My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 49. Dolce Nona



***


Anna mematung di ambang pintu. Hedgar mencekik seorang wanita di dinding penuh marah. Sangat kejam biarkan korbannya kehabisan napas. Wanita lantas mati, Anna Marylin hanya termenung ketika Hedgar meratap tangis di sisi jenazah.


"Beri dia pemakaman yang layak di tengah hutan."


Wandah masuk ke ruang tidur mendorong banyak pakaian. Pakaikan yang paling indah pada jasad yang sudah mati tetapi masih lemas.


"Anna ...," panggil Hedgar menangis sedih. "Apa yang aku lakukan padamu?"


Mayat wanita kemudian dibawa, dimakamkan di suatu tempat sedang Hedgar meraih tangan Anna.


"Jangan takut! Aku tak akan menyakitimu! Mari kita menikah."


Anna Marylin pergi ke depan penghulu, diberkati tetapi yang ia lihat adalah kepala iblis


Pria itu memakai kemeja hitam. Mereka berlarian dalam lorong gelap. Tangan-tangan bertautan. Sesuatu berdebar-debar di antara mereka.


"Jangan pergi ke sana!"


"Teman-temanku di sana!" tolak Anna menunjuk ke ujung hutan rimbun nan gelap.


"Aku akan menembakmu jika kamu tak patuh!"


"Kamu tak akan berani. Kita baru saja bercinta."


"Kamu tidak mengenalku, Anna."


Anna Marylin lepaskan tangannya, berlari sendiri di atas rerumputan hijau basah. Di sisi lain, Hellton Pascalito dan Axel Anthony menunggunya.


"Anna?! Jangan pergi! Baby ...."


Ia menengok ke belakang, pria itu berubah mirip monster. Wajahnya mengerikan dengan tatapan mata paling jahat yang pernah dilihat Anna.


Sedang, Axel Anthony terus ulurkan tangan padanya.


"Jangan pergi, Anna!" panggil Hedgar. Anna menggeleng, tinggalkan iblis yang kini berubah marah. Meraih panah dan arahkan padanya.


Aku jatuh cinta pada wujud seorang iblis. Aku pikir bisa perbaiki dirinya. Aku lakukan kesalahan. Panah api meleset cepat, Anna berlari makin kencang. Ia kemudian berhenti. Dadanya terasa sakit. Sesuatu lubangi jantungnya.


***


Mata-mata terbuka.


"Anna Marylin?"


Archilles Lucca sekonyong-konyong bangkit, hampiri sisi pembaringan Anna. Axel Anthony dan Lucky Luciano ikutan merapat. Ketiganya was-was.


"Apa ..., kamu rasakan sesuatu?"


Anna kembali terpejam. Apa yang terjadi? Lalu, ia ingat ia dicekik oleh suaminya hingga kehabisan napas.


"Anna?!" Axel Anthony mendekap Anna Marylin. "Aku akan membunuhnya, aku bersumpah. Demi Tuhan, sebelum aku mati aku akan putuskan leher brengsek itu!"


Anna Marylin mendorong Axel Anthony menjauh. Berdecak.


"Terima kasih sudah keluarkan aku dari sana," sahut Anna. "Aku mohon, berhentilah banyak tingkah! Hedgar tak akan sakiti aku jika kamu tidak menyinggung harga dirinya."


"Anna?! Tetap saja ..., pria itu psikopat."


"Kamu dan Hellton masih berbagi piagam rekor itu, Ax. Hedgar tak ada apa-apanya dibanding kamu dan Hellton," balas Anna tajam beritahukan teman-temannya bahwa ia tidak diperlakukan buruk oleh Hedgar kecuali insiden terakhir.


"Anna?!"


"Kamu menculik Queena dan menodainya di tengah hutan. Gadis itu ketakutan sampai tak makan apapun selama berhari-hari."


"Ya, Anna benar!" angguk Lucky Luciano. "Aku ingin membunuhmu waktu itu. Beruntung Queena menahanku!"


