
"Iz-zik. Itu Ma - Ma?!"
Aurora dalam gendongan Itzik Damian. Arumi tahu bahwa cepat atau lambat ia akan bertemu Aurora tetapi tiba saat ia dipanggil Mama, ia gemetaran. Darah mengalir turun hingga ke mata kaki dan tulang-tulang seolah terkena serangan virus hingga ia tak lagi sanggup berdiri.
Terkutulah Itzik Damian!
Aurora, semula antusias kemudian berubah tidak nyaman. Dua tangan kecil memeluk leher Itzik Damian. Ia bersembunyi di sana.
"Ya, Aurora," sahut Itzik. Kesedihan itu menular. "Pergi pada Mama."
"No. Auu tatut, Izik."
"Why?!"
"Izik bilang mama suka Au? Why Mama tak senang, Izik? Apa Au belum cantik?"
Walaupun kosakata bayi satu tahun sembilan bulan itu sangat-sangat terbatas, tetapi bahasanya cukup jelas. Itzik Damian mungkin tak pernah gunakan kata-kata beremosi negatif semisal marah, kesal, jelek atau lainnya.
Aurora tetiba terisak-isak setelah kembali mengintip Arumi hanya mematung mirip seseorang terkena mantra mata Medusa.
"No, Mama cuma merasa sangat hebat. Au sudah besar sekarang. Sewaktu mama pergi kuliah di televisi, Au masih bayi. Belum bisa banyak bicara macam sekarang." Itzik Damian memeluk puterinya erat. Berikan penghiburan.
Rahang-rahang Arumi mengejang. Pikirannya kosong. Beberapa detik kemudian mata Arumi mulai banjir. Ia mudah menangis, hampir selalu menangis. Mungkinkah ini alasan ia jarang darah hidung lagi.
"Mama menangis Izik. Why?"
"Mama terharu."
"Apa itu terhalu, Izik?" Konsonan "r" yang tidak begitu jelas terdengar seperti l.
"Senang, gembira, macam Aurora sewaktu berhasil membangun istana."
"Jangan terhalu, Mama. Ada Au nanti jaga Mama."
"Puteri mama yang pintar," puji Itzik Damian berikan kecupan di pipi. Pria itu pelan-pelan turunkan Aurora. Bayi kecil beranikan diri melangkah pada Arumi.
"Ma ... ma ...." Suara Aurora seperti nama dari mana ia berhasil, sangat lembut. Menggetarkanmu oleh keindahannya hingga ke lubuk hati.
Arumi menyusut perlahan ke karpet. Ia berlutut di sana karena terlalu shock.
"Mama ..., ini Au!" Aurora akhirnya sampai.
Arumi rasakan sesak di dada. Jantung berdetak dua kali lipat. Napasnya pendek dan tidak teratur. Hanya melihat rupa kecilnya pada Aurora. Sangat mirip, kini dengan poni kumis kambing mungkin mirip Aruhi ketika kecil.
Arumi menangkup wajah sendiri dengan kedua tangan. Tangisannya pecah berkeping-keping.
Tuhan, tolong aku!
Tidak temukan cara mengelola dinamika emosi, ia tanpa batas pengendalian terlebih Arumi ketakutan.
Ia marah dan sakit hati pada Itzik Damian, ingin pergi ke puncak-puncak gunung dan mengutuki Itzik Damian.
Berani sekali!
Tetapi sentuhan tangan kecil Aurora berhasil surutkan angkara dalam diri. Bagaimanapun seolah hendak ingin Arumi bukakan pintu ampunan. Bahwa Aurora hadir sebagai takdir suci.
Tangan yang sama kini mulai genggam telunjuk pinta Arumi lepaskan perisai. Mata Arumi terbuka.
Aurora berkulit putih dan pucat bahkan setiap helaian rambut yang ada di wajah Aurora. Alis, bulu mata, rambut dan ada bintik-bintik kecokelatan di kedua pipi. Rambut seterang warna bulan. Arumi seketika jatuh cinta pada Aurora. Atau Itu adalah ikatan emosional antara Ibu dan Anak walaupun Arumi tak pernah mengandung dan melahirkannya. Bayi ini adalah miliknya.
