
"Berani sekali menginginkannya setelah kejahatan yang mereka lakukan padanya."
Archilles Lucca geram dan marah. Matanya berubah gelap. Ia meremas soda di tangan erat.
"Perdana Menteri sodorkan Aleix Jacquemus yang bermartabat untuk menutupi semua skandal kakaknya yang sensasional." Tatiana menambahkan. "Pengalihan isu sempurna. Kesepakatan damai sekaligus penyamaran seperti penebusan dosa pada Arumi Chavez. Jika, Salsa Diomanta terima perjodohan ini, kasus penculikan Arumi Chavez akan resmi dihilangkan. Satu dua agenda terselesaikan tanpa repot-repot pikirkan solusi membangun perisai hukum."
Archilles Lucca tak pernah khawatir pada Arumi Chavez karena gadis itu miliknya. Walaupun, masih sangat belia dan sedang kesal padanya, Arumi Chavez akan memilihnya. Ia yakini Arumi Chavez tak bisa hidup tanpanya.
Namun, Nyonya Salsa tidak begitu menyukai Archilles. Terlebih, Perdana Menteri bukan sembarang orang. Benjamin Jacquemus sebelum menjadi Perdana Menteri, pernah menjabat menteri urusan parlementer, menteri kehakiman, menteri urusan dalam negeri sampai walikota.
Betapa pria ini aset berharga dan bagi sebagian orang adalah pahlawan negara mereka. Aleix persis ayahnya. Mencetak prestasi sejak muda belia. Bukankah, Aleix sangat idaman untuk Arumi Chavez? Aleix Jacquemus bahkan mungkin kalahkan Elgio Durante dalam persepsi Nyonya Salsa Diomanta.
"Aleix menguasai 13 belas bahasa. Dia seorang pebisnis handal. Selain itu, Aleix lulusan terbaik fakultas hukum. Saat berusia 14 tahun, Aleix sudah menjadi anggota sebuah organisasi 'Gerakan Pemuda Sosialis'. Usia 18 tahun dia adalah ketua 'The Greens', komunitas lingkungan hidup. Dan kini, menjadi benteng bagi pemerhati ekologi. Di bawah dukungan beberapa aliansi, Aleix akan akhiri sifat pemalu dan maju ke dalam pemilihan politik."
Sempurna untuk penuhi standar Salsa Diomanta. Di tambah Aleix sepertinya pria yang tidak merokok, minuman beralkohol dan bersih dari noda dosa.
"Waktumu bangun dan bekerja, My Love," saran Tatiana lagi. "Jika, kamu berhasil membongkar skandal mereka dalam waktu dekat dan perlihatkan ke publik, aku yakin mereka tak akan berani menyentuh gadismu. Meskipun, aku berharap Arumi Chavez mengkhianatimu."
Archilles Lucca letakan minumannya. "Kita tak bisa menyerang seseorang yang kendalikan negara kita. Tidak hati-hati maka akan membawa malapetaka."
"Perdana Menteri tak setujui jalan hidup Abercio tetapi pria ini terlalu pembangkang. Ia bahkan kini diam-diam membuat sektenya sendiri. Sepintas mirip konsultasi masalah kehidupan tetapi pada akhirnya yang terjebak akan ditahan di suatu tempat dan memaksa mereka membuat video untuk diunggah di sebuah situs berbayar. Mesti ada seorang dalam sebuah keluarga yang menyimpang dari norma."
Kecuali keluarga Sangdeto semuanya tanpa norma, tanpa aturan dan brutal.
"Kita akan dapatkan video Arumi Chavez sebagai bukti pendukung."
"Tidak!" geleng Archilles. "Tak boleh ada foto atau video Nona Arumi dari hari sialan itu yang boleh tersebar. Aku akan mencari cara lain."
"Aku benar-benar cemburu padanya."
"Arumi Chavez masih lima belas tahun. Kondisi psikologisnya tak begitu bagus."
Tatiana memutar bola matanya. "Yang benar saja? Gadismu tampak normal saat menyerangku. Kata-katanya setajam gigi buaya. Anehnya, aku mulai terhubung dengannya." Tatiana berdecak.
Sampai Tatiana tahu kucing Arumi Chavez bernama Tatiana juga, dunia mungkin akan pecah di sekitarnya. Pikir Archilles.
"Dari sini ..., jangan ikut campur lagi!"
"Aku di depanmu sejauh ini. Kamu masih di tempatmu, aku ada seribu langkah di depanmu."
"Aku hargai itu. Tetapi, kamu mungkin akan terluka karena betapa seriusnya ini."
Tatiana terpana. Menatap lurus pada Archilles Lucca. Menghela napas panjang.
"Aku bisa memaksamu naik ke ranjang dan tidur denganku!"
