pada Hedgar.


💌 : Apa yang terjadi?


Akhirnya Archilles membalas pesan Tatiana karena sangat serius.


💌 : Jangan ingkari janjimu!


💌 : Aku tidak mengerti!


💌 : Beritahu teman-temanmu untuk tidak melukai saudaraku.


Tatiana kirimkan balasan. Archilles segera mengecek pesan group. Ternyata Tuan Hellton Pascalito berikan sinyal akan bertandang ke tempat Hedgar. Romeo, Ax, Lucky Luciano dan Francis Blanco telah konfirmasi untuk ikut. Akan sangat repot sebab skuad ini bisa mencabik-cabik Hedgar.


💌 : Kamu akan pahami pertemuan H dan Hedgar.


Archilles Lucca perlu menenangkan Tatiana sebab Tatiana tidak mudah ditebak. Cara wanita itu menaruh bidak, tentukan lompatan tak akan mampu diprediksi. Tatiana selalu taktis dan licin. Bila Hedgar diganggu sekarang, Archilles tak akan tahu, apa yang bisa wanita itu lakukan pada mereka. Bisa saja Tatiana akan membuat perhitungan dan sangat berbahaya.


💌 : Hedgar tidak tahu Arumi Chavez dijadikan target.


💌 : Biarkan mereka bertemu


💌 : Enrique bisa bertamu sendirian. Mengapa bawa yang lain?


Tatiana sedang tidak ada di tempat, alasan Archilles membaca ketakutan. Hebatnya Tatiana tahu pergerakan mereka. Bagaimana bisa sementara segala hal terhitung sangat rahasia? Apakah aplikasi pesan di ponselnya telah di kloning oleh Tatiana?


💌 : Tujuannya mungkin makan malam. Anna Marylin sedang mengandung. Anggap saja lainnya kunjungi Anna.


💌 : No, I think no. Anna hanya akan bergantung pada saudaraku!


💌 : Hedgar dapatkan Anna secara curang. Kakakmu manfaatkan persahabatan Anna dan Mr. H.


💌 : No Baby. Hedgar love Anna. Aku mendukung tindakan Hedgar. Enrique boleh mencekikku sampai mati, hanya tak boleh menyentuh saudaraku sedikitpun. Please, jangan memaksaku ikut campur. Hasilnya tak akan bagus!


💌 : Kita akan sepakat. Anna bersama suaminya. Teman-teman Anna telah hormati pernikahan ini


💌 : Mengapa aku tak ingin percaya?


💌 : Berkabarlah dengan Anna. Kamu orang terdekat keduanya kini.


💌 : Apakah kamu sibuk, My Love?


💌 : Ya, aku sibuk pecahkan teka-teki dari mana kamu dapatkan informasi rahasia ini?


💌 : Sumberku akurat. Aku perlu peringatkanmu juga. Hedgar tingkatkan keamanan 10 kali lipat. Memasang jebakan berbahaya.


💌 : Mengapa beritahu aku?


💌 : Because i love you. Aku tak suka hal buruk menimpamu jikalau kamu ikut.


💌 : Kamu tak akan dapatkan apapun dariku


💌 : Apakah matahari menagih upah dari setiap cahaya yang dianugerahkannya pada bumi? Atau bulan berhenti sebabkan pasang surut karena cinta bertepuk sebelah tangan pada bumi?


Archilles tak lanjutkan membalas pesan jika urusan telah mengarah ke sana. Mengirim warning teks ke komunitas untuk lebih berhati-hati.


Merenungi raut pulas gadis belia di hadapannya.


Apa yang akan mereka lakukan besok hari?


Bisakah alam berhenti curahkan hujan? Bolehkah beri mereka sedikit kehangatan?


Archilles Lucca berencana mengajak Arumi Chavez beraktivitas di luar rumah setelah sarapan.


Selimut diatur serapat mungkin. Lanjutkan memeriksa pemanas ruangan dan memutar instrumental lembut piano, ia mundur pelan-pelan takut langkahnya tertangkap kuping Arumi Chavez. Archilles keluar dari ruang tidur Arumi.


