
Dua malam berikutnya di kediaman keluarga Martin Moon, Xavier Moon pulang dari kantor. Datangi mini bar. Tangan berhenti di minuman favoritnya. Ada erangan ketidakpuasan.
Pernikahan kacau, Casandra Moon dirundung duka mendalam karena kehilangan Narumi Vincenti. Kini tekanan darah Ibunya kembali dan dalam perawatan dokter di rumah terpisah berjarak dekat yang disekatkan oleh taman dan berhadapan dengan rumah yang ditempatinya sekarang.
Brelda Laura Moon terlihat di ruang tamu keluarga mereka. Kakaknya mondar-mandir. Jelas Brelda marah, kesal dan merana terlebih Narumi Vincenti masuk rumah sakit pagi ini. King Deon Ehren berusaha tenangkan kakak perempuannya.
Mungkin tidak tahan, Brelda keluar dari ruang tamu utama. Turuni susunan tangga marmer cream, lewati taman hijau dan datang padanya.
Xavier tenggak minuman, tuangkan lagi. Minum sampai tandas. Gerakan monoton berlangsung hingga semakin lama ia semakin kepanasan. Longgarkan dasi.
Berani sekali wanita asing racuni Narumi dan gantikan Narumi menikahinya. Kesalnya tak akan habis, bahkan meskipun ia tahu takdir sedang mainkan penanya, Xavier Moon sulit terima kenyataan pahit yang tak akan pernah ada dalam bayangannya sedikitpun. Ia kuatkan cengkeraman pada gelas. Ia akhirnya meraih botol dan minum langsung dari sana. Mending, seorang wanita yang tidur satu malam datang dan mengakui kehamilan dibanding ternyata kamu ditipu tepat di hari pernikahanmu.
Harga diri sebagai pria lekas tercoreng.
"Francesco Xavier Moon, temui Casandra dan lakukan sesuatu!" Brelda Laura berdiri di pintu masuk.
"Casandra bisa bertambah depresi lihat wajahku."
Hening sebelum Brelda sampaikan kabar.
"Tuan Lucca akan kemari sebelum makan malam."
Xavier berhenti minum. Ia menoleh. Wajahnya sinis.
"Mau apa brengsek itu kemari?"
"Wasiat Narumi Vincenti yang ditinggalkan pada pihak rumah sakit."
"Wasiat?"
"Tidak begitu jelas."
"Baiklah, kita lihat nanti. Brelda ..., temani Casandra! Hibur Casandra. Aku punya urusan yang terus tertunda." Xavier sapukan pandangan pada kakaknya.
"Istrimu terkurung di ruang tidurmu sejak kemarin dan belum makan."
"Dia bukan istriku. Hanya sampah menjijikan, Brelda. Sungguh, aku ingin muntah tiap ingat dia menipu kita. Aromanya pengap seperti hama."
"Kalau begitu lepaskan dia. Jangan simpan j4I4n9 di rumah kita, Xavi." Brelda telah memaki.
Xavier Moon tertawa. "Semudah itu hidupnya? Bukankah dia sangat inginkan aku? Alasan dia racuni adiknya dan gantikan Narumi datang padaku?"
"Xavi ...."
"Brelda Laura Moon, aku bahkan belum memulai apapun. Nah, keluar sana. Apakah kita harus bersyukur Narumi akhirnya nikahi kekasihnya?"
"Narumi sekarat. Itu ..., telah hancurkan hatiku," ujar Brelda bergetar.
"Tujuh tahun Narumi bertahan, kurasa sekali ini dia akan berhasil lalui rintangan." Xavier lambaikan tangan hibur kakak perempuannya. "Jangan bermuram durja, mari pergi melihatnya nanti, Brelda."
"Aku tak tahan jika Narumi sampai lupakan aku!" Brelda tak tahan untuk tidak menangis.
"Narumi mungkin akan lupakan semua orang tetapi aku yakin dia akan mengingatmu."
"Apakah itu mungkin?" Brelda percaya saja pada adiknya walaupun ia tahu Xavier sedang bodohi dirinya.
"Ya, dan mungkin ingat padaku juga. Kami punya satu ciuman panas dan aku selalu bikin Narumi kesal. Pria sepertiku sulit dilupakan."
Brelda berdecak. "Kau memang tidak berguna! Tujuh tahun Narumi mondar mandir di depanmu, kau malah tertarik pada sesama pria."
