
"Tunggu aku di luar! Ruangan steril ini adalah tempat operasi. Kau tak boleh ada di sini."
"Please, Anna. Aku perlu menemaninya." Tatiana duduk di sebuah kursi, di pojok, memeluk kedua lutut. Dirinya sendiri terluka, diabaikan.
"Keluar! Aku harus lepaskan pakaiannya."
"Aku akan tetap di sini."
"Tatiana, aku bukan wanita sabaran! Tolong menyingkir dari sini dan temukan sesuatu untuk dilakukan."
"Tak masalah bagiku dia t3l4nnj4n9. Kami pernah bersama suatu malam. Aku berharap punya bayi cantik dengannya bernama Sydney."
"Berhenti membual, please! Dibanding semua pria terdekatku, pria ini terbaik yang kumiliki dan dia bukan pria sembarang berha4sr4t. Kamu baru saja kabari aku kebohongan. Semoga tak kau teruskan pada Arumi Chavez. Aku sungguhan akan bertindak."
"Tuhan, tolong selamatkan Archilles Lucca. Aku mohon."
"Bukankah kamu pemuja setan sampai akhir tahun lalu? Apa kamu beragama sekarang?" Anna Marylin tampak terpukul dibalik masker. Suaranya bergetar. Walaupun tangan bergerak, dia sedang kendalikan diri sendiri untuk tidak gugup.
Anna Marylin gunakan cairan bersihkan wajah yang hitam keabu-abuan, cokelat, merah keputih-putihan, dari butiran-butiran benda asing.
Plat paling besar telah diangkat, Tatiana tak sanggup harus melihatnya dengan kegundahan yang tak bisa dikatakan. Wajah pria itu matang dan sebagian kepalanya tanpa rambut akibat terbakar.
"Tidak ada salahnya percaya Tuhan. Nanti, jika ternyata Dia tak ada, aku tak akan rugi. Tetapi, aku tidak ikut salah satu agama. Mereka memuakkan. Berdebat di jalanan, menghujat satu sama lain untuk pertahankan merekalah yang paling benar. Padahal, Tuhan ciptakan udara yang sama bahkan yang dihirup kaum iblis."
"Kamu bicarakan masalah s33ns11tlf, Tatiana."
"Kamu bertanya, Anna. Apakah kamu gugup? Bisakah beritahu apakah dia akan baik-baik saja?"
Suatu waktu ada suara orang bercakap-cakap terdengar di sekitarnya. Archilles Juga menangkap bunyi mesin berdenting. Irama dari detak jantungnya sendiri. Bunyi mirip air mengucur. Apakah itu tenggorokannya?
Tak ada rasa apapun hanya sesuatu yang kadang menggelitik di kulit. Bertanya dalam kegelapan, apa yang terjadi? Ia tak melihat surga atau neraka, cuma kehampaan.
Suara teman-temannya kembali.
"Tatiana ..., berhenti menyentuh daging dan darah manusia dengan lidahmu. Kamu manusia meskipun omnivora bukan pemakan sesamamu. Lama-lama kamu akan kecanduan. Kau bisa berubah jadi k4n1b44l. Dan aku tak akan perkenalkanmu pada puteraku."
"Anna, apa dia akan baik-baik saja? Daritadi, kamu memutar kemana-mana hindari pertanyaanku. Apa dia baik-baik saja?" Si gadis kucing, temannya. Tertangkap mendesak temannya yang lain menyahuti.
Anna Marylin tak membalas.
Dia kembali tidur. Selama ia bersama Anna Marylin, segalanya okay.
"Archilles Lucca, ini bekalmu. Tolong dihabiskan."
Dari kaca besar di ruang tengah, Archilles melihat Martha Via mengisi kentang halus yang dimasak dengan susu dan keju ke dalam kotak bekal. Archilles tak akan melihat menu pendamping si bubur kentang. Mungkin telur walaupun ia sangsi. Ia tak cium aroma telur. Mereka cuma punya makanan sederhana. Ibunya kesulitan membeli telur sedang ayam mereka belum bertelur. Beruntung, Martha Via pandai memasak.
"Terima kasih, Martha. Apa aku pernah kembali dengan bekal masih tersisa?"
"Anak baik. Kamu butuh uang jajan?"
Hidupnya indah jika hanya dirinya dan Martha. Dia hanya pria kecil yang tak suka Ibunya dipukuli Raul.
