
Di atas naungan langit yang sama di San Pedro, hanya butuh 10 menit mencapai gerbang Càrvado dan kekasihnya ada di sana. Apa yang dia tunggu?
Ia datang sebagai salah satu panel audisi gadis 17 - 27 tahun bertalenta di bidang modeling. Kota ini tujuannya. Lain dari itu, ia sedang membangun mental agar sekokoh tembok Cina. Ia takut pada kenyataan. Tak siap pada penolakan dan pengikaran. Optimisme-nya mudah rusak. Berganti pesimis. Kini keduanya tarik menarik. Tolak menolak.
"Bangunlah dan sarapan bersamaku, Nona!"
Itzik Damian menggeser tirai suite. Pemandangan belakang menghadap langsung ke arah taman hotel sedang bagian depan ke arah jalanan kota. Mereka akan menginap di sini selama seminggu. Tetapi, event akan berlangsung di dekat pusat kota. Di sebuah studio.
"Bagaimana dengan teman-teman lainnya?"
"Kita tak bisa sarapan di restoran hotel bersama yang lain. Briefing nanti langsung di lokasi."
Itzik Damian beralih ke sisi ranjang. Tirai lainnya naik hingga cahaya penuh masuk. Arumi refleks ke balik selimut dan bersembunyi dari serangan sinar langsung pada matanya.
"Pergilah ke balkon dan lihatlah euforia Naruministic padamu, Narumi Vincenti."
"Apa yang terjadi?" tanya Arumi Chavez keluar dari balik selimut agak pening. Sampai kapan ia tak bisa lelap di malam hari? Ia biasa minum pil tidur tetapi ia telah disiplinkan diri mulai kurangi ketergantungan. Hal yang paling ia takuti adalah malam. Itu karena ia mengantuk, tidur dan tak bisa lelap.
Itzik Damian nyalakan televisi. Berita pertama, tentu saja para gadis antusias pada ajang ini. Namun, dirinya adalah pusat perhatian. Mereka berbondong-bondong di bawah hotel menunggunya.
"Aku akan atasi ini."
"Mereka pasti akan kecewa, Itzik. Aku tanpa mereka bukan apa-apa."
"Kita sediakan waktu semacam jumpa fans tetapi tidak bisa sekarang. Dan ada berita lain tentangmu."
Menunggu berita selesai.
"Trending topic."
Itzik dan Arumi berbagi gestur yang sama. Mereka membeku beberapa waktu. Itzik dengan remote masih di tangannya.
Di layar kaca tayangan sebuah dokumenter. Sepertinya kumpulan CCTV dari berbagai sumber dan sudut. Rangkuman kehidupan seorang pria berlumuran bola-bola kutil di hampir seluruh wajah dan tangan memegang spanduk bertuliskan.
"Someone help me!"
Orang-orang lalu lalang di jalan, menjauh darinya tak hiraukan dia sama sekali.
Ini bukan social experiment. Ini tentang krisis humanity.
Di bawah kaki tayangan ada catatan kaki. Bahwa selama tiga tahun pria ini mencari donatur untuk tumor jinak yang tumbuh dan menyebar di seluruh tubuh termasuk wajah hingga tampilan muka sangat mengerikan dan menjijikan untuk dilihat. Ia menjadi terasing dan tak diterima di lingkungannya.
Lalu, slide berganti. Letter-nya berubah.
"Arumi Chavez, please help me! Save my life."
Video diputar. Pria itu juga menjerit putus asa. Pernah viral di masa itu. Diunggah ulang ribuan kali dan dibagikan hingga ratusan ribu kali lalu sampai padanya.
Slide bergeser. Pertemuan pertama mereka. Arumi memakai topi, masker dan kaca mata. Tak begitu tampak dirinya.
Hanya saja video menuliskan.
"Arumi Chavez dalam pertemuan pertama."
Arumi tak mengerti, mengapa ada dokumentasi. Padahal ia telah peringatkan untuk tidak mengambil gambar atau video apapun. Karena ia melakukan bukan untuk pencitraan image.
