
Mata-mata terpejam. Kantuk sangat kuat mencengkeram. Ia tertidur. Dalam mimpinya mereka ada di mini bioskop dan menonton Me Before You.
Mengapa film menyedihkan itu?
Ending film ini bagi sebagian orang adalah kebahagiaan tetapi baginya hanya kesedihan karena sang pria memilih kematian.
Mencintai yang merelakan. Mencintai seseorang bukan berarti harus menahan yang kita cintai untuk tinggal.
Bernapas sesenggukan. Ia seperti jiwa yang kehilangan arah. Terlebih kini, ia merasa mereka akan berakhir seperti di film itu.
Ya Tuhan, tolong kekasihnya.
Napas hangat seseorang menerpa wajah. Arumi Chavez perlahan buka mata. Berharap temukan mata prianya. Ia sangat-sangat merindukannya.
Namun ....
Sangat terkejut dapati Itzik Damian sedang amati wajahnya dengan takzim. Beruntung ia sedang sekarat, kaki dan tangannya kaku.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Mulutnya tidak. "Menyingkir dari atasku sebelum aku meludahimu!" Perintah Arumi pelan.
"Arumi Chavez ..., apakah kamu sungguhan manusia?" tanya pria itu miring ke kiri dan miring ke kanan. "Apa mungkin kamu alien dari luar bumi yang menyasar ke bumi? Kamu tidak nyata! Penuh kepalsuan!"
"Menyingkir!"
"Kini, aku tahu mengapa banyak orang memujamu. Bahkan sedang tidur kamu seakan berpose untuk sebuah majalah, 'Dream About Me, Please'. Sangat rupawan. Tidak heran Lucca terpedaya pada kecantikanmu."
"Mengapa kamu di sini?" tanya Arumi Chavez ingin bangun tetapi sangat lemah. Sangat sedih mendengar nama pria itu disinggung.
"Asisten Arumi Chavez yang baru. Perkenalkan, namaku Itzik Damian. Kita sering bertemu beberapa kali. Kalau-kalau ingatanmu terganggu."
"Admin fanpageku mungkin. Sejak kapan kamu naikan jabatanmu sendiri tanpa sepengetahuanku?"
"Bukan kemauanku. Pamanmu dan Anna Marylin yang sangat mencintaimu, kirimkan aku padamu. Tolong diterima. Aku, salah satu dari barisan yang akan menjagamu mulai hari ini."
"Apa kau pergi dapatkan foto hewan peliharaanku di hotel dan masukan mereka ke fanpage?" tanya Arumi Chavez pejamkan mata. Pantulan cahaya pada wajah Itzik buatnya pening.
"Tidak! Aku putuskan hanya akan berurusan denganmu dan bukan hewan peliharaanmu."
"Kamu dipecat jadi admin fanpageku."
"Terima kasih, Sayangnya. Aku tak bisa kembali ke suatu waktu dan memecat nyawamu. Walaupun begitu, Arumi, aku akan fokus jadi asistenmu. Perintahkan apa saja kecuali berurusan dengan hewan. Aku akan lakukan yang terbaik."
Mungkin Itzik tak boleh kena cakaran hewan. Kulit pria itu terlihat macam plastik mudah sobek.
"Temukan Archilles Lucca."
Itzik Damian terdiam. "Yang ini tak bisa aku lakukan. Maafkan aku!"
"Baiklah, aku akan pulang." Arumi Chavez paksakan diri untuk bangkit. Tetapi, serangan pusing menyerangnya dengan brutal.
Aughhh!!!
"Tidurlah!" Itzik Damian ulurkan tangan. Tidak sampai.
"Peraturan pertama, jangan menyentuhku dengan sengaja."
"Itu bagus untukku, Arumi. Tanganku selalu sibuk main game." Itzik Damian keluarkan ponsel berdiri di pojok ruangan. "Aku baru saja kalahkan seseorang." Ia mulai main game.
Pintu kaca didorong dan Salsa di pintu. Itzik lekas berdiri tegak. Menurut Reinha Durante, penyihir dari Mansion Diomanta sangat cantik berusia 36 tahun. Nah, mungkin ini orangnya.
"Arumi?!"
Salsa Diomanta bergerak ke ranjang. Alfredo Alvarez di belakangnya. Bersiaga.
"Ibu ..., aku hanya pusing. Sebentar lagi baikan. Harusnya ibu tidak datang kemari. Ibu mungkin akan bertambah sakit."
"Arumi ..., maafkan aku ...," ujar Salsa meraih tangannya dan menciumnya.
