My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 75. Help Me, Archilles!



***


Runaway sempit putih terbentang sejauh delapan meter, berkelok dan melengkung di ujung membentuk letter U. Di kanan kiri para audiens mengisi bangku-bangku putih terang. Berbagai gaya outfit mulai dari mewah, elegan bahkan nyentrik penuhi ballroom. Mereka bersiap untuk fashion show dari brand VIP Hana untuk mengetahui trend style di tahun mendatang. Ada banyak pekerja media, pembeli merk, audiens VIP, kritikus mode, wanita mode, elit politikus hingga Serena perlu tenangkan diri sebelum melangkah di atas panggung.


Postur tubuh proporsional, wajah ideal dan estetik, Serena miliki bakat alami sebagai model. Di tubuhnya desain Hana lahirkan mahakarya sangat indah. Saat Serena melangkah panjang, semua mata tertuju padanya. Keberadaannya di atas panggung menepis isu buruk soal cinta segitiga yang diendus media.


Ayah tiri Serena di tempat paling istimewa, di sisi kanan panggung. Setelan jas lengkap, janggut tipis, tampan dan matang. Daya tarik sugar Daddy tak terbantahkan. Serena tak bisa sembunyikan kegugupan.


Pria ini candu dan racun, kelemahan sekaligus kekuatannya. Namun, ketidak-tegaskan sikap timbulkan prahara dan salah paham. Serena berpikir berhenti ikuti ritme. Ia akan mengubah game. Pria itu akan mengejarnya.


Berada sebagai penutup, ia kemudian tampil bersama Hana di atas panggung menerima ciuman Hana berisi cinta masih tersisa seorang Ibu yang bagai Surya menyinari galaksi kecuali suami yang tak bisa direbut. Juga bunga dari penggemar.


"Apakah ..., Anda punya pacar Nona Serena?"


Seorang pria tampan hampiri Serena membawa seikat kembang setelah mereka di backstage. Sangat berani menyapanya. Serena menatap sedikit mengerut.


"Apa kita saling kenal?"


"Tidak. Namaku Dean Samuel, aku salah satu pekerja media. Tadinya, aku akan merilis artikel mengenai-mu, Nona. Sampai aku berpikir aku sungguhan jatuh cinta padamu selama menit-menit Anda melenggang di atas catwalk."


Dean mengulas senyuman mempesona seorang pria. Daddy tak jauh dari mereka bersama Hanna dalam pelukan, tetapi mengawasinya seolah pria itu ayah sambung paling perhatian. Serena pikir ini waktunya menjajaki pria lain datang lebih cepat.


"Terima kasih," balas Serena. "Aku masih single dan in open relationship." Mata Serena secara akurat tunjukan ketertarikan pada Dean. Tersenyum malu-malu dan bersemu kemerahan.


"Senang mendengarnya. Maukah makan malam denganku?"


Dean Samuel tersenyum cemas. Mimiknya penuh permohonan.


"Ya, tentu saja. Tetapi, maukah Anda menunggu sebentar? Aku akan mengganti kostumku."


"Ya. Aku akan tetap di sini."


Serena kembali ke dalam ruangan make up, mengganti dengan sesuatu yang lebih kasual, memeriksa wajah. Memoles lisptik tipis-tipis.


"Sudah siap?" tanya Dean terpukau pada kecantikan Serena.


"Ya, tetapi sebelumnya aku perlu pamit pada ibuku agar ibu tak mencariku nanti."


Serena pegangi tangan Dean Samuel menarik pria itu menghadap Hana dan Josh yang kebetulan sedang berbagi kebahagiaan setelah berminggu-minggu dalam masa penantian karena Hana sangat sibuk mengurusi event spesial.


"Serena?!" Hana menaruh perhatian pada pria yang dibawa gadisnya.


"Nyonya, aku Dean Samuel. Aku akan mengajak Serena makan malam."


"Kami akan berkencan," tambah Serena menatap Ibunya tersenyum apa adanya.


Dean Samuel meskipun terkejut hanya mengangguk mengiyakan. Wajah pria dihiasi senyuman sumringah.


