
"Archilles!!! Archilles!!! Archilles Lucca?!"
Di antara raungan mesin pemotong rumput, namanya dipanggil. Archilles Lucca matikan mesin seketika suasana menjadi hening. Ia kemudian berbalik. Sepupunya, Mario Rui Silva berseru dari balik pagar besi yang mencuat tinggi. Wajah Mario Rui riang gembira seakan habis menang lotre.
"Ada apa? Aku sedang bekerja. Jangan ribut di sini!" tegur Archilles setelah matikan mesin pemotong rumput dan menengok ke dalam rumah takut dimarahi pemilik rumah.
"Martha Via menyuruhmu segera pulang!" balas Mario pegangi terali pagar.
"Aku masih harus selesaikan ini!" tunjuk Archilles ke halaman berumput tinggi.
"Archilles ..., Martha Via melahirkan bayinya. Adikmu ..., perempuan." Paula Carla terlihat tak lama berselang, berdiri di sisi Mario, berbinar-binar. Paula segera ..., ulurkan tangan di antara celah pagar, meminta Archilles ikut. Wanita ini 18 tahun dan Archilles muda memujanya. Cinta monyet.
Usia Archilles menginjak 14 tahun dan Martha Via, sang Ibunda, melahirkan adik baginya. Archilles Lucca sekonyong-konyong tinggalkan mesin pemotong rumput di halaman.
"Hei berandal! Kerjaanmu masih belum beres! Berani sekali kau kabur!" Isabella Moris berteriak kencang dari arah dalam rumah.
Tak peduli pada panggilan kesal sang pemilik rumah, Archilles keluar dari gerbang, meraih tangan Paula dan berlari menyusuri setapak pulang ke rumahnya di ujung jalan.
"Apa kamu lihat bayinya, Paula?" tanya Archilles ngos-ngosan.
"Ya, tentu saja. Dia sangat cantik."
"Adikku perempuan."
"Sangat cantik."
"Hari apa ini?"
"Hari Malaikat Agung berkunjung. Aku lihat kalender."
Paula Carla berlari di sisinya, rambut gadis itu beterbangan diterpa angin. Cokelat terang dan menawan.
"Aku suka salah satu di antara para Malaikat, pemegang Lily di tangannya, Archilles!"
"Aku setuju denganmu."
"Jadi?!"
"Zefanya Gavriella Lucca."
"Cantik sekali namanya, Archilles."
Archilles ingat berlari kencang oleh kegembiraan meluap-luap. Mudah sekali berubah merana.
Martha Via ulurkan tangan pada Archilles di pagi cerah. Wajah pucat pasi, gelisah maut, menahan sakit.
"Adikmu ..., jaga adikmu dengan nyawamu, Archilles Lucca."
***
Kapan dengung menjengkelkan ini berakhir. Mengapa banyak drama? Mau mati ..., ya ..., mati saja.
"Archilles Lucca?!" Suara yang ia kenal. Anna Marylin. "Archilles, kau bisa dengar aku?"
"Nadinya melemah, kehilangan banyak darah!" Suster Emma.
"Tembakan jarak dekat, dia sekarat." Suara Tatiana.
Anna Marylin tolong bius psikopat ini, karungkan saja lalu kembalikan ke kandang Sangdeto.
"Keluar dari sini!" hardik Anna Marylin.
Ya ya ya, keluar dari sini dan lenyaplah!
"Tidak! Aku harus bersamanya!" Membantah.
Oh yang benar saja**?!
Kau dengar dia? Wanita gila itu?
Ya, aku ingin muntah!
Bagaimana kalau kamu pergi kencan dengan Tatiana?! Aku akan menjaga Nona Arumi untukmu!
Apa aku terlihat sinting?
"Jangan menguji kesabaranku! Keluar dari sini sebelum aku benar-benar menembakmu!" Nada Anna Marylin tak sabaran.
Te**mbak saja keningnya! Apa yang kau tunggu, Anna?!
Sebuah suntikan. Mungkin bius. Archilles amat sangat mengantuk lantas tertidur. Ia tak akan jadi mati karena ada Anna Marylin.
Detik berganti menit ..., berlalu begitu cepat kemudian berganti jam.
Anna Marylin menahan napas saat berhasil menjepit proyektil yang bersarang di tubuh Archilles Lucca setelah dua jam bertarung.
Ting!
Bunyi peluru jatuh di mangkok alumunium.
"Aku akan selesaikan ini." Dokter Cheryl bicara dari balik masker. Serahkan pada rekan sejawatnya menjahit sayatan, Anna Marylin hembuskan napas perlahan.
Anna Marylin pergi keluar ruangan setelah mencuci tangan. Menoleh ke dalam. Archilles Lucca terbaring telungkup, kehilangan banyak darah.
Mende****. Pria itu bisa saja tak tertolong. Archilles Lucca mirip Hellton Pascalito sangat pemberani, selalu bertindak hati-hati kecuali sengaja masuk jebakan.
