
Anda merindukanku?
Akupun sama merindukanmu
Semoga rindumu sedikit terobati
Aku sangat sibuk sampai-sampai lupa ingat kalau Novel ini belum benar-benar selesai.
***
Malam ini ..., kamulah bunga dan aku adalah angin sepoi-sepoi yang meniup dedaunan, segarkan pepohonan, yang membantu napasmu.
Malam ini ..., aku di sini di sisimu menghapus semua kesakitan yang telah melukai kita hari demi hari pada tahun-tahun kejam.
Spesial di malam ini ..., buang semua jarak yang pisahkan kita.
Malam ini akan jadi milik kita karena aku dan kamu menjadi satu pada tingkatan cinta yang tak bisa ceraikan kita.
Mari bersama taklukan hal-hal besar.
Balada mendengung temani kaki bergerak. Tak ada banyak kata. Dunia hanya berputar di sekitar mereka. Entah berapa banyak kali mereka berciuman.
"Bisakah kita pergi sekarang?" tanya Archilles Lucca di puncak telinga Arumi.
Mata dalam pertemuan intens tanpa sungkan karena takdir Tuhan untuk mereka dan Arumi tak peduli kemana semuanya akan berakhir malam ini.
Ingatannya terlintas pada Aurora. Berubah serius. Naluri seorang Ibu terasah sejak dini. Mata mencari-cari di mana Puterinya berada. Hatinya haru biru dapati Aurora dalam pengawasan Chaterine Lucca.
Mereka sangat seru di sudut area pesta khusus anak-anak. Semua bocah berkumpul di sana dan sibuk bersenang - senang tak terkecuali Juan Enriques dan Edgar Junior.
Dan Itzik Damian tak jauh dari sana. Meskipun dalam kawanan dan membahas sesuatu, mata pria itu tak begitu saja lepas dari Aurora.
"Aurora akan bersama Itzik dan Chaterine. Mari bersama Aurora setelah malam ini. Kita bisa habiskan malam-malam bacakan Aurora dongeng sebelum tidur, bermain petak umpet atau piknik," tambah Archilles lagi sangat antusias. Arumi hanya dapati, suaminya tidak sabaran juga jadi seorang ayah.
"Bisakah kita di sini sebentar saja lagi?" Arumi ingin menyimpan malam ini ke dalam pikirannya walau mungkin tak ada guna. Ia sukai hasil tangkapan indera penglihatannya.
Saat hendak kembali, mata menangkap sosok Ethan Sanchez. Saking terpukau pada Jezebel Eunice, pria itu tak lepaskan pandangan. Ethan tidak mengubah panggilan Baby Cute pada Jeze bahkan bertambah satu panggilan sedang Elgio Durante di sebelahnya tak bisa protes. Mereka terlihat beradu kata saat Jeze berpaling dan melambai pada keduanya. Sepertinya tujuh tahun tak lantas buat Ethan Sanchez mengusili Elgio Durante.
Kakak iparnya mengangguk ke arah lain, di mana, Zefanya Lucca terlihat bercakap-cakap bersama Marya Corazon. Suruh Ethan Sanchez berpaling ke sana. Zefanya Lucca bukan sembarang gadis. Dengan tinggi badan proporsional, wajah cantik dan kecerdasan intelegensi yang membias keluar dari diri, mungkin Elgio menyuruh Ethan Sanchez mengejar Zefanya Lucca. Namun, Ethan Sanchez sepertinya masih teruskan misi "jomblo" agar bisa mengurus Dandia dan Gavy.
"Ethan Sanchez adalah cinta pertama Zefanya." Archilles Lucca bicara lagi.
"Kurasa Nyonya Andreia tak akan keberatan."
"Zefanya akan ikut tes kedokteran setelah lulus sekolah menengah umum. Zefanya berjanji akan dapatkan gelar Top Modelnya dan menjadi dokter."
"Gadis berbakat dan dokter, bagus untuknya." Arumi mengangguk lalu temukan Hanasita dan Aizen di suatu tempat, dua orang di muka bumi ini yang paling mencintainya. Arumi menghela napas panjang. Hanasita kemudian bermain bersama Kareniña, berbisik dari kuping ke kuping. Itu sebuah rencana hebat sebab Arumi kenali gelagat antusias Hanasita.
Mereka menoleh pada seseorang.
Edgar Junior?
