
Arumi Chavez melompat turun dari atas ranjang. Secepat kilat berpindah ke jendela mendengar ringkihan Aorta juga derap kaki bergantian di atas jalanan belakang mansion.
"Aku bangun kesiangan?" Gerutu Arumi jengkel. "Dia akan berpikir aku tidak tepat janji."
Yep, Tidurnya terlalu nyenyak. Itu karena ia diberkati mimpi indah. Walau semakin kesadarannya pulih, ia lekas lupa apa yang telah diimpikannya hingga ia seakan bunga di musim semi.
Sungguh keajaiban sebab langit sedikit bercahaya. Angin bertiup tipis-tipis, embun masih betah terlelap. Tak mengapa sebab sebentar lagi akan mengering.
"Aku tak akan lewatkan momen indah ini!" Bergegas mencari ponsel.
Archilles menunggangi Aorta berputar-putar sedang Vena seakan tak sabaran menunggu giliran.
"Nah, lihatkan! Apa kataku? Mereka juga merindukanmu!"
Arumi Chavez mulai merekam video. Zoom out zoom in sesuka hati. Saat pria itu pergi, ia bisa menonton video Archilles bersama Aorta dan Vena. Sudah pasti akan mampu penawar rasa rindu di masa mendatang.
Tak lama berselang, Uncle Hellton bergabung. Tidak begitu dekat sebab Vena tampak tak nyaman akan kedatangan Uncle Hellton.
"Nah, Vena adalah diriku yang dulu, Uncle H. Maaf ya. Seiring berjalan hari, Vena mungkin menyukai Anda sama sepertiku."
Kini, Archilles membelai Aorta. Satukan kening mereka.
"Aku merindukanmu Aorta." Arumi Chavez men-dubbing suara Archilles Lucca menebak isi percakapan antara Archilles dan Aorta.
Aorta keluarkan suara-suara hebat juga kibaskan ekor. Satu, dua kali. Kepalanya sedikit menyundul Archilles.
"Kita akan bersama pagi ini," tambah Arumi meniru gaya bicara Archilles. Ia cukup mengambil gambar. "Lalu, aku akan pergi dan kamu akan bersama Nona Arumi. Jangan nakal dan jaga Nona, ya! Uhhh, dia manis sekali!"
Memencet tombol di dekat pintu. Bicara di pengeras suara.
"Nona?! Apa Anda butuh sesuatu?" Terdengar seperti Menguap lebar. Apa Leona bangun kesiangan juga?
"Leona, bisa tolong ke kamarku sekarang?!"
"Siap, Nona."
Dalam lima menit Leona muncul di depan Arumi.
"Maaf aku kurang siaga."
"Tak masalah."
"Nah, menurutmu, apa yang pantas aku pakai? Dress? Casual?"
"Nona hanya akan berkeliling kota dan bukan dengan mobil. Angin mungkin agak kencang menjelang siang. Dress akan buat Anda tidak bebas."
"Oh, dia memberitahumu?"
"Ya. Casual saja, Nona. Terlebih jangan sampai menarik perhatian penggemar Anda."
"Jeans dan kaos? Apa prediksi cuaca hari ini?"
"Berawan."
"Baiklah."
"Kurasa Anda tak perlu repot-repot soal busana. Archilles tampak tak peduli pada apa yang dikenakan Nona."
"Ya, aku paham Leona. Kami bersama hampir tiap hari dan aku mengenalnya."
"Lalu, mengapa Anda minta pendapatku?"
"Aku takut terlihat berlebihan."
Tiga puluh menit kemudian rambut cokelat terang keemasan digerai. Poni memanjang menutupi dahi. Jeans biru dan t-shirt bertuliskan pesan mutiara dari seorang filsuf.
Bermain piano adalah rutinitas, semacam panggilan jiwa. Jemari lentik mulai berlarian di atas tuts piano. Because I Love You mengalun mengisi keheningan.
Kabut tipis selimuti mansion. Nuansa romantis dengannya berada tak seberapa jauh darimu. Arumi ciptakan dua baris lirik.
Berharap ibunya tak ciptakan drama baru. Mereka cuma pacaran, kencan, bukan hendak k4w1n lari.
"Apa menurutmu, aku perlu bergabung untuk sarapan?" tanya Arumi pada Leona menutup piano hati-hati. Ingin mainkan lagu ciptaannya tetapi waktu dirasa kurang pas.