Archilles Lucca merogoh saku celana seragamnya. Uang dari hasil membantu tetangganya yang punya ladang memanen wortel telah raib. Ia tak akan buat Martha gelisah. Tahu pasti bahwa Raul Lucca mencuri uang darinya untuk beli rokok.
"Yang kemarin masih ada." Dia berbohong pada Ibunya. Apakah hari ini masih ada ladang yang akan panen?
"Oh, Sayangku. Aku menggoreng keripik buncis dan menaruh sedikit saos pedas sebagai ganti jajan."
"Terima kasih, Mom. Anda yang terbaik." Archilles masuk ke kamar tidur sempit. Tak bisa jelaskan kecewa pada Raul.
"Aku akan bekerja sampai nanti menjelang makan malam. Restoran di kota butuh tenaga mencuci perkakas. Jangan keluyuran sepulang sekolah dan tolong jangan berkelahi, Archilles Lucca. "
"Aku berkelahi kalau diajak."
"Lihat aku!" Martha Via tahu-tahu di pintu masuk.
"Kau dilahirkan bukan untuk jadi preman. Ayahmu tak akan suka dan kau tahu kejadian selanjutnya."
"Baiklah."
"Kunci pintu kamarmu saat Raul datang dan dia mungkin mabuk. Aku mencintaimu, Archilles Lucca, Pangeranku."
Dari sekian banyak pria dewasa di bumi ini, tolong beritahu dirinya. Mengapa Raul Lucca jadi ayahnya? Mengapa Tuhan sangat jahat padanya.
Dokter Cheryl masuk memakai seragam Scrub Suits. Tak heran melihat orang lain di dalam ruangan itu selain Anna Marylin. Segera mengganti infus, kolaborasi cairan intravena dan elektrolit.
"Bagaimana hasil labnya?"
"Peningkatan Hematokrit, Leukosit, kalium, albumin serum, kreatinin." Dokter Cheryl menghela napas panjang. "Tuan Hellton Pascalito jauh lebih baik darinya. Dia juga terpapar radiasi elektromagnetik dosis tinggi di lengan dan kakinya. Mungkin akan alami cidera inhalasi," tambah Cheryl suram.
"Aku ingin berhenti dari dokter agar teman-temanku tak berpikir turun ke peperangan dan terluka."
"Turut berduka cita, Anna. Dia pria yang baik."
"Aku akan menyelamatkannya," kata Anna tenang memantau aktivitas monitor tujuh parameter yang tanda-tanda vitalnya tidak begitu bagus. "Sisanya kita akan serahkan pada bagian lain yang lebih ahli."
"Apa yang terjadi?" tanya Tatiana ulangi lagi.
"Tak bisa bayangkan apa yang akan terjadi jika Arumi Chavez melihatnya begini. Gadis kami akan hancur."
"Kamu lebih peduli pada Arumi Chavez dibanding aku." Tatiana meremas kedua jemari tangan. Sangat kacau sepanjang lirikan Anna. Patah hati, marah, sedih dan entah apa lagi.
"Kamu jauh lebih dewasa dan kuat, Tatiana. Arumi Chavez hanya gadis lima belas tahun. Dia tidak akan siap untuk ini. Terlebih mereka akan menikah. Gadis itu mungkin akan sangat terguncang."
Dokter Cheryl pelan-pelan bersihkan bagian tangan, mengatur dengan lipatan pemisah ditiap jemari. Ia kemudian mengambil gunting, memotong celana Archilles. Sebagian paha pria itu hangus terbakar. Juga dada sebelah kiri.
"Apakah dia akan baik-baik saja?" tanya Tatiana rendah. "Apakah dia akan baik-baik saja?" tanyanya lagi tidak sabaran.
"Kerusakan epidermis, dermis dan jaringan subkutan."
"Aku tak mengerti istilah dari duniamu. Tolong aku!" Tatiana mulai kesal.
Anna Marylin murung di meja operasi.
"Kerusakan semua lapisan jaringan kulit. Butuh transplantasi kulit. Juga operasi lebih besar dari itu, rekonstruksi. Mungkin juga penurunan drastis kekuatan bahkan alami kecacatan."
"No! No! No!" geleng Tatiana. Gadis itu mulai menangis. "Kamu membenciku Anna. Kau mengatakan yang tidak-tidak agar aku marah."