Keduanya berbagi seringai senang.
Astaga.
Dua bocah itu akan mengerjai Edgar Junior?
"Apa sesuatu mengganggumu?" tanya Archilles.
"Edgar Junior mungkin akan dapat sedikit masalah."
Archilles Lucca tersenyum lebar. "Kamu tahu, Hedgar sangat cerdas. Ia bisa keluar dari masalah rumit karena ayahnya melatih insting pria kecil itu sejak usianya satu tahun. Dan Edgar tertarik pada jarum dan gunting seperti Anna. Edgar menjahit paruh bebek yang robek walaupun akhirnya bebek itu mati juga dan berakhir dalam panggangan."
"Sangat menggemaskan. Juga yang lain. Kumpulan bocah-bocah yang akan sebabkan banyak gadis patah hati di masa depan."
"Bisa dipastikan sejak awal."
Di tengah taman mansion yang luas, Papa dan Mama berdansa berbagi tempat dengan Tuan Maurizio dan Aunty Nastya.
Laurent Vincenti selalu berhasil buat Salsa tersipu-sipu dan Ibunya jauh lebih terbuka. Terlihat ingin larikan diri dan menepi ke suatu tempat. Mereka akan segera punya bayi lagi saingi Angelina Jolie.
Hedgar Sangdeto seperti biasa tertarik amati Laurent Vincenti cuma untuk mencela. Tuan tanpa senyum itu ngeri, geli juga mual campur aduk seolah tak percaya ada pria seekstrim Laurent Vincenti yang menyanyi dengan suara keras untuk menggoda istrinya. Lupa bahwa dirinya sendiri juga agak gila saat mengejar Anna.
Laurent Vincenti menoleh semacam miliki kontak batin pada Arumi. Itu sedikit buat Arumi terharu.
Tuhan ..., terima kasih untuk pria baik ini. Arumi berseru dalam hati sembari tersenyum sedikit dan dibalas anggukan.
Berbeda dengan Tuan dan Nyonya Chavez yang duduk seperti Perdana Menteri dan Istrinya di acara formal. Keduanya terlihat dengan pikiran masing-masing seakan menanggung beban hidup khayalak satu negara. Tolong, jangan katakan keduanya tidak bahagia setelah Arumi merasa cukup terluka dengan sikap keduanya.
Mungkin masalah Alana Chavez menyita perhatian. Nyonya Andreia jauh lebih menganggap Alana puterinya dibanding Arumi sendiri.
Arumi penasaran apa yang terjadi pada Alana Chavez? Xavier Moon mungkin tak akan peduli atau Alana memang dalam masalah berat.
Di meja panjang, Raphael Bourne membual dan semua yang hadir tergelak tawa. Entah jokes tentang apa, Arumi pikir, dari semua teman Archilles, pria ini paling m35um.
"Mari pergi ke rumah pohon!"
"Kuncinya sudah kubuang." Arumi berkata pelan.
"Kuncinya abadi bersamaku," sahut Archilles Lucca mengecup tangan istrinya tak ingin membahas kisah sedih mereka, pegangi pergelangan tangan Arumi dan mereka mengendap-endap kabur dari tengah kebahagiaan.
Sebenarnya semua orang pura-pura kehilangan fokus pada pengantin baru. Tidak menaruh perhatian besar karena keduanya butuh ruang.
Suara musik tinggal samar-samar.
"Apakah kamu akan baik-baik saja memanjat ke sana?" tanya Arumi cemas.
"Ya. Berikan tanganmu!"
Gaun putih melambai ketika Arumi mendaki tangga menuju rumah pohon dipegangi erat oleh suaminya.
"Boleh minta hairpin-mu satu, Nyonya?" tanya Archilles Lucca berdiri di pertengahan anak tangga.
Arumi mengangguk. Archilles menyentuh kepala istrinya dan tarik satu. Pria itu mencungkil gembok dan dalam hitungan satu menit benda itu terlepas.
"Semudah itu? Bisakah ajari aku juga?" tanya Arumi.
"Waktu kita banyak, Nyonya. Apa yang ingin Anda lakukan setelah miliki kemahiran membuka kunci dan gembok?"
"Mencuri uang di Bank?"
"Bukankah Anda punya banyak uang?"
"Em, aku wanita miskin sekarang."
