
Please baca chapter sebelumnya lalu lanjut kemari.
***
Mobil berlari pelan di jalanan lengang. Tak ada percakapan itu karena Narumi tertidur setelah mengeluh pusing dan mual. Xavier nikmati waktu tersedia untuknya bersama Narumi. Selimuti tubuh Narumi dengan jasnya dan sesekali tengok pada wanita di sisinya. Berpura-pura wanita itu istrinya. Xavier tersenyum sepanjang ia menyetir. Menghibur diri sendiri dan ciptakan ilusi dengan kesadaran mutlak.
Ini indah dan sempurna andai sungguhan terjadi. Andai tak ada iblis di antara mereka.
Lalu, ia putuskan berhenti di tepi jalanan di dekat taman kota ketika Narumi sedikit mengigau.
"Narumi?!"
"Aku bukan Arumi Chavez ...," Narumi mengguman lirih tanpa buka mata. Nada ketahuan murung.
Xavier menghela napas berat. Amati seksama. Apa yang terjadi dan apa yang ada dalam hati wanita ini tidak mudah diketahui. Walaupun Brelda dekat, ada hal-hal yang tidak Narumi ungkapkan. Hanya saja, kisah wanita cukup rumit.
Rambut akan segera panjang lagi dan wig pirang sangat menolong untuk ia kelihatan sama seperti Narumi biasanya. Cuma saja, wanita ini mungkin dikunjungi Arumi Chavez dalam lelap.
Hening kembali.
Tak ada tanda-tanda akan segera bangun tetapi telah berhenti mengigau. Xavier kemudian terus mengemudi. Jalanan keluar kota tersorot cahaya mobil. Di atas barisan berbukit, rumah-rumah berjarak terlihat dari cahaya lampu menyala. Di sana, Narumi dan suaminya tinggal.
"Narumi ...," panggil Xavier pelan. Napasnya hampir putus saja karena keinginan sesat bertarung dalam dirinya. Akh, Brengsek Sialan, Archilles Lucca.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Narumi berat.
"Yakin tidak mau ke dokter?"
"Ya."
"Mimpimu mungkin buruk."
"Aku tak bisa bedakan mimpi buruk dan lainnya."
"Jika kamu tak bahagia, Narumi, kamu tahu kemana harus pergi."
"Kami miliki puteri. Aurora cintai Papanya."
"Kamu juga mencintainya."
Tak ada balasan. Ini bolehlah semacam konseling. Xavier akan senantiasa dengarkan Narumi seksama jika dibutuhkan.
"Aku tak tahu, apa yang telah aku lakukan. Aku tak mengerti diriku."
"Kamu setidaknya telah temukan kebenaran bersamaku, Narumi."
"Sangat disayangkan kalau hubungan kita berakhir rumit. Aku tak bisa kehilanganmu dan Brelda. Please."
"Baiklah! Berdiri kokoh di sisinya dan tentu harus bahagia agar aku tak merasa kamu telah membunuhku."
"Terima kasih, Xavi."
Mereka sampai, Xavier bukakan pintu dan menuntun Narumi turun.
"Pergilah! Aku doakan kebahagiaanmu, Narumi Yuki Vincenti."
Ada pelukan penghabisan. Setelah ini, mereka adalah dua orang rekan kerja, satu tim dan mungkin masih musuh kebuyutan.
Ayshe bukakan pintu. Narumi masuk ke dalam ruangan utama.
"Apa Aurora sudah tidur, Ayshe?" tanya Narumi menghirup udara dalam-dalam. Menoleh ke sebuah lorong yang akan membawa Narumi pada Aurora.
"Tidak juga, Nyonya. Aurora bersama Papanya." Ayshe hela napas kuat. "Kuharap Anda tidak mengubah status Anda, Nyonya Lucca atau aku tak akan bisa mengikutimu lagi. Jika Anda bingung tentang sesuatu tolong lihat aku, datang padaku dan tanya aku, please."
Arumi menatap pada Ayshe dalam. Yang ada di pikiran Narumi tentang Ayshe, selalu manis. Ini bukan soal video dokumentasi setelah turbelensi. Ayshe memang ada dalam ingatan sama seperti Aizen, Hanasita dan Aruhi. Saudara-saudarinya jejakkan hal-hal indah di sana. Sedang, Aurora ..., tidak pasti ..., tidak yakin ..., tetapi sangat jelas Aurora adalah kompas.
