
Setelah kericuhan panjang, semua orang pergi. Nona Arumi awalnya enggan beranjak meski Dr. Daphne menutup jam kunjungan. Dr. Daphne kemudian mengusir semua orang pergi demi kesehatan pasien.
Archilles tak berharap gadisnya pergi sebelum ia tahu ..., mengapa Nona Arumi menyimpan kesedihan dibalik kekonyolan hari ini?
Archilles baru saja pejamkan mata ketika pintu ruangan terbuka, dadanya seakan dihinggapi sesuatu. Tak bisa digambarkan, tak bisa diungkapkan saat melihat Nona Arumi kembali masuk.
Kini ..., hampir malam, gadis itu menunggui di sisi ranjang, silangkan lengan, duduk di satu posisi hanya terus mengamatinya dalam diam.
"Sesuatu terjadi hari ini pada Anda. Ada yang ingin Anda bicarakan?" tanya Archilles coba mengusir situasi aneh yang diciptakan dirinya sendiri. Juga ..., sedikit kantuk.
Nona Arumi menggeleng. Mungkin hanya tak tahu mulai dari mana.
"Mengapa Anda masih di sini?"
Tak ada sahutan.
"Anda belum makan malam, Nona."
"Kamu juga. Apa infus saja cukup untuk seluruh tubuhmu? Apa yang ingin kamu makan, Archilles?! Beritahu aku!"
"Aku makan apa saja."
"Baiklah, kita akan menunggu makanan apa saja yang dihidangkan bagimu."
"Anda juga perlu makan, Nona!"
"Aku tidak lapar," sahut Arumi. "Tidurlah jika mengantuk, aku akan tetap di sini sampai Leona kembali."
"Kemana Leona pergi?"
"Membeli sesuatu."
"Baiklah."
Roda-roda troli terdengar jelas menggelinding di lantai rumah sakit. Aroma makanan ikut di belakangnya. Tak lama berselang pintu diketuk lalu didorong. Seorang perawat masuk ke dalam ruangan.
"Mr. Lucca, aku ..., suster Elizabeth ..., senang melihatmu siuman."
"Terima kasih banyak, Suster."
"Waktunya makan malam."
"Terima kasih."
"Aku pikir Anda sendirian, Mr. Lucca. Apakah pacar Anda akan menginap di sini?" tanyanya lagi mendorong troli instrumen rumah sakit berisi makanan dan obat-obatan kian dekat. Tersenyum ramah pada Arumi.
"Tidak, Suster Elizabeth," sahut Arumi lekas berdiri. "Aku sedang menunggu jemputan," tambah-nya menggeser bangku.
Ingin menyanggah Suster Elizabeth tentang pacar Archilles Lucca. Namun, ia tak perlu terangkan pada semua orang bukan? Jelas saja orang akan mengira begitu karena ia masih di sisi Archilles padahal jam kunjungan telah lama selesai.
"Oh ..., baiklah."
"Anda bisa tinggalkan ini di sini, Suster. Aku akan mengurusi-nya," ujar Arumi Chavez.
Suster Elizabeth mengerut, mungkin keheranan pada gadis muda berseragam sekolah masih keluyuran di rumah sakit jam-jam jelang malam. Tidak ingin tahu urusan orang lain tapi penasaran.
"Anda belum pulang ke rumah sejak pulang sekolah, Nona?!"
Arumi hanya terlalu malas mengganti pakaian padahal ia punya banyak di mobil. Lagipula, hari ini ia tak punya waktu karena sibuk cemaskan Archilles Lucca.
"Ya, Suster. Aku berlari gelisah kemari saat tahu Archilles Lucca masuk rumah sakit."
"Apakah tak akan masalah dengan orangtuamu nanti? Jam begini?"
Arumi Chavez meringis. "Tentu saja Ibuku akan murka. Aku yakin Ibuku sedang menanti di pintu rumah, bersiap-siap ayunkan tangkai payung dan memukul bok****ku keras saat aku mengendap-endap pulang nanti."
Suster Elizabeth tertawa terpingkal-pingkal tanggapi kata-kata Arumi lalu segera bekap mulutnya. Archilles Lucca amati gadisnya yang mengubah bualan terdengar nyata. Nona Arumi, bisa jadi artis komedi juga. Improvisasi yang bagus.
