
"Archilles ...."
Beberapa malam lalu, Tuan Maurizio pergoki ia ketika ia pulang dari bertarung. Menyelinap masuk berpikir tanpa ketahuan. Betapa terkejut, Ayahnya menunggui di kamar tidurnya. Tuan Maurizio menegur. Tak ada penghakiman, atau marah, apalagi kesal. Hanya sesuatu yang lebih kelabu dari itu.
"Anda belum tidur, Tuan?" tanya Archilles Lucca gugup.
"Ya, Nak. Aku menunggumu. Aku takut sesuatu yang buruk menimpamu."
Archilles Lucca terdiam. Sangat memalukan karena ia lompati pagar vila agar bisa masuk ke dalam rumah.
"Ini semua salahku." Sisi lembut Maurizio Lucca bicara padanya dengan kesedihan mendalam.
"Tuan ..., maafkan aku membuat Anda khawatir."
"Aku terus sesali hari itu, Archilles. Harusnya aku bisa mengenali puteraku sendiri."
Archilles Lucca terdiam di tempatnya berdiri.
"Maafkan aku, Tuan, sebab aku tidak sesuai harapan Anda." Archilles berucap pelan.
"Kita bisa perbaikinya, Archilles Lucca. Jika, kamu benar-benar ingin buat Ibumu bahagia. Jangan pikirkan aku. Ibumu telah sangat menderita. Kini, ia melihat hari baru dengan pandangan berbeda. Lebih berseri-seri. Semuanya karenamu, Archilles."
"Aku punya beberapa urusan yang harus aku bereskan, Tuan." Archilles berterus terang.
"Baiklah, selesaikan, Archilles! Aku akan mendukungmu. Aku tak akan bertanya apapun, aku percaya kamu dapat atasi segalanya dan akan mulai kehidupan baru bersama kami di Càrvado. Aku akan bawa ibumu kembali besok karena adikmu adalah hal lain yang butuh perhatian khusus."
"Baiklah, Tuan."
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Tuan Maurizio walau dalam kegelapan, tatapan tajamnya seakan mampu kenali luka di wajah Archilles.
"Ya, Tuan!"
Tuan Maurizio tidak percayaan, menekan saklar listrik hingga mudah memantau wajah Archilles Lucca.
"Tunggu di sini dan jangan coba kemana-mana, Nak!"
Tuan Maurizio kembali dengan sekotak obat kesehatan.
"Kemarilah!"
"Aku bisa sendiri, Tuan," tolak Archilles Lucca. Nyatanya ia memang mandiri menyangkut luka di tubuhnya.
"Duduklah!" suruh Tuan Maurizio tidak ingin kompromi. Pria itu menuang cairan ke dalam kapas dan pelan-pelan mengusap wajah berdarah Archilles Lucca.
"Dalam benakku, puteraku hanya akan tinggal mewarisi lahan luas milikku yang menjadi haknya dan mengurus administrasi harta kekayaannya serta merawat adik-adiknya. Puteraku tak kenal dengan dunia hitam berisikan kekerasan. Di mana, nyawa adalah taruhan. Aku sungguh sungguh menyesal atas segala yang terjadi padamu, Archilles."
"Maafkan aku," jawab Archilles tak meringis sedikitpun saat ujung cotton buds dicelupkan ke dalam obat merah dan Ayahnya yang lembut oleskan pada setiap luka yang ia punya.
Seumur hidup ia tak dapatkan perlakuan seperti ini kecuali dari Martha Via. Satu lagi dari pacarnya yang terlalu polos sehingga, gunakan plester tempeli dirinya. Ia ingin tersenyum mengingat gadis itu tetapi takut disangka kurang waras oleh ayahnya sendiri.
"Aku akan pahami bahwa kamu sedang perjuangkan sesuatu yang kamu yakini."
Hebat, Tuan Maurizio mengerti dirinya tanpa repot-repot ia beritahu.
"Tuan Maurizio, aku punya sebuah permintaan khusus pada Anda dan Nyonya Nastya," ujar Archilles sebelum Tuan Maurizio berlalu dari kamarnya.