Semua hartanya telah diserahkan pada Aurora jika sesuatu yang buruk menimpanya selama treatment operasi. Ia menulis wasiat. Sebagian untuk pulau di sudut bumi, tempat merawat orang-orang berpenyakit kusta dan menular. Tabungan untuk beberapa remaja yang diadopsi sampai usia mereka 17 tahun. Ia juga keluarkan banyak uang untuk denda beberapa program TV dan serial yang kerja sama dibatalkan karena penyakitnya. Terakhir biaya pengobatan luar biasa mahal.
Archilles Lucca tertawa tidak percayaan, suaranya berat dan renyah. Arumi terpaku dari bawah hanya menatap pria itu takjub. Bahkan hanya tertawa bisa getarkan sanubarinya. Bagaimana ia bisa-bisanya berpikir untuk hidup bersama Xavier Moon?
"Anda akan bersama pria pekerja keras, Nyonya Lucca," ujar pria itu masih sunggingkan senyuman geli. "Kita bisa tinggal di desa dan memelihara ternak."
"Ide yang bagus."
Archilles Lucca tidak menyebut dirinya Billionaire, pikir Arumi. Padahal harta kekayaannya kini jauh lampaui Diomanta. Pria ini, pangeran sejati dari Càrvado.
Pintu rumah pohon didorong, aroma kayu menyergap mereka. Lalu, sesuatu yang lain, aroma Cherry dan parfum lime kental.
"Kita bisa mengambil hadiah pernikahan kita di tempat lain, Nyonya. "Pria itu minta pendapat pada istrinya.
Arumi menggeleng. "Aku kehilangan minat pada kemewahan jika kamu ingin bawa aku ke sana. Aku sukai sesuatu yang sederhana."
Tahukah suaminya ..., di manapun tempatnya asalkan mereka bersama, Arumi pikir di manapun tak penting. Terlebih, di sini ada banyak kenangan.
Bintang kerlap-kerlip dinyalakan, cahayanya masuk hingga ke dalam agak temaram. Archilles memeriksa lampu. Berkeliling.
"Ayshe merawat tempat ini setiap akhir pekan dan berdoa agar kita bisa bersama."
"Terkabul. Terima kasih Ayshe."
Keduanya berbagi tatapan.
"Kupikir aku sedikit grogi!"
Arumi dengar pria itu berkata dan dalam redup cahaya, jelas suaminya kedapatan gugup.
"Pria yang malang."
Balada cinta di mansion sampai di rumah pohon. Arumi pergi dan duduk di ranjang.
"Kita bisa mengobrol!" kata Arumi akhirnya.
"Ya," angguk Archilles Lucca sepakat. Ia mendekat ikutan di sisi istrinya tetapi bingung apa yang akan mereka cakapkan tanpa menggali perih dari hari kemarin.
"Lampunya masih berfungsi dengan baik."
"Ya."
"Mengapa koper Anda di sini?"
Arumi menoleh. Mereka kemudian malah berbicara kikuk. Benda itu adalah saksi bisu cinta, kesetiaan, kepedihan dan penderitaan. Dan kini mungkin ia akan merekam kebahagiaan juga dukacita. Entahlah. Di dalam sana masih ada surat Aunty Nastya untuknya tujuh tahun lalu. Arumi menggigit bibir bagian dalam kuat.
"Hari ini ..., kupikir aku akan nikahi Xavier. Jadi, aku menutup kisah tentangku dan pengawalku hari kemarin sebelum acara lamaran. Aku berpikir tak akan kembali kemari lagi."
"Anda akhirnya menikahi pengawal Anda!"
"Karena dia ingin bunuh diri di depanku!"
Mereka bertatapan.
"Dan karena aku mencintainya bahkan ketika aku berupaya larikan diri dengan pernikahan lainnya." Arumi tambahkan dengan sedih.
"Aku akan terima hukumanku."
"Ya, aku yakin hukumannya pasti berat. Akan aku tanggung." Archilles Lucca mengangkat tangannya. Cincin pernikahan mereka berkilau di jemari. Ia membelai wajah Arumi, menangkup dengan telapak tangannya.
"Aku dan Xavier pergi ke hotel setelah dari resepsi Tuan Alvaro." Arumi mengulang tanpa maksud hendak mencambuk suaminya. Namun, bagi Archilles Lucca kata-kata itu adalah helaian cemeti melecut tepat di jantung. Pria itu meringis.
