
Berdua habiskan waktu di perpustakaan membaca buku setelah sarapan yang telah disiapkan Aunty Nastya dan Zefanya Lucca.
Menghadap lahan belakang mansion kehijauan dengan banyak merpati. Duduk berlawanan arah di sofa panjang dan hanya dengarkan denting piano River Flows in You, Kiss the Rain dan melodi lain yang dicover oleh Arumi.
Mereka terdefinisi dalam satu arti, hapus kerinduan dengan berbagi tatapan sepanjang hari. Tidak ada kata jenuh karena ini belum seberapa. Tak ada bandingnya dengan waktu lama mereka lewati kesedihan.
Berikut akan menjadi lebih berwarna karena Arumi berusaha keras mengurusi kekasihnya. Ini mungkin tidak akan mudah.
Seperti kata Zefanya Lucca, tak ada yang ingin menginterupsi keduanya. Rumah ditinggal sepi kecuali perawat Natalie datang secara rutin dan teratur memeriksa kondisi kekasihnya.
"Aku tidak bisa pergi begitu saja," kata Natalie mengajak ia bicara di luar di hari kedua sedang kekasihnya masih di dalam ruang tidurnya. "Aku akan datang untuk pemeriksaan semoga tidak mengusik kegiatan bersama Anda berdua. Tolong untuk tidak keberatan. Demi kebaikannya."
"Tentu saja, Natalie. Aku cukup pahami bahwa kekasihku butuh seorang ahli di sisinya."
Natalie terdiam seakan tak begitu terima dengan kata-kata yang baru saja dilontarkan Arumi.
"Apa ada yang salah?" tanya Arumi keheranan melihat ekspresi tidak senang Natalie.
"Seorang ahli yang sampai dua hari lalu akan dinikahi olehnya sampai Anda mengacaukannya. Aku tak pernah melamar diriku, tetapi Tuan Archilles bertanya, mungkinkah aku mau bersamanya?"
Arumi tertawa lebar hingga mata-matanya berkerut. Tubuhnya berguncang keras. Ia bahkan keluarkan air mata. Bayangkan ia menunggu kekasihnya di suatu tempat, berduka tanpa ujung dan ditempat lain percakapan ini sedang berlangsung.
"Anda jauh lebih dewasa dariku, sekarang aku paham umur hanya soal angka. Ya Tuhan, Anda tak akan mudah percaya pada pria sekarat yang sedang putus asa, kan? Sama seperti aku tak percaya ia akhiri hubungan kami begitu saja. Terlebih, setelah kamu melihat bagaimana ia mengusirku agar tak ikut menderita di sisinya?"
Keduanya berbagi tatapan. Mengukur kekuatan kata selanjutnya.
Natalie tersenyum. "Kenyataannya sangat pahit bagimu, Nona Arumi. Dia lebih percayakan aku merawatnya dibanding kekasihnya."
Ada banyak kesedihan dari masa lalu yang ingin Arumi lenyapkan dari dirinya. Ini adalah salah satu sebab hari di mana ia ditinggalkan adalah hari paling buat ia menderita. Natalie kembali menggali lukanya. Ya, wanita ini berhasil. Namun, Arumi tak suka ditindas wanita lain.
"Kembali ke pedoman awal, Natalie. Karena dirimu Tenaga Kesehatan. Miliki keahlian khusus yang tidak kekasihnya miliki. Andai saja, ia biarkan aku bersamanya. Kamu tak akan pernah ada dalam kehidupannya. Aku jelas akan carikan seorang yang berkompeten. Merawatnya tanpa berniat memilikinya."
Tak ada balasan. Natalie menelan cairan di tenggorokannya setelah sekian lama.
"Agathias katakan bahwa Anda bisa gunakan beberapa peralatan medis. Tetapi, aku tidak cukup yakin tinggalkan Tuan Archilles dengan Anda."
"Ya, kami menerima pelatihan dasar memeriksa kondisi fisik seseorang sebelum pergi bersama organisasi ke Bangladesh. Ilmuku tak seberapa. Tetapi ...."
"Anda akan sadari bahwa Anda bersama seseorang yang dalam tahap pemulihan setelah bertahun-tahun kritis bukan jenis pasien biasa. Aku juga ingin beritahu Anda untuk tidak ciptakan beberapa improvisasi yang sebabkan usaha tujuh tahun kami menjadi sia-sia."