Tak ada makhluk di muka bumi ini seindah Aurora. Benar kata Itzik Damian, Aurora seakan berasal dari semesta lain. Dunia paralel di mana para peri tinggal. Atau puterinya turun dari langit kutub Utara. Ketika Aurora sungguhan bosan hanya mainkan keajaiban warnanya di langit, ingin turun dalam rupa Dewi. Aurora terlalu unik dan tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Itzik Damian katakan Aurora tak wariskan kelainan, tetapi bukankah transparansi kulit Aurora adalah kekurangan melamin?
Atau mungkin tidak, karena kulitnya sendiri, Aruhi dan Hanasita sendiri putih pucat. Warna kulit Salsa Diomanta.
"Au ..., Sayangku. Izik dan Mama perlu bicara. Bisakah kita pergi main saja berdua?" Tatiana Sangdeto ulurkan tangan pada Aurora.
"No, Tatia," geleng Aurora tak mau. "Au ingin tahu, why mama menangis? Why?"
Aurora pindai Arumi, lalu usap air mata Arumi. Kibaskan basahan pada sweater pink-nya sendiri. Lakukan lagi sampai pipi Arumi kering. Wangi Aurora adalah wangi permen dari parfum permen. Arumi meneguk liur susah payah. Tenggorokannya sakit karena terlalu kering.
"Ma ... ma lapal?" tanya Aurora. "Mau makan?"
Arumi menggeleng.
Seakan tak percaya, bayi itu pergi ke perut Arumi dan dekatkan kuping di sana. Bangun.
"Apa Mama haus?" tanya Aurora lagi seperti tidak puas mengapa Arumi terus menangis dan terharu tanpa tamat-tamar juga? Kaki-kaki kecil berbalik ke meja, ia ambil botol air karakter miliknya. Kembali pada Arumi.
"Minum dulu ya!" Kesulitan pencet tombol botol. Ketika sedotan terlihat di permukaan botol, pelan-pelan dekatkan ke bibir Arumi.
"A a!" suruh Arumi buka mulut. "Jangan nangis lagi. Kalau haus bilang. Jangan pakai nangis. Minum, a a!"
"Tidak, Sayang." Arumi akhirnya bicara. Suaranya sungguh sengau. Ia tersenyum, air mata masih terus mengalir. Ia menyentuh rambut Aurora. Halus seperti beludru.
"Tunggu Au!"
Aurora berbalik pergi di atas kaki-kaki gemuk yang menggemaskan. Itzik Damian merawatnya dengan sangat baik.
Bagaimana bisa, Aurora adalah nama yang paling sering ia dengar setiap hari hampir selama satu tahun belakangan, tetapi tak pernah bayangkan kalau Aurora adalah Puteri dari sel telurnya yang disimpan untuk keadaan darurat.
Tangan Aurora meraih dot susu. Kembali berlari pada Arumi.
"Susu saja biar enyang ya. Cup cup cup. Jangan nangis lagi. Minum susu!" Aurora persis Itzik Damian suka memaksanya makan atau minum.
Aroma susu bayi menyergap ke hidung. Arumi tak begitu sukai, hanya sangat terharu. Ia menatap Aurora tak bisa hentikan tangisan, pada bayi yang memang menurut Itzik dipersiapkan untuk temani dirinya.
"Ayo minum."
Puncak benda itu sampai di bibirnya. Di pertemuan awal mereka, Aurora coba selesaikan masalah, mengapa Arumi terus saja menangis?
"Tidak mau? Oh, Au punya balok susun, mau? Au ambil, jangan nangis lagi ya!"
Aurora hendak pergi tetapi Arumi menahan tangan Aurora.
"Bisakah Mama peluk sebentar?" tanya Arumi tersenyum. Kepala berdenyut-denyut sakit. Ngilu hingga ke rahang dan sudut-sudut kepala.
"Mama mau bobo?"
Arumi mengangguk, "Ya."
"Oh, Au juga sering nangis kalo mau bobo. Semua orang nangis kalo mau bobo. Izik juga." Aurora menunjuk pada Izik. Arumi memeluk Aurora dan menciumi anak itu. Katupkan mata rapat-rapat. Di waktu terbuka, Itzik Damian sedang menatapnya. "Au sikat gigi dulu balu kita bobo, ya, Mama. Izik, Au sama mama saja." Aurora sangat senang.
"Baiklah, Tuan Puteri."
