
Dua puluh hari berlalu sudah setelah ia tinggalkan Archilles Lucca di Càrvado. Sebelum pergi ia yakinkan Uncle Maurizio untuk jauhkan Natalie dan Agathias dari Archilles Lucca. Demi keamanan pria itu. Hanya itu saja yang bisa ia lakukan.
Namun, mungkin tak ada gunanya. Agathias adalah kepercayaan Uncle Maurizio. Agathias mungkin punya alasannya sendiri untuk lindungi Archilles. Arumi mencapai titik di mana ia jenuh pada konfrontasi tak berkesudahan.
Mata terpejam. Hati terkunci rapat-rapat. Ia beku di kedalaman dan ini mematikan karena tersebar ke seluruh tubuh. Dingin sangat mencekam hingga kadang ia suka menggigil meski cuaca panas.
Arumi telah abaikan panggilan dokter. Bosan pada kehidupannya yang tanpa keseimbangan dan tak begitu peduli jika ia akan mati besok. Ia hanya akan ikuti arus.
Itzik Damian putuskan pergi. Pria itu menghilang setelah pertengkaran besar mereka.
"Mengapa? Mengapa? Kamu lakukan ini? Aku percaya padamu!" Arumi menjerit seperti orang gila pada Itzik Damian. Ia tak bisa lakukan itu di Càrvado tanpa buat Agathias dan Natalie bersuka cita dan berhura-hura atasnya. Terlebih seperti pungut ludah yang telah dibuangnya, ia harusnya membunuh Itzik Damian di depan semua orang. Apakah ia sanggup?
"Aku akan mati, Narumi. Aurora sengaja diciptakan karena aku takut kamu sendirian dan bersedih."
"Kamu telah hancurkan segalanya. Pergilah ke neraka, Itzik!" Arumi menangis di lantai. Lampu ruang itu berayun-ayun. Ia kehilangan kepercayaan akhirnya pada semua orang.
"Narumi, Demi Tuhan, aku tidak bermaksud ciptakan kesedihan dan lukai dirimu. Jika aku ingin hancurkanmu, aku tak akan biarkan kamu bersama Lucca. Aku akan membawamu jauh darinya dan akan jahatimu. Diam-diam, tanpa sepengetahuanmu aku cukup beritahu Lucca bahwa kita tidur bersama sampai punya bayi tanpa perlu menunggu Agathias temukan Aurora. Aku terlalu takut kamu kesepian, Narumi. Jiwaku tidak tenang pikirkan dirimu. Pahami bahwa cinta berlebihan padamu buatku cemas sepanjang hari dan aku letakan harapanku pada Aurora menjadi satu-satunya sumber penghiburanmu di masa mendatang."
"Kamu gila, Itzik. Kamu akan mati dan sebabkan kesedihan lain pada Aurora. Ya Tuhan, Itzik kau tidak waras. Bagaimana jika Aurora miliki kelainan pigmen sepertimu? Kamu akan menyiksanya, Itzik!"
"Tidak. Aurora hanya berwarna putih. Dia bersih dan tak punya kelainan apapun atau membawa penyakit menurun dariku atau darimu."
Itzik Damian kemudian biarkan Arumi lampiaskan emosi. Arumi pukuli Itzik dengan tongkat bergerigi hingga pria itu berdarah-darah dan tercabik-cabik. Tak ada perlawanan sedikitpun.
"Narumi, percayalah padaku!"
"Lalu, cepat atau lambat hubungan kami akan retak karena kemunculan Aurora."
"Sudah kubilang, aku tak akan pernah lumpuhkan kebahagiaanmu! Semua ini di luar perkiraanku. Aku berpikir, aku dan Aurora temukan seorang gadis yang bersiap kehilangan aku sesewaktu. Kami berkomunikasi sepanjang waktu dan dia menyukai Aurora."
"Aku tak mengerti dirimu, Itzik Damian. Tolong menyingkir dari hidupku! Kamu adalah pengkhianat terbaik dalam hidupku, Itzik Damian. Insting anjingku benar bahwa kamu akan jatuhkan malapetaka padaku suatu waktu."
Ia meraih pistol monokrom dari tubuh Itzik dan arahkan pada pria itu. Tangannya gemetar. Ia kehilangan pikiran.
Jika, Young Vincenti tidak datang, Arumi mungkin telah menembak mati Itzik.