Axel Anthony mend****h jengkel. Masa lalu mereka sangat kelam. Queena lebih memilih pergi dan bersembunyi, menyiksa hatinya secara brutal. Wanita itu hamil dan Axel macam pecundang hanya mengintip dari balik pohon berharap bisa memeluk Queena.


"Padahal kamu pria baik-baik. Seorang arsitek bukan penjahat macam Hedgar."


"Anna ...."


"Hellton menculik Irishak dan nodai wanita malang itu di peternakannya."


"Kamu kedengaran mendukung tindakan, Hedgar?" Axel bicara tajam.


"Setidaknya Hedgar menikahiku."


"Pria itu penuh tipu muslihat. Jangan kembali padanya! Hedgar pandai berkamuflase!" geleng Axel kuat. "Kamu benar-benar pingsan saat kami datang. Hedgar nyaris membunuhmu. Kami benar-benar akan berakhir dengan kematian."


"Katupkan mulutmu dan berhenti bertingkah bak bandit. Hedgar adalah urusanku, jangan memulai perang dengannya lagi. Atau sebaiknya mari kita tak perlu berurusan dengan pria itu."


"Kami telah bersumpah akan menjagamu dan melindungi dengan seluruh jiwa dan raga kami."


"Aku tersanjung teman-teman."


"Jika dia kembali, aku tak janji bisa tepati kata-kataku!"


"Oh tolonglah, Queena sedang hamil, Ax. Cukup bikin kepalaku pusing dengan perangai kalian. Pikirkan cara bersama wanitamu sebelum bayinya lahir. Mulai hari ini, aku tak akan mau lagi obati satupun dari kalian yang terluka akibat senjata tajam atau senjata api. Aku tidak main-main!" bentak Anna meski dengan nada lemah, ia terdengar seperti Anna Marylin. Entah mengapa, Anna bersyukur Axel Anthony tak menembak Hedgar.


Ini buruk, apakah Anna jatuh cinta pada suaminya? Jangan gila Anna! Lihat sendiri bagaimana perangai buruk Hedgar. Pria itu bermasalah dengan emosi dan amarahnya. Anna Marylin punya alasan batalkan perjanjian dengan Hedgar, kini.


Ya ya ya, akan Anna lakukan. Terlalu surgawi harapkan Hedgar menjelma sebagai bayi manis. Anna tak ingin bersama Hedgar lagi dengan alasan apapun. Ia menendang Hedgar sebisa mungkin dari dirinya. Berharap pria itu tidak nekat menemuinya.


"Anna?!" Lucky Luciano gantian memeluk wanita yang pegangi leher gara-gara nyeri.


"Apakah Piglet baik-baik saja?" Anna lepaskan infus di tangan, bangun. Ia masih memakai dress retro biru langit cantik, tiba-tiba menyukai pantulan tubuhnya di lemari alumunium ruang klinik.


"No, Anna. Kondisinya memburuk!" sahut Archilles Lucca."Anak buah Hedgar menyerang bunker."


Anna Marylin menggeram. Pria brengsek itu manfaatkan dirinya. Semakin kuat keinginan mendepak Hedgar dari hidupnya. Abaikan sesuatu yang aneh menyerangnya. Mengusir setiap bayangan. Tak ada tempat. Tidak boleh!


"Mari kita pergi!" ajak Anna Marylin.


"Kamu yakin baik-baik saja?"


"Ya, mari sembuhkan sahabatku. Aku ingin membeli kapsul dan mengisi kalian berdua ke dalamnya lalu langsung luncurkan ke lembah Aragon pada Pequeena dan Irishak. Aku ingin ketenangan dan kedamaian."


Axel Anthony berubah murung. Archilles Lucca menggiring Anna. Ponselnya berdering.


💌: Gadismu berulah, Lucca!


Sebuah video masuk. Langkah Archilles Lucca tersendat.


"Ada apa?" tanya Anna Marylin. Seakan paham, hembuskan napas kasar. "Apa tentang Arumi Chavez?"


Archilles Lucca mengangguk, memutar video. Keningnya terlipat. Perkelahian di toilet dan gadisnya terlihat sangat brutal saat menghajar dua gadis.


