
"Aku tak makan dengan benar dalam dua hari. Ingin pastikan bahwa kamu tak sedang bersama seseorang. Aku ingin pasang kamera CCTV di kancing bajumu dan memantau. Apakah aku berlebihan, Archilles?"
"Anda sangat manis."
Sampai sejauh ini, Arumi Chavez, tak katakan 'aku cinta padamu'. Padahal, mudah saja diucapkan. Kalimat itu menjadi sangat sakral. Dan Archilles pikir tak akan penting.
"Bukankah aku posesif, protektif?" tanya Arumi Chavez. "Apakah kamu tak keberatan?"
"Tidak, Nona. Sikap insecure Anda berawal dariku. Aku memulai semuanya hingga Anda takut."
Mereka berbagi tatapan, lepaskan kerinduan terpendam.
"Mari menari sebelum pestanya bubar, Archilles Lucca. Kamu tak akan kesakitan saat aku bertumpu pada kakimu. Beratku sedikit berkurang."
"Apakah makanan siang tadi rasanya enak?"
"Sangat. Makanku banyak. Aku menyukainya. Terlebih karena pacarku memasaknya untukku."
"Jadi, aku ketahuan?" tanya Archilles tak berkedip menatap mata Arumi Chavez.
"Bagaimana aktingku?"
"Terlalu alami. Aku kehilangan akal."
"Apa yang kamu rencanakan?"
"Menculikmu dan menyekapmu di suatu tempat, Nona. Sampai Anda mau bicara padaku."
"Terdengar menarik. Tolong culik aku," kata Arumi Chavez menggenggam tangan Archilles dan menariknya. Berlari pelan. Rambut terurai berayun pelan, dampaknya benar-benar bikin Archilles Lucca sempoyongan. Lewati taman belakang di mana kelinci dari Diomanta Greenfield mulai berkembang. Temukan keramaian di mana musik rakyat sangat identik dengan kebahagiaan. Pertama kali, Arumi Chavez adalah majikan. Kedua kali, Arumi Chavez adalah kekasihnya.
"Aku sedikit trauma dengan lampu dan banyak orang, Archilles. Ingatkan aku pada hari itu!"
"Tidak tampak."
"Karena ini Durante Land. Tak akan ada yang berani jahat padaku di sini."
"Anda berdansa bersama seorang pria asing malahan."
"Kamu cemburu?"
"Ya."
"Aku mencium pria di drama."
"Aku menonton drama Anda, Nona dan skip di bagian itu! Pacarku artis, aku akan menerimanya."
Semoga Arumi Chavez temukan hobi lain selain main drama dan berciuman dengan lawan mainnya.
"Percayalah, ada orang-orang sepertiku yang lakoni dunia akting tanpa cinta lokasi."
"Aku percaya pada Anda. Tetap saja aku seorang pria yang mencintai seorang gadis idola."
Mereka menyatu di keramaian. Arumi hendak tanggalkan sepatu.
"Tidak Nona! Bagian depan sepatu tak akan menyakiti aku."
Tangan segera mendekap erat pinggang Arumi. Bawa gadis itu berdansa. Sebagian penghuni Durante tidak hanya berdansa mereka juga menyanyi seakan lagu ini lagu kebangsaan Durante Land. Mereka kemudian hanya ciptakan memori.
"Archilles, aku penasaran kejutan apa yang kamu siapkan untukku? Walaupun aku tahu pasti ada di rumah pohon."
"Anda mengintipku?"
"Ya. Kamu menunggangi Aorta pergi ke sana. Aku penasaran," kata Arumi sedikit berjinjit dan bicara di kuping Archilles karena udara yang sibuk hantarkan bunyi. Ditambah pekikan riang diperdengarkan. Bisikan itu menyapa kulitnya. Ya Tuhan, Archilles Lucca semakin semaput.
"Mari kita pamitan pada Tuan Rumah dan pergi, Nona."
Mereka ke dalam mansion. Ruang tamu mansion, Abner Luiz, Nyonya Sylvia, Elgio Durante dan istrinya bersama walikota dan puterinya. Terdengar sangat akrab sewaktu berbincang.
Dinning room lebih ramai. Walaupun demikian, ada sudut lain, Reinha Durante dan Lucky Luciano ciptakan dunia mereka sendiri. Berdansa dengan gelas minuman masih di genggam. Tangan Reinha di leher Lucky sedang tangan Lucky di pinggang Reinha. Mereka berciuman sepanjang penglihatan Arumi tak peduli pada orang lain di sekitar mereka.