Menyenangkan menjadi pengasuh kekasihnya sendiri tetapi lekas ketakutan. Mereka hanya berdua di rumah dan berada di kamar girly Nona Arumi. Mending ia lekas angkat kaki sebelum sesuatu menimpanya.


Apa itu Archilles?


Sesuatu dalam dirinya bertanya.


Memangnya apa yang bisa menimpamu?


Abaikan.


Mereka main game dan Arumi Chavez pecundangi-nya berulang kali. Archilles sampai berhipotesis jangan-jangan 'Angel' yang sering kalahkan BM di game battle adalah Arumi Chavez?


Bagaimana bisa gadisnya sangat hebat setelah masuki karakter Angel dan benar-benar tangguh tak tertandingi?


Setelahnya Nona Arumi mainkan piano. Ajari dirinya lagi tetapi Archilles pilih menyerah. Terlebih Nona Arumi tidak begitu cocok jadi guru. Maunya sekali pengajaran, muridnya langsung harus paham. Hingga Archilles lebih baik menyingkir sebelum Guru les piano yang galak bikin keningnya bolong.


Archilles kemudian menonton pacarnya dari sofa tanpa kedip. Menghargai tiap-tiap waktu berharga yang mereka lewati.


Makna romantisme real bukan emosi menggebu-gebu atau yang lebih ekstrim dari itu. Membaca buku dalam satu ruangan selama lima belas menit adalah gambaran sederhana dari romantisme. Archilles tahu Arumi Chavez tak suka baca buku selain naskah drama, iyakan saja ketika akhirnya ia malah diminta bacakan teori ekonomi bak membaca dongeng. Luar biasa, anehnya Nona Arumi kemudian tertidur.


Tidak jadi turuni tangga malah waspada, membungkuk di ujung ketika pintu ruang tamu terbuka. Pikirannya menduga yang tidak-tidak dan dia tak punya pistol.


Bernapas lega ketika dua orang masuk. Tuan James Chavez pegangi lengan istrinya separuh menggiring. Wajah Tuan Chavez agak kesal terlihat. Archilles tidak jadi turun. Malah duduk di tangga sebab situasi terpantau memanas.


"Anda sangat egois, Tuan!" Nyonya Salsa menegur Tuan Chavez.


"Jadi, apakah kamu bersamanya selama aku tidak ada?"


"Aku tidak ingin ribut denganmu karena Puteriku sedang sakit," balas Salsa menjaga nadanya tetap pelan. "Jangan sampai Arumi mendengarkan perdebatan kita."


"Jawab saja pertanyaanku!"


Archilles Lucca ingin kembali ke ruang tidur Arumi Chavez, sangat terkejut ketika Arumi tiba-tiba duduk di sebelahnya dan bersandar di bahunya. Mengucek mata pelan, membekap mulut untuk menguap.


"Nona? Bukankah Anda sudah tidur tadi?" bisik Archilles perhatikan gadis setengah mengantuk. M3nd3s4h karena sia-sia saja membuat si gadis tertidur. Namun, berganti mudah terpesona.


"Kemana kamu akan pergi? Merayap pelan agar aku tak bangun, Archilles Lucca? Aku tidak akan merayumu, ya Tuhan. Ibuku akan punya alasan pisahkan kita kalau sampai kita kelewatan." Arumi balas berbisik sambil bersungut. "Aku ingin buktikan pada Ibuku bahwa kamu dan aku sanggup menjaga diri. Kita baik-baik saja saat bersama."


Archilles Lucca tersenyum. Menggeser helaian rambut, menaruh di belakang kuping Arumi. Tangannya ditangkap Arumi jadikan penghangat pipi.


"Aku sangat mengantuk, Nona." Archilles berbohong. Sebenarnya ia ingin pergi keluar mansion dan lanjutkan tugasnya. Daftar berikut. Ada seorang petinggi di kepolisian. Tiap menatap gadisnya yang tidak lagi ceria, dendam kesumat timbul di hatinya. Menyaksikan kekasihnya diperlakukan secara keji, Archilles bersumpah akan mencabut kepala dari tenggorokan tiap pihak yang terlibat.


