
Ciuman kedua, Anna membuka matanya. Hedgar menolak gunakan pengaman, Anna tak menduga akan berakhir begini. Ia terlalu percaya diri bisa jadi penjinak Hedgar.
"Aku tak ingin punya bayi yang miliki penyimpangan seperti dirimu, Hedgar."
"Aku bukan psikopat, Anna. Aku hanya penjahat."
"Tak ada bedanya bagiku."
"H mungkin lebih psikopat dariku! Tak ada rahasia kalau pria itu menyekap dan menyiksa Irish Bella. Aku tak pernah lakukan hal itu pada wanita."
"Kamu pernah menyekap Luna Hugo!"
"Semua orang memancing kemarahanku, lalu mengapa pikirmu aku harus berpangku tangan? Aku perintahkan beberapa orang menculik Luna. Aku tak menyiksanya."
"Bagiku, kamu tetap liar, buas dan mengerikan."
"Begitukah?" tanya Hedgar membelai kening Anna. "Apa yang kamu inginkan, Anna? Aku akan ikuti maumu!"
"Vasektomi."
"No no no," geleng Hedgar di atas bibir Anna, menolak ide itu. "Setiap pria akan disebut jantan dari keturunan mereka."
"Kita tak bisa ciptakan generasi buruk dari gen-mu. Aku bertanggung jawab pada dunia."
Hedgar hentikan cumbuan, menatap mata Anna Marylin, terkesima.
"Saat kamu sembuhkan pasienmu di bawah lorong-lorong gelap, pernahkah kamu berpikir bahwa kamu mungkin selamatkan psikopat?"
Pertanyaan hentikan argumentasi Anna.
"Kamu selamatkan si Tua Bangka, Jhony Thomas? Kamu tahu apa yang pria itu lakukan? Distribusikan gadis-gadis di bawah umur untuk penuhi hasrat kakek-kakek penyuka anak. Kamu selamatkan Young Vincenti. Kamu tahu apa yang bocah itu lakukan?"
"Young hanya suka berkelahi, tidak lebih dari itu!" tolak Anna Marylin. "Aku cukup dekat dengannya untuk tahu, apa yang dilakukannya."
"Jadi, apakah kamu pergi ke hutan Pinus bersama Laurent karena cukup dekat?!" Berkemah bersamanya?!"
Hedgar berubah kesal.
"Kita tak akan bahas Laurent atau siapapun yang gunakan jasaku! Mari berhenti."
"Aku menginginkanmu, Anna."
"Karakter anak diturunkan dari orang tua mereka."
"Aku tak bisa menggunting masa depanku dengan alasan apapun. Selamatkan dunia? Kau bisa bicarakan urusan itu dengan Spiderman, Iron Man, Captain America atau kamu bisa mengadu pada Thor, dwarf juga elf. Aku ingin seorang putera juga seorang Puteri yang cantik, seperti Egiana. Aku pemujanya."
"No," geleng Anna kuat. "Jangan gila!" Mengerikan saat bayangan Egiana muncul. Betapa sakit jiwa dan bar-bar. "Tak ada satupun klan Sangdeto yang normal."
Hedgar mengerang tidak suka. Matanya berkilat-kilat.
"Yang kamu bicarakan barusan ..., mereka adalah keluargaku, Anna. Kamu terlalu besar-besarkan segala hal."
Bergelora ketika mendarat di bibir Anna Marylin, tak peduli ditolak datangi pipi dan berakhir di leher Anna.
"Kamu milikku. Setuju atau tidak! Aku tak begitu peduli."
"Kamu sama sekali tidak punya empati. Temperamen-mu sulit diprediksi. Menyingkirlah!" hardik Anna Marylin kasar. "Menyingkir sebelum aku menggigitmu!"
Hedgar lekas tertawa di atas hidung Anna Marylin. "Oh ..., ya?! Mungkin kamu benar, aku psikopat? Mengapa aku ingin kamu menggigitku, Anna?"
