My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 46. Mi and Mr. Badboy



"Ada transaksi besar di kandang Hedgar."


Dari sebuah villa di atas bukit, Lucky Luciano gunakan teropong memantau situasi dermaga. Beberapa petugas dermaga dan polisi mengatur hilir mudik kendaraan air yang datang dan pergi. Pemeriksaan dilakukan.


"Apa materinya kali ini?" tanya Axel Anthony duduk dalam ruang bagian tengah vila. Di hadapannya terhampar satu lembar peta dalam print out jenis peta satelit.


"Hanya batu-bata." Archilles Lucca muncul dari dapur. Ia menaruh minuman mangga dingin dicampur bulir markisa di hadapan Axel. "Bukan batu-bata biasa," tambah Archilles Lucca.


"Konspirasi tenang, tanpa basa-basi. Gaya Hedgar," sambung Axel Anthony lingkari posisi Hedgar pada peta. Merenung. Meskipun telah menyiksa Itzik Damian, mereka tak dapat informasi apapun. Itzik Damian meludahi mereka hingga buat Lucky Luciano kesal dan mengisi Itzik ke dalam lemari pendingin.


"Kita tidak bisa bergerak sekarang." Lucky Luciano letakan teropong di atas ranjang, mengambil tempat duduk di sisi Archilles. "Terlalu beresiko."


"Anda benar. Satu-satunya cara ..., merampok identitas dan bawaan partner Hegdar di tengah jalan lalu menyusup."


"Baiklah. Mari bersulang. Kita akan menggiring Piglet keluar dari sarangnya."


"Yes."


"Dan selanjutnya jelas, kita hanya akan membawa Anna pulang. Tak perlu ikut campur urusan Hedgar." Axel Anthony perbaiki posisi duduk.


Gelas minuman diraih. Denting-denting kaca berciuman sebelum digoyang-goyang. Lengan-lengan berkaitan ucapkan sumpah penuh penghayatan.


"Untuk kesetiaan, kekerabatan, martabat dan harga diri."


"Demi kesejahteraan dan kebahagiaan. Pergilah bersama Tuhan!" sambung yang lainnya. Mereka minum jus mangga seakan minum anggur. Tak boleh ada yang kesedak atau mereka akan gagal. Keyakinan yang aneh.


"Bos-mu kirimkan perintah jelas, Archilles Lucca," kata Lucky Luciano menaruh gelasnya.


"Ya, Tuan Hellton harus dibawa ke mansion dalam keadaan selamat. Nyonya Salsa gelisah berhari-hari pikirkan Piglet."


"Bukan itu," geleng Lucky. "Ingatkan aku akan kisah, di mana, Ebenn dikirimkan Tuan Luke Diomanta pada sebuah misi berbahaya. Pesan masuk tak lama setelah Ebenn ada di lokasi kesepakatan kepada rekan yang mendampingi Benn. Mereka akan biarkan Ebenn tertembak musuh dan berikan alasan pada Salsa bahwa Benn meninggal dalam tugas. Kepala pengawal orang terdekat Benn, malah selamatkan nyawa Benn sebelum kejadian na'as itu."


"Apa Nyonya Salsa menyuruhmu biarkan Archilles mati terbunuh?" tanya Axel Anthony sambil melipat peta, mengambil kesimpulan dari cerita kontradiksi Lucky.


"Tidak!" Lucky menggeleng, menatap Archilles Lucca. Ia mengernyit. "Sebaliknya! Semua orang boleh mati, tidak dengan Archilles!"


"Bukankah Nyonya Salsa selalu ingin menendang Archilles Lucca keluar dari mansion?"


"Kita semua tahu, ketakutan terbesar Nyonya Salsa adalah Arumi mengulangi hal sama dengan yang dilakukannya dulu."


"Aku bukan Ebenn," geleng Archilles Lucca.


