
Bangun pagi. Ini Selasa. Arumi minta pada kepala sekolah agar ia diijinkan jalani hukuman beda hari dengan Fernanda.
Kepala sekolah diawal menolak permohonan Arumi meskipun Arumi sodorkan jadwal syuting bahwa ia akan berangkat ke Paris akhir pekan ini. Segala hal akan dipersiapkan sejak Kamis sore.
Butuh pertimbangan matang kemudian alasan Arumi mengubah pendirian Pak Theodor. Lagipula Arumi tidak yakin ia dan Fernanda akan baik-baik saja nanti. Fernanda cukup sakit hati padanya. Teman-teman sekelas yang bicara padanya hanya Emilio Chan dan beberapa teman lelaki. Yang lain takut berdekatan dengannya. Mereka juga berhenti bergosip tentangnya. Ada sisi baik dari masalah ini, pikir Arumi menghibur diri.
Arumi menghela napas panjang, hembuskan pelan. Beban di pundak cukup berat. Hari kemarin ia berniat hindari Ethan Sanchez. Tak perlu sebenarnya sebab Ethan ternyata tak datang mencarinya. Menurut Marya, Ethan pulang lebih awal. Arumi semakin kehilangan asa akan hubungan mereka.
Menatap halaman belakang. Kabut putih tipis selimuti area belakang. Mendekat ke kaca. Seakan jadi irama pagi, ia mulai menunggu dalam kesunyian. Ia berharap melihat keajaiban.
Tak ada apapun. Hanya Aorta dan Vena juga para kuda bersama pengasuh istana kuda. Apakah Archilles benaran telah pergi? Bukankah katanya masih seminggu lagi? Itu berarti Archilles tak akan ikut ia ke Paris? Berarti, ia akan pulang dari sana dan tak pernah temukan pria itu lagi. Arumi Chavez mengerang tak suka.
Apakah ada sesuatu yang bisa menahan pengawalnya agar berubah pikiran? Seakan terhipnotis ia keluar dari kamar, bergerak menuruni tangga. Rumah lengang karena Aruhi telah ikut Elgio Durante pulang ke rumah mereka. Rapatkan selimut tipis, Arumi turuni undakan tangga belakang rumah pergi ke kandang kuda.
"Pagi ..., Nona Arumi," sapa Tuan Armen cerah berhenti beraktivitas sejenak. Tuan Armen mungkin tahu ia mencari Archilles Lucca.
"Biasanya dia di sini pagi-pagi dan mengajak Aorta juga Vena menghirup udara segar. Lampu kamarnya padam sejak semalam pertanda Archilles tak ada di mansion," tambah Tuan Armen. "Beberapa waktu lalu, ia mengobrol sepanjang malam dengan Aorta." Tuan Armen kembali menyikat tubuh Aorta sembari bicara. Kuda itu menikmati sentuhan Tuan Armen dari caranya mengibas ekor.
Hari itu jelas hari di mana Archilles katakan akan pergi.
"Tuan Armen, apakah mereka tak kedinginan bermain di luar sepagi ini?" tanya Arumi Chavez dekati Aorta coba tak mengingat Archilles Lucca. Jika ia tak terbiasa sejak sekarang, ia akan kepayahan nanti.
Arumi ulurkan tangan pada kuda jenis Morgan berkulit hitam legam. Sangat jantan dan paling tampan di kelasnya.
"Sebenarnya mereka masih di dalam kandang, Nona. Hanya saja alas tidur mereka berjamur. Aku keluarkan mereka pagi-pagi agar kandang mereka bisa dibersihkan. Hari ini kami mengganti alas tidur mereka dengan serat hemp atas saran Archilles."
"Begitukah?" Ternyata susah, pria itu tinggalkan jejaknya di mana-mana.
"Ya," angguk Tuan Armen memeriksa kuku Aorta.
"Kamu luar biasa tampan, Aorta!" puji Arumi mengelus kening Aorta.
Tuan Armen berjaga-jaga di sisi Aorta. Nona Arumi jarang ke kandang kuda, Tuan Armen tampak waspada Aorta berubah agresif.
"Tuan Armen, kami akan baik-baik saja bersama. Tinggalkan saja kami dan lanjutkan pekerjaan Anda." Arumi berkata sambil terus mengelus Aorta.