"Beritahu aku, Archilles."
"Kakek dan nenekku, Tuan Zevas dan Grenny Lucia ..., biarkan keduanya juga menerima cinta kasih dan perhatian Ayah - Ibuku. Mereka telah besarkan aku dengan begitu banyak pengorbanan dan aku belum lakukan apapun sebagai balas jasa bagi keduanya."
Archilles tanpa sengaja ucapkan kata-kata itu, Ayah dan Ibu, hingga Tuan Maurizio Lucca menahan napas. Mereka berbagi tatapan dalam dan tak menentu. Tuan Maurizio kemudian tersenyum penuh kebahagiaan.
"Apapun keinginanmu, Sayangku. Sebenarnya, sebelum kamu meminta, aku dan ibumu telah sepakat akan bawa keduanya bersama kita agar kebahagiaanmu dan Zefanya semakin lengkap."
Archilles Lucca tak mampu sembunyikan sukacita.
"Terima kasih banyak."
"Mari kita bertemu lagi nanti di Càrvado. Aku akan umumkan pada dunia tentangmu. Semua keluarga kita akan berkumpul dan rayakan kehadiranmu di hidup kami. Sekarang tidurlah, Archilles Lucca! Semoga mimpi indah."
Begitulah, Archilles berpisah dengan Tuan dan Nyonya Lucca. Ibunya berdiri di pintu villa dan bersandar dengan air mata meluruh karena tak ingin berpisah. Ibunya bahkan tak bertanya mengapa wajahnya lebam dan lecet? Ibunya siapkan banyak bekal untuk ia bawa. Hidangkan sarapan terbaik dan tak berhenti menatapnya sepanjang ia makan hingga ia nyaris tersedak. Archilles berjanji akan secepatnya berkunjung dan bersama kedua ornag tuanya.
💌 : Archilles, lihat ini!
Sebuah pesan masuk dari Zefanya, kagetkan dirinya. Archilles tiba di biara setelah delapan jam panjang naik kereta. Ia menghadap kepala sekolah dan pamitan untuk tinggalkan sekolah karena menikah. Tidak bisa pergi begitu saja sebab ada tugas dan kewajiban yang musti diemban.
Dia punya dua bulan mengajar sambil memburu sisa pelaku. Juga akan mengisi dua bulan panjang rindukan kekasihnya. Apa yang sedang Arumi Chavez lakukan malam ini? Harusnya ia ijinkan Arumi Chavez ikut dengannya. Mereka bisa tinggal bersama di penginapan.
Tidak, Archilles. Aturan di sekolah ini sangat ketat. Ia tak bisa pertaruhkan nama baik sekolah karena sikap tidak dewasanya.
Sebuah pesan gambar masuk ke ponsel dari Zefanya.
"No! No! No! Apa ini?" keluh Archilles pada dirinya sendiri.
Archilles Lucca lekas menelpon Zefanya.
"Kamu sudah sampai di Spanyol, Archilles?"
"Ya. Sudah sejak empat hari lalu."
"Perjalananmu pasti melelahkan."
"Tidak juga. Aku telah terbiasa."
"Apa kamu sudah masuk mengajar?"
"Ya, Zefanya."
"Baiklah. Aku kirimkanmu foto hasil kreasiku. Sudah lihat, Tuan Muda?" tanya Zefanya ragu-ragu, cemas tetapi penuh selidik.
"Ya. Aku ingin bertanya? Mengapa? Bukankah aku menyuruhmu menaruh banyak rumus di poster Ethan Sanchez? Mengapa jadi begini?"
"Oh ya Tuhan, permintaanmu sungguh aneh," keluh Zefanya.
"Bukan kehendak pribadiku tetapi Ethan Sanchez. Aku tak perlu mengulang syarat kita dapatkan fotonya, kan, Zefanya Lucca? Tolong jangan permalukan aku."