"Trauma adalah trauma. Salsa takut Arumi kabur denganmu, menikahimu kemudian tinggalkanmu. Lalu, Arumi akan hidup dalam penyesalan." Lucky Luciano memutar-mutar gelas di tangan. "Bisa kita lihat Tuan Chavez tak cukup membuat Salsa akhiri penyiksaan diri, pelarian Salsa tak berkesudahan. Aku yakin, ia menebus dosa pada Ebenn sepanjang hayat!"


"Mencoba pola berseberangan dari yang pernah dilakukan Luke?" tebak Axel Anthony.


"Ya," angguk Lucky Luciano, "mungkin benar kata Arumi. Ibunya berubah. Tak lagi jahat."


"Atau Salsa gelisah Arumi mulai berubah pembangkang dan kabur darinya mengajak Archilles Lucca. Semacam deja Vu."


"Yang benar saja?" keluh Archilles Lucca. "Nona Arumi akan bersama Tuan Ethan Sanchez. Ketentuannya telah disepakati."


Archilles menyesap minuman dari gelasnya. Bayangan majikan bermata cantik berlari padanya setiap pulang sekolah sedang senyuman merekah penuh melekat di pikiran Archilles.


Penderitaanmu akan berakhir, Archilles Lucca. Sabar sedikit lagi! Menghibur diri.


Pagi tadi, mereka barengan keluar dari Mansion. Nona Arumi naik motor ke sekolah tanpa senyuman saat mata mereka bertemu. Gadis itu merengut padanya. Cara Nona merajuk cuma buat Nona semakin imut saja.


Marion Davis dan Nyonya Salsa pergi ke sekolah Nona Arumi untuk mendaftar sebagai wali beasiswa bagi Ethan Sanchez. Artinya jelas, Nyonya Salsa sedang melamar Ethan Sanchez untuk jadi pria yang pantas bersama Nona Arumi.


"Aku akan bersama Anda berdua dalam seminggu ke depan." Archilles bicara lambat selesaikan minum. Mengibas tangan sebab ia merasa sangat nyeri. Ia bisa rasakan sensasi dingin sedang menggigit. Kini menjalar hingga ke dasar hati bawa serta kesakitan-kesakitan tertentu.


Axel Anthony menghela napas panjang. "Kemana tujuanmu? Bergabunglah bersama kami."


"Banyak yang menginginkanmu."


"Terima kasih. Tujuanku telah diunggah, tak bisa di-cancel."


"Kamu tahu ..., tangan kami terbuka untukmu selalu Lucca."


"Terima kasih."


Ponsel Axel Anthony berdering. Dokter Cheryl memanggil. Pengeras suara diaktifkan.


"Kita tak bisa pindahkan Tuan Hellton sekarang."


"Mengapa?"


"Kondisinya memburuk!"


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak sehebat Anna Marylin! Temukan saja Anna Marylin, Tuan Axel!"


Ketiganya berbagi pandang. Urutan pekerjaan mereka berganti.


"Baiklah! Tetap tinggal di sana, Cheryl. Anna Marylin akan segera datang."


Hedgar mengoles racun katak pada samurai sebelum menyerang Hellton hingga ..., walaupun berhasil kalahkan Hedgar, Hellton terluka parah dan kritis. Anna Marylin selamatkan nyawa Hellton untuk kesekian kalinya. Sekali lagi, Hellton bergantung pada keahlian Anna Marylin.


Menunggu dalam gelisah, malampun akhirnya tiba.


BM kirimkan beberapa wajah partner Hedgar yang akan bertransaksi dengan pria itu. Segera diunduh.


Gantian Archilles gunakan teropong. Mulai pindai orang-orang yang terlihat di dermaga.


"Tiga orang terkonfirmasi," kata Archilles Lucca.


"Mari pergi!"


Ketiganya segera tinggalkan vila, tidak langsung menuju dermaga tetapi di sayap kanan dermaga.


Archilles Lucca beri tanda pada dua temannya bahwa ia akan menyelinap ke perahu sedang Axel Anthony dan Lucky menunggu kabar di tepian. Memakai janggut dan rambut palsu, juga memakai softlens sembunyikan warna matanya yang mudah dikenali, Archilles Lucca menyamar sebagai salah satu poter dermaga.