"Anda tahu, Nona. Kuda tak muda ditaklukan. Butuh proses lama agar mereka kenali siapa Tuannya. Anda luar biasa."
"Kami telah berkenalan, Tuan Armen. Aku bukan ancaman bagi Aorta." Archilles mengajarinya menyentuh Aorta. Lagi-lagi Archilles.
"Ya, baiklah."
Terlihat bahwa Aorta menjalin hubungan dekat dengan Arumi. Sikap nyaman Aorta juga suara-suara yang diperdengarkan Aorta saat menatap Arumi, yakinkan Tuan Armen untuk tinggalkan keduanya kembali. Pria separuh baya itu kembali mengurus kandang. Sementara seorang pria muda lain sibuk dengan balok-balok jerami dan beberapa ember biji-bijian juga apel merah.
"Aorta ..., apakah kamu punya cara menahan Archilles Lucca agar tidak pergi dari sini?" tanya Arumi pegangi tali kekang Aorta. Menarik Aorta pelan padanya. "Apakah kamu pernah begini sebelumnya? Tiba-tiba punya insting bahwa sesuatu yang buruk akan menimpamu?"
Arumi menatap Aorta yang lantas tenang mendengar suaranya. Arumi menggaruk sisi leher Aorta gemas di bawah surai kehitaman Aorta.
"Atau aku terlalu gelisah? Enaknya jadi dirimu! Tak perlu pusing pikirkan kehidupan. Kamu hanya akan makan jerami-mu, menelan kudapan apel yang lezat lalu berbaring dalam kandangmu. Kamu tak perlu pikirkan jatuh cinta dan merana ditolak ibu dari pacarmu. Kamu juga tak perlu pikirkan mata pelajaran yang rumit."
Aorta sedikit kibaskan ekornya, hembuskan napas dari lubang hidungnya.
"Aku akan bersihkan laboratorium karena aku dihukum. Nanti siang aku akan kembali kemari dan kita bisa pergi bersama. Mulai hari ini, aku akan gantikan Archilles menjadi temanmu."
Dari kejauhan Sunny, Salsa dan Marion Davis amati tingkah Arumi Chavez. Marion mampir karena dipanggil Salsa. Mereka membahas masalah kepindahan Hellton setelah Anna Marylin berhasil dibawa kembali dari tempat Hedgar meskipun wanita itu belum siuman.
"Hedgar benar-benar pria gila!"
"Anna akan baik-baik saja," sahut Marion menyesap teh. "Di bawah pengawasan Axel, Lucky sekarang bertambah Archilles, Hedgar tak akan berani datang mengambil Anna."
"Kita tak bisa meraba jalur otak Hedgar. Pria itu psikopat. Ia nyaris membunuh Anna."
"Semoga Anna segera siuman."
"Amin, ya Tuhan Amin."
"Amin. Hellton akan sangat marah ketika dia bangun dan tahu apa yang dilakukan Hedgar pada sahabatnya."
"Ya. Sebaiknya kita tidak beritahu Hellton. Aku muak melihat orang-orang terdekatku terus terluka dan sekarat," keluh Salsa meneguk teh.
"Lihat Arumi, Kak. Manis sekali dia!" kata Marion alihkan percakapan mereka. Ingin mengganti suasana suram. Mungkin bagi Sunny dan Marion tidak bagi Salsa yang langsung menghela napas kesakitan.
Setiap melihat Arumi, jiwa Salsa menjerit. Puterinya yang cantik jelita tetapi terus menerima banyak penghinaan. Jika dulu, ia akan secara bar-bar menyerang semua manusia yang rendahkan puterinya. Tetapi, ia telah berubah terlebih Aruhi pengaruhi dirinya tentang kebaikan yang jika ia langgar jelas buat ia kehilangan Aruhi karena Aruhi tidak akan mentolerir perangai buruknya lagi.
"Prosedur pemberian beasiswa berjalan lancar. Kepala Sekolah beritahu aku bahwa hari ini, pihak sekolah akan kabari berita bahagia ini pada Ethan Sanchez dan keluarganya." Marion minum tehnya, mengambil udara perlahan.
