My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 109. I am still Yours!



Archilles Lucca bukakan pintu mobil untuk Elgio Durante begitu mobil pria itu sampai di bandara. Keduanya bertemu di Madrid dan akan menunggang jet pribadi lintasi separuh bumi pergi ke Darling Island.


Walaupun Archilles Lucca telah melarang Agathias Altair untuk ikut, entah mengapa, pria itu bersih keras tetap di belakangnya. Jelas bahwa Tuan Maurizio mengirim Agathias untuk menjaganya.


"Aku bisa sendiri, Archilles."


"Tidak masalah, Tuan."


Elgio Durante menatap Archilles seksama. Bahkan setelah tahu bahwa ia adalah putera seorang konglomerat, pewaris terhormat dari Càrvado Land dan adalah putera tunggal dari Maurizio Lucca, sikapnya tetap tidak berubah. Penuh respek juga rendah hati sama seperti Archilles Lucca biasanya.


"Tuan Maurizio Lucca secara resmi akan perkenalkan dirimu sebagai puteranya. Tolong berhenti memanggilku, Tuan, atau siapapun mereka."


Archilles tersenyum sedikit. "Tidak masalah sebenarnya. Harus aku jujur bahwa aku merasa sangat aneh menyandang status baruku. Aku tak cocok untuk itu!"


Mereka pergi ke ruang tunggu khusus. Duduk nyaman hanya berdua. Seorang gadis mirip pramugari bawakan minuman juga makanan ringan. Tak bisa sembunyikan terpukau pada kedua pria. Tidak cukup profesional karena nyaris tersandung dan jatuh. Agathias sangat cepat membantu sang gadis. Senyuman geli terpatri di wajahnya. Tuan Muda tidak setampan Tuan di sebelahnya tetapi miliki aura sama memikat. Dan dua pria itu seakan berasal dari kasta tertinggi pria-pria paling tampan di bumi.


"Kamu akan mencoba."


"Aku masih saja terkesima sampai detik ini. Anda menemukanku dan ampuni aku. Tendangan kakimu di dadaku rasanya seperti baru kemarin. Jika bukan karena Anda, aku telah mati dan menyedihkan karena Ibu kandungku tak akan pernah melihatku. Jika bukan karena kemurahan hatimu, aku tak akan pernah bertemu Nona Arumi dan jatuh cinta padanya. Anda juga mendorong Nyonya Salsa bebaskan aku dari penjara."


"Pertemuan setiap manusia telah ditakdirkan. Aku, kamu, Valerie, Lucky Luciano atau dengan siapapun orang di sekitarmu saat ini. Tuhan mengatur kita demikian."


"Mengapa Anda lepaskan aku di waktu itu?"


"Aku yakin kamu bukan penjahat. Istriku kuatkan keyakinanku bahwa kamu sebenarnya tidak jahat. Ia mengatakan padaku, kamu menyelamatkannya dan memberinya makanan yang layak."


"Kita tahu bahwa Anda-lah pemegang keputusan. Aku menyekap istri Anda, kedapatan langsung, tetapi Anda tidak mengambil tindakan pelenyapan padaku diawal pertemuan kita, Tuan. Nyawaku di tanganmu ketika itu. Tak ada yang bisa selamatkan aku dari kemarahanmu.


"Temperamenku buruk. Aku selalu ingin membunuh Lucky Luciano karena Enya, lalu dirimu karena menyentuh istriku. Aku sangat ingin menembakmu dan marah pada semua orang waktu itu. Entahlah. Setiap peristiwa saling berkaitan. Mungkin satu hal lain, Abner Luiz kendalikan diriku. Ada paham, ditularkan waliku padaku untuk tidak menghakimi sesamaku dan berdiri di posisi orang lain sesewaktu agar bisa melihat alasan terjadi sebuah peristiwa. Tentangmu ..., berlaku begitu saja."


"Terima kasih banyak."


Archilles ..., entah bagaimana akhirnya bisa hilangkan separuh bayangan Marya Corazon dari kepalanya. Ketika si jahat dalam dirinya lenyap entah kemana, keburukan yang menghantuinya ikutan musnah. Ia berubah ke arah lebih baik alasan satu-satunya penjahat di dalam dirinya tidak tahan berkemah.


Suatu waktu Archilles Lucca dibayar Valerie Aldes sembunyikan istri Elgio Durante, kakak perempuan Nona Arumi di sebuah pondok di tengah hutan setelah menculik Aruhi dari Kapela di hari pernikahan Elgio Durante. Episode telah lama berakhir, tetapi ia tak bisa lupakan awal takdirnya adalah di bagian itu.