"Aku tak keberatan kamu mengebut dengan banyak wanita. Pergi saja, temui mereka. Bukankah kamu punya banyak 'Anna'?!"
"Bagaimana ya ..., aku hanya mau dirimu!" Menggeser tali br** dari pundak Anna, pergi ke sana. "Kita bisa bercinta tanpa banyak pikiran."
"Tak semudah itu."
"Lalu?"
Hedgar akan membungkuk ketiga kali saat sebuah peluru melabrak kaca jendela ruang tidur mereka.
Pranggg!!!
Menembus kaca jendela mengarah ke taman belakang.
Pranggg!!!
"Owh, f***!!!"
Sebuah suara berteriak memecah keheningan.
"Hedgar?! Hedgar?! Brengsek kau, keluar kau!!!"
Hedgar refleks berguling, bawa Anna serta, jatuhkan diri ke sisi ranjang. Menarik Anna ikut, mendekap Anna erat.
Baku tembak di bawah sana.
"Hidupmu sangat pengap, Hedgar!" Anna Marylin berdecak coba lepaskan dirinya sendiri.
"Oh Sayangku ..., ini dunia kita. Akhir pernikahan ditandai peluru, malam pertamaku diganggu peluru. Nyanyian peluru buatku semakin berhasrat padamu, Anna."
Hedgar mulai ciumi Anna.
"Hen ..., tikan!" tolak Anna saat kedua tangannya bebas. Namun, pergelangan tangan segera terperangkap di sisi tubuh.
"Biarkan saja Itzik Damian bekerja. Aku tak bisa menunda milikimu, Sayang!" Tangan Hedgar lekas turunkan penutup selimut, sedikit, sebab takut Anna Marylin menyerangnya. Hedgar kembali buas.
"Kau tidak waras!" keluh Anna sementara di luar terdengar letusan senjata menguntai tanpa henti. Tak lama hening. Ada perkelahian. Hedgar tak peduli. Merayap di atas rahang-rahang Anna, pergi ke kuping kembali ke bibir. Anna yang menggeliat coba lepaskan diri buat Hedgar semakin membara.
"Hen ... tikan!"
"Ayolah, Anna!"
"HEDGAR? DI MANA KAU, BRENGSEK?"
Hentikan cumbuan.
"Aku akan memenggal setan yang berani mengganggu malam pertamaku. Apakah dia tak tahu pestanya telah lama usai?"
Hedgar berguling ke samping, menarik Anna Marylin ikut bersandar di depan almari. Hedgar temukan kemejanya.
"Pakai ini!"
Meraih senjata dari sisi lemari.
"Sayang, ada sedikit masalah. Akan aku urus," ujar Hedgar tinggalkan Anna, menggeser ranjang, mengatur serapi mungkin. Mengetuk dua kali, vinyl-vinyl kayu pada lantai bergeser. Sebuah tangga spiral terlihat.
"Pergi ke bawah! Aku akan menyusul!" Hedgar mendorong Anna ke pintu masuk tangga. Anna Marylin melihat kesempatan bagus untuk kabur. Buru-buru turuni tangga. Dalam kegelapan, kakinya terantuk-antuk, tangannya pegangi sisi dinding. Pandangan gelap di depan sana, gambaran sempurna kehidupan pernikahannya bersama Hedgar.
"ANNA?! ANNA MARYLIN?!"
Sebuah suara bergema. Sepertinya si penyerang ini berhasil jatuhkan semua orang-orang Hedgar.
Langkah Anna terhenti, mengumpat. Mengapa pria itu datang kemari?
Sh****!!! Shi****!!!
Anna Marylin terpaku beberapa menit ..., tahu bahwa Axel Anthony yang datang. Hedgar sangat suka bertarung sedang Axel Anthony tak kenal takut. Jika Hedgar mati maka Anna akan bersyukur, tetapi bagaimana jika Axel Anthony mati di tangan Hedgar?!
