My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 128. Besarte Lentamente



"Harusnya aku menikahi kamu. Mengapa jadi ayahku menikahi ibumu?" keluh Young Vincenti dalam setelan jas lengkap dan tampilan rambut luar biasa bergaya.


Pria itu kenakan corsage senada warna dress Arumi Chavez yang duduk di sebelahnya dalam dress biru lembut, kembang cantik. Mata gadis tak lepas dari Ibunya. Bernapas berat berulang kali dan hembuskan penuh kesedihan. Atau itu haru biru.


Tiga hari setelah Arumi Chavez sembuh dan keluar dari rumah sakit, Tuan Laurent Vincenti secara resmi melamar Salsa padanya dan kakak perempuannya, Aruhi.


Mereka makan malam bersama di Mansion Diomanta bersama Elgio Durante, Adelle Diomanta, Enrique Diomanta, Marion Davis, Sunny, Aruhi, Young Vincenti dan Clementina Vincenti, adik perempuan Tuan Laurent.


Semua orang tak akan menduga ini. Terlebih Enrique Diomanta yang sama sekali tak menyangka kakak perempuannya dan Laurent Vincenti mendadak minta dukungan menikah. Tak ada yang keberatan karena hubungan baik di antara mereka dan kerja sama. Dibanding Hedgar Sangdeto, kelompok mereka lebih condong pada Laurent Vincenti.


Dan pada akhirnya Laurent Vincenti resmi memperistri Salsa di hari Sabtu, dua hari setelah lamaran di mansion Diomanta. Sebelumnya, Laurent Vincenti arahkan Salsa berdamai dengan masa lalu dan meninggalkan kepahitan di belakang. Mereka pergi ke pemakaman, menaruh bunga di makam Ebenn Amarente dan mendoakan ketenangan pria yang Laurent Vincenti yakini ada di kedamaian.


Menuntun Salsa kembali pulang dan mereka akan memulai lembaran baru.


Kini, kedua pengantin sekalipun agak nyentrik untuk pernikahan mereka sendiri, tak bisa sembunyikan bahagia.


Tuan Laurent Vincenti memilih jas bermotif tweed, kemeja biru muda lembut, dasi dark maroon dan rompi. Tanpa accecories apapun, pria itu benar-benar pria menawan.Terutama karena aura pemikiran tenang, terkendali dan pengertian terpancar bersama sayang yang tidak dimiliki dari James Chavez. Tuan Laurent Vincenti seakan dianugerahi sifat penyayang secara alami.


Sedang istrinya, memakai setelan blazer putih dengan mutiara di sepanjang kerah bagian depan dan celana putih. Juga sepatu flat berwarna senada berbalut Lace. Rambutnya di biarkan tergerai dan di curly tipis. Sangat-sangat cantik. Walaupun mengobrol dengan orang lain, Tuan Laurent Vincenti selalu kembali mengecek kondisi istrinya.


Tuan Laurent perlakukan Salsa macam Salsa keramik dari jaman sebuah dinasti purbakala. Terlalu manis.


"Tak apalah. Tetap saja aku beruntung akan tinggal serumah denganmu. Aku bisa mencuci rambutmu sebagai kakak yang baik. Beritahu aku kalau ada yang mengganggumu, Arumi Chavez." Young Vincenti mengoceh dari sebelah Arumi.


"Tidak lucu." Arumi merasa kaki agak nyeri.


"Ibumu akan tinggal bersama ayahku di perkebunan Vincenti sementara waktu demi kesehatan adikku." Young bersemangat. "Dan aku akan tinggal di sini denganmu sebagai gantinya. Bayangkan apa yang akan kita lakukan? Pasti seru, Arumi Chavez!"


"Menyingkir!" Itzik Damian masuk ke tengah dua orang. "Memangnya apa yang akan kamu lakukan dengan Nona Arumi, Young Vincenti? Merayunya? Lewati aku dulu!"


Young Vincenti merengut jengkel. Terlebih Itzik Damian memakai jas yang sama dengannya juga punya corsage biru muda seakan pria ini anggota keluarga mereka. Lebih tepatnya seakan Itzik juga putera Laurent Vincenti.


"Oh ya Tuhan, iblis keparat ini mengganggu hubungan kakak adik yang baru saja akan terjalin. Dengar, Pangeran Salju! Arumi Chavez adikku. Dan kau hanya pelayannya saja. Jangan bertingkah berlebihan!"