"Baiklah. Hati-hati di jalan. Aku harap kalian nikmati malam indah ini. Anda berdua sangat serasi." Hana sangat antusias. Dean Samuel, tampan, muda dan berkarisma. Akan sangat cocok dengan Serena. "Bukan begitu, Sayang?" tanya Hana minta pendapat suaminya.


Josh mengangguk dari sisi Hana, "Ya."


Tetapi ekspresi Ayah sambung Serena tidak suka hingga buat Serena semakin berani. Menjalin tangan Dean dan menatap penuh harapan akan cinta yang berkembang pesat.


"Kami pergi! Jangan tunggu aku! Kami mungkin akan bersama malam ini."


"Dean ..., tunggu sebentar," panggil Hana.


"Ya, Hana. Ada apa?"


"Kami ada party besok di Seven O'clock, rayakan kesuksesan hari ini. Kami mengundangmu."


Dean tersenyum ceria hingga semakin tampan saja.


"Terima kasih. Aku akan datang."


Malam itu Dean dan Serena bersama di salah satu restoran. Hanyut dalam suasana romantis. Habiskan waktu mencoba makanan dan mengobrol. Serena membuat permintaan agar Dean menjadi kekasihnya untuk beberapa hari. Disepakati.


Malam berikut, Serena muncul di restoran tempat party berlangsung menggandeng Dean. Serena memakai mini dress folk laces yang detilnya sangat menggoda di bagian dada. Riasan agak berani, berlipstik merah bata. Rambut cokelat bergelombang tegas hingga sangat elegan terlihat.


Duduk di satu meja mendapat anggukan sepakat dari semua yang hadir bahwa Serena, tercantik malam ini.


Lalu, tatapan sampai pada Daddy. Keduanya kemudian saling menjegal dari jarak dekat. Terlebih Dean sangat perhatian pada Serena. Tersenyum dan bicara lembut berikan hal-hal yang tidak Serena miliki dari hubungan sebelumnya.


Hana menyambut teman-teman dan tamu lain. Daddy ditinggal untuk menyaksikan Serena dan Dean Samuel bermesraan. Ketika Serena pamitan pergi ke toilet. Daddy menyusul tak lama berselang. Masuk ke dalam dan mengunci pintu.


Serena di depan westafel mengatur rambut dan sedikit touch up riasan abaikan yang baru masuk.


"Kamu tidak akan serius dengannya, Serena," tuntut Daddy setelah pintu terkunci.


"Mengapa?" Serena bertanya keheranan. "Aku tak harus minta ijin padamu, bukan? Kami akan bersama malam ini. Dean ideal bagiku. Silahkan bersama Ibuku. Kurasa aku mulai move on."


"Serena ..., kamu bersamanya hanya untuk buatku cemburu."


"No," geleng Serena separuh tertawakan cara Daddy bicara. "Aku akan melupakanmu, segera. Lihat bagaimana Dean perhatian padaku? Aku akan membangun komitmen dengannya."


"Oh ya?"


Daddy bergerak meraih Serena, memeluk pinggang Puteri tirinya erat. Tangan lain memencet tombol keran hingga air mengalir.


"Kamu tidak akan kemana-mana, Serena."


"Lepaskan aku, pergilah dengan Ibuku."


Akhir dari perdebatan itu, mereka sedikit memanas persis seperti di hotel. Tubuh Serena secara luwes menggoda Daddy hingga pria matang itu termakan g41r4h. Josh tak ingin kehilangan Serena tetapi terlalu pecundang bercerai dari Hana. Serena muda dan na'if, tak gunakan logika.


"Jika kamu memilihku. Aku akan berikan yang terbaik dariku untukmu. Jika tidak, aku akan menyimpannya demi pria yang pantas."


Serena menarik diri dan tinggalkan pria itu di toilet. Terkejut saat Hana melihatnya keluar dari toilet dan Daddy tak lama kemudian. Hana murka tetapi tak berdaya karena tak ingin menarik perhatian media dan hancurkan bisnisnya.


Hana dan Josh perang dingin setelahnya. Sedang Serena pergi bersama Dean. Menikmati malam penuh keindahan. Mereka naik kereta mengunjungi Christmas market teramai, di mana kota menjelma penuh cahaya. Pohon-pohon dihiasi lampu kerlap-kerlip bahkan jalanan tampak seperti di siang hari.


