My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 108. Será Destruído



💌 : Muridku memelukku tadi pagi. Dia bilang tak masalah jadi gadis ke sepuluh karena dia mencintaiku. Apa yang harus kulakukan?


Archilles kirimkan pesan menggoda pada Arumi Chavez. Ingin tahu reaksi gadisnya, apakah akan tetap bertahan pada ngambeknya itu?


Apakah tidur Nona Arumi Chavez akan tetap nyenyak?


Gadis lima belas tahun itu telah menyiksanya. Tahukah Nona bahwa Archilles sangat merindukan suara renyah Arumi Chavez? Lebih baik gadis itu mengomel padanya dibanding diam seribu bahasa.


Jangan tanya apa yang terjadi pada Manuel Cesar.


Carmelita Loisa sodorkan buku tugas Cesar dan biarkan Achilles melihat isinya. Dasar berandalan. Berani sekali Manuel Cesar terang-terangan merayu gurunya.


"Aku apakan dia?" tanya Carmelita serius pada Archilles. "Adukan kepada Kepala Sekolah?"


Archilles Lucca menggaruk sisi pelipis. Baru Manuel Cesar, Carmelita Loisa telah pusing tujuh keliling. Bagaimana jika tambahkan Eva Romero ke dalamnya?


"No, Carmelita. Semakin kamu mengambil sikap, Cesar akan semakin tersesat. Itulah yang dia inginkan darimu."


"Wah, sudah kuduga kalian satu komplotan," tuduh Carmelita rapikan buku dan memakai mantel dinginnya.


Archilles ingin menyanggah tetapi ponsel Carmelita berdering. Wanita itu mengerut pada ponsel, segera bangun memeriksa jendela dan raut wajahnya berubah dalam sekejab. Sesuatu lain membuat Carmelita bergembira ria.


"Halo?" Carmelita pegangi keningnya dan tersenyum malu. "Ya, aku akan keluar sekarang. Em, aku hanya terlalu terkejut."


Archilles menatap keluar. Manuel Cesar berdiri di depan sekolah, di teras, masih dengan pakaian seragam dan tas sekolah menunggui Carmelita. Apa yang bocah itu pikirkan? Makan malam dengan Carmelita dan mengajaknya ke suatu tempat? Apa Cesar sungguhan pada gurunya?


Tidak! Batin Archilles menggeleng ide itu. Manuel Cesar hanya temukan seseorang untuk diganggu. Tetapi, lihatlah gestur tubuh pria muda itu!


Dia gelisah akan sesuatu meskipun tampang b4ji1ngannya bisa disembunyikan.


"Guru Lucca, aku harus pergi!"


"Di luar masih hujan, Guru Carmel."


"Aku dijemput seseorang."


"Kekasihmu?"


"Ya," angguk Carmelita. "Lebih dari kekasih. Tunanganku. Seseorang yang dijodohkan denganku oleh orang tuaku. Aku tak menyangka dia akan datang kemari."


Okay, Carmelita tak sadar telah bagikan kisah pribadinya pada Archilles.


"Owh, tidak selamanya perjodohan berakhir buruk."


"Ya. Dia sangat baik dan perhatian." Carmelita tersenyum ceria. "Seminggu ini hidupku kacau, setidaknya dia membuat segalanya lebih baik." Carmelita pergi. Seolah teringat sesuatu, wanita itu berbalik. "Tolong beritahu Cesar bahwa aku akan berhenti dari sini jika dia terus begini."


"Kamu telah tanda tangani kontrak."


Carmelita merengus jengkel. "Tidak masalah bagiku guru Lucca. Aku bisa menjual peternakan milik ayahku dan membayar ganti rugi. Mentalku jauh lebih penting dibanding apapun."


Archilles berdecak dalam hati awasi nanar langkah kaki Carmelita menjauh.


Sebuah sedan hitam berhenti di halaman dan seorang pria terlihat lumayan matang turun dari sana. Payung dimekarkan dan ia melangkah ke halaman. Pegangi buket bunga sebesar tiga bola basket yang disatukan. Sampai di dekat Cesar, pria itu katupkan payung.