"Aku tak paham mengapa Anda hindari meja?"
"Aku tak suka tatapan Ibuku pada Archilles. Ingatkan aku pada Nyonya Sanchez. Sungguh trauma."
"Kisah cinta dramatis."
"Kamu beri aku ide hebat. Siapa tahu Chris Evans tertarik."
"Mari kita coba. Jangan lupa aku sebagai karakter pendukung."
Arumi Chavez mengangkat dagu, pandangi Leona hingga yang ditatap segera lumer.
"Jangan menatapku seperti itu! Apakah permintaanku berlebihan?"
"Aku hanya mengandalkanmu. Jangan pergi, aku mohon."
"Aku tak akan kemana-mana bahkan meskipun nyawaku taruhannya. Aku tak akan tinggalkan Anda." Leona membuat sumpah. "Anda tahu, Archilles Lucca berhasil membujuk Nyonya Salsa semalam."
"Tidak buat kita tenang. Ibuku adalah pedang bermata dua. Tolong tinggal di sini dan awasi Ibuku."
"Aku dan Tuan Alfredo akan ikut atas perintah Nyonya Salsa."
"Baiklah."
Semua orang kemudian berkumpul untuk sarapan. Arumi Chavez mengunyah sarapan dalam diam. Ia berpikir akan mampir di restoran yang mereka temui agar makan lebih banyak. Ia kehilangan selera makan.
Semacam ikuti prosesi tahunan yang bikin mengantuk, akhirnya ia bernapas lega saat sarapan berakhir.
"Leona dan Alfredo akan ikut dengan kalian, Archilles." Nyonya Salsa bicara dari sisi Tuan Hellton. Bersuara netral.
Archilles baru saja akan mengangguk ketika Arumi Chavez memotong.
"Leona ...."
"Ya, Nona."
"Beritahu Alyshe dan yang lainnya untuk bersiap-siap. Termasuk Tuan Armen."
"Um?!"
"Berempat kurang seru. Bagaimana kalau bersebelas. Kita bisa bertamasya atau semacam study tour. Mereka juga perlu belajar mengenai obelisk, monumen nasional dan pahatan kota untuk menambah wawasan. Aku akan adakan pretest sebelum mereka memegang wajan besok pagi."
Arumi menatap Ibunya, tersenyum ceria. Ucapan dan gestur adalah kontradiksi yang mudah dipahami sebagai bentuk dari pemberontakan.
"Nona, tidak masalah jika Leona ikut kita."
"Nona ...."
"Sudah sana, Leona! Aku akan bawa dayang-dayangku keluar dari istana untuk menghirup udara segar. Cepatlah bersiap, mari kita menonton pemandangan kota dari Saint Justa. Aku yang traktir."
"Nona?!"
"Apa sesuatu terjadi?" tanya Hellton Pascalito awasi Arumi.
"No, Uncle. Aku dan Archilles akan bepergian. Ibuku mungkin takut aku kabur dengannya. Jadi, satu mansion akan ikut denganku agar Ibuku tak punya alasan gelisah."
"Pergilah dengan Archilles. Yang lain akan tinggal dan jalankan rutinitas seperti biasa," kata Hellton. Menoleh pada kakak perempuannya. "Kita tak akan mengganggu kencan anak muda dengan pikiran sesat."
"Enrique?!" tegur Salsa ajukan keberatan.
"Aku mengenal pria ini sebaik aku mengenal diriku sendiri. Jika bukan karena merawatku dan bertanggung jawab pada masalah dinasti ini, Archilles telah lama menghilang."
"Enrique ...." Mudah pasrah pada akhirnya.
"Belajar dari Adelle Diomanta, Salsa! Puterimu tidak dilahirkan sebagai sasaran pemuas kehendak kita."
"Kami pergi! Aku mencintaimu, Uncle H."
"Arumi Chavez?! Hanya karena aku mendukungmu bukan berarti kamu akan lewati batasan. Jaga sikapmu padanya!" Cukup keras beri peringatan. "Itu berarti, tidak memprovokasi Archilles seperti terakhir kali yang aku lihat. Tidak merayunya seperti yang kudengar dari Lucky Luciano. Tidak buat Ibumu cemas."