Archilles dan Arumi Chavez jahati Aruhi Diomanta di hari yang sama walaupun mereka tak sadari. Nona Arumi Chavez racuni semua orang dengan teh sedang Archilles diatur menculik Istri juga adik perempuan Elgio Durante setelah mereka mabuk teh. Dirinya dan Nona Arumi Chavez terhubung tanpa sengaja di hari itu. Takdir yang sungguh aneh.


"Lupakan masa lalu dan semua yang mengganggu, Archilles Lucca. Kita akan bersama dalam sebuah keluarga. Aku berharap kamu dan Arumi berakhir bahagia sama seperti aku dan Marya.


Archilles mengangguk. "Harapanku demikian juga."


"Kita masih harus menunggu Ibuku, Archilles."


"Aku turut gembira untukmu, Tuan Durante," kata Archilles tersenyum tulus.


Sungguh bagus kehidupan mereka. Songsong bahagia. Elgio Durante sama sepertinya, menemukan Ibunya di usia 24 tahun tanpa sebuah kesengajaan. Hebatnya lagi, pria ini punya kembaran bernama Luna. Meskipun demikian, ada sedikit perbedaan. Elgio Durante besar di bawah didikan pengasuhnya Tuan Abner Luiz yang menyetir Durante Company hingga sehebat sekarang padahal mereka hanya memproduksi selai dari lahan luas.


Elgio Durante juga menantu idaman Nyonya Diomanta karena Nyonya Salsa pernah jodohkan Nona Arumi Chavez dengan Elgio Durante. Jauh sebelum Nyonya Salsa jatuh hati pada Ethan Sanchez.


Mereka naik jet. Archilles kurang tidur semalam karena sibuk membujuk Nona Arumi Chavez. Ia mulai mengantuk sedang Elgio Durante dan Nyonya Sylvia miliki banyak bahan untuk didiskusikan. Mereka tertawa satu sama lain dan menyenangkan untuk dilihat. Dirinya dan Nastya Lucca nantinya akan begitu. Berbagi segala hal. Pada akhirnya Archilles memilih tidur.


Mereka kemudian sampai di hotel termewah tidak jauh dari kawasan Darling Island. Archilles pergi ke suite-nya sendiri berpisah dengan Nyonya Sylvia dan Elgio Durante. Dari jendelanya semuanya menarik. Ikon Sydney, jembatan pelabuhan Sydney melengkung nyaris mirip hanger dan Opera House yang terkenal di sisi kanan mendominasi cakrawala.


Archilles berbaring di ranjang. Pejamkan mata karena jet lag. Langit-langit kepala dipenuhi wajah Nona Arumi Chavez. Ia tersenyum. Gadisnya bertambah ngambek. Astaga. Mereka harus kemari setelah menikah dan menggembok cinta mereka di jembatan.


Selepas dari restoran, dirinya dan Cesar hendak kembali ke kediaman masing-masing. Hujan reda, jalanan basah. Tetapi di tengah jalan, sekumpulan pria menunggui Cesar. Tentu saja bukan sembarang orang. Mereka adalah kaki-tangan kekasih dari Guru Carmelita. Pria itu dan mobil hitamnya muncul tak lama berselang.


"Selamat. Kedokmu terbongkar, Bung."


"Guruku sedang mengejekku."


"Kamu telah menabur. Badaimu sangat cepat juga tumbuh dewasa. Selamat memanen."


"Untung aku bersama seorang mantan gengster seperti Anda, Guru."


"Bukankah kamu jagoan? Atasi masalahmu sendiri."


"Apakah Anda akan khianati aku sekarang?" tanya Cesar menyesap rokoknya dalam-dalam dan hempaskan sedikit tengadah. Asap mengepul dan buyar diterpa angin. Manuel Cesar tampak santai seakan sekumpulan pria di depan sana bukan masalah.


"Pria sejati berani berbuat berani bertanggung jawab. Sedang pecundang akan berusaha kabur setelah membuat keonaran. Lagipula, kami ada adorasi di biara pukul tujuh malam. Aku tak boleh telat. Sampai jumpa besok pagi."


"Anda seriusan akan tinggalkan aku?"


"Ya. Aku juga harus membujuk pacarku yang marah. Kamu cerdas, aku sedang balas dendam."