Arumi meringis sedikit. Salsa melihat lebam kebiruan di jemari Arumi. Meniup perlahan karena gadisnya meringis. Ingin bertanya tetapi duluan dapat serangan.
"Mengapa tak beritahu Tuan James Chavez bahwa Ibu sedang mengandung adikku?" tanya Arumi Chavez.
Salsa Diomanta terkejut. Arumi Chavez tahu, terlebih gadisnya tak menyebut Tuan Chavez dengan panggilan Ayah.
"Aku melihatnya, Ibu. Sangat lucu. Hatiku langsung terpaut padanya." Arumi tersenyum sedikit agar Salsa tahu bahwa Salsa tak sendirian. Arumi selalu mendukung.
"Kamu pergi menemui Ayahmu? Alfredo Alvarez?!" Salsa menoleh pada asistennya yang balas menatapnya tenang.
"Mohon ubah sikapmu pada semua orang, Ibu," tegur Arumi Chavez. "Beruntung Tuan Alfredo mau tinggal."
Salsa Diomanta mengecup punggung tangan Arumi berulang kali.
"Arumi ..., aku berharap kamu tak beritahu ayahmu." Salsa menghirup udara dan hembuskan kuat.
"Belum sempat aku beritahu. Aku ingin buatkan Tuan Chavez kejutan malah aku menerima kejutan bertubi-tubi."
Pasti buruk. Pikir Salsa.
"Baiklah. Mari tidak bicarakan hal-hal yang menyakitkan, Arumi."
"Tolong, berhenti perlakukan aku seperti anak kecil!"
"Ayahmu sangat marah padaku."
Maurizio Lucca menelpon Salsa dan kecewa karena ia mengirim Archilles ke penjara. Pria itu mengetahuinya saat pergi ke Soria dan mengurus pengunduran diri Archilles. Kepala sekolah beritahu Maurizio Lucca bahwa Archilles di penjara dan kehilangan satu jari di sana.
Tuan Maurizio Lucca peringati kelakuan buruknya, putuskan tidak teruskan hal menyedihkan itu pada Nastya Karena tidak ingin istrinya terluka. Berharap James Chavez bisa kendalikan Salsa.
James Chavez dan dirinya berdebat setelah itu.
"Salsa, kamu tak bisa perlakukan putera orang lain dengan kejam. Aku pikir kita bisa bersama tetapi aku ternyata tidak pahami dirimu sedikitpun dan tidak bisa tolerir semua tindakan dan keputusan yang diambil tanpa libatkan aku. Lihat sekarang, apa yang terjadi?"
"Kamu bisa pergi, Tuan."
"Ya, aku pikir, tinggal di sisimu kita mulai membuka lembaran baru dan menulisnya bersama. Kamu, hanya seseorang yang tidak bisa diajak jalan bersama karena kamu selalu ingin di depan dan menembak ke belakang."
"Sekali ini, jika Anda pergi, Anda tak bisa kembali."
"Salsa ..., aku berharap kamu menemukan pria yang lebih baik dariku dan kendalikan dirimu. Karena ternyata aku bukan pria semacam itu. Aku tak ingin terlibat apapun rencana bodohmu dan kejahatanmu. Teruslah di sana, kamu sungguhan akan hancur suatu waktu."
James Chavez mengambil surat cerai mereka. Abaikan amplop cokelat di atas meja berisi dokumen dari hasil USG. Atau pria itu terlalu gusar hingga tak indahkan hal lain.
Dokumen ditanda tangani. Mereka segera resmi berpisah.
"Aku tak akan mengubah keputusanku, Salsa. Aku akan pamitan pada Arumi setelah dia kembali. Aku terlalu malu hubungi Càrvado. Bayangkan jika sesuatu yang sama terjadi pada putera kita sendiri."
"Barang-barangmu masih di sini."
"Kamu bisa membuangnya, Salsa. Aku menyesal harus berakhir begini. Selamat tinggal."
James Chavez pergi. Pintu tertutup. Salsa mengatakan pada aroma suaminya yang tertinggal bahwa ia hamil dan berharap punya bayi laki-laki dengan James Chavez dan sama-sama mengambil peran besarkan sekali ini dengan cara James Chavez.
Terlalu idealist.
Salsa akan perbaiki segala hal. Ia akan menemui Alana dan membuat gadis itu menjadi puterinya. Walaupun ia tahu Alana tak akan mau menerimanya. Ia akan menebus dosa meskipun harus serahkan satu ginjalnya untuk Alana atau darahnya pada Alana.
Namun, James Chavez terlalu muak padanya dan ia tak bisa salahkan pria itu.