"Pacar Anda luar biasa, Mr. Lucca."
"Aku bukan pa ...." Arumi belum selesai bicara langsung dipangkas.
"Oh, Anda ingatkan aku pada masa muda yang na'if dan ceroboh."
"Kurasa Anda juga pernah ada di posisi ini, begitu pula beberapa orang muda lain."
Suster Elizabeth tak berhenti tersenyum sambil mengatur makanan.
"Aku rasa, Tuan Lucca baik-baik saja kini dengan Anda di sisinya. Anda akan membuatnya pulih lebih cepat, Nona."
"Ya, Suster Elizabeth. Mari doakan yang terbaik. Apa aku boleh mulai menyuapinya makan?!"
"Tentu saja. Ini obatnya, tolong diberikan juga."
"Terima kasih, Suster."
"Nah, mari kita atur posisi Anda, Mr. Lucca."
Tombol naikkan ranjang di pencet. Suster Elizabeth membantu Archilles berbaring dengan posisi miring tanpa bebankan punggung yang terluka. Setelahnya ia mengatur celemek makan di leher Archilles.
"Selesai. Selamat menikmati makan malam Anda, Tuan. Semoga lekas sembuh. Tuhan berkati Anda."
Perawat Elizabeth kemudian berlalu dari ruangan Archilles.
"Suatu waktu, kita pergi ke wahana. Aku dikerubuti fans dan kamu pergi membeli tiket masuk. Orang-orang berpikir kamu pacarku."
"Anda sedang mengejar Tuan Ethan waktu itu, Nona."
"Ya."
"Anda perlu keberatan. Kurasa Tuan Ethan Sanchez tak akan suka jika Anda tak membela diri."
"Aku katakan pada mereka bahwa kamu asistenku. Beberapa dari mereka jatuh hati padamu. Nah, Aku akan jadi pengasuhmu malam ini, Tuan. Anda harus banyak makan, segera sembuh sebab aku butuh pengawalku untuk berlatih bela diri."
Arumi Chavez menyendok makanan dan menyuapi Archilles setelah mulutnya bergerak-gerak membaca doa pada makanan.
"Terima kasih. Kurasa aku bisa sendiri, Nona."
"Aku akan lebih peka dimulai dari orang-orang di sekelilingku. Mohon support-nya. Tolong buka mulutmu!"
Lucca, imbalannya cukup pantas. Sebutir peluru dan sekarang kamu dimanja.
Hatiku begitu tipis, aku merana di dalam sini!
"Apakah kencan Anda dan Tuan Miguel berjalan lancar?!" tanya Archilles Lucca setelah selesai makan. Nona Arumi bantu menyangga kepalanya lebih tegak agar ia bisa minum obat. Hati-hati baringkan Archilles kembali.
Walaupun Archilles tahu Ethan Sanchez pasti gagalkan kencan karakter Nona Arumi tetap saja ia penasaran.
Arumi Chavez menyipit. Bukankah tadi jelas-jelas ia katakan bahwa gara-gara Archilles, Ethan Sanchez dan dirinya bertengkar. Mungkin Archilles belum benar-benar siuman untuk menangkap perkataannya.
"Ya ...."
"Oh ya?!" tanya Archilles Lucca ragu.
"Aku belajar memegang tangan juga duduk di pangkuan Tuan Miguel. Kami akan pergi ke kampus dan sedikit beradegan panas di atas mobil dalam naskah." Menarik napas amati Archilles Lucca. "Tuan Miguel ajari aku cara berciuman yang baik dan benar."
Ekspresi Archilles Lucca tak bisa diuraikan.
"Apa ..., Nona juga belajar berbohong selama aku tak ada? Bukankah Tuan Ethan Sanchez mencegah Anda untuk kencan aneh itu?"
Arumi Chavez berengut.
"Kamu menelpon Ethan Sanchez membuatnya datang ke Amelia. Kamu kabur setelahnya agar tak dimarahiku!"
"Maafkan aku. Tuan Miguel bukan pria yang baik. Beliau punya banyak affair dengan banyak model. Aku tak kabur hanya sedikit ada masalah yang perlu aku urus."