"Kamu akan tinggal di rumahmu sendiri bersama ayahmu dan Ibumu, Young Vincenti. Gadis ini akan tinggal di Mansion ini dengan para pelayannya. Sekarang kamu paham?"


Young Vincenti mengeluh. "Dulu, ada Lucca sekarang ada benda hidup ini. Astaga. Arumi Chavez, ayo berdansa denganku."


"Denganku dulu!" Kedua pria mulai saling menyingkirkan seakan di babak penyisihan pertandingan adu otot.


"Aku akan berdansa dengan salah satu yang berhasil tahu di mana pacarku berada."


Arumi Chavez bangun dari tempat duduknya. Keramaian menguras tenaga. Padahal yang ada dalam sini hanya keluarganya saja.


Berbalik dan melangkah hendak pergi ke dalam rumah. Taman belakang Mansion jauh lebih terang. Tenda-tenda transparan berdiri kokoh karena cuaca tak bersahabat. Tetapi di dalamnya sangat-sangat indah, di mana, lampu-lampu mengerubuti langit dan dinding tenda. Sungguh - sungguh beritakan efek romantis.


"Mau kemana, Nona?" tanya Lucky Luciano menghadang jalan. Tersenyum manis tanpa dosa.


"Bukan urusanmu, menyingkir!" balas Arumi Chavez galak.


Mengingat apa yang dilakukan kakak angkatnya ini dan kakak ipar padanya, Arumi Chavez tak mau bicara dengan Lucky Luciano dan Elgio Durante. Bahkan pada Uncle H juga Anna Marylin yang segera keheranan karena dia memasang wajah datar dan beku. Sepertinya Lucky Luciano adalah utusan dari kelompoknya ingin ajukan perdamaian.


"Adikku tersayang ..., jika aku punya salah padamu ..., beritahu aku! Mari kita berbaikan."


Arumi Chavez menatap Lucky Luciano.


"Adikmu?" Tertawa sinis. "Lucu. Kamu akan tahu rasanya saat kamu kehilangan orang yang kamu cintai. Kamu mencarinya kesana-kemari seperti orang gila tetapi tak ada satupun yang mau menolongmu meski mereka tahu kenyataannya."


"Arumi ..., kamu harus tahu bahwa ...."


"Minggir!" potong Arumi Chavez galak.


Arumi Chavez akan mendorong Lucky untuk berikan ia jalan.


"Arumi ..., ada apa?!" Tuan Laurent bertanya dari belakang.


Arumi Chavez berbalik. Pria itu tersenyum lebih cerah dari semua lampu yang ada di atas kepalanya.


"Apa acaranya membosankan? Mau berdansa denganku?" tanya pria itu lagi penuh harap.


Arumi Chavez berdiam diri untuk beberapa waktu. Sebelum mengangguk. Mereka berdansa. Ia akan miliki ayah sambung berwajah preman tetapi berhati lembut macam Tuan Laurent.


"Ibuku ..., em ..., Salsa keras kepala dan suka menang sendiri. Salsa tidak pandai memasak dan tidak bisa apa-apa. Untungnya Salsa punya banyak uang. Mereka menyelamatkannya."


"Aku tahu, Arumi. Kami saling mengenal satu sama lain. Terima kasih untuk kepercayaanmu dan kakakmu. Aku akan menjaga Ibumu."


Arumi Chavez sebenarnya kehilangan kepercayaan pada orang dewasa. Mereka pandai berkata-kata. Tuan Laurent semoga berbeda.


"Ibuku mencari pria seperti Ayah Ben. Tak ditemukan pada Tuan James Chavez. Aku beritahu Anda ini." Terdengar perih dan sedih.


"Kamu mungkin lupa, Nak. Kamu telah katakan itu sewaktu kita makan malam terakhir kali."


Arumi Chavez mengerut. "Benarkah?" Bagaimana ia bisa lupa?


"Aku punya banyak pikiran."


"Aku mengerti. Kita akan baik-baik saja, Nona. Serahkan padaku," kata Tuan Laurent Vincenti yakinkan Arumi Chavez. "Kita sepertinya menerima kejutan," angguk Tuan Laurent ke arah tamu masuk. Tidak banyak yang hadir hanya keluarga terinti.


Cukup mencengangkan. Arumi Chavez menoleh, temukan Tuan James Chavez dan Alana di sana. Tubuhnya menegang.


"Hari ini adalah hari bahagiamu, Arumi Chavez. Kesedihanmu akan buat ayahmu berpikiran buruk tentang pernikahan ini."


