
Bertanya-tanya, mengapa ponsel Archilles Lucca bisa dihubungi tetapi tak pernah tanggap? Beberapa hari lagi hari ulang tahunnya yang ke-16. Pria itu harusnya sudah ada di sini. Mereka akan menikah.
Archilles Lucca tak kembali menghubunginya dan pria itu seakan menghilang begitu saja setelah obrolan terakhir. Tanpa pesan, tanpa apapun.
"Apakah Archilles Lucca menahan diri? Bersiap dengan kejutan?"
Tidak.
Ini tidak lucu. Terlebih, ia tak bisa jelaskan kegelisahan yang semakin lama semakin menghimpit. Seakan semua tempat di mana ia mengambil napas berubah penuh gas beracun.
Lebih mencurigakan lagi ..., mengapa semua orang diam? Mungkin karena perdebatan dan perdebatan yang coba diendapkan, Tuan dan Nyonya Chavez. Arumi melihat retakan parah yang dibuat keduanya akan siap-siap pecah berkeping-keping.
Sejak dua Minggu lalu, Ayahnya tak pernah terlihat lagi setelah pamitan pergi keluar kota untuk urusan bisnis. Ini ..., sama seperti terakhir kali ketika James Chavez pergi darinya selama bertahun-tahun. Ibunya berubah menjadi pekerja keras dan pulang larut malam. Lebih kurus, pucat pasi dan dengan pikirannya sendiri.
Aunty Sunny dan Aunty Marion tak bahas apapun. Mereka sering menghiburnya. Tetapi Arumi Chavez yakin pasti "ini salah".
Arumi Chavez melihat berita di internet. Abercio Jacquemus tertembak di hari yang sama setelah Archilles antarkan Raul pergi bercukur. Diserang oleh seseorang saat sedang berpesta di 2020 Night Club. Apakah ini ada kaitannya dengan Archilles Lucca? Arumi Chavez mulai mencari tahu.
Negara berduka untuk Benjamin Jacquemus yang didampingi Aleixo juga kakak laki-lakinya Aloizio, ucapkan terima kasih pada rakyat yang berbelasungkawa. Abercio kritis saat ini.
Proses investigasi berlangsung dan sampai Arumi Chavez membaca berita di hari yang melelahkan, belum ditemukan pelaku penembakan.
Teori konspirasi bermunculan. Untungnya tak ada satupun berkaitan dengan Mansion Diomanta. Sedang Klan Diomanta sendiri telah mengirimkan ucapan turut berduka cita mendalam lewat Aunty Marion Davis.
Apakah Archilles pergi untuk habisi Abercio? Setelahnya mungkin ada pertarungan dan pria itu mungkin terluka parah setelah berniat lenyapkan Abercio.
Tetapi, bukankah katanya ia menemani Raul Lucca? Apakah Raul Lucca dibayar Abercio, mengundang puteranya sendiri pergi pada kematian? Ini paling mungkin sebab sejak hari itu, ia tak melihat Archilles dan dapat kabar darinya.
Lucky Luciano tak mengatakan apapun. Pertanda, Archilles Lucca tak libatkan teman-temannya. Arumi Chavez tahu Archilles Lucca lakukan pekerjaannya sendirian. Dari bergabung dalam 12 Belas Murid, Archilles mengatakan ia selalu bekerja sendirian selesaikan masalah.
Belakangan, Tatiana membantunya. Selalu bersama kekasihnya. Walaupun ia cemburu, ia tak bisa mengeluh atau marah sebab menurut Archilles, Tatiana berulang kali selamatkan nyawa Archilles. Termasuk Uncle H. Bahkan ada rule dalam lingkaran mereka untuk tidak menyakiti Tatiana.
Arumi Chavez hubungi Anna Marylin. Dapatkan informasi, Tatiana sedang berlibur ke Antartika.
Oh ya Tuhan? Apa ada sesuatu yang menarik di Antartika?
Kemungkinan lain ..., apakah Archilles Lucca kembali mengajar? Sekalipun telah ajukan pengunduran diri, dia belum benar-benar diberhentikan. Arumi Chavez menghubungi Beatriz untuk dapatkan kepastian. Terakhir ketika mereka menonton konser, Arumi dan Beatriz bertukar nomer ponsel.