💌 : HUSH UP the scandal! (Cegah scandal ini terekspos)


💌 : Sudah kulakukan. Jangan lupa bayaran-ku! (BM)


💌 : Clear


Balas Archilles Lucca. Demi Arumi Chavez ia rela gajinya habis. Ia tak ingin gadisnya menerima umpatan dan kata-kata kasar. Nalurinya mendadak terselip perasaan kuat bahwa Nona Arumi tidak baik-baik saja. Namun, ia tak bisa hindari tugas mengawal Anna.


Lalu, Leona kirimkan video lain memakan habis seluruh ketenangan Archilles Lucca. Gadis itu meratap dalam mobil, terluka dan putus asa. Nona Arumi meracau tentang sesuatu, menutupi wajah dengan dua tangannya dan menangis.


💌 : S.0.S


💌 : Mengapa?


💌 : I don't know. Nona hanya menangis.


💌 : Apa masalah di sekolah?


💌 : Rumit. Aku menduga Nyonya Sanchez menyakitinya. Kami kembali dari sana. Kau bisa bertanya padanya. Ya Tuhan, she needs you right now. Please.


💌 : Nona perlu belajar berdiri


💌 : Ini buruk karena Nona tak ingin berbagi denganku. Ayolah, Sobat. Aku tak tahan melihatnya.


"Kamu tampak gelisah?" tanya Lucky Luciano.


"Aku tak tahu. Nona Arumi dalam masalah."


"Luar biasa. Yakin ..., kamu tidak jatuh cinta pada Arumi Chavez?" goda Lucky Luciano. "Pergilah! Kepercayaanmu mungkin benar. Arumi Chavez pembuat keonaran sejati. Jangan sampai ia hancurkan mansion Diomanta dengan rengekannya, terlebih ketika tak temukan-mu 24 jam di manapun."


"Bagaimana dengan Anna?"


"Pria pemurung ini lebih berbahaya dari sekumpulan penyamun, Mr. Lucca," sahut Anna Marylin anggukan dagu pada Axel Anthony. "Pergilah, Archilles! Aku tak bisa bekerja bersama pria yang raganya di sini tetapi jiwanya entah di mana!" tambah Anna Marylin tak menukar dress untuk alasan yang tak ia ketahui. Secara eksplisit ia mulai memuja feminisme.


Archilles Lucca tinggalkan teman-teman di belakangnya. Ia kembali pulang ke mansion. Nyonya Salsa mondar-mandir di ruang tengah, Sunny dan Marion duduk melamun.


Ketika melihatnya datang, Salsa berhenti di tempat.


"Archilles ..., apa Anna sudah siuman?"


"Ya, Nyonya."


"Ya, Tuhan. Syukurlah!"


"Anna Marylin akan bersama Tuan Hellton saat ini."


"Baiklah."


"Akhirnya semua akan berjalan normal."


"Apa ..., Nona Arumi sudah kembali?" tanya Archilles Lucca tak bisa mencegah matanya pergi ke lantai atas. Berusaha sekalem mungkin tanyakan Arumi Chavez sedang jantungnya berdetak tak beraturan. Takut ketahuan Nyonya Salsa atau biarkan saja. Ia hanya ingin melihat Nona Arumi.


Salsa menatapnya dengan ekspresi yang sulit ia simpulkan.


"Sesuatu terjadi pada Puteriku? Lagi?" Salsa menerka-nerka.


"Bukan begitu, Nyonya."


"Oh, itu mereka."


Arumi Chavez turun dari mobil, separuh berlari. Sedikit terkejut saat masuk ke ruang tamu rumahnya dan orang-orang berkumpul.


"Hai ...," lambai Arumi pada semuanya. Tak menunggu balasan, tak ingin melihat siapapun. Arumi lanjutkan langkah hendak naiki tangga.


"Arumi, Nak. Ada apa denganmu? Bisa beritahu kami?" tanya Salsa cemas. Seumur hidup tak pernah lihat Arumi sehancur itu.


"Aku baik-baik saja," sahut Arumi Chavez. Suara parau karena kebanyakan menangis.