Arumi tak menyukai Natalie sama sekali. Dia tak punya pembelaan diri. Natalie habiskan tujuh tahun bersama kekasihnya. Mungkin ini adalah alasan satu-satunya jadikan ia sangat cemburu dan kesal di dasar hati tiap mengenangnya. Natalie melihat kekasihnya dalam keadaan paling buruk pria itu dan bersamanya hingga wajahnya normal. Ia cukup sakit hati mengingatnya. Dan kini, ia tidak heran jika Natalie terlihat ingin menyerangnya. Tidak ada jaminan Natalie tidak jatuh cinta pada kekasihnya setelah tujuh tahun sepanjang hari dan sepanjang waktu bersama.
"Aku dengar kemarin dari Agathias walaupun dia memuji Anda." Lebih serius lagi. "Bagaimana jika keadaanya terbalik? Apakah Anda bisa menanggung akibat dari keteledoran Anda?"
"Natalie ..., " tegur Arumi tajam. Ia menjadi mudah tersinggung dan cepat marah. "Anda menyembuhkan kekasihku dengan ilmu kesehatan Anda, tetapi aku cukup tahu diri bahwa aku tak mahir dengan peralatan medis dan bukan orang kesehatan, aku akan sembuhkan kekasihku dengan cara kaum awam amatiran. Hanya andalkan cintaku padanya yang bahkan tak ada seorangpun bisa kalahkan aku!"
"Nona Arumi ..., aku coba untuk ...."
"Jangan coba mengkritik usahaku. Jalankan saja tugasmu!" potong Arumi lebih dingin. "Aku tak akan jerumuskan orang yang aku cintai ke dalam malapetaka. Aku hanya lakukan yang terbaik untuk akhiri trauma buruk yang bahkan aku sendiri tak tahu apa itu?"
"Aku hanya ...."
"Satu lagi ..., " potong Arumi murka, "jangan harapkan imbalan apapun darinya. Atau manfaatkan situasi buruknya, Natalie. Di masa lampau, banyak gadis mencoba. Dan tak cukup berhasil sekeras apapun mereka berusaha karena kamu bisa lihat sendiri, cintanya hanya untukku. Mungkin kejam, tetapi kamu hanyalah pelarian dan pelampiasan yang sempurna untuk jauhkan aku darinya. Jika, aku jadi kamu dan punya harga diri sebagai seorang wanita, aku tak akan ikuti alur konspirasi ini. Sampai berani sekali hayati peran penggantimu. Kenyataannya jauh lebih pahit bagimu."
"Kata-kata itu sangat kasar." Wajah Natalie memerah hampir secara keseluruhan.
"Pikirkan dari mana begini akhirnya."
"Nona ..., ada apa?" Archilles Lucca tiba-tiba muncul di teras belakang. Memakai sweater, duduk di atas kursi roda otomatis. Natalie segera gelisah.
Arumi alihkan pandangan jauh ke ujung entah kemana. Penasaran pada bentuk hatinya kini.
"Nona Arumi?" panggil lagi bersikap penuh curiga.
Arumi lekas berbalik dan tersenyum seriang mungkin.
"Kami hanya bicara." Arumi fokus menatap pada Archilles Lucca. Lalu kembali pada Natalie. "Aku akan ada di dapur buatkan sarapan. Beritahu aku, apa yang boleh dan tak boleh ia makan, Perawat Natalie. Aktivitas fisik apa yang harus kami hindari, aku pikir kami hanya akan ada di perpustakaan seperti hari kemarin."
"Setelah sarapan, Anda bisa bawa Tuan Archilles berkeliling di sekitar taman. Selanjutnya Tuan akan membaca dokumen dan memeriksanya. Ia sangat nikmati hal itu."
"Baiklah," angguk Arumi. "Mari bergabung bersama kami untuk sarapan, Natalie," ajak Arumi berbalik masuk ke dalam rumah. Membungkuk dan mengecup kening Archilles Lucca. Tersenyum halus seraya mengusap belakang bahu lembut sebelum berlalu dari sana.
"Kita perlu bicara, Natalie!"