Pada akhirnya Arumi menggendong Aurora pergi ke kamar tidur. Apakah ia harus terkejut melihat foto-foto berukuran besar di kamar si bayi?
"Mama dan Papa ...," tunjuk Aurora riang pada pigura raksasa di mana ia dan Archilles Lucca hanya terlihat kasmaran dan jatuh cinta satu sama lain.
Apa yang akan terjadi saat ia menikahi Xavier Moon lusa pagi?
Apa yang harus dikatakannya?
"Papa, sudah sembuh? Au mau Papa juga."
Arumi ingat hari itu, ketika ia memakai gaun dipenuhi mawar dan Archilles menyulap rumah pohon mereka jadi begitu indah. Mereka mengambil tema "Me and My Bodyguard" dalam prewedding tujuh tahun lalu. Masa di mana pria itu adalah miliknya adalah masa paling berbahagia dalam hidupnya.
Lawan kesakitan ia mendorong pintu ruang mandi Aurora.
Di sana semuanya dipermudah oleh Itzik Damian. Aurora tak perlu bantuan naik ke wash back karena ukuran furniture disesuaikan dengan usia Aurora. Bahkan walk in closet. Aurora punya dalam versi mini. Itzik tidak main-main soal mengurus bayi. Pria ini sepertinya belajar dari cara Ayah Laurent.
Arumi ikutan menyikat gigi juga. Bersihkan wajah dengan air. Ia menangis di antara bunyi air karena Aurora punya produk yang sama seperti yang diberikannya pada Aizen dan Hana.
Dan cara Aurora membasuh wajah sangat menggemaskan. Lalu, Aurora tuntun ia kembali ke ruang tidur bernuansa biru langit. Itzik Damian di sana bersandar di pintu. Tak berani masuk.
"Piyama-mu di sebelah sana, Narumi."
Ada tiga piyama Mama, Papa dan Baby tersusun rapi berwarna biru cerah. Arumi menggendong Aurora. Ia tak tahan melihat galeri foto di dinding. Pada mata penuh cinta yang menatapnya syahdu dan pada kenyataan bahwa Archilles Lucca telah kehilangan dirinya. Ia akan pergi besok dan ia tak akan peduli jika pria itu datang lagi karena ia hanya akan nikahi Xavier.
Mendekap Aurora lebih kuat. Mereka bergabung di dining room. Itzik dan Tatiana termenung dalam sepi. Itzik Damian segera bangkit melihat Arumi datang dengan Aurora yang mulai menguap lebar. Serba salah.
"Mengapa tidak tidur di dalam saja?" tanya pria itu pelan.
Tak ada jawaban. Itzik Damian tahu jawabannya.
"Aku bisa turunkan fotonya."
Arumi tak berikan sahutan.
"Ma ma ... Ma ma ... Au doa dulu. Untuk Mama, untuk Papa, Izik dan Kei. Juga untuk Osa."
"Siapa Kei, Au?" tanya Arumi dekap erat Aurora di dadanya. Ciumi Aurora.
"Kei, pacal Izik. Adik Papa, ya. Dia cantik, cantik. Huammm." Menguap.
"Osamia ..., Ibu Au."
Arumi menatap tajam Itzik Damian. Ibu yang Aurora maksud mungkin adalah Ibu pengganti yang mengandung dan melahirkan Aurora.
Arumi berbaring memeluk Aurora di sofa sedang bayi itu menghirup dirinya lekas jatuh terlelap.
"Mimpi indah, Aurora," bisik Arumi berikan kecupan selamat malam di kening Aurora.
"Mimpi indah, Mama."
Tidak ingin pikirkan apapun. Arumi kelelahan jalani hari dan capek pada hidupnya sendiri. Pejamkan mata dan tidur sambil sesekali ciumi aroma Aurora.
"Narumi, maafkan aku karena sangat lancang." Tubuh mereka di selimuti tak lama kemudian. Itzik mengatur bantal di kepalanya. Bicara dengan suara rendah. Arumi tak mau membalas.
Itzik Damian menyentuh keningnya singkirkan helaian rambut dari sana.
"Singkirkan tanganmu dariku!" gerutu Arumi.
"Baiklah! Maafkan aku!"
Samar-samar di antara kantuk, ia melihat temannya duduk di sofa seberang hanya amati mereka.