"Kamu dan Ethan Sanchez sangat konyol, Archilles Lucca. Dalam proyek ini, orang hanya soroti akting bukan yang lain."
"Baiklah, maafkan kami! Jadi, Anda dan Tuan Ethan masih berselisih?" Hanya itu alasan paling mungkin Nona Arumi tampak dirundung duka.
"Apa kamu tak pegal berbaring seperti itu terus?" tanya Arumi hindari Archilles Lucca mengorek lebih rinci.
Penasaran bagaimana bisa Archilles Lucca tertembak. Masalah apa yang pria ini coba atasi hingga hampir kehilangan nyawanya. Pasti sesuatu sangat berharga pantas dipertaruhkan.
"Aku akan begini selama beberapa waktu."
"Aku berharap kamu sembuh sebelum aku berangkat ke Paris akhir pekan di Minggu kedua."
"Anda akan ke Paris?"
"Ya, kami akan syuting di sana."
"Anda tak pernah beritahu aku sebelumnya."
"Aku pikir kamu dan Leona berkomunikasi untuk jadwalku?! Saat ini beristirahatlah! Ada beberapa artis pendukung lain, kru dan sutradara. Kamu mungkin akan aku tinggal karena kecerobohanmu sendiri, Archilles. Aku akan bawa Leona."
"Tuan Miguel ikut?"
"Ya. Serena akan berjalan di catwalk jadi salah satu model untuk dres-dres desain Hana. Mereka butuh menepis kabar miring tentang hubungan buruk Ibu dan Anak. Tetapi, di Paris Serena akan bertemu seorang pria muda, kamu tahu bahwa aku akan beradu akting dengan Reynold Jonas dan Holly Matthew."
"Bagaimana dengan sekolah Anda?"
"Kami akan syuting sejak Jumat hingga Minggu. Momen-nya bertepatan dengan beberapa kegiatan ekstra sekolah. Aku bisa minta ijin. Jangan lupa pacarku ketua Osis."
Nona Arumi Chavez kembali murung. "Ya, kamu benar."
"Apa Anda tak punya tugas untuk besok?"
"Aku akan kerjakan nanti setelah dari sini."
Pintu diketuk, Leona masuk memegang sesuatu di tangannya dalam kantung belanja.
"Baiklah. Anda belum beritahu aku, mengapa Anda bersedih hari ini?"
"Aku tak bersedih," bantah Arumi menggeleng kuat.
"Em, Anda bersedih! Apa Anda dan pacar Anda masih ribut? Masih tentang kencan karakter Anda? Drama Anda?"
"Bukan soal itu, Archilles."
"Beritahu aku, dan kita bisa temukan solusi."
"Ibunya tak menyukaiku."
"Oh, Anda telah bertemu dengan Nyonya Sanchez?"
"Ya."
"Pasti ada alasannya."
"Rumit."
"Em, ya?! Coba kita lihat alasannya, kemudian putuskan akan lakukan sesuatu!"
Arumi Chavez menghirup udara kuat-kuat, mengingat permintaan Nyonya Sanchez. Sedang Leona amati kedua orang di depan sana. Alasan, Nona Arumi Chavez bergantung pada Archilles Lucca. Sang pria mulai mengantuk mungkin pengaruh obat, tetapi bertahan dan sabar menanti Nona Arumi tumpahkan keganjalan hati.
"Apakah Nyonya Sanchez menentang hubungan Anda berdua?"
Arumi menatap Archilles, kebingungan. "Nyonya Sanchez tidak membenciku tetapi tak menyukaiku. Tak melarang kami pacaran, tetapi tak ingin aku terlalu sering bertemu Ethan, berada di dekat Ethan apalagi pengaruhi Ethan. Hanya itu yang aku tangkap."
"Aku tak tahu bahwa Anda bisa pengaruhi Tuan Ethan Sanchez?! Pacar Anda penuh prinsip."
"Kami sedang jatuh cinta, terlalu terjebak. Kamu tahu rasanya?"
Archilles cermati wajah Nona Arumi. Setelah ia bangun dari mati, ia tahu rasanya. Archilles tertular murung.
