My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 119. Mean Man



💌 : Arumi Chavez, apa aku bisa meliput aktivitas terbarumu? Para fans bertanya, kapan kamu adakan Meet and Great. Mereka mencemaskanmu.


💌 : Pergilah ke Pets Hotel. Ambilkan foto hewan-hewan peliharaanku. Masukan mereka ke fanpage sementara foto terbaruku dilaunching.


💌 : Fansmu butuh fotomu bukan hewan peliharaanmu. Pantas saja gadis ini disebut bodoh.


💌 : Fanpage tak selamanya harus aku, Mayat Hidup. Apa yang aku suka akan disukai fansku.


💌 : Betapa culasnya gadis satu ini. Dia bahkan tak bertanya, apa aku masih hidup setelah menyelamatkannya. Bukankah kita harus sering bertemu dan saling melihat?


💌 : Berterima kasih padaku. Kau tak aku adukan pada Archilles karena merayuku tidur denganmu.


Modus Si Mayat Hidup sejak awal memang begini. Arumi Chavez mencibir.


💌 : Foto tanpa atasanmu sangat tidak bermoral. Singkirkan sebelum aku sendiri yang ambil alih. Apa maksud pamer bullllu d4d4 di fanpage-ku? Pikirmu 53k51? Astaga. Mengerikan.


💌 : Apa yang bisa kau lakukan? Sandinya ada padaku dan aku keluarkan akunmu dari pemilik fanpage, administrator dan lainnya.


💌 : Archilles akan menendangmu dari sana dan mengganti kepalamu dengan kepala induk babi.


💌 : Harusnya kubiarkan saja dia celaka hari itu!


Arumi Chavez tak membalas. Menutup kepala dengan selimut dan bergelung di dalam.


Hari mau pagi. Arumi malah akhirnya jatuh terlelap. Mimpinya di penuhi Archilles Lucca. Mereka mengayuh sepeda gandeng di sisi sungai Càrvado. Semakin larut saja. Ia semakin terikat.


"Sayang ..., kamu perlu bangun dan berolahraga."


Nastya Lucca menggeser gorden kuning keemasan hingga cahaya pagi masuk. Wanita itu pergi ke ranjang dan mengecup kening Arumi. Berikan berkat pagi.


"Terima kasih, Tuhan, anak-anak kami masih diberikan napas kehidupan hari ini. Berkati mereka dengan kasih - Mu. Jauhkan mereka dari bahaya dan sertai mereka selalu. Selamat pagi, Sayang."


"Pagi, Aunty Nastya." Arumi Chavez masih ingin tidur. Matanya terbuka sedikit. Seumur hidup, Arumi tak pernah diberkati oleh Ibunya seperti yang baru saja dilakukan Aunty Nastya. Hebatnya, setiap pagi dan malam, Tuan Maurizio dan Istrinya pergi ke kamar tiap anak dan mengambil waktu mengobrol juga berdoa bersama sebelum mereka tidur. Patut di contoh.


"Semalam aku belajar sampai tengah malam."


"Apakah sulit?"


"Tidak, Aunty. Selama Archilles adalah gurunya. Aku akan melotot padanya dan menyerap sedikit ilmu."


Aunty Nastya tersenyum geli. "Aku bisa melihatnya. Archilles dan Zefanya menunggumu di bawah. Udara pagi bagus untuk tubuh kita. Terlebih pacarmu tak sabaran ingin melihatmu."


"Archilles Lucca segalanya bagiku, Aunty. Aku pernah menangis selama seminggu penuh saat dia pergi."


"Cinta yang sangat indah. Nah, bangunlah. Nikmati waktu Anda berdua dan raup lebih banyak cinta, simpan di hatimu dan jadikan bekalmu agar lebih semangat jalani hari. Pegang erat dia, Sayang!"


Satu Minggu sudah Archilles Lucca dan Arumi Chavez berada di Càrvado. Tuan Maurizio Lucca sengaja menyuruh Archilles kembali ke Càrvado antarkan sendiri Zefanya, Lucia dan Zevas, agar bisa menahan puteranya di Càrvado. Archilles tidak langsung kembali dari rumah tepi pantai malam itu karena Arumi tak sanggup lakukan perjalanan pulang karena letih dan capek.


Mereka kembali pagi berikut. Mulanya Archilles minta ijin pada Nyonya Salsa dan Tuan James untuk membawa Arumi Chavez bersamanya, tetapi Salsa Diomanta menolak tegas ide itu.