Arumi yakin dalam lima belas menit, keduanya akan menghilang ke suatu tempat. Padahal dulunya Lucky Luciano punya banyak perempuan dan sering di bawa ke mansion Diomanta ketika pria itu berkunjung. Lihatlah sekarang, dia benar-benar terbelenggu pada Reinha Durante.
Ethan Sanchez duduk bersama Luna Hugo. Mereka mengobrol. Ya, keduanya lebih dekat karena kafe mereka berhadapan. Arumi penasaran apakah Tuan Miller dan Aunty Marion membentuk langkah selanjutnya? Oh, mereka tampak sangat serasi sekalipun tiap bertemu selalu saling menyerang.
"Apakah Aunty Marion melihat Tuam dan Nyonya Chavez?" tanya Arumi pada Aunty Marion yang kebetulan lewat, instruksikan ini dan itu pada staf yang adalah pegawai dari restoran Marion and La Luna. Umur panjang Marion Davis, ujar Arumi dalam hati.
Arumi tidak melihat Maribella Williams. Satu-satunya alasan, wali Durante sibuk di bagian persiapan hidangan.
"Oh, Cintaku Arumi Chavez. Orang tuamu ada di ruang atas. Pergilah ke sana! Aku ambil minuman dulu."
Keduanya pergi ke lantai atas. Alfredo Alvarez di ujung tangga.
"Archilles, pembicaraan di dalam sedikit penting. Ada perintah untuk tak biarkan orang lain masuk selain Nona Arumi, Tuan dan Nyonya Durante."
Archilles Lucca menatap Alfredo Alvarez.
"Perdana Menteri dan puteranya ada di dalam," tambah Alfredo Alvarez.
"Pergilah, Nona! Aku akan menunggu di sini."
"Tidak, mari pergi bersama! Memangnya ada urusan penting apa yang hanya libatkan aku dan tak boleh kaitkan dengan Archilles?" tanya Arumi Chavez kedengaran masuk akal.
Tangan Archilles Lucca ditarik dan Alfredo meskipun tak ingin sakiti Archilles tak bisa menghalau.
"Kami akan segera mampir, Tuan dan Nyonya Chavez."
Suara perdana menteri terdengar bicara penuh kehangatan. Pria itu memang mudah dicintai orang. Tetapi, Salsa Diomanta akan beruntung punya besan macam Tuan Maurizio Lucca. Tidak sefamous Perdana Menteri, ayahnya hanya sosok mulia yang mencintai orang-orang terdekatnya dengan lemah lembut.
Langkah mereka terhenti di ambang pintu.
"Apakah ada sesuatu yang penting?" tanya Tuan James Chavez.
"Ya. Ini bukan momen yang tepat. Kami sekeluarga tertarik pada Puteri Anda terlebih, Puteraku, Aleix."
"Ayahku benar, Tuan Chavez," sambung Aleix sopan. "Aku menyukai seni dan musik persis Nona Arumi. Dan sungguh pribadinya luar biasa menyenangkan padahal ini pertemuan pertama kami." Suara Aleix Jacquemus bicara tenang tetapi penuh keseriusan ditiap kata.
"Apakah tidak masalah? Keluarga kami terkenal sebagai gangster?" tanya Nyonya Salsa tiba-tiba. "Reputasi Anda mungkin akan tercoreng. Puteriku mungkin akan menerima banyak penolakan dan penghinaan?"
Nyonya Salsa mulai mendayung.
"Aku yakin semuanya telah usai. Suami Anda tidak terlibat mafia, kini menantu Anda, Elgio Durante adalah peraih penghargaan International bahkan kalahkan pria hebat lainnya dari dunia ini termasuk Aleix. Terlebih, aku fokus pada Nona Arumi, seorang aktris muda berbakat dan luar biasa bertalenta."
"Ibuku berpendapat Nona Arumi Chavez adalah keajaiban dunia. Tak ada satupun drama dibintangi Nona Arumi luput dari perhatian Ibuku. Bahkan terakhir sangat kontroversi, ibuku mengakui bakat Nona Arumi."
"Nilai pelajaran di sekolahnya buruk, Tuan Aleix. Puteriku selalu dapatkan peringkat paling akhir," kata Salsa Diomanta. "Penting untuk mengetahui kekurangannya. Anda bisa berpikir ulang. Terlebih, gadis kami sangat manja, keras kepala dan tak mudah diatur."
"Salsa?" tegur James Chavez keheranan, ada seorang ibu yang menjelekan puterinya sendiri.