"Sore, anak muda. Apakah Gurumu, Nona Carmelita, masih di dalam?"


Manuel Cesar menyipit.


"Anda ..., keluarganya? Ayahnya?"


"Bukan, aku tunangan Carmelita. Aku mencarinya ke asrama guru tetapi Biarawati di sana berkata Nona Carmelita masih di Sekolah. Jadi, aku datang kemari."


"Anda ..., terlalu tua untuk jadi suami seorang gadis berusia 23 tahun," sahut Cesar blak-blakan keluar dari konteks.


Si pria tersenyum. "Cinta tidak memandang usia."


"Ya, Anda benar. Guru Carmel masih di ruangannya."


"Baiklah. Apa aku bisa ke dalam?"


"Tidak, selain guru dan murid, orang asing dilarang masuk," jawab Manuel Cesar santai.


"Aku akan menunggunya di sini."


"Perlu aku beritahu Anda sesuatu," kata Cesar membuat si pria menengok padanya lalu ke arah bangunan sekolah pada sebuah ruangan di mana lampu baru saja dinyalakan.


Carmelita mengobrol bersama seorang pria, mungkin rekan guru. Pria itu tersenyum dan melambai setelah sandarkan payung di pot bunga. Carmelita balas dengan senyuman. Mereka saling berpandangan. Persis orang lagi jatuh cinta pada umumnya tak malu ekspresikan perasaan. Rindu dan sejenisnya.


"Anda mungkin perlu mendengarku."


Hujan turun semakin lebat. Kabut mengikuti.


"Ya, ada apa?"


"Guru Carmelita berciuman dengan salah satu muridnya tadi pagi. Mereka membuat skandal."


Wajah si pria memerah dan beberapa waktu takjub dengan informasi barusan. Mata pria itu menilai kebenaran penyampaian Cesar.


"Kamu mungkin salah lihat. Carmelita, bukan gadis sembrono. Bahkan tak akan berciuman dengan tunanganmya sendiri."


Cesar menarik satu sudut bibir. Jadi, gurunya masih sangat polos dan apakah itu berarti ia adalah orang pertama yang mencium guru Carmelita?


"Ya sudah kalau tidak percaya. Gadis sederhana kadang lebih garang dari kelihatannya. Penyamaran mereka bagus. Sayang sekali Anda tertipu."


"Aku akan bertanya padanya."


"Anda berharap akan menerima pengakuan?" Cesar terkekeh mencela. "Tak mungkin terjadi selain pembelaan diri. Guru Carmelita akan berkata, 'itu tidak benar, muridku menciumku dengan paksa', oh sayang sekali. Percaya padaku, Tuan, Anda perlu yakini sebaliknya. Ada ikatan emosional di antara keduanya sebabkan kegilaan itu terjadi."


"Maaf, tetapi aku meragukanmu."


Manuel Cesar keluarkan ponsel yakinkan pria di sebelah yang mulai cemas.


"Mungkin setelah melihat ini, Anda baru akan percaya."


Tunjukan video mencium Carmelita yang direkam dalam hitungan detik oleh David Richardo tetapi hanya wajah Guru Carmelita terlihat sedang ia tampak dari belakang. Lalu, ada sebuah foto, Guru Carmelita seakan menikmati berciuman.


"Tidak mungkin."


"Kejadiannya tadi pagi di restoran depan persis di sebelah sekolah ini. Anda bisa bertanya pada pemilik restoran. Ada banyak saksi termasuk aku!"


"Yang mana murid itu?" tanya si pria akhirnya kehilangan kendali.


"Anda lebih berminat pada murid ini dibanding kenyataan bahwa tunangan Anda berlaku curang?"


"Aku ingin tahu."


"Anda sedang bicara dengannya. Kami akan pergi makan malam dan aku menunggunya di sini. Nona Carmelita tersenyum padaku tadi bukan tersenyum membalas lambaian Anda."


Si pria menatap bunga di tangan lalu pada Manuel Cesar yang penuh ekspresi mengolok. Dengan cepat termakan hasutan Manuel Cesar. Si pria mendorong bunga pada Cesar dan pergi dari sana. Tentu saja kesal, marah, kecewa dan merasa dikhianati.