Yang ada di ruangan tak dapatkan jawaban memuaskan. Salsa bergerak ke tangga datangi Arumi.


"Aku ingin sendiri, Mom!" tegur Arumi Chavez tajam.


"Beritahu aku ..., ada apa ..., Sayang?"


"Aku akan bayar uang sekolahku sendiri! Beli makanan dengan uangku sendiri dan aku tak mau warisan dari kakek-ku. Aku akan mandiri!"


"Arumi? Ada apa, Nak?"


"Biarkan aku sendiri!"


"Nona ..., mari kita bicara. Anda mungkin bisa lebih lega," bujuk Archilles Lucca ulurkan tangannya.


Arumi Chavez berpaling pada Archilles, menatapnya dari atas ke bawah. Berhenti tepat di mata Archilles.


"Bukankah katamu mau pergi? Mengapa masih di sini?" serang Arumi temukan tempat terbaik lampiaskan kesal.


"Nona ...."


"Nona ...."


"Semoga kamu tersiksa di suatu tempat karena buatku mengemis padamu! Semoga kamu rindukan aku sampai jantungmu menyusut habis!" sembur Arumi langsung naiki tangga cepat, menuju kamarnya.


Semua orang saling pandang. Berdecak.


"Arumi?!"


PAK!!!


Pintu dibanting keras hingga semua orang terkaget-kaget.


"Oh, ya Tuhan, gadis ini!" keluh Marion Davis. "Galak sekali pas lagi marah."


"Ada apa lagi sekarang? Leona, ada apa lagi? Apa yang terjadi di sekolah?" Sunny Diomanta paling tak tahan saat Arumi ngambek.


Leona sodorkan amplop cokelat pada Sunny.


"Nona Arumi mengunjungi Tuan Ethan karena pacarnya sakit. Nona keluar dari sana pegangi amplop ini sambil menangis."


Salsa Diomanta memeriksa amplop. Temukan bahwa Ethan Sanchez menolak mereka sebagai wali dan tidak menandatangani berkas - berkas beasiswa. Sepucuk surat dari Nyonya Sanchez ditemukan berisikan pengembalian uang jasa Ethan sebagai guru private Arumi. Mereka tidak mengambil sepeserpun.


Tak ada obrolan selama tiga puluh menit yang panjang. Semua orang hanya berharap Nona Arumi bisa lewati masa sulit dan mereda. Archilles putuskan kembali ke mess. Jatuhkan tubuh di atas ranjang menatap langit-langit kamar.


"Nona Arumi, kamu bisa bicara padaku! Apa yang terjadi? Aku akan mendengarkanmu."


Hari-hari panjang dan melelahkan buat Archilles Lucca cepat lelah. Tambah minum obat-obatan pereda nyeri dan antibiotik buatnya mudah mengantuk.


"Archilles?! Apa kamu di dalam?"


Gedoran di pintu kamar. Archilles Lucca sekonyong-konyong bangkit, bergerak di pintu. Kerjabkan mata sesuaikan intensitas cahaya dari luar. Mentari sore bersinar silau-kan matanya.


"Leona?! Ada apa?!"


"Nyonya Salsa memintamu menemuinya di halaman belakang."


Archilles Lucca kembali ke ruang tidur pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Ia bertukar pakaian.


"Kamu tahu sesuatu, Archilles Lucca? Mengapa Nyonya Sanchez sampai sekasar ini?" tanya Salsa menyelidikinya begitu ia sampai di hadapan Salsa.


"Ya."


"Apa yang terjadi?" tanya Salsa mencoba sabar. "Aku mungkin bisa perbaiki."


"Tuan Luke Diomanta dan Ayah Tuan Ethan Sanchez meninggal di hari yang sama."


"Apa hubungannya denganku? Aku tak membunuh orang di hari itu!"


"Anda menutup akses dokter bagi pasien lain di hari itu, hanya wajibkan mereka mengurusi Ayah Anda, Nyonya. Ayah Tuan Ethan Sanchez sedang sekarat dan bertambah parah karena tak dapatkan penanganan dokter. Beliau dilarikan ke rumah sakit lain, sayangnya pria itu meninggal di tengah jalan. Nyonya Sanchez tak bisa lupakan masa lalu buruk mereka. Ia tidak menyukai Nona Arumi."