"Ya, aku tahu rasanya. Selalu ingin melihatnya, di dekatnya, mendengar suaranya." Kalimat barusan cocok disematkan pada dirinya sendiri.
Nona Arumi mengangguk lesu.
"Kehilangan kontrol akan akal sehat, menurut Ibunya. Aku tak bisa membantah. Nyonya Sanchez mengenal Ethan jauh lebih baik dariku. Saat Ethan berubah lebih buruk, Ibunya mencari tahu penyebabnya. Beliau dapati aku ada di sisi itu. Di mata Ibunya, aku tak begitu pantas untuk Ethan. Itu juga benar. Aku tak bisa apapun sedangkan Ethan Sanchez begitu sempurna. Nyonya Sanchez mungkin menganggapku keturunan penjahat hanya tak disebutkan. Sungguh menyedihkan."
Archilles Lucca pernah melihat beberapa kali Nona Arumi patah hati pada sikap penolakan Ethan Sanchez. Nona Arumi pernah menangis hingga tertidur, bukan hal baru. Sekali ini, ia sungguh terkejut, Nona Arumi tampak tegar. Lebih dewasa.
Sekalipun demikian, tetap saja raut muram itu menyerang Archilles Lucca. Penderitaannya bertambah-tambah dapati mata Nona Arumi berkaca-kaca.
"Jangan pesimis, Nona. Nyonya Sanchez mungkin mirip para Ibu kebanyakan, sukai gadis-gadis mandiri yang bisa mengurus diri sendiri, memasak, merajut. Miliki keterampilan."
"Sedang aku tak bisa semuanya. Belum lagi jika Nyonya Sanchez tahu aku hanyalah gadis bodoh dan dapatkan peringkat paling akhir di kelasku. Aku yakin Ethan Sanchez lindungi aku dari Ibunya dan skip bagian itu. Aku tak mendoakan hal-hal buruk terjadi padaku, aku hanya harus siap hadapi kenyataan."
Pikiran wanita matang.
Archilles menarik napas kuat. "Kita belum mencoba, Nona. Jangan patah semangat. Pertama, Anda hanya akan belajar dengan rajin di sela syuting, setidaknya naik beberapa peringkat agar Tuan Ethan Sanchez tak merasa sia-sia mendidik Anda."
"Ya, aku sedang berusaha, Archilles. Aku tak bisa menyimpan banyak mata pelajaran di otakku."
"Coba saja menghapalnya sama seperti Anda membaca naskah. Kita bisa mencoba jalur itu! Kecuali materi akuntansi dan matematika, Anda memang harus rutin berlatih menghitung."
"Ya, baiklah."
"Sama seperti Anda taklukan Tuan Ethan, aku yakin rintangan lain tak begitu sulit."
"Menurutmu begitu?"
Archilles Lucca mengangguk kecil. "Anda perlu belajar memasak setidaknya sesuatu yang sederhana."
"Jam dalam sehari kurang, jika aku lakukan segala hal."
"Leona dan aku akan menyusun ulang jadwal Anda."
"Archilles, aku berharap kamu cepat sembuh. Aku selalu bangun di pagi hari, pergi ke sekolah dan takut kini pada hal-hal yang tak aku ketahui. Aku tak akan berkunjung besok atau lusa karena jadwal syuting. Aku akan minta Leona video call denganmu."
"Ya, ini sudah larut malam dan Anda harus pulang. Apakah Anda merasa baikan kini?" tanya Archilles Lucca. "Kita akan membuat Nyonya Sanchez jatuh cinta pada Anda, jangan cemas. Ini hanya masalah kecil. Tolong tersenyum, Nona!"
Arumi Chavez mengangguk sunggingkan senyuman lebar di wajahnya. Layaknya efek domino, kondisi perasaan yang baik Nona Arumi buat Archilles Lucca rasakan hal yang sama.
"Terima kasih, Archilles."
"Anda harus pulang dan makan sesuatu! Cobalah minum cokelat hangat sebelum Anda tidur."
Nona Arumi Chavez mengangguk kemudian berjongkok di sisinya.
"Sebelum aku pulang, aku ingin hadiahkan-mu sesuatu."
Leona mendekat berikan kantung.