"Aku akan membantumu asal kamu membantuku," rayu Manuel Cesar sedang para pria berbadan kekar semakin dekati mereka. Kekasih Carmelita bersandar di bagian depan mobil, melipat tangan.


"Nona Arumi Chavez sedikit berbeda."


"Semua gadis sama saja. Mereka akan luluh dengan bunga, cokelat dan beberapa baris gombalan."


"Gadismu mungkin."


"Baiklah. Pergilah, Guru! Aku akan hadapi mereka. Anda mungkin bisa terluka. Ini adalah pertarunganku. Aku akan patahkan leher mereka."


"Kamu memang pria sejati."


Archilles Lucca beri semangat hendak pergi. Ubah haluan, temui kekasih Carmelita.


"Bisakah kita bicara, Tuan? Aku Archilles Lucca, guru Manuel Cesar dan rekan guru Nona Carmelita."


"Tidak," geleng pacar Carmelita keras. "Lupakan jika niatmu ingin aku batalkan keinginanku. Aku bukan pria murah hati. Sulit maafkan siapapun yang telah mencium paksa tunanganku. Aku menjaga Carmelita dengan segenap jiwaku, bagaimana bocah ingusan ini menghina Carmelita?"


Masalahnya mungkin karena harga diri pria ini terluka karena Manuel Cesar mencium Carmelita. Dasar sialan, Cesar.


"Tuan, seperti katamu. Dia hanya bocah ingusan. Belum dewasa. Otaknya hanya sebesar buah anggur, satu ons tidak sampai. Pikirannya sependek kelingking kakinya. Dia masih di bawah umur. Ini kenakalan remaja. Aku mohon, Anda untuk memaafkannya."


Manuel Cesar mendengar perkataan Archilles. Satu sudut bibir miring, mencela Archilles tentang dirinya "bocah ingusan".


Manuel Cesar datangi para pria setelah hancurkan puntung rokok dengan ujung sepatunya. Ia mengatur jas. Astaga. Archilles Lucca hampir muntah. Berharap Cesar memang pandai baku hantam tidak asal bernyali jantan.


"Apa Nona Carmelita tahu Anda akan memukul muridnya?" tanya Manuel Cesar pada tunangan Carmelita. Ia mengolok pria yang terkesan dingin.


"Urusan para lelaki. Di luar jam pelajaran sekolah, kamu bukan muridnya hanya salah bocah m4n144kk sinting yang mengusik kekasihku."


Archilles tidak bisa pergi. Entahlah. Bukannya minta maaf, Manuel Cesar unjuk taring. Archilles berdecak. Ia ingin menyerah hadapi Manuel Cesar yang super bandel.


"Anda tak berani satu lawan satu. Anda mengutus banyak pemangsa. Apa sebutannya?" Olok Cesar panasi situasi.


"Aku tak ingin kotori tanganku."


Begitulah akhirnya perkelahian tak bisa dihindari. Cesar memang suka berkelahi dan cari perkara tetapi pria-pria kekar ini bukan tandingannya. Walaupun melawan sengit, Manuel Cesar rontok juga. Pertarungan sebenarnya tak adil sebab main keroyokan. Archilles tak bisa membantu. Cesar memang butuh diberi pelajaran. Muridnya kemudian habis dipukuli sampai babak belur.


Tidak akan ada yang berhenti menggebuk Cesar. Niat mereka jelas ingin membuat Cesar semaput. Darah segar keluar dari hidung dan bibir. Muridnya terkapar di jalanan. Timbul iba di hati. Archilles baru akan turun tangan. Ia ahli dalam hal begini. Dua tiga serangan seseorang mungkin akan lumpuh total.


Carmelita Loisa tiba-tiba muncul. Melompat dari sepeda dan berlari pada Cesar.


"Justin? Ya Tuhan, apa yang kamu lakukan padanya?" Wanita itu bersimpuh di sisi Manuel Cesar yang penuh luka dan berdarah menghalau para pria agar menjauh. Lalu, pelototi Archilles gusar. "Kamu hanya menontonnya dipukuli? Guru macam apa kamu, Guru Lucca?"


Archilles berdecak.


"Aku tidak bisa ikut campur masalah muridku terlebih jika dia sendiri pelaku dan pencipta kegaduhan." Archilles membela diri serba salah. Tadinya, Carmelita menuduh mereka berkomplot. Sekarang apa? Dasar wanita! selalu menang sendiri, tidak konsisten dan sesuka hati.