"Cukup poster Einstein berisi rumus fisika. Setiap hari saat pandanganku tertuju ke white board aku melihat setengah dari rumus eksata ada di sana. Mereka berpindah dengan cepat penuh sesak di otakku."
Alih-alih menaruh rumus matematika atau fisika, Zefanya gabungkan foto pasnya dan foto Ethan Sanchez hasilnya mirip foto close up pasangan akan menikah ke kantor catatan sipil. Dengan penuh percaya diri kirimkan pada kakakknya.
Archilles hanya tak habis pikir.
"Zefanya?"
"Apa perlu tambahkan beberapa ayat rumusan ke dalam wajah pacarmu? Jangan konyol. Hanya, merusak pemandangan saja."
"Pacar? Siapa?" Archilles duduk di tepi ranjang. Berdecak panjang.
"Siapa lagi?"
"Zefanya ..., pria ini 18 tahun dan berapa usiamu, Bocah?"
"10 tahun," sahut Zefanya. "Lima tahun lagi, aku seumuran Nona Arumi Chavez saat jatuh cinta pada kakak laki-lakiku yang berusia 24 tahun. Berapa usiamu, Tuan Muda?"
"Bocah ini! Tak boleh pacaran sampai usiamu 25 tahun."
"Ya ampun, Archilles. Aku butuh bersenang-senang. Mengapa kamu selalu anggap serius segala sesuatu?" Tertawa geli dari sebelah. "Lagipula, temanmu tak akan menyadari bahwa aku menyukainya. Aku bahkan tidak bisa mengirim telepati sekalipun aku pelototi posternya hingga mataku bernanah."
"Hentikan kekonyolanmu, Zefanya. Ingat belajar dan jangan buang-buang waktu juga tenagamu berpikir tentang pacaran."
"Iyah, tahu. Sudah aku bilang, aku akan jadikan dia tombol panas untuk mendorongku semangat belajar."
"Okay, aku kehabisan kata."
"Ayolah, kakak lelakiku adalah tempat curahan terbaik. Kamu akan tahu kalau aku kelewat batas dan ingatkan aku."
"Ya ya ya, terserah kamu."
Ketukan di pintu.
"Zefanya, aku harus pergi."
"Baiklah. Selamat malam, Archilles. Aku menyayangimu."
Archilles Lucca pergi ke pintu. Guru Daniel berdiri di ambang dengan jubah berwarna krem di tangan. Mereka baru saja bertemu di ruang makan dan mengobrol banyak hal.
"Anda diminta dampingi Padre Dominic pergi ke penjara untuk sakramen Pengurapan, Guru Lucca."
"Oh, apa salah seorang narapidana sakit?"
"Ya, Guru Lucca. Aku ada bimbingan kelompok malam ini untuk kelas persiapan ujian."
"Baiklah, aku perlu bersiap. Pakaian apa yang harus aku kenakan?"
"Jubah Lektor, Guru Lucca. Anda akan bacakan firman dan sedikit renungan untuk yang sedang sakit." Guru Daniel sodorkan jubah dan sebuah buku panduan.
Dalam sepuluh menit, Archilles mengemudi. Di sisinya Padre Dominic duduk dengan tenang. Cuaca dingin sama seperti terakhir kali ia tinggalkan tempat ini.
"Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu krisis energi di musim dingin?" Padre Dominic bertanya dari seberang.
Archilles Lucca menggeleng. Sedang, dalam biara mereka hanya mengandalkan perapian untuk mencegah dingin. Juga selimut tebal.
"Kita perlu berkunjung ke rumah beberapa warga untuk pastikan mereka tidak kedinginan dan kelaparan."
"Anda bisa tinggal di biara, Padre," sahut Archilles. Padre Dominic cukup renta untuk berkeliling. "Aku akan gantikan Anda selepas pulang sekolah."
"Anak muda yang berbakat. Ada banyak tempat di biara jika kamu berminat."
"Aku mencintai seorang gadis enam-belas-tahun, Padre."
"Bersatulah dalam ikatan suci. Beranak cuculah seperti bintang di langit dan pasir di laut. Penuhilah bumi dan diberkati-lah."