Tanpa rasa takut Arumi berkenalan. Menyapa dan duduk berdekatan untuk dengarkan keluh kesah. Tanpa ucapkan kata, Arumi kemudian bawa pria ini, bernama Jonas Jayden, ke sebuah tempat. Disewakan khusus untuk mulai proses pemeriksaan kondisi fisik secara keseluruhan. Tes demi tes dan para tim bekerja untuk Jonas.
Flash. Berganti. Sajikan keterangan dari dokter yang menangani Jonas. Operasinya berjalan baik hanya dalam enam Minggu. Arumi ada di sisi Jonas Jayden beberapa kali. Dalam keadaan-keadaan terpenting Jonas. Namun, tak bisa penuhi harapan Jonas untuk bertemu setelah penyembuhan karena Arumi jalani jadwal syuting sangat padat. Ia kirimkan bunga sebagai ucapan suka cita.
Slide bertukar, dia muncul. Jonas Jayden menjelma menjadi kelewat tampan hingga para gadis akan menjerit-jerit melihatnya.
"Aku menunggu seseorang," katanya di sebuah galeri berisi banyak karya seni yang luar biasa artistik.
Jonas adalah selebgram sekarang yang digandrungi para gadis remaja dengan jumlah followers fantastis dan berpenghasilan lebih dari 12.000 dollar dalam sebulan. Ia membuat konten berisi video hasil pahatannya yang berkelas dan unik. Ia bahkan sering siaran langsung saat sedang dalam proyek pengerjaan karya seninya itu yang bukan sembarang harga dan telah ditonton jutaan orang dari seluruh dunia.
"Namaku, Jonas Jayden." Pria itu sedang membuat pahatan kayu.
Presenter bertanya. "Siapa ini? Malaikat?"
"Bukan, manusia bersayap."
Pahatan gambarkan gadis bersayap ulurkan tangan pada pria berwajah macam jeruk purut. Bentol-bentol yang sedang berlutut dengan raut putus asa. Bahkan sedetil itu.
"Apakah Arumi Chavez dan dirimu? Ini benar-benar presentasi dari Arumi Chavez."
"Ya. Aku menunggunya. Ia telah lakukan banyak hal untukku. Menjaga dan menemaniku di saat aku berpikir, masa hidupku akan selesai. Dia, satu-satunya gadis yang tak takut bersentuhan denganku dan bahkan mengatakan aku akan baik-baik saja. Hanya perlu percaya tanpa boleh putus asa." Tersenyum. "Em, saat aku bertemu dengannya pertama kali, aku pikir dia jauh lebih hebat dari yang kita lihat di sosial media atau televisi. Peran antagonis sembunyikan karakter dan sifat aslinya. Dia sangat berarti bagiku. Ia telah kembalikan wajahku seperti semula, ini jauh lebih baik, dan aku ingin negara ini tahu bahwa kita punya seseorang berhati malaikat sangat nyata di sini. Dan hari ini aku membawa misi, ungkapkan isi hatiku padanya. Arumi Chavez, di manapun kamu berada, aku menunggumu dan sangat mencintaimu dengan segenap hatiku, jiwa dan ragaku. Tolong temui aku sekali lagi ..., aku bersedia mengabdikan seluruh hidupku untuk menjagamu dan berada di sisimu. Aku akan ...."
Klik. Itzik Damian matikan televisi sebelum Jonas Jayden selesaikan ucapannya. Arumi tersenyum sedikit.
"Mengapa dimatikan?"
"Apa kamu berbunga-bunga?" tanya Itzik Damian.
"Syukurlah dia berhasil."
"Dan jadi besar kepala. Hhh...." Itzik tidak suka. "Menggombal di siaran langsung? Menambah followers? Sensasi atau apa? Menempel padamu untuk popularitas?"
"Itzik, Anda yang berlebihan. Jika kamu ada di posisinya, apa yang akan kamu lakukan? Jonas hanya berekspresi."
"Dikiranya menjaga Arumi Chavez gampang."
"Anda terdengar cemburu padanya, Malaikat Putih," rayu Arumi.
Kesal segera lenyap. Arumi tahu cara-cara taklukan Itzik. Ini julukan Itzik kini, Malaikat Putih. Pangeran putih. Sahabat terbaik. Tak ada Mayat Hidup lagi. Tak akan pernah ada.