Lagipula, cinta mereka terlalu rapuh. Dibangun di atas pasir, mudah saja tersapu gelombang laut. Atau dirinya dan James Chavez tak pernah punya cinta. Mereka paksakan diri.
"Baiklah, anggap saja ini hukumanmu, Ibu. Adikku tak pantas ikut di dalamnya. Tetapi, aku berpikir, Anda, tak perlu harapkan Tuan Chavez kembali. Tuan Chavez bukan pria yang setia pada satu wanita. Ia meninggalkan banyak luka pada puteri-puterinya dan mungkin akan berlanjut. Aku berharap kami tak ikuti jejaknya."
Salsa Diomanta terdiam. Arumi Chavez melihat sesuatu dan tak beritahu dirinya. Gadis ini menanggung sedih sendirian.
"Ibu tak akan berpikir untuk hilangkan adikku. Apapun yang terjadi. Aku akan berpuasa agar Tuhan berikan aku adik laki-laki untuk menjaga kita. Baiklah, mari biarkan Tuan Chavez temukan kebahagiaannya sendiri. Kita akan merawat adikku bersama-sama."
"Arumi ...." Salsa sangat terharu. Wajah pucat agar berseri.
Gadis itu menguap sedikit. Merasa cukup bicara. Mata Arumi menjadi sangat sayu. Kantong mata tebal di bawah mata gadis itu pertanda kurang istirahat dan mungkin menangis. Arumi tersenyum, seakan tidak ingin ia bersedih.
Apa yang sudah dilakukannya pada puterinya sendiri?
"Aku mengantuk, Ibu. Pulanglah dan istirahat. Itzik Damian di sini. Ibu tak perlu cemas. Orang jahat akan pingsan melihatnya tanpa repot-repot menyerangnya."
Salsa menoleh amati pria Albino yang seputih tembok. Untung bersandar dengan pakaian hitam-hitam. Jika putih, orang akan berpikir pria itu patung.
"Tidurlah! Aku akan menjagamu, Arumi. Maafkan aku membuatmu susah."
"Tuan Alfredo aku minta tolong, antarkan Ibuku pulang." Arumi Chavez ngotot. Tak ingin ibunya di rumah sakit.
"Baik, Nona."
"Tolong, bawa Itzik dan Tatiana ke Mansion, Tuan Alfredo," pinta Arumi Chavez.
Itzik Damian langsung tegap.
"Baik, Nona!" sahut Tuan Alfredo melirik pada Itzik senyum-senyum.
"Tanyakan, apa Itzik dan Tatiana sudah makan?"
Itzik Damian lekas meleleh. Macam garam ketemu air.
Betapa perhatiannya Arumi Chavez pada dirinya dan ..., Tatiana?!
Apakah Tatiana baru dari sini? Diam-diam? Menjaga kekasih dari pria gebetannya? Aneh. Itzik mengirim pesan pada Tatiana. Bertanya, apakah Tatiana baru dari rumah sakit melihat Arumi Chavez?
Dapatkan balasan Tatiana. "Arumi sakit? Rumah sakit mana? Aku akan datang."
"Tuan Alfredo ..., apakah Itzik dan Tatiana sudah makan?" tanya Arumi lagi saat melihat raut Alfredo Alvarez.
"Nona Arumi ..., aku belum makan." Itzik Damian menyahut sopan. Takut ditendang Salsa. Kapan dapat kesempatan bersama Arumi Chavez? Ia akan membual di fan page gadis ini.
Balas melirik Alfredo Alvarez yang menahan tawa akan meledak di wajah arif bijaksananya itu. Mendorong kaca mata ke atas. Jelas pria itu akan terpingkal-pingkal, dan bergulingan dari lantai sepuluh sampai dasar bangunan.
Apakah aku dan Tatiana adalah lelucon? Itzik Damian berdecak. Untung senior jika tidak, ia akan meraih senjata monokrom dan menembak kepala Alfredo Alvarez karena gusar.
"Nona ..., Ayshe telah menjemput dan mengurus Itzik dan Tatiana. Mereka sedang bermain di taman belakang saat ini. Dan Tatiana ..., kita tak bisa melarangnya memburu ..., em ...."
Salsa Diomanta dan Alfredo Alvarez mengerti asal muasal nama Itzik. Sebab, Tatiana dalam bahasa mereka artinya Peri Penjaga. Hanya heran ..., mengapa harus Itzik?
"Aku akan segera kembali," kata Salsa susah payah berdiri dan pergi secepat kilat ke dalam toilet. Sesuatu terdengar dari sana.
"Jangan bahas tikus saat bersama Ibuku, Tuan Alfredo."