Samar-samar ia mendengar suara beku pria itu. Arumi pergi ke dapur, masuk ke ruang pendingin dan memilih bahan makanan. Ia hembuskan napas kencang setelah satu dua helaan udara dingin. Ketika akhirnya ia tak tahan, ia pergi ke dinding bersandar di sana dan pejamkan mata. Ia menyesap pelan-pelan tiap kesakitan dan ingin membuangnya tanpa sisa. Natalie berhasil melukainya dan nodai cinta pada kekasihnya.
"Jangan menanggapi terlalu serius, please!" pintanya pada diri sendiri. Sebab hidungnya akan segera berdarah jika ia coba bendung tangis.
Brengsek! Karena bayangan dari pagi itu berputar-putar di sana dan semua emosi sedih ikut di belakang, tumpang tindih. Ia lekas-lekas mengurusi diri sendiri, tempelkan kening pada pendingin. Sekuat tenaga kendalikan diri. Mengisi bayangan mereka berdua ketika menunggang kuda dan ketika mereka bersama di rumah pohon. Ia mulai menangis.
"Nona Arumi?"
Panggilan dari dapur. Arumi terkejut. Apa yang ia lakukan?
Arumi buru-buru merogoh tisu. Ia gemetaran segera menghapus air mata berulang kali sebelum kembalikan ke saku sweater . Bercermin pada dinding alumunium lemari pendingin. Lalu, memakai sarung tangan. Ia mulai mengisi keranjang. Jeruk, mangga, kentang, banyak sayur-sayuran, daging - daging segar. Setelahnya merasa konyol, karena ia hanya akan buatkan mereka sarapan. Keluarkan kembali.
"Nona Arumi?" panggil lagi.
Arumi segera keluar dari ruang pendingin.
"Kamu di sini?" tanya Arumi. "Apakah aku akan dapatkan bantuan?"
Kibaskan celemek dan memakainya. Angkat kedua tangan menggulung rambutnya di puncak kepala kemudian gunakan karet rambut, jadilah cepolan di puncak kepala. Trik sederhana yang sering dibuatkan Archilles untuknya. Kekasihnya yang sangat manis. Ia mencuci kentang dan mengupasnya sedang pria itu berdiri tak jauh darinya.
"Apa Natalie mengganggumu, Nona?" tanya Archilles Lucca muram.
Arumi menggosok kentang lebih keras. Benci karena ia bersedih pada hal sepele. Ia berbalik dan temukan Archilles bersandar pada sesuatu di sudut dapur.
Arumi menggeleng. "Tidak kami hanya bicara."
Ia memotong kentang menjadi beberapa bagian. Letakan ke dalam pengukusan. Jerang penggoreng di tungku lain. Tuangkan minyak tumbuhan.
Tangannya bergerak lincah bentangkan beberapa lembar roti tawar. Mengisi lapisan keju berikut potongan cokelat juga irisan pisang masak ditutup kembali dengan lempengan roti. Gunakan mulut cangkir ciptakan bulatan sempurna. Pecahkan telur. Sangat terampil saat mengocok telur. Celupkan roti lalu pindahkan ke nampan bertaburkan pan rallado. Dan terakhir di goreng. Tepat waktu ketika minyak cukup siap menerima tamu. Aromanya pergi kemana-mana.
Dalam tiga menit roti goreng itu tersaji di atas meja.
"Nona ...."
Arumi berbalik, memeriksa kukusan. Keluarkan kentang dari sana. Mengangkatnya dan masukan dalam bowl.
"Kamu perlu mencoba ini. Potato Garlic Mushroom. Aku menyukainya. Bisakah ambilkan aku kaldu jamur?"
Gunakan emosi hancurkan kentang dengan garfu hingga halus.
"Sedikit air dan tepung tapioka, aku pikirkan-mu tiap kali aku memasak. Setiap hari dan bertanya-tanya apakah setidaknya aku lewat di ingatanmu?"
Kaldu jamur ditaruh didekatnya kemudian tubuh direngkuh dari belakang. Dan pria itu bernapas di tengkuknya.
"Nona ...."
"Aku baik-baik saja. Mari berpelukan nanti sebelum perutmu menjadi terlalu kosong," kata Arumi miringkan leher. Bulatkan adonan, gunakan moncong botol saus membentuk jamur. Berulang-ulang dan cepat seakan ia adalah pekerja di sebuah restoran. Biarkan saja pacarnya bernapas di leher dan bahu.
"Aku terlalu takut menyakitimu dan mengambil langkah keliru," bisik pria itu pelan.