"Berhenti marah! Tidak ada hubungan spesial antara aku dan pria lainnya. Kamu terus mengungkit masalah ini hingga stigma tentang aku suka pada pria bikin Narumi selalu berhasil mengolok aku."
"Tidak benar setidaknya luruskan. Dengan perilaku!"
"Mari hentikan khotbah-mu. Bisakah kamu lihat aku harus hadapi wanita tidak tahu malu di atas sana?"
"Usir saja dia pergi!"
"Itu terlalu ringan. Sudahlah! Urus Casandra sana. Panggil aku saat Tuan Lucca datang. Mari kita lihat apa maunya dariku?"
Xavier pergi ke tangga, naik ke lantai atas. Hela napas di ujung. Seorang pria depan pintu. Tegak macam patung.
"Berjaga saja di bawah!" angguk Xavier pada penjaga.
"Baiklah, Tuan."
Xavier masuk ke dalam sana. Wanita itu, duduk di sofa dalam ruangan, tercenung keluar jendela tak bisa terbuka karena terantai dari luar. Berdiri sewaktu Xavier masuk.
Xavier Moon hampiri Alana Chavez yang meremas kedua tangannya, mundur dua langkah hingga sampai di nakas lampu ruang tidur.
"Narumi di rumah sakit."
"Dia layak dapatkan segala penderitaan itu!" balas Alana cepat, gelisah tetapi cukup berani tanggapi.
Xavier berdecak kecil. "Harusnya kamu cemaskan nasibmu. Dan apa yang akan aku lakukan padamu."
Xavier mendekat. Ia lemparkan jas dan dasi ke sofa.
"Aku tak peduli. Selama Arumi Chavez tak dapatkan keinginannya. Aku tak peduli tentang diriku!"
"Baguslah. Jadi, aku juga tak perlu takaran untuk menghukum wanita sepertimu. Terlebih, jika Narumi Vincenti sampai mati." Xavier Moon berpaling, tatapan matanya penuh ancaman. "Maka, minum tehmu dan mendekam-lah di neraka."
"Ijinkan aku pergi ke pemakamannya juga."
Xavier Moon berubah sangat murka. Dalam dua langkah meraih tubuh Alana dan hempaskan hingga menabrak lampu ruang tidur. Benda jatuh ke lantai.
Tidak puas, Xavier bertekuk di sisi Alana yang meringis kesakitan. Ia meraih lengan Alana dan menarik wanita bangun. Sekejab saja Alana telah diseret keluar dari ruang tidur. Di tangga terbawah, dua penjaga bersiaga. Mereka menuju belakang hunian. Lewati sisi kolam pergi ke bangunan mirip gudang.
Pintu dibuka.
"Kemana kamu bawa aku?"
"Ke kuburanmu!" sahut Xavier mendorong Alana Chavez masuk ke dalam ruangan lembab dan pengap. Itu adalah ruang paling bawah yang dibangun untuk gudang kotor. Masih ada sekop dan beberapa perkakas di sana. Alana Chavez takut, ia berusaha kabur. Tetapi, Xavier dapatkan tubuh Alana dan sangat kasar lemparkan kembali ke dalam tempat itu hingga Alana terjerembab dan terjatuh.
Xavier mengambil sekop. Kini, Alana sadar bahwa Xavier tidak main-main. Alana mundur ketakutan.
"Alana Chavez, apakah aku dan keluargaku adalah lelucon untukmu?" tanya pria itu menggenggam sekop di tangannya. Urat-urat menyembul dari balik kulit. "Apa aku terlihat macam pemain sirkus di matamu?"
"Ayahku akan datang dan selamatkan aku darimu!"
"Oh ya?" Xavier tertawa. Dia bukan penjahat, Demi Tuhan. Alana adalah wanita paling bebal yang pernah ia temui.
Genggaman pada tangkai sekop semakin erat.
"Tuan James Chavez aku tebak sedang dapatkan ampunan maaf dari Narumi sekarang. Tunggu aku, Alana."
Xavier bawa benda di tangannya keluar. Pintu gudang ditendang sebelum digembok.
Pergi ke tanah kosong dia menggali tanah sekuat tenaga seperti orang gila. Sialan. Harusnya ia bersama Narumi hari ini. Mereka bisa saling serang dengan kata-kata tetapi mungkin berakhir dengan makan malam. Ia tahu, tak akan bisa buat Narumi tersenyum tetapi telah berjanji sungguh-sungguh akan mencoba.