"Ayshe ...."
"Aku tahu tentang Anda lebih banyak dari yang tersimpan di pikiran Anda."
"Kita makan siang di rumah pohon yang belum sepenuhnya beratap. Cuma kita berdua padahal ada tiga kotak bekal. Satunya lebih banyak."
Ayshe tersenyum anggukan kepala menahan haru. "Kita bertiga."
"Apakah dia?"
"Ya. Dia di sana. Hari itu. Satu itu miliknya. Tuan Pengawal membangun rumah indah itu untuk Anda, Nona. Dia sangat mencintaimu."
"Mengapa aku tak ingat padanya jika dia begitu manis?"
"Aku saksinya. Tuan Pengawal adalah cinta terbaik Anda. Mungkin, ketika jadi sepupu Anda, ia tinggalkan luka di hatimu. Mungkin Anda ingin menguburnya karena sayatan terlalu dalam, tetapi Anda bersamanya di hari pernikahan. Anda bisa melihat video dari hari pernikahan Anda. Cinta Anda padanya tidak mudah musnah."
"Dia juga sepupuku dari Càrvado."
"Kini, dia adalah pengawal, sepupu dan suami Anda. Foto prewedding Anda telah digantung kembali di kamar Nona Aurora. Semoga Anda selalu sehat dan bahagia, Sayang."
Narumi pejamkan mata sebentar.
"Apa dia sudah makan, Ayshe?"
Ayshe menggeleng. "Belum. Dia tak makan siang dan juga malam. Hanya temani Aurora. Suami Anda kenyang oleh gelisah."
Narumi terdiam beberapa selang detik sebelum berkata, "Ayshe ..., terima kasih untuk tetap tinggal di sisiku. Sebelum kamu beristirahat, bisakah aku minta bantuanmu?"
"Katakan, Sayang. Aku akan lakukan apapun untukmu."
Narumi mengendap perlahan seperti gadis muda yang pulang dari klub malam tanpa seijin orang tuanya. Ia mendorong pintu kamar puterinya yang tidak tertutup rapat. Mengintip ke dalam sana. Suara suaminya terdengar jelas kini.
"Lalu, Nona Arumi tersandung tali sepatu."
Aurora kecekikan.
"Lutut Nona Arumi Chavez tergores."
"Oh, No. Apa kalena dia sombong?"
"Tidak," geleng Archilles Lucca. "Nona Arumi Chavez tidak sombong. Dia hanya terkadang terlalu menggemaskan."
Narumi terpaku. Dokter Joseph bertanya padanya suatu waktu di sesi terapi ke dua, apakah ia kenali Arumi Chavez?
Apakah puteri James Chavez? Kedengarannya saling terkait.
Apa hubungannya dengan Narumi Vincenti?
Mereka jelas terhubung. Ia tak perlu peduli lebih lanjut pada Arumi Chavez. Selalu ada getaran galau jika mengingat Arumi Chavez bahkan sesuatu lebih sedih dari mengerikan.
"Nah, tidurlah sekarang!" bujuk suaminya pada Aurora. Tak ingat bagaimana ia bisa miliki Aurora, sungguh tak ingat sedikitpun. Hanya saja, ada sesuatu begitu mengikat.
"Cerita lagi, Papa."
"Puteriku suka dengar cerita ya? Siapa lagi? Habakuk? Maruko Chan? Alam semesta? Galaksi penyendiri?"
"Nona Alumi, Papa."
"Lagi?!" Archilles Lucca ciumi dagu Aurora.
"Ya. Dia lucu juga."
"Baiklah. Satu kisah lagi, pendengar budiman. Maaf ini masih tentang tokoh paling dicintai Aurora Lucca, Nona Arumi Chavez."
Aurora terkekeh senang. Archilles Lucca menepuk tubuh Aurora perlahan.
"Suatu waktu, Nona Arumi kunjungi Tuan Pengawal. Nona Arumi bawakan satu ikat bunga besar, berwarna cerah indah. Dia memakai selendang halus, kaca mata besar menutupi hampir seluruh wajahnya dan selalu terlihat mempesona. Para lelaki yang melihatnya tak bisa berkedip. Nona Arumi terlalu cantik."