"Mari bicara jujur, Tuan Chavez. Orang tua mantan Arumi Chavez terdahulu menolak Puteriku karena turunan gangster, tidak cerdas dan terlalu muda. Aku perlu pastikan bahwa Anda, Tuan Jacquemus, tak masalah dengan itu."
Tuan Chavez tak mau berdebat di depan orang asing terlebih seorang perdana menteri. Mengalah sebelum Salsa lebarkan pembicaraan ke segala arah dan bawa-bawa orang lain.
"Aku menilai Nona Arumi kuasai suatu bidang tertentu. Selama belajar hukum, aku juga pelajari karakter seseorang. Lagipula, bagiku, pelajaran sekolah bukan tolak ukur kecerdasan seseorang. Peringkat di kelas mudah saja di manipulasi. Menguasai musik dan seni termasuk intelegensi." Aleixo Jacquemus menyahut dari sebelah. Sungguh sangat bijaksana.
"Kami berencana mengunjungi Mansion Diomanta besok sore, Tuan dan Nyonya Chavez, aku harap Anda tak keberatan."
"Tuan Benjamin, maafkan aku sebelumnya," kata Tuan James Chavez. "Puteriku sedang berkencan saat ini."
"Mereka berencana menikah bulan depan jika tak ada kendala," tambah Salsa Diomanta. "Namun, aku mengundang keluarga Anda untuk makan malam bersama kami besok. Kami akan berikan ruang pada Tuan Aleix berbincang dengan Arumi."
"Begitukah?"
"Ya," sahut Salsa Diomanta tersenyum. "Terima kasih perhatikan Puteriku secara detil."
"Sayang?" tegur Tuan James Chavez seakan ingin bilang, kita baru saja menerima lamaran Tuan Maurizio Lucca?
"Sayang, Arumi Chavez masih sangat muda. Biarkan dia bertemu Tuan Aleix. Mari kita dengarkan pilihannya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi mendatang, bukan? Arumi masih lima belas tahun dan berbunga-bunga pada pacarnya sehingga kadang tidak realistis. Tuan Aleix Jacquemus tak akan memaksa jika Arumi hanya ingin berteman, bukan? Mereka bisa berbagi tentang musik, lagu atau karya seni lain."
"Nyonya Chavez benar. Kami menerima undangan makan malam dari Anda berdua sebagai awal hubungan yang mendekatkan keluarga dari dua belah pihak." Benjamin Jacquemus berkata lagi. Lagipula, Tuan Chavez banyak yang ingin aku bincangkan denganmu."
"Ya, baiklah," balas James Chavez.
"Kami akan berkunjung besok, Nyonya."
"Tuan Benjamin," tambah Salsa Diomanta. "Aku ingin berkenalan lebih dekat dengan istri Anda dan Putera Anda yang lain."
"Ibuku dan kakakku dalam perjalanan dari Sydney ke Madrid hari ini," jawab Aleix antusias. Saat menyebutkan kakaknya, Aleix terdengar sangat mencintai abangnya itu. "Aku pastikan mereka juga akan berada dalam rombongan kami. Bukan saja Ibuku, Abercio adalah fans Arumi Chavez. Dia menggodaku suatu waktu dan berkata, Aleix, bukankah Arumi Chavez serasi denganmu? Sejak itu aku memikirkan saran Abercio."
"Luar biasa," sahut Salsa manggut-manggut "Aku harap bisa melihat kakak pertama Anda juga, Tuan Aleix. Saat pertama kali Ayah Anda masuk pemerintahan, aku sering melihatnya setia dampingi Tuan Benjamin."
Archilles Lucca tak bisa simpulkan apapun dari perbincangan ini. Menjalin tangan kekasihnya yang sedikit bergetar.
"Aloizio di Amerika, Nyonya dan sangat sibuk. Abercio akan bersamaku."
"Nona, apakah tidak sebaiknya kita pergi?" tanya Archilles.
"Tidak! Mari masuk dan selesaikan ini! Apa itu tadi? Perjodohan?"
"Mari kita tidak menyela dan bergabung bersama Ethan Sanchez sambil menunggu orang tua Anda." Archilles tak tahu apa yang diinginkan Nyonya Salsa. Ia tak bisa merusaknya sekarang.
"Nona ..., mari kita pergi. Nyonya Salsa mungkin ingin bersihkan nama Anda dari julukan jahat," bisik Archilles di puncak kepala. "Jangan bertindak, please."