"Kita tak bisa berharap banyak sebab Nyonya Sanchez mungkin masih tetap pada pendiriannya," sahut Salsa. Kata-kata terberat yang pernah ia dengar adalah bahwa Arumi tak pantas bagi Ethan Sanchez.
"Berharap yang terbaik, Kak."
"Apa yang akan kita lakukan jika sekali ini Nyonya Sanchez menolak?" tanya Sunny.
Salsa menggeleng pelan. "Aku tak tahu. Aku hanya berpikir Ethan cocok untuk Arumi. Nyonya Sanchez berpendapat sebaliknya."
"Jangan bertindak terlalu jauh, Kak!" saran Marion. "Mereka masih anak-anak, jalan mereka masih sangat panjang. Begitupula soal Nyonya Sanchez. Aku yakin suatu waktu keadaan akan berubah."
"Kamu benar. Aku terlalu terburu-buru. Aku pikir, melamar jadi wali Ethan Sanchez dan menjamin masa depannya, aku tengah persiapkan masa depan Arumi juga. Tetapi, Nyonya Sanchez menentang gagasan ini. Tak masalah Nyonya Sanchez menolak tawaran kita, ia menyakiti hati Puteriku secara langsung."
"Bagaimana reaksi Arumi kemarin dengar pengakuan Nyonya Sanchez?" tanya Marion ikutan gundah.
"Tanpa reaksi."
"Sebelumnya, Arumi menyuruhku untuk membawamu pulang dan jangan biarkan kakak bersama Nyonya Sanchez. Aku pikir Arumi telah lebih dahulu menerima penolakan sebelum kemarin."
Salsa menoleh pada Marion, letakan cangkir teh.
"Begitukah?"
"Ya, Arumi sangat panik saat Kakak pergi bersama Nyonya Sanchez."
"Arumi tak katakan apapun padaku."
"Salah, Kak!" bantah Sunny. "Aku pikir Arumi pernah bilang kalau Ethan dan dirinya putus ketika kita sarapan dan matanya bengkak-bengkak."
Salsa dirundung bersalah. Kini, Arumi melangkah kembali ke rumah. Wajah cantiknya berkilau terkena sinar mentari pagi. Rambut cokelat keemasannya bahkan pancarkan cahaya. Bagaimana bisa seseorang bisa menolak pesona gadisnya yang begitu memikat mata?
"Semoga Puteriku selalu bahagia dan ceria."
"Walaupun tidak dengan Ethan Sanchez," sambung Sunny. "Arumi akan temukan seorang pria yang keluarganya tak permasalahkan masa lalu Puteri kita."
"Aku menyukai Ethan Sanchez. Keseluruhan sikap benar-benar gentleman."
"Kamu benar, Marion. Ethan sangat luar biasa sempurna."
"Terlalu sempurna bagiku!" sambung Arumi Chavez duduk di hadapan ketiga wanita yang sedang bicarakannya. Mencomot churros celupkan dalam saus karamel dan mulai makan.
"Jangan berusaha terlalu keras. Aku akan mengejar mimpiku penuhi Billboard kota ini dengan wajahku. Sementara Ibuku hanya akan merasa bahagia karena puteri sulungnya akan berikan ia seorang cucu."
Arumi berkata ceria setelah menelan churros. Tuangkan teh ke dalam cangkir dan minum.
"Kamu benar, Sayang."
"Dan sebaiknya kalian berdua perhatikan urusan cinta masing-masing," ujar Arumi mengangkat dua jarinya goyangkan pada Sunny dan Marion. "Terlebih Anda ..., Nona Marion Davis. Anda punya hubungankan dengan Tuan Allain Miller?" goda Arumi Chavez.
"Gadis ini!"
"Kalian tampak terlibat sesuatu."
"Dasar gadis nakal," keluh Marion.
Arumi Chavez terkekeh, minum tehnya lagi.
"Nah, aku akan ke sekolah. Hari ini cukup berat karena aku harus bersihkan lab juga. Besok aku butuh siap-siap. Aku nanti bersama Leona sebab pria kesayanganku putusakan pergi dari sini. Tanpanya aku merasa akan diculik seseorang."
"Arumi?! Bahasa macam apa itu?!" tegur Salsa tidak senang.