"Aku selalu memikirkanmu saat kamu tak di
sisiku," ujar Arumi menatap tepat di mata Archilles Lucca. Magis dan menghipnotis. Sementara jemari sehalus kapas singkirkan helaian rambut yang terkulai di kening hingga Archilles Lucca meremang. Seumur ia hidup tak ada seorang pun yang lakukan hal ini; membelai keningnya. Apa yang coba gadis ini lakukan? Memprovokasi tubuhnya lagi?
Tolong jangan lakukan apapun padaku, Nona!
"Aku selalu cemas kamu menghilang. Aku selalu gelisah, kamu bertarung, mati di suatu tempat. Jadi, mulai hari ini aku akan penjarakan-mu."
Tangan Nona Arumi bergerak menyusuri lengannya yang bebas dari infus, sampai di pergelangan tangannya, turun ke jemari. Nona Arumi menjalin jari-jari mereka.
Gadis ini membungkuk terlalu dekat hingga Archilles bisa menghirup aroma parfum manis, lembut juga memabukkan.
Arumi Chavez menarik tangan Archilles Lucca pada bibir merah muda, mengecup perlahan hingga Archilles Lucca berdebar-debar tak karuan. Jantungnya berdenyut cepat, mungkin saja kini terpompa ekstra hingga darahnya seakan meleset bak anak panah lepas dari busur.
Jantung kita bisa rusak!
Atau
Jantung kita langsung sembuh!
Dekatkan pada besi-besi sisi ranjang rumah sakit saat Archilles Lucca hanya terpukau pada mata-mata cantik Arumi Chavez.
Menyerang Archilles Lucca dengan trik pengalihan fokus hingga si pria yang agak mabuk pada obat juga keindahan terlambat sadar bahwa ia telah masuk perangkap.
"Archilles Lucca! Maafkan aku! Kamu ..., aku tahan agar tak kabur dariku dan bahayakan dirimu sendiri."
Lingkari sebuah benda pada pergelangan tangan Archilles yang dia pikir sebuah gelang sambungkan pada sesuatu, satukan.
"Eh?! Apa yang Anda lakukan?"
Bunyi borgol terkunci, Nona Arumi tersenyum puas, goyangkan borgol pastikan ikatannya kuat. Benda masih baru itu keluarkan kilauan saat terkena cahaya lampu ruangan.
"Nona?! Aku tak akan kemana-mana! Lepaskan ini, aku janji!"
"Aku tak percaya padamu, Archilles."
"Bagaimana jika aku ingin makan, bangun dan pergi ke toilet?"
Arumi Chavez berpikir sebentar.
"Bukankah katamu, kamu tak akan bangun dalam beberapa hari ke depan?"
"Bagaimana jika seseorang menyerangku nanti malam?!"
"Apakah ada yang berani datang ke markas militer dan menyerangmu sementara ada satu kompi tentara bertugas di sini?"
"Nona ..., tetap saja. Aku akan kesulitan nanti."
"Aku menyewa jasa seorang perawat menyuapimu makan, memasang selang dalam celana-mu agar kamu tak repot-repot pergi ke toilet."
"Nona ..., jangan lakukan ini padaku!"
Leona alihkan lampu menjadi lebih redup sebelum lebih dulu bergerak keluar ruangan.
"Nona ..., please!"
"Selamat malam, Archilles Lucca. Mimpi indah! Tuhan akan menjagamu. Aku menyayangimu," bisik Arumi Chavez mengecup puncak kepala pengawalnya kilat, redakan panik.
Arumi Chavez berlalu pergi tinggalkan Archilles Lucca terkunci di ranjang meremas kunci borgol dalam kepalan tangan mulusnya. Arumi Chavez merasa keren pada dirinya sendiri. Sunggingkan senyuman lebar.
Archilles Lucca menatap ke arah pintu, pada bayangan sekilas terpantul di lantai sebelum hilang bersama pintu terkatup. Aroma wangi tertinggal, langkah kaki memudar.
Hening.
Bernapas berat dan pasrah. "Selamat malam ..., Nona Arumi. Semoga selalu bahagia. Aku juga menyayangimu."
***
Vote, komentarmu dan lainnya-lainnya. Sukai Chapter ini.