"Anda dan Tuan Xavier ...."
"Aku ingin melupakanmu," potong Arumi, "dan Xavier berjanji hentikan kegilaannya setelah kami menikah. Kami berkomitmen belajar menerima kekurangan masing-masing. Berapi-api di dalam suite. Kemudian bercium ...."
Archilles tak ingin dengarkan kelanjutannya. Ia merengkuh Arumi dan mengecup bibir Arumi sebelum cerita itu selesai.
"Um ...."
Dan singgah di hampir setiap titik di wajah istrinya.
"Ka ...."
Archilles Lucca kembali ke bibir, menutup mulut istrinya sebelum Arumi sempat selesaikan satu kata. Ia cuma menggila saat bersentuhan dengan bibir Arumi. Tahu bahwa tak ada yang terjadi di antara Xavier Moon dan istrinya karena ia menikahi gadis suci pagi ini dengan kerudung di wajahnya. Tetap saja ia cemburu.
"Aku yakin Anda hanya seprofesional sama seperti mencium lawan main di drama." Archilles berhenti sejenak. Ingin tahu tetapi takut.
Pria itu hibur diri sendiri dengan kalimat pelipur lara sebab ia tak mau dengar apapun.
"Tidak! Kamu mendorongku untuk sungguh-sungguh bersama seorang pria."
"Aku tak berhenti memaki diriku karena itu."
"Egomu tak perlu terpukul, Tuan!"
"Lalu ..., apa yang Anda dapatkan, Nyonya? Sesuatu yang istimewa?" Archilles Lucca semakin terbakar.
Arumi terdiam dalam menit panjang. Suaminya merana seakan bersiap untuk hangus dan sisa kepulan asap.
Perlukah dipadamkan?
"Beruntungnya ..., aku lebih banyak butuh antisipasi untuk siapkan diriku, pikiranku dan emosiku memulai petualang di dunia kesenangan gratis. Hatiku memang dirancang hanya untukmu."
"Aku sungguh pria tak tahu diri yang beruntung."
Raut suaminya merekah dan pria itu mudah berbunga-bunga seperti kembang kol matang.
"Itu yang dikatakan Xavier!"
"Anda pandai memukul bola, Mrs. Lucca," keluh Archilles telah lingkari pinggang istrinya dengan tangan kirinya. Mereka berciuman.
"Aku tidak bisa tidak mengingat apa yang telah aku lewati selama sebulan ini. Rasanya tujuh tahun bukan apa-apa dibanding tiga empat Minggu."
Archilles Lucca hanya akan peka bahwa pengabaian dan penolakannya sisakan sakit di hati Arumi yang tak mudah disembuhkan. Sentuhannya lembut. Dan tak berhenti di bibir. Ia telah pergi ke rahang di mana ciuman pertama mereka terjadi di sana. Arumi Chavez, bos belianya tanpa sengaja ciptakan kekacauan di dapur. Menahan dasi dan membuatnya mencium rahang gadis itu di dapur.
Arumi kalungkan kedua tangan di tengkuk Archilles. Sedikit buaian jemari halus di sana dan suaminya telah mengerang di cekungan leher, eratkan pelukan.
Oh, sama-sama sukai sentuhan sederhana tetapi sesuatu mulai menyala-nyala.
"Nona ...."
Tak ada yang bisa move on dari kisah pengawal rendahan dan majikan manja kaya raya, cantik, konyol dan bodoh yang ternyata adalah sepupu jauhnya. Andai dirinya tak pernah tertukar, ia mungkin akan nikahi Arumi Chavez Diomanta sewaktu kekasihnya berusia 18 tahun.
Saat kembali pada masa lalu, mereka hanya saling jatuh cinta satu sama lain. Walaupun, Archilles Lucca telah kehilangan gadis belianya. Istrinya tanpa senyuman dan setiap Arumi mencoba, mata-mata semakin semburkan kesedihan tak teraba. Itu adalah luka terlampau dalam.
"Aku adalah pendosa yang ciptakan kesedihanmu. Akhiri ini denganku." Ia macam pengemis.
Archilles bangkit berdiri dan bawa Arumi bangun. Lepaskan pengikat gaun putih Arumi sisakan bahan jauh lebih polos dibaliknya. Semua sisi indah dan feminim ditonjolkan oleh dalaman berenda hitam, sisakan sosok misterius penuh tantangan. Bahkan imajinasi paling liar sekalipun tak pernah bisa menjangkau ke sana.