"Mom ..., ketika semua pria di dunia ini miliki Ibu macam Nyonya Sanchez, maka Anda mungkin hanya harus berpaling dari kriteria. Mungkin Anda perlu meminang pria seperti Archilles Lucca untukku. Meskipun aku ragu Archilles akan jatuh cinta padaku yang tak berotak ini."
"Arumi?! Apa yang sedang kamu bicarakan?"
"Bercanda, Mom," potong Arumi cepat, melihat kegelisahan di raut Ibunya. "Berhenti kesal pada situasi yang tidak berpihak padaku. Jangan terlalu inginkan Ethan, Mom. Kita semua bisa ramalkan, Ethan mungkin akan menikahi gadis baik-baik dari keluarga sederhana yang pintar dan sesuai selera Nyonya Sanchez. Jelas bukan aku kecuali ada keajaiban. Sementara waktu, puterimu hanya akan jadi artis dan menghapus gelar gangster dari keluarga kita." Arumi bangkit dan mengecup pipi Salsa.
"Ethan katakan sangat mencintaimu, Arumi. Tak peduli pada kekuranganmu. Kamu hanya perlu berjuang."
"Ya. Kami masih mencoba bertahan. Jika itu yang ingin ibuku dengar. Aku menutup kedua kupingku rapat-rapat meski penghinaan kemudian lolos lewat dua rongga hidungku bahkan pori-pori tubuhku."
"Jangan menyerah Arumi! Kamu perlu mengambil hati Nyonya Sanchez. Kami mendukungmu," ujar Marion semangati Arumi.
"Gara-gara ingin mengambil hati Nyonya Sanchez tanganku terkena minyak panas. Archilles menyuruhku belajar memasak, menjahit, merajut. Ya Tuhan, susah juga jadi menantu idaman."
"Apakah kamu berhenti menyukai Ethan?" tanya Sunny.
"Aku mungkin akan kelelahan suatu waktu, Aunty," jawab Arumi murung. Hanya sesaat ia kemudian tersenyum jahil. "Aku tak percaya tiga orang wanita dewasa urusi perkara cinta gadis belasan tahun. Ya Tuhan, Mom, bukankah Anda perlu bawa Ayahku kembali? Dan Anda Nona Sunny, apakah tak ada pria yang bisa membuat otot jantungmu bekerja keras? Rumah ini terlalu sepi. Bukankah Anda perlu memulai hasilkan bayi agar sedikit ramai?"
"Gadis ini," keluh Sunny sedang Marion terkekeh di sisi Salsa.
"Aku pergi, Mom? Bye Bye Aunty Sunny, bye bye Nona Marion Miller."
Mulut Marion Davis terkatup sempurna. Selanjutnya berdecak panjang sedang dua kakaknya menoleh. Kening mereka jelas menuntut penjelasan.
"Baiklah! Baiklah!" Marion angkat tangan menyerah.
Sementara Arumi beranjak pergi tinggalkan tiga orang wanitanya, ia menuju ke kamar. Berpakaian dan pergi ke sekolah. Sepanjang perjalanan ia membaca materi pelajaran. Tertatih-tatih menghapal.
"Kenyataannya dia memang paling bodoh di kelas kami."
Kalimat Evelyn terngiang-ngiang di telinganya. Arumi menjadi lebih kebal atau lebih pesimis, hanya Tuhan yang tahu. Terlebih ia memang tak bisa menyimpan materi pelajaran dalam jumlah banyak di otaknya.
Mengisi pikiran dengan banyak hal, ia telah sampai di sekolah.
"Nona ..., sepertinya yang di sana itu adik perempuan Tuan Ethan," kata Leona hentikan lamunannya.
"Dandia?!"
Arumi Chavez turun dari mobil dan hampiri Dandia Sanchez yang menunggunya di gerbang sekolah.
"Nona Arumi ..., maaf aku mengganggumu."
"Ada apa?" tanya Arumi.
"Em, Ethan dan Ibuku sedikit ribut kemarin. Semalam Ethan Sanchez tidak pulang ke rumah. Pagi ini, Ethan kembali dan dia panas tinggi. Aku ingin gantikan Ibuku melapor pada pihak sekolah."
"Baiklah, mari kita ke dalam," ajak Arumi menggandeng Dandia. "Apakah sudah dibawa ke dokter?"