"Turut berdukacita, Tuan. Semoga segera temukan pengganti yang lebih baik dari Nona Carmelita," seru bocah itu.


Carmelita keluar dari gedung sekolah. Melangkah cepat melihat si pria pergi menerobos hujan tanpa kembangkan payung.


"Justin?!"


Namun, suara Carmelita hilang ditelan deru hujan.


"Justin?!"


Carmelita sampai pada Manuel Cesar.


"Apa yang terjadi? Mengapa dia pergi? Kamu mengatakan sesuatu?"


Archilles menyusul tak lama kemudian. Sedikit panjangkan langkah. Di depannya, Carmelita kebingungan hendak menerobos hujan saat mobil hitam memutar untuk pergi.


Cesar menarik lengan Carmelita sebelum gurunya sempat terkena hujan. Sangat kuat hingga tubuh mungil Carmelita menubruk tubuh Cesar kuat. Brengsek itu tak sia-siakan kesempatan, mendekap Carmelita erat dengan tangan kanannya sedang tangan kiri menggendong bunga. Di waktu tepat lampu mobil tersorot pada mereka. Cesar memang berandalan gila. Menutupi wajah mereka dengan bunga berikan ilusi ia mencium gurunya di balik buket bunga.


Tuhan, selamatkan kami dari badai ini!


Dasar bocah tengik. Archilles Lucca benar-benar kehilangan kata. Apa yang coba Cesar lakukan? Memprovokasi sepasang kekasih untuk berpisah?


Mobil itu berbalik, roda berdecit dan pergi dari sana. Carmelita mendorong Cesar kuat. Tak lupakan hadiah bagi murid nakal, menampar Cesar sangat keras. Carmelita tergesa-gesa turuni undakan tangga, tergelincir nyaris terjatuh. Carmelita lepaskan sepatu yang mengganggu. Berlari tanpa alas kaki ke halaman tak peduli pada hujan. Mengejar mobil yang hampir keluar dari gerbang. Mobil kemudian berhenti. Carmelita basah kuyup setengah berlari. Ia mengetuk pintu mobil. Kaca mobil turun dan sepertinya ada perdebatan.


"Setidaknya biarkan kekasihnya masuk dulu," komentar Manuel Cesar berdecak.


"Aku yakin kamu tebarkan racun pada tunangan Carmelita. Astaga, apa yang kamu inginkan?"


"Aku suka melihat kerapuhan dalam sebuah hubungan."


"Cesar?"


"Aku butuh rokok, Guru Lucca. Aku kedinginan." Pintu mobil terbuka dan Carmelita masuk ke dalam. Cesar keluarkan rokok dari dalam tasnya. Ambil satu dan sodorkan bungkusan pada Archilles Lucca.


Mereka merokok menunggu hujan reda.


"Apa yang kamu inginkan?"


"Anda percaya, pria sepertiku punya keinginan?"


"Aku penjahat dulunya. Kamu tak ada apanya."


"Aku percaya. Lalu, apakah Anda ingin pamer?"


"Tidak. Aku menyesalinya saat aku jatuh cinta pada majikanku. Ibunya tak menyukaiku sama sekali karena aku tidak pantas untuk puterinya. Aku sadar diri. Kamu tahu kisahku!"


"Anda berubah melankolis."


"Mungkin kamu bisa belajar. Sikap burukmu kini mungkin akan menjadi batu sandunganmu di masa depan. Kamu akan menemukan seorang gadis. Bagus kalau keluarga pacarmu tak permasalahkan kehidupan masa lalumu. Kamu bisa lolos dari ini. Tetapi, jika kamu jatuh cinta pada gadis yang miliki latar belakang keluarga terkemuka, ceritamu akan berbeda."


Hujan mulai reda.


"Jadi, sejak kapan Nyonya Chavez setuju Arumi berhubungan dengan Anda?"


"Tidak begitu setuju."