Mereka tidak jadi masuk. Berbalik turuni tangga menuju ruang tengah. Posisi telah banyak berubah. Ethan Sanchez duduk kaku dengan Amora Shine Blanco yang menggemaskan di pangkuan pria itu. Tak berhenti mendongak pada Ethan Sanchez. Tampak terpukau pada Ethan. Benar kata Elgio Durante, pesona Ethan Sanchez mantrai mata bayi hingga lansia.
Sedang Lucky Luciano di sisi lain bersama istrinya di atas pangkuan.
Arumi berdecak.
"Bukankah dua orang ini sangat berlebihan?" tegur Arumi Chavez duduk di sofa lain.
"Begitulah kalau punya suami yang n4fsu4n!" olok Ethan Sanchez.
"Jaga mulutmu! Ada bayi di pangkuanmu."
"Harusnya yang di atas pangkuanmu Amora, Lucky Luciano. Apakah Reinha Durante lebih menggemaskan dari seorang bayi perempuan berpita?" tanya Ethan Sanchez. "Kalian berdua selalu tidak s3n0n0h tiap waktu."
"Kamu tak pernah jatuh cinta secara serius, aku akan maklumi," balas Lucky gesekkan puncak hidung di lengan istrinya.
"Aku pernah bucin akut pada Arumi Chavez sampai-sampai pergi ke kelasnya dan dengarkan pelajaran anak kelas satu di sisinya. Aku sempat mencari rasa yang kamu dan Elgio Durante miliki, di mana, kamu tiba-tiba ingin dia duduk di pahamu dan cari jalan menggiringnya ke ranjang. Tak aku temukan. Jadi, aku simpulkan. Ini masalah pengendalian diri!"
"Karena Arumi Chavez bukan orangnya."
"Cantik dan cute," puji Ethan Sanchez. "Mantan pacar terindah."
"Zefanya Lucca lebih cute dari adik iparku," kata Elgio Durante bergabung menggandeng istrinya. Mungkin karena hamil, wajah calon ibu muda bersinar cantik dan rupawan.
"Siapa itu Zefanya?" tanya Marya. Tentu saja, Marya adalah terdekat dengan Ethan Sanchez. Dia bertanya heran.
"Adik perempuan Archilles Lucca. Zefanya punya foto 'pernikahan' resmi dengan Ethan Sanchez' dalam dompet yang dibawa kemana-mana." Elgio Durante terkekeh. Walaupun demikian dia berjaga-jaga, Ethan Sanchez suka serangan balik yang mematikan.
"Tak dapat Arumi Chavez, adik ipar Arumi pun jadi," goda Lucky Luciano membentuk kubu bersama Elgio Durante. Berdecak.
"Dia masih 10 tahun." Elgio Durante duduk di sisi Lucky Luciano. Satu tatapan tajam penuh peringatan, Reinha Durante pergi ke sisi lain suaminya.
"Aku belum pernah melihat gadis sehebat Zefanya Lucca, Archilles," kata Ethan Sanchez sebelum Lucky Luciano sembarang berkata-kata soal Zefanya. Ekor mata menangkap Archilles Lucca tidak beres sejak datang. Banyakan melamun sesekali menengok ke atas. Menebak, Aleix Jacquemus mungkin letak kecemasan. "Apakah kamu bisa jelaskan partikel penyusun hantu? Dia bertanya padaku! Dan aku tak punya jawaban."
"Kita mengabaikan sains soal hantu." Kelompok ini menyatu karena punya satu kegemaran. "Karena tak yakin akan repot-repot belajar tentang hantu. Aku lebih takut psikopat daripada hantu."
"Anak sepuluh tahun?" tanya Reinha Durante penasaran. Bibir wanita itu berkilau dan agak bengkak.
"Ya. Dia berpendapat Energi miliki satuan Joule, mengapa kartun Shinbi's House yang bergenre horor gunakan energi negatif gambarkan keberadaan makhluk."
"Definisi kaum awan mungkin saja energi berkaitan dengan kekuatan yang bisa pengaruhi situasi, perasaan, memberimu rasa takut, gelisah, tidak nyaman." Elgio Durante bukan cuma pebisnis, dia mencintai sains sampai-sampai punya mini laboratorium.
"Ya, Zefanya prediksikan definisi lain. Sayangnya, aku terlalu shock hingga kepalaku menggelap."
