
La la la
Aku sayang sekali, Doraemon
La la la
Aku sayang sekali, Doraemon
Arumi Chavez meraba-raba ke arah datang alarm. Menyipit oleh kilauan cahaya, tangannya berhasil meraih asal berisik. Ia diijinkan pegangi ponsel setelah merayu Leona berhari-hari. Asistennya takut, Arumi membaca komentar pedas di internet padahal Arumi hanya peduli pada komentar bagus untuknya.
Sedikit menonton tutorial resep sarapan pagi di internet, Arumi Chavez mantapkan hati menuju dapur.
Nyalakan lampu, berdiri di tengah ruangan dapur. Darimana ia akan memulai?
Resep sarapan pagi paling sederhana adalah telur dadar dan roti panggang. Meskipun begitu, Arumi tetap kebingungan, ia bahkan tak pernah pecahkan telur. Di tutorial mereka tak ajarkan secara detil.
"Baiklah, mari kita mulai."
Berdiri di hadapan para tungku. Ia pernah lihat Archilles Lucca memutar katup gas, pergi ke sana. Ia mencoba nyalakan kompos gas, terperanjat sendiri saat benda itu mendesis, wwuzzz, keluarkan nyala api.
"Oh ya Tuhan, ya Tuhan!" Arumi panik.
Seumur hidup ia hanya pernah pergi ke dapur sekali untuk memasak, itupun bersama Archilles Lucca setelah ia pura-pura sok tahu tentang spaghetti.
Terbit ide di benak. Tangan menggeser layar mencari kontak pada ponsel, temukan nama Mr. Lucca. Tersenyum senang.
Calling ....
Terkoneksi setelah dua hari tak bisa dihubungi. Ponsel pria itu rusak. Leona belikan Archilles ponsel baru walaupun Archilles bersih kukuh perbaiki ponsel lamanya.
"Leona?! Apa Nona Arumi baik-baik saja?! Apa sesuatu terjadi padanya?!"
"Hai, Archilles ..., maaf aku mengganggumu!" Arumi Chavez meringis. Suara Archilles Lucca di pagi hari terdengar berat, serak juga se**. Menepuk jidat sendiri.
Hola, Arumi chavez. Que estas pensando, niña?
(Hei ..., Arumi Chavez. Apa yang ada di otakmu, gadis?)
"Nona Arumi?! Ada apa?! Mengapa Anda menelpon pagi-pagi begini? Apa Anda lapar? Di mana Leona?"
"Em ..., tidak Archilles! Aku ingin belajar buat sarapan sendiri. Tungku ini kagetkan aku!"
Terdengar hembusan napas lega.
"Baiklah! Baiklah! Ya Tuhan, aku pikir sesuatu terjadi pada Anda," keluh Archilles Lucca. "Alihkan ke video call, Nona! Aku akan menuntunmu. Apa yang ingin Anda masak?"
"Paling sederhana Archilles!"
"Telur dadar dan roti panggang?!"
"Ya, aku pikirkan itu juga."
"Baiklah. Sebelum Anda nyalakan kompor, Anda bisa siapkan bahannya dulu."
"Em ya ..., aku hanya butuh telur, lada, garam juga dua keping roti."
"Sedikit cincangan bombai, Nona."
"Aku tak pandai gunakan pisau. Aku akan gantikan dengan bubuk."
"Hati-hati kepala Anda, Nona!" Archilles beri peringatan.
Suatu waktu ..., mereka punya momen bersama ..., di mana kepala Arumi hampir tertimpa stoples bumbu kering. Archilles Lucca selamatkan Arumi.
"Ya, ya," angguk Arumi Chavez berpaling dari ponsel.
Sementara Arumi alihkan ke video call, Archilles Lucca kerjab-kerjabkan mata. Nona Arumi terlihat kini.
"So so pretty!" guman Archilles Lucca tanpa sadar.
"Apa katamu barusan, Archilles?!"
"Oh ...," Terkejut. Perbaiki letak tubuh. Mencari jawaban. Tidak sulit. "Dinding monokrom, meja marmer, hiasan lampu segi lima ..., dapur Anda sangat cantik, ya. Terlebih di pagi hari. Mereka seperti sebuah simfoni yang indah."
Arumi Chavez mencibir, "Memangnya saat ke dapur, di mana kamu taruh matamu?"
"Aku tak begitu perhatikan sampai pagi ini," sahut Archilles Lucca. "Apa Anda sudah pecahkan telurnya?"
"Belum!"
"Ketuk saja di pinggir penggorengan atau bowl. Begitu cangkangnya retak, Anda perlu sedikit menekannya hingga pecah."
"Begitukah? Aku pikir gunakan pisau lebih cepat."
"Ya, bisa juga. Lakukan penuh perasaan. Jangan lupa beri dua tiga tetes olive oil."
"Bagaimana dengan mentega?"
"Ya ya ya, boleh."
Nona Arumi pecahkan telur. Mengetuk pelan, mengira-ngira kemudian lebih kuat.
"Cangkang telur memang sekeras ini ya, Archilles?"
"Ya."
Lalu, prak!
"Oh lihatlah, aku berhasil!" Mengangkat mangkok pamerkan telur yang sudah dipecahkan.
"No no, belum berhasil. Ada banyak butiran cangkang di dalamnya. Lakukan lagi!"
"Kecuali Anda berselera pada sensasi biji pasir dalam telurnya."
"Eeeuuu!" Arumi menggeleng.
Dua puluh menit kemudian ..., Arumi Chavez hancurkan 45 butir telur, hanya dua paling ideal untuk dipakai membuat dadar. Itupun setelah ia berkutat keluarkan serpihan-serpihan cangkang dari bowl.
