
"Aku penasaran nyawa siapa yang akan kamu cabut di dalam rumah sakit ini?"
Itzik Damian lengkungkan bibir tanpa alihkan matanya dari layar ponsel.
"Tak bisa menebak?"
"Tebakanku mungkin meleset."
"Sangat mudah kini pekerjaanku karena mangsaku terikat di ranjangnya. Apakah kamu sangat nakal, huh?"
Itzik Damian berhenti main game, melangkah dekati Archilles Lucca yang segera waspada. Pria seputih cat tembok rumah sakit itu mencabut senjata putih di tangannya.
Ponsel Itzik Damian bergetar kirimkan peringatan.
"Sepertinya seseorang berhasil kalahkanmu!" ucap Archilles Lucca bekerja keras cari jalan keluar.
Itzik Damian kembalikan senjatanya ke balik mantel, amati ponsel.
"Apakah Angela?!" tanya Archilles Lucca lagi.
"Owh ..., jangan bilang itu nama samaranmu!"
"Tidak juga, aku tak pernah menang melawan Angela. Mungkin Angela akan dikalahkan Tom."
"Oh ..., aku akan urus nanti. Sebelum itu, aku perlu menembakmu." Kembali keluarkan pistol. Arahkan pada Archilles Lucca. "Apa ucapan terakhirmu?"
Hanya sedikit cahaya ketika dua pria saling bertatapan. Langkah kaki terdengar di luar. Beberapa petugas patroli keliling sambil membahas sesuatu. Terdengar seperti kasus aliran sesat yang berkembang diam-diam mencari pengikut. Itzik Damian menyimpan senjatanya lagi, melangkah mundur ke sudut ruangan tempat semula ia berdiri.
Hening. Langkah kaki menjauh. Itzik Damian mengambil waktu kembali bermain game. Kemudian, ia baru akan ayunkan kaki saat pintu ruangan diketuk lalu terbuka.
"Archilles Lucca?!"
Arumi Chavez berdiri di ambang pintu, nyaris berbisik, kagetkan kedua orang di dalam. Arumi hanya fokus pada Archilles. Tak sadari apapun. Archilles Lucca dapati Itzik Damian melekat ke dinding rumah sakit.
"Ini masih terlalu pagi, tetapi kupikir, kita akan sarapan bersama sebelum aku pergi ke sekolah. Aku ingin kamu menilai masakanku. Pendapatmu akan aku pertimbangkan sebelum berikan pada Ethan Sanchez," ujar Arumi Chavez riang tanpa beban derita.
"Nona ...."
"Lihat! Aku belum berganti pakaian seragam," tambah Arumi lagi. "Kau tak buka borgolmu kan?" Arumi membungkuk mengecek. Pegangi kening Archilles Lucca, bandingkan dengan dirinya sendiri. Archilles Lucca baik-baik saja.
"Kuncinya ada pada Anda, Nona." Mata Archilles terus awasi Itzik yang menonton mereka dari kejauhan.
"Oh. Sutradara sering membuat adegan borgol gampang dibuka hanya gunakan jepit rambut. Kupikir mereka lakukan riset terlebih dahulu. Kupikir itu bukan kebohongan."
"Bisa tolong bukakan ini?" Mata Archilles Lucca bergerak berusaha beritahu Arumi Chavez tetapi gadisnya hanya terlalu polos dan lugu.
Ya Tuhan, lindungi Nona Arumi.
"Ya ya ya, aku cari kuncinya dulu." Arumi Chavez letakan barang-barang di atas almari kecil samping ranjang.
"Bagaimana bisa seorang suster begitu mes*** padamu? Jangan kuatir, aku suruh Leona laporkan dia karena berani melecehkan-mu." Arumi Chavez membongkar tasnya. Barang - barang tanpa sengaja terjatuh. Arumi Chavez mengumpat.
"Lihatlah aku! Di mana ya aku taruh kuncinya?"
"Nona, berpindah ke sebelahku!"
Tak dengarkan perintah Archilles. Arumi segera memungut barang-barang yang tercecer di lantai. Temukan kunci kecil. Saat itulah tatapan matanya membentur sesuatu di pojok ruangan. Arumi Chavez kerjabkan mata berulang kali.
"Ya Tuhan, Archilles Lucca. Apa kau lihat itu?Yang di sana?" tunjuk Arumi terperangah kaget. "Apa itu hantu?"
