
Dokter Nafas bersih keras tak ijinkan Archilles Lucca apalagi setelah tahu pernikahan dengan Xavier Moon digagalkan dan sore di hari yang sama Narumi nikahi Archilles Lucca. Dokter Nafas percaya sebuah konspirasi telah terjadi terlebih Narumi tanpa pembatalan atau pemberitahuan apapun pada pihak Rumah Sakit.
Padre Peter dari pemberkatan pernikahan Archilles Lucca dan Narumi Vincenti akhirnya diundang berkunjung. Dijemput langsung Laurent Vincenti.
Setelah kukuhkan sakramen Pengurapan orang sakit bagi Narumi, berkesempatan bertemu secara pribadi dengan Dokter Joseph Nafas.
Padre Peter segera berikan wejangan bahwa suami istri ini miliki ikatan suci dan hubungan batin yang terjalin karena mereka bukan lagi dua tetapi satu. Tegaskan pernikahan sah Archilles Lucca dan Narumi Vincenti secara agama yang berarti pula secara hukum.
Dokter Nafas tak diberikan pilihan kecuali ijinkan Archilles Lucca untuk bersama istrinya hadapi duka sama seperti sumpah pernikahan.
Hari berjalan. Sangat lamban bagi Archilles Lucca. Ia menangis dalam kesedihan ketika pertama kali melihat penampilan baru istrinya yang tanpa rambut.
Berikutnya, bagaimana ia bisa lewati nelangsa, hanyalah sebuah keajaiban.
Digerus perasaan sedih. Otaknya hanya memekik;
Mengerikan!
Mengerikan!
Mengerikan!
Ia mudah putus asa di setiap poin aspek kehidupan bahkan tentang hidup itu sendiri. Bahwa sampai 31 tahun, tak pernah beruntung.
Ia lupa mengurus dirinya sendiri. Berdiri macam patung, melamun entah kemana. Terkadang macam pria mabuk di jendela kaca, kedapatan telah berkata sendirian. Di hadapan istrinya, ia kehilangan kemampuan dasar.
Tuan Maurizio Lucca sungguh-sungguh cemas sampai-sampai persiapkan seorang ahli untuk menolong Archilles Lucca hadapi situasi rumit.
Dukungan mengalir dari segala arah. Ada Elgio Durante, Lucky Luciano, Young Vincenti, Raphael dan teman-teman yang lain, mendukung dalam kemalangan. Peringati Archilles Lucca untuk pikirkan kesehatannya sendiri agar tidak terkendala sewaktu istrinya bangun.
Lalu, Itzik Damian antarkan Aurora. Peringatkan Archilles Lucca bahwa Aurora menunggu kedua orang tuanya. Dan segala kemudian berubah. Aurora ternyata penguatan paling efektif dan mereformasi situasi.
"Papa ..., ini Au," tunjuk bayi belum dua tahun pada diri sendiri. "Papa, ingat Au?"
Archilles Lucca tak bisa berkata-kata. Ia lupakan bahwa ia menikahi Narumi Vincenti dan mereka punya Puteri bernama Aurora.
"Ya ...," angguk Archilles Lucca. Dadanya bergemuruh berisi banyak penyesalan.
Dan sejak pertemuan itu, ia punya jadwal bersama Aurora berbagi dengan Chaterine Lucca.
Sebetulnya, Chaterine Lucca tak tahan berjauhan dengan Aurora tetapi mengalah pada kondisi vegetatif Narumi.
Semua orang menyadari bahwa nona kecil Aurora bak malaikat yang dikirim Tuhan untuk menghibur semua yang bersedih.
Axel Anthony berikan saran agar Chaterine Lucca mengunjungi Tibet, pada seorang tabib suci di sana untuk memulai pengobatan penyakitnya tanpa bantuan medis. Itzik Damian membawa adiknya ke sana. Mungkin, Itzik akan menerima perawatan juga.
"Kita tunggu saja mama, ya. Jangan nangis! Nanti Au jaga Papa. Telus kita jaga mama."
Archilles Lucca setia berada di sisi istrinya. Menyapa di waktu pagi. Ceritakan situasi paling sederhana dimulai dari keadaan cuaca. Tentang udara, suhu dan kejadian di luar sana.