"Begitukah? Maafkan aku menyangka kamu akan kabur!"


"Tidak, Nona. Aku tak akan kabur darimu kecuali Anda mengusirku pergi." Menangkup tangan Arumi, genggam erat-erat.


"Itu tidak akan terjadi. Kamu bisa tidur di sebelah kamar kakakku, Archilles. Kamu tahu, Ibuku berencana mengadopsi seorang bayi laki-laki untuk jadi saudaraku! Kamar itu di persiapkan untuknya. Tetapi, itu cuma rencana dari sepuluh tahun lalu. Tidak terealisasi dan tak dibicarakan lagi tetapi kamarnya tetap ada. Atau ada banyak lainnya di lantai ini berdekatan denganku, terserah mana saja yang kamu suka."


Karena bicara berbisik-bisik, tak sadari mereka nyaris tanpa celah. Bahasa tindakan Arumi Chavez ketika mata bergerak-gerak pindai wajah Archilles mengandung semacam magnet. Archilles perlu mencambuk akalnya agar tidak merespon. Namun, serius, ia temukan kendala. Mata-mata menantikannya. Ia membungkuk sedikit mengambang di atas wajah Arumi Chavez. Kini, punc4k hidung mereka bersentuhan. Selangkah lagi akan sampai.


"Mengapa peduli?"


Keduanya sama-sama terkejut mendengar suara gusar Nyonya Salsa keras. Sama-sama menjauh ke sisi berlawanan. Berpaling ke sembarang arah. Wajah Arumi merona merah. Kembali bertemu.


Arumi membentuk pertanyaan, "Ada apa?" dengan bibirnya tanpa bersuara. Basahi beberapa waktu berselang menutupi kegugupan. Hanya semakin menarik saja.


Archilles menggeleng. "Aku tidak tahu, Nona! Mari kita pergi!" ajak Archilles pegangi tangan Arumi.


"Jangan!" tahan Arumi. "Mari tetap di sini." Sekalipun berduaan sepanjang waktu dengan Archilles adalah sesuatu paling diimpikan, Arumi Chavez hendak tahu apa yang sedang terjadi pada kedua orang tuanya. "Aku pikir, hanya kita yang bisa membantu orang tuaku kini."


Tangan keduanya bertautan.


"Anda lakukan apapun yang Anda mau. Tidak masalah bagiku. Mengapa ingin tahu urusanku, Tuan Chavez? Mengapa penasaran dengan siapa aku bersama? Bukankah kamu keterlaluan? Lagipula, Kita akan segera berpisah. Bukankah tadinya tidak sabaran ingin berlari pada pacarmu dan bersamanya? Pergilah aku sungguh tidak keberatan."


"Aku peduli setelah permohonan padaku untuk tinggal sampai pernikahan Arumi selesai!"


"Aku yakin alasanmu barusan tercipta."


Keduanya saling menatap.


"Baiklah! Lupakan, Tuan Chavez. Aku berubah pikiran. Mari bercerai sekarang! Tunggu di sini, aku akan mengambil berkas perceraian kita. Pergilah kemanapun sesukamu dan biarkan aku juga Arumi jalani hari seperti telah lalu, tanpamu!"


Salsa berbalik setelah bicara tanpa jeda.


"Mom, ada apa ini?"


Para orang tua terperanjat. Terdiam di tempat. Mengangkat wajah.


"Daddy?" tegur Arumi lagi kini pada ayahnya.


"Arumi ..., kamu belum tidur?" tanya Salsa mengatur ekspresi wajah kembali normal. Begitu cepat. Sayang sekali, Arumi telah menangkap kegaduhan.


"Aku baru saja pejamkan mata. Angin lalu beritahu aku orang tuaku bertengkar."


"Arumi, kamu salah paham." James Chavez mengekor di belakang Salsa. "Aku dan Salsa hanya berselisih pendapat."