"Beritahu aku, mengapa kamu trauma pada lift?"
Bibir pria itu berada di sisi kepala pada rambutnya. Mencium perlahan.
"Ini ada kaitannya denganmu, Nona."
"Aku?! Apakah kita pernah terjebak dalam lift?"
"Tidak. Selama tahun-tahun panjang meskipun Ibuku yakinkan bahwa aku berbaring di sebuah ruangan kaca yang luas. Namun, setiap kali aku buka mata, dinding-dinding seakan mengecil dan mulai menghimpit aku hingga napasku sesak. Aku merangkak keluar dari sana tetapi selalu kembali terjebak. Antara nyata dan mimpi atau obat-obatan dan segala macam peralatan medis telah ciptakan halusinasi bahwa aku terikat pada sebuah kursi sedang ruang sempit yang berakhir seperti lift, di setiap dinding tampilkan dirimu dalam masalah, dalam bahaya sementara aku tak bisa menolongmu. Itu terjadi hampir setiap aku dapatkan kesadaranku kembali. Aku tak bisa beritahu dokter karena takut mereka masukan aku ke rumah sakit jiwa."
Tangan Arumi berhenti bergerak. Ia berbalik dan memeluk pria itu erat-erat. Ia menangis.
"I am so sorry for you."
"Tidak. Maafkan aku buatmu kesal, Nona. Aku tak pernah mencintai orang lain."
"Ya, aku tahu." Arumi mendongak pada pria yang berkaca-kaca padanya. Mengecup kelopak matanya perlahan.
"Aku sangat bodoh karena meninggalkanmu."
"Sarapan akan siap sebentar lagi." Hanya itu yang bisa Arumi katakan. Ia takut kembali ke sana.
"Anda ... benar-benar buatku terpukau pagi ini dan ponselmu berdering tanpa henti. Sepertinya ada segerombolan orang yang tidak sabaran ingin segera memarahi-mu, Nona!"
Begitulah pada akhirnya mereka berduaan di sofa. Tak ada niat berjalan-jalan di taman atau membaca dokumen seperti penuturan Natalie. Mereka hanya duduk berlawanan arah di sofa dan Archilles meminta Arumi bacakan ia novel Don Quiote karya Miguel de Cervantes, kisahkan sosok Alonso Quixano, seorang bangsawan Spanyol yang berimajinasi sebagai seorang ksatria penumpas kejahatan yang terjadi di negerinya.
"Kita akan berakhir di tempat lain, Tuan!" keluh Arumi karena pria itu lekas menariknya datang. Mengelus wajahnya takzim seakan tak percaya pada penglihatan sendiri. Mereka akan mulai berciuman karena getaran telah merambat pergi ke ubun-ubun.
Dan di dunia ini, panggilan ponsel adalah dering yang paling sering pulihkan kesadaran orang. Keduanya berhenti sebelum saling menyentuh.
"Narumi Vincenti ..., kamu tidak tepat janji pada adik-adikmu!"
Aizen Ryota menekuk wajah di layar ponsel. Hanasita di sebelahnya mengangguk-angguk setuju.
"Maafkan aku, Tuan dan Nona Vincenti. Aku janji ..., akan menebus dosa dan kesalahanku pada kalian."
"Tuan Damian bilang Anda berhasil bertemu Pangeran Yang Tak Boleh Disebutkan Namanya. Apakah itu benar? Apakah kalian akan menikah?" Hanasita menggebu-gebu dari sebelah. Gadis itu penasaran. "Tolong menikahlah di waktu liburan musim panas ini sebelum aku berulang tahun dan terlalu besar untuk menjadi malaikat kecil pemegang keranjang bunga untukmu, Narumi."
Arumi tertawa geli. "Hanasita Vincenti, berdoalah untuk kami."
"Oh My God," seru Hanasita bulatkan mulutnya persis seseorang teman ketika dengar berita kamu akan menikah. Bayangkan dilakukan oleh bocah lima tahun dengan gigi depan tanggal dua. "Kamu sungguhan telah bersamanya Narumi Yuki Vincenti?" tanya Hanasita memekik gembira.
"Uhhum ...." Arumi mengangguk. Oh Meu Deus, sesungguhnya Arumi tak butuh teman karib seusianya karena Hanasita mampu melakukannya. Mata Arumi menandai kekasihnya yang tak berhenti tersenyum sejak ia menerima panggilan dari adik-adiknya.