"Aku pergi, Narumi Vincenti. Jonas Jayden dan beberapa masalah telah ku tangani."
Itzik Damian kemudian benar-benar tak terlihat lagi.
"Kamu yakin akan menolak tawaran kerja sama dengan Noah Miller?"
"Ya."
"Kamu putus dengan sepupu dari Càrvado-mu itu?"
Brelda Laura Moon duduk di depannya.
"Dari mana kamu tahu, B?"
"Tujuh tahun dengan cincin dan kalungmu. Setelah kamu kembali dari San Pedro aku tak pernah melihat mereka lagi?!" Nada Brelda turut prihatin.
"Entahlah."
"Ijinkan Tuan Martin dan Nyonya Casandra Moon datang melamarmu untuk putera semata wayangnya." Brelda Laura berbinar-binar. Seakan baru saja temukan rancangan terbaik untuk musim panas. "Pria yang lepaskanmu adalah pria terbodoh yang pernah ada. Gadis ini bersinar macam malaikat. Aku sadari sejak awal tetapi yang aku punya hanyalah adik laki-laki berandalan dan selalu bikin kepalaku pening. Kamu mungkin pawangnya. Please, pertimbangkan tawaranku. Hentikan serangan pada Moon Company karena kelakukan Xavier. Aku tak ingin Martin dan Casandra cepat mati."
"Setelah akhir pekan, jika dia tidak datang. Kamu bisa mengatur kencan romantis-ku dengan Xavier, B." Arumi menggeser file di tablet.
"Oh My God. Taklukan liarnya Xavier Seth Moon. Aku yakin dia akan menjagamu nanti! Aku sendiri akan pastikan."
Arumi tak menyahut, hempaskan napas kasar. Pengecekan semua kontrak kerja. Selesaikan yang harus ia tanggung jawabkan dan menolak pergi semua tawaran kerja sama yang masuk. Termasuk dari Noah Miller. Arumi kirimkan sebagian uangnya untuk sebuah pulau di sudut bumi yang mengurusi orang-orang berpenyakit kusta. Mereka butuh dana untuk membangun bangsal tambahan. Arumi telah minta dibuatkan sebuah tempat tinggal di pesisir pantai. Dan tanpa banyak keribetan, permintaannya dituruti.
Di ujung tanduk, ia sebenarnya tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kenyataan pahit lain, pria itu mungkin percaya pada pengawalnya bahwa ia tidur dengan Itzik dan lahirkan Aurora membuat Arumi tak berdaya.
Arumi bersiap jelaskan tetapi Archilles Lucca sangat terpukul, alami kejang saraf tepi hebat hingga Arumi ketakutan. Archilles kehilangan insting, intuisi dan segalanya.
Arumi kemudian menulis surat panjang berisi keterangan. Itzik Damian mencuri sel telurnya dari laboratorium yang ia siapkan suatu waktu untuk berjaga-jaga pada banyak kemungkinan termasuk jika ia bersama Archilles dan ternyata mereka tidak bisa hidup normal layaknya pasangan suami istri. Itzik secara sembrono gabungkan dengan sel 5p3rm4 Itzik sendiri dan terciptalah Aurora dari rahim seorang wanita pengganti. Itzik melakukannya karena cemas akan mati dan Aurora dipersiapkan untuk gantikan Itzik. Selebihnya Itzik tak berniat pisahkan mereka bahkan mendukung mereka bersama.
Surat serta amplop berisi kalung dan cincin pemberian pria itu ditaruh di nakas terdekat. Ia akan menunggu pria itu datang dalam 30 hari untuk pakaikan kembali kalung itu di lehernya.
Jika pria itu tidak muncul, Arumi menyerah karena terlalu banyak cobaan dan merasa mereka memang tidak berjodoh. Ia tak akan paksakan diri lagi dan hanya doakan kesembuhan juga kebahagiaan Archilles Lucca.
Arumi kembali pulang ke Mansion Diomanta. Ia tak bisa tinggal di sisi Archilles tanpa buat pria itu tambah menderita. Putuskan pergi.
Hampir jam makan siang, ia sibuk bekerja. Lalu, Young Vincenti mengirim pesan suara.
"Narumi, Aizen Ryota Vincenti pukuli temannya hingga gigi depan temannya copot dua. Bisakah mampir ke sekolah Aizen? Ayah dan Ibu belum merespon panggilanku. Sedang aku akan masuk ke ruang sidang."