Lalu, ia akan duduk dan mulai bacakan buku. Istrinya mungkin tak akan begitu suka. Hanya inginkan istrinya terbiasa mendengar suaranya. Bersama Aurora, mereka lakukan rutinitas dengan libatkan wanitanya yang terbaring.
Mendung perlahan bergeser. Segala berjalan bagus setelah terapi laser walaupun Narumi kehilangan rambut panjang indah pirang, bagian paling dicintai Archilles Lucca dari sang kekasih.
Terutama, siklus negatif, -syukurlah-, mulai bosan menyiksa. Perubahan haluan tumbuhkan secercah harapan. Archilles Lucca bisa melihat bahwa semua baik-baik saja selama kekasihnya bernapas.
Putuskan pindahkan istrinya ke sebuah rumah di atas perbukitan damai. Dari sana, kota beratap merah terlihat menakjubkan terlebih menjelang matahari terbenam.
Dua bulan dua Minggu terlalu menderita bagi Archilles Lucca meski dibanding tujuh tahun. Kini, babak baru kehidupan mereka dimulai. Dokter Joseph bagikan tiap perkembangan terbaru istrinya. Hal-hal kecil yang tampakan secara langsung kondisi istrinya. Misal, gerakan anak mata merespon cahaya senter, helaan napas berat, ketukan cepat pada jantung, juga gerik jemari. Ia hanya akan setia merawat istrinya.
Bangun pagi, pergi ke ruang tidur Aurora dan ia punya konsep unik bangunkan Puteri mereka.
Kring! Kring! Kring!
Dirinya dan Nona Arumi Chavez punya kenangan dengan dering lonceng. Dan kini, tiap pagi, siang dan malam, ia bunyikan lonceng kecil itu seolah memanggil istrinya bangun.
Pintu didorong. Lonceng kecil ditaruh di nakas. Archilles Lucca tinggikan tirai ruang tidur hingga cahaya masuk.
"Holla, Tuan Puteri ...."
Tak ada sahutan. Lalu, geliat tubuh kecil yang menggemaskan beri kode.
"Papa ...." Suara masih mengantuk.
"Ayo, bangun! Susu dan bubur wortel menunggu."
Kepala kecil menyembul dari balik selimut. Gadis kecil itu terlatih mandiri. Berdasarkan petunjuk Itzik Damian, Archilles harusnya hanya perlu menunggu di tepi ranjang setelah rapikan tempat tidur Aurora untuk menguncir rambut pucat puterinya.
Archilles Lucca abaikan Itzik Damian. Singkirkan selimut Aurora dan menggendong puterinya.
"No, Papa! Izik nanti malah Au!"
Aurora diajari untuk tidak bebani kedua orang tuanya, menurut Archilles, itu sesat. Aurora cuma bayi yang butuh kasih sayang dan perhatian. Belum dua tahun, bukankah puterinya hanya perlu bergantung penuh padanya?
Apa yang siluman putih itu lakukan?
Dirinya dan Narumi akan kehilangan banyak momen berharga merawat bayi mereka. Tak ada alasan kirimkan Aurora untuk mendadak dewasa dengan kereta express.
Walaupun Aurora bisa menangkap sesuatu dengan cepat kemudian motoriknya juga bagus, but well, bocah ini masih bayi.
"Don't worry!" bujuk Archilles. "Izik takut sama Papa!"
"Why?"
Aurora paling banyak gunakan kata tanya itu, "why". Dan ketika gunakan kata itu, Aurora benar-benar menggelitiknya. Archilles perlu menggigit bibir kuat agar tak memakan lengan Aurora. Namun, kadang hanya berhasil untuk beberapa detik. Selanjutnya, ia hanya akan mulai menggila.
Lihat sekarang!
Demi Tuhan, suara bayi kecekikan adalah suara paling indah di muka bumi. Mungkinkah berasal dari surga? Dan Archilles Lucca telah menggelitik ketiak Aurora hingga bayi itu terpingkal-pingkal. Kepala Aurora tengadah pada loteng dan gusinya yang mulai lengkap terbuka lebar.
"Karena Papa dan Mama hanya mau Au jadi bayi saja dulu sementara waktu."
"No! Au mau macam mama."
"Nanti saja, ya! Please!" rayu Archilles Lucca menjenguk perut Aurora hingga tertawa lagi sampai wajah kemerahan.