Archilles Lucca terpaksa andalkan bantuan Ibunya.


"Tolong aku, Ibu."


Ya, itu berhasil.


Mungkin hanya Nastya Lucca satu-satunya yang tidak bisa dikuasai Salsa Diomanta. Nastya Lucca belum selesai satu kalimat, Salsa Diomanta langsung mengiyakan, asalkan seluruh peliharaan Arumi ikut dengan tuannya atau dititipkan pada hotel khusus hewan. Intinya tidak ada di mansion dan berkeliaran ke sana kemari mengganggu penglihatan.


Akhirnya, Arumi mengalah. Sementara waktu berpisah dengan Tatiana dan Itzik. Kedua hewan itu akan berada di hotel khusus dan baru akan dijemput saat Arumi kembali.


Banyak hal yang mereka lakukan sepanjang hari dan Arumi harus akui Càrvado dan penghuninya lebih menyenangkan dibanding bersama Ibunya.


Arumi Chavez tinggalkan ruang tidur. Ia tersenyum kecil melihat dua orang di halaman menunggunya. Zefanya melambai senang.


"Pagi."


"Pagi, Zefanya."


"Pagi, Nona. Apakah tidurmu nyenyak?" tanya Archilles Lucca balas tersenyum.


"Ya. Aku suka di sini," angguk Arumi Chavez. "Bagaimana denganmu, Zefanya Lucca?"


"Ya ya ya, aku masih gelisah karena runag tidurku sebesar kelasku. Beruntung, Nona Caroline temani aku."


"Baiklah, karena semua orang sudah berkumpul, mari kita mulai Nona-nona."


"Oh, sabar dulu Archilles," cegah Zefanya.


"Apa lagi?"


"Kita perlu berdiri di bawah ruang tidur, Chaterine Lucca dan semangati kakak perempuanku."


"Ide bagus."


Chaterine tak bisa bergabung dengan mereka karena luka ditusuk jarum pun dapat bahayakan nyawanya.


"Matahari bersinar di pagi yang cerah. Pakai alas kakimu dan kita mulai bergerak. Selamat pagi, oh, selamat pagi. Semangat, oh, semangat. Kejar mimpimu dan raih cita-citamu. Chaterine Lucca, selamat pagi! Kami menyayangimu!" Zefanya lambaikan tangan, nyanyikan lagu semacam mars sekolah yang hanya dia sendiri tahu.


Chaterine menggeser jendela dan melongok. Archilles Lucca melambai dari bawah. Dia punya adik perempuan satu darah dengannya. Sangat cantik bermata kehijauan yang indah, berkulit sangat putih karena terlalu terkurung di dalam rumah.


"Semoga hari kalian menyenangkan," balas Chaterine riang.


"Terakhir dia keluar kamarnya saat menyambut kami. Menurut ibu, itu pertama dan terakhir kalinya."


"Semoga mujizat datang padanya dan Chaterine Lucca bisa sembuh," sahut Arumi Chavez.


Pagi dimulai dengan berolahraga. Mereka jogging sepanjang lahan pertanian Càrvado. Di sini pagi dan sore selalu berkabut dan berembun. Udara lebih dingin.


Lonceng di kejauhan berbunyi. Nyonya Nastya di sana bersama dua asisten rumah, menunggu mereka kembali untuk sarapan.


Kemudian setelah sarapan, mereka akan berada di perpustakaan sepanjang siang untuk belajar.


Archilles Lucca ajari Arumi Chavez tidak hanya mengajari materi-materi Ekonomi dan akutansi tetapi juga geografi, sejarah dunia, sedikit sains dan ilmu pengetahuan umum sampai hampir menjelang makan siang. Bahkan berlanjut setelah makan malam.


Terkadang Zefanya ikut kelas mereka. Gadis itu jauh lebih cerdas dari Arumi Chavez tetapi pura-pura bodoh ketika materi berhitung tiba. Kecuali Matematika berkaitan dengan uang. Perhitungan paling rumitpun dikuasai Zefanya dan Arumi Chavez. Keduanya sama-sama suka uang.


"Harusnya matematika hanya tentang uang bukan integral, aljabar, logaritma. Siapa yang peduli ketika lampu merah menahanmu dan kamu perlu menatapnya dan berteriak, oh ya ..., aku tahu ..., kamu di bawah sistem pengendalian logaritma?"