"Sesuatu yang paling berharga dariku hanya akan diberikan padanya."
Tatiana melongo untuk beberapa saat. Selidiki Archilles Lucca tanpa berkedip. Kemudian menggeleng.
"No no no! Aku tak percaya kamu belum pernah terjamah sama sekali. Sebelum begini, tampangmu jahat juga brengsek."
"Karena aku berada di dunia itu."
Tatiana berdiri. "Baiklah. Walaupun ranjang ini dan pria begitu menarik, aku harus pergi."
Archilles ikutan berdiri. "Trims."
Ponselnya berdering. Archilles terkejut dan memeriksa. Arumi Chavez video call.
"Instingnya tajam juga, ya?" Tatiana mengambil kesimpulan dari ekspresi Archilles.
"Jika sudah selesai, bisakah pergi?"
"Kamu terlihat ketakutan."
"Dia masih kesal padaku."
"Dia tahu, Eva Romero nyatakan cinta padamu?"
"Ya."
"Aku juga kesal. Tetapi, jika jadi Arumi pasti ada sesuatu yang lebih buruk dari itu!"
Tatiana dapatkan jawabannya sendiri. Eva Romero mungkin lebih agresif darinya.
Baiklah. Aku akan datang kapan-kapan menyapamu, Eva Romero.
"Ini bukan seperti yang kamu pikirkan, Tatiana!" tegur Archilles.
"Hmmm ..., aku hanya akan berkenalan."
Tatiana menaruh selimut dekat Archilles dengan gerakan anggun. Melangkah pada pria yang menunggunya untuk pergi.
Dalam gerakan cepat hendak menyambar bibir Archilles tetapi pria yang waspada miringkan leher. Bibir itu berakhir di pipi Archilles.
"Tidak buruk. Pertanda, kasih sayang. Lebih mendalam dari cinta. Aku tak akan mencuci bibirku sampai satu Minggu mendatang dan makan dengan hati-hati agar rasa kulitmu di sini," tunjuknya ke bibirnya sendiri, "tidak hilang. Selamat malam, My Baby. I love you so much. Beritahu aku saat kamu akan kepakan sayapmu. Aku bisa siapkan cakar-ku juga."
Tatiana berbalik pergi, mendorong troli berisi perlengkapan hotel dan keluar dari sana. Archilles masih terpaku di tempat berdiri. Perasaannya tidak karuan. Ia takut kehilangan Arumi Chavez. Apa yang harus ia lakukan?
Panggilan kedua kali.
"Oh, sial!"
Archilles buru-buru matikan semua lampu sisakan satu di sisi ranjang. Ia melompat ke ranjang menarik selimut sampai terbungkus rapi. Jantungnya akan meledak takut ketahuan Arumi Chavez. Mengangkat panggilan tepat sebelum akan berakhir.
"Nona, Anda belum tidur?"
"Aku tidak bisa tidur," sambar Arumi Chavez. "Hatiku gelisah. Firasatku mengatakan, pacarku sedang bersama gadis lain."
Oh, Tuhan selamatkan aku.
"Nona ..., aku sendirian. Aku dan Elgio Durante mengobrol sampai larut lalu kembali ke kamar masing-masing."
"Mengapa ..., mengapa kamu baru merespon di panggilan kedua? Itupun nyaris hampir berakhir? Apa yang kamu lakukan di panggilan pertama? Dan sepanjang panggilan kedua? Huh?"
Duaaaarrrr!!!
Archilles lekas mati langkah. Mengapa urusan begini, Nona Arumi pintar? Astaga.
"Nona ..., aku ketiduran setelah mengirim pesan padamu dan tak dapatkan jawaban. Betapa malangnya jadi Archilles Lucca. Merindukan pacarnya tetapi pacarnya tidak peduli." Mengubah topik.
Arumi Chavez cemberut.
"Mana kulihat wajahmu? Mengapa lampunya dimatikan? Apa kamu sembunyikan seseorang?"
Mengapa jadi begini? Arumi Chavez seakan baru menelan pil cemburu. Efeknya meledak-ledak, curigaan, mudah marah.
Archilles Lucca bangkit. Menekan remote control hidupkan lampu hingga penuh cahaya. Sibuk amati lampu, mengatur matanya agar normal. Hindari tatapan penuh investigasi dari gadis kecilnya.
Ops! Lagi-lagi salah langkah.
"Ya Tuhan, aku pikir hanya Lucky Luciano pria paling brengsek sejagad raya. Aku terus saja mengoloknya. Lihat, sekarang! Ada pria brengsek lainnya dan itu pacarku sendiri? Apakah aku cinta padamu yang mulut manismu ucapkan tiga kali sehari hanya untuk kelabui aku?"