Arumi Chavez meraih mantel dan buru-buru keluar dari ruang kerjanya. Masuk ke lift. Baru saja pintu lift tertutup, Xavier ikut masuk ke dalam.
"Brelda sedang keluar!" kata Arumi.
"Aku mencarimu bukan Brelda!
"Katakan ada apa?"
Berdiri mulanya berjauhan dari Arumi, awasi Arumi dengan mata abu-abu. Lalu, datangi Arumi. Berdiri di hadapan gadis itu. Aroma after save mentol Xavier sampai di hidung Arumi begitu pula parfum pria itu.
"Narumi Vincenti ..., apakah kamu sangat putus asa karena takut tetap p3r4w4n sampai ke dalam kuburan? Kamu minta kakakku mengatur kencan kita?"
Arumi menarik napas kuat. Brelda memang kelewat antusias. Xavier muncul hanya tiga jam setelah obrolan mereka. "Kamu mungkin sedang bicara dengan penyelamatmu, Xavier Seth Moon."
"Lihat gadis sombong ini!"
"Berita tentangmu, "si tampan milik si ganteng", tersebar sampai ke pelosok negeri dan bahkan bergema hampir ke setiap selokan di kota ini, ke sarang-sarang semut juga kemah para belalang." Arumi tak alihkan tatapan sama sekali. Hanya lurus ke depan.
"Orang bodoh percaya hoax."
"Ya, satu negeri memang bodoh," ejek Arumi.
"Orang-orang tertentu ingin jatuhkan perusahaan keluargaku! Aku pria normal dan menyukai wanita. Sayangnya, kamu sama sekali bukan tipeku, Narumi!"
"Jelaskan pada media tentang fotomu di pantai bersama seorang pria dan trans. Brelda cemaskan-mu hingga terus merengek padaku untuk selamatkanmu."
Pintu lift terbuka. Arumi bergeser ke kiri. Melangkah pergi. Ia berbalik seakan lupa sesuatu pada pria yang masih di posisi sama.
"Brelda terlalu bersemangat, Xavier. Aku akan kencan denganmu hanya jika kekasihku tidak datang. Pria tanpa arah sepertimu bukan tipe ku juga walaupun ketampananmu bisa keringkan sungai Nil."
Xavier Seth Moon berdecak. "Berani sekali gadis ini. Kamu besar kepala karena Brelda sangat menyayangimu."
Arumi tak indahkan Xavier Moon. Ia pergi ke parkiran. Memakai kaca mata gelap dan masuk ke mobil.
Sesampainya di sekolahan Aizen, Arumi lekas pergi ke ruang kepala sekolah.
"Narumi Vincenti!!!" seru Aizen berlari padanya.
"Aizen? Apa yang terjadi? Sudah kubilang jangan berantem di sekolah. Kamu datang kemari untuk menambah ilmu bukan mencari musuh."
"Kamu hindari aku dan Hana. Tak ingin bertemu dengan kami padahal kami tak akan menyinggung pernikahanmu yang dibatalkan. Kebetulan bagus bahwa bocah durhaka ini terus saja mengaku sebagai adikmu. Aku sungguhan muak padanya. Aku ikuti saran Juan Enriques meninju bibirnya hingga mulutnya terkatup."
"Aizen, tetapi sikapmu tidak dibenarkan. Bagaimana jika temanmu sampai mati? Apakah kamu mau di penjara?" Arumi memeluk Aizen.
"Oh, jangan menakut-nakutiku. Aku paling di skors dari sekolah. Mana ada penjara untuk anak-anak?"
"Ya Tuhan, tetapi tak bisa dibenarkan."
"Jangan takut, Young Vincenti kan pengacara hebat biarkan saja Young akan hadapi Abelard. Lagipula, kakak Abelard seorang dokter. Paling juga disuntik nanti akan sembuh sendiri."
"Aizen Ryota Vincenti, siapa yang ajarimu jadi bandel?" Arumi mencubit lengan adiknya keras.
"Kalau saja, kamu mau datang dan antarkan aku ke sekolah, aku tak perlu susah payah meninju wajah bocah manja itu." Aizen Ryota berubah gusar. "Kamu tak tepati janji padaku, Narumi. Apa kami tak penting untukmu?"
"Aizen?!"
"Oh, Anda di sini, Nona Arumi?" Bapak Kepala Sekolah keluar dari ruangan berkas hentikan perdebatan.