"Mandi sana dan bersiap. Kamu tahu bahwa partner-mu adalah seniormu di industri ini dan dia sangat disiplin soal waktu."
Arumi turun dari petiduran.
"Apa kamu akan terus di sini, Itzik?"
"Kurasa kau hanya menganggap aku angin sepoi-sepoi, bukan?" Itzik duduk di sofa dan bersandar di sana. Keluarkan ponsel dan bermain game. "Dia terus saja menyuruhku di posisi semua orang. Bagaimana kalau sesekali dia berada di posisi Itzik Damian," keluh Itzik Damian hingga Arumi hentikan langkah.
"Itzik ..., beritahu aku jika kamu merasa terganggu, please. Apakah kamu ingin sesuatu dariku?" tanya Arumi serius. Itzik Damian berubah sensitif sejak mereka tiba di Càrvado. Arumi berencana akan temukan dokter langsung dan cari tahu penyakit pria ini dari sana. Ia akan selamatkan Itzik Damian apapun yang terjadi, walaupun harus habiskan uang untuk menyewa teknologi canggih.
"Waktumu terus berjalan, Narumi Vincenti," sahut Itzik Damian tanpa beralih dari ponsel.
Arumi pergi ke bathroom dan bersihkan diri. Keluar dari sana dengan wajah pucat. Menyikat rambut. Temukan banyak helaian rambut rontok. Dia hanya kurang tidur.
Itzik Damian mengatur sarapan di balkon. Menaruh vas bunga berisi kembang mawar merah dan broken white yang cantik. Arumi memakai pelembab di wajahnya lalu sunscreen. Bibirnya kering. Gunakan lip balm.
"Kapan kamu akan pertemukan aku dan Aurora." Arumi bersandar di kursi makan.
"Tidak sekarang."
"Apakah dia cantik? Kamu sangat protektif padanya."
"Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kamu akan terkejut saat bertemu dengannya, Narumi Vincenti. Mungkin terpukau. Kehilangan kata."
"Aku semakin penasaran." Arumi pejamkan mata. Cahaya terlalu kuat. Bayangannya berisi gadis Albino dengan bintik-bintik cokelat yang sangat cantik. Itzik sodorkan kaca mata gelap.
"Pakai ini, Narumi." Itzik Damian menaruh mangkok sup. "Dia menyukaimu dan mengidolakanmu. Ada banyak poster-mu di kamarnya. Tolong, makan lebih banyak sayur dan sup."
"Dia tidak cemburu, kamu terus bersamaku?"
"Cemburu bukan kata yang tepat. Dia lebih ke iri padaku karena aku selalu didekat-mu. Dia ingin bersamamu suatu waktu."
"Itzik Damian. Hidupku penuh teka-teki. Kamu tambahkan satu." Arumi Chavez perhatikan pria itu ketika duduk di tempat lebih teduh karena kulitnya mulai kemerahan.
"Mari bertemu Aurora nanti, Narumi Vincenti. Setelah kita kembali dari San Pedro. Kurasa, sudah waktunya. Saat aku tak ada nanti, Aurora akan gantikan aku menjagamu. Dia tak pandai bela diri tetapi aku yakin kau akan tertawa saat bersamanya."
"Itzik Damian, aku bosan menangis. Aku tak tahu rasa air mataku kini. Tolong berhenti berpikir tentang perpisahan!"
"Aku terus mengatakan agar kamu menjadi lebih kuat dan kebal kemudian akan terbiasa tanpaku." Itzik Damian pastikan jus berada tepat di samping Arumi.
"Apa kamu tidur dengan Aurora?" tanya Arumi minum jus buah.
"Ya. Hampir setiap malam. Terkadang dia menungguku hingga aku pulang. Manis bukan?"
"Mengapa kamu lakukan itu? Dia mungkin akan mengandung dan kamu terus mengatakan kematian. Apa kamu tak iba padanya? Bagaimana kalau sampai ...."
"Itu tidak akan terjadi."
"Tetap saja itu akan menyakitinya."
"Aku bersihkan jadwalmu selama sebulan." Itzik Damian alihkan topik.
"Mari kita pergi keluar negeri dan temukan dokter terhebat untukmu, Itzik. Aku tak bisa kehilanganmu."