Anna tersadar oleh deringan ponsel, menggeser lambang hijau.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Carlos Adelberth dari seberang.
"Operasinya berjalan baik, masih butuh observasi 24 jam. Kendala saat ini, aku tak tahu harus pindahkan pria ini kemana, Carl. Jika, Archilles Lucca masih terus di klinik tanpa kawalan dalam keadaan kritis tanpa perlindungan, mudah saja ditemukan Hedgar."
"Terima kasih sebelumnya telah selamatkan nyawanya, Anna. Aku akan datang dan membawanya ke markas. Tak ada yang akan berani padanya saat ia berada dalam pengawasanku."
Anna mengangguk-angguk kecil.
"Terima kasih. Terus terang, situasi ini begitu sulit. H masih kritis dan kini Archilles."
Anna Marylin tak berharap Axel Anthony atau Lucky Luciano cari-cari masalah dan juga kena tembak. Mereka pria-pria na'if dan suka cari mati jika merasa harga diri tercoreng. Selalu merepotkannya.
"Aku akan urus Archilles."
Anna Marylin akhiri panggilan. Keluar dari ruangan. Tekanan darahnya terpacu temukan Mary Stella Tatiana berdiri mematung di koridor klinik.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Tatiana sewaktu Anna keluar dari ruangan.
Tak diduga-duga Anna meraih gunting yang terlihat oleh matanya di atas troli sementara didorong Suster Emma, melangkah cepat pada Tatiana. Detik berikut, ujung benda tajam itu menukik di bawah pembuluh darah leher Tatiana.
"Berhenti main-main dengan nyawa teman-temanku! Aku muak padamu, pada keluarga psikopat-mu itu!"
Tatiana bergeming.
Anna Marylin ingin ludahi wajah Tatiana.
"Archilles Lucca tak akan datangi-mu jika tak dipancing. Aku tahu isi otakmu juga kakakmu yang gila itu, Tatiana. Pergi dari sini selagi aku masih waras."
"Tidak, aku harus tahu keadaannya."
Anna berubah tak sabaran, tekankan ujung gunting.
"Menyingkir dari pandanganku dan jangan coba-coba kemari!"
"Anna, kamu tahu bahwa aku sedikit berbeda dengan kakak-kakakku. Aku tak sakiti orang yang kucintai. Jika aku jahat, aku telah mencungkil mata Enrique Diomanta seperti keinginan Hedgar dan kini jadi buronan kakakku sendiri."
"Apa kamu harap aku percaya? Sampaikan pesanku pada kakakmu! Berhenti buas atau aku akan datangi dirinya."
"Sampaikan sendiri Anna Marylin, mungkin Hedgar akan sukai pertemuan denganmu," sahut Tatiana. "Fernando terobsesi pada Irish Bella, Egiana pada Hellton Pascalito. Hedgar memikirkanmu setiap waktu. Hedgar menamai semua wanita yang ia kencani 'Anna Marylin' dari waktu ke waktu."
Mengerikan untuk didengar. Berapa banyak psikopat di dunia ini? Hedgar adalah nenek moyang para psikopat.
"Saat aku datang padanya pertanda kematiannya sudah dekat."
"Berhubung aku akan mati malam ini di tangan Hedgar, aku perlu beritahu kamu, Anna. Hedgar tak akan berhenti sampai ia membunuh Hellton Pascalito. Kematian Egiana bangkitkan sisi iblis yang tak pernah aku lihat dalam sisi Hedgar. Dia memburu apa saja yang berhubungan dengan H, entah Irish Bella atau Archilles Lucca."
Seakan perkataan Tatiana benar, beberapa pria masuk ke dalam klinik acungkan senjata. Anna sadari keadaan, menarik gunting dari leher Tatiana lalu bergerak cepat ke arah pintu dan mengunci pintu ruangan di mana Archilles Lucca berada.
"Tatiana ...."
"Itzik ...," keluh Tatiana tatapi pria suruhan Hedgar berwajah putih pucat, berambut putih hingga ke alis, bulu mata juga janggut kecuali mata biru. Pria Albino rahang tirus dengan wajah teraneh munculkan persepsi dewa salju dan hantu di waktu bersamaan.
"Aku diperintahkan bawa dirimu kembali. Jika Hedgar turun sendiri, kamu tahu akibatnya!" tambahnya dengan dialek kental dan penuh penekanan ditiap kata.
Tatiana menatap tajam pria di hadapannya, tampak sangat mematikan sama seperti Hedgar.
"Kau akan bawa aku dan tak akan sentuh Archilles!"
"Bawa Tatiana!" perintah Itzik lebih jelas.
"Aku bisa jalan sendiri!" Tatiana kibaskan tangan-tangan akan bergerak padanya.