"Ayah Guru Lucca telah mengajukan pengunduran resmi dan pamitan bahwa guru Lucca tak akan kembali lagi ke sekolah, Nona Arumi."
Beatriz menjawab panggilannya. Semakin dipikirkan, semakin ia tak karuan. Arumi Chavez akhirnya putuskan bertanya langsung pada Aunty Nastya.
Namun, apa yang ia dengar sungguh-sungguh buat ia gemetar. Benarkan firasat buruknya.
Archilles terluka dan kini sedang dirawat di Càrvado. Tak ada keterangan lebih lanjut, bagaimana keadaannya? Arumi Chavez memohon Aunty Nastya agar biarkan ia bicara pada Archilles, tetapi permintaan itu ditolak. Aunty Nastya tak katakan alasan. Dari suaranya jelas saja Aunty Nastya berduka.
"Aku akan pergi ke Càrvado." Arumi Chavez mengatakannya pada Salsa dan kedua Aunty yang langsung terhenyak menatapnya.
"Alfredo Alvarez akan antarkanmu," sahut Salsa mengangguk.
"Biar aku saja!" Sunny menawarkan diri.
"Tidak, Aunty Sunny. Aku akan bersama Tuan Fred. Anda berdua akan temani Ibuku."
Kehidupan Ibunya mulai kacau. Menyerang Salsa tidak ada gunanya. Arumi Chavez kehabisan tenaga.
"Sunny ikuti saja mau Arumi!"
"Ibu tahu apa yang terjadi pada Archilles Lucca," tuduh Arumi sangat kecewa dan marah. "Dan Anda diam saja. Mengapa Ibuku selalu ingin menyiksaku?"
Salsabilla tak menjawab. Bangun dari bangkunya dan pergi, tinggalkan makanan yang belum disentuh sama sekali.
Arumi Chavez kembali ke ruang tidurnya. Itzik dan Tatiana di sana, di lantai.
"Kalian berdua akan tinggal bersama Ayshe. Tolong hindari ibuku saat bertemu dengannya dan jangan nakal. Aku akan kembali bersama pacarku."
Arumi Chavez menimbang berat badan Tatiana. Berikan kucingnya vitamin untuk mata.
"Kau harus diet. Please berhenti terlalu banyak makan daging. Seekor babi mati terkena serangan jantung karena terlalu makan enak. Jangan coba-coba mengejar tikus meskipun mereka lewat depan matamu dengan cuma-cuma."
Kucing itu mengeong. Tatiana suka masuk ke balik selimutnya dan tidur bersamanya. Kadang cara Tatiana mendengkur mengganggu. Terkadang malah seperti musik instrumen penghantar tidur.
Aktivitas di dunia seni peran berhenti sementara waktu. Ia menerima banyak tawaran iklan dan beberapa drama. Namun, ia memilih fokus belajar.
Arumi Chavez selesai mengirim tugas ke sekolah. Dalam dua Minggu ia belajar dari rumah. Ibu Guru Alfonsa ditunjuk pihak sekolah sebagai pendamping. Dan teman-teman di lingkaran tertentu, dicanangkan Tuan Vincenti datang untuk berdiskusi, belajar bersama dan kerjakan tugas-tugas menarik. Young Vincenti tak pernah absen. Paling banyak berkontribusi. Arumi harus naik tingkat atau ia akan tinggal kelas mungkin tidak tamat sekolah menengah umum.
Pada akhirnya, Arumi Chavez pergi ke Càrvado dua hari kemudian. Ketika ia sampai di sana, ia harus berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa Archilles Lucca tak ingin bertemu dengannya.
"Nona Arumi ...."
"Di mana dia?" tanya Arumi Chavez menolak penjelasan. "Aunty, kami sangat dekat. Aku bukan saja pacarnya tetapi juga temannya."
Nastya Lucca menahan air mata. Wanita ini mungkin telah menangis berhari-hari.
"Dia tak ingin bertemu siapapun kecuali perawat yang kami siapkan untuknya."