Arumi Chavez mengeluh dan Zefanya tertawa lebar dari sebelahnya. Archilles Lucca berdecak. Ia sedang jelaskan manfaat Aljabar, Logaritma dan Integral dan penerapan di kehidupan nyata tetapi Arumi Chavez hanya ingin Matematika yang berkaitan dengan uang.


"Nona, setiap ilmu bermanfaat untuk manusia."


"Ya, akhirnya aku memang akan tampak bodoh jika berlawanan arus."


Satu hal menarik, Arumi Chavez tidak malu minta Zefanya mengajarinya cara berhitung paling cepat dan praktis. Gaya Zefanya berbagi teori sains lebih mudah dipahami Arumi karena Zefanya gunakan bahasa anak sekolah dasar. Penemuan baru dan cerdas. Sesuatu yang tidak terpikirkan oleh Archilles Lucca bahkan Ethan Sanchez ketika menjadi guru private Arumi Chavez. Alhasil, dibanding Archilles, Arumi lebih mengerti konsep yang diterapkan Zefanya. Tidak heran Ethan Sanchez memuji kecerdasan Zefanya.


Gara-gara kecintaan Zefanya pada sains, setelah makan siang mengajak Arumi Chavez di pojok perpustakaan membaca ensiklopedia sains diawali dari seri pertama. Arumi Chavez akhirnya ketularan.


Sebagai ganti, Arumi bagikan ilmu modelling dari paling dasar sebelum mereka praktikan. Tidak hanya itu, Arumi mengambil waktu satu-dua jam sebelum minum teh sore menjadi guru les piano. Nah, Zefanya lebih cepat tanggap dibanding Archilles. Walaupun tak bisa hindari beberapa ketukan di kening.


Tentu saja dunia begitu indah saat kekasihmu di sisimu dalam sebuah keluarga utuh dan lengkap. Arumi Chavez menerima banyak bantuan dari semua orang. Dari Lucia dan Zevas yang sangat tertarik pada gadisnya. Lucia menunjukan beberapa resep rahasia turun-temurun Pastel de Nata. Mengajari Arumi Chavez resep paling sederhana untuk sarapan.


Siang itu setelah makan siang, hari terakhir Arumi Chavez berada di Càrvado.


"Lihat pohon apel di luar Nona Arumi. Setiap aku melihatnya aku mengingat Sir Isac Newton dan gaya gravitasi. Sains itu mudah dan indah."


Jika Zefanya melihat pohon apel dan kaitkan dengan sains, maka Arumi melihat pohon apel dan tertarik pada pria di dekat pohon dengan gergaji listrik di tangan. Jiwanya meronta-ronta.


"Pada hari-hari kelabu, ketika hariku tidak berjalan baik. Rasa takut datang dan akhirnya adalah malapetaka. Aku akan menoleh ke belakang. Dia selalu di sana. Mengatakan, terus melangkah. Jangan takut apapun! Aku akan menjagamu dengan nyawaku. Tiap menatapnya aku ingin waktu berhenti. Aku ingin jika aku mau, memeluknya sepanjang waktu. Ada tempat luas dihatinya untukku. Dia ..., pria terbaik yang aku miliki. Dia ..., menarikku hanyut pada pusat pesonanya."


Tentu saja Zefanya melongo. "Bukankah ini bisa jadi lirik lagu? Oh astaga. Kasih judul, Dia Gravitasiku!"


"Uhhum, keren," angguk Arumi Chavez tak lepaskan mata dari Archilles. Pria ..., menarik dengan peralatan tukang. Memangnya apa yang akan dia buat?


"Oh, aku menyesal karena pernah diam-diam hubungi call center rumah sakit jiwa untuk mencari dokter kejiwaan."


"Oh ya?"


"Aku pikir Archilles Lucca alami gangguan mental karena terus bicarakanmu. By the way, Anda sangat jenius, Nona Arumi Chavez. Bagaimana bisa Anda membahas pohon apel dan gaya gravitasi lalu ciptakan lirik lagu?"


"Ini lagu ketiga untuk Archilles."


"Luar biasa. Mainkan nanti, aku yakin Archilles akan tidur jungkir balik malam ini." Zefanya kecekikan.