"Putuskan Arumi Chavez. Kamu bisa menikahi kakak perempuanku, Guru Lucca. Dia pintar, kutu buku, walaupun dia tidak secantik Arumi Chavez hidupmu mungkin akan menyenangkan karena dia kesayangan ayahku. Anda tahu kan, puteri berbakti. Berbanding terbalik denganku. Atau, kamu bisa pacari Eva Romero. Dia tergila-gila padamu. Kurasa orang tuanya tak akan peduli. Walaupun Eva terlihat liar, dia gadis yang baik dan tidak sembarang pacaran sepertiku. Aku lebih setuju kalau Anda menikahi saudari perempuanku."


"Aku akan menikahi Arumi Chavez tanggal 20 Maret di hari ulang tahunnya yang ke-16."


"Berarti Anda dapatkan persetujuan."


"Ya. Dengan banyak persyaratan."


"Apakah pernikahan adalah negosiasi?" tanya Cesar. Hujan berhenti. Cesar membuang buket bunga ke tempat sampah. Ia turuni tangga dan punguti sepatu Carmelita. Ia menarik resleting tas dan mengisi sepatu di dalamnya.


"Kamu mungkin sebabkan Carmelita dalam masalah."


"Kalau cinta mereka kuat, tak akan ada yang terusik. Guru Camel tinggalkan gift untukku. Jika Cinderella kembali untuk mengambil sepatunya setelah pesta dansa, maka, ia tak akan pernah menikahi pangeran."


"Hanya satu sepatu bukan sepasang. Kamu tak akan serius berharap Carmelita adalah Cinderella-mu, Manuel Cesar. Jangan konyol!"


"Apa yang kamu katakan pada tunangannya tadi?"


"Guru Carmel berciuman dengan salah satu muridnya. Aku menunjukan foto dan video kami."


"Kamu Brengsek, Cesar."


"Terima kasih. Aku suka kata itu!" Mereka berjalan cepat. "Mari minum kopi dan makan sesuatu."


Mendorong pintu restoran. Keduanya duduk di depan perapian yang menyala. Tak ada pelanggan lain karena hujan. Penduduk kota pasti memilih tinggal dalam rumah masong-masing.


Hari masih cukup terang. Terlalu cepat untuk makan malam. Archilles memeriksa ponsel, tak ada balasan dari Nona Arumi. Yang benar saja. Tak mungkin nyenyak sore-sore.


"Anda menunggu panggilan dari pacarmu, Guru Lucca?"


"Bukan urusanmu!"


"Sesuatu pasti terjadi."


"Berhenti sibuk dengan urusan orang lain." Kopi mereka datang.


"Wanita jago dalam urusan acuhkan pria. Jadi, apa yang telah Anda lakukan?"


"Minum kopimu, Cesar."


Ponsel Archilles tiba-tiba berdering. Video call.


📞 Arumi Chavez Calling ....


Bukannya takut, Archilles tersenyum penuh kemenangan. Kena juga gadis itu. Tak berpikir panjang bahwa tindakannya keliru sebab ia bersama pembuat keonaran sejati.


Archilles bersandar di sofa restoran dan menjawab panggilan.


"Archilles Lucca?!"


Arumi Chavez penuhi layar ponselnya setelah kirimkan pesan sedang tidur nyenyak, gadisnya malah terlihat sangat segar. Hari buruk Archilles seakan menguap lihat wajah cantik yang seakan tak nyata. Bagaimana bisa ada gadis secantik ini?


Cesar amati gurunya. Tak tertolong, cibir Cesar.


"Aku pikir ..., Anda tidur lelap di sore hari?"


Arumi Chavez memutar bola matanya. "Aku tak ingin bicara padamu!"


"Ya, Anda telah menunjukan kebisuan Anda. Hanya saja ... "


"Mari kita putus," potong Arumi Chavez cepat.


"Putus?" Archilles Lucca kerutkan kening. Apakah semudah itu katakan putus? Dan mengapa?


"Ya. Mari tidak berhubungan lagi."


Manuel Cesar tak tahan geli. Terkekeh dari seberang melihat tampang panik gurunya.


"Nona ..., tolong beritahu aku ..., apa masalah Anda, Nona? Kita akan selesaikan segala hal yang mengganggu alih-alih berdiam diri, malas bicara dan ..., putus?"


"Kamu sungguhan tidak tahu, mengapa aku marah?"