"Zefanya sangat dewasa. Kami bertukar pikiran seperti teman." Archilles akhirnya ikut pada pembahasan. Jelas saja Zefanya menarik perhatian Ethan Sanchez, adiknya bukan sembarang bocah. Percakapan mereka selalu bermutu dan Zefanya selalu mengimbangi.
"Ya, itu yang aku rasakan. Aku memikirkannya di perjalanan pulang ku, apakah Zefanya lewati masa kanak-kanak dengan baik dan benar?"
"Kami tanpa orang tua, Ethan." Archilles sedikit teralih.
"Satu hal lain yang benar-benar buat aku yakin adikmu luar biasa cerdas. Zefanya mengisi namanya di ponselku. Menggeser semua kontak. Nama Arumi adalah kontak teratas di ponselku lalu Dandia. Kamu tahu, apa yang dilakukan adikmu? Namanya menjadi pertama di kontakku. Aku benar-benar tak punya kata untuknya."
"Well, mungkin Zefanya Lucca jodohmu!" kata Lucky Luciano.
"Aku bagian dari kelompok ini tapi menolak menjadi bagian perusak anak macam kalian. Kurasa, aku dan Archilles Lucca. Dibanding dua sahabatku, Arumi Chavez masih terhitung anak-anak." Ethan Sanchez sedang peringatkan Archilles Lucca. "Aku percaya padamu."
"Ethan Sanchez bisakah aku menggendong Amora?" tanya Marya ulurkan tangan mengganti topik.
Amora Shine hanya mendongak pada Ethan Sanchez pegangi jas pria itu kuat-kuat dengan tangan kecilnya.
"Biarkan saja, Marya. Mungkin saja, Ethan Sanchez sedang menggendong gadis masa depannya."
"Antrian-mu bertambah panjang saja, Ethan Sanchez. Zefanya Lucca, sekarang Amora Shine."
"Ya, di tambah Baby Cute. Puterimu adalah prioritas," balas Ethan Sanchez.
Elgio Durante berdecak.
"Ya, Tuhan Ethan. Amora terus saja menatapmu dengan pandangan seakan Ethan Sanchez, Ibunya. Sangat manis."
"Tatapan Zefanya Lucca, Amora Shine adalah tatapan Arumi Chavez saat jatuh cinta padaku. Terus katakan, 'aku mencintaimu Ethan Sanchez' tetapi bergelayut di lengan pengawalnya."
"Anda kurang beruntung."
Mereka akan mengulang masa lalu dengan cara yang lebih riang.
"Nona ..., Anda dipanggil."
Arumi Chavez berdiri. Archilles pegangi tangan Arumi erat.
"Jangan lakukan apapun, Nona!"
"Archilles, aku tak akan diam saja. Mari beritahu bahwa kita akan menikah."
"Nona ...." Archilles Lucca memaksa Arumi Chavez melihat padanya. "Ikuti keinginan ibu Anda dan biarkan aku temukan maksud dari semua ini. Aku akan jelaskan pada Anda nanti."
Semua orang melihat pada Archilles. Utarakan pertanyaan yang sama, ada apa? Tetapi, Archilles Lucca hanya diam saja.
Dan mereka dapatkan jawaban ketika rombongan turuni tangga sambil bergurau. Aleix di belakang bersama Arumi Chavez terlibat sedikit percakapan.
Elgio Durante diikuti yang lain saling ucapkan selamat tinggal lalu antarkan Tuan Benjamin keluar mansion.
"Ibumu tidak tahan pada kejadian kucing memangsa tikus, kami akan menginap di kondominium malam ini."
Tuan James Chavez berkata pada puterinya setelah kepergian Perdana Menteri.
"Baiklah, Dad. Mari bertemu besok pagi. Aku ingin Ayah dan Ibuku biarkan aku bersama seseorang yang aku cintai."
"Arumi benar," sambung Elgio Durante. "Bukan jaman jodohkan anak. Terlebih Arumi bersama Archilles." Tatapan Elgio Durante berisi teguran pada Nyonya Salsa. Namun, raut yang tak disukai Archilles dari Salsa Diomanta adalah yang tak terlacak.
"Aruhi ..., kami pergi," kata Tuan James pada Marya Corazon.
"Selamat malam, semoga malam Anda berdua menyenangkan."
Tuan dan Nyonya Chavez pergi.
"Kami juga harus pergi." Arumi Chavez mencium pipi kakak perempuannya lalu meraih tangan Archilles.
Mobil mereka keluar dari Durante Land lima menit berselang. Tangan saling terkait walaupun duduk renggang.