Arumi Chavez mancungkan bibir. Ish, Lucky Luciano memang brengsek. Awas saja dia. Lihat saja nanti. Arumi gemas.
"Arumi?!" Hellton Pascalito keluarkan suara berat dan tajam cukup untuk membuat Arumi merinding ngeri.
"Ya, baiklah. Aku hanya akan mengunyah permen karet sambil pelototi Archilles hingga dia sesak napas." Arumi berkata pelan.
"Aku akan menjaganya, Tuan." Archilles Lucca akhirnya bicara.
Archilles dan Arumi tinggalkan mansion di antar Leona. Sisakan kritikan Salsa di belakang.
"Lepas bukan berarti bebas. Kekang tanpa dikendalikan akan buatnya semakin liar. Kakak hanya perlu berikan Arumi kepercayaan. Aku yakin dia lebih komitmen pada karir dan masa depannya daripada seorang pria. Berbeda denganmu dulu, Kak. Aku harap kamu temukan letaknya."
"Orang bisa buta karena cinta."
"Arumi mungkin buta. Archilles Lucca tidak! Pria itu bersumpah padaku semalam. Archilles bahkan lebih loyal dari aku atau Lucky soal yang satu ini. Aku pertaruhkan diriku sebagai jaminan."
Sedangkan Arumi dan Archilles tadinya ingin naik metro yang akan membawa mereka ke tujuan. Cukup penuh oleh pengunjung menuju Alges. Dan Nona Arumi mungkin mudah dikenali.
Putuskan naik taxi demi kenyamanan Arumi, mereka kemudian duduk sama seperti ketika menonton movie semalam. Berjauhan, hanya sesekali menoleh dan berbagi senyuman.
Hari yang indah, tanpa banyak orang. Arumi memakai topi juga kaca mata dan masker. Bahkan hanya tersisa poni untuk dilihat tetap saja tak berpengaruh bagi pria yang mencintainya. Tetap saja bikin takjub.
Di depan sana ruang luas hijau Torre de Belém terhampar sedang di ujung penglihatan, Kastil berstruktur mengesankan mengarah pada sungai. Berparas cantik, anggun dan elegan, berdiri kokoh di tepian Tagus yang damai sebagai pengingat kehormatan dan kekuatan bangsa ini di masa lampau.
Sedikit belas kasihan langit, awan sedikit bergeser. Matahari bersinar meski redup.
"Pernah kemari?"
"Ya. Saat syuting Angel of City. Beberapa adegan diambil di sini."
"Mau ke teras atas?"
Hari Minggu tak dipungut biaya. Pergi ke sana. Lagi beruntung, hanya mereka di sana. Terpukau pada kilau sinar mentari. Angin bertiup cukup kencang, nyaris terbangkan topi Arumi. Archilles Lucca menahan tangannya di dalam mantel. Ia telah berjanji ia tidak akan menyentuh Nona Arumi. Sungguh tekanan batin.
"Mari kita turun. Anginnya terlalu kencang, Nona."
"Ya. Tetapi, sebelumnya berdiri di dekat sana. Menghadap padaku!" suruh Arumi keluarkan ponsel. "Lihat aku!"
Mencari-cari sudut pandang yang bagus.
"Nona?!"
"Ayolah, kamu bisa bergaya kan? Aku akan mengambil beberapa fotomu, tolong geser sedikit. Nah, terkunci. Archilles Lucca dan 25 de Abril yang indah."
"Sudah selesai?"
"Belum." Mode selfie lepaskan masker dan kaca mata. Pastikan wajahnya dan wajah Archilles masuk dalam kamera meskipun Archilles jauh di belakang sana.
"Mari pergi!" ajak Arumi Chavez menarik luar mantel di bagian lengan dan menyeret Archilles setelah setelah pakai masker dan atribut lainnya.
"Kamu tahu, aku suka teluk kecil di bawah sana sewaktu gelombang airnya pecah di kakiku. Sayang, sekali ini aku tak ingin basah."
Mereka berpindah ke Biara Jeronimos di mana Vasco da Gama habiskan malam terakhirnya berdoa sebelum ekspedisinya menuju Timur.
Mematung di bagian relief Vasco da Gama terbaring dengan tangan terkatup. Nenek moyang mereka adalah pemberani, mengarungi samudera hingga ke sudut dunia dan kembali dengan banyak rempah-rempah.