"Archilles Lucca coba meredam masalah Aurora naik ke permukaan. Ia mengekang lidah Agathias dan Natalie agar tak umbar rahasia Narumi sehingga tidak sebabkan kekacauan yang dibuat olehmu. Dia memilih sakiti Narumi lebih dulu untuk kelabui musuhnya. Mainkan drama dan lakonkan peran antagonis agar dua orang ini percaya dan bisa menangkap maksud Agathias serta kumpulkan bukti tujuan dibalik sikap tersembunyi."
"Analisa yang bagus. Kamu bahkan tak gunakan kata mungkin."
"Keahlianku semakin tajam setiap hari. Aku terus mengasahnya karena Harimau Liar sangat licik. Aku perlu terus melatih semua inderaku."
"Aku penasaran."
"Pada apa yang akan kulakukan pada mereka?"
"Pada banyak hal lainnya juga. Agathias mungkin tidak sukai Narumi tetapi aku tak ingin percaya ia ingin sakiti Lucca. Pria itu tampak akan serahkan hidupnya untuk Lucca."
"Agen ganda."
"Pada siapa dia bertuan?"
"Mungkin berdikari. Sebelum Archilles datang. Agathias memegang kendali penuh atas Càrvado."
"Itu terlalu lemah. Terlebih kami mengobrol sepanjang malam dan rencanakan hal indah untuk Lucca dan Narumi. Termasuk konsep pernikahan. Aku tak percaya dia khianati Lucca."
"Kamu tak pernah sadar Agathias mencuri data dari ponselmu dan menyerangmu di waktu tak terduga. Dia bahkan bisa terobos sandi ponselmu dan dapatkan foto-foto Aurora."
"File tentang Aurora sangat rahasia."
"Bukti bahwa Agathias bukan pria biasa."
Itzik Damian bersandar di sofa. Tatapannya menerawang jauh pada lampu yang kini beralih lebih redup.
"Dia buat aku percaya bahwa dia mendukung Lucca. Sengaja biarkan pertemuan Lucca dan Narumi terjadi secara alami sedang dia menyusun siasat."
"Kita akan cari tahu. Bio kompatibel yang dipasang pada tubuh Archilles Lucca adalah yang paling mudah menyatu dengan jaringan otot dan tulangnya dengan sedikit resiko. Harusnya tidak butuh waktu bertahun-tahun untuk pulih."
"Saraf-saraf Lucca bermasalah sejak kecelakaan di gudang."
"Agathias adalah satu-satunya pelaku yang menaruh peledak di mobil Salsa Diomanta."
Itzik Damian menoleh pada Tatiana. Terdiam untuk waktu lama.
"Apakah kamu serius?"
"Aku hanya gilai skenario paling spekulatif dalam sebuah cerita."
"Mengapa aku percaya itu bisa saja terjadi."
Tatiana menengok Arumi dan Aurora. Mulai berbisik. "Termasuk berharap Aurora sungguhan puteri Archilles Lucca. Kamu terlalu nekat, Itzik Damian!"
"Aku berusaha dapatkan sel 5p3rm4 Lucca tetapi pria itu hidup selibat selama tujuh tahun dan mungkin tidak m4n5turb451 macam pria normal."
"Waras sedikit!" balas Tatiana menggerutu. "Tak ada manusia peduli pada kebutuhan biologis selagi dia kritis. Terlebih yang kamu bicarakan adalah Archilles Lucca. Aku merayunya tiga empat kali dan imannya terlalu kuat pada Narumi. Padahal, dia bisa saja tidur denganku. Arumi Chavez agak bodoh dan mudah ditipu. Pria itu tak curang."
"Sepasang kekasih ini berbagi keteguhan. Kurasa mereka sama-sama bodoh karena cinta."
"Kamulah yang terbodoh, Itzik." Tatiana mencela Itzik Damian. "Dan, meskipun ada milik Lucca, Natalie Yora mungkin telah dapatkan untuk dirinya sendiri. Natalie bisa memungut satu dua sel lalu mengarang cerita dan ciptakan dramanya. Misal, Archilles sangat rindukan Narumi hingga ingin bercinta tanpa sadar dan Archilles Lucca melihatnya sebagai Narumi. Kisah klasik."
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku tak tahu. Narumi akan nikahi Xavier Seth Moon lusa pagi. Ia telah lepaskan Archilles Lucca dan tekadnya bulat."