"Maafkan aku."
"Tolong panggilkan dokter, Tatiana perlu latihan untuk berhenti mengejar tikus."
Itzik Damian mulai terganggu sekarang. Gadis ini, apakah dia mengadopsi dua bayi dan menamai mereka dengan namanya dan Tatiana?
Bayi tak bisa mengejar tikus, Itzik Damian.
Oh, setan, iblis, valak ..., apakah Arumi Chavez menamai hewan peliharaannya dengan nama Itzik dan Tatiana? Gadis culas ini tadi bilang punya hewan peliharaan yang dititip di hotel.
Begitukah?
Ini adalah penghinaan terbesar yang dilakukan gadis ini padanya dan saudarinya. Pantas saja Tatiana bertanya, apa Itzik pernah pergi ke Mansion Diomanta? Tatiana tahu bahwa di Mansion sana ada makhluk hidup entah hewan, tumbuhan, manusia bernama Itzik dan Tatiana.
"Hei ..., Arumi Chavez?!"
"Aku tak bisa hidup tanpa Itzik dan Tatiana. Tolong jaga mereka selama aku sakit."
Mulut Itzik Damian terkatup. Gadis ini, luar biasa menjengkelkan. Itzik ingin memusuhinya. Tetapi, ada sesuatu pada Arumi Chavez yang membuat orang tak bisa membencinya.
Masa bodoh, pikir Itzik gemas. Dirinya tak suka hewan terlebih yang bercakar karena kulit tubuhnya bisa rusak.
"Nona ..., mereka sangat menantikan Anda."
"Tatiana ..., jangan beri dia makan berlebihan, Tuan Alfredo."
"Istirahatlah, Nona. Kami akan mengurus mereka dengan penuh kasih sayang sama seperti yang Anda lakukan. Anda harus segera pulih."
Tuan Alfredo Alvarez keluar dari ruangan bersama Salsa. Dan Salsa meminta pria itu bawakan makanan.
Salsa Diomanta kemudian berpikir untuk menemui dokter untuk mengetahui kondisi Arumi. Inginkan pemeriksaan lengkap. Lalu, menemui dokter kandungan untuk konsultasi. Ia merasa mual, muntah dan pusingnya sangat berlebihan dan mengganggu. Mengintip ke dalam. Arumi Chavez tidur. Salsa pergi ke ujung lorong, menghirup udara segar. Dadanya sesak.
Sementara ....
Itzik Damian yang kesal berniat melabrak Arumi Chavez. Gadis itu lekas-lekas mendengkur keras. Cara melarikan diri terampuh. Itzik melirik keluar. Tak ada Salsa lagi.
"Aktingmu bagus. Aku tahu kau pura-pura tidur. Bicara padaku sekarang! Oh gadis iblis ini, berani sekali gunakan namaku untuk hewannya?"
Arumi Chavez mengintip dengan satu mata. Itzik Damian mengawasinya. Mata pria itu sedikit memerah. Astaga, macam vampire saja. Ia m3nd3s4h.
"Kepalaku sakit. Melihatmu aku bertambah pening."
"Banyak alasan!"
"Harusnya kau bangga. Tiap hari aku menyebut namamu." Arumi Chavez berengut.
"Begitukah?" tanya Itzik Damian ikutan bodoh. Yang terpenting itu bukan? Arumi terus mengenangnya. Itu berarti, Arumi Chavez menyebut namanya lebih dari tiga kali sehari dan lebih banyak dari nama Archilles Lucca. Bukankah itu berarti dia kalahkan Archilles Lucca?
"Uhhum. Tiap hari aku mengelusnya dan dia menghiburku dengan gonggongannya." Arumi berbohong. Nyatanya, dia menghardik Itzik tiap hari. Suka mengatai Itzik - bodoh. Ia senang setelah melakukannya. Jangan sampai mayat hidup ini tahu.
"Jadi, apa dia ..., seekor anjing?" keluh Itzik Damian bingung harus marah, kesal atau senang.
"Dia, Husky berbulu putih. Mirip denganmu. Itzik sangat cerdas. Jika aku bersedih dia akan j1l44tl kakiku. Tatiana, seekor kucing persia. Dia sangat cantik dan menggemaskan. Mereka tidur denganku. Oh ya Tuhan, aku merindukan mereka. Bisakah kau bawa Tatiana kemari? Aku terbiasa tidur dengan dengkurannya."
Itzik Damian geli-geli sendiri. Bayangkan akan bertemu anjing dan kucing. "Nah, kau tak butuh mereka lagi. Sekarang ada aku. Usir anjing dan kucingmu pergi. Kau bisa mengelus aku dan tidur denganku! Aku bisa m3nj1L4atl-mu dan mendengkur untukmu!"