"Apa kelja Tuan Pengawal, Papa?" Aurora antusias tetapi tubuh tak mau kompromi, gadis menguap tak tahan kantuk, terlebih tepukan ajaib padanya. Namun, paksakan diri dengarkan kisah favorit.
"Guru."
"Oh, guyu? Macam Ayshe. Mengajal Auu; A,B, C,D?" Suara makin seret.
"Ya."
"Tuan Pengawal pasti senang. Auu mau punya pacal macam Tuan Pengawal."
Archilles Lucca tertawa.
"No. No, pacaran sampai Papa setuju."
"Kapan itu, Papa?"
"Nanti, kalau Aurora sudah bisa bicara lancar dan menguasai delapan bahasa."
"Kapan itu?" Aurora makin bingung. Jarinya terangkat menghitung satu, dua, tiga .... Berhenti. Aurora belum bisa sampai delapan.
"Nanti, kalau sudah besar macam Mama."
"Oh, sudah dekat itu. Kan nanti Auu mau ulang tahun."
"Ya, ulang tahun besok lusa, tahun depan, 20 kali lagi ulang tahun baru Auu boleh pacaran."
"Ya, Papa. Telus, Nona Alumi bagaimana?"
"Nona Arumi diajak naik sepeda dan pergi ke batas kota. Di sana ada sungai, sisi lainnya ada kastil tua. Ada menara bata. Lewat jembatan kayu kokoh. Ada jet ski air. Mereka berdua terbang dengan benda itu. Nona Arumi sangat senang."
Mereka berciuman delapan belas meter di atas udara. Ia mimpikan drama itu selama masa-masa kelam hidupnya.
"Bolehkah kita ke sana macam Nona Alumi dan Tuan Pengawal, Papa?"
Aurora menguap sekali lagi. Mata mulai redup.
"Ya."
"Asyik. Au, Papa dan Mama," kata Aurora sebelum benar-benar jatuh dalam lelap. Archilles Lucca mengecup kening Aurora.
"Bertiga pasti seru."
Narumi masuk ke dalam ruang tidur.
"Apa Aurora sudah tidur?" tanya Arumi pelan tak bermaksud kagetkan suaminya.
"Sudah kembali?" Mata Archilles takjub. Lalu, hanya bergerak ikuti perpindahan istrinya yang mendekat. Archilles tak bisa sembunyikan cinta juga rindu di mata. Gembira, bahkan tentang debaran dalam jantung berisi harapan macam cahaya bisa sampai pada istrinya.
"Ya," angguk Narumi balaskan tatapan intens suaminya. "Bolehkah aku bergabung denganmu berdua?"
Archilles Lucca tak menyahut. Dan Narumi tidak butuh jawaban, segera pergi ke sisi lain dan tidur di sisi Aurora.
"Apakah harimu menyenangkan?" tanya Archilles Lucca nyaris berbisik.
Mengapa ia sesali ini, bertanya tanpa ingin dengarkan jawaban?
Narumi ciumi Aurora. Rambut, kepala, pipi dan pundak Aurora. Menghirup banyak-banyak aroma puterinya.
"Apakah ..., sudah minum obat?" tanya Archilles ubah pertanyaan.
"Apa ..., kamu sudah makan malam?" Narumi balik bertanya.
Archilles Lucca tak menyahut. Bisakah ia menelan makanan sedang pikirannya terus berisi gas beracun bahwa istrinya sedang bersama pria lain?
"Aku tak bisa makan dengan tenang."
Aku memikirkanmu, Nona. Tambahnya dalam hati.
Narumi pejamkan mata, perlihatkan letih hingga Archilles mereka-reka, penasaran pada aktivitas istrinya sepanjang hari tadi.
"Apakah kamu mengantuk?" Archilles berharap Narumi mengajaknya makan malam. Mereka bisa pergi ke dapur dan memasak spaghetti sama seperti suatu waktu.
"Apa kepalamu sakit?"
Masih tanpa sahutan. Tangan halus, putih dan mulus berhenti mengelus tubuh Aurora. Narumi mulai lelap sisakan Archilles dalam kesuraman. Ia macam jalanan tanpa lampu. Gelap gulita.