"Ampun, Papa!"
Archilles Lucca menggendong puterinya ke ruang mandi dan mengisi bath up dengan air hangat. Biarkan banyak boneka bebek berenang di sana. Ia tuangkan sabun bayi cair yang lantas segera berbusa. Aroma penuhi ruang mandi. Aurora masuk ke dalam sana dan mulai bergembira. Archilles Lucca mencuci rambut Aurora hati-hati, pakaikan conditioner dan memijat perlahan-lahan sedang Aurora bermain dengan bebek, bunyikan benda itu sesuka hati.
Kwek! Kwek! Kwek!
Lima belas menit kemudian. Archilles Lucca selesai rapikan tempat tidur Aurora.
"Au, sudah selesai?"
"Sudah Papa!"
Aurora muncul kembali dengan kimono towel warna pink. Sangat lucu. Tangan-tangan mungil menarik kotak dari lemari berias dan keluarkan ikat rambut kuping kelinci satu warna dengan outfitnya.
"Hebat," puji Archilles Lucca.
"Bisa tolong Au, Papa."
"Kemarilah!" Ia meraih mini hairdryer.
Aurora dekatkan dirinya pada Archilles Lucca dan duduk di sisi lain biarkan Archilles menyikat rambut halus itu perlahan.
"Beritahu Papa kalau ikatannya terlalu kencang." Archilles Lucca menahan gelombang aneh bergulung dalam hati. Bahkan ia pernah lakukan ini, mengikat rambut pacarnya. Ia berjanji akan menyikat rambut istrinya tiap hari. Entah pagi atau malam.
"Uh-hum," angguk Aurora mainkan kaki-kakinya senang.
"Selesai! Pakai dressnya, Au."
Archilles amati seksama, bagaimana Aurora menggeser walk in closet versi mini lalu kembali dengan dress tutu biru muda lalu kaos bertuliskan spirit of love.
Aurora berputar di depan cermin. Itzik Damian pasti sering pertontonkan cara Narumi melangkah di catwalk. Aurora sedang tunjukan keahliannya.
Archilles Lucca teribur. Bertepuk tangan keras saat puterinya berputar.
"Perfecto!" Langsung menggendong Aurora pergi ke dapur. Tangan kanan di depan Baby Brezza formula maker, dapatkan susu dari sana.
"Mari kita minum bersama Mama."
Menggeser pintu ruangan tidur lain dan hampiri ranjang. Pada kekasih terbaring dalam tidur panjang. Ia tidak akurat tetapi harapan tumbuh macam tunas-tunas baru di setiap buku-buku. Ada lebih banyak dan terus bertambah tiap hari.
"Pagi, Mama," ucap Aurora mengecup pipi Arumi.
"Pagi, Sayang," sambung Archilles lakukan hal yang sama, tambahkan kecupan di bagian kening, hidung dan bibir istrinya.
"Au sudah mandi. Mau minum susu dulu." Aurora duduk di sofa dekat ranjang Arumi dan mulai minum susunya sedang Archilles Lucca naikan tirai pelan-pelan.
Rambut istrinya muncul sangat lebat.
"Suhu lebih panas di luar. Bisakah Anda segera bangun dan kita bepergian ke São Jhacinta?! Aku belikan sekop dan perkakas lain untuk Aurora. Kita bisa membangun istana dengan banyak menara."
Usapan jempol pada alis Arumi, satu arah dan ia melayang di atas wajah Arumi. Amati dan penyesalan selalu mencambuknya tanpa henti. Tak bisa ia deskripsikan.
"Lupakan aku! Tak masalah, mari bangun. Aku bisa melakukannya lagi, buatmu jatuh cinta padaku."
Dia ..., di atas mata-mata istrinya dan menunduk. Hadiahkan kecupan. Menunggu.
Tanpa reaksi. Selalu seperti itu setiap pagi, nantikan keajaiban. Karena tak ada apapun, ia mulai rutinitas bersihkan tubuh istrinya sedang Aurora ..., ada perlengkapan menggambar. Bocah itu mulai mencoret- coret lembaran putih. Bunga dan taman berisikan rumput yang paling gampang dibuat. Berbentuk V tambahkan satu dua garis di dalam v dan di luar lalu akar ke arah berlawanan. Lama-lama menjadi rerumputan. Kemudian gambar orang-orangan. Dalam bentuk kerangka.