"Daddy, aku dengar semuanya. Aku perlu katakan ini padamu, Daddy. Meskipun ibuku tanpa perhatian darimu dan kekurangan kasih sayang, Ibuku tak pernah bersama seorang pria."


"Arumi?!" Salsa menatap puterinya tidak setuju.


"Aku di pihak ibuku dalam hal ini. Cukup dekat untuk memantau Ibuku. Tolong berhenti menuduh tidak-tidak. Seandainya Ibuku bersama seseorang, aku, orang pertama yang tahu."


"Maafkan aku!" balas James Chavez. "Aku mungkin cemburui Tuan Vincenti karena begitu mengenalmu dan Ibumu."


Arumi Chavez sedikit mengerut. "Tuan Vincenti?"


Apakah Ibunya bertemu Tuan Vincenti dan ketahuan ayahnya? Okay, apakah ini kisah segitiga sama sisi atau apa? Ayah Young Vincenti bersama Ibunya dan Ayahnya bersama ibu Ethan Sanchez.


No!


Tak boleh terjadi.


Oh, jangan sampai!


"Ya."


"Tuan Laurent Vincenti, seseorang yang dekat dengan kami, Dad. Anda tak boleh berlebihan padanya. Aku dan Young Vincenti juga berteman baik."


Oh apa ini? keluh Arumi dalam hati.


"Kami baik-baik saja, Arumi. Maaf soal tadi."


"Anda berdua akan bersama kembali dan berhenti berpikir untuk mencari cinta baru. Apakah sungguhan memulai menjalin hubungan lain di usia segini? Sedang Anda berdua hampir setengah abad? Betapa membuang-buang waktu dan menguras energi. Apakah ada manusia sempurna? Pasangan sempurna? Alih-alih bercerai, bukankah ada bagus kalau Anda berdua menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing dan saling memperbaiki?"


Ada untungnya juga Arumi jadi artis. Ia tahu banyak problematika dari narasi naskah drama. Luar biasa ia baru saja gunakan dialog dari salah satu scene drama untuk nasihati kedua orang tuanya.


"Akan kami pertimbangkan sepanjang malam. Kami akan pergi tidur! Kamu juga, Arumi. Sampai nanti besok pagi, Sayang."


Sementara James Chavez bicara Arumi melirik Ibunya ragukan setiap kata terucap dari ayahnya.


"Oh, apakah Daddy akan sarapan bersama kami besok?" tanya Arumi Chavez agak bersemangat. Arumi akan mencegah sekuat tenaga ayahnya bersama Nyonya Andreia.


"Ya, Sayang. Aku akan tinggal di sini menjelang hari-hari pernikahan Puteriku."


Arumi Chavez tak bisa acuhkan raut sinis ibunya seakan-akan Salsabila baru saja mendengar bualan terbaik di dunia. Padahal tadi, Ayahnya minta maaf karena sibuk dengan pekerjaan selama seminggu ke depan. Dan cuma mampir sesekali. Luar biasa, Tuan Chavez berubah pikiran dalam beberapa jam.


"Baiklah, selamat malam, Mommy and Daddy," lambai Arumi.


"Ya, semoga mimpi indah, Sayang." James Chavez kembali lingkari tangan pada lengan Salsa yang ingin menolak, diurung karena raut Arumi telah bersinar sedikit.


Keduanya menuju ruang tidur tanpa suara.


"Anda bisa tidur di ruangan milik Anda sendiri, Tuan Chavez."


Mereka berhenti di depan ruang tidur Salsa. Dulunya kamar mereka di lantai dua paling pojok di mana mengarah langsung ke beranda samping. Salsa pindah dari sana dan tak pernah pergi bahkan lewati kamar tidur itu semenjak James Chavez meninggalkannya.


"Aku tak lihat ada ruang tidur dipersiapkan untukku," balas James menatap Salsa.


"Jangan mengada-ada. Aku akan tunjukan padamu!"


"Mengapa dengan tempatmu?" tanya James Chavez lagi. "Apakah ranjangmu bukan tipe double king, Nyonya?"


Oh, Ya Tuhan.