Malam merambat naik karena matahari akhirnya benar-benar pulang ke singgasananya atau matahari tidak pernah tidur. Dia pergi sebarkan energi ke bagian lain. Archilles Lucca selimuti tubuh puterinya lalu istrinya. Tangannya sangat ingin menyentuh wajah Narumi. Nadi bahkan telah perih akhirnya cuma melayang di pelipis Narumi. Ia memilih celentang menatap langit-langit kamar.
"Waktu tahu Nona Arumi diculik. Tuan pengawal ketakutan dalam penjara. Tangannya belum sembuh dari sakit. Hatinya semakin sedih saja. Ia sesali nasib buruk, pada kenyataan bahwa ia hanya seorang rendahan harusnya tidak nekat jatuh cinta pada Nona kaya raya dan berkasta sempurna. Bayarannya kemudian sangat mahal. Tuan Pengawal temukan jalan. Dia membawa kekasihnya pergi dari lembah kematian."
"Apa yang terjadi setelahnya?"
"Narumi?!" Archilles sangat kaget.
Ternyata Narumi tidak tidur. Wanita itu bertanya tanpa membuka mata. Dia menggeliat di bantal.
"Apa yang terjadi selanjutnya? Pada Nona Arumi dan Tuan Pengawal?"
"Mereka bersama."
"Berapa lama?"
"Selamanya."
"Itu bohong, kan?"
"Narumi ...."
"Aku melihat seorang gadis berlari di jalanan mengejar mobil. Dia histeris, pilu dan merana. Tak tahu kemana minta tolong. Dia ditinggal sendirian. Kakinya berdarah. Dua terluka di tubuh juga batin. Itu sakiti aku sangat dalam. Ia bicara padaku, Arumi Chavez mati di Càrvado. Dia telah terbunuh hari ini, Narumi. Yang kamu lihat hanya kerangkanya saja."
Archilles Lucca sangat-sangat terkejut. Dia segera bangun dan mengitari ranjang dapati istrinya meng3r4n9 lalu sesenggukan.
"Sayang ..., apa yang kamu rasakan? Beritahu padaku! Aku akan panggil dokter!"
Apa yang sedang terjadi kini?
"Mengapa ceritakan pada Puteriku tentangnya, Archilles Lucca?! Kisah menyedihkan itu?"
"Tidak semuanya menyedihkan," geleng Archilles Lucca menolak tuduhan itu. "Ada banyak keindahan antara Nona Arumi dan Tuan Pengawal."
"Mengapa namanya terdengar semacam kutukan?"
"Tidak, dia penuh berkat. Tolong, jangan biarkan semuanya berlalu."
Beberapa masih tersimpan sepertinya itu adalah mimpi buruk yang tak mau berakhir.
"Karena kamu tak lihat dari sisi lain! Aku bersama dengannya. Gadis itu! Arumi Chavez selalu berdiri di lorong Kapel dan menunggu di tiap Desember. Pegangi bunga di tangan dan menatap pintu besar. Setidaknya terbuka sedikit, berderak sedikit. Setidaknya ada kabar. Lalu dia mengayuh sepeda setelah penantian berjam-jamnya sia-sia. Memeluk angin seolah pria itu di sana bersamanya. Kembali pulang dalam hampa, kekecewaan kejam yang tak bisa dilambangkan bahkan oleh air mata sekalipun. Dia habiskan tahun baru, mengais salju dan kuburkan botol-botol kaca berisi banyak harapan untuk kekasihnya yang entah di mana. Agar tahun baru, kekasihnya sehat dan bahagia. Dia menunggu di bawah ranting pinus sementara angin bertiup kencang dan dingin sakiti hidung juga pendengarannya. Ia rindukan suara selalu lembut padanya dan kasih sayang dijanjikan padanya yang tampak telah berakhir begitu saja. Dia berkata bahwa dia akan selalu menunggu sampai dia mati."
"Narumi, Sayang ...." Archilles Lucca ketakutan.
Gelombang kesedihan menerpa keduanya. Auranya begitu kuat mencengkeram. Archilles ingin masuki dunia istrinya.
"Mengapa ceritakan kisah orang mati pada Puteriku?"
"Baiklah! Baiklah, Sayang! Maafkan aku! Semua ini salahku, aku tak akan ulangi. Demi Tuhan, maafkan aku."