"Apa yang Aurora lukis?" tanya Archilles tersenyum. Sedang tangan mengusap wajah istrinya dengan wash lap lembut, matanya melirik Aurora yang sangat serius menggesek pensil lilin di tangannya.
"Kita," sahut anak itu pelan.
"Kita?" Penasaran.
"Mama, Papa, Au. Izik, Kei, Tatia di taman."
"Apa yang kita lakukan di taman?"
"Pinik!" jawab Aurora cepat.
"Great!"
"Papa selesai? Au mau jalan-jalan sama Papa, boleh?"
Archilles Lucca terkejut.
"Uhhum ..., tetapi setelah habiskan bubur wortelmu."
"Wotel tidak enak."
"Itu bagus untuk mata."
"Why?"
"Ada vitamin dalam wortel yang bisa buat mata Au sehat."
"Why tidak di jeli? Au bisa makan banyak jeli. Wotel tidak enak."
"Coba rasa dulu!
Archilles datangi Aurora, lihat apa yang dilukis puterinya. Bulatan dan garis membentuk seorang wanita berdiri terpisah dari kumpulan bulatan dan rangka lainnya seakan butuh waktu datangi kelompok.
"Ini Mama."
Archilles mengerut. "Why Mama tidak sama-sama dengan kita?"
"Nanti Mama datang! Mama suluh Auu tunggu Mama."
Archilles Lucca bentangkan tangan dan memeluk Aurora. Ia tak bisa jelaskan apa yang ia rasakan. Segera ggendong puterinya pergi ke ruang tengah.
Keduanya berbagi sarapan. Setelahnya Dokter Joseph ditemani Ayshe akan lakukan kunjungan rutin mengecek dan memeriksa kondisi istrinya. Archilles tidak ingin bertanya, atau mencari tahu. Saat Narumi bangun, ia percaya hukuman pun selesai.
Ayshe ceritakan banyak hal yang ia lewatkan, bagaimana kekasihnya habiskan tujuh tahun dalam nestapa termasuk sebuah rekaman yang ditinggalkan Narumi pada Dokter Joseph. Walaupun, Dokter Joseph akhirnya berpihak padanya dan yakinkan dirinya bisa dengarkan wasiat Narumi Vincenti, Archilles Lucca terlalu takut hadapi kenyataan.
Tinggalkan Dokter Joseph, Archilles membawa Aurora berkeliling di halaman belakang. Atap merah, pantulan mentari pagi, udara segar dan kota di bawah sana, ingatkan dirinya suatu hari indah, di mana, mereka berdempetan dalam elevator Santa Justa untuk bersua Convento do Carmo.
Di antara tiang-tiang mengesankan berdiri tanpa atap, permadani rerumputan dan romantisme tak lekang, kekasih belia jatuh dalam pelukannya. Telah proaktif dan berani langgar aturan. Dia ingat pernah miliki perasaan istimewa. Merasa paling beruntung karena dicintai gadisnya. Ia tengadah pada puncak-puncak ranting di mana cahaya masuk lewati celah dan beriak diterpa angin kemarau. Air matanya mudah luruh.
"Papa!"
Aurora berlari kecil padanya dengan satu kuntum bunga kuning yang dipetik dari sisi taman saat ia sibuk melamun. Tangan-tangan kecil selipkan bunga pada kupingnya dan menilai.
"Cantik di Papa. Satu ini buat Mama."
Archilles Lucca tak menyahut. Puterinya prihatin dari caranya bertanya.
"Papa haus? Huh? lapal? Mau stik jagung? Nanti Au bagi Papa."
Archilles Lucca menggeleng. Aurora mengusap mata basah gunakan jari ibu mungil, kibaskan pada roknya. Lakukan lagi hingg Archilles merasa baikan.
Tiba-tiba, ia dengar suara Ayshe berseru memanggil nyaring.
"Tuan Lucca!"
Gemanya memantul.
"Tuan Lucca!"
Archilles berpaling cepat, temukan Ayshe berlari ke arahnya. Muka agak panik. Archilles segera menegang.
"Ayshe ..., ada apa?"
Archilles Lucca meraih tangan Aurora. Pikirannya segera fokus pada istrinya tetapi tak bisa buat puterinya ketakutan.