"Aku berhasil Archilles. Aku akan sarapan dengan hasil kerja kerasku sendiri."
Mengangkat wajan, pamerkan pada Archilles.
"Ya ya bagus. Anda perlu menggulungnya, Nona."
"Telur dadar tidak harus di-gulungkan, Archilles?!"
"Harusnya Anda gunakam teflon berkarakter agar bentuknya lebih cantik. Anda bisa buatkan model Love dan bagikan pada pacar Anda."
Nona Arumi cemberut. "Aku menghindarinya selama empat hari."
Sungguh kejutan. Keluhan Nyonya Sanchez sepertinya lukai harga diri. Atau ..., Nona Arumi tepati janji pada Nyonya Sanchez agar tidak sering bersama Ethan Sanchez.
"Oh, apakah pacar Anda tak masalah?"
"Aku masuk ke dalam kelas lima menit lebih telat dan pulang sekolah lima menit lebih cepat." Nona Arumi mulai memanggang roti. Walaupun kaku, gadis itu berusaha keras.
"Bagaimana waktu istirahat?"
"Aku pergi ke atap sekolah, makan di sana. Beruntungnya Ethan Sanchez semacam tulang punggung di sekolah. Dia sangat sibuk belakangan mengurus ini dan itu."
Archilles Lucca mend****. Mengapa hatinya tersayat-sayat bayangkan Nona Arumi duduk sendirian di atap.
"Menghindar tak akan selesaikan masalah, Nona."
"Aku tak ingin bahas itu, Archilles. Nyonya Sanchez benar di segala sisi."
Nona Arumi berubah murung.
"Segala hal butuh proses, Nona. Anda sudah memulainya tanpa menungguku. Nah, coba aku lihat hasilnya, Nona?" tanya Archilles riang.
Arumi Chavez mengangkat hasil karyanya.
"Wah ..., lezat ya kelihatannya!" puji Archilles meski roti panggangnya aneh.
"Kamu mau?!"
"Coba tawarkan pada Tuan Ethan, Nona. Aku rasa dia akan terpesona pada keterampilan baru Anda."
"Hanya kau saja yang terpesona pada keterampilan-ku, Archilles! Mungkin karena kamu digaji."
"Terima kasih, itu menyakiti hatiku."
"Maafkan aku, bukan maksudku. Oh, aku sangat jahat padamu."
"Anda sedang kesal, aku maklumi."
"Apakah menurutmu Ethan Sanchez akan sukai ini?" tanya Arumi amati hasil masakannya.
"Tentu saja, Nona. Kerja bagus. Lebih bagus lagi jika Anda lepaskan aku dari borgol terkutuk ini."
"Ya, aku akan lepaskan lusa, Archilles. Sabar ya." Arumi packing sarapan pagi ke dalam kotak bekal.
"Nona ..., sudah empat hari aku diborgol. Perawat yang Anda sewa, mandikan aku tiga kali sehari."
"Apa?! Tiga kali sehari? Memangnya kau dipenuhi kuman?"
"Cuma alibi, Nona. Dia hanya mengambil keuntungan dariku dengan terus meraba-raba tubuhku."
"Apaaaaa?! Berani sekali dia!!!"
"Dia meneteskan liur di atas perutku."
"Apa?!" Nona Arumi melotot pada kamera. Tampang itu sangat menggemaskan. "Ya ya ya, wanita normal akan sukai perutmu. Aku akan menghajarnya. Tunggu aku akan datang secepat mungkin."
Ponsel dimatikan. Archilles Lucca pejamkan mata. Hatinya berdenyut-denyut dengan cara yang tidak biasa. Cukup lama kembalikan kewarasan di dalam dirinya. Peringatkan diri keras.
Apa yang harus ia lakukan agar Nyonya Sanchez jatuh hati pada Nona Arumi?
Seandainya, Nona Arumi bertemu kakek-neneknya dan Zefanya, Archilles yakin mereka akan menyukai Nona Arumi. Mungkin dia ceroboh dan na'if, tetapi tingkah konyolnya bisa bikin seseorang merasa bahagia. Dan itu menular.
Orang tetapkan standar berbeda, mungkin Nyonya Sanchez inginkan yang terbaik bagi puteranya.
Saat mata terbuka, senyumnya memudar cepat. Di sudut ruangan seseorang berdiri. Cahaya ponsel terangi wajah putih itu.
"Kulihat, kamu sangat menyayanginya, Mr. Lucca," sapa hangat. Tangan terus bermain-main di layar. "Dia memang sangat cantik dan mempesona."
Archilles Lucca terlalu tenggelam pada Arumi Chavez hingga tak sadari bahwa kamarnya disusupi seseorang berjubah putih, berkulit putih. Archilles benci dirinya yang tak siaga.
Itu karena kau sibuk jatuh cinta, Bodoh! Saat jatuh cinta sebagian indera biasanya tak berfungsi normal.
"Kau terlihat lebih mengenal diriku dibanding aku sendiri, Itzik Damian!" balas Archilles Lucca was-was. Ia bisa pencet tombol alarm di kepala ranjang. Namun, itu bukan gayanya.
"Sangat indah dilihat. Mantan penjahat dan majikannya yang polos nan cantik. Apakah kisah lama akan terulang kembali? Apakah kisah-mu akan berakhir bahagia, Archilles Lucca?"
***
Chapter panjang lebih susah terupdate. Maafkeun aku cut jadi dua chapter ya....
Tinggalkan komentar ya....