Mereka naik komedi putar, main ice skating, membeli bread ball isian full keju yang ditaburi icing sugar saling menyuapi.


Di jalanan kota, Dean bersisian dengan Serena berbaur bersama pengguna lainnya, nikmati keajaiban musim dingin di bulan Desember.


***


Arumi Chavez tiba di lembah Loire untuk beristirahat di perkebunan anggur Tuan Hernandes lima hari sebelum Christmas Day. Habiskan dua hari beristirahat penuh, terlebih kondisi Arumi tidak begitu fit akibat kelelahan yang menyerang.


Rumah besar Tuan Hernandes berada di tengah perkebunan anggur yang sangat luas, sengaja dikosongkan untuk disewakan bagi yang ingin nikmati keheningan. Arumi keberatan, ingin langsung pulang ke rumah. Tetapi, ia perlu menghargai kebaikan Chris Evans dan tidak enak hati menolak hadiah Chris Evans.


Sama seperti Paris, tak ada salju di sini meskipun udara musim dingin cukup bikin beku. Sesekali gerimis halus turun.


Mereka akan berada selama empat malam empat hari sebelum kembali pulang di tanggal 24 Desember karena syuting telah usai kecuali untuk scene penutup.


Mereka akan terbang ke Faroe setelah tahun baru untuk mengambil scene terakhir dari Bittersweet Married di mana Serena memilih tinggal di salah satu desa terpencil dan mengajar di taman kanak-kanak sesuaikan dengan skenario. Namun, mereka juga telah mengambil adegan alternatif sebagai penutup Bittersweet Married kalau-kalau situasi mungkin berubah.


Michael dan lima pengawal membentuk satu kesatuan regu, menjaganya tanpa henti. Arumi tak bisa menepis bayangan Archilles setiap kali ia melihat salah satu pengawalnya dalam jas man in black dan earphone. Ia akan keluarkan jas ajaib Archilles yang selalu ia bawa kemanapun dan memakainya. Merindukan pria itu hingga ke sumsum tulangnya.


"Chemistry Anda dan Tuan Reynold Jonas sangat bagus."


Bersama Leona menonton potongan scene by scene. Hanya belum semuanya.


Apakah pria berjubah hilang? Tiap bicarakan Reynold Jonas Arumi Chavez teringat pada seorang berjubah dan bertopi runcing.


Ya, Arumi tak pernah melihatnya lagi sejak di Square du Vent-Galant. Mungkin nyali hilang sebab ia dijaga sepasukan body guard.


"Ya."


Bittersweet Married dikemas epik. Chris Evans mendekorasi pagelaran fashion event untuk Hana. Tidak main-main. Pria itu bahkan hadirkan langsung orang-orang penting untuk serial ini dan dari brand ternama. Bayangkan budget yang harus disiapkan Chris Evans.


Selama sepuluh hari shoot demi shoot di ambil di berbagai lokasi berbeda. Arumi eksplorasi semua keahlian yang ia miliki. Ia melukiskan hal-hal spesifik misal, gerakan menggoda saat menggigit bibir, tatapan mata penuh rayuan dan raut tegas saat penuh g4ir4h. Serena pastikan lemparan gestur memikat untuk menarik minat si Daddy terlihat natural di layar kaca. Dan Serena sangat ahli ketika menanggalkan atribut ketika pergi ke ranjang dengan Daddy.


Setelah perundingan panjang, atas permintaan Arumi, Chris Evans sepakati pakaikan pelindung pada tubuh Arumi sebagai lapis pertama. Chris Evans juga pertimbangkan usia karakter Serena.


Arumi bersukacita sebab ia berhasil menjaga tubuhnya dan akan berbagi kabar baik dengan Archilles Lucca. Namun, ia menahan diri.


Akhir dari kisah itu, Serena kehilangan Hana dan meninggalkan Josh. Ia menyesali sikap buruknya tetapi terlalu terlambat.


Walaupun sangat sibuk dan pusatkan fokus pada proses produksi, Arumi Chavez menyelipkan Archilles di sela-sela kegiatannya. Misalnya saat mereka syuting di Sacre Couer. Dari ketinggian Montmarte, kota Paris yang dilingkupi kabut tipis membuat Arumi berharap ia bisa kembali ke Paris bersama Archilles Lucca di suatu waktu di musim panas. Hanya bayangkan bersama pria itu, Arumi berdebar-debar.