"Kekayaannya yang melimpah setelah ia kembali ke kota, Vasco da Gama kemudian membangun biara ini."
"Definisi nyata royal. Bangunan yang indah dan cantik."
Walaupun berdekatan, Arumi sadari bahwa Archilles menjaga jarak dengannya seakan takut bersentuhan. Pria itu menyimpan tangan di dalam mantel. Mungkin semalam, ibu ijinkan mereka bersama hari ini. Dengan syarat, Archilles tak boleh menyentuhnya.
Lihat dia?
Bisa-bisanya Archilles terjemahkan lurus-lurus aturan Ibunya soal, 'menyentuh'. Manis.
"Sekarang biara juga berfungsi sebagai museum maritim kota yang merawat reliek dari masa keemasan pelayaran. Anda bisa lihat catatan sejarahnya di sebelah sana!"
Patung-patung navigator berseragam merah dan topi pelaut dalam kubah kaca kisahkan ketangguhan dan kehebatan. Juga perahu layar berjejer mulai dari paling kecil hingga paling besar. Kapal-kapal replika yang terawat baik benar-benar menakjubkan mata Arumi.
"Mereka sungguh mengagumkan, Archilles. Walaupun demikian, aku tak akan mau berlayar di luasnya samudera Atlantik dengan perahu sekecil ini."
"Em, mereka menyusuri samudera Atlantik, Samudera Hindia demi temukan dunia baru yang tanahnya subur, dipenuhi rempah-rempah."
"Terima kasih aku terlahir di jaman ini. Aku bisa memesan tiket pesawat dan duduk dengan nyaman untuk berkeliling dunia."
Archilles tersenyum. "Anda berpikir praktis."
"Tetapi, nyali mereka benar-benar buatku terpesona. Sungguh dianugerahi keberanian."
Archilles Lucca sangat sabar jelaskan pada Arumi tentang sejarah negara mereka. Kini, berpindah ke basilika di sisi Biara Jeronimos. Tak keberatan mengantri lagi. Berkeliling, menikmati terisi banyak senyuman.
"Tahun 1800 para penguasa negara ini memaksa para Biarawan mengosongkan tempat ini. Mereka menjadi miskin dan menjual barang berharga yang mereka miliki. Dan Anda tahu apa itu?"
Arumi Chavez menggeleng. "Kamu akan beritahu aku, Profesor?!"
"Resep rahasia Egg Tart."
"Oh?! Apa itu sangat berharga?"
"Anda tahu bahwa Biarawan tak punya barang berharga semisal emas atau lainnya macam yang dimiliki orang pada umumnya."
"Miris. Bagaimana bisa para penguasa bertindak semena-mena?"
"Lima generasi kemudian, di sekitar sini, para penduduk menyajikan ribuan Pastel de Nata setiap harinya. Termasuk yang sering Anda santap di mansion."
Keluar dari kompleks biara di hadapan mereka taman Praça do Império miliki air mancur yang menentramkan untuk disaksikan. Landmark terbaik negara ini berada di tepian sungai dan laut. Jadi, kini kita paham seberapa cintanya negara ini pada laut.
"Apa kita perlu mampir ke sana?" tanya Archilles Lucca.
"Ya. Mumpung kita di sini."
Jadilah mereka pergi ke salah satu tempat penjualan Pastel de Nata. Masuk ke dalam dan memilih meja kosong. Salah seorang staf datang dan mencatat menu mereka. Chocolat Chaud, Pastel de Nata khas Belém sedang Archilles memesan Oporto yang kemudian disajikan dalam gelas anggur minimalis.
Sementara Arumi Chavez mulai dengan gigitan Pastel de Nata, pria di depannya hanya tertarik untuk menatap gadisnya.
"Aku tak heran resep rahasia para biarawan adalah sesuatu yang sangat berharga." Arumi Chavez bicara setelah mengusap bibir. Meskipun sering makan tetapi tiap gigitan seakan pengalaman pertama.
Pengunjung sangat ramai. Kebanyakan mereka adalah wisatawan manca-negara
"Anda selalu menyukainya." Archilles Lucca tak lepaskan pandangan hingga pipi Arumi bersemu kemerahan.
"Ya, tetapi duduk dan nikmati di sini adalah hal terbaik yang pernah ada."