"No, itu tidak dibenarkan," geleng Arumi. "Bukankah dia harus menerima dukungan? Bahwa semua orang bersamanya? Apa yang membuatnya menolak aku?" tanya Arumi keheranan. Apa Archilles hamili gadis lain? Apa dia lumpuh? "Aunty, biarkan aku mencoba."
"Archilles mungkin tidak ingin kamu melihatnya dalam keadaan tertekan."
"Biarkan aku mencoba, Aunty Nastya. Archilles selalu di sisiku pada masa-masa terburuk ku. Bagaimana bisa aku meninggalkannya dalam kondisi seperti ini."
Arumi Chavez sangat gigih. Ia pergi ke kamar pria itu. Di lantai bawah dekat ruang tidur kedua orang tuanya. Ia mengetuk pintu pelan karena diperingatkan oleh Nyonya Nastya bahwa Archilles tak suka orang masuk tanpa mengetuk pintu.
"Archilles Lucca, ini aku," panggil Arumi Chavez. "Bisakah aku masuk?"
Tak ada sahutan dari dalam. Arumi Chavez mengetuk kedua kalinya. Masih tetap tidak ada tanggapan. Ia berdiri di depan ruang tidur pria itu sejak ia datang sampai hampir menjelang sore. Dua jam lebih abaikan makan siang.
"Archilles, bisakah aku masuk?"
Nona Perawat datang dengan perlengkapan medisnya untuk pemeriksaan rutin.
"Nona ..., Tuan Archilles tak mau menerima tamu atau dikunjungi sementara waktu. Ia mengatakan padaku untuk mengusir semua orang pergi dari depan ruang tidurnya."
"Aku, pacarnya. Kami akan menikah beberapa hari lagi. Mengusirku? Katakan padanya, aku akan mencongkel pintu ini dan masuk ke dalam. Apa dia akan membunuhku?" Arumi Chavez melotot pada si perawat.
"Nona ..., Anda mungkin akan sebabkan perubahan mood-nya. Tolong jangan dipaksakan. Ini demi kesehatannya juga."
Arumi Chavez terdiam. "Apakah dia terluka sangat parah? Aku perlu melihatnya."
"Anda tak diijinkan masuk. Selama Anda di sini, Tuan tak akan bukakan pintu termasuk untuk makanan dan obat-obatan untuknya."
Arumi Chavez mengalah. Ia melangkah lunglai ke ruang tidurnya di lantai dua. Di kamar yang pernah ia pakai sebelumnya. Arumi Chavez berpikir, mengapa ..., Archilles tidak tidur di kamarnya sendiri?
Tengah malam ia terbangun. Turuni tangga dan pergi ke ruang tidur pria itu lagi. Tempelkan kuping di pintu. Pegangi hati dan jantungnya sendiri. Terisak-isak.
Dia bicara pada pintu dan menunggu dengan sabar. Jam menunjukan pukul dua pagi. Suhu udara cuma delapan derajat di ponsel. Ia mengusap lengan. Bertahan di sana.
Apa yang terjadi pada Archilles? Benarkah pria itu di dalam sana? Mengapa tak ada tanda apapun? Sangat berani ketika ia coba membuka pintu. Terkunci. Arumi Chavez kembali meringkuk di muka pintu.
"Archilles ..., ini aku. Arumi Chavez." Suaranya makin lama makin seret oleh kantuk. Ia akhirnya terkantuk-kantuk di depan pintu. "Maukah kamu biarkan aku masuk?" Kembali bertanya. Ia bersandar di pintu. Udara semakin dingin saja, menusuk hingga ke dalam tulang. Sweaternya tidak cukup hangat. "Akhir-akhir ini, ketika sedang sedih kepalaku sering nyeri. Aku akan beritahu kamu sesuatu. Maukah bukakan pintumu? Aku kedinginan."
Arumi Chavez menanti penuh harap. Ia tertidur tak lama berselang. Dalam mimpinya Archilles bukakan ia pintu dan mereka berpelukan. Tangan dan kaki pria itu terluka.
"Tenang, Archilles. Aku punya banyak plester." Dia bahkan mengigau.