Archilles Lucca menoleh pada mereka. Keduanya pura-pura kembali ke buku. Namun, Arumi Chavez tak bisa menyimpan rasa di dalam dirinya. Mereka hampir tidak bersentuhan selama di Càrvado meskipun ruang tidur berhadapan. Ketika ucapkan selamat malam, mereka akan berdiri di pintu ruang tidur masing-masing. Katakan "Goodnight, mimpi indah". Lalu, berbalik dan buru-buru mengunci pintu. Arumi pejamkan mata. Terlalu banyak hal indah yang ia dan Archilles ciptakan. Semuanya mendebarkan dan penuh gejolak. Bersepeda, menari di atas awan, main di rumah pohon, berkuda.


"Anda memikirkan aku, Nona?"


Bagaimana bisa bisiknya saja bikin candu? Gadis itu melihat keluar dan bahwa pria itu tak lagi ada di sana begitu pula Zefanya Lucca. Arumi Chavez takut berpaling karena napas lain sedang berhembus di dekat tengkuknya.


Archilles berlutut di atas satu kaki di depannya. Mata-mata itu menatapnya.


"Aku penasaran, apa yang sedang kamu buat, Archilles?" tanya Arumi Chavez balas perhatikan Archilles.


"Banyak. Bangku panjang untuk ditaruh dekat kolam ikan agar Lucia dan Zevas bisa habiskan sore indah mereka. Juga, ayunan agar Anda bisa duduk di sana dan berayun setiap Anda berkunjung kemari. Sayang sekali, aku harus antarkan Anda kembali ke Mansion karena waktu libur Anda berakhir. Lagipula, hubungan Tuan dan Nyonya Chavez lebih rekat jika Anda selalu di dekat mereka."


Arumi Chavez berkaca-kaca. Masih ingin bersama. "Aku akan merindukanmu selalu."


Archilles Lucca mengusap alisnya pelan. Itu adalah sentuhan pertama mereka selama di Càrvado.


"Hari itu akan tiba sebentar lagi, Nona. Kita akan segera bertemu untuk pernikahan kita."


"Nona, selama aku tak ada di sampingmu, jangan pernah tinggalkan Mansion kecuali bersama Alfredo Alvarez."


Arumi Chavez mengangguk. "Jangan cemas. Aunty Sunny akan segera kembali dari China. Aku akan selalu bersamanya."


Archilles Lucca antarkan Arumi Chavez kembali ke Diomanta Mansion, keesokan harinya. Tidak lupa mengunjungi Itzik dan Tatiana. Kedua hewan itu sangat senang melihat tuannya. Itzik bahkan melolong seakan bernyanyi lagu di bagian chorus dari lagu My Heart Will Go On. Tetapi, Arumi putuskan akan buatkan keduanya rumah dulu baru membawa mereka pulang.


"Apakah liburanmu menyenangkan?" Salsa Diomanta sumringah menyambut Arumi.


"Ya, Mom. Aunty Nastya doakan aku pagi dan malam di tepian ranjangku dan lakukan apa yang harusnya dilakukan seorang Ibu pada puterinya," sahut Arumi Chavez langsung pergi ke kamarnya.


"Kamu tak rindukan aku?"


Arumi menyipit. "Aku hampir lupa kalau punya Ibu. Untung Archilles ingatkan aku waktu liburku habis."


"Lihat dia! Padahal aku besarkannya dengan susah payah, malah bandingkan aku dengan kerabatnya yang ia temui sepuluh tahun sekali." Menengok pada Archilles Lucca. Keheranan.


"Anda perlu meniru cara Ibuku perlakukan Nona Arumi."


"Ya, aku akan menggendong pacarmu nanti malam dan mengayunnya hingga tertidur."


"Aku akan menyusul Nona ke atas." Archilles Lucca ingin tertawa tetapi takut menyinggung Salsa Diomanta. Lagipula, ia harus buru-buru pergi sebelum Salsa Diomanta berkata, "Archilles Lucca, kita perlu bicara".


Baru hendak masuk ke ruang tidur Nona Arumi, Archilles Lucca mendengar suara yang sangat familiar.


"Aku tahu dia di dalam dan baru datang! Aku melihatnya!"


"Anda dilarang masuk kemari, Tuan."


Archilles Lucca melongok ke bawah. Ia dapati ayah angkatnya di bawah menyandera penjaga gerbang mereka, Egythio. Sementara Agathias dan Alfredo Alvarez bersiaga dengan senjata.


Raul Lucca?!