Dia manis, menggemaskan dan luar biasa 53k51 meski bobot tubuh terbilang cukup kurus. Archilles Lucca berhenti bernapas. Ia lekas-lekas mabuk. Lalu, saat pulih, seberapa deras jantungnya berdetak ia harap bisa didengar langsung oleh kekasih.
Menggiring Arumi duduk di tepian ranjang pendek dan sempit, ciumi lutut istrinya. Kembali pada memar kebiruan di suatu tempat di area paha. Elusan itu sebabkan Arumi sedikit menghindar.
"Sakit?"
"Sepertinya ketika membawa koper kemari, aku terbentur dan tidak sadar." Arumi bantu akhiri rasa penasaran suaminya. Sebenarnya kondisi ini akibat dari makhluk jahat di kepalanya.
Archilles membungkuk dan sedikit berjinjit ke sana. Kecupan-kecupan kecil, ia telah telusuri jalanan pulang pada kekasih dalam penantian. Tangan-tangan sebagai topangan tubuh. Arumi jauh lebih lihai soal ciuman. Ia agak cemas pada balasan nanti. Berencana lakukan yang terbaik agar kekasihnya turn on dan lembut juga lembab setibanya nanti.
Jari jemari lepaskan jas, vest kemudian kemeja sendiri. Mata-mata awasi tanpa kedip. Dia putuskan tidak hanya ciuman di bibir tetapi lebih banyak sentuhan dan kecupan. Hampir di seluruh wajah istrinya.
Terbenam di belahan dada istrinya. Dia gelisah sampai tangan-tangan halus menelusup ke dalam helaian rambutnya menenangkan. Itu adalah 53n5u4Iitas seumur hidup yang menggetarkan. Tidak cuma di sana saja. Tangan mulai turuni tengkuk. Leher dapatkan perhatian, elusan sisi bidang jari juga belakang jari hingga kuduknya meremang. Lalu, remasan pada otot bisepnya telah bawa ia melayang tinggi di atas awan.
Sapaan Arumi lewat sentuhan fisik yang intim tentukan nada untuk mulai lewati malam. Istrinya mengajarinya tak selamanya harus dengan ciuman. Rekomendasikan interaksi jenis lain yang tak kalah hebat dari ciuman.
Mata Archilles terpejam saat Arumi mengangkat kepalanya dan perlahan sentuh dirinya. Sesuatu yang berkualitas karena Archilles hanya diselimuti perasaan romantis.
Seperti aliran mata air jernih di musim kering, Arumi tempatkan hati dan seluruh emosi dari jiwa ke dalamnya dan kini panggilan gairah bayangi sekaligus bangunkan hasrat.
Tidak terburu-buru jelajahi tubuh suaminya. Gerakan Arumi telah buat Archilles mudah meleleh, sekuat tenaga bendung ketegangan agar tidak dahulu meledak. Tidak mudah karena ia pria 31 tahun tunduk pada sang istri yang tujuh tahun lebih muda darinya.
Pria itu tanpa sadar telah memohon pada istrinya untuk segera bertualang. Namun, alih-alih turuti permintaannya, istrinya malah menyiksanya hingga yang tersisa dari pria itu hanyalah nada primitif di tenggorokan.
Angin kemarau di luar. D3s4h4n terkadang decak kecupan mengisi rumah pohon. Sisanya adalah rengekan, menyebut nama dan kepuasan dengan banyak rasa.
Dan pria, mengukur waktunya sendiri. Ia memeluk pinggang istrinya. Balikan posisi, baringkan Arumi hati-hati. Kaki-kaki jenjang istrinya buat ia ucapkan banyak frasa dalam tiap 3r4n94n.
Ikuti naluri para pria sejati, segera ciptakan pola yang tak mampu ditebak istrinya hingga ia mendengar hanya namanya terpantul di dinding-dinding kayu.
"Archilles ... Archilles ...."
Liukan bahasa tubuh adalah kado terindah. Ia perlu bawa Arumi sampai pada titik-titik kelembutan.