Beberapa pria bekerja keras mengangkut karung-karung putih. Saat kepala gang mereka sibuk menerima telpon, Archilles Lucca berhasil menyusup di antara para pengangkut Ia mulai ikutan memikul karung putih masuk ke dalam perahu. Sedang Axel Anthony dan Lucky Luciano berpakaian penyelam lengkap. Berenang dari tepi sungai.


Perahu kemudian bertolak dari dermaga. Di tengah sungai, Archilles Lucca melumpuhkan partner-partner Hedgar beri tanda pada dua temannya bahwa perahu barang telah dikuasai. Membantu Axel Anthony dan Lucky Luciano naik. Mereka bergerak menuju sarang Hedgar.


Sementara di suatu tempat.


Melipat tangan di pintu masuk ruang tidur mereka, Anna Marylin awasi Hedgar ketika pria itu menjahit lukanya sendiri gunakan jarum dan benang.


"Kamu bisa minta bantuanku, Hedgar!"


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."


"Baiklah."


"Aku bukan pria cengeng seperti teman-temanmu."


"Em, baiklah Pria Hebat," cela Anna Marylin. "Aku akan jalan-jalan sebentar di luar menghirup aroma Pinus. Barangkali aku bisa temukan jalan keluar dari sini."


Anna Marylin berpaling hendak pergi.


"Hei hei hei, Anna Marylin!" panggil Hedgar hentikan langkah Anna, mendorong benang dan jarum dengan kakinya kearah Anna. Mengangguk penuh perintah. "Kamu perlu bertanggung jawab sebabkan luka-luka ini pada tubuhku."


Anna Marylin berpikir sejenak. "Kerjakan sendiri Hedgar! Kamu kan bukan pria cengeng, Bye bye!" balas Anna Marylin lanjutkan niat tinggalkan Hedgar.


Hedgar segera melompat dari ranjang melangkah cepat sedang Anna separuh berlari. Kalah cepat. Hedgar lingkari satu lengan pada pinggang Anna sebelum Anna sempat kabur.


"Apa maumu?"


Wandah yang berdiri di bawah kaki tangga membawa sesuatu di tangannya segera terkejut melihat tingkah dua orang di depannya. Wanita itu terpaku sejenak sebelum putuskan pergi.


"Hei! Hei! Hei!" Anna meronta-ronta. Ia gunakan kedua tangan pukuli tangan Hedgar tetapi Hedgar bergeming. "Apa maumu, Brengsek!" Tak hilang akal, Anna membungkuk dan menggigit tangan Hedgar sekuat tenaga.


"Argghhh!!!" Jeritan panjang. Biarkan Anna menggigitnya. Hedgar temukan punggung Anna benamkan gigi-giginya di sana dalam daging tubuh Anna Marylin.


"Arggghhh!!!"


Gigitan Anna pada tangan Hedgar, lepas. Gantian Anna memekik sakit.


"Jangan coba kemana-mana, Anna Marylin! Hutan Pinus punya banyak jebakan."


Anna meringis kesakitan. "Oh, mierda. Sialan kau, Hedgar! Apa maumu?"


Hedgar kemudian separuh terseret, menggendong Anna ke dalam ruang tidur mereka dan menutup pintu.


"Ya, lupakan saja siapa yang memulai semua ini," balas Hedgar meminta maaf tanpa diucapkan, mengecup bekas gigitan yang ia buat di punggung Anna, yang sekejab saja berubah merah tua bata kebiruan.


"Obati lukaku! Kemudian ganti pakaianmu, karena tamuku akan datang untuk jamuan makan malam," bisik Hedgar di punggung Anna sebelum hati-hati lepaskan Anna ke atas ranjang.


Mata-mata tajam Hedgar cuma awasi Anna Marylin saat Anna mulai bersihkan luka bakar yang memerah, meraih jarum dan benang. Menahan sakit, biarkan Anna menjahit luka bagian dalam.