Carmelita Loisa memeriksa Cesar. Carmelita akan membuat Cesar besar kepala. Di luar dugaan ..., Manuel Cesar menepis tangan Carmelita dan mendorong gurunya menjauh darinya.


"Kekasih Anda tak lebih dari pecundang. Aku akan hancurkan kepalanya lain kali. Hanya aku dan dia ..., tanpa anjing-anjingnya."


"Tutup mulutmu! Berhenti sok hebat!" tegur Carmelita lepaskan syal di leher. Ia lilitkan pada Manuel Cesar. "Guru Lucca akan antarkan kamu pulang!"


"Aku bisa sendiri!" sahut Cesar galak menolak Carmelita, bangkit berdiri.


"Carmelita, mari kita pergi!" ajak Justin.


"Dengar ..., bukan begini caramu selesaikan masalah. Aku ..., pendidik. Kekerasan tidak dibenarkan." Carmelita protes pada sikap tunangannya.


"Bocah ini kriminal."


"Justin, dia masih anak-anak. Pikirannya masih belum lengkap. Memukulinya sampai babak belur apakah aku akan benarkan tindakanmu?"


Pria bernama Justin menghela napas panjang. Ingin berdebat.


"Maafkan aku, Carmelita. Kemarahan meraja lela. Aku tak terima, muridmu tak sopan padamu. Tolong mengertilah."


"Sudah aku bilang tadi, aku akan tangani muridku."


"Baiklah," angguk Justin meraih tangan Carmelita dan mengecup perlahan. "Maafkan aku."


Archilles Lucca membawa Manuel Cesar pulang ke rumah. Tuan Hadriano tidak heran. Istrinya langsung bertindak cepat. Namun, letak masalah selalu ada pada Cesar. Pria itu memusuhi semua orang termasuk keluarganya. Kakak perempuannya muncul buru-buru membawa Cesar pergi tanpa mengomel.


Dan Arumi Chavez masih cemberut. Archilles terpaksa mengubah jadwal berkunjung. Ia akan selesaikan urusannya dengan Abercio dan geng lalu bertemu Arumi Chavez.


Pintu berbunyi. Agathias Altair muncul di dalam suite bawakan banyak box berbagai ukuran. Dua pelayan membantunya.


"Tuan Muda, ada paket untuk Anda."


Archilles Lucca menyipit. Tak merasa memesan sesuatu.


"Silahkan dibuka. Aku akan kembali ke kamarku. Panggil aku jika Anda butuh sesuatu."


Archilles menggeleng. "Agathias, kamu buang-buang waktumu saja. Aku terbiasa mengurus diriku sendiri sejak aku kecil. Keberadaanmu sangat menggangguku."


"Perintah Tuan Mauruzio adalah aturan. Aku tak bisa melanggarnya, Tuan Muda. Aku pamit."


Archilles Lucca menatap pada susunan kotak bertingkat dari paling besar hingga kecil. Mendekat ke sana. Segera memeriksa.


Setelan jas, sepatu, dasi hingga jam tangan mewah dari orang tuanya. Diselipi bunga dan nota kecil.


Untuk Putera kami tercinta, Archilles Lucca


Dari Ayah dan Ibu ....


Archilles Lucca menjepit surat itu erat. Wajah terangkat dan matanya terpaku pada cermin, di mana, pantulan wajahnya siratkan keharuan. Ia gemetar oleh cinta yang sampai pada relung hatinya.


Kemudian ponsel berdering. Tuan Maurizio Lucca menghubungi.


"Halo ..., Tuan Maurizio," sapa Archilles menahan napas. Wajah Ayah dan Ibunya berbagi di layar ponsel. Archilles tanpa sadar pegangi dadanya. Jantungnya berdebar sangat kencang.


"Ada apa, Archilles?"


"Apa kamu sakit?" tanya Nastya Lucca mudah gelisah.


Archilles menggeleng. "Tidak. Aku ha ... nya terlalu senang melihat Anda berdua, Tuan dan Nyonya Lucca."


Tuan Maurizio Lucca menggeleng tidak senang.


"Bung, berhenti panggil aku Tuan dan Ibumu, Nyonya. Aku mohon padamu! Setiap kali kamu memanggil kami begitu, aku tanpa akhir mengenang diriku sebagai ayah ceroboh di tahun silam karena tidak kenali puteraku sendiri."


Nastya Lucca berkaca-kaca di sisi suaminya, mengangkat kepala sedikit tinggi agar tidak menangis. Kening wanita itu terlipat dan kesedihan tidak segera musnah dari raut lembut itu.