"Maafkan aku, Tuan Vincenti. Aku terlalu haru biru karena Anda akan bersama Ibuku. Aku berdoa agar Anda berdua bahagia, Tuan."


"Mari kita temui tamu kita, Nak. Ajak saudaramu. Apakah dia harus bertampang menyebalkan begitu?"


Arumi tersenyum sedikit. "Dia ingin berdansa denganku. Aku menolaknya."


"Young akan selalu menjagamu dan menjadi saudara yang baik untukmu. Aku telah memberitahunya untuk hargai beberapa batasan terlebih tentang kehormatan Puteriku."


Arumi Chavez menyukai pria ini.


"Young memang suka iseng padaku, Tuan Vincenti."


"Nah, mari kita pergi. Jangan biarkan ibumu sendirian."


Laurent Vincenti memberi aba-aba pada Young untuk mendekat.


"Tuan James Chavez ... sungguh kehormatan Anda hadir di sini." Tuan Vincenti menarik Salsa dan mendekap pinggang Salsa hati-hati. Nah, Arumi melihat wajah cemburu James Chavez. "Ini Young Vincenti, Puteraku. Sejak saat ini, Young akan bantu aku menjaga adik-adiknya dengan baik."


Young Vincenti tersenyum, tampilkan yang terbaik darinya.


"Selamat datang, Tuan Chavez ...." Young bersalaman. Bergeser pada wajah gadis di sebelah Tuan Chavez yang datar.


"Semoga pernikahanmu dan Salsa selalu diberkati, Tuan Vincenti. Ini ..., Puteriku ..., Alana."


Yang diperkenalkan ulurkan tangan sopan. Arumi Chavez tak percaya Alana menurut kecuali gadis ini punya mau. Kita lihat nanti, apa maunya.


"Alana Chavez ...."


"Alana butuh untuk minta maaf pada Arumi atas apa yang dilakukan pada Arumi sebabkan adiknya terluka dan dirawat di rumah sakit?"


"Tuan Chavez ..., ini bukan momen yang tepat. Aku pikir kita akan sediakan waktu lain." Salsa Diomanta mudah kesal pada kelakuan Tuan Chavez.


"Alana harus kembali ke luar negeri dan akan di sana sampai study-nya selesai."


"Aku heran ..., mengapa aku harus minta maaf padahal aku adalah korban di sini. Ya Tuhan, dunia ini memang terbalik. Tetapi, tak masalah. Aku minta maaf karena memukulimu, Arumi. Aku yakin jika jadi aku, kamu akan lakukan hal yang sama." Memandang Salsa penuh dendam. "Aku bisa habiskan hidupku untuk mengutuki Arumi karena kulihat ..., pada Ibunya tak berhasil."


"Alana?" tegur James Chavez menggeleng tidak setuju pada sikap dan kata-kata puterinya.


"Alana ..., lakukan apa saja yang kamu inginkan padaku karena Arumi tak pernah minta dilahirkan dari kejadian itu. Aku sepenuhnya menanggung dosa karena bersama ayahmu."


"Itu terlalu halus," cegat Alana muak. "Kamu menggodanya. Kamu merebut, merampasnya dari kami."


Salsa Diomanta menghela napas kuat.


"Baiklah, aku menggodanya dan Tuan Chavez pun tergoda padaku. Kami lakukan dosa pada Ibumu dan dirimu, kamu bisa menyerangku sesukamu bila buatmu merasa baikan. Hanya saja perlu aku beritahu kamu, bahwa, cukup sulit menikah tapi tidak bersamanya selama belasan tahun. Lalu, dia kembali tetapi ingin perceraian karena terpikat pada wanita lain. Aku juga jalani hukumanku sendiri. Bahkan Arumi ikut menanggungnya untukku. Dan ini yang paling penting. Tak ada yang bisa mengutuki Puteriku tanpa lewati aku! Kamu mungkin perlu berdamai dengan dirimu sendiri. Tinggalkan masa lalu kelam di belakangmu. Percayalah kamu akan lebih lega setelahnya. Dendam-mu pada kami tak bisa perbaiki masa lalu atau hidupkan Ibumu kembali. Kamu hanya akan semakin menderita. Kita bisa perbaiki hubungan buruk ini. Kamu bisa menuntut apa saja dariku bahkan jika inginkan aku mengurusmu sebagai Puteriku."