"I love you," ucap pria itu hingga Arumi menggigil.
Hanasita perbaiki duduknya. "Perkenalkan padaku, please. Itu yang dilakukan seorang gadis saat punya kekasih. Perkenalkan pada keluargamu. Apakah dia setampan Ken? Atau setampan kakak laki-laki musuh besar Aizen Ryota."
"Musuhmu juga, Hana. Ingat dia tidak hanya mengganggumu. Pada dasarnya dia mengusik aku, kamu, Narumi dan Young," tambah Aizen dari sebelah.
"Aku tak menikahi seorang pria hanya karena dia tampan. Oh hei, bukankah tidak bagus bermusuhan dengan orang lain?"
"Akh," lambai tangan Hanasita di depan kamera. "Karena kamu sangat sibuk, kamu ketinggalan update berita terbaru, Narumi Vincenti," keluh Hanasita sok tahu segalanya. Arumi Chavez menggigit bibirnya kuat. Betapa ingin memakan pipi gemuk Hanasita.
"Oh, ada apa? Beritahu aku juga!"
Ponsel berpindah pada Aizen. Tujuh tahun yang sangat tampan. Rambut Aizen dipakaikan gel. Menegang macam rambut Young saat mereka masih SMA. Pria kecil ini memuja Young Vincenti dan meniru semua gaya Young bahkan cara bicaranya persis Young kini.
"Abelard Chavez buat aku dibully satu sekolah karena mengakuimu sebagai kakaknya. Satu sekolah mengejek dan tertawakan aku karena mengatakan namamu Narumi Yuki Vincenti. Katanya aku berangan-angan tinggal serumah denganmu. Oh, dia buat aku kesal. Jika tak ingat pada janjiku pada Papa, aku sangat ingin bocorkan kepalanya."
Ini bukan berita baru tetapi cara Aizen menyampaikannya berisi emosi baru yang lebih mengancam. Akh, ini mirip rencana para gangster. Oh, tolonglah.
"Aizen Ryota Vincenti, kamu tak akan melakukannya kan? Membuat keributan di sekolah dengan temanmu?"
"Juan Enriques ajarkan aku cara membungkam seseorang agar mulutnya berhenti terbuka. Menurut Juan Enriques dia lakukan pada teman sekelasnya yang sering mengejeknya dan KareniƱa. Itu sangat mempan buat temannya tak bicara untuk beberapa waktu."
"Bagaimana caranya? Kedengarannya itu bukan sesuatu yang bagus?" Arumi menyipit tidak berharap sepupunya juga berjiwa gangster dan kini wariskan ajaran memukuli orang pada ponaannya walaupun mereka seusia.
"Rahasia, Narumi. Ini hanya di antara para pria."
"Em, semoga bukan cara menyesatkan."
"Cepat kembali, Narumi. Tak perlu hadiah. Kami hanya ingin melihatmu. Kamu tak tepati banyak janji. Mana iklanmu yang akan perkenalkan kami? Kamu tak pulang akhir pekan. Juan Enriques murung karena tak bertemu denganmu. Dan kamu belum pernah pergi ke sekolahku sebagai kakakku. Bukankah masalahku beres kalau kamu menggandengku ke sekolah?"
"Pria kecil-ku yang malang," bujuk Arumi. "Mari kita bertemu temanmu dan membuatnya malu karena mengaku-ngaku jadi adikku. Aku hanya punya dua adik termanis di dunia, Aizen Ryota Vincenti dan Hanasita Minori Vincenti."
Aizen memutar bola matanya. "Kamu pandai merayu dan ya ya ya, kami akan menunggu. Bicara pada Hana."
"Apakah kamu akan kabur tanpa perkenalkan Pangeran Tanpa Nama padaku, Narumi Vincenti? Ayolah, aku penasaran sejak Tuan Damian ceritakan tentangnya."
Gaya Hanasita persis Ibunya. Atau itu gaya konyolnya yang pasti bukan gaya kalem Aruhi.
"Baiklah, Ratu."
Arumi pergi ke sisi lain dan biarkan Hanasita melihat Archilles Lucca di layar ponsel.
Gadis itu tersenyum lebar. Hingga pipinya semakin gembul dan merah persis warna buah Cherry.