Kerjab-kerjabkan mata pastikan indera penglihatan.
"Ohh ...ya Tuhan ... Ya Tuhan!" Mulut Arumi terbuka lebar. Fasad yang tertangkap matanya sungguh tidak nyata, putih bahkan seakan pantulkan cahaya. Apakah ia baru saja melihat salah satu malaikat Tuhan?
"Kau yang sekarat Archilles, mengapa aku ikut-ikutan bisa melihat malaikat pencabut nyawa juga? Apa kita berdua akan mati?"
Arumi Chavez berdiri terpaku di tengah ruangan.
Itzik Damian tersenyum datangi Arumi Chavez dalam langkah-langkah lambat. Tatapan matanya berisi jutaan emosi yang tak mampu dibaca oleh Arumi. Namun, Archilles benci tatapan itu.
"Nona Arumi?! Kemarilah!" panggil Archilles pelan.
Sia-sia, sebab Nona Arumi shock berat.
"Oh, jangan-jangan salah satu malaikat penjaga pintu gereja? Uh, u ... u ... utusan Tuhan? Mencari aku karena aku mencuri benda suci?" tanya Arumi Chavez lebih ke dirinya sendiri. "Tetapi, aku tak lihat dia saat aku datang ke gereja waktu itu?"
Ketika Itzik akan sampai satu depa darinya, Arumi Chavez lekas membungkuk lalu berlutut, posisi mohon ampun.
"Nona?!" tegur Archilles Lucca coba lepaskan tangannya. "Nona?! Bangun dan kemarilah!" suruh Archilles lagi.
"Ampuni, Tuhan! Ampuni hamba-Mu yang penuh noda dosa tak termaafkan ini. Aku lakukan karena karena berpikir ..., dia ...," berbalik ke Archilles Lucca, "Aku pikir karena Archilles sekarat. Maafkan aku." Membungkuk lebih dalam. "Aku tak akan pergi ke gereja lagi dan tampakkan wajahku depan-Mu. maafkan aku!"
"Nona?!" panggil Archilles lebih keras.
Itzik mendekat, Arumi semakin takut. Membungkuk sampai ciumi lantai.
"Tuhan Yang Maha Rahim, aku menyesal atas dosa-dosaku sebab patut aku Engkau hukum sebab aku telah menghina Engkau yang Maha Murah dan Maha Baik bagiku. Aku benci akan segala dosa dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi, ya Tuhan, kasihanilah aku orang berdosa ini!" Arumi Chavez komat-kamit daraskan pengakuan dosa.
"Jangan sentuh dia, Itzik!" Archilles Lucca beri peringatan, berdiri. Sekuat tenaga menarik lengannya. Ranjang rumah sakit bergeser. Itu menyakiti tubuhnya. Namun, kemarahan mengisi dirinya, merambat ke seluruh tubuh.
Itzik Damian berlutut di hadapan Arumi. Tangan mengangkat wajah Arumi, amati Arumi seksama. Kepalanya miring ke kiri lalu ke kanan, terpesona.
"Itzik!!!" tegur Archilles berbisik.
"Oh, santai saja Lucca. Aku hanya akan berkenalan."
"Menjauh darinya!"
"Arumi Chavez Diomanta?!" Abaikan Archilles Lucca, Itzik Damian berdecak. "Sungguh sangat cantik. Wajah-wajah peri dari negeri dongeng. Aku penggemar beratmu, sangat menyukaimu." Itzik Damian mengangkat ponselnya tunjukan screen lalu wallpaper. Foto Arumi Chavez.
"Jadi, kau bukan utusan Tuhan? Bukan malaikat penjaga pintu?" tanya Arumi merasa bodoh sendiri, spontan mengangkat tangannya menyentuh wajah putih Itzik Damian, sedang yang disentuh pejamkan mata.
Arumi Chavez kemudian menggeram. "Kau menipuku?" Arumi separuh memekik. Itzik menutup kupingnya oleh serangan falseto pada indera pendengarannya.
"Aku tak menipumu! Kau cantik ..., tapi benar rumor yang beredar tentang 'bodoh'!"
"Oh, terkutuklah kau mayat hidup!"
Tak diduga-duga Arumi Chavez menanduk wajah Itzik sekuat tenaga hingga Itzik Damian terdorong ke belakang.