"Selamat siang, Sir. Em, aku Narumi Vincenti, kakak Aizen. Di mana teman Aizen? Apakah dia baik-baik saja?"
"Nona ..., aku kehabisan kata. Aku salahkan kedua orang tua murid yang berutang penjelasan pada kedua murid ini hingga tidak terjadi kesalah pahaman berkelanjutan"
"Apa maksud Anda?"
"Silahkan ke ruang perawatan bersama Aizen Ryota. Orang tua Abelard ada di sana. Aku telah hubungi orang tua Anda juga dan mereka sedang dalam perjalanan kemari. Kami akan menyusul."
Bersisian dengan Aizen, pegangi tangan Aizen erat, mereka pergi ke ruang perawatan. Biarkan semua teman-teman Aizen melihat mereka. Oh ya Tuhan, para bocah ajaib ini.
Ketika sampai di depan gerombolan murid yang penasaran. Arumi berhenti. Ia membungkuk sedikit untuk menyapa.
"Hai, namaku Arumi Chavez tetapi aku lebih suka namaku yang lain, Narumi Yuki Vincenti dan aku kakak perempuan Aizen Ryota Vincenti. Mohon untuk berteman baik dengannya ya."
Para bocah menganga melihatnya. Sebagian sampai melotot. Ada yang mengangguk-angguk kecil. Aizen Ryota Vincenti berhenti kesal.
"Narumi ..., " guman Aizen lirih, berpaling padanya dan memujanya sepenuh hati. "Aku menyayangimu."
Andaikan ia tidak egois dan bahwa ini sangat berharga untuk Aizen, tak perlu ada perkelahian.
"Perkenalan diri yang bagus." Seseorang menyapa dari belakang. Bersuara berat dan menggoda.
Arumi berbalik karena suara itu tak asing baginya. Sungguh terkejut melihat siapa yang datang.
"Ethan Sanchez?"
"Nama Nona ini Arumi Chavez dan dia juga kakak perempuan Abelard Chavez. Tolong berteman baik dengan Abelard juga ya." Ethan Sanchez membungkuk pada anak-anak ikuti gaya Arumi.
Ethan Sanchez menekuk lutut di depan Aizen, amati seksama dan mengacak-acak rambut Aizen gemas.
"Kamu dan Abelard bersaudara dekat. Abelard tak salah karena Narumi juga kakaknya. Kita perlu makan malam keluarga dan berkenalan. Dengan begitu, tidak ada yang akan berebutan Arumi dan Narumi."
"Itu tidak mungkin. Aku tak ingin bersaudara dengan laki-laki manja dan cengeng macam Abelard. Bagiku dia hanya pecundang yang suka mengganggu orang lain."
"Dengar, Aizen Ryota. Abelard sangat cemburu padamu karena kamu tinggal bersama Narumi. Dia merasa tidak seberuntung dirimu. Itulah mengapa dia terus cari gara-gara denganmu."
"Begitukah?"
"Em, ya. Terlebih nilaimu selalu lebih bagus darinya. Abelard menjadi sangat kesal padamu. Bisakah, maafkan sikap Abelard?"
Aizen Ryota Vincenti menengok pada Arumi.
"Tergantung."
Ethan Sanchez tersenyum, bangkit berdiri. Ia perhatikan Arumi.
"Apakah matahari mengganggu penglihatanmu, Arumi Chavez? Kaca matamu lebih besar dari wajahmu."
"Aku lebih suka nama pemberian ayahku, Narumi Vincenti." Arumi menyahut. Itu mengandung berton-ton kepahitan.
"Kamu masih marah?" tanya Ethan Sanchez menghela napas panjang.
"Hidup semua orang berlanjut. Intinya, semua orang bahagia."
Kecuali aku! Tambah Arumi dalam hati.
"Apa kabarmu?" tanya Arumi menengok pada pria berusia 25 tahun yang benar-benar bermetaformosis sempurna menjadi pria dewasa.
"Aku hidup dan bernapas."
"Senang bertemu denganmu."
"Wajahmu katakan sebaliknya. Apakah kamu masih gadis yang sama?"
"Mungkin ..., bukan lagi."
Mereka pergi ke ruang perawatan.
"Oh ya Tuhan, Bu Guru. Ini sudah keterlaluan."