"Lakukan sesuatu, Tatia! Narumi tak akan mau dengarkan aku karena marah padaku."
"Dengar, jangan lakukan apapun! Biarkan saja!"
"Kamu masih inginkan Archilles Lucca?!"
"Oh, ya? Aku terkejut pada diriku sendiri." Tatiana berdecak. "Aku tak akan segila dirimu, Itzik. Bersumpah demi Tuhan, tak mau ambil bagian buat dua orang ini menderita. Apakah kamu tak iba padanya? Narumi akan putuskan sendiri, kamu tak boleh terus-terusan mendorongnya pada kesakitan."
"Aku tak bisa biarkan Xavier nikahi Narumi. Aurora tak akan mudah menerima pria asing lain. Ingatan Aurora hanya pada Mama dan Papa, Narumi dan Lucca. Aurora sangat kritis."
"Itzik Damian, jangan coba halangi pernikahan ini. Aku punya insting, kita akan segera bertemu siapa 'sutradara' hebat dari cerita ini."
"Bagaimana dengan Abercio Jacquemus? Aku masih curiga padanya? Ingat bagaimana dia membeli Raul Lucca? Hanya Abercio yang paling sakit hati pada situasi di masa lampau."
"Tujuh tahun dengan kritis. Hanya bernapas tetapi tak pernah bangun."
"Apa kamu yakin? BM saja tak bisa temukan Abercio."
"Dia berada di sebuah kuil di China. Tempat itu di blur dari satelit atau lainnya."
"Bunuh saja dia!"
"Andai saja segampang ucapan." Tatiana menggeleng. "Kakaknya bukan lawan yang mudah, Itzik. Sebelum aku mencapai kuil, aku mungkin telah ditembak dengan panah beracun."
Hening.
"Mengapa tak jujur saja pada Aurora tentangmu?" tanya Tatiana lagi. Mereka masih berbisik. Tak ada yang mau tinggalkan Arumi dan Aurora walaupun rumah itu miliki keamanannya sendiri.
"Aku akan segera mati."
"Kamu bukan Pencipta."
"Aku rasakan hari-hari mulai semakin habis."
"Bagaimana dengan Chaterine?"
"Aku beritahunya kondisiku. Katanya kami bisa pergi bersama ke Amerika dan dapatkan perawatan. Bersama dan saling mendukung."
"Manis sekali. Kamu tak bisa mati begitu saja sedang Aurora bergantung padamu. Kamu paling bertanggung jawab karena lahirkan kehidupan baru."
"Narumi tak punya pilihan lain kini selain terima perawatan demi Aurora."
"Keras kepalanya mungkin berakhir." Tatiana menoleh pada Arumi. Kembali pada Itzik. "Apa Chaterine sungguh tak tahu bahwa sesuatu terjadi di rumahnya?"
"Chaterine terlalu polos dan lugu, Tatia. Dia bahkan mungkin tak sadar hidup bersama serigala berbulu domba. Chaterine berada dalam ruang tidurnya 24 jam sehari. Aku tak bisa buat dia ketakutan dan lakukan sesuatu tang berbahaya."
"Oh, apa itu berarti dia tak bisa punya anak?"
Itzik Damian mengangguk. "Mungkin bisa. Tetapi, sangat beresiko karena pendarahan akan buatnya mati kehabisan darah."
"Kurasa kamu bisa gunakan teknik yang sama seperti Aurora."
"Kami memikirkannya, tetapi terlalu takut. Bayangkan jika bayi kami miliki penyakit Chaterine dan aku secara bersamaan?"
"Jangan ciptakan kehidupan menyedihkan seperti itu!"
Arumi mengangkat kepalanya dari bantal.
"Apa kamu berdua akan berbisik sampai pagi?"
Kedua orang saling pandang. Cukup terkejut.
"Kamu belum tidur?" tanya Tatiana. "Apa kamu mungkin dengarkan kami?"
Arumi letakan kepala di bantal. Menutup mata.
"Tidak. Aku dengar kamu mengatai seorang gadis bernama Arumi Chavez yang bodoh dan mudah ditipu. Untungnya aku bukan dia!"
Tatiana dan Itzik Damian saling pandang.
"Apa kamu tahu apa yang akan terjadi besok dan lusa?" tanya Arumi di puncak kepala Aurora. Ia mengecup Aurora. "Bisakah seseorang beritahu aku?"
***