"Beritahu aku pendapat Anda?" tanya Archilles suka melihat Arumi Chavez berubah jadi pemikir.
"Pas saja di lidah. Tidak terlalu manis. Aku tak bisa jelaskan. Sungguh sangat luar biasa."
"Kita miliki manisan terbaik di dunia."
"Ya, kamu benar."
Menjelang siang mereka telah kunjungi banyak benteng, monumen dan taman. Kini mereka naik kereta gantung menuju hulu sungai, nikmati pemandangan kota di sepanjang tepian Tagus. Pantai Urban dan jalanan Cor de Rosa.
Di tepi sungai gerbang kota Praca do Comercio sebagai monumen untuk menghormati tiga pelaut nasional paling berpengaruh. Dari atas sini, bahkan Mappa Mandi yang memetakan rute pelayaran di masa lampau juga penemuan dari nenek moyang mereka tampak jelas di bawah sana.
"Mengapa saat kita bersama kita tidak bepergian?"
"Karena jadwal Anda padat."
Dalam kereta hanya mereka berdua.
"Archilles, berhenti panggil aku, Nona! Berhenti bicara formal padaku."
Archilles tersenyum. "Aku menyukainya. Ingatkan aku bahwa aku adalah pria rendahan yang sangat-sangat beruntung karena Anda menginginkanku."
Arumi Chavez tercengang oleh rendah diri Archilles. Itu menyakiti hatinya.
"Jangan ciptakan sekat, please. Kamu mungkin cerdas tapi juga bodoh. Apakah Tuhan ciptakan kasta? Manusia hanya terlalu sombong, mengambil keputusan bahwa mereka lebih hebat dari manusia lainnya dan membentuk strata sosial. Mungkin saja, martabat mereka dipandang tinggi karena miliki banyak uang. Aku lebih suka, pendapat bahwa manusia sama di hadapan pencipta."
Gantian Archilles Lucca yang terkesima.
"Ada bagusnya juga Anda ditinggal sendirian. Pola pikir yang sangat dewasa."
Arumi Chavez makin bergeser pada Archilles. Suka dipuji dan ciptakan kesempatan untuk berdempetan dengan Archilles.
"Lihat kastil Saint Jorge di bawah sana, Nona!" seru Archilles tiba-tiba hindari dirinya dari hal-hal yang akan dibuat sang gadis. Sebab tampak jelas Nona Arumi akan menggapainya dan lakukan sesuatu.
Susah juga ternyata. Gadis ini pacarnya tetapi ia harus menggenggam janji pada Nyonya Salsa.
"Menara benteng Moorish abad ke 11."
"Ya, aku tahu," balas Arumi Chavez agak cemberut.
Hanya sesaat, gadisnya lekas lupa-lupa ingat pada rencana yang mungkin timbul saat mata membentur hamparan atap-atap merah indah. Terlebih bersisian dengan sungai biru.
"Ya, Tuhan sangat spektakuler."
Di sebelah kanan mereka jembatan sepanjang sebelas mil yang luar biasa megah, Vasco da Gama terbentang sebagai yang terpanjang dan tercantik.
Menjelang siang mereka menyusuri Rossio. Tempat ini sering jadi arena adu banteng dan perayaan. Sangat cocok untuk bersantai. Jalanannya berpola gelombang yang unik. Arumi mengambil foto Archilles di sana dan dirinya. Mereka sepenuhnya hanya bersenang-senang.
Naik elevator Santa Justa dan bersua dengan Convento do Carmo. Bangunan yang mengesankan tanpa atap, sedikit rumput hijau dan tiang-tiang yang berdiri tanpa diperbaiki. Yang akan kabarkan-mu sisa-sisa kehancuran serangan bencana alam yang menimpa kota di tahun 1755.
"Mari kita makan siang, Nona."
"Kamu harus pergi hari ini?" tanya Arumi Chavez lekas muram.
"Ya. Aku harus bekerja besok."
"Beritahu aku, apa pekerjaanmu?"
"Emm ...."
"Baiklah."
"Aku jadi guru," jawab Archilles akhirnya.
"Oh, guru di taman kanak-kanak?" Arumi berharap. Di sana hanya ada, you know, kids.
"Tidak, di sebuah sekolah menengah."
"Hei ..., hati-hati dengan mata dan pikiranmu!" seru Arumi separuh mengancam.