Arumi menyipit. "Aku terus bertemu dengan pria m355um dan mereka ada di mana-mana."
"Bukan Husky itu yang selamatkan nyawamu tetapi aku! Lupakan! Tatiana mungkin akan mengunjungimu tak lama lagi. Beritahu dia kucingmu bernama Tatiana. Semoga dia tak mencakarmu."
Itzik Damian berencana membeli seekor burung beo dan namai "Arumi". Lihat saja nanti. Ia akan ajari beo bicara, "Arumi ..., cinta Tuan Itzik Damian". Keren pasti.
"Mengapa?"
"Aku kabari keadaanmu. Dia tak senang mendengarnya."
"Mengapa? Aku tak suka padanya."
"Tatiana posesif pada semua yang dimiliki Archilles Lucca. Dia tak punya mainan baru. Kamu akan masuk dalam pengawasannya."
"Menakutkan. Itu gila."
"Ya, dia memang begitu. Beruntung, dia tak akan menyakitimu."
"Apa Tatiana tahu di mana Archilles?" tanya Arumi Chavez penuh harap.
"Kau bisa bertanya langsung pada Tatiana. Dia selalu tahu di mana Lucca berada. Hanya jangan terlalu berharap. Archilles Lucca dibawa pergi Ayahnya dari klinik Anna Marylin. Lucca meninggalkan pesan untuk Tatiana yang menghancurkan hati Tatia. Saudariku tak pernah berhenti bersedih dan menangis setelahnya. Dia bahkan mabuk dan membuat keributan di bar." Berdecak.
"Kapan itu terjadi?"
"Seminggu lalu. Aku tak ingat pasti."
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Archilles?"
"Aku tak bisa beritahu-mu."
"Aku tahu dia terluka," balas Arumi. "Jadi, seminggu lalu dia dia ada di sini?"
"Ya. Kami menjaganya bergantian."
"Kami?"
"Semua teman Lucca. Tak ada yang absen. Bergantian menungguinya termasuk Kakak Iparmu dan Tuan Adelberth."
"Mengapa tak ada yang beritahu aku?" tanya Arumi nyaris berbisik. Ia menjadi sangat kesal dan sakit hati.
"Aku yakin demi mental-mu. Kamu masih anak-anak. Semua orang pikirkan itu."
"Persetan dengan mereka, aku bukan anak-anak!" jerit Arumi Chavez murka. "Apa yang mereka lakukan padaku? Aku kehilangan satu-satunya kesempatan untuk bersamanya. Mengapa semua orang melakukannya padaku?"
Reaksi tak terduga Arumi Chavez sebabkan Itzik Damian tercengang. Gadis itu bangkit dan mencabut jarum di tangannya, bergerak turun. Kelimpungan dan terjatuh di lantai dingin.
Pusing hentikan semua gerakannya.
"Mengapa tak ada yang beritahu aku?!" Arumi mulai marah dan memekik. "Mengapa mereka lakukan itu padaku? Aku harusnya bersama dia sejak dia masih di sini? Apakah mereka tak pernah mencintai seseorang?"
"Arumi Chavez ..., tolong tenanglah!"
Itzik memencet bel di kepala ranjang.
"Lepaskan aku!"
"Arumi? Ada apa?" Salsa Diomanta masuk dengan wajah panik. Perawat dan dokter datang.
Akhirnya malah disuntik penenang setelah dipegangi beberapa orang.
"Itzik?" Salsa menatap pria putih tajam.
"Maafkan aku."
"Jangan ulangi lagi, please."
Salsa Diomanta tampaknya tak punya tenaga untuk marah. Wanita itu keluar dan duduk di depan ruangan. Bersandar pasrah. Menutup mata. Bangkit berdiri karena gelisah mengintip ke dalam pada puterinya yang lelap.
Ponselnya berdering. Dokter telah menunggu untuk pemeriksaan. Menoleh ke dalam sekali lagi. Ada Itzik Damian di sisi ranjang.
Alfredo Alvarez kembali.
"Fred, jangan tinggalkan Arumi. Aku perlu menemui dokter."
"Baik, Nyonya."
"Apa kamu mau beritahu aku, apa yang terjadi?" tanya Salsa.
"Nona Alana memukul dan mengutuki Nona Arumi."
Salsa Diomanta menghela napas kuat-kuat.
"Tetapi yang membuat Nona Arumi kesakitan ..., Tuan Chavez sedang bersama Nyonya Andreia."
***