Itzik Damian menggeleng. "Tak ada yang akan bisa sembuhkan aku, Narumi Vincenti."
"Kita belum mencoba."
"Tak perlu repot-repot. Diagnosa tentang masalahku sudah sejak tujuh tahun lalu. Luar biasa aku hidup sampai selama ini. Aku kasar padamu, tetapi ada baiknya simpan uangmu untuk mengobati yang punya kemungkinan bisa bertahan hidup lama. Mengirimku ke laboratorium akan jadikan aku bahan eksperimen. Aku tak suka itu."
"Apa yang bisa aku lakukan untukmu?"
"Istirahat dan mengambil waktu mengurus dirimu, Narumi. Itu yang aku inginkan darimu. Kamu butuh rehat."
"Aku baik-baik saja. Justru tanpa pekerjaan akan lebih berbahaya."
"Serba salah. Waktu senggang, kamu malah terus mengingatnya."
"Maafkan aku. Kamu tahu seperti diprogram. Otomatis di dalam sini," tunjuknya pada otak. "Tak bisa ku atasi."
"Baiklah, temui dia! Aku akan menemanimu."
Setelah sarapan, Arumi bersiap-siap. Ayshe mengerti dirinya dengan sangat baik. Menimpa kalung Mrs. Lucca dengan kalung lain berbentuk dua hati menyatu. Memakai anting yang sama. Berisi banyak harapan. Ia mulai merias wajah. Memakai foundatian dua tone lebih tinggi karena warna pucat wajahnya begitu mengganggu. Sapukan lipstik merah maroon.
Mereka pergi ke lobi. Mobil jemputan menunggu depan pintu masuk hotel. Tak ada penggemarnya lagi.
"Baiklah. Apakah tak masalah aku gunakan kaca mata gelap menemui teman-temanku?"
"Biar aku lihat!"
Itzik Damian menoleh ke sisi pada Arumi yang telah lepaskan kaca mata.
"Beruntungnya matamu sangat cantik walaupun keruh karena kurang tidur."
"Begitukah?"
"Mari pergi camping setelah semua ini berakhir, Narumi. Kamu bisa tidur di pundakku atau dalam lenganku dan perlakukan aku seolah-olah aku Lucca."
Itzik Damian gagal menggigit bibirnya. Arumi tak bereaksi hanya menatap lurus ke depan. Itzik Damian menoleh, dapati gadis itu hanya bengong. Itzik segera mencapai tisu. Dalam lima belas detik hidung Arumi berdarah.
"Maafkan aku!" Itzik Damian memaksa Arumi berbalik padanya dan bersihkan hidung Arumi.
Satu-satunya alasan ini terjadi setiap nama pria itu disebut adalah cambukan pada hati sebabkan Arumi menahan luka juga tangis. Otak Arumi mungkin bekerja keras membendung air mata, tetapi sebabkan paksaan pada organ lain. Menurut Itzik, mata dan hidung bersinergi.
Arumi pernah diam-diam ke dokter dan Itzik pergi untuk mencari tahu. Ia tak dapatkan apapun kecuali, dokter berkata Arumi baik-baik saja. Hanya harus jalani beberapa perawatan.
"Aku baik-baik saja. Termasuk mimisan ini, Itzik. Please, jangan berlebihan. Kamu mungkin buat orang tua kita cemas."
"Baiklah. Aku tambahkan vitamin ke dalam jus."
"Saat sibuk bekerja, aku akan lupa ingatan."
Betapa cinta mendalam pada kekasih membuat seseorang tampak menyedihkan. Tetapi, kesetiaan gadis ini patut diapresiasi. Luar biasa. Tak bisa melihat siapapun selain kekasih yang tanpa kabar. Bahkan bersama Itzik Damian tiap hari selama hampir delapan tahun tak mampu membuat Arumi berpaling. Gadis ini seakan terlahir mencintai kekasihnya.
"Tiduran saja. Masih lima menit lagi."
"Em."
Mereka sampai di depan studio Half Room Studio. Penggemar naikan banyak letter.
Naruministic love and peace.
Welcome Narumi.
Okay, berita tentang namanya telah dimulai. Itzik memulainya di fanpage.