"Aku tak akan berani." Archilles mengangkat telapak tangan.
Nona Arumi berjalan ke depan tapi tubuhnya menghadap ke belakang.
"Anda bisa menabrak orang, Nona?"
"Lalu, mengapa kamu terus di belakangku? Mengapa tak berjalan di sisiku? Mengapa tanganmu terus dalam mantel? Apakah ada sesuatu yang lebih menarik di da ...."
Terputus.
Seorang pengunjung sedang terburu-buru tanpa sengaja menabrak Arumi keras hingga buat gadis itu terlontar ke depan pada Archilles yang refleks menangkap tubuh tidak seimbang Arumi. Mendekapnya erat.
"Nona ..., sudah kubilang tadi kan?"
"Ugghh ...."
"Apa Anda baik-baik saja?"
"Akhirnya tanganmu berfungsi," keluh Arumi terbenam di dada Archilles. Lepaskan kaca mata dan masker yang mengganggu. Tak mau pergi dari sana. Pejamkan mata.
"Nona ... kepalaku bisa dipenggal."
"Aku yang lebih dulu menyentuhmu. Ibuku bisa apa? Semua pengunjung disini bisa dipanggil jadi saksi kita."
Archilles Lucca mend3s4h berat.
"Nona, Anda tak akan membuat perang yang tidak penting dengan Ibu Anda."
"Kapan kita akan bertemu lagi?" tanya Arumi Chavez tak ingin bahas masalah Ibunya.
Archilles Lucca menopang dagu di puncak kepala Arumi sementara pengunjung lalu lalang di sekeliling mereka.
"Aku tidak tahu, Nona."
Pelukan Arumi semakin kuat padanya. Archilles Lucca menahan diri. Ia tahu gadis dalam lengannya mencoba tegar.
"Aku akan merindukanmu. Tetapi mungkin tak akan selara kemarin-kemarin."
"Ya. Ini cukup mengobati. Lagipula, Anda menyimpan banyak foto kita. Anda bisa kirimkan telepati padaku." Menghibur.
"Aku menyayangimu."
"Aku menyayangimu, juga." Archilles menyahut. Berbagi kesedihan yang sama. Dibiarkan tangannya mengelus rambut panjang selembut sutera, menggenggam di ujung tangan.
"Kita akan makan siang lalu aku akan antarkan Anda pulang."
"Terima kasih untuk hari ini."
"Apakah Anda ingin tahu, apa yang ada di dalam saku mantelku?" tanya Archilles hingga Arumi mendongak padanya.
Archilles Lucca menelan ludah kepayahan, sedikit menggigit bibir, mengelak sihir dari gadis di hadapannya.
"Beritahu aku!" Mata Arumi Chavez mencari-cari jawaban dalam matanya. Wajah penasaran sangat imut. Archilles Lucca menarik lidah topi Arumi yang hampir jatuh.
"Coba tebak?"
"Aku tak suka main tebak-tebakan. Kamu kan tahu aku tak suka kerumitan. Beritahu aku!"
Tangan kanan Archilles merogoh saku mantel. Pamerkan genggaman di depan wajah Arumi yang segera berseri-seri.
"Kado Natalku datang lebih cepat. Kamulah yang pertama."
Archilles mekar-kan jari-jari. Seutas kalung jatuh dan berayun di depan wajah Arumi hingga matanya bersinar terang. Dia punya banyak kalung tetapi yang satu ini hadiah terbaik yang pernah ia lihat.
"Apakah Anda menyukainya?"
"Ya," angguk Arumi bersemangat. "Ini akan jadi favoritku dan istimewa karena datang darimu."
Di bawah tiang-tiang menawan yang tak runtuh walaupun dilanda bencana alam yang mengguncang ratusan tahun silam, tidak terburu-buru ketika kalungkan benda itu di leher Arumi dan kaitkan simpulnya. Mata kemudian menilai sementara hati tanpa ia sadari haturkan doa dan permohonan, agar Tuhan berbaik hati restui mereka di waktu yang akan datang.
"Anda sangat-sangat cantik."
Tanpa bercermin Arumi yakin yang dikatakan Archilles jujur. Ia pasti terlihat sangat cantik memakai kalung bermatakan tulisan berukiran indah dan elegan; Mrs. Lucca.
***
Aku mencintaimu, cintai aku.