Arumi dan Ethan berhenti di luar sedang tirai klinik tertutup dan Nyonya Andreia mengeluh di dalam.
"Mengapa orang tua temannya belum datang? Apakah mereka ajarkan anak-anaknya meninju wajah anak lain di sekolah?"
"Nyonya ..., mohon untuk tenang."
"Tuan Chavez ..., apakah Anda akan terus diam saja?" Nyonya Andreia lagi berkeluh kesah.
Tak ada sahutan.
"Abelard, bagaimana perasaanmu?"
"Berhenti menjerit, Mom! Apa Ibu mau aku dipanggil anak manja?"
"Abelard, aku cemas padamu!"
"Tak perlu berlebihan. Setiap anak pernah berkelahi dan luka."
Tirai ditarik dan entah siapa yang terkejut melihat siapa.
"Nona Arumi ...." Nyonya Andreia.
"Arumi?!" Tuan James Chavez.
Hanya kaku tersisa. Arumi pegangi tangan Aizen mencari kekuatan. Sedang dari arah belakang terdengar suara Ayah Laurent bercakap bersama kepala Sekolah. Dan detak yang lebih percaya diri mengetuk lantai adalah milik ibunya. Sedang satunya lagi ....
"Aizen Ryota!!!" Hanasita berlari kecil dapati kakak lelakinya. Mereka berpelukan.
"Kau luar biasa. Akhirnya kau berhasil mendayung sepeda dan lewati tiga rumah sekaligus." Hanasita berbisik di kuping Aizen setelah berjinjit menggapai kakaknya yang lebih tinggi.
Arumi hembuskan napas keras. Jadi, bocah-bocah ini sedang eksekusi rencana. Luar biasa jiwa gangster mereka.
Tiga puluh menit kemudian semua ornag berhadapan di sebuah restoran mewah. Tuan dan Nyonya Chavez di sebelah timur bersama Abelard Chavez dan Ethan Sanchez sedang berhadapan dengan mereka, Tuan dan Nyonya Vincenti bersama Aizen, Hanasita Minori dan Arumi.
"Lama tidak jumpa," sapa Tuan James Chavez terlihat bahagia di sisi Nyonya Andreia.
"Tuan Chavez, aku sungguh-sungguh menyesal berakhir begini."
James Chavez hanya terpaku perhatikan Aizen Ryota dengan tatapan dalam dan haru biru. Sedang yang ditatap menunduk macam orang patah tulang leher di sisi Ayah Laurent.
Hanasita ikuti gerakan kakaknya sembari curi-curi pandang pada Ayah.
Arumi berdecak dalam hati. Hanasita ..., nanti dewasanya lebih keras berandalannya dari pada Aizen kalau tidak diarahkan dengan benar.
"Aizen Ryota Vincenti?! Apakah kamu akan terus membungkuk di situ sampai menyentuh lantai?"
Mereka menunggu pesanan.
"Tidak, Papa ...."
"Apakah kami mengirimmu ke sekolah untuk berkelahi?"
Tangan Tuan Laurent Vincenti menggenggam erat tangan istrinya seakan ingin pastikan bahwa semua akan baik-baik saja. Tidak benar menegur putera mereka di depan wali murid lain. Namun, dalam situasi ini, benar kata Pak Kepala Sekolah saatnya mereka terbuka pada anak-anak.
Salsa menahan napas. Usia Aizen dan Abelard mungkin hanya berjarak tiga atau empat bulan.
"Maafkan aku, Papa. Abelard bikin aku kesal."
"Sampai melukainya?"
"Ayah ..., " panggil Arumi pelan. "Ini semua salahku." Arumi berdiri menghadap pada bocah lain, adiknya juga. Ia bicara rendah dan dalam. "Maafkan Aizen, Abelard. Andaikata aku datang ke sekolah lebih awal, Ryota Vincenti tak akan kasar padamu."
"Arumi Chavez?!" tegur Ethan Sanchez dari sebelah.
"Jelaskan padaku mengapa namamu Arumi Chavez? Tetapi Ethan katakan padaku bahwa kamu adalah kakak perempuanku?" Abelard tidak terima. Wajahnya sangat gusar.
"Abelard? Apa begitu caramu bicara dengan seseorang yang lebih tua darimu?" tegur Ethan Sanchez tidak senang.
Abelard perbaiki sikapnya. "Maafkan aku, Nona Arumi."