"Ayshe ..., ada apa?"
Ayshe butuh waktu. Napas dihela lalu ulurkan tangan pada Aurora.
"Nona ..., dia bangun ..., Archilles Lucca!" Diliputi haru biru, suara Ayshe bergetar.
Archilles Lucca menoleh ke arah rumah lalu kembali pada Ayshe. Ia bersyukur tetapi juga cemas.
"Dokter Joseph memanggilmu, Archilles Lucca. Biarkan Nona melihatmu," suruh Ayshe. "Nyonya Salsa dan Tuan Laurent akan segera datang," tambah Ayshe.
Archilles Lucca terpaku sekejab.
"Apakah semua akan baik-baik saja, Ayshe?"
Yang ditanya telah menangis menganak sungai.
"Bening atau buram hadapi saja, Archilles. Kurasa ini sepadan dengan apa yang telah kamu tinggalkan padanya. Mungkin tak akan pernah setara. Dia menangis kesakitan di malam pernikahan orang tuanya. Gadis enam belas tahun itu sangat terluka. Aku duduk di ambang pintu kamarnya dan diam-diam dengarkan tangisannya sepanjang malam. Aku pikir tangisan tanpa lelah cuma ditujukan untukmu. Dia sangat mencintaimu. Sungguh mengesalkan karena tak ada yang bisa kulakukan bahkan hanya untuk menghapus air mata Nona. Ibunya, Ayahnya, kakaknya menyakitinya. Mungkin, ia bisa atasi itu. Paling tak bisa diterima, seseorang yang paling ia andalkan berikan ia penderitaan. Aku tahu, karena aku membaca surat Nyonya Nastya atas namamu untuk Nona."
Ayshe hapus air mata. "Bagaimanapun ini telah lewat, Anda telah bersama Nona."
"Apa yang harus aku lakukan andai Nona lupakan aku?"
"Mungkin secara medis. Selalu ada keajaiban dari dua orang yang saling mencintai. Aku yakin kamu selamanya hidup dalam hatinya dan tak ada satupun kekuatan yang bisa lenyapkanmu dari pikirannya."
Archilles Lucca melangkah pulang. Aurora memeluk lehernya erat.
Apakah akan baik-baik saja?
Dalam tiga puluh menit, ia bicara dengan dokter Joseph Nafas tentang terapi ke depannya sedang keluarga telah berkumpul. Salsa dan Laurent Vincenti dalam ruang tidur Narumi.
"Operasi kemarin cukup berhasil, dan jika Anda ingat, kau mengatakan kemungkinan-kemungkinan. Hadapi apapun itu!" saran Dokter Joseph tahu bahwa Archilles Lucca ketakutan, istrinya tak ingat apapun tentangnya.
"Apakah dia ...." Terputus.
"Pemeriksaan akan dilakukan berkala, Tuan Lucca. Nyonya baru bangun dari tidur panjang dan kita akan kembalikan fungsi organ tubuhnya perlahan. Berbaring di ranjang selama berminggu-minggu cukup lemahkan fungsi sebagian besar organ tubuhnya. Nyonya tidak bisa bicara dengan normal atau mungkin akan kesulitan bicara beberapa waktu."
"Aku mengerti, lakukan yang terbaik untuk membuatnya pulih." Archilles Lucca diam beberapa waktu.
"Temui istri Anda. Berbincang dengannya seperti sedia kala."
"Ya."
Archilles Lucca kemudian bergabung bersama yang lain. Ranjang tidur istrinya telah diatur ke posisi setengah duduk hingga Narumi bisa melihat kedua orangtuanya juga saudaranya yang lain. Anak mata istrinya bergerak kosong dan bingung.
Dokter Joseph Nafas berikan pengarahan, tes fisik sederhana dan respon.
"Kedipkan mata Anda sebagai jawaban 'Ya' dan dua kali sebagai 'tidak' untuk setiap perintah dariku!"
"Apakah Anda bisa melihatku?"
Kedipan pelan.
"Mendengarku?"
Satu kedipan.
Begitulah pada akhirnya Dokter Joseph Nafas berikan pujian dan dari ekspresi senang beliau, Archilles Lucca tahu bahwa istrinya baik-baik saja.
Tuan dan Nyonya Vincenti putuskan menginap bersama mereka termasuk Aizen dan Hanasita.