"Hedgar, tamu kita sedang dalam perjalanan kemari. Mereka akan sampai dalam tiga puluh menit!" Wandah berkata dari luar pintu. "Aku akan persiapkan Anna."


"Bawa saja pakaiannya kemari, Wandah!" balas Hedgar dari dalam kamar. Matanya tak lepas dari Anna.


Wandah kemudian datang dengan beberapa model dress di tangannya. Berikan pada Anna yang ogah-ogahan akhirnya meneliti satu persatu.


"Apa yang kamu inginkan? Tamu-mu melihat aku tampak berbentuk?" tanya Anna Marylin suka memancing kegusaran Hedgar, mengangkat satu dress spring summer style model endless berwarna abu-abu dan terbuka.


Anna Marylin tanggalkan pakaiannya dan memakai dress itu. Segala hal tampak jelas. Punggung terbuka hingga hampir ke pinggul, pamerkan kulit putih mulus. Potongan d4d4 rendah dan belahan sangat tinggi mencapai pangkal paha. Terlebih Anna terlihat begitu menggoda memakai dress itu.


"Kau tak punya yang lain Wandah? Apakah kau ingin mata-mata mereka melahap tubuh istriku?"


"Kau bisa mencungkil mata mereka dan lemparkan pada para buaya," balas Anna mencemooh, memutar-mutar tubuhnya di depan kaca.


Hedgar menggeram. "Cari sesuatu yang menutupi leher hingga mata kakinya!"


"Tak ada gaun seperti itu!" jawab Wandah.


"Aku tak peduli, bagaimana caramu! Cari saja gaun yang tertutup untuknya."


Pria itu bangkit dan berlalu ke bathroom sangat kesal.


Anna kemudian temukan dress biru langit model retro yang sangat sopan. Rambut Anna disanggul acak oleh Wandah dan wajah Anna dirias tipis-tipis. Hedgar keluar dari kamar mandi sembunyikan terpukau di mata-matanya.


Hedgar memakai kemeja hitam memeriksa keluar. Bunyi perahu datang. Luke dan Patrick di dermaga, mulai mengangkut karung-karung putih.


"Apa itu karung k - k - 1n?" tanya Anna bergabung bersama Hedgar.


"Hanya pakan bebek," sahut Hedgar menggulung kemejanya.


Anna tertawa kecil segera sinis. "Luar biasa."


Hedgar berbalik cepat dan merengkuh pinggang Anna kuat.


"Jangan coba-coba bertingkah dan buatku kesal, Anna!" katanya di atas permukaan wajah Anna.


"Lalu, kamu bisa kurung aku di dalam kamar!" balas Anna sarkas.


"Baby, jangan menguji kesabaranku!"


"Menggelikan," umpat Anna mendorong Hedgar.


Satu tepukan tangan kagetkan keduanya. Terlebih Patrick dan Luke menodong senjata. Lebih jelas tiga orang pria melangkah di dermaga menuju rumah. Meskipun tampak santai jelas mereka datang membawa masalah.


"Oops! Kurasa mereka bukan tamu-mu, Hedgar tetapi tamu untukku," ujar Anna berseri-seri.


"ANNA!" panggil Axel Anthony.


Hedgar berubah geram. Mendorong Anna menjauh, masuk ke dalam kamar. Ia pergi ke lemari keluarkan senjata. Anna ikut dari belakang sadar bahwa Hedgar mulai kehilangan kendali. Sangat mudah terprovokasi.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Anna berubah gelisah.


"Apalagi menurutmu, Baby? Aku akan berpesta malam ini! Tiga tubuh untuk makanan buaya!"


"Kamu tak akan menyentuh teman-temanku!" Anna pegangi tangan Hedgar.


"ANNA?!" panggil Axel lagi.


"Mereka berani kemari berarti mereka siap dihabisi!"


"Tidak!"


"Mengapa tidak?"


"Tidak ada yang boleh gunakan senjata!"


Namun ....


Door!!!


Di luar pistol meletus ke udara.


Hedgar menyeringai senang segera beranjak menuju keluar memegang senjatanya.