Tatiana bangkit dari duduk dekati dua dokter yang bekerja di bawah lampu dan seorang pria terbaring macam orang mati. Mulutnya dipasangi peralatan.
"Jangan mendekat, Tatiana! Mikroorganisme yang melekat di tubuhmu bisa menularinya. Itulah mengapa kau perlu berada di luar sana!" tegur Anna Marylin. "Bukan kamu satu-satunya yang cemaskan hidupnya!"
Tatiana keluar dari ruangan itu. Kakak laki-lakinya di depan bersandar di tembok. Bukan menunggui Archilles tetapi istrinya. Hedgar lebih takut Anna Marylin kabur darinya dibanding kehancuran bumi oleh meteor.
Wajah Hedgar selalu masam setiap melihatnya dan Tatiana selalu kalah cepat hindari tonjokan di wajahnya.
"Auhhh!" Pegangi hidung. Gigi dan gusinya seketika ngilu-ngilu. "Mengapa kau suka menampar dan memukulku?"
"Kamu menangisi kekasih orang lain. Apakah kamu waras?"
"Harusnya kau memelukku!"
"Akan kulakukan kalau kau berhenti terlibat kegaduhan."
"Ingat bagaimana aku terlibat semua ini? Kau bukakan jalan bagiku."
"Cerdas, Tatiana. Lanjutkan!"
"Aku akan habisi temanmu."
"Dengar! Yang akan kamu serang itu Putera Perdana Menteri."
Tatiana menatap kakaknya. "Kamu sudah tentukan pilihan. Aku akan bekerja dengan caraku sendiri."
"Abstain karena puteraku akan lahir. Pergilah dan urus dia menurut kehendak-mu. Jangan sampai tertangkap. Aku tak akan bisa bebaskanmu dari sana. Pria di dalam akan menikahi kekasihnya dan kau mendekam di belakang jeruji bersiap di hukum mati. Begitukah? Aku mungkin gila tapi tak akan sesat sepertimu."
Tatiana terdiam lalu memeluk kakaknya.
"Ini yang terakhir. Mari kita lihat, apakah aku bisa atasi ini tanpa jejak," katanya pada diri sendiri. "Jaga dirimu."
Tatiana melangkah pergi. Ia tak pernah takut pada apapun dan siapapun. Ia juga tak peduli pada apa yang ia perjuangkan. Asalkan ia bahagia setelah melakukannya.
Archilles Lucca adalah cinta dan romansa gelap dalam dunia sakral yang tak bisa dirusak orang asing karena dunia itu diciptakan dirinya sendiri. Archilles Lucca tidak mencintainya tetapi Tatiana bersih keras melakukan apa yang tidak bisa dilakukan pacar Archilles yang masih belia itu untuknya.
"Tatiana ..., akan ada pesta nanti malam di 2020 Night Club."
Suara kakaknya berkata dari belakang. Ia mengangkat tangannya.
"Aku tahu."
Sama seperti ia mengkloning ponsel Archilles Lucca, ia lakukan hal yang sama pada Abercio. Itulah mengapa ia banyak tahu di mana dua pria ini berada dan jika beruntung ia akan dapatkan informasi, apa yang sedang mereka rencanakan dari panggilan dan percakapan. Tidak bisa menyadap lebih dari 40% aktivitas ponsel karena ia akan ketahuan dan dihukum karena merupakan tindakan ilegal.
Pergi ke kondomium mewahnya. Bersihkan diri dari luka dan injeksi antibiotik ke dalam darah. Melirik jam masih sore. Pasang infus dan tidur di sofa. Ia memikirkan Archilles Lucca.
Ponsel pria itu menerima panggilan. Mungkin benar kata Anna. Archilles selalu ingin melindungi Arumi Chavez karena gadis itu cuma terlihat sebagai makhluk hidup sangat rentan disakiti. Butuh perlindungan.
Terpejam.
Ia memakai sepatu boot. Merias wajah lebih natural, memakai wig pirang dan menenteng tas dari brand terkenal setelah mengisinya dengan tas kecil lain berisi perlengkapan kosmetik. Ia memakai kaca mata gelap keluar dari kondominium.
Naik mobil berhenti di sebuah hotel tak jauh dari 2020 Night Club. Check in di sana. Namanya, Queenisera Cleopatra.
"Anda akan diantar ke suite Anda, Nona."