"Sebenarnya siapa dirimu? Mengapa namamu Arumi Chavez, tetapi menjadi kakak Aizen Vincenti bernama Narumi Vincenti?"
Arumi tidak ingin sakiti hati Ayah Laurent. Tetapi Ayahnya beri sinyal bahwa Arumi bisa jelaskan apapun untuk akhiri kesalah-pahaman.
"Sebelum Aizen dan Abelard lahir ..., aku adalah Puteri Tuan James Chavez dan Nyonya Salsa." Arumi coba jelaskan pada dua adiknya.
"Lalu, suatu waktu, Tuan James dan Nyonya Salsa berpisah. Nyonya Salsa menikahi Tuan Laurent lahirlah Aizen Ryota Vincenti. Sedang Tuan James menikahi Nyonya Andreia lahirlah Abelard Chavez. Namaku Arumi Chavez dan Narumi Vincenti. Jadi, aku adalah kakak perempuan Anda berdua."
Orang dewasa lega di bangku masing-masing sementara Abelard dan Aizen saling menyipit satu sama lain. Kenyataannya kedua bocah ini seayah beda Ibu. Demi apapun, Aizen lebih pantas jadi putera Laurent Vincenti.
"Apa benar begitu?!" tanya Abelard pada Nyonya Andreia yang tak punya kata apapun.
"Aizen lebih tua darimu, Abelard. Kamu perlu menghormatinya," tegur Ethan Sanchez.
"Aizen ..., minta maaf pada adikmu." Tuan Laurent Vincenti turunkan titah pada Aizen sedang Tuan James Chavez tak berhenti terpana pada Aizen Ryota.
"Maafkan aku, Abelard. Tolong jangan bikin aku kesal lain kali."
"Aizen?" tegur Laurent Vincenti mengernyih pada puteranya.
Abelard Chavez ikutan berdiri. "Ya, aku juga. Harusnya Ibuku berterus terang padaku. Apakah Anda mencuri Ayahku dari Ibu Aizen? Anda berhenti mengomeli orang tua Aizen saat melihat Nona Arumi Chavez?"
"Abelard?" Ethan Sanchez berdecak tak percaya mulut Abelard lebih sadis dari mesin pemotong rumput. "Pesanan kalian datang. Tolong pindah ke meja sebelah Tuan-Tuan dan Nona." Ethan Sanchez mengajak anak-anak itu pergi ke meja lain. Peringatkan mereka untuk tidak saling mencekik karena mereka bersaudara. Lalu, kembali bergabung bersama para orang tua.
"Apa kabarmu, Arumi?" tanya James Chavez menatap Arumi sayu.
Tujuh tahun berlalu, tetapi Arumi masih rasakan luka di hatinya. Namun, semua orang bahagia, bukan?
"Aku baik-baik saja, Tuan Chavez," sahut Arumi. "Bagaimana dengan Anda? Aku harap Anda selalu bahagia."
"Terima kasih, Arumi." James Chavez memuji cara Laurent Vincenti besarkan puterinya. "Mari bertemu dan makan malam bersama anak-anak, Tuan Vincenti. Untuk doakan kesehatan dan kebahagiaan semua orang terutama anak-anak. Kebetulan juga untuk rayakan keberhasilan Ethan Sanchez sebagai Dokter." Tuan James Chavez mengundang semua orang.
"Dan Puteri yang lain, Alana kembali dari Amerika," tambah Nyonya Andreia.
"Mari memulai sebuah kehidupan keluarga yang harmonis demi anak-anak." James Chavez berpaling pada Arumi. "Kakakmu sesali masa lampau dan ingin lebih dekat denganmu. Terakhir Alana bertanya kabarmu. Apakah kamu masih bersama Tuan Archilles Lucca?"
Arumi Chavez menatap ayah biologisnya sadari bahwa Arumi tak pernah begitu penting hingga pria itu lupa kejadian di masa lampau. Dan masih saja na'if. Apakah Alana harus sampai sedetil itu?
"Tidak, Tuan Chavez. Hubunganku dengannya berakhir sejak 7 tahun lalu. Tuan Lucca bersama wanita lain. Begitupun aku."
"Begitukah?"
Arumi mengangguk sembari tersenyum.
"Ya. Jika kakak perempuanku sangat penasaran dengan pacarku yang sekarang, baiklah aku akan perkenalkan pada keluargaku dan saudaraku di acara makan malam."
***