"Ayahku melarang keras aku merusak pernikahanmu. Tetapi, aku berharap segala hal berakhir buruk untukmu."


"Alana?!" tegur James Chavez sekali lagi.


"Maafkan aku, Alana." Salsa menghela napas berat. Lihat apa yang dilakukan mantan suaminya! Merusak hari seakan tak ingin ia bernapas ringan. Masih untung ada seseorang seperti Laurent Vincenti, memulai cinta tanpa syarat di antara mereka. Menyebalkan sungguh.


Laurent Vincenti pegangi tangan Salsa yang mudah gemetaran. Memeluk istrinya dan mengecup sisi kepalanya pelan.


"Tuan Chavez ..., oh tolonglah ..., lihat bagaimana Puterimu akan mengutuki bayimu sendiri. Sungguh sangat menggelikan bagiku. Alih-alih mencari wanita baru dan lahirkan bayi lagi, harusnya Anda selesaikan hubungan tidak sehat kakak-beradik sedarah ini." Laurent Vincenti sekali ini benar-benar tegas. "Anda yang terlibat akan segera duduk dan selesaikan masalah dari masa lalu. Tidak hari ini. Tak ada yang akan saling menyerang di hari bahagiaku. Terlebih istriku sedang mengandung. Tak ada yang akan bertaruh tindakan macam mana akan aku lakukan, bukan?"


"Alana?! Apa masalahmu?" tegur James Chavez berpaling pada puterinya. "Apakah tujuanmu ikut aku untuk ini?"


"Ayah!"


"Aku yang merayunya pergi denganku. Bukan sebaliknya. Berhenti menyalahkan orang lain dan melihat padaku. Hanya mengutuki aku!" Tatapan tajam membuat Alana hanya mengunyah rahang pelan.


"Ayah?!"


"Jaga sikapmu karena kita datang untuk mendoakan bukan ciptakan masalah. Terlebih kamu akan berhenti sakiti adikmu di hari lain."


"Kamu butuh duduk dan minum air dingin, Nona Alana," usul Young Vincenti. "Ada baiknya kamu dan Arumi bersama. Astaga, aku punya tiga orang saudari sambung yang luar biasa cantik. Aruhi - Arumi - Alana. Dan satunya sedang naik kereta dalam perjalanan menuju kemari. Apa dia membawa pedang di tangannya? Atau boneka?"


"Young?!" tegur Laurent Vincenti. "Ajak Nona Alana dan Arumi bersamamu!"


"Aku bisa sendiri," jawab Alana ketus dan ia berbalik pergi. Ia menyendiri dengan raut kesal.


Salsa beritahu Arumi lewat matanya untuk temani Alana. Mungkin tidak untuk bercakap. Hanya tidak biarkan Alana merasa asing.


"Jangan berpikir menyakiti Arumi Chavez lagi, Nona!" tegur Itzik Damian tanpa menoleh pada Alana. "Kau akan bertemu aku!"


"Namanya Arumi Sialan. Chavez adalah nama ayahku. Hanya aku yang boleh memakai namanya."


"Arumi Vincenti lebih bagus." Young Vincenti bicara dari sisi lain. "Aku tak keberatan. Lebih keren, lebih bermoral dibanding Arumi Chavez."


"Arumi Diomanta, paling tepat." Itzik Damian menolak ide Young Vincenti.


"Malang sekali, dia tak bisa pergi ke dunia entertainment dengan nama penjahat macam Diomanta." Alana mengejek dari sebelah.


"Mari kita pergi ke pemakaman dan membeli nama Tuan Chavez dari orang yang sudah meninggal. Aku melakukannya. Ayahku terlalu bejat tinggalkan aku di panti asuhan tanpa nama klan. Aku pergi ke makam seorang pria, bersihkan kuburannya selama sebulan penuh dan membawa pulang nama Damian," Itzik Damian menyahut. "Ada banyak Chavez di pemakaman umum. Dan mungkin kita akan temukan satu yang mau berikan namanya untuk Arumi. Berdasarkan hasil terawangan mataku, Chavez yang di-usung Arumi saat ini penuh kesialan. Tanggalkan saja nama itu!"


Wajah Alana memerah padam. Arumi Chavez memijat kepalanya. Dua orang menoleh segera perhatian.


"Itzik, ambilkan dia air!"


"Kau saja! Aku akan menekan kepalanya."