"Nona Arumi?!"
Nastya Lucca temukan Arumi Chavez di ambang pintu. Tidur tetapi gadis itu terisak-isak karena sedih. Arumi Chavez kembali dibawa ke ruang tidur. Ia terserang demam. Nastya Lucca berikan dia makanan dan obat. Mendoakannya dan tak banyak kata.
"Apa masalahnya? Aku hanya ingin melihatnya dan bertemu dengannya."
"Kamu mungkin akan terluka setelah melihatnya, Sayang." Nastya Lucca berkaca-kaca. "Kondisinya sangat tidak bagus."
"Akan lebih tersiksa jika aku tak tahu keadaannya."
Atas inisiatif sendiri. Arumi Chavez meminjam seragam perawat Nona Natalie. Memohon bantuan Perawat Natalie. Awalnya Natalie menolak karena takut timbulkan masalah. Menurut Natalie, Arumi juga mungkin akan terluka.
"Aku perlu melihatnya. Ya Tuhan, Archilles aku akan menggunting lehermu suatu waktu dan mengetuk keningmu untuk apa yang telah kau lakukan padaku."
Arumi Chavez menjadi berang dan itu meluluhkan hati perawat Natalie. Akhirnya, Natalie membantunya di makan malam.
Arumi Chavez memakai seragam perawat dan masuk ke dalam setelah Natalie mengetuk pintu dan bicara.
"Tuan Archilles, ini aku!"
Natalie berikan kode bahwa ia tak boleh masuk dulu. Menunggu kira-kira 20 detik.
Arumi Chavez sangat gugup pegangi nampan berisi makan malam, obat dan air. Ia masuk ke dalam ruangan yang temaram oleh lampu tidur. Jantungnya berdegup kencang karena akan bertemu Archilles abaikan aura aneh yang terpantul di dalam sini.
Pria itu, mantan pengawalnya. Sepupu jauhnya, kini kekasihnya. Duduk di kursi otomatis. Di atas pahanya ia membaca sebuah buku. Arumi berdiri menegang di tempat.
"Apa dia sudah pergi? Jangan biarkan dia di depan ruang tidurku. Tolong minta seseorang membawanya pergi dari sini!" Archilles berkata pelan. Arumi Chavez menitikkan air mata.
"Apa yang membuatmu begini? Beri aku alasanmu dan aku akan pergi darimu, Archilles Lucca. Apakah aku bersalah padamu? Aku melakukan hal yang tidak menyenangkan padamu? Kamu ..., hanya perlu bicara padaku dan menghukumku. Tidak begini caranya."
Hening. Arumi Chavez tak bisa melihat jelas karena pandangannya buram oleh air mata.
"Keluar!"
"Tidak! Persetan denganmu!"
"Pergi!"
"Tidak akan! Mengapa aku harus pergi?"
"Aku putuskan untuk tidak menikahimu, Nona Arumi Chavez."
"Archilles?!" Mengapa tiba-tiba begini? "Baiklah. Tak perlu menikahiku. Biarkan aku bersamamu."
"Tinggalkan tempat ini!"
Pria itu mengangkat kepala. Seketika Arumi Chavez terkejut luar biasa. Arumi Chavez tidak mengenali siapa pria di depannya lagi. Tak ada wajah Archilles. Hanya suara kekasihnya juga mata kehijauan yang mungkin tak bisa dirampas nasib buruk seakan telah di mantrai Pencipta-Nya. Tetapi, mata itu sedang menatap dingin dan sangat tajam padanya.
"Pergi dari sini!" Menggeram marah.
Arumi Chavez mundur ketakutan. Nampannya meluncur jatuh begitu saja hingga timbulkan bunyi berisik. Gelas pecah.
"Ar chi lles ...." Tersendat-sendat menyebut nama pria itu. Air matanya tumpah ruah. Ia meluruh jatuh di lantai. "Archilles ..., apa yang terjadi? Ini aku."
Tuan Maurizio tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruang tidur dan menggendongnya keluar.