"Ada apa ini?" Salsa Diomanta menghardik.


"Archilles?!" panggil Raul keras.


Archilles Lucca mengerang.


"Ada apa, Archilles? Siapa yang meneriakimu?" Arumi Chavez keluar dari ruang tidur.


"Masuk ke dalam, Nona!"


"Tetapi ...."


"Tolong tinggal di dalam. Ayah angkatku berkunjung. Aku tak suka Raul bertemu denganmu. Tolong patuhi aku sekali lagi. Jangan pergi dari kamar Anda sampai dipanggil."


"Apa kau tak punya sopan santun sama sekali? Siapa yang kau cari?" Salsa Diomanta terdengar muak.


"Kamu tak dengar nama siapa yang aku panggil?" tanya Raul Lucca tekankan moncong pistol pada kepala penjaga rumah.


"Kau akan ulangi lebih jelas, siapa yang kamu cari? Sebab tak ada orangmu di sini."


"Archilles Lucca ...."


"Tutup mulutmu! Archilles Lucca yang mana? Bayi yang kamu culik? Dia adalah kerabatku, milik kami terlebih sejak aku melempar satu koper uang padamu juga terakhir kali menantuku berikanmu uang agar tak mengganggu Archilles lagi."


Raul Lucca tertawa keras. Terbahak-bahak. Wajahnya sangat menakutkan tetapi Salsa bukan wanita lemah. Malah melangkah semakin dekat pada Raul.


"Lihat dirimu, kotor, serakah dan menjijikan. Jika aku jadi kau, aku akan sayangi Archilles Lucca karena dia adalah jaminan kehidupan tuaku. Tetapi, lihatlah pria dungu ini! Keluar dari sini sebelum aku hilang sabar dan lenyapkanmu dengan tangan sendiri!"


"Raul, kamu di sini?" Archilles Lucca turun dari lantai atas. Yakin, Raul Lucca mungkin mengintai mansion berhari-hari. "Taruh senjatamu!"


"Akhirnya kau muncul juga."


"Apa lagi sekarang?"


"Yang pasti aku datang bukan karena aku ingin menjengukmu."


"Mari selesaikan masalahmu!" kata Archilles Lucca sabar dan penuh kasih. "Pertama, lepaskan dia! Lalu, kita akan naik mobil berdua dan bicara. Tidak di tempat ini."


"Kamu tak ingin perkenalkan calon istrimu padaku?" tanya Raul sedikit sinis. "Ayahmu?"


Ayah?


Apakah seorang ayah yang tega menjual anaknya pantas dipanggil ayah? Archilles Lucca menahan diri.


"Kalau saja kau mengetuk pintu saat datang tadi, Raul, pacarku mungkin akan menyapamu dan perkenalkan diri. Kau bertingkah macam perampok, dia ngeri melihatmu. Terlebih tampangmu. Astaga. Ayo kita pergi! Aku akan antarkanmu bercukur dahulu dan mengganti pakaianmu."


Salsa Diomanta tak percaya sikap Archilles hadapi Raul Lucca, seperti anak lelaki yang penurut. Terlalu lemah. Sedang Salsa berpikir untuk menembak mati Raul dan membuang tubuhnya dalam lahar panas. Masalah selesai.


"Nyonya Salsa, Nona Arumi membutuhkanmu." Archilles berpaling pada Salsa Diomanta yang rautnya mau muntah melihat Raul Lucca. Mungkin dibanding tikus peliharaan Arumi Chavez, Raul Lucca lebih menjijikan.


"Resleting jaket Nona terkunci. Ia kesusahan lepaskan benda itu. Nona ingin Anda membantunya."


Archilles Lucca menyuruh Salsa Diomanta ke lantai atas. Yang disuruh hendak protes. Mata Archilles peringati untuk tidak egois sebab Arumi Chavez mungkin ketakutan di kamarnya. Kekerasan yang pernah dialami Arumi sedikit memudar ketika mereka berada di Càrvado. Mereka tak bisa ambil resiko dengan memancing trauma gadis itu kembali. Salsa Diomanta akhirnya mau bekerja sama.


"Agathias, Alfredo, turunkan senjata kalian. Pria ini, Ayahku. Yang telah besarkan aku. Dia bukan penjahat. Dia hanya ingin bicara denganku."


"Tuan Muda ...."