Archilles Lucca suapi Arumi makanan halus sedang istrinya terus menatapnya dengan hanya beberapa kedipan. Narumi hanya bisa makan tiga suapan. Infusnya kembali dipasang.
Archilles Lucca hilangkan canggung di bawah tatapan curiga, menggendong Aurora dan bawa Puteri mereka ke dalam ruang tidur. Pindahkan ranjang Aurora ke dekat ranjang mereka dan mulai bacakan dongeng. Jelaskan pada Aurora bahwa mama tidak begitu bisa diganggu sementara ini. Aurora meskipun cepat paham setelah diberi 'pengertian' oleh Ayshe tampak sedih karena Mama bangun tetapi tak mengajaknya bicara.
"Mimpi indah, Papa."
Archilles selesai bacakan cerita Odette Swan Lake dan Pangeran.
"Mimpi indah, Aurora." Sebuah kecupan di kening lalu selimuti tubuh bayi. Archilles Lucca hampiri istrinya, duduk di tepian dan meraih tangan pucat. Ia mengecup sedikit di punggung tangan. Di tangan lain istrinya sebuah recorder digenggam.
"Apa kabarmu?" tanya Archilles pelan. "Ini musim panas. Apakah kamu mau aku biarkan jendelanya sedikit terbuka?"
Tatapan mata sapukan pada tangan Archilles Lucca. Amati cincin di jari-jari mereka kembali pada Archilles Lucca. Tak berkedip pindai mata Archilles.
Tak ada sahutan. Archilles Lucca hampiri pintu ke sebuah taman kecil, menggeser pintu sedikit.
"Mau dengarkan isinya?" tanya Archilles lagi pada Arumi.
Masih tanpa sahutan. Lalu, tangan perlahan terbuka dan Archilles meraih benda itu. Rekaman diputar.
"Hai, jika kamu dengarkan ini berarti kita telah berhasil lewati hari-hari buruk. Namamu adalah Narumi Vincenti dan kamu punya seorang Puteri cantik bernama Aurora. Sahabat setiamu adalah Brelda Laura. Kamu akan percaya pada apapun yang dikatakan Brelda. Kamu menikahi Xavier Seth Moon. Em, soal ini ..., kamu akan minta petunjuk dari Brelda dan Aurora karena sepupumu dari Càrvado suka melihatmu menderita. Dia mungkin mengacaukan pernikahanmu. Namanya Archilles Lucca. Hati-hati kalau kamu bertemu dengannya. Dia mungkin ingin mencelakaimu."
Wajah Narumi menegang begitupula Archilles Lucca. Menurut Dokter Joseph Nafas. Rekaman dibuat di hari yang sama saat perjanjian di antara Narumi dan pihak Rumah Sakit dibuat. Itu pertanda, Narumi telah berniat melupakannya.
"Orang yang paling mendukungmu adalah Ayahmu, Tuan Laurent Vincenti. Kakak perempuanmu Marya Corazon. Adikmu Hanasita Minori dan Aizen Ryota Vincenti. Dan Young Vincenti, saudaramu yang lain. Ayshe adalah seseorang yang paling bisa kamu andalkan. Silahkan putar rekaman berikut untuk dengarkan suara mereka. Video mereka dalam folder BFF di ponsel."
Rekaman kembali diperdengarkan.
"Oh, ya Narumi Vincenti ...."
Suara Arumi terdengar bimbang dan ragu-ragu.
"Kamu miliki seseorang di masa lampau yang mengubah kehidupanmu dan dirimu sepenuhnya. Kamu sangat mencintainya."
Berpikir, menimang.
"Dia adalah pengawalmu. Kamu mungkin tak akan mengenalinya lagi karena kamu putuskan untuk melupakannya."
Diam atau membendung isakan. Sesak lalu umpatan.
"Aku tidak mengerti, mengapa perlu bawa dia juga ke dunia kita yang baru. Aku hanya terlalu mencintainya dan tidak rela membuangnya di belakang."
Archilles Lucca menggigit bibirnya sendiri kuat-kuat.
"Jika kamu menatapnya dan rasamu seperti hangus terbakar, dia adalah orangnya."
Mata Arumi bergerak pada Archilles Lucca. Mencari tahu.
"Hiduplah dengan baik dan bahagia Narumi Vincenti."
***