Anna Marylin berlari naik separuh panik hanya untuk temukan Hedgar meraih senjata menyeringai penuh gairah membara dari caranya bicara. Mata-mata predator menyala. Pria ..., ciumi senjatanya.
"Aku akan membunuhnya, memenggal kepalanya dan mencincangnya. Aku akan kirimkan potongan tubuhnya pada H, pada Raymundo Alvaro dan Pequeena Mendeleya. Mari menangkan pertarungan ini, Hedgar. Untuk Fernando dan Egiana."
"Kau berjanji tak akan menyerang teman-temanku alasan aku menikahimu." Anna Marylin menahan tubuh Hedgar. Didorong keras. Tidak putus asa, gunakan kakinya menyerang tungkai Hedgar. Pria itu tersandung jatuh. Anna Marylin menyergap cepat di atas tubuh Hedgar. Mereka bergumul di lantai.
"Apa aku memulainya sekarang, huh? Kamu tak adil padaku, Anna! Aku bersamamu. Kau lihat sendirikan, teman-temanmu selalu memulai segala hal denganku?"
"Kamu menikahiku, Hedgar!" sergah Anna jengkel. "Jelas saja pernikahan kita menyulut amarah Axel Anthony."
"Menyingkir Anna!"
"Tidak!"
"Jangan buatku marah! Apa aku perlu menembakmu juga?"
"Ya, lakukan! Kau berani? Aku salah satu dari teman-temanku, Hedgar! Habisi aku, dengan begitu aku tak perlu melihat kalian saling menyerang!"
Hedgar berbalik menindih Anna.
Brak!!!
Vas terjatuh dari meja saat kepala Anna tanpa sengaja terbentur kaki meja. Anna meringis sakit.
"Anna?" Hedgar meraih Anna padanya, menjadi sangat murka. Ia menendang meja dengan kakinya hingga timbulkan kegaduhan.
"Anna?! Apa kau di dalam?!" ketukan di pintu, coba dibuka. "Anna menjauh dari pintu!"
Emosi Hedgar tersulut penuh, butuh dimuntahkan, satu-satunya jalan adalah perkelahian. Tangan pria itu gemetaran meredam setiap gejolak, menggeram arahkan senjata pada pintu.
"Hedgar, jangan lakukan ini! Mari kita pergi!" Anna Marylin pegangi tangan Hedgar yang gemetaran, mengelus pelan, Memaksa Hedgar alihkan pikiran dari senjata hanya menatap pada Anna.
Tanpa diduga lakukan sesuatu alih-alih mengumpat pada Hedgar. Anna mencium Hedgar, sangat pelan. Tangannya pergi ke jantung Hedgar yang berdetak keras oleh ledakan adrenalin. Ia membelai tengkuk Hedgar sangat halus.
"Lihat aku, Hedgar. Kita akan pergi ke lorong, berlari di dalamnya."
Mata-mata buas perlahan surut. Anna Marylin kembali membelai rahang-rahang mengeras.
"Mari kita pergi dan bersama malam ini!" Anna bersinar lembut. "Ikut denganku! Bukankah kamu ingin pergi ke Padang yang tenang? Aku akan menuntunmu ke sana!"
Seakan tersihir, Hedgar bangkit dari duduknya ikuti Anna.
"Kita tak butuh senjata, Hedgar! Tinggalkan saja di sini."
Anna meraih jaket yang terlihat, satukan jemari mereka. Ia membawa Hedgar turuni tangga masuki kegelapan. Mereka sampai pada labirin. Hedgar menekan tombol dan lantai di atas tertutup tepat ketika Axel Anthony tembaki pintu masuk ruang tidur.
"Anna?!" seru Axel Anthony terdengar gelisah. "Anna?!" Sepertinya memeriksa ruangan.
"Ax, kau temukan Anna?" Suara Lucky Luciano bertanya.
"Dia membawa Anna pergi!"
"Atau ..., sebaliknya," sambung Lucky Luciano sepertinya memeriksa senjata. "Mari kita pergi, Ax. Dia tak akan macam-macam pada Anna. Dia tahu akibatnya!"