Salsa terdiam. Mencari sandaran. Archilles pegangi Salsa dan bantu majikannya duduk di sofa.


"Nona Arumi telah menerima banyak luka setelah pertemuannya dengan Nyonya Sanchez. Mungkin hari ini yang terburuk."


"Ya, Archilles benar," angguk Leona.


"Mengapa tidak beritahu aku sejak kemarin-kemarin?" tanya Salsa lirih.


Archilles tidak menyahut.


"Sudah kuduga ada masalah lain," kata Sunny.


"Nyatanya ini tak mudah diperbaiki. Oh gadis malang, ia tampak sangat jatuh cinta pada Ethan Sanchez." Marion Davis pandangi Arumi Chavez di kejauhan yang sibuk dengan kuda. Gadis itu mengangkut balok-balok jerami ke atas gerobak. Semua orang tahu, Arumi Chavez sedang larikan diri. Biasanya Arumi main basket tetapi tungkainya baru sembuh dari cidera. Arumi dikeluarkan dari tim basket.


Archilles Lucca menyipit. Berapa lama ia tidur? Suasana hati Nona Arumi perlahan membaik atau sesuatu yang lebih buruk dari itu. Hanya Archilles tak tahu apa itu? Nona Arumi tersenyum lebar di sisi Vena. Archilles tak mudah percaya.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Salsa lebih pada dua adiknya. Archilles lepaskan pandangan dari Arumi.


"Jangan lakukan apapun!" balas Marion.


"Ya ya, tak ada yang bisa kita lakukan, Kak!" tambah Sunny.


"Temukan cara menghibur Arumi!" suruh Salsa lagi-lagi pada Marion dan Sunny.


"Aku tak tahu apa maunya! Lebih baik Arumi jahil padaku ketimbang macam tadi."


"Kamu punya ide, Archilles?" tanya Marion pada Archilles Lucca.


Mendadak saja suara Tuan Armen terdengar panik.


"Nona Arumi?!"


Semua orang berbalik ke arah kandang. Cukup terkejut saksikan Nona Arumi menunggangi Vena, lompati pagar pembatas dan melesat pergi. Tuan Armen pegangi Aorta yang terprovokasi.


"Arumi?!"


"Apa yang gadis itu lakukan? Apa dia telah lancar menunggang kuda?" tanya Sunny keheranan.


"Ada apa dengannya?" keluh Salsa panik dan kebingungan.


"Aku akan menyusulnya," ujar Sunny bangkit berdiri.


"Tetaplah di sini, Nona Sunny. Aku akan mengurusnya!" pamit Archilles Lucca tinggalkan Salsa, melangkah cepat menuju halaman. Lompati undakan tangga lalu berlari seperti panah lepas dari busur. Jari-jari di bibirnya ketika ia membuat siulan memanggil Aorta.


Kuda hitam itu menjawab, meringkik dan lepas dari Tuan Armen. Berlari lompati pagar pembatas menuju Archilles. Mereka bertemu di tengah. Aorta pelankan langkah, menekuk dua kaki depan, biarkan Archilles menggapai Surai hitamnya. Pria itu melompat ke punggung Aorta.


Keduanya lekas melejit ke arah Arumi pergi. Di depan sana Vena membawa Arumi yang melekat pada Vena erat-erat. Derap kaki kuda iringi napas yang memburu.


Archilles memacu Aorta lebih cepat. Vena sedang sensitif. Nona Arumi sangat-sangat berbahaya menunggangi Vena apalagi tanpa pengaman, tanpa pelana.


Di ujung perbukitan menuju lembah di mana sungai kecil mengalir, di sana pepohonan berbaris adalah rumah ternyaman para ular Derik dan ular hijau. Menjelang pukul tujuh mereka keluar dan mencari mangsa.