Mereka tak akan bertemu dalam waktu dekat. Apakah ia bisa bertahan?


Arumi menatap keluar jendela pada hamparan kebun anggur yang hanya berisi tiang-tiang penyangga dan pohon anggur mengering sebab musim panen telah lewat.


Leona selesai men-transfer file dari ponsel ke laptop. Kini, Arumi menonton dirinya dan Archilles. Memutar kenangan saat mereka bersepeda.


"Kamu cocok jadi camera woman, Leona," puji Arumi.


"Oh, kamera hanya sedang mendukung sepasang kekasih sedang jatuh cinta."


"Apakah terlihat jelas?" tanya Arumi sudah tahu jawaban tetapi tetap bertanya. Wajahnya bersemu merah. Tak ingin sembunyikan.


"Ya, bahkan pepohonan dan rerumputan bisa melihatnya."


"Aku penasaran." Arumi Chavez melongok ke cermin bundar besar di kamar itu. "Penampakan wajah yang dicintai Archilles Lucca."


"Pria beruntung."


"Aku yang beruntung, Leona."


"Ya. Anda adalah Yang Mulia Ratu bagi seorang pria bernama Archilles Lucca."


"Aku ingin melihatnya."


"Setelah Anda melihatnya Anda ingin bertemu dengannya, lalu ingin bersamanya. Dan keinginan Anda semakin banyak dan tak terbendung."


"Baiklah. Aku akan menahan diri."


"Anda mendapat dukunganku."


"Terima kasih, Leona, Sahabatku."


Arumi Chavez melangkah keluar dari kamar setelah puas menonton video mereka. Di sudut ruangan di lantai dua sebelah ruang tidur yang disiapkan untuknya, ia membuka penutup piano. Memakai earphone yang terkoneksi ke ponsel.


Mata terpejam. Ia konsentrasi penuh pada suara angin. Menangkap alam bersenandung. Leona mengekor di belakang. Kagumi dari jauh. Luar biasa, gadis ini tak punya peringkat kelas tetapi Arumi Chavez bisa mendengar suara alam dan subsitusi ke dalam nada di piano. Kini, jari itu mengetuk tuts piano secara acak mungkin ikuti desiran angin.


Ketika aku memikirkannya


Kutemukan cinta yang indah


Walaupun Leona telah lama melihat Arumi Chavez berhasil atasi emosi dan pindahkan ke piano, ia tetap saja takjub pada keahlian Arumi Chavez. Dua baris nada terbentuk. Nona Arumi Chavez berbunga-bunga saat jatuh cinta dan kali ini hasilkan lagu cinta.


Tangan-tangan itu menari lincah hanya terinspirasi dari semilir angin berhembus. Leona tinggalkan bos muda belianya pergi ke dapur dan ingin buatkan camilan. Di luar Michael dan Domenic bercanda. Sedang Max dan dua orang lain berjaga-jaga.


Arumi beralih ke video di mana dirinya dan Archilles di atas jetski air. Deru air hanya berisi nada yang sama. Namun, dari video ada lebih banyak sisi emosional tersalurkan.


Archilles Lucca menatapnya sepanjang waktu, memuja cinta mereka dan seakan pria itu rela pertaruhkan segala hal demi cintanya.


Pelukan Archilles jauh lebih romantis dari drama yang ia perankan. No acting, just love.


Tidak berlebihan kalau Arumi mengatakan Archilles Lucca merangkul semua sisi dalam dirinya. Gelap dan terang bahkan mencintai kekonyolan yang ia buat.


Arumi Chavez hanya terlalu dalam berkubang. Terkejut saat matanya terbuka Leona berwajah serius di ujung tangga dengan pistol siap di tangan. Arumi berhenti main piano.


"Nona ..., pergi ke ruang tidur Anda sekarang!"


"A ... da a ... pa?"


"Sekarang!" hardik Leona galak memeriksa lantai satu dengan matanya. Belum pernah Arumi lihat sebelumnya terlebih Leona dibilang kasar. "Jangan keluar dari kamar Anda apapun yang terjadi!"


"Leona ..., ada apa?"