Archilles Lucca meraih Narumi dan mendekapnya erat-erat. Segera menggendong Narumi kembali ke ruang tidur mereka. Tubuh istrinya sangat ringan. Archilles meraih ponsel hendak hubungi dokter Joseph Nafas, tetapi Narumi memeluk lehernya kuat.
Mereka cuma berada di ranjang untuk beberapa waktu.
Narumi pejamkan mata. Ada banyak tekanan emosional.
"Narumi ..., aku hanya akan panggil dokter Joseph kemari dan melihat keadaanmu." Suara suaminya bicara suatu waktu.
Tak ada sahutan.
"Aku panggil dokter, ya?"
Narumi menggeleng.
Archilles Lucca membungkuk dan mengecup istrinya. "Tidurlah, Sayang."
"Aku bersama Xavier hari ini."
"Semua kesalahan yang kulakukan padamu dan janji tak pernah terwujud karena keegoisanku, akan aku perbaiki. Semuanya, Nona. Jangan sakit, jangan sedih dan jangan tinggalkan aku! Beritahu aku, apa yang kamu inginkan. Aku akan penuhi untukmu."
Tangan Narumi menyentuh leher suaminya, menempel sedikit di sana.
"Aku tak tahu."
"Lihat aku, Sayang!"
Archilles Lucca jauhkan wajahnya. Menatap. Suara Narumi kemudian terdengar susah payah.
"Buatkan aku sarapan, bangunkan aku dengan ciuman dan menggendongku duduk di sana nikmati makanan."
Lalu, ada terisak-isak.
"Apa ada yang lain?"
"Aku hanya akan menerima cinta tanpa batas darimu di tepi sungai tiap akhir pekan."
"Aku bersedia, tutup matamu. Kita akan pergi ke sana sesegera mungkin."
"Apa kamu tidak lapar, Archilles Lucca?" tanya Narumi masih sisakan satu dua tarikan isak.
"Aku tak akan pernah ijinkanmu lagi bersama pria lain, Narumi. Tak akan terjadi lagi."
"Ayshe siapkan makan malam."
"Aku tidak lapar."
"Aku ingin makan." Narumi pandangi suaminya. Mata Narumi seolah berkata, "Aku ingin menemanimu makan malam, Archilles Lucca"
Pria segera bersemangat. Bangkit dari duduk lalu membungkuk. Ia mencium istrinya sebelum menyahut, "Anda membuatnya terlihat bagai magic, Narumi."
"Atau tragis?"
"Tidak, sayangku."
Mereka berciuman.
"Kita butuh makan."
Archilles Lucca menggendong istrinya pergi ke ruang makan. Ayshe di sana berdiri haru biru. Semuanya tampak baik-baik saja.
"Terima kasih, Ayshe," ujar Narumi tulus. Ayshe telah siapkan meja makan dengan sangat cantik seperti yang ia minta.
Narumi mudah berubah. Ia tak mengerti dirinya dan apa yang sedang terjadi. Hanya saja, moral naluri Narumi sebagai istri mengkritik sikap tidak bijaksana yang habiskan hari bersama Xavier Moon setelah sepakati bahwa Aurora akan jadi pedoman.
"Aku akan temani Aurora. Semoga malam Anda berdua menyenangkan."
Sebelum Ayshe pergi, ia memutar sebuah lagu, Baby I Miss You. Keduanya duduk berhadapan di larut malam itu.
Archilles Lucca makan sedikit.
"Apa makanannya tidak enak?" tanya Narumi.
Archilles Lucca cukup terkejut, mengangkat wajahnya.
"Aku bisa buatkanmu sphagetti kalau kamu mau." Berkata lagi.
Dan berdiri pergi ke dapur. Archilles Lucca miringkan lehernya.
Sikap yang tak bisa ditebak dan wanita itu kini mengikat rambut palsunya setelah memakai celemek.
Archilles tersenyum lekas berdiri dan memeluk istrinya.
"Narumi ...."
Lima belas menit kemudian keduanya berakhir di ranjang, terbakar ketika leher dikecup halus oleh bibir-bibir dingin. Bersuara di saat tangan membuai lembut. Kecupan ditiap titik di mana jejaknya telah buat istrinya lafalkan namanya berkali-kali. Dan di lain waktu, Narumi ambil alih kendali, mainkan seluruh jemarinya menyusuri leher kokoh, rahang tajam, hidung lancip dan kelopak mata yang tegas. Berpindah pada tulang belikat, berjalan di sepanjang tulang selangka, pergi ke rusuk dan terbenam di sana, semacam mengetuk tuts-tuts piano, Narumi ciptakan melodi, "Hanya Kita".