Dengan mata kepalanya, Archilles melihat Vena mengangkat kedua kaki depan menolak turuni lengkungan curam hingga buat Nona Arumi terlempar dari punggung kuda. Jatuh di atas rerumputan bergulingan menuju sungai.


"NONA?!"


Archilles menarik kekang Aorta. Melompat turun, tidak sempurna sebabkan ia terjatuh, bergulingan. Benturan batu-batu tajam perbukitan sepertinya sebabkan punggung dan lengan yang terluka semakin parah saja. Ia mengerang tetapi tetap bangkit dan turuni tanjakan. Di bawahnya, Nona Arumi Chavez terbaring tanpa gerak.


"Nona?" Archilles Lucca ketakutan. "Nona Arumi?!" panggilnya mendekat. Berlutut di sisi Arumi, memeriksa saluran pernapasan. satu tangan di dahi Nona Arumi sedang dua jari di bawah dagu. Sangat lembut dongakkan kepala Nona Arumi. Memeriksa mulut Nona Arumi.


"Nona?!" Membungkuk di permukaan wajah Arumi. 10 hitungan saat ia tak dengar bunyi napas Nona Arumi yang seakan telah mati. Mengunci panik, ia mulai berikan pernapasan bantuan, meniupkan oksigen ke dalam mulut Nona Arumi.


Sentuhan mulut ke mulut berhasil bangunkan Arumi Chavez, menggeliat sedikit. Matanya terbuka menatap Archilles. Terlambat menarik diri, Arumi Chavez dapati mata-mata almond berisi kegelisahan pengawalnya.


"Nona?! Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Archilles Lucca menahan napas, menjauh secepat mungkin takut jantungnya kedengaran Arumi. Tatapan Arumi cukup bikin ia panas dingin.


Arumi Chavez berbalik, gunakan satu tangan jadikan bantal. Punggungi Archilles, pejamkan mata.


"Nona ..., biar aku periksa!" rayu Archilles. "Apa mungkin kaki Anda terkilir?" Archilles pegangi sepatu boot Arumi hendak lepaskan. Ditepis Arumi.


"Aku ingin sendiri, jangan ganggu aku!"


"Nona, Anda tadi terjatuh. Aku perlu pastikan Anda baik-baik saja."


Archilles Lucca mematung sekian menit sebelum kaitkan jari-jari di belakang kepala dan berbaring menghadap langit. Sedang gadis di sisinya tampak terpuruk. Langit sore indah, bening kebiruan. Aorta dan Vena di ujung bukit. Hitam dan putih refleksikan dirinya dan Nona Arumi.


"Menjelang pukul tujuh, ular hijau akan keluar dari gua-gua mereka dan mulai mematuk."


Arumi Chavez tak menyahut, menghirup rumput musim kemarau. Angin bertiup, berpendar-pendar bersama keemasan sore. Perasaan berubah seperti cuaca ekstrim.


"Aku dan Ethan Sanchez putus!" kata Arumi setelah puluhan menit membisu. "Kami berciuman dan putus," tambahnya terdengar luluh lantak.


Archilles Lucca katupkan mata. Hatinya sakit. Ia terus-terusan sakit hati karena jatuh cinta pada gadis belia di sisinya.


"Apa karena Nyonya Sanchez?" tanyanya serak kendalikan komplikasi di urat-urat nadi. Dua ekor camar terbang lintasi langit. Sangat romantis bersama.


"Ya. Nyonya Sanchez sangat marah padaku. Kami hanya ucapkan selamat tinggal di kamar Ethan." Suara Nona Arumi sengau berakhir dengan terisak-isak. "Beliau salah paham."


Archilles Lucca tahu, masalahnya bukan di sana. Nyonya Sanchez memang tak sukai Nona Arumi. Apapun yang gadisnya lakukan akan selalu salah.


"Anda akan baik-baik saja."


"Aku pikir begitu. Aku biarkan Nyonya Sanchez merendahkan-ku lagi. Aku menerimanya karena Ethan." Menekuk dua kaki dan menangis. "Apa kamu tahu apa yang terjadi kemarin? Teman-temanku terus katakan kalimat yang sama, 'Arumi terbodoh di sekolah ini, tak pantas bersama Ethan'. Aku cukup sabar mendengarnya."