"Maafkan aku ..., Ayah, Ibu," balas Archilles cepat sebelum Ibunya keluarkan air mata. "Terima kasih untuk setiap perhatian yang aku terima dari Ayah dan Ibu."


"Hadiah ini tak lebih berharga darimu, Sayang. Aku dengar kabar dari Salsa bahwa kamu akan pergi ke ceremonial besar bersama Tuan Elgio Durante. Aku sangat bersemangat dan ingin melihat puteraku cocok bersanding di sisi Elgio Durante."


"Aku sungguh tak bisa berkata-kata."


Hening. Ada napas tertahan di tenggorokan yang lantas dihempaskan perlahan. Keduanya berpandangan lalu tersenyum. Tuan Maurizio Lucca meraih tangan istrinya dan meremas. Berikan kekuatan dan kehangatan. Mereka berbagi kebahagiaan dengan sentuhan fisik. Archilles akan meniru kebiasaan baik ini pada Arumi Chavez. Debarannya bertambah gila saja.


"Kirimkan kami fotomu, Sayang," kata Nastya Lucca dari seberang. "Tolong rambutmu dirapikan."


"Baiklah, Mom. Aku akan memangkas rambutku dan memakai jas lalu kirimkan foto pada Anda berdua."


Archilles mencoba yang terbaik.


"Kami menunggumu," jawab Tuan Maurizio. "Oh ya, Archilles. Sebelum panggilan ini berakhir, aku ingin minta pendapatmu soal pengasuh untuk Zefanya? Aku pikir Tuan dan Nyonya Zevas cukup senja untuk mengurus Zefanya. Aku dan Ibumu berpikir, ada baiknya kita mengirim dua orang teman ke rumah kakek-nenekmu agar bisa membantu Zefanya sebelum kita membawa mereka ke Càrvado dan Zefanya pergi bersekolah ke Amerika."


Archilles tercengang. Berpikir sebentar. Orang tuanya sangat detil. Pikirkan hal-hal kecil.


"Zefanya cukup mandiri, Ayah. Dia bahkan mengurusi Lucia dan Zevas dengan baik."


"Archilles ..., Ibu berpendapat ..., Zefanya hanya perlu belajar dan kami sangat ingin Zefanya dapatkan perlakuan istimewa. Kami ingin memanjakannya di hal-hal tertentu sama seperti yang kami lakukan pada adikmu Chaterine."


Archilles mengangguk-angguk kecil. "Aku akan percayakan padamu, Ibu, untuk mengurusi masalah ini."


Wajah Nastya Lucca berubah cemerlang.


"Baiklah, Sayang. Semoga harimu menyenangkan."


Berdua bersama Elgio habiskan pagi di Gym dan berendam air hangat. Pergi sarapan bersama. Mereka bertukar pikiran dan mengobrol banyak hal.


Siang nanti mereka akan makan siang bersama kolega. Seorang pria seusia Abner Luiz bernama King Deon Ehren dari King Ehren Company bersama istrinya yang cantik jelita, Brelda Laura Moon dan putera mereka Kings Athes Ehren. Ternyata Brelda adalah artis fashion yang sering menangani wardrobe untuk Nona Arumi. King Deon menjadi nominator bersama Elgio Durante dan mereka mungkin akan berbagi piagam.


Ini akhir pekan. Zefanya di Taekwondo Center. Adiknya mengirim pesan bersama gengnya. Perbedaan waktu 11 jam. Harusnya Zefanya akan bersiap pulang sebelum jam makan malam.


Pukul 9 AM, ponselnya berdering pertanda panggilan masuk. Ia memeriksa dan kerutkan kening.


"Ada apa? Ada yang tidak beres?" tanya Elgio Durante dari seberang.


"Ethan Sanchez memanggil. Ini tidak biasa." Ethan Sanchez hanya menelponnya jika berurusan dengan Arumi Chavez. Mereka terhubung di aplikasi Line.


"Coba periksa!"


"Ethan?!"


"Archilles Lucca ..., Apakah kamu bisa alihkan ke panggilan video?"


"Ya. Baiklah."


Archilles Lucca segera melihat wajah Ethan Sanchez.


"Ethan?! Apa sesuatu terjadi?" tanya Archilles menandai raut tajam Ethan Sanchez.


"Apakah di depan sana itu adikmu? Gavy beritahu aku namanya Zefanya Lucca. Aku ingat kamu punya adik perempuan, namanya kedengaran mirip dengan nama adikmu."