"Agathias ..., sejahat-jahatnya harimau tak akan menggigit anaknya sendiri. Aku akan baik-baik saja. Justru jika kamu ikuti aku, mungkin saja akan buat ayah angkatku tertekan dan mengambil tindakan tak terduga."


"Baiklah. Aku akan menunggu Anda kembali." Archilles tahu pernyataan Agathias adalah kebalikan dari maksud sebenarnya.


"Alfredo ..., tolong ceritakan 'dongeng' ini pada Nona sebelum dia tidur nanti malam. Aku sering kisahkan padanya." Archilles Lucca menatap Alfredo.


Di sini kepentingan berbeda. Agathias diperintahkan langsung Ayahnya untuk menjaga dan lindungi dirinya. Arumi Chavez tidak termasuk dalam agenda Agathias Altair. Jadi, Agathias tak begitu peduli misal Arumi Chavez terluka karena tugasnya cuma satu, pastikan Archilles Lucca hidup dan selamat.


Archilles Lucca ingin Alfredo Alvarez tinggal untuk menjaga Nona Arumi Chavez. Karena Archilles sangat gelisah.


Agathias akan temukan cara mengekor dirinya. Raul Lucca mungkin dikirim seseorang dengan tujuan tertentu.


"Sekawanan serigala suka pergi bersama-sama. Tiga terdepan adalah serigala tua. Tengahnya yang lebih muda dan kuat. Mereka terampil dan cekatan. Paling belakang, dua ekor pengawal. Sedang pemimpin mereka paling belakang. Ada satu yang tak terlihat dari kawanan ini karena adalah serigala pengintai. Dia sering dikirim untuk alihkan perhatian dan kacaukan barisan musuh agar kelompok mudah menyerang."


"Dongeng yang bagus."


"Katakan pada Nona Arumi, aku sangat mencintainya."


Archilles Lucca datangi Raul Lucca yang langsung mendorong keras sanderanya hingga terjatuh, alihkan pistol pada Archilles. Menaruh moncong di leher Archilles. Mereka berjalan mundur.


"Apa aku bisa menyerangmu, Raul?" tanya Archilles Lucca berdecak. Biarkan dirinya di sandera ayah angkatnya.


Mereka naik mobil. Archilles menyetir sedang Raul masih tetap menodongnya dengan senjata.


"Menjauh dari orang-orangmu, Archilles!"


"Mereka tak ada di belakang!"


Archilles memeriksa spion. Agathias sepertinya kehilangan dirinya karena tertahan rambu-rambu lalu lintas.


"Janggutmu terlalu panjang, Raul. Mau mampir bercukur? Kita bisa makan bersama setelahnya."


"Apa kamu ingin lumpuhkan aku di sana? Lihat jalanan, Archilles. Aku suka penampilanku dan tak butuh makanan."


"Anehnya aku tak bisa membencimu meski aku coba."


"Aku tak percaya padamu!"


"Di mana kamu ingin kita bicara?"


"Pelabuhan lama."


Mereka pergi ke sana.


"Gudang 79."


Archilles menurut. "Apakah kamu tinggal di sini, Raul? Di mana uang dari hasil menjual-ku? Kamu sia-siakan?"


"Tutup saja mulutmu."


Pintu gudang terbuka. Archilles Lucca masuk ke dalam. Tidak terkejut temukan Abercio di sana ditemani banyak pria besar.


"Raul ..., dia menjebakmu. Kamu mungkin akan dihabisi setelah serahkan aku. Pergilah dari sini saat ada kesempatan."


"Keluar!" Perintah Raul Lucca. Archilles menghela napas panjang. Buka pintu mobil dan turun.


"Kerja bagus, Bung. Tidak sia-sia aku keluarkanmu dari penjara." Abercio bertepuk tangan penuh semangat. "Selamat datang, Teman," sambutnya pada Archilles.


"Kamu dapatkan aku, biarkan Ayahku pergi!" kata Archilles Lucca. Hatinya mudah terluka karena Raul Lucca. Mengumpati diri sendiri karena berharap ada sesuatu yang tersisa di antara mereka untuk diperjuangkan.


"Ya. Ambil uangmu, Ayah." Abercio lemparkan satu tas uang, mengejek Archilles.


Raul Lucca mengambil tasnya, berbalik pergi tak disangka-sangka.


Dor!


Abercio meraih pistol dan menembak Raul Lucca hingga pria itu jatuh tersungkur di hadapan Archilles.


***