"Emas yang dibakar akan semakin bersinar, dan setiap ujian akan membawamu ke tingkatan yang lebih tinggi. Anda sedang alami proses pendewasaan diri, Nona. Anda akan berterima kasih suatu waktu untuk sikap-sikap yang menyakiti Anda beberapa hari ini."


"Aku memang bodoh, aku terus percaya padamu. Kamu akhirnya juga pergi!"


"Aku tak punya pilihan."


"Pilihan itu cuma alasanmu kan? Kamu sembunyikan sesuatu!" Nona Arumi kalau menuduh tidak meleset. Gadis ini punya keahlian juga.


Archilles Lucca terdiam.


"Kekuranganku dijadikan bahan tertawaan, dianggap aib. Aku sedang berusaha keras. Tidakkah mereka paham?"


"Tenangkan dirimu, Nona! Orang cukup sibuk menilai kekurangan orang lain tanpa sadari bahwa mereka jauh lebih buruk. Anda tak perlu menyimpan segala omong kosong itu ke dalam hati Anda."


"Ethan sering bersama Sarah. Aku bayangkan itu, Sarah berada di atas tempat tidur pacarku walaupun aku tahu mereka cuma belajar. Aku marah tetapi kami putus kini. Aku akan biarkan semuanya berlalu."


"Itu bagus untuk Anda."


"Tetapi rasanya sakit," sambar Arumi Chavez lekas tersedu-sedu.


Archilles bangkit bersila, gunakan satu lengannya memeluk tengkuk Arumi mengajak gadis itu bangkit dan mendekap erat-erat. Biarkan Arumi menangis sampai lega. Cabuti rumput kering dari rambut Arumi.


"Jangan bersedih, semuanya akan baik-baik saja."


Tak ada sahutan.


"Mari kita pulang sebelum ada ular jantan naksir pada Anda," goda Archilles ingin membuat Arumi tersenyum. Gadis ini berantakan. Semua keceriaan hilang dari wajah cantiknya. Beberapa goresan hiasi pipi mulusnya.


Membantu Arumi berdiri bersiul memanggil Aorta turun lalu memeriksa keseluruhan tubuh Arumi.


"Berbalik ke sana, Nona!" pinta Archilles. Gunakan keahlian sejati pria yang penuh perhatian, mengepang rambut Arumi. "Lain kali, jangan coba-coba menunggangi kuda yang sedang sensitif, Nona. Anda bisa celaka."


Aorta sampai pada mereka. Archilles membantu Arumi naik ke punggung Aorta. Ikut di belakang Arumi. Satu tangan kendalikan Aorta, sisanya lingkari pinggang Arumi.


Secara naluriah Aorta memaksa Vena berjalan di belakang. Aorta tampak suka jadi Bos, tunjukan kepemimpinan. Vena harus patuh.


"Tahukah Anda, di batas akhir hutan Cemara ada sebuah kemah wild and animal, Nona. Mereka mengawasi kingfisher dan mengambil gambar-gambarnya. Mau ke sana?"


"Kapan?" tanya Arumi Chavez. "Sekarang?"


"Tidak sekarang. Aku perlu pastikan kaki Anda baik-baik saja."


"Apa warna kingfisher?" Sesegukan masih sisa satu persatu.


"Mungkin orange kehitaman. Yang pasti sangat indah."


Lintasi Padang rumput bukan bergandengan tangan seperti dalam imajinasinya. Ia menunggang Aorta bersama Nona Arumi. Cukup berdempetan untuk rasakan seluruh tubuhnya ber-simfoni.


Sementara ujung angkasa berubah oranye cemerlang. Cinta adalah sesuatu yang sulit. Cinta hanyalah pertempuran. Yang terburuk adalah mencintai bayangan yang perlahan menguap.


Nona ..., bisakah kamu dengarkan hatiku bicara? Aku jatuh cinta padamu.


***


Maaf ya, babang aku terus nyuri foto dari akunmu. Hiks.


Archilles Lucca.