Butir-butir keringat dan pacu detak jantung, hantarkan mereka pergi ke sana akhirnya di jam-jam yang suci sebagai suami dan istri setelah hidup di sandera nasib malang. Takdir ditempuh dengan jalan panjang dan rumit. Suaminya mengatur bantal, letakan di bagian bawah pinggulnya. Arumi memeluk leher suaminya erat-erat. Adalah sebuah harmoni yang merobek tubuhnya untuk sebuah peleburan dua orang menjadi satu.
Kehilangan rasa sakit di seluruh tubuh. Ia telah menangis dikarenakan bahagia juga bayangan kelabu tentang esok. Menghirup aroma maskulin.
"Namaku Archilles Lucca, aku pengawal Anda yang baru, Nona." Kepalanya mengulang perkenalan mereka. Dan bagaimana pria itu memeluknya di tepi sungai.
"Aku mencintaimu!"
"Jangan menangis please," bujuk Archilles. sedang pria itu sendiri berderai air mata. "Maafkan aku."
Arumi terjatuh di lengan suaminya setelah habiskan waktu dan energi beruap bersama. Ingin menutup semua jendela kesedihan. Kembang api meletus. Itu mengagetkan. Lalu, bunga-bunganya yang cantik bermekaran di atas mereka. Langit terlampu indah.
"Tebak ..., ide siapa?" tanya Archilles Lucca serak, mencium kening istrinya.
Pelukan posesif, ia menarik kain dari bawah kaki, selimuti separuh tubuh mereka.
"Kareniña Luciano ..., tak ada yang sejahil dia."
"Heran, dari mana bakat itu datang? Mr. dan Mrs. Owl cuma dua orang pendiam yang tak suka cari kacau."
"Lupa siapa namanya? Kareniña Luciano. Ayah baptisnya adalah berandalan yang suka merusuh."
"Jangan abaikan Tuan Hector Anthony dari sisi Ax."
Arumi bergelung pada tubuh suaminya. Ia tidak ingin tidur tetapi kelelahan secara mental dan fisik. Ia menguap lebar.
Archilles Lucca menekan tepi-tepi di sepanjang tulang belakang istrinya, pijatan ringan dengan ibu jari.
"Bolehkah aku tinggal tidur?" tanya Arumi mendongak pada suaminya. Menggambar rahang Archilles Lucca di dalam otak. Dapatkan kecupan di bibirnya yang mulai menebal dan berat. Pahanya lumayan kram tetapi yang didapatkan sebelumnya adalah rupa-rupa nikmat yang tak bisa ia utarakan ke dalam kata.
Mereka terlelap di sana, di dalam rumah kecil yang dibuat kekasih untuknya.
Arumi menangkap suara cekikikan dan ia berada di sebuah dapur. Archilles Lucca dengan seorang pria kecil dalam gendongan belt sedang pegangi vacuum cleaner. Dua gadis berusia 9 tahun dan 5 tahun berkejaran dalam rumah.
Arumi dengar suaranya berteriak.
"Aurora ..., please Honey!"
"Tatia menggangguku, Mom!" balasan keras.
"Tatia?!" tegur Arumi tak sadar telah menjerit.
"Aku hanya ingin mengajak Aurora bermain, Mama." Cemberut dan kesal. Lambaikan pena milik Aurora dan sebuah buku.
"Aku sedang kerjakan tugas, Tatia! Kita bermain nanti saja. Tolong kembalikan bukuku!"
"Tidak mau!"
"Mama! Papa!" Aurora mengadu.
"Gadis-gadis, berikan waktu tenang untuk ibumu, please! Tatiana, kembalikan milik kakakmu!" Suara suaminya seperti wasit di sebuah pertandingan.
Rumah hening hanya dalam lima hitungan.
"Oh, Sayang, beruntung aku menikahimu. Setidaknya Anda sangat tahu menjaga rumah tidak terbakar." Arumi masukan pan ke dalam oven. Suaminya datang. Mereka berciuman di dapur.
"Tolong simpan energi cadangan untuk malam nanti, Sayang."
Arumi tersenyum. "Aku mencintaimu, Mr. Lucca."
Guncangan keras di bahunya.
"Narumi?!"
Matanya separuh terbuka. Suaminya terlihat panik. Oh, apa yang terjadi?
Arumi rasakan cairan muncrat dari mulutnya. Ada amis yang mengganggu.
"Sayang?! Tetaplah bersamaku." Suaminya selimuti tubuhnya dengan kain.
"Archilles Lucca ..., hukumanmu akhirnya akan dimulai."
***