"Ibuku panggilkan dokter. Ini buruk. Ethan tak mau makan. Aku cemaskan kakakku. Ibu dan kakakku, diam-diaman. Aku dan Gavriel tersiksa lahir batin pada tingkah keduanya. Aku tak tahu apa masalah mereka."
Tentu sulit bagi Dandia. Arumi turut menyesal untuk keadaan tidak kondusif di rumah Ethan.
"Dengan apa kamu kemari, Dandia?"
"Aku naik bis sekolah. Maukah kamu kunjungi Ethan nanti? Aku yakin ia akan merasa baikan begitu melihatmu."
"Baiklah. Aku akan ke rumahmu setelah pulang sekolah Dandia."
Keduanya segera saling berpandangan dapati Sarah Jessica keluar dari ruang kepala sekolah.
"Sarah, aku akan melapor ketidak-hadiran kakakku hari ini."
"Tidak perlu, Dandia. Ibumu minta aku mampir serahkan surat keterangan dokter. Beliau cukup sibuk pagi ini, aku datang gantikan Nyonya Sanchez."
"Padahal Mommy bisa titip padaku tadi!"
"Em, Nyonya Sanchez kirimkan dokumen lewat ponsel Dandia."
"Lalu, mengapa Mommy tak kirimkan langsung saja pada wali kelas Ethan? Ibuku semakin rumit saja," keluh Dandia. "Bagaimanapun terima kasih Sarah."
Arumi Chavez, menarik napas kuat-kuat akhirnya terdengar persis sesenggukan hingga menarik perhatian Sarah. Gadis masa depan Ethan Sanchez bagi Nyonya Andreia jelas sedang berdiri di hadapannya.
"Apa Anda baik-baik saja, Nona Arumi?"
Arumi mengangguk. "Ya. Nah, Dandia ..., kurasa Leona akan antarkanmu ke sekolah sebelum kamu telat."
"Mari pergi bersama Dandia," ajak Sarah.
"Tak perlu, Sarah. Tujuan kita berlawanan arah. Aku akan naik bis saja," sahut Dandia menggenggam tangan Arumi. "Sampai nanti, Nona Arumi."
Bel tanda masuk sekolah, Arumi harus ikuti pelajaran. Tak akan pikirkan apapun selain kosongkan otaknya dan hanya bersiap menerima pelajaran.
"Anak-anak, kalian kedatangan teman baru di kelas Anda."
Wali kelas mereka, Guru Alfonsa persilahkan seseorang masuk. Kelas mereka langsung heboh oleh bisik-bisik para siswi.
"Teman-teman? Mengapa ribut?" tanya Guru Alfonsa. "Silahkan perkenalkan dirimu, Nak!"
"Hai, namaku Young Vincenti. Aku pindah dari sekolah sebelah dan telah lima kali pindah sekolah. Aku harap lebih beruntung di sini. Semoga kita bisa berteman."
Perkenalan yang tidak biasa. Kalimat terakhir hanya terdengar basa-basi. Cowok di depan sana tampak urakan dengan gaya rambut acak-acakan mirip anggota geng. Namun, teman-teman ceweknya telah histeris jika tak ada aturan. Lihat saja tingkah mereka, malu-malu kucing. Arumi berdecak dalam hati.
"Rapikan rambutmu, pakaianmu, Tuan. Pelajaran akan dimulai. Silahkan duduk di sana!" tunjuk Bu guru Alfonsa. "Emilio, kamu bisa pindah ke sisi Arumi dan biarkan Young duduk di bangkumu."
Tentu saja Emilio Chan senang. Young Vincenti rapikan rambut, mengisi kemeja dan mengatur jas. Berjalan ke bangkunya. Mendadak berhenti di depan Arumi.
"Boleh kenalan? Namaku Young."
Arumi Chavez tak mengangkat wajah sibuk membaca buku ekonomi. "Arumi," sahutnya pendek.
"Ya, Arumi Chavez. Aku tahu kamu!"
Guru ekonomi masuk. Arumi Chavez berusaha keras menyimak mata pelajaran tak peduli sedikitpun pada Young sedang teman-teman perempuannya mirip kucing incar ikan.