"Tidak," geleng Archilles cepat merasa ini sangat serius segera tegap kemudian mengatur duduk.


"Mengapa ada fotomu di ponsel Tatiana? Bukan foto biasa. Oh tolonglah, aku bahkan tak berani berpikir macam-macam, tetapi, fotomu itu berikan aku gambaran lain. Bagaimana bisa kamu miliki foto itu? Aku yakin itu bukan editan. Apakah ..., kamu mungkin hanya seorang musuh yang menyelinap untuk buat aku jatuh cinta padamu dan meninggalkan aku?"


Ini masalahnya? Pikir Archilles.


"Apakah Tatiana menunjukan pada Anda?"


"Apakah itu lebih penting daripada fakta bahwa kamu dipotret olehnya tanpa busana? Apakah ka ... mu mu ... ngkin habis tidur dengannya? Apa iya?"


"Nona ..., aku tak bisa jelaskan padamu mengenai fotoku itu. Tetapi, aku tidak tidur dengannya atau gadis manapun. Aku bersumpah padamu."


"Kamu tak bisa jelaskan fotomu tetapi bisa jelaskan murid yang menyukaimu. Apakah Eva Romero? Apakah dia bosan bernapas? Apa perlu aku datang ke sana besok dan mencabiknya sampai tersisa tulang? Dan sebelum aku salahkan Eva ..., Archilles Lucca ..., aku yakin kamu tebar pesona kemana-mana! Ya Tuhan, cukup Ayahku saja. Tolong jangan menirunya." Gadis itu mengomel, Archilles dengarkan sepenuh hati. Bagaimana ia kecanduan pada suara Arumi Chavez?


"Nona ...."


"Kita belum menikah tetapi kamu telah menyakitiku! Jelaskan sekarang!"


"Nona Arumi, seseorang ingin memerasmu!"


"Memerasku?"


"Ya, akhirnya aku pergi ke sana untuk bicara. Aku akan ceritakan padamu saat kita bertemu?"


"Mengapa tidak sekarang? Apa kamu sedang minta waktu untuk menyusun karangan bebas, Pak Guru?"


"Pacar Anda sibuk mengurus murid perempuannya yang absen, Nona Arumi. Sekedar informasi." Manuel Cesar mulai ambil bagian dalam mengusili Archilles.


"Shut up!" umpat Archilles seakan Manuel Cesar salah satu temannya.


"Siapa yang bersamamu?"


"Bukan siapa-siapa. Hanya orang aneh."


"Di mana kamu memangnya? Ini hampir pukul tujuh. Apakah kamu berkeluyuran di luar? Ini di restoran samping sekolahmu, bukan?"


"Guru Lucca sedang janjian makan malam, Nona Arumi Chavez dengan muridnya," tambah Cesar memancing gusar saja. Archilles menyipit pada muridnya yang bandel.


"Cesar? Tolong tutup saja mulutmu sebelum aku lemparkan-mu ke dalam api!"


"Jangan buru-buru. Nanti setelah aku beritahu Arumi Chavez bahwa Eva Romero memelukmu, Guru, dan kalian sangat romantis tadi pagi. Alam bersaksi."


Brengsek gila ini!


"Archilles Lucca?! Apa yang dikatakan orang aneh itu benar?" tanya Arumi Chavez sok kalem, lebih darinya Archilles tahu putaran tornado sedang menuju padanya.


"Jangan dengarkan dia, Nona! Orang aneh ini selalu ingin menjahili orang lain."


"Biarkan aku bicara padanya!"


"Pada siapa?"


"Orang aneh yang kamu maksud."


Archilles menggeleng. "No!"


"Why?!"


"Dia suka mengarang cerita."


"Mengarang apanya?" potong Manuel Cesar menolak keras. "Aku punya fotomu dan Eva, Guru Lucca!"


"Manuel Cesar, kau sialan. Ini tidak lucu!"


"Jadi itu benar?" tanya Arumi. Wajah gadis menekuk sempurna. Saat marah sangat imut sekaligus menakutkan. "Belum lagi habis kasus-mu dengan Tatiana berani sekali kau membuat skandal dengan tikus sialan di sana?"