"Seorang pria buta pemain biola akan datang. Biarkan dia masuk."
"Baik, Nona."
Melangkah anggun, mata elangnya menyasar kamera CCTV. Satu jam sebelum makan malam, seseorang bunyikan bel suitenya.
Tatiana memeriksa. Si pria buta ini, menenteng tas biola berdiri di muka pintu. Tetapi, ada yang tidak beres. Tatiana memeriksa ponsel. Dia bukan Charles, si buta yang biasa mainkan biola untuknya.
Menelpon.
"Nona ..., aku sedang terserang flu. Aku tak bisa datang. Temanku dari grup musik gantikan aku. Dia disabilitas sama sepertiku dan telah membawa biola-ku. Anda bisa andalkan dia."
"Siapa namanya?"
"Marcos."
"Baiklah!"
Tatiana membuka pintu.
"Marcos ..., selamat datang."
Si pria gunakan tongkat meraba jalan. Menuntun diri sendiri masuk ke dalam suite. Tatiana menandai bahwa biola dan tas biolanya adalah memang milik Charles.
"Charles sedang sakit. Dia minta aku gantikan dirinya. Mulanya aku menolak karena aku cemas. Permainan kami beda."
"Bisakah lepaskan kaca matamu?"
"Ya."
Marcos hendak naikkan tangan.
"Biarkan saja," cegah Tatiana. "Maaf membuatmu tidak nyaman. Apa kamu sudah makan malam?" tanya Tatiana.
"Belum."
"Mainkan satu dua lagu lalu kita makan malam."
"Baik, Nona. Aku tidak heran, Charles sangat menyanjung Anda."
Marcos menggeser resleting tas. Keluarkan biola dari sana.
"Bolehkah aku menggantung tas biola sekarang?" pinta Tatiana.
"Silahkan, Nona." Marcos memeluk biolanya. Memeriksa dengan tangan. Duduk tegak dengan pandangan lurus khas orang buta.
Namun, insting Tatiana menghirup aroma asing. Atau karena pria ini bukan Charles?
"Apakah Anda tetap inginkan lagu A Thousand Year? Atau mau yang lain? Aku punya sebuah lagu yang baru aku pelajari. Lagu lama tetapi aku cover ke dalam violin game."
"Apa judulnya?"
"Àngel." (Malaikat)
"Nanti saja setelah A Thousand Year."
"Baiklah."
Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave?
How can I love when I'm afraid to fall?
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow
Tatiana bersandar di sofa, pejamkan mata. Nikmati alunan. Pria-nya sedang berjuang kalahkan maut. Ia akan lakukan hal terakhir untuk Archilles, lenyapkan Abercio Jacquemus.
Kemungkinan, saat Agathias diseret dan Archilles sibuk bertarung, mobil Archilles dipasangi peledak.
Tatiana mengganggu Abercio dan dekati pria itu berencana lupakan Archilles tetapi ternyata yang separuh malaikat separuh iblis hanya Archilles Lucca. Abercio jelmaan sejati iblis. Tak ada nilai tambah. Tak masuk kriterianya. 'Perburuan' pada Abercio berakhir. Archilles Lucca adalah cinta pertama dan abadi.
One step closer
Sekarang waktunya. Tatiana mengambil tas biola. Ia menggantung di suatu tempat dan keluarkan isi lain dari saku tersembunyi. Salah satu bagian dari senjata. Mengambil tas kosmetik. Sementara Marcos mainkan nada-nada itu. Lagu ini, kesukaannya.
I have died every day waiting for you
Darling, don't be afraid
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
Melangkah tanpa bising. Pergi ke toilet. Lock. Keluarkan parfum. Naik di dudukan kloset. Berdiri di atas westafel. Membuka penutup AC, keluarkan spare part lain. Turun dan mengambil part terakhir dari belakang dudukan closet. Merakit sangat cepat menjadi senjata. Memeriksa ponsel, Abercio tiba di 2020 Night Club.
Lantai 1,2,3,4,5,6 ...
Gunakan sarung tangan, masker. Mendekat ke ventilasi. Lepaskan kalung. Tutupan liontin dibuka. Tuangkan serbuk dari dalam, bubuk alumunium oksida keramik, pada kaca ventilasi. Gunakan pemotong kaca tajam membuat lingkaran. Letakan moncong penyedot pada kaca dan menekan b4t4N9 pipet. Lingkaran kaca berhasil ditarik ke dalam sisakan lubang. Masukan moncong senjata laras panjang.