"Aish ..., fnck!!!"
Matahari hampir tenggelam. Lubang seketika menganga di depannya. Dalam dan gelap. Ia kembali ke gudang. Alana ditarik keluar.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Alana ketakutan. Menggeleng dengan kaki-kaki sebagai pegangan.
"Bukankah kamu tak peduli?" Balik bertanya sarkas.
Mereka di sisi lubang.
"Narumi mungkin akan mati. Sebelumnya aku perlu lebih dulu mengirimmu ke neraka. Lambaikan tanganmu dari sana agar Narumi melihatmu."
"Ja ... ngan ber ... "
Bugg
Tubuh Alana ditolak tanpa basa basi ke dalam kuburan. Wanita itu menjerit keras dari dalam.
Xavier mengambil sekop dan mulai mencungkil tanah. Lemparkan ke dalam lubang. Di bawah sana Alana Chavez mungkin pingsan. Masa bodoh.
"Xavi?! Demi Tuhan, apa yang sedang kamu lakukan?"
Brelda Laura Moon berlari histeris.
"Sayangku, kita bukan penjahat. Demi Tuhan, maafkan aku karena tak bisa mencegah ini terjadi."
Brelda meraih pinggang Xavier dan menahan adiknya agar tidak terus ayunkan tangan mengeruk abu untuk tutupi lubang. Alana Chavez akan dikuburkan hidup-hidup.
"Wanita sialan ini bersalah. Bukankah harusnya berlutut dan mohon pengampunan padaku? Merangkak di kakiku? Dia sangat angkuh malah mengutuki Narumi. Aku sangat marah, aku ingin meledak dan mencekiknya. Ini lebih baik. Membusuklah di dalam sana."
"Xavier ..., kendalikan dirimu. Demi Tuhan, kau tak akan pernah habisi nyawa seseorang."
Keduanya berebutan sekop.
"Berdirilah di sisiku, Brelda. Wanita gila ini permalukan aku. Terlebih dia akan sakiti Narumi jika dibiarkan hidup."
"Bahkan kamu satu-satunya pria di muka bumi yang tak berani menginjak semut. Aku membencinya sangat, bukan begini caranya. Xavier aku mohon. Sadarkan dirimu."
"Brelda, menjauh dariku!"
"Xavier Moon! Lihat aku! Meskipun aku sering kesal padamu, aku menyayangimu. Tolong jangan buang kehormatan mu untuk wanita gila macam dia. Please!" Brelda mendekap paha Xavier karena Xavier berhasil dapatkan sekop.
"Menyingkir, Brelda!"
"Tidak, adikku sayang. Aku tak bisa biarkanmu hancurkan dirimu sendiri."
Xavier berhenti. Angin berhembus. Dedaunan kering terbang, melayang pelan lalu jatuh ke dalam lubang.
"Baiklah! Jangan ada yang berani keluarkan dia dari dalam sana selain perintah dariku."
"Ya, ya, Sayang. Tenangkan dirimu! Please, please."
"Tuan Archilles Lucca berkunjung."
Xavier mengatur napas. Lemparkan sekop.
"Jaga wanita ini, jangan sampai kabur dariku!" suruh Xavier pada sang penjaga.
"Baik, Tuan."
Xavier kibaskan tangan bersihkan dari debu. Ia berbalik dan pergi ke rumah.
Brelda Laura dalam helaan napas panjang telah mengeluh.
"Tolong turun ke bawah dan periksa. Pastikan Nyonya Alana tidak sampai mati. Ya Tuhan, apa yang Anda inginkan dari kami?"
"Baik, Nyonya Brelda."
Susul Xavier ke dalam rumah. Di sana ia bisa melihat perubahan watak signifikan adik laki-lakinya.
"Kamu dan wanita bodoh lainnya bersengkokol menipuku, Tuan Archilles Lucca. Aku tak bisa gunakan senjata cuma saja Anda segera tahu akibatnya apabila terjadi sesuatu yang buruk pada Narumi."
Xavier Moon menyapa Archilles Lucca, tanpa senyum dan ekspresi tidak ramah seakan ingin telan semua orang di sekitarnya.
"Kami tidak bekerja sama sedikitpun, tetapi harus aku akui jika bukan Alana, akulah yang akan gagalkan pernikahanmu."