"Nona ..., demi Tuhan ..., jangan dengarkan pria ini."


"Tunjukan siapa dia atau kita putus sekarang!"


Archilles Lucca menyerah. Mengubah tampilan dari depan ke kamera belakang. Cesar muncul di layar. Tersenyum girang.


"Hai ..., aku Manuel Cesar teman guru Lucca."


"Ya, aku melihatmu di restoran suatu waktu."


"Aku tersanjung. Lihat wajah kekasihmu, ya Tuhan, seperti tikus basah."


"Jaga ucapanmu, pacarku adalah gurumu. Hormati Gurumu, Orang aneh."


"Tajam juga ya."


"Itzik, kemari!" panggil Arumi Chavez menepuk tempat kosong di sebelahnya. Dan seekor Husky segera muncul. "Kau lihat pria bermulut besar ini, Itzik! Perhatikan baik-baik wajahnya! Jika bertemu dengannya, habisi dia!" suruh Arumi sedang si anjing melolong dua tiga kali pada Cesar.


"Sungguh lucu!" balas Manuel Cesar mengolok-olok. "Aku katakan yang sesungguhnya. Lihat foto ini," kata Cesar geser layar ponsel dan perlihatkan foto Eva Romero memeluk Archilles Lucca dari belakang. Eva bersandar di punggung Archilles. Arumi menggeram. Itzik ikut-ikutan tuannya. Archilles berdecak mengutuki Manuel Cesar.


"Siapa yang memotret dari jarak sedekat itu?"


"Aku ...."


"Mari bertemu besok, Manuel Cesar. Makan yang kenyang dan tidur yang cukup, Manuel Cesar. Aku akan membawa Itzik Damian untuk memakan tubuhmu hingga habis."


"Mengapa marah padaku? Aku menolongmu dari lelaki buaya seperti Guru Lucca!"


Archilles Lucca ingin menggampar Cesar.


"Kamu sengaja menjebak Gurumu agar bisa mengancamnya, kan?"


"Owh, apa sangat jelas?"


"Tolong sampaikan pada Eva, aku akan tiba di sana besok sebelum matahari terbenam. Sebaiknya dia bersembunyi karena aku benar-benar akan memotong kedua tangannya dan menjahit bibirnya. Tatiana akan mencakar wajahnya sampai kulitnya terkoyak."


"Tatiana?"


"Ya, kucingku. Dia seekor alpa cat. Cakarnya kubiarkan sepanjang garfu untuk orang-orang seperti Eva Romero." Arumi Chavez mengambil napas. "Berikan ponsel pada Gurumu."


"Nona ...."


"Archilles Lucca ..., sampai jumpa besok."


"Nona, aku akan bersamamu lusa. Aku akan menemuimu setelah temani Elgio Durante di sebuah acara."


"Aku akan menjemputmu besok!" bantah Arumi Chavez. "Berhenti dari sekolah itu. Ya Tuhan, kau macam tak punya kerjaan lain saja. Kembali kemari dan bekerja saja di kantor Ibuku. Astaga. Aku akan adukanmu pada Aunty Nastya. Atau kita putus saja."


"Nona ...."


"Kamu menolak menemaniku di sini dan malah sibuk berpelukan di sana. Tak bisa dipercaya. Kembali kemari dan jadi manajerku saja."


"Bagaimana dengan Itzik Damian? Bukankah dia manajer baru Anda?"


"Sejak kapan seekor anjing jadi manajer artis?" tanya Arumi Chavez.


"Bukan Itzik si Husky tapi Itzik si mayat hidup. Mengapa Anda namai peliharaan Anda dengan nama orang, Nona? Anda akan menimbulkan perselisihan."


"Oh, kamu tak terima nama kucingku Tatiana?"


"Bukan begitu."


"Aku tak pernah bertemu dengan Mayat Hidup. Bagaimana dia bisa jadi manajerku? Aku kasih hati dia minta jantung. Aku suruh dia jadi admin malah inginkan kasta lebih tinggi dari itu? Apa dia sungguhan ingin digosok pakai b000k- k000ng panci?"


***


😩😩 😩 😩 😩\=\=> Next Chapter.