Arumi Chavez pingsan selama hampir satu jam. Ia kehilangan kemampuan bicara setelah bangun. Terlalu menyedihkan hingga ia hanya menangis di ruang tidurnya. Waktu berjalan dengan cepat. Tak bisa habiskan makan malam. Harusnya ia tidak lari. Apapun yang terjadi. Harusnya ia bersama Archilles dan tidak ketakutan macam tadi. Arumi Chavez pergi lagi ke sana, tetapi tempat itu telah dijaga Agathias. Dan pria itu tak ijinkan ia masuk.
"Aku hanya ingin minta maaf, Tuan Agathias. Aku akan bicara padanya di pintu. Tolong ijinkan aku!"
Agathias bergeming. Seolah-olah Arumi Chavez semilir angin. Tegak di depan pintu tetapi biarkan Natalie keluar-masuk.
Okay, Archilles Lucca mungkin diserang krisis kepercayaan diri. Dia masih menunggu. Agathias tidak mengindahkannya.
Arumi Chavez sangat patah hati. Ia pergi ke ranjang, berbaring. Makan malamnya telah dingin. Ia tak berselera. Ia mulai demam lagi, tertekan dan terluka. Semangati dirinya sendiri. Kepalanya nyeri. Ia meminum obat.
Jatuh terlelap dengan perut kosong. Bangun pagi saat mendengar suara-suara ribut di luar sana. Melompat dari ranjang pergi ke jendela. Kursi roda Archilles Lucca sedang dibawa masuk ke dalam mobil. Pria itu memakai Hoodie tertutup. Semua orang bekerja membantunya.
Mungkinkah mereka pergi ke dokter? Sepagi ini?
Natalie mendorong koper. Perawat itu berpakaian rapi seakan hendak bepergian keluar negeri. Mobil pertama pergi.
"Archilles?!" Arumi Chavez sadari bahwa pria itu akan pergi darinya. Ia memukul kaca jendela. Berlari keluar dari kamar.
Turuni tangga karena tergesa-gesa malah terguling hingga ke ujung tangga.
"Nona?!" Seseorang menjerit.
Arumi Chavez kehilangan pikiran, ia bangun dan berlari keluar. Mobil keluar dari halaman rumah.
"Archilles?! Beginikah caranya?" Ia berseru dan berlari kencang mengikuti mobil yang melaju. Tanpa alas kaki, abaikan dingin jalanan Càrvado.
Mobil itu semakin jauh pergi. Telinganya berdenging dan darah mengalir dari hidungnya. Larinya makin pelan tetapi ia tak berhenti.
"Jangan lakukan ini padaku, please! Maafkan aku, Archilles. Aku tidak takut padamu, aku hanya terlalu kaget. Ya Tuhan, Archilles tolong aku."
Arumi Chavez berteriak pada langit. Ia kemudian terduduk di jalanan sementara mobil itu menghilang. Dua orang asisten membawanya kembali pulang. Mengobatinya.
"Nyonya Nastya titipkan surat untuk Anda, Nona Arumi."
Arumi Chavez menerima surat putih tetapi ia tak berniat membaca.
"Apa ..., kamu mungkin tahu kemana mereka pergi?"
"Tidak, Nona. Kami hanya diperintahkan untuk merawat Anda sampai jemputan Anda datang. Tetapi, aku pikir Tuan Maurizio membawa Tuan Muda ke Amerika mungkin untuk menjalani perawatan intensif."
Arumi Chavez masih tinggal di Càrvado selama dua hari berharap datangnya keajaiban. Juga karena ia masih sakit. Ia bermain di ayunan yang dibuatkan pria penyayang itu untuknya sepanjang hari. Sangat terkejut ketika kamar pria itu menghadap persis ke arah pohon apel. Melamun ke sana berharap Archilles bisa melihatnya.
Tak pernah ada yang kembali. Tak pernah ada kabar. Rumah besar dibersihkan. Kain-kain putih dipakai menutupi semua perabotan, meja, kursi, lemari, tempat tidur. Pertanda, rumah itu tak akan dihuni untuk jangka waktu yang lama.
"Jika Tuan Achilles kembali, tolong katakan padanya. Aku akan menunggunya tak peduli 10 atau seratus tahun."
***