Mereka berdebat. Sementara, Ethan Sanchez terlihat di depan sana. Mengobrol dengan Tuan Vincenti dan Nyonya Salsa. Tuan James di meja bersama Abner Luiz. Arumi Chavez berdecak. Tuan James Chavez tampak cukup frustasi. Sedang Salsa menemukan muara tempat ia berakhir. Berciuman perlahan-lahan.


Ya Tuhan, Arumi merinding. Mereka sungguhan manis.


Mungkin terlalu dini menilai. Laurent Vincenti, Arumi, mencari kata paling tepat gambarkan sosoknya. Hanya pria hebat.


Ethan Sanchez menoleh ketika Salsa dari dalam dekapan Tuan Laurent mengangguk ke arah Arumi berikan petunjuk karena tahu pria itu mencari-cari.


Ethan Sanchez melangkah perlahan ke arah Arumi setelah mohon maklumat pada Elgio Durante dan Lucky Luciano yang melambai padanya. Ethan Sanchez mendekat. Abaikan Itzik Damian dan Young Vincenti hanya fokus pada Arumi Chavez. Mereka hanya diam untuk waktu lama. Menarik perhatian Itzik Damian.


"Mari pergi denganku, Arumi!" kata Ethan Sanchez pada Arumi, berikan tangan. Sedikit perintah.


Itzik bengong saja saat Young Vincenti yang suka berdebat dengannya, bantu Arumi bangun dari duduknya tanpa banyak protes. Ethan Sanchez pegangi gadis itu erat dan mereka pergi berdansa.


"Tak perlu tanya siapa dia!" kata Young sebelum Itzik kembangkan bibirnya.


"Aku penasaran."


"Saudara tiri Arumi Chavez."


"Tidak se-patuh padamu."


"Sebelum Lucca, dia adalah pawang Arumi Chavez. Pertama kali aku bertemu dengan Arumi, mereka pacaran. Ibu Ethan Sanchez pisahkan mereka dan Arumi pergi bersama Lucca."


"Aha ..., seniornya?" tebak Itzik Damian. "Oh, jangan percaya pada Arumi Chavez kakak senior. Dia bergulingan dengan pengawalnya di rumah pantai." Itzik berguman pelan.


Alana Chavez perhatikan dua manusia super berisik di sebelahnya.


"Saudara tiri Alana Chavez jika Tuan Chavez menikahi Nyonya Andreia," goda Young Vincenti tak peduli terima senyuman sinis.


"Kekasih Ibuku adalah Ayah dari kekasihku." Itzik Damian berdecak. "Hubungan rumit."


Sepasang mata Alana awasi dua orang di depan. Pada kenyataan bahwa adik tirinya punya banyak dukungan yang bersiap melindunginya tanpa pamrih dan pria di depan menarik perhatian karena akan jadi adik tirinya. Terlihat mencintai Arumi. Apakah sebaliknya? Dia bisa mulai langkah mencuri pria itu? Tetapi, mereka mengatakan soal Lucca? Pria yang mana itu?


"Aku dengar kabar soal Archilles." Ethan Sanchez berkata lirih.


Arumi tak bereaksi. "Em, ya. Tak ada yang bisa aku lakukan selain menunggunya kembali."


Ethan Sanchez mendekap erat gadis yang terisak. Arumi berkata terbata-bata.


"Aku berharap dia ijinkan aku bersamanya. Tetapi, dia mengusirku pergi."


"Beri dia ruang. Kamupun masih sangat muda. Waktu akan membawanya kembali, Arumi."


"Hanya itu yang bisa aku percaya."


"Misteri kehidupanmu. Lebih kuat dan biarkan dia menemukanmu dan tak ragukanmu lagi."


"Ya," angguk Arumi patah hati tiap memikirkannya.


"Maafkan aku untuk hal lainnya juga, Arumi. Begini akhirnya kita."


"Sampai semalam aku membenci Ibumu," kata Arumi Chavez tahu apa yang di maksudkan Ethan Sanchez. "Tetapi, aku cukup yakin untuk mendoakan kebahagiaannya bersama Tuan Chavez."


"Arumi?!" Ethan keheranan. "Aku sendiri telah berikan ultimatum, Ibuku akan kehilangan aku jika memilih Tuan Chavez."


Ethan Sanchez berhenti bergerak, mengangkat wajah Arumi dan mengusap air mata gadis itu. Pasti sulit dilewati. Kehilangan ayahmu dan kekasihmu. Mata hanya berisi kesedihan walaupun pipi memerah.