Archilles Lucca tersenyum. Hati lebih hangat terlebih bayangan gadis itu merayunya di lantai rumah pantai lewat di pelupuk mata. Namun, bukan hanya Arumi Chavez. Zefanya Lucca menyusul di belakangnya.
Astaga. Bagaimana bisa gadis itu menyebut Ethan Sanchez, pacar? Cinta pertama? Ya Tuhan, sebaiknya Archilles Lucca mengirim Zefanya ke sekolah khusus Puteri entah di Inggris atau di Spanyol, di bawah asuhan para biarawati yang disiplin tinggi hingga adiknya berhenti macam-macam terlebih tak guna-guna pikirkan Ethan Sanchez.
Lima menit berselang mereka sampai di pintu penjara dan diijinkan masuk. Archilles Lucca telah diam-diam selipkan sebuah pistol berperedam di balik jubah dan mantel dinginnya.
"Tuhan adalah gembalaku, aku tak akan berkekurangan. Ia membaringkan aku di Padang yang berumput hijau."
Padre Dominic di sisinya. Archilles tak sepenuhnya ikuti kegiatan karena ia pikirkan hal lain. Membaca peluang dan ia sedang temukan cara agar bisa lenyapkan dua orang iblis tersisa di dalam penjara. Dendamnya masih segar.
Otaknya menganalisa cara masuk ke penjara paling aman tanpa ketahuan. Gunting kawat berduri dan menyelinap masuk?
Ibadah selesai dengan cepat. Archilles minta ijin menemui teman-temannya. Mengobrol dengan Pak Tua Robin.
"Di mana Alex?"
"Archilles, Alex dibawa pergi oleh sipir penjara dan dua hari ini dia tidak kembali ke kemari."
"Di mana Tuan Robby?" Archilles ingat sipir penjara baik hati yang berpihak pada mereka.
"Beliau dinon-aktifkan dari tugas sementara waktu. Archilles lakukan sesuatu! Ketua geng dikeluarkan beberapa waktu lalu dan sisanya lebarkan taring mereka."
"Baiklah. Aku akan menemukannya."
Berjalan di sisi lorong pegangi benda-benda suci, ia akan diijinkan lewat. Namun, ia butuh sesuatu untuk pecahkan konsentrasi para penjaga.
Nyalakan alarm yang ada di salah satu dinding hingga pintu-pintu penjara menjadi terbuka. Para narapidana berlarian. Kerusuhan segera dimulai. Archilles Lucca pergi ke tempat di mana ia dimasukan ke penjara pertama kali. Ia punya waktu sepuluh menit.
Tak salah kira. Alex terkejut saat melihat ia datang begitupula manusia brengsek lainnya.
Senyum lemah wakilkan setiap kesakitan pria itu. Archilles Lucca rasakan hatinya rapuh melihat kondisi temannya. Ia mendadak sukai ide menjadi pembela kaum-kaum lemah dan tertindas. Apakah ia perlu berubah haluan dari pakar ekonomi menjadi ahli hukum? Bekerja di sebuah lembaga untuk mendukung hak-hak hidup orang tertindas. Atau apakah Alex pantas dapatkan kehidupan model begini?
"Lepaskan dia!"
Dua pria iblis bergeming. Mereka baru selesai memperdaya Alex. Anggota mereka bertambah kini menjadi empat orang.
"Kamu kembali?"
"Ya. Temanmu terbunuh. Kini giliranmu!"
"Oh, bukankah ini tahanan 53k51 itu?" tanya seorang pada yang lain.
"Apakah kamu ingin bergabung?"
Archilles Lucca keluarkan senjata ber-peredam.
"Yang ingin hidup menyingkir ke sebelah kanan! Dan yang ingin mati diam di tempat!"
Keempat pria berpikir Archilles bercanda. Tidak mungkin membunuh narapidana dalam lapas. Itu terlalu nekat dan berani.
"Baiklah, kalian semua ingin mati rupanya. Selamat tinggal."