"Bawa kembali hati, pikiran dan cintamu padaku, Nyonya. Aku mohon miliki aku."
Gemuruh hebat tanpa banyak ungkapan sebelum mendorong diri dalam keterikatan. Dari mata melihat keabadian cinta. Dari bibir bebas lepaskan penderitaan. Terkatup, terbenam pada kekasih. Getaran terlalu indah diutarakan.
Berpelukan dan menjalin kaki-kaki lama setelahnya. Tangan posesif lingkari tubuh Narumi. Napas kemudian selaras. Kecupan tidak berhenti sejauh mana ia tenggelam pada tengkuk istrinya yang macamnya mulai lelap.
Archilles Lucca membelai sisi lengan Narumi, terus turun hingga sampai di jemari, menggulung erat. Dibalik selimut, tanpa satupun pakaian melekat, ia rapatkan diri pada tubuh hangat istrinya.
"Apa kamu sudah tidur, Narumi?" tanya Archilles mengintip sedikit.
"Ehm ...," guman Narumi.
"Bisakah kita begini sepanjang hari besok?"
Deru hangat berhembus di puncak kepala. Di tulang rahang Archilles, Narumi dengar suaranya sendiri sedikit memekik. Tidak salah, dia diajak menyeberang ke sebuah dimensi, di mana ia tertidur tetapi cukup sadar untuk mendengar detak jantung suaminya.
"Aurora, apa yang terjadi?"
"Tatiana merobek buku tugasku, Mama!"
"Tatia?!"
"Aku tak sengaja, Mama!"
"Tatiana ..., bisakah kamu tidak mengganggu kakakmu sehari saja?" tegur suaminya dari muka pintu. Suaminya dengan bubur pisang di tangan sedang putera mereka di atas high chair.
"Tak apa, Papa. Aku bisa menyalin tugasku lagi di buku lain. Ini salahku juga. Ayo Tatia kita bermain satu jam. Mari kita tidak mengusik Mama dan Papa."
Dua puterinya pergi. Suara-suara keduanya terdengar samar saat menghilang ke taman belakang. Aurora akan berlaku macam kakak sejati. Sedang, Tatia mungkin persis seperti nama darimana asalnya. Sedikit berandalan dan huru hara. Pengacau sejati dan terlihat tak takut apapun.
"Kita punya dua orang puteri bernama Aurora dan Tatiana. Juga Putera laki-laki setampan ayahnya."
Archilles Lucca ubah posisi sedikit bergeser dan berikan pijatan lembut pada tulang belakang istrinya yang polos. Ia tinggalkan kecupan di mana-mana, konsisten dan tidak bosan. Archilles hanya tak tahu apa yang berkecamuk dalam ingatan istrinya. Yang pasti ia merasa tercekik saking bahagia.
"Tebak siapa namanya?" Narumi bersandar diri makin dalam.
"Beritahu aku!"
Sisi pelipis Narumi dikecup satu dan dua kali lalu berulang-ulang.
"Ishak Lucca."
"Ishak?!"
"Tuhan telah buat aku tertawa."
Narumi mendongak pada Archilles Lucca, mata mereka bertemu.
"Anda bermimpi?"
"Aku tak bisa bedakan, mimpi, kenangan, masa lalu, masa depan, halusinasi atau ilusi. Semuanya hanya tampak melebur menjadi satu kenyataan. Namun, kita akan miliki Tatiana dan Ishak Lucca."
Archilles Lucca mengelus alis mata Narumi, kelopak dan hampir ke seluruh wajah sebelum menjepit dagu dengan kedua jemari, memuja kecantikan sempurna. Istrinya alami halusinasi atau mungkin sebuah perjalanan spiritual. Anggaplah hadiah dari Tuhan sebagai penawar kepahitan.
"Tuhan akan gantikan hal-hal buruk dengan masa depan indah."
"Amin."
Namaku Narumi Vincenti Lucca. Ini akhir kisahku atau ini permulaan. Aku tak ingin tahu. Hanya saja ..., terima kasih Anda sudah mencintaiku.
***