"Tidak perlu, Ethan. Ibuku akhirnya berada di posisi orang lain. Kehilangan miliknya. Salsa mengalami apa yang dirasakan oleh istri pertama Tuan Chavez dan saudara tiriku. Ibuku akhirnya juga rasakan kehilangan suami seperti yang dirasakan Nyonya Andreia."


"Arumi ..., aku kehilangan kata."


"Ibuku akan bahagia bersama Tuan Vincenti. Hanya itu yang ingin aku lihat."


Mereka dapati Tuan Laurent dan Salsa di dekat mereka, tak berhenti berdansa. Salsa tersenyum lebih banyak dari biasanya. Tuan Vincenti bahkan bernyanyi untuknya.


Tak ada yang bisa dikatakan


Aku bodoh untuk cinta


Aku tahu ... aku tak peduli


Bahwa aku akan mati untukmu, Sayangku


Aku akan lakukan segalanya untukmu


Berada di sisimu selamanya


Kamu bisa mengambil napasku untukmu


Semua orang bertepuk tangan kecuali wajah Hedgar Sangdeto yang duduk kikuk di sebelah Anna Marylin, akan segera muntahkan isi perutnya. Dia juga sedang jatuh cinta tetapi Laurent Vincenti, bikin ia mual-mual. Mencoreng citra pria maskulin macam mereka.


"Bumi yang sempit." Ethan Sanchez berbisik.


"Kemana kamu pergi setelah ini, Ethan Sanchez?"


"Kedokteran, Ilmuwan, Programer, Ahli hukum? Bantu aku memilih satu, Arumi Chavez." Ethan Sanchez membuat Arumi berputar.


"Kamu akan sangat hebat dengan apapun pilihanmu. Kapan kamu pergi?"


"Awal Mei, Arumi. Aku akan menyapamu dari Amerika."


"Aku bangga padamu."


"Datanglah makan malam denganku sebelum aku pergi."


"Uhhum ..., bolehkah aku pergi?"


"Tak mau bergabung bersama yang lain? Mengapa mereka seakan takut padamu? Terlebih Lucky Luciano dan Elgio Durante."


"Aku hanya ingin tidur, Ethan."


"Mau aku antar?".


"Tidak. Aku bisa sendiri."


"Beritahu aku, apa yang mereka lakukan padamu? Aku bisa berperang untukmu."


"Balas dendam padaku karena aku pernah jahat pada Aruhi dan Reinha." Arumi tersenyum. "Sampai jumpa, Ethan Sanchez."


Arumi Chavez melangkah keluar mencari ketenangan. Pergi ke kamarnya. Mendekat ke jendela amati belakang mansion. Jauh ke arah rumah pohon yang sedikit bercahaya.


"Di mana kamu? Aku merindukanmu tanpa henti."


Mencari surat dari Aunty Nastya. Mungkinkah ada petunjuk. Ia meraih benda itu. Nyalakan lampu tidur dan mulai membaca.


***


Dear Arumi ....


Maafkan aku, jika kami menyakitimu. Dia terlalu sakit lewati hari. Putus asa yang tak bisa dikatakan dan dipendam sendiri. Kami membawanya untuk berobat dan perbaiki segalanya termasuk kembalikan kepercayaan dirinya.


Kami inginkan yang terbaik baginya dan berharap kamu mendukung dari jauh dengan doa. Kami sebisa mungkin ikut menjaga cintanya padamu karena sangat menginginkanmu untuknya.


Namun, kami tak bisa menolak jika suatu waktu dalam perjalanan panjangnya, Archilles putuskan untuk melupakanmu dan akan memulai hidup baru bersama seseorang yang bisa merawatnya sepanjang waktu seperti yang ia katakan ketika aku menulis surat ini.


Archilles bebaskanmu dari semua ikatan. Bebaskan dirimu dari cinta di antara kalian.


Archilles tetap akan menjadi saudaramu dari Càrvado.


Jangan habiskan harimu untuk memikirkannya. Temukan seseorang yang baik untukmu. Hiduplah dengan bahagia. Tuhan senantiasa menjaga dan melindungimu.


Kami menyayangimu, Arumi.


***


Dia benar-benar lemas dan tak bisa gambarkan kesedihan dengan kata. Arumi Chavez terisak-isak. Air mata berderai turun. Merangkak di atas pembaringan. Temukan sandaran. Pejamkan mata.


Dia bahkan tak bisa menyebut namanya karena terlalu menyakitkan.


***


Besarte Lentamente : Menciummu perlahan.