Ciptakan posisi mengintai. Temukan Abercio. Pria itu bersama seorang wanita. Mantan agen rahasia, Veronica Letra. Yang kini bekerja sebagai agen ganda. Tetapi, Tatiana ragukan misinya.
Dalam satu kali lepasan, peluru lintasi ratusan meter di udara. Sedang di bawahnya kendaraan hilir mudik. Tak ada yang menyadari.
"Selamat tinggal, Koi! Tunggu aku di neraka."
Tatiana segera menarik senjatanya. Semprotkan cairan dari botol parfum ke keliling kaca. Pipet aplikator posisikan kaca di ventilasi hingga tertutup lagi. Ia butuh mengurangi tampilan visual bekas potongan. Semprotkan cairan sejenis salah satu tipe resin. Jangan tanya darimana ia dapat. Dark Web.
Empat menit pertama hampir habis. Tempo permainan violin diperlambat. Bukan gaya Charles. Marcos jelas seorang yang suka drama.
I'll love you for a thousand more
Tatiana melompat turun. Sangat cepat pisahkan bagian senjata. Menyimpan kembali ke tempat semula. Dia menghapus sidik jari hampir di semua tempat. Membuang segalanya ke dalam lubang kloset dan hilangkan jejak. Ia mencuci tangan. Kalungnya disterilkan dan dipakai kembali.
Keluar tepat lagu A Thousand Years akan berakhir. Tetapi, tak ada pria itu lagi.
Marcos.
Seorang pria di sana. Bermain biola. Nikmati lagu. Gesekan penutup. Mata terbuka. Letakan biola hati-hati di sisi tanpa lepaskan pandangan.
Tangan terbuka, bersandar di sofa bentangkan lengan pada punggung sofa. Kaki satu bertumpu di atas paha dan dia hanya amati Tatiana.
"Apakah kamu berhasil?" tanya si pria tak lama berselang bersuara berat berbeda dengan suara Marcos. Ia belum pernah dengar yang seperti ini. Bass cantante, rendah, agak serak dan seakan ia mendengar harmoni suara Adam. Suara pria dari para pria.
Helikopter terbang di atas mereka, sirene ambulance, mobil polisi dan entah apa lagi.
"Perfecto!" Dia bertepuk tangan antusias.
Tatiana waspada. Ia kenali pria di depannya tetapi tidak yakin.
"Mau dengar lagu lain?"
Tak ada sahutan. Pria itu bangkit dari duduk. Dia adalah Marcos yang menyamar.
"Harusnya periksa mataku."
"Aloizio Jacquemus," sahut Tatiana. "Senang bertemu denganmu. Aku lenyapkan adikmu."
"Interesting!" sahut si pria meraih senjatanya.
Namun, Tatiana telah melesat cepat ke kamar mandi, menutup dan mengunci pintu. Ia keluarkan pistol berperedam dari gulungan handuk. Menunggu. Tak ada suara apapun. Tatiana matikan lampu.
Pintu dibuka perlahan. Di luar gelap gulita. Ia melangkah keluar. Merapat ke dinding. Pergi ke arah ia menggantung tas biola. Satu tangan mer44ba. Walaupun inderanya bekerja keras, tak bisa hindari tangannya dipukul keras dengan biola hingga pistolnya jatuh dan menggelinding entah kemana. Ia kemudian dicekik. Tatiana gunakan kakinya menyasar jantung penyerangnya. Si pria terjatuh ke belakang. Tatiana ikuti bunyi. Menyusul ke sana. Kakinya di terkam dan ia terjerembab jatuh. Kaki lain yang bebas menekuk lalu menendang dalam kegelapan. Kenai dagu si pria. Cengkeraman padanya terlepas.
Hanya satu cara agar bisa tahu di mana musuhmu. Dengarkan napasnya. Tatiana membekap mulutnya sendiri. Bergerak pelan mundur. Tabrakan. Lengan kuat menyandera lehernya. Moncong pistol di sisi rusuknya.
"Apa lawanmu kini seimbang?" tanya si pria mengatur napas.
Ting Tong!
"Makan malammu datang," kata si pria tak longgarkan cengkeraman. "Bagaimana kalau kamu tidur dulu?"
Itu adalah pistol bius.
***