Arumi sibuk mencatat yang bisa ia tangkap, mengingat, mengulang-ulang. Ada satu cara hindari semua penghinaan yang ia dapat; home schooling. Itu berarti, ia tak akan tahu cara bersosialisasi.
Bagaimana kalau kita tabah?
Saat post test tiba, ia membaca pertanyaan dan yakin akan berhasil pada jawaban - jawaban. Semua murid telah selesai kecuali dirinya dan ....
Bangku ditendang pelan dari belakang.
"Hei ..., apakah kamu sudah selesai?"
Arumi abaikan Young. Ia mencatat jawaban.
"Arumi?!" Bangkunya ditendang lagi.
Arumi buru-buru berdiri, kumpulkan pekerjaannya lalu keluar dari kelas. Ia menuju laboratorium, mengambil sapu mulai bersihkan lantai. Tidak begitu kotor. Menghadap pada pel. Kebingungan.
"Masukan saja ke dalam ember, lalu tarik tuasnya! Apakah kamu tak pernah gunakan pel lantai?"
Arumi Chavez berbalik temukan anak baru di kelas mereka duduk santai di atas salah satu meja jilati permen tangkai.
"Mengapa ikuti aku?"
"Aku tak mengikutimu. Jam pelajaran selanjutnya adalah kimia dan aku ingin melihat laboratorium terlebih dahulu."
"Kamu sudah melihatnya, pergi dari sini!"
"Tidak, aku akan di sini sampai jam pelajaran tiba."
Arumi kemudian tak ambil pusing. Ia mulai menggosok lantai.
"Apa ..., tak mengapa ..., kelas akan dimulai dalam 15 menit lagi dan lantainya masih basah?"
Tak menyahut.
"Kamu bersihkan laboratorium sendirian, apakah kamu menerima hukuman karena pukuli temanmu kemarin di toilet?"
Arumi mendongak pada Young Vincenti.
"Aku melihat videomu! Hanya saja sungguh aneh, video itu tak muncul ke permukaan. Aku coba mengunggah ke akun sosial mediaku, akunku malah di-banned. Kamu dilindungi seseorang yang luar biasa."
Arumi Chavez kembali sibuk dengan pekerjaannya. Ia tak paham apa yang dibicarakan Young, memilih tak ladeni.
"Nona Arumi ..., aku bicara denganmu."
Karena tak ada sahutan, Young akhirnya hanya nikmati permen sambil menonton Arumi. Pekerjaan Arumi selesai. Mungkin ini bakat alami yang dibawa setiap perempuan sejak dari kandungan sama seperti membuat resep telur kocar kacir, pikir Arumi lega. Biarpun seumur hidup tak pernah pegang pengepel lantai, hasilnya lumayan rapi.
Apa ia perlu bersihkan kaca juga? Nanti saja. Kelas akan dimulai.
"Kamu mau permen?" Young sejajarkan langkah saat Arumi keluar dari laboratorium. Sangat mudah kembali tersorot berkat Young Vincenti yang terus mengekor dirinya. Arumi sontak berhenti.
"Jangan ganggu aku, please!"
"Owh, aku hanya ingin berteman."
"Semua siswi di kelas kita bisa kamu ajak. Coba saja. Mereka pasti akan sukarela jadi temanmu."
"Semua siswi berarti termasuk kamu kan?"
"Kecuali aku!" sahut Arumi. "Jangan ikuti aku!" Segera berbalik pergi menuju kantin sedang Young berhenti makan permen. Benda di tangan tak menarik lagi. Lemparkan ke tempat sampah tanpa melihat. Seorang gadis yang kabur darinya tampak lebih menarik. Hanya saja, gadis itu seakan tak ingin diganggu siapapun.
"Berhenti mengganggu Arumi, Young," tegur Emilio Chan.
"Mengapa? Aku hanya mengajaknya berteman."
"Yang lain saja. Arumi pacar Ketua OSIS kita. Ethan Sanchez tak begitu suka ada orang mengusik pacarnya."
Young Vincenti tersenyum. Ia suka merusuh. Mungkin ia bisa memulainya dengan pacar ketua OSIS sekolah ini.
Sedang Arumi kemudian cukup lega ketika jam sekolah usai. Paling utama Young Vincenti tak mengganggunya. Arumi lekas menuju parkiran.