"Anda ..., brengsek!" Xavier Moon lemparkan tatapan setajam silet. "Narumi kesakitan selama tujuh tahun karena cintai pria pecundang sepertimu. Harusnya kamu biarkan dia bahagia denganku."
Tak ada balasan. Archilles Lucca terlalu terpukul untuk pembelaan diri atau berdebat. Ia linglung semenjak Arumi dilarikan ke rumah sakit.
Istrinya tidak sadarkan diri dan Dokter Joseph Nafas semakin menguras setiap emosi dan energinya. Dokter Nafas perdengarkan rekaman perjanjian juga tulisan di mana, Narumi hanya ijinkan empat orang untuk bertemu dengannya. Tiga orang kesemuanya adalah keluarga Moon. Xavier, Brelda dan Casandra, terakhir adalah Jonas Jayden; yang seketika buat Itzik Damian terdiam. Narumi ingin Itzik Damian tersakiti dan terluka. Bahwa dibanding Itzik, Narumi lebih inginkan pria kutilan itu.
Rumah sakit menyewa empat pria dari pasukan khusus sesuai permintaan Arumi yang disumpah di atas Kitab Suci akan menjaga dan melindunginya dari keluarga dan kerabatnya.
Dokter Joseph Nafas telah berjanji dengan taruhan nyawa turuti wasiat Narumi. Meskipun seluruh kerabat jadi saksi bahwa pernikahan dengan Xavier Moon tak pernah terjadi dan Archilles Lucca adalah suami yang sah, Dokter Joseph Nafas tetap pada pendirian bahwa segala hal akan berjalan sesuai kesepakatan dengan pasien. Juga acuhkan fakta penting bahwa wasiat itu ditulis sebelum pernikahan.
Dokter Joseph Nafas hanya percaya pada ucapan-ucapan Arumi bahwa kerabat dan keluarganya senang pada penderitaannya.
"Tidak ada yang penting untuk diingat." Ia dengarkan istrinya berkata demikian. Dan Archilles akan jalani hukuman Arumi untuknya. Ia bisa ikuti kemana istrinya ingin mereka berakhir.
Bukan ia seorang diri yang terpukul. Adalah Laurent Vincenti harus hadapi kenyataan sedih. Merasa paling gagal dari semua relasi. Narumi menyimpan sakit dan derita, disembunyikan darinya. Laurent akan pahami Narumi berpikir ayahnya akan berbagi segala hal dengan ibunya. Lantas tidak bisa redamkan kesedihan pria itu.
Ayah yang marah dan hanya ingin melihat puterinya segera terlibat cekcok. Juga kirimkan ia dalam pertarungan membabi buta dengan penjaga di pintu hingga pihak rumah sakit kerahkan puluhan petugas kepolisian dan keamanan untuk meringkus Laurent Vincenti.
"Jelaskan apa tujuanmu kemari? Ingin mengolok aku?"
Xavier Moon mencemooh.
"Tuan Xavier Moon ...." Archilles sodorkan surat perjanjian Arumi dan dokter Joseph Nafas.
"Jadi, Anda ingin aku ke rumah sakit dan jelaskan pada pihak rumah sakit? Aku yakin pihak dalam perjanjian telah menganggap keluarga dan kerabatnya pembohong."
"Kami tidak keberatan soal itu. Aku dan kerabatku. Maafkan segala hal tidak menyenangkan yang menimpamu."
"Lalu?"
"Anda dan Nyonya Brelda ...." Tertahan. Napas dikumpulkan. "Bisa bersama istriku untuk menguatkannya," kata Archilles Lucca dirundung duka cita mendalam. "Aku akan mengerti keputusannya dan tak akan paksakan kehendak atau keinginanku. Tolong datang ke rumah sakit dan temani dia."
Xavier Moon dan Brelda saling pandang.
"Mari kita pergi, Xavi!" ajak Brelda. "Aku ambil mantelku."
"Tidak hanya itu," cegah Archilles Lucca sebelum Brelda benar-benar keluar dari ruangan itu. Archilles hembuskan napas berat. "Istriku butuh darah dari Alana."
"Apa yang terjadi?" Brelda mulai panik.
"Darah saudaranya yang lain tidak cocok. Tuan James Chavez, Alana dan Arumi punya tipe darah yang sama."
Xavier Moon menggeram. Ia menutup wajah dengan telapak tangan. Kemudian segera bangkit berdiri. "Tidak masalah." Menoleh pada Brelda. "Bawa wanita itu!"