Awh!!!
"NONA!!!" seru Archilles Lucca.
Arumi menjerit kesakitan sendiri, lekas bangun karena pusing, berputar-putar. Jatuh dalam pelukan Archilles.
"Nona, lepaskan aku sekarang!" pinta Archilles.
Itzik Damian segera bangkit keluarkan senjata, baru akan menodong. Archilles Lucca menyambut, ayunkan kaki panjang. Pistol terlempar ke dinding terhempas ke lantai. Archilles sangat cepat menendang Itzik, menghalau pria putih itu pergi.
Arumi Chavez sadari keadaan berubah sangat serius. Tangan Arumi berusaha lepaskan borgol. Menjadi sulit kini karena ruangan yang agak gelap.
"Bukankah kau bekas penjahat Archilles? Apa kau tak belajar cara lepaskan borgol manual?" Arumi panik, tangannya gemetaran.
"Tenangkan diri Anda, Nona!" tegur Archilles Lucca melihat kepanikan Arumi.
Itzik kembali lebih cepat, Archilles lingkari lengan pada pinggang Arumi separuh lemparkan ke sisi lain ranjang.
Argghhh!!!
Archilles mengerang sakit. Beban tubuh Arumi membuat punggungnya seakan ditikam.
"Archilles?!"
Arumi memencet tombol bantuan di kepala ranjang. Bunyinya berdering nyaring.
Itzik Damian menoleh pada lantai di mana senjatanya tergeletak hendak bergerak ke sana. Waktunya tak cukup. Sementara kegaduhan mereka sudah pasti akan timbulkan perhatian.
"Aku akan kembali," ujar Itzik Damian meniru pistol gunakan tangan kanannya. "Dor!" tambahnya sebelum menghilang dibalik pintu.
"Nona?! Sudah kubilang lepaskan borgolku!"
Arumi Chavez terduduk lemas di atas ranjang, pegangi kepalanya yang berdenyut sakit.
"Apakah kepala Anda pusing?" Archilles berubah cemas.
"Ya. Apakah kepalaku akan pecah kini?"
"Berbaringlah sebentar!"
"Archilles maafkan aku."
"Baiklah, kita telah lewati ini. Please kuncinya, Nona."
"Archilles kuncinya entah di mana."
"Lalu di tangan Anda ..., apa ..., Nona?"
"Kunci buku diary-ku!"
"Apaaaa?!" Archilles nyaris histeris.
"Kuncinya tertukar."
"Ada gadis yang menulis buku Diary di masa ini, Nona Arumi?"
"Aku tak punya ponsel juga tak gunakan komputer karena mudah diretas. Aku menulis di buku Diary dan sembunyikan di tempat rahasia."
Yang benar saja?!
"Nona ..., Anda bisa buat kita celaka."
"Bagaimana ini?"
Archilles Lucca sapukan pandangan berkeliling, temukan klip kertas pada barang-barang Arumi yang tercecer, memungut benda berwarna pink, luruskan. Kemudian masukan ke dalam lubang kunci, bengkokan sampai sudut tertentu. Keluarkan lag. Kemudian masukan, memutar, goyangkan.
Leona, beberapa perawat datang bersamaan. Carlos Adelberth di belakang mereka juga bersama beberapa tentara. Keadaan tidak begitu kacau tetapi semua orang tahu bahwa baru saja terjadi penyerangan.
"Nona ..., Anda baik-baik saja?" Leona datangi Arumi.
"Archilles, apa kamu baik-baik saja?" Carlos Adelberth menarik napas kuat. Pria itu segera kesal namun tetap tenang ketika perintahkan rapat darurat.
Arumi Chavez tertunduk lemas. Mata mulai berkunang-kunang. Borgol berhasil terbuka. Archilles Lucca putari ranjang. Pegangi Arumi Chavez.
Archilles Lucca mengangkat tangannya pada dokter dan perawat bahwa ia baik-baik saja.
"Kamu bisa, mengapa tak lakukan sejak kemarin-kemarin?"
"Aku mencoba setia pada Anda."
"Oh Archilles, kepalaku sangat sakit. Aku melihat lima orang Archilles Lucca."
Arumi Chavez terjatuh dalam pelukan Archilles.
"Bisakah kita sarapan setelah aku bangun, Archilles?"
***