Leona tak menyahut malah datangi dirinya dalam langkah panjang, pegangi lengan Arumi kuat separuh menyeret ke dalam ruang tidur.


"Beritahu aku ada apa?" Arumi Chavez kebingungan. Nalurinya mencium keburukan.


"Nona ..., Anda tak boleh keluar dari ruang tidur Anda. Apapun yang terjadi. Aku akan kembali begitu keadaan membaik. Kami akan melindungimu!"


"Leona ...." Arumi ingin membantah.


Namun, Leona mendorong Arumi ke dalam ruang tidur dan mengunci pintu. Arumi Chavez terjerembab dan terjatuh di atas permadani. Ia segera bangun dan terseok pergi ke jendela untuk melihat apa yang terjadi.


Empat buah van hitam di halaman perkebunan luas. Dari atasnya turun pria-pria berjubah hitam panjang hingga ke tanah berbaris rapi. Memakai topi runcing. Wajah-wajah mereka tenggelam dalam topi. Di tangan pegangi lilin berwarna hitam pekat. Seorang nyalakan api. Lilin-lilin kini menyala.


"Siapa mereka?" tanya Arumi Chavez kebingungan.


Domenic dan Max acungkan senjata sedang pengawal lain tak jauh dari sana dalam posisi siaga.


Michael datangi gerombolan itu. Bertanya. Tak ada yang menyahut. Sepertinya Michael hanya akan menerima jawaban dari salah seorang lain yang baru turun dari Van paling belakang. Di tangannya ia pegangi tongkat berkepala ukuran kambing bertanduk di dalam garis-garis membentuk pentagram. Berjalan lamban tapi pasti datangi Michael.


Bicara pada Michael.


Tak lama berselang Michael menggeleng keras menolak permintaan si pemegang tongkat.


"Apa yang terjadi?" Arumi terlalu kaget untuk bertindak apapun.


Michael sepertinya mengusir mereka mungkin salah alamat. Tak ada reaksi. Si pemegang tongkat tiba-tiba mengangkat kepala dan Arumi Chavez gemetaran oleh tatapan mengerikan itu yang bisa tembusi kaca jendela sampai padanya.


"Dia di sini."


Arumi bisa lihat mulut pria itu berkata-kata. Ternyata itu adalah aba-aba. Sebab, salah seorang dari mereka keluar dari barisan, berpistol, diikuti yang lain dan mereka mulai menembaki penjaganya.


Arumi menutup tirai jendela karena ketakutan.


"Leona ..., apa yang terjadi? Siapa mereka?"


Tidak ada sahutan. Arumi pergi ke pintu balkon yang mengarah ke belakang bagian bangunan rumah. Lupakan ide untuk kabur. Ia tak bisa kemana-mana sebab beberapa dari mereka di sana.


"Apa ini cuma prank? Siapa mereka? Apakah Chris Evans mengirim orang-orang aneh ini kemari untuk rayakan keberhasilan mereka?"


Ini tidak lucu! Pikir Arumi. Dan bukan lelucon sebab tiga orang body guard-nya kini terlibat pertarungan hidup dan mati.


Arumi mengambil ponsel, menelpon Archilles Lucca. Tidak dijawab. Ia mencoba sekali lagi sambil matanya awasi halaman belakang saat satu persatu penjaga berhasil dikalahkan bahkan dilumpuhkan di tempat. Ia berlari kembali ke pintu ruang tidur. Arumi menggedor.


"Leona?! Buka pintunya!"


Tak ada sahutan. Berlari ke jendela bagian depan. Domenic dan Max masih bertarung. Michael mungkin di dalam rumah sebab terdengar barang-barang terjatuh. Sementara gerombolan berjubah aneh mulai mengucapkan sesuatu. Seperti mantra.


Arumi ketakutan. Kepalanya terus berdengung, bertanya, apa yang terjadi? Mengapa ini semacam syuting film horor? Tetapi, ia tahu ini bukan film. Tak ada sutradara, tak ada Chris Evans dan teman-temannya. Tak ada naskah.


Arumi kembali ke ponsel, tangannya gemetaran. Ia mulai menelpon lagi saat mendengar suara kesakitan Leona. Arumi Chavez pejamkan mata, ia memanggil Archilles Lucca.


"Please! Please! Please! Archilles ..., please help me!"


***