"Leona, bawa aku ke rumah Ethan."
"Nona ...."
"Ethan sakit. Mari mampir beli buah-buahan, em, apa makanan kesukaan Ethan ya?" tanya Arumi pada diri sendiri. "Em, buah-buahan saja."
"Buah apa Nona?"
"Beli saja semua jenis buah."
Begitulah akhirnya Arumi dibantu Leona membawa tiga keranjang buah. Berdiri gugup depan rumah Ethan Sanchez. Atasi ketakutan pada Nyonya Sanchez, ia bunyikan bel.
Pintu terbuka tak lama kemudian. Seorang bocah 10 tahunan segera menganga lebar.
"Hai ... kamu pasti Gavriel? Aku Arumi Chavez. Apakah Ethan ada?"
Gavriel mengangguk pelan.
"Apakah aku boleh masuk?"
Gavriel lebarkan pintu sambil mengangguk.
"Kamu sendirian bersama Ethan?"
Lagi-lagi mengangguk. Arumi bernapas lega. Gavriel mungkin terlalu terpesona pada Arumi hingga ling lung.
"Gavy, siapa yang datang?" tanya Ethan dari lantai atas.
Arumi tempelkan telunjuk di bibirnya mengajak Gavriel bekerja sama.
"Hanya pengantar susu, Ethan!" jawab pria kecil itu sepakat.
Arumi masuk ke dalam rumah Ethan Sanchez. Tidak sebesar rumahnya tetapi penampilannya bikin betah mata yang melihat. Semua tersusun rapi, monoton tetapi tidak membosankan.
Leona menaruh buah di atas meja ruang tengah sedang Arumi mendorong pundak Gavriel pelan pergi ke kamar Ethan Sanchez. Mengetuk pintu.
"Ethan!"
"Jangan ganggu aku! Kamu boleh makan semua cokelat dalam kulkas dan menonton Shinbi's House sepuasmu."
"Apa boleh aku makan buah-buahan yang dibawa Nona Arumi?"
"Ya, makan saja." Hening. "Apa?!"
Pintu kamar segera terbuka.
"Arumi?!" Ethan Sanchez sangat terkejut.
"Da da da, waktu kalian 1 jam 30 menit sampai Nyonya Sanchez kembali."
Gavriel turuni tangga, keluarkan cokelat. Sangat sopan menolak buah-buahan ke tengah meja meskipun ia telah minta ijin. Kembali ke living room sederhana dan menonton.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Arumi?" tanya Ethan Sanchez.
"Kamu tak masuk sekolah? Sarah datang ke sekolah dan beritahu kamu sakit!" Sembunyikan bagian perselisihan Ethan dan Nyonya Andreia yang ia dengar dari Dandia.
"Aku baik-baik saja," sahut Ethan Sanchez.
"Baiklah. Aku bawakanmu buah-buahan."
"Terima kasih, Arumi. Aku hanya perlu beristirahat satu dua hari. Senin nanti ada ujian masuk Universitas.*
"Baiklah," angguk Arumi. Ethan Sanchez pada akhirnya memilih ikuti mau Nyonya Sanchez menolak beasiswa dari keluarganya. Atau Ethan memang sedari awal ingin mandiri. "Cepat sembuh, Ethan." Arumi menahan napas terlebih nada tak biasa Ethan yang membuat Arumi cepat terluka. "Aku pergi, ya." Ia juga datang atas permintaan Dandia. Ethan mungkin ingin jaga jarak. Ini bagus karena akan permudah akhiri segala hal.
Arumi Chavez berbalik. Ethan Sanchez mematung di ambang pintu. Dihantam bimbang tampak teguh kuat-kuatkan hati.
"Arumi?!" panggil Ethan Sanchez. Pertahanannya roboh seketika saat kaki-kaki Arumi semakin jauh.
"Mau lihat kamarku?"
***
Janjiku sedang kutepati. Yang perlu Anda lakukan adalah tinggalkan dukungan ditiap chapter yang akan tayang.
Tinggalkan juga pendapat kalian soal chapter ini. Aku akan manjakan kalian dengan banyak chapter panjang.
Selalu sehat di manapun berada ya.
Aku mencintaimu.