"Betapa pengertiannya mereka tak menulis namaku, Arumi Chavez."
"Ini akan mudah untukmu, Nona. Kita memulainya dengan Naruministic, tetapi perlu hati-hati. Jangan sampai Tuan Chavez menerima serangan." Itzik Damian turun dari mobil. Berlari putari mobil jelas saja para fans mulai kegirangan.
"Tuan Damian, terima kasih telah menjaga idola kami."
Itzik Damian kehilangan sifat narsisnya. Arumi tak tahu apa yang terjadi pada Itzik dan dirinya sendiri.
Mengapa hidupnya muram selama bertahun-tahun?
Pintu mobil terbuka. Arumi turun dari mobil. Gema di depan bangunan begitu menggemparkan menarik perhatian pengguna jalan lain. Ia tersenyum setelah lepaskan kaca mata.
"Arumi ..., kami mencintaimu. Kami menunggumu sejak pagi."
"Terima kasih. Apakah kalian sudah sarapan?"
"Tidak. Kami mungkin tak akan melihatmu jika harus sarapan terlebih dahulu."
"Anda sangat manis tetapi aku tak benarkan Anda mencintaiku dan korbankan kesehatanmu sendiri. Please, jangan sakiti dirimu sendiri demi aku."
Apa yang ia bicarakan? Ia sedang menasihati dirinya sendiri.
Beberapa fans berikan bingkisan. Ia mulai berfoto dengan mereka. Tanda tangan. Bersalaman.
"Terima kasih telah menyambut-ku di sini. Aku sangat senang bahwa Anda sangat peduli padaku. Manajerku, Tuan Damian, siapkan waktu agar kita bisa bersama satu dua jam di suatu tempat."
Semuanya memekik gembira dan bertepuk tangan.
"Aku harus jalankan tugasku beberapa hari ke depan dan aku tak ingin kalian menderita sakit karena pagi-pagi menungguiku. Mari kita bertemu di lain waktu dan mengobrol. Aku berjanji akan bersama Anda semua di hari itu. Sekarang ini, salah satu timku akan mengajak Anda sarapan. Silahkan ikut dengannya."
"Terima kasih, Arumi."
"Kami mencintaimu, selalu."
"Narumi, Vaya con Dios."
"Sampai jumpa, Narumi."
Ada juga yang memulai memanggilnya Narumi.
Itzik Damian berikan instruksi tertentu pada tim yang mengawal para fans ke sebuah kedai untuk sarapan dan menasihati mereka pulang karena audisi akan berlangsung seharian selama tiga hari. Memohon pengertian semua orang.
Arumi melambai dan hendak pergi. Memakai kaca mata gelap. Ia berbalik dan tanpa sengaja menangkap sebuah mobil hitam tak asing.
Mengapa tak asing?
Karena tujuh tahun lalu ia mengejar mobil yang sama. Atau hanya kebetulan. Ada banyak mobil.
Tidak.
Arumi yakin mobil itu berasal dari Càrvado. Milik kerabatnya. Jantung Arumi seakan berpindah ke ujung tenggorokan. Tangannya kedinginan, ia masukan ke kantong mantel. Lalu tak sadar telah mematung ketika pintu mobil terbuka.
Kaki-kaki panjang turun. Tatapan dari belakang kaca mata gelap, Arumi kenali Agathias Altair bukakan pintu untuk seseorang.
Seorang wanita muda turun dari sana. Berpenampilan elegan, rambut cokelat keemasan yang indah, Arumi mengambil napas pelan. Perawat Natalie. Tangan wanita itu terulur penuh senyuman pada seseorang.
Mungkin waktu berlalu, tahun-tahun penuh ironi tetapi ia menandai gadis ini.
Zefanya Lucca.
Jadi, gadis ini akan ikut audisi.
Gadis 17 tahun bicara pada seseorang di dalam mobil. Mungkin menerima semangat.
Arumi rasakan guncangan emosi dalam dirinya. Ia menggigil. Pikirkan kemungkinan gadis itu bicara pada kakak laki-lakinya.
Dia?!