Archilles Lucca tak akan heran pada kondisi Alana yang dipenuhi abu dan sangat berantakan. Jalannya pincang juga pucat pasi. Ada banyak goresan di wajah. Memar di pergelangan tangan.
"Harusnya yang kamu nikahi, Tuan Archilles Lucca bukan aku. Karena Narumi sangat mencintai pria ini jika tujuanmu ingin buat Narumi terluka." Xavier menatap Alana muak. "Kalian cukup serasi bersama. Orang-orang yang menyakiti Narumi."
Alana Chavez amati nanar pada Archilles Lucca.
"Apakah kamu baru sadari kebodohan-mu sekarang?" tanya Xavier Moon. "Bersihkan dirimu dalam 10 menit. Jangan buat aku pergi ke atas untuk menyeretmu kemari."
Seorang asisten rumah tangga dipanggil Brelda lekas menggiring Alana ke ruang tidur.
Mereka berada di rumah sakit tiga puluh menit kemudian. Semua orang heningkan cipta di depan ruangan eksklusif tidak terkecuali James Chavez dan Nyonya Andreia Chavez.
Tuan Laurent Vincenti tak terlihat bersama istrinya. Mungkin di suatu tempat. Ada banyak keluarga di sana yang ingin tahu kondisi terbaru Arumi. Mereka mengatur napas ketika melihat Xavier Moon dan Brelda Laura tergesa-gesa datang.
Xavier Moon mendorong Alana kasar pada dua perawat.
"Ambil dari tubuhnya apa saja yang dibutuhkan Narumi. Darah, jantung, hati atau matanya. Patahkan tangannya jika Narumi butuh tulang. Ambil sum sumnya juga."
Alana Chavez tak mampu bicara.
Xavier Moon berdecak. "Adukan pada ayahmu! Bukankah orang tuamu di sini?"
Alana Chavez menahan tangis setelah Tuan James Chavez berpaling darinya.
"Kau sialan!"
"Bukankah itu lebih bagus dibanding aku menguburkanmu hidup-hidup dan kamu jadi mayat tidak berguna?"
"Semoga darahku sebabkan dia mati!" balas Alana.
Brelda Laura tak segan. Ia menampar Alana keras hingga pipi Alana memerah.
"Setidaknya berhenti buat orang lain kesal!" umpat Brelda makan hati.
"Nyonya ..., tolong jangan lakukan lagi. Ayahnya telah menamparnya berulang kali. Aku mohon."
Nyonya Andreia separuh memelas.
"Kalau begitu, nasihati puterimu untuk tidak berulah, Nyonya Chavez!" kata Brelda gusar.
"Tolong selamatkan Arumi, Alana," pinta Aruhi yang bengkak semua matanya juga puncak hidung memerah karena mungkin terlalu banyak menangis.
Alana tersenyum mengejek. "Kamu tidak dengar? Aku baru saja sumpahi dia lekas mati."
"Tidak! Aku yakin kamu tidak jahat. Keadaanmu mungkin buatmu marah." Aruhi berbicara halus dan pelan.
Alana tertawa kecil. "Naif sekali."
"Baiklah, mari kita menghitung dosa kalau maumu begitu." Sorot mata Aruhi berubah jadi sesuatu yang menakutkan. "Kamu akan sumbangkan darahmu karena utang ayahmu sebabkan ibuku tinggalkan aku dan ayahku. Karena ayahmu, ayahku meninggal dan aku menderita."
"Ibumu menggoda ayahku!"
"Pria yang mencintai keluarganya tak akan mudah jatuh dalam godaan sehebat apapun cobaan itu!" hardik Aruhi hingga Alana terdiam.
"Marah-mu salah alamat dan kelewatan, Alana. Kamu bukan satu-satunya korban. Aku dan Arumi mengambil bagian yang sama sepertimu. Tetapi alih-alih sebabkan penderitaan lain dan menyimpan dendam akut, kami memilih berbagi kasih sayang. Lihatlah dirimu, wanita dewasa tanpa bijaksana! Hanya sangat jahat!"