Reynaldo Santos di balik kemudi. Mereka sampai di Durante Land, pergi ke kandang kuda dan mengajak Aorta. Aroma wewangian dari rambut kekasihnya terendus hidung.saat tertiup angin.
"Nona, Tuan Aleix sangat berprestasi. Anda tidak tertarik padanya?"
"Apa kamu akan biarkan aku dengannya?"
"Tidak akan!"
"Jadi, berhenti berkata tidak-tidak."
Selanjutnya sisakan keheningan sisakan suara kaki Aorta mengetuk batu.
"Oh, itu rumah pohon kita?" tanya Arumi Chavez bersemangat. "Sangat terang dan bercahaya."
Terlebih bunga membentuk taman. Dan warna degradasi rumah pohon semakin membuatnya sangat indah. Lampu-lampu berkedip-kedip.
Arumi Chavez meloncat turun dan di taman yang indah, dia adalah Puteri dari negeri dongeng yang melintasi ilusi datang ke dunia manusia.
"Anda suka?"
"Mari pergi ke atas."
Gadis itu panjati tangga. Agak gemetaran. Archilles membantu gadisnya naik.
"Archilles, kau luar biasa."
"Terima kasih. Ini rumah pertamaku untuk Anda, Nona Arumi."
Di dalamnya tidak kalah mencengangkan. Mereka punya sofa panjang dihiasi bunga warna warni. Atapnya diganti kaca hingga pandangan bisa lebih leluasa pada langit.
"Archilles aku punya ide," kata Arumi.
"Hu-um?"
"Bagaimana kalau aku pindah denganmu ke tempatmu mengajar? Aku bisa belajar, jadi murid suamiku sendiri dan mengawasimu dari jarak dekat."
Archilles Lucca tertawa kecil. Kalimat terakhir menggelitiknya.
"Apa itu lucu?"
"Anda harus sesuaikan bahasa, terlebih di sana tak boleh ada skandal antar murid dan guru."
"Tetapi, kamu tak keberatan dipeluk Eva?"
Archilles Lucca terdiam.
"Aku takut ..., ibuku berniat pisahkan kita."
"Mau berdansa lagi, Nona?" tanya Archilles sebab ia tak berani pikirkan dugaan Nona Arumi.
Mereka berputar di dalam rumah pohon.
"Aku akan selesaikan semua urusanku dan menjemput Anda."
"Aku rasa kita perlu menikah besok."
"Nona ...."
"Kita akan menikah dengan dukungan semua orang."
"Apa tak dengar kata Ibuku tadi? Ia akan pertemukan aku dan Aleix. Ya Tuhan, mengapa mereka inginkan aku? Bukankah ada banyak gadis di luar sana? Ibuku akan sukseskan acara besok dan mulai rencanakan hal lain. Jangan katakan, kamu tak kenal ibuku."
Archilles sandarkan keningnya pada kening Arumi.
"Kita akan bersama. Aku berjanji padamu, Nona."
Ketika mata mereka bertemu. Arumi Chavez melihat bahwa Archilles Lucca lebih gelisah darinya.
Sesuatu berperang dalam diri Archilles. Jadi, ini yang dirasakan Ebenn Amarante. Ia mencela sikap seniornya tetapi kini ia seakan ditakdirkan rasakan semua yang dialami Ebenn Amarante. Pelukannya tanpa sadar dipererat.
"Archilles ...." Arumi menyentuh pria itu. Mereka berciuman. Menjadi terlalu berlebihan. Dasi dan jas terlepas begitu saja. Kemeja terbuka. Mencela cara Lucky Luciano tetapi baru saja meniru.
Tak bisa hindari debaran jantung dan sesuatu yang terpicu dari sentuhan mereka. Termasuk tak mampu redakan akibat setelahnya.
Ia mendengar Arumi Chavez seakan mengatakan, kamu bisa miliki aku malam ini Archilles.
Dia masih anak-anak, Archilles.
Kesadaran pulih begitu cepat. Archilles mengubah posisi Arumi Chavez agar berbaring di sisinya dan memeluk gadisnya erat. Selimuti tubuh Arumi dengan jasnya.
"Kita bisa mulai dengan foto prewedding, Nona." Tenangkan badai dalam diri tak semudah jentikan jari terlebih dia pria normal meski tidak termasuk dalam 60% yang suka berpikiran tentang bercinta. Karena otaknya sibuk pada hal lain.
Arumi Chavez terbenam di dada, menghirup aroma maskulin. Mengecup dada pria itu pelan.
"Aku mencintaimu, Archilles Lucca."
***