Itzik beri tanda pada teman-temannya untuk turunkan senjata saat ia berpaling pada Anna. Membungkuk seakan Anna Marylin Ratu sebuah Kerajaan.
"Anna Marylin ..., tolong buka pintunya!" ujar si pria pelan dan lembut, anggukan kepala ke pintu.
Anomali sikap yang bikin Anna Marylin keheranan. Sementara Itzik bicara yang lainnya membungkuk.
"Siapa yang kamu cari? Archilles Lucca?"
"Ini perintah lainnya. Aku perlu habisi pria itu juga. Tolong ..., jangan ikut campur."
Anna Marylin menggeleng. "Jika ini perintah Hedgar, pulang padanya dan beritahu dia untuk datang sendiri padaku!"
"Anna ...," keluh Itzik sabar, "aku dilarang kasar pada Anda sekalipun hanya berdebat dengan Anda atau Hedgar akan mencincang tubuhku. Mohon kerja samanya."
Anna Marylin gertakan giginya paham kini mengapa para begundal ini bersikap aneh. Apa perlu ia pacari Hedgar dan membius pria abnormal itu sebelum lakukan bedah vasektomi agar Hedgar tak bisa lahirkan manusia-manusia cacat?! Bukankah Anna akan selamatkan dunia?
"Anna?! Apa yang kamu pikirkan?!"
"Dengar Pangeran kabut Putih, Archilles Lucca akan bersamaku. Jika, kamu berani menyentuhnya ma ...."
"Maka?!" Itzik miringkan leher tak suka Anna mengancamnya tetapi tak berani macam-macam.
Dari arah pintu masuk tiga orang petugas kepolisian terlihat. Itzik dan anak buahnya segera sopan, sisipkan pistol ke balik jaket.
"Dokter Anna?!" sapa salah seorang petugas kepolisian, tinggi besar, berkumis melengkung. Saat pria itu bicara Anna Marylin sepakat pria ini cocok jadi aktor. Aktingnya terlalu rapi.
"Selamat datang, Sir." Anna beri warning pada Itzik selekas menyingkir.
"Apakah Anda menerima pasien, seorang pria seperti dalam foto ini?" tanya opsir bernama Pedro sodorkan foto. Pandangannya tajam dan ia terlihat mulai mengendus masalah.
Itzik menoleh pada Anna sedikit mengancam lewat tatapan agar bungkam. Anna Marylin acuhkan, mengangguk pada polisi berpapan nama Pedro Luccas.
"Ya, Sir. Kami menerimanya beberapa jam lalu."
"Aku bawa surat perintah penahanan padanya. Archilles Lucca dilaporkan telah membuat keributan, kekacauan, kerusakan, sebabkan kerugian besar pada pihak pelapor." Tuan Pedro bentangkan surat perintah penahanan.
"Archilles Lucca masih kritis, Sir."
"Kami akan membawanya." Beri kode pada petugas lain segera datang dan bertindak. Anna pergi ke pintu seolah tak punya pilihan lain.
Itzik menahan kesal, giginya berderak terlihat ingin menghalau. Tak berdaya. Petugas segera berkumpul saat pintu akan dibuka.
Anna dahului petugas pergi ke dalam acuhkan umpatan kesal di belakangnya. Dokter Cheryl tampak terbiasa pada keadaan. Petugas memeriksa keadaan Archilles. Brankar beroda kemudian didorong, Archilles dibawa pergi.
"Trims Carl," bisik Anna Marylin pelan pada Pedro.
"Hati-hati, Anna. Hedgar Sangdeto ada di depan klinik."
"Akan aku urus man**k gila itu."
"Hedgar buntuti-mu untuk temukan, H."
"Bawa Archilles, aku bereskan Hedgar."
Iring-iringan pergi. Anna Marylin dan Dokter Cheryl keluar ruangan. Pria putih seperti salju kutub Utara menunggu sabar, tetapi tak sabaran saat arahkan senjata bukan pada Anna tetapi pada Dokter Cheryl.
"Apa yang kamu lakukan? Turunkan senjatamu!"
"Aku tak bisa sakiti-mu, Anna. Tetapi temanmu pengecualian. Aku tak bisa bawa Archilles Lucca dan Hedgar tak akan mau terima penjelasan. Tolong ikut denganku!"
"Kau lihat sendiri bahwa Mr. Lucca ditahan pihak kepolisian," balas Anna Marylin meledak marah.
"Bicara pada Hedgar!"
Anna berdecak. "Aku benar-benar muak. Kurasa waktunya kami bicara."
***
Salva Mi Vida (Spanyol)
Save My Life (Inggris)
Selamatkan Hidupku (Indonesia)
Aih aih aih ....
Yang sudah baca Secret Love of Mr. Mafia pasti tahu, Hedgar nih suka menghayal soal Anna Marylin.
Makasih untuk dukungannya ya. Dengan bahasa paling sederhana, aku ingin katakan bahwa, aku mencintaimu.