Mencari-cari dengan pupil mata. Meneguk ludah susah payah. Ia menangkap siluet seorang pria dalam keremangan pekat mobil, berambut gondrong dan memakai kaca mata. Tangan-tangan terulur pada Zefanya. Berikan minuman.
Apakah itu dia?!
Dan gerakan itu berhenti mengundang tanya Zefanya maupun Natalie dari cara kedua wanita menoleh padanya. Mungkin ikuti tatapan si pria. Dan diperjelas dari cara Agathias Altair memandangnya. Ekspresi yang sama ketika pria itu halangi dirinya mengetuk pintu kekasihnya tujuh tahun lalu.
Dalam mantel tangan-tangan Arumi mengepal karena ia tak tahu cara atasi serangan nyeri di hatinya.
"Apakah kamu akan berdiam di sini, Nona Arumi? Kita akan mulai sebentar lagi."
Noah Edwards Miller berdiri di depan halangi penglihatannya.
"Hallo?!" sapa Noah melambai depan wajahnya.
Arumi Chavez menunduk sedikit. Ia kebingungan beberapa waktu. Menahan tangis.
"Kamu baik-baik saja?" Kini Noah Miller berubah cemas melihatnya ling lung.
Tak jauh dari mereka Itzik Damian hanya amati. Mobil itu lewat di sisi jalan. Arumi ingin menoleh. Ia tak akan sanggup.
Cinta adalah permainan, cinta tentang pergerakan. Yang ada di hatinya, tak berujung, begitu dalam. Ia selalu mencapai hari esok setelah lewati malam-malam neraka. Hatinya pergi dari tanah ke langit mencari. Itu lebih tragis dari luka fisik.
"Mari masuk, Nona Arumi!" Noah Miller hendak menyentuhnya.
"Terima kasih. Aku bisa sendiri, Tuan Miller."
Arumi berbalik tepat untuk rasakan sesuatu akan mengalir dari hidungnya. Ia akan kehabisan darah.
Itzik Damian di belakangnya dengan sebotol air. Beri ia minum ketika mereka di ruang staf.
"Minum obat pereda nyeri." Sodorkan pil.
"Kau melihatnya?" Arumi menangis. Ini akan kurangi sakitnya. Ia terisak-isak. "Sakitnya masih sama. Aku benci ini, Demi Tuhan."
"Tidak begitu jelas. Tetapi, mungkin bukan dia. Ayahnya." Itzik Damian membuang tisu bekas darah. "Jika kamu tak bisa atasi suasana hatimu, kamu akan mati di sini. Ayahmu akan mengirimku lebih cepat ke neraka. Dan Aurora akan kehilangan aku. Tolong kendalikan dirimu."
"Baiklah."
"Mau pelukan?"
"Tidak!" Menggeleng bersimbah air mata.
"Dengar, bersandar padaku tak akan buatmu khianati dia. Berhenti keras kepala." Itzik mendekapnya. "Harusnya kita tak perlu kemari. Kamu tak selesai menangisinya."
"Mengapa dia tidak turun dari mobil? Aku yakin itu dia! Aku yakin dia melihatku!"
"Kamu bisa bertanya pada adiknya nanti!"
"Kita tak boleh berinteraksi dengan peserta audisi, Itzik Damian. Tanpa timbulkan kecurigaan praktek kolusi dan nepotisme sedang berlangsung. Juga akan ciptakan kesenjangan."
"Aku akan mencuri waktu agar kamu bisa pergi ke sana. Pejamkan matamu!"
Itzik Damian memijat tengah kening Arumi pelan.
"Aku takut menemukannya tetapi dia bukan pria yang sama."
"Bukankah katamu, kau hanya perlu melihatnya dan katakan aku mencintaimu selamanya. Hadapi kenyataan. Siapkan keputusanmu, Narumi Vincenti. Jika dia lanjutkan hidupnya, kau tak akan mati sia-sia untuknya. Jika dia terlalu mencintaimu hingga tak ingin menyakitimu, maka kamu hanya perlu temukan cara untuk buat dia mencarimu. Berhenti menangis! Kamu bukan gadis lima belas tahun. Astaga. Buatku kesal saja. Harusnya jatuh cinta padaku dan kubuat kamu bahagia sampai mendadak bisu."
***