Archilles terperangah. Apa lagi sekarang? Ya Tuhan, selamatkan aku. Apa lagi sekarang?
"Nona?!"
Lalu sadari ada cap gincu merah terang menempel di pipi kiri. Terlalu jelas ia habis dicium seseorang. Oh My God. Tamat riwayatku.
"Kamu berselingkuh dariku?" serang Arumi Chavez nyaris histeris. Gelegar suara gadis itu membuat Itzik si guk guk menyalak. Melompat pada Arumi Chavez. Leher si Itzik miring kiri lalu ke kanan melihat muka anjingnya sendiri di kamera. Lalu mengendus seakan ingin memakannya. Ponsel sedikit bergetar.
"Itzik, menyingkir! Aku sedang marah!" bentak Arumi Chavez. Si Itzik menurut pergi ke belakang majikannya. Tetapi, tak bisa sembunyikan penasaran pada kamera. Itzik si anjing dan Itzik si mayat hidup sama-sama terobsesi pada kamera.
"Nona ..., mana mungkin aku berani."
Klik.
Ponsel dimatikan.
"Sialan kau. Habislah kau," maki Archilles merasa sangat ceroboh. Hanya dalam dua menit, pintu suite-nye berbunyi tidak sabaran.
Archilles pergi ke pintu.
"Archilles Lucca ...," sapa Elgio Durante mengatur rambut berantakan dan mengucek mata pelan. "Apa kamu habis bersama seseorang? Adik iparku menjerit padaku hingga aku hampir terkena serangan jantung. Dia menyuruhku untuk menyergap-mu!"
"Kakak Iparku tersayang, Elgio Durante, apa yang kamu tunggu? Periksa kamar mandinya! Lemarinya! Lacinya! Kopernya! Pacarku baru saja selundupkan seorang wanita ke kamarnya." Arumi Chavez bicara tanpa titik koma.
"Harusnya ucapkan selamat padaku karena aku berhasil jadi pria terbaik!"
"Ya, selamat, Elgio Durante! Aku akan berikanmu hadiah nanti. Masalahku lebih urgent. Temukan gadis itu dan aku punya alasan untuk putus dengannya."
Archilles Lucca menyipit.
"Aku sendirian, Elgio. Em, tadi setelah kita berpisah seorang pelayan berpikir aku aktor dan minta foto. Lalu, um, dia mencium pipiku tanpa bisa aku cegah. Aku sama sekali tak menyangka bekasnya menempel di pipiku dan aku bawa tidur!"
Archilles Lucca tunjukan cindera-mata di pipinya.
"Arumi Chavez, kamu dengar itu? Tak ada siapa- siapa di sini! Silahkan lihat sendiri." Macam buru sergap, Elgio Durante berkeliling agar Arumi Chavez percaya.
"Ini laci nakas, tempat sepatu, aku juga periksa westafel. Keran airnya tidak tersumbat pertanda tak ada orang di sini," goda Elgio Durante coba redakan amarah adik iparnya. "Pot bunga, hanya ada tanah, batu, akar, daun dan batang. Kesimpulanku, tak ada siapapun di sini."
"Apa kamu menghirup aroma parfum yang feminim?" tanya Arumi Chavez tidak puas.
"Tidak. Hanya wangi Archilles Lucca. Dan aromaku sendiri." Elgio Durante mengendus-endus.
"Bisakah kamu memukulinya seperti terakhir kali di tangga, Elgio Durante? Tolong yang keras."
"Arumi? Aku tidak memukul orang di hari kemenanganku."
"Aku yakin dia bohong."
"Atau kamu terlalu cemburu!"
"Apa dia pikir dia orang terkenal sampai mau-mau saja di foto? Belum menikah, sifat buayanya mencuat kemana-mana. Astaga. Apakah aku salah pilih orang?"
"No no no, Nona Arumi. Dengarkan aku!"
"Kamu kan bisa bilang, 'maaf aku bukan aktor atau penyanyi'?"
"Nona ... aku sudah bilang begitu. Tetapi, mereka memaksa dan aku tidak enak."
"Dengar Tuan Narsis. Dua dosamu masih tercatat dalam buku Diary-ku, dengan tanda merah. Aku bubuhi tanda tanganku dan di bagianmu masih kosong karena belum diselesaikan. Berani sekali kamu ciptakan dosa ketiga."
"Nona, maafkan aku! Janji, tak akan begitu lagi."
"Jika, kamu tidak menemuiku dalam 24 jam. Aku benar-benar akan akhiri hubungan kita. Astaga. Banyak lagak sekali dia!"
Arumi Chavez matikan ponsel. Okay. Durasi ngambeknya di perpanjang.