"No No No!" Anna menghadang Hedgar. "Aku akan temui mereka!"


"Tak perlu! Menyingkir dari jalanku Anna!"


"Tidak!" Anna bentangkan kedua tangan menahan Hedgar hingga Hedgar mengumpat murka.


"Anna menyingkir!" ulang Hedgar terakhir kali.


"ANNA?!" panggilan Axel menggema mengisi kesunyian. "HEDGAR ..., keluar kau ..., Brengsek!"


"Aku akan panggilkan Hedgar dan Anna, tolong jangan bikin keributan!" Di luar Wandah terdengar memberi teguran.


"Sebaiknya cepat! Kami hanya akan menemui Anna, jika Hedgar terlalu pecundang untuk muncul!" balas Axel Anthony.


"Taruh senjatamu dan mari pergi bersama temui mereka," bujuk Anna Marylin.


"Menyingkir! Aku bisa melukaimu!" desis Hedgar. Raut wajahnya segera berubah asing dan sorot mata tak bisa membendung api amarah.


"Kamu tak akan lakukan itu padaku! Taruh senjatamu!" bentak Anna Marylin.


"Sekali ini, aku tak akan dengarkanmu!"


Hedgar mendorong Anna ke dinding, tangan besarnya mencekik leher Anna sekuat tenaga didera emosional. Mengangkat tubuh Anna hingga kaki-kaki tak menyentuh lantai. Mata-mata Anna melebar.


"Le - pas - kan aku!" Terbata-bata. "Ka-mu bi-sa mem-bu-nuh-ku!"


Mengambil napas sedikit demi sedikit. Kedua tangannya berusaha keras pegangi tangan Hedgar. Memukul-mukul. Kakinya menendang Hedgar tetapi pria yang sedang marah berubah tak dikenali Anna.


Air mata Anna mengalir. Ia percaya karena reaksi organ atau sesuatu yang lain. Patah hati karena keyakinan bahwa pria ini jahat tetapi tak akan cukup jahat untuk menyakitinya.


Nyeri menjalari leher dan tengkuk. Pegangannya pada tangan Hedgar melemah. Anna kehabisan napas. Kejang-kejang. Diam tak berkutik.


Hedgar tersadar ketika Anna tanpa perlawanan, hanya membeliak padanya seakan bertanya, "mengapa kamu lakukan ini padaku? Hedgar terperanjat kaget lepaskan tangannya.


BUG!!!


Sekonyong-konyong Anna melorot ke lantai. Tak bergerak.


"Anna?!" panggil Hedgar panik bersimpuh di sisi Anna.


"Anna?!"


Meraih Anna ke dalam pelukannya dan memeriksa nadi Anna. Hanya sesuatu yang samar-samar di bawah permukaan kulit. Berdetak sangat lambat.


"Anna?! Apa yang aku lakukan padamu?" tanya Hedgar penuh sesal. "Hei, Baby ..., no Anna. Apa yang aku lakukan padamu?"


Pria itu mendekap tubuh Anna erat-erat separuh menangis, tak peduli pada todongan senjata-senjata padanya. Termasuk ketika Axel Anthony menghardiknya dan menyeretnya menjauh, pisahkan Anna darinya.


"Bedebah kau, Hedgar! Apa yang kau lakukan padanya? Aku akan membunuhmu!" Axel Anthony berteriak marah. Tak hindari pertarungan.


Axel Anthony menarik pelatuk, menembaknya tanpa basa-basi. Ia berguling ke sisi ranjang, meraih senjatanya. Balas menembak.


Lucky Luciano menggendong Anna. "Ax, Anna harus segera dapatkan pertolongan! Mari kita pergi!"


Tangan-tangan Anna terkulai. Cincin pernikahan berkilau di jari Anna. Tangan yang baru saja menjahit lukanya tampak memucat.


"Anna ...."


****


Enthalah, aku sangat sibuk tiga harian ini sampai jatuh sakit. Cuma bisa makan bubur sama makan sup bayam.


Semoga sukai Chapter ini. Aku akan menulis banyak chapter besok.