Suara-suara teman-temannya kemudian buram. Anna Marylin pegangi tangan Hedgar, mulai menyusuri lorong.
"Aku akan diteriaki pecundang karenamu!" ujar Hedgar lekas kumat marahnya.
"Pecundang lebih tepat bagi orang yang selalu gunakan senjata untuk lampiaskan emosi mereka," balas Anna. "Di mana tempat ini akan berakhir?"
"Hutan Pinus."
"Hutan Pinus?"
"Ya, mengapa kamu bersama Laurent di hutan Pinus?" Hedgar hentikan langkah Anna hempaskan Anna padanya, menggiring Anna ke dinding, menekan ke sana.
"Laurent terluka, aku dipanggil ke sana!"
"Berkemah di sana dengannya?"
"Laurent membual! Hei ..., apakah aku perlu jelaskan padamu kehidupanku di masa lampau?"
"Kamu, istriku sejak hari ini! Kamu tak akan sembuhkan musuhku," ujar Hedgar pegangi tangan Anna Marylin kuat, "Terlebih Laurent Vincenti dan puteranya."
"Mereka musuhmu dan bukan musuhku!"
"Kamu istriku sekarang!" bisik Hedgar marah.
"Baiklah, aku berjanji! Apakah kamu berjanji tak akan mulai perburuan menyebalkanmu pada teman-temanku? Kamu suamiku sekarang ..., teman-temanku adalah teman-temanmu?"
Hedgar mundurkan kepalanya menjauh.
"Berjanjilah padaku!" tuntut Anna pegangi kepala Hedgar kuat kembali ke arahnya. Dalam gelap Anna bisa rasakan penolakan Hedgar. Ini paling penting. "Bahkan tak boleh membunuh orang selama kita menikah. Jika, kamu kedapatan melanggar janjimu, aku akan tinggalkanmu bahkan sebelum 365 hari, Hedgar."
"Anna ...."
"Berjanjilah padaku!"
"Baiklah."
Hedgar mengangkat tubuh Anna yang secara refleks silangkan kaki di pinggang Hedgar. Antisipasi Anna secara dramatis memancing Hedgar. Ia memulai kecupan-kecupan kecil, berspekulasi dalam kebutaan pekat. Berubah lebih intens. Pada akhirnya, berciuman dalam lorong gelap. Napas terhempas ke udara pantulkan sensasi berbeda.
Bergerak dari satu sisi ke sisi lain, miringkan kepala. Irama kasar harusnya ciptakan ketidak nyamanan. Dan ada cela saat gigi mainkan peranannya.
"Apakah kamu juga mencium pasien-mu setelah obati mereka, berikan mereka harapan, Anna?" tanya Hedgar tidak suka, cemburu, impulsif dan obsesif. Pria ini spertinya suka mengisi bayang-bayang aneh dalam tengkorak kepalanya.
"Aku tak lakukan hal-hal semacam itu! Tetapi, aku yakin kamu suka bermain bersama para gadismu dalam kegelapan," balas Anna Marylin.
Hedgar menggeram. Menahan tubuh Anna, meraba-raba, temukan yang ia cari. Singkirkan kemeja Anna.
"Aku suka hitam dan gelap."
"Tepat sekali, sangat mahir."
"Tidak ada yang lebih hebat selain bercinta dengan dokter kesayangan orang-orang brutal."
Napas mereka kejar-kejaran. Anna mencengkeram pundak si pria saat tubuh mereka menyatu.
"Aku jatuhkan standarku pada pria buruk di segala sisi sepertimu." Anna Marylin mengeluh.
"Jangan berusaha terlalu keras, Anna. Kamu akan menyukaiku."
"Kecuali kamu berubah jadi bayi manis."
***
Aslinya penggalan dari chapter kemarin dan banyak aku hapus, aku potong karena keraguan.
Nanti aku naruh visual mereka ya.