"Archilles Lucca, apa yang sebenarnya terjadi?" Elgio Durante bertanya, temukan dua kaleng soda. Sengaja tak tunjukan pada Arumi karena yakin Archilles punya alasan. "Aku tak akan mendukungmu sakiti Arumi karena dia adikku, sama seperti aku menyayangi Enya dan Luna. Kamu akan tahu akibatnya."
"Tatiana Sangdeto."
"Apa maksudmu? Kamu bersamanya? Barusan? Bagaimana bisa?"
Elgio Durante pernah bertemu Tatiana Sangdeto dua kali. Pertama kali ketika dirinya dan Abner Luiz pergi menemui Hedgar di pub Old Harbour. Tatiana kendalikan bisnis dari laptop di pangkuannya dan tidak seagresif Egiana. Namun, Elgio Durante percaya Tatiana lebih gila karena gadis itu menguasai dua dunia sekalian, dunia nyata dan dunia maya.
Lalu, mereka bertemu lagi kedua kali di hari kematian Egiana. Tatiana membawa kotak berisikan mata Hellton Pascalito yang pada akhirnya ternyata mata orang lain untuk dikuburkan bersama Egiana. Hellton Pascalito keluarkan semacam dekrit pada semua orang terdekat termasuk Durante Land, Puri Luciano, Mansion Anthony, untuk tidak menyakiti Tatiana Sangdeto karena selamatkan matanya. Jadi, Tatiana ini bukan kawan tetapi juga bukan lawan.
"Tatiana temui aku untuk berikan beberapa informasi mengenai orang-orang dari sekte sesat yang menculik Nona Arumi."
"Apa dia bisa dipercaya? Kamu harus waspada pada kemungkinan, dia inginkan sesuatu darimu!"
"Tatiana sedikit gila karena terobsesi padaku tetapi sejauh ini, dia sangat membantuku. Percayalah, tak ada apapun selain informasi yang aku butuhkan. Aku sangat mencintai Arumi Chavez."
Archilles Lucca tak bisa beritahu Elgio Durante bahwa ia dan nyonya Salsa punya kesepakatan soal menikahi Arumi Chavez. Elgio Durante sangat tegas saat menindak lanjuti pengaduan tentang Nyonya Salsa. Archilles tak ingin Salsa Diomanta menuduhnya mencari tameng.
"Aku percaya padamu. Kamu, perlu yakinkan Arumi Chavez. Beritahu aku apapun itu."
"Skandal penculikan Nona Arumi kemarin libatkan beberapa orang petinggi."
"Ya, aku dengar."
"Tuan Abercio Jacquemus salah satunya."
"Apakah ini valid?"
"Ya."
"Archilles, apakah kamu tahu dengan siapa kamu berhadapan? Perdana Menteri adalah bapak semua orang di negara kita. Kamu bisa dalam masalah jika sampai semua ini tidak benar."
"Ya. Nyonya Salsa juga tahu."
"Lalu ..., Tatiana beritahu aku bahwa Perdana Menteri akan datang dan melamar Nona Arumi untuk Aleix Jacquemus."
Elgio Durante seketika bungkam. Ia melihat ketakutan Archilles Lucca.
"Aku yakin Nyonya Salsa akan pertimbangkan Aleix dibanding aku karena pria ini akan menjadi calon pemimpin masa depan gantikan ayahnya."
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Membongkar kejahatan Abercio sebelum Perdana Menteri berkunjung ke mansion Diomanta. Aku tak akan membukanya ke publik. Aku cukup bertemu perdana menteri sebelum itu dan meminta mereka menjauhi Arumi Chavez."
"Beritahu aku, apa saja yang kamu butuhkan. Aku akan membantumu."
"Tidak. Jangan terlibat denganku karena istrimu membutuhkanmu."
"Tidurlah. Kita akan pulang pagi-pagi. Kamu punya waktu tiga empat jam setelah kita sampai. Persiapkan sesuatu untuk membujuk Arumi Chavez."
Elgio Durante pergi sedang Archilles tak bisa tidur. Mengirim pesan hasilnya akan lebih buruk. Ia akan menunggui pagi sambil mencari konsep akhiri kemelut dengan Arumi Chavez. Bunga?
Ya.
Pertama, bunga.
Kedua, mungkin pergi melihat gaun pengantin?
Ketiga, pergi ke wahana?
Keempat, berkuda?
Ah, rumah pohon? Jangan lupa.
Mondar mandir. Berhenti, menggosok kepalanya frustasi.
Apakah ia perlu menghias rumah pohon mereka dengan lampu dan bunga?
Membawanya naik kereta gantung dan menonton kota di malam hari?
*Yang mana?
Tamatlah kau, Brengsek*!
Apa yang harus aku lakukan?
Apa ada yang punya ide? Tolong bantu aku!
***