Tampak di kamera, Zefanya Lucca berhadapan dengan seorang pria dan Archilles kenali itu sebagai Raul Lucca.


"Ya, Ethan! Dia adikku."


"Pria itu mengikuti Zefanya sejak kami tiba tadi sore, Ethan." Suara Gavy mengadu.


"Apa kamu mengenalinya, Archilles? Aku menjemput Gavy sebab sesi latihan mereka telah selesai. Kami hendak pulang. Gadis ini mungkin dalam masalah."


Archilles belum sempat menyahut, Zefanya telah dipaksa masuk ke dalam mobil. Terlihat Zefanya tak mau ikut, gadis itu menahan tubuhnya di sisi mobil. Ada pertengkaran. Zefanya terus menggeleng. Archilles menegang.


"Ethan ..., dia akan membawanya pergi!" Gavy Sanchez berikan peringatan.


"Siapa pria ini, Archilles Lucca?"


"Dia ..., ayahku. Tetapi, bisakah aku minta tolong padamu dapatkan adikku kembali. Jangan sampai Raul membawanya. Secara hukum Zefanya telah sah menjadi Puteri Ayah kandungku. Biarkan aku bicara pada pria itu sebelum mobil mereka pergi. Tolong temukan kesempatan untuk mengambil adikku. Tolong bantu aku!"


"Baiklah. Jangan matikan panggilanku. Gavy, tunggu di sini."


Ethan Sanchez dekati mobil tua. Video bergerak kesana-kemari.


"Halo, Tuan Raul Lucca?" sapa Ethan Sanchez.


"Apa kita saling mengenal?" suara Raul terdengar tak ramah.


"Archilles Lucca ingin bicara pada Anda!" jawab Ethan Sanchez. Ponsel segera pindai wajah Raul Lucca. Diperlihatkan oleh Ethan.


"Kamu bohong padaku, Raul? Katamu kita akan pergi menemui Archilles?" tanya Zefanya marah. "Di mana kakakku?"


"Zefanya, Archilles Lucca bukan kakakmu," hardik Raul marah.


"Aku tidak percaya padamu, Raul."


"Tentu saja dia telah mencuci otakmu. Kini, dia bertemu orang tua kandungnya. Dia akan segera membuangmu."


"Jangan bicara yang tidak-tidak tentang Archilles, Raul. Apa sangkamu aku tak punya pikiranku sendiri?"


"Jawab panggilanmu, Tuan Lucca!" tegur Ethan Sanchez. "Zefanya, kemari!" Terdengar Ethan memanggil adiknya. Archilles menahan napas.


"Jangan coba ikut campur, Teman." Raul beri ancaman.


"Aku akan hubungi polisi."


"Silahkan saja. Aku, ayah Zefanya Lucca."


"Aku pernah bertemu orang tua Zefanya Lucca secara langsung dan mereka bukan dirimu, Tuan. Aku bisa konfirmasi ke Mansion Diomanta sekarang." Ethan bicara tegas. "Zefanya, kemari. Apa kamu kenal aku?" tanya Ethan.


"Ya ..., Ethan Sanchez teman kakakku, Archilles Lucca."


"Nah, kemarilah! Archilles minta aku antarkanmu pulang. Tuan Raul, Archilles menunggumu bicara."


"Ya, ada apa?"


"Raul, beritahu aku, apa yang sedang kamu lakukan?" Archilles menjaga nada suaranya. "Tidak cukupkah menukar-ku dengan banyak uang? Kamu mengganggu Zefanya?"


"Aku hanya mengajak Puteriku makan malam."


"Zefanya tidak mau!" balas Archilles terpancing. "Apa kamu berniat menculik adikku dan memerasku? Berapa kamu butuh uang, Raul? Beritahu aku! Akan aku transfer sekarang! Jangan ganggu Zefanya."


Raul Lucca tersenyum mengejek. "Aku ingin puteraku dan puteriku kembali."


Archilles Lucca mengatur napas.


"Raul, kami tetap anak-anakmu! Aku tak akan meninggalkanmu."


"Apa kau pikir aku menginginkanmu?" Tertawa mengejek. "Astaga. Kau besar kepala sekali? Kau hanya anak sialan. Bilang pada ayahmu, bawa puteraku kembali. Dan jangan harap Zefanya bisa jadi puterinya."


Archilles mengunyah giginya sendiri. Ia patah hati, kecewa dan marah. Terluka sangat dalam. Terlebih karena ia tak bisa benci Raul Lucca.


***