"Ehem, halo Tuan." Malu-malu. "Namaku Hanasita Minori Vincenti. Aku ..., adik perempuan Narumi Yuki Vincenti. Senang berkenalan denganmu!"
"Halo Hanasita. Nama yang sangat cantik."
"Apakah Anda akhirnya menangkan peperangan batin?" tanya Hanasita ingin tahu.
Archille Lucca sedikit menoleh pada Arumi, yang dibalas anggukan.
"Ya ya, aku menang."
"Syukurlah. Mulai hari ini Anda harus banyak makan makanan bergizi, cukup serat dan vitamin agar nanti siap untuk pertarungan berikutnya. Em, repot juga ya jadi orang dewasa. Bertarung tak habis-habis."
Archilles Lucca tertawa terbahak-bahak. Natalie yang datang untuk pemeriksaan dikawal Agathias sampai keheranan. Saling pandang di muka pintu.
Ponsel berpindah.
"Halo, Sepupu. Namaku, Aizen Ryota Vincenti. Papa bilang saat kita bertemu, Anda akan beritahu aku mengapa namaku Aizen Ryota karena kamu tahu dari mana asal namaku."
Arumi tentu saja keheranan. Benarkah, Archilles tahu?
"Halo ..., Aizen Ryota," sapa Archilles. "Em, ya, kisahnya sangat menarik."
"Oh ya?"
"Ya. Di Jepang suatu waktu saat Tuan Laurent Vincenti bertemu beberapa orang Yakuza."
"Yakuza?"
"Akan aku ceritakan pada Anda. Termasuk nama Narumi dan Hanasita yang cantik."
"Oh baiklah. Sebelum aku lupa, tolong beri kepastianmu, kapan akan melamar Narumi Vincenti dan menikahinya?"
"Ya ya, Narumi menunggumu sejak aku lahir." Hanasita menyambung dari sebelah. Lagi-lagi sok tahu segalanya.
"Tolong jangan biarkan dia seperti jas Anda hanya dipajang saja. Digantung tanpa kepastian."
"Aizen Ryota? Dari mana bahasamu?"
"Memangnya dari mana aku dapatkan bahasa bagus kalau bukan dari Young, Narumi?"
"Oh, ya Tuhan."
"Mama! Papa!" Hanasita menjerit senang dan melompat turun dari sofa.
"Dengan siapa kalian bicara?" Suara Ibunya. "Apakah Juan Enriques? Bukankah kalian baru video call semalam?"
"Bukan, ini dengan Narumi," sahut Aizen.
"Oh, bisakah Mama bicara pada kakakmu, Aizen?"
"Coba aku tanya." Aizen kembali ke layar. "Mama ingin bicara."
"Em, aku harus pergi. Nanti saja ya," sahut Arumi.
"Eits, sabar dulu Narumi! Tolong berikan pada pacarmu."
"Ada apa lagi?"
"Berikan saja dulu!"
"Hai, Aizen?"
"Beritahu aku, kapan Anda akan melamar Narumi? Kami perlu latih berjalan seperti pengawal pribadi membawa kotak cincin. Anda akan berkenalan dengan Juan Enriques nanti. Tolong lupakan keranjang dan bunga. Astaga, terlalu feminim."
Pria menggigit satu sudut bibir. Tangannya bergerak mencari pegangan pada tangan Arumi. Menjalin erat.
"Bisakah aku minta tolong padamu, Sepupu Aizen?"
"Ya, katakan saja! Selama tidak merugikan Narumi, aku akan membantumu. Jangan sungkan."
Archilles Lucca berpaling pada Arumi. Menatap seolah hanya punya satu kesempatan saja. Tangannya terangkat dan mengecup tangan Arumi pelan.
"Tolong tanyakan pada Narumi ..., apakah Narumi bersedia pergi ke altar suci denganku di akhir pekan ini?"
Aizen Ryota tercengang di sebelah. Katupkan mulut dengan tangan. Mata batin bocah melotot. Sedang Arumi terlalu terkejut untuk berkata-kata.
Tuan Agathias dan Natalie masih mematung di tempat sejak kedatangan mereka.
Hening.
Lalu ....
"Papa! Mama! Narumi Vincenti akan menikahi Pangerannya di akhir Minggu ini! Tolong beritahu semua orang."
***