"Aku tak peduli. Kamu tidak tahu rasanya jadi aku, Nyonya Durante. Ibuku menderita karena wanita lain yang menggoda ayahku terlebih lahirkan anak menjijikan itu. Ayahku pergi dan merawat bayi baru lahirnya. Ibuku kesakitan. Tak kuat hidup. Berencana membunuhku lalu bunuh diri karena takut aku sendirian di dunia dan dibesarkan wanita lain. Ibuku racuni aku hingga aku tak sadarkan diri dan minum racunnya sendiri tetapi ternyata aku tidak mati, tidak dengannya. Dia mati saat aku bangun. Apakah jika jadi aku, kamu akan mudah maafkan masa lalu-mu?" Alana Chavez ingin menjerit, ia hanya kehilangan tenaga. Perkataannya hanya seperti tumpahan omelan.
Aruhi terdiam beberapa saat. "Arumi tidak minta dilahirkan dari rahim Ibuku, Alana. Kamu berlebihan sakiti adikmu."
"Dia hanya puteri seorang j4I4n9! Bukan adikku!" bantah Alana Chavez menolak keras. "Ibu kalian hanya j4I4n9 sialan!" ulang Alana mengeja.
"Kamu terlalu dikuasai kebencian, Alana. Kamu akan menderita selama kamu terus merawat itu!"
"Bukan urusanmu."
"Urusanku jika sasaranmu adalah adik perempuanku," sahut Aruhi. Wajahnya memerah. "Kamu penyebab luka di kepala Arumi. Kamu berutang kini setelah tujuh tahun. Jangan lupa kamu menganiaya dan lagi menjebaknya di tempat hiburan. Kamu telah lampiaskan padanya. Masuk ke dalam dan bayar semuanya!"
Xavier Moon tidak sabaran pada keras keplala Alana. Ia mencengkeram lengan Alana dan menyeret wanita itu pergi. Sedang Brelda Laura Moon tak sabaran ingin melihat Arumi.
Archilles Lucca duduk di bangku kehilangan pikiran, rasakan sakitnya hati seorang gadis belia tujuh tahun lalu. Perih menyebar kemana-mana terlebih ketika Arumi mengatakan ia tak punya siapapun dan adalah wali untuk dirinya sendiri.
"Apakah itu berarti aku bisa lupakan orang-orang terdekatku juga?" Suara istrinya terdengar berisi harapan seluas samudera.
"Sayangnya begitu."
"Ini bagus untukku, Dokter Nafas."
Archilles Lucca patah hati lagi dan lagi. Pundaknya ditepuk pelan. Elgio Durante di sana berikan semangat.
Diketahui bahwa setelah terapi laser, besar kemungkinan Arumi akan lupakan segala hal termasuk emosi pada masa lalunya. Ia ingat percakapan semalam ketika Arumi berkata hukuman untuk Archilles akan sangat berat.
Pria itu merana terlebih Brelda Laura keluar dari sana, meratap dalam pelukan Xavier Moon.
"Kau memang tidak berguna Xavi. Sudah kubilang dekati Narumi, dapatkan hatinya dan buat dia bahagia. Kau tak akan pernah temukan gadis seistimewa Narumi Vincenti. Buat dia lupakan masa lalunya. Kita bisa menjaganya. Lihat sekarang! Apa ini? Aku tak bisa mengenalinya tanpa rambutnya yang indah. Aku tak bisa menangis di depannya meskipun dia lelap." Brelda memukuli dada adiknya. Menangis dengan keras.
"Brelda, semuanya akan baik-baik saja. Dokter akan lakukan yang terbaik. Kita akan segera melihatnya lagi."
"Ya, aku ingin percaya padamu! Narumi akan lupakan aku! Tak bisa kuterima."
"Sudah kubilang, tidak akan terjadi."
Brelda berhenti tepat di depan Archilles Lucca. Sangat marah saat menatap Archilles. "Brelda ..., semua orang tahu tentangnya kecuali aku! Mereka hanya menganggapku gadis kecil yang bodoh. Aku telah menunggunya 7 tahun. Aku akan menunggunya lagi dalam 30 hari."
Brelda Laura mengusap air mata setelah mengulang perkataan Narumi. "Sayangku yang malang. Kamu hanya menunggu. Semoga semua orang yang menyakitimu berbahagia."
King Deon Ehren membawa istrinya. Xavier Moon menghela napas panjang. Keluarkan ponsel dan perlihatkan video yang segera luluh lantakkan hati Archilles Lucca.
"Mari menghadap dokter, Tuan Archilles Lucca. Narumi hanya menginginkanmu bahkan dalam tidurnya. Aku harap cinta Anda berdua membawa keajaiban."
***