"Dengar," tegur Salsa hentakan tangannya kasar, lepaskan diri. "Jangan berpikir untuk masuk ke kamarku dan inginkan sesuatu yang lain?"


"Begitukah?" tanya James Chavez menyipit. "Jadi, kamu lebih nyaman habiskan malammu dengan temanmu tadi?"


"Dengan siapa aku bermalam bukan urusanmu lagi!" sahut Salsa meledak. "Sama halnya denganmu, Tuan."


James Chavez meraih Salsa kembali.


"Apakah orang tuaku akan terus beradu mulut sampai fajar menyingsing?" Suara Arumi di ujung bawah tangga tidak hanya mengejutkan, sementara waktu hentikan perang. Keduanya bertukar pandang. Gadis mereka seakan tak percaya segalanya berlangsung baik, menyusul keduanya walau hanya di ujung dasar tangga.


"Apa Arumi perlu tahu Ibunya pergi ke bar malam-malam untuk berkencan? Bahkan digoda pria muda?" ancam James Chavez pelan.


"Arumi tak akan keberatan setelah ayahnya menghilang puluhan tahun, tiba-tiba kembali hanya untuk minta cerai karena ingin bersama seorang wanita yang adalah ibu dari mantan pacar puterinya. Apa pacarmu tak cerita, apa yang dilakukannya pada Puterimu? Kamu perlu tahu, kamu mungkin tak akan nekat."


Keduanya saling menjegal.


"Holla?" panggil Arumi lagi.


James Chavez mengambil inisiatif membuka pintu ruang tidur.


"Oh, tidak perlu, Sayang!"


"Anda berdua ciptakan situasi sangat tidak nyaman bagi pacarku, Dad! Bukan contoh yang bagus berdebat di depan anak-anak. Apakah aku temani Anda berdua tidur malam ini?"


"Tidak, Sayang! Kami perlu habiskan waktu bersama bertukar pikiran tentangmu," sahut James Chavez meringis.


"Ya, begitu bagus Daddy. Jangan cuma tentangku saja. Ibuku berencana mengadopsi bayi laki-laki agar bisa jadi saudaraku. Aku pikir sekarang akan lebih mudah. Ketimbang Young Vincenti atau Ethan Sanchez menjadi saudara adopsiku, bagusan aku punya saudara seibu-seayah. Lagipula, sangat berbahaya bersaudara tiri dengan kedua orang pria yang menyukaiku."


Archilles Lucca tak tahan tertawa di belakang Arumi Chavez. Demi hormat ia harus menahan kelucuan.


"Bukankah kamu harus tidur juga, Arumi? Archilles Lucca?" tanya Salsa Diomanta tajam.


"Selamat tidur, Arumi!" James Chavez menggiring salsa ke dalam, lambaikan tangan pada Arumi. "Sampai ketemu besok pagi?"


Pintu tertutup.


Klik!


Terkunci.


Hening.


"Archilles, apakah menurutmu wanita tiga puluh lima tahun masih bisa hamil dan lahirkan bayi?" tanya Arumi menengok pada kekasihnya.


Archilles terkekeh kecil. " Nona, em, aku tidak tahu. Mungkin beresiko. Anda bisa konsultasi dengan dokter."


"Oh ya Tuhan, apakah mereka akan bertengkar di dalam? Apakah tidak sebaiknya aku ikut dan tidur di tengah-tengah mereka untuk pastikan mereka tidak berantem?"


"Tidak perlu, Nona! Orang tua beradu argumen untuk menguji pasangan mereka. Nah, sebaiknya Anda pergi tidur! Aku sangat mengantuk!" Archilles menguap lebar-lebar ke arah lain. Sia-sia saja tadi ia bekerja keras menidurkan Arumi Chavez.


Sewaktu mulutnya terkatup, Arumi Chavez berjinjit dan sampai pada wajahnya.


Cup! Cup!


Menyentuh pipi dan bibirnya dalam dua ketukan cepat sampai otak-nya mendadak berhenti berfungsi.


"Selamat malam, Archilles Lucca. Mimpi indah. Aku menyayangimu." Berbalik dan naiki tangga cepat tanpa menoleh.


"Selamat malam, Nona!"


Archilles termangu lama di tempat. Mengulum senyuman di bibir.


Sementara Salsa duduk di depan meja rias, risih terus ditatapi suaminya dari belakang tetapi menolak ditindas.


"Apakah kamu sedang bandingkan aku dengan wanita lainnya?" tuduh Salsa. "Kamu pasti menemui banyak dari kami selama sepuluh tahun."


"Apakah kamu akan menghapus riasan selama satu jam?" Balik bertanya.


"Arumi mungkin sudah ke kamarnya. Anda bisa pergi tidur sekarang, Tuan!"


"Apa yang Andreia lakukan pada Puteriku?" tanya James Chavez.


"Tanya saja pada pacarmu, Tuan!" Salsa lepaskan perhiasan. Bangkit berdiri. Gaun hitamnya hasilkan siluet indah menggoda. "Anda bisa tidur di sini. Aku akan ada di kamar Sunny. Jika butuh sesuatu pencet bel. Ayshe akan datang mengurusmu!"


Ponselnya berdering. Salsa nyalakan pengeras suara, menuangkan cairan pembersih ke kapas dan mengusap lehernya.


"Salsa, apakah kamu baik-baik saja?"


"Ya, Laurent."


"Baiklah. Sampai jumpa."


"Aku akan alihkan panggilan ke video lima menit lagi."


Salsa bangkit dari duduknya melangkah ke dalam ruang ganti.


James Chavez ikutan berdiri. "Aku pikir Arumi perlu melihat apa yang ibunya lakukan di bar."


Langkah Salsa berhenti di ambang kaca menuju walk in closet.


"Kamu akan memanipulasi Puterimu? Itu mengerikan. Betapa egoisnya." Salsa berubah marah.


James Chavez sampai pada Salsa. Lingkari pinggang dan merangkul kuat. Tanpa jawaban menyambar bibir seakan ia telah menahan sejak tadi. Semakin menjadi-jadi ketika tidak ada penolakan.


"Jangan berpikir untuk serakah, Tuan." Salsa mengeluh.


"Menginginkan istrimu sendiri bukan keserakahan."


Suaminya terbakar cemburu pada Laurent Vincenti yang bahkan barusan dekat dengan Salsa hanya untuk memanasi situasi.


"Sore tadi, kamu berencana campakan istrimu!"


Salsa mendorong suaminya sekuat tenaga. Tak dilepas begitu saja malah semakin kencang pelukan padanya. Kini tubuhnya diangkat dan berputar-putar hingga ia pening sendiri.


Berpikir untuk gunakan kekerasan. Apa yang ia punya? Pikir Salsa jengkel karena ia tak bisa menyakiti James Chavez meski hanya menggaruk wajahnya.


"Harusnya aku tidak terburu-buru."


Mereka berputar-putar malah akhirnya terlempar ke ranjang. Salsa berusaha bangun tetapi pinggangnya disandera. Begitupula kaki sengaja dibelit.


"Kita harus bicara!"


"Selama delapan jam kita bicara banyak! Apalagi sekarang?"


"Mari mencoba bersama selama tiga bulan ini, Salsa." James Chavez bicara di ujung keningnya. Bibir pria itu menempel di sana. Menariknya hingga tak ada celah. Wajahnya kemudian mengisi permukaan leher suaminya. Aroma familiar tercium ujung hidungnya. Parfum James Chavez tidak berubah. Suaminya mencintai aroma yang sama, bukankah harusnya sang suami adalah cerminan pribadi setia? "Jika masih tidak cocok, mari berpisah."


"Aku tidak ingin mencoba-coba denganmu lagi, Tuam Chavez! Sepuluh tahun sudah cukup. Aku telah temukan seseorang yang bisa kuandalkan. Dia tahu aku jahat, kaku, keras kepala, selalu ingin menang, ambisius dan punya banyak kelemahan. Lebih mudah bagiku bersamanya. Aku pikir mari kita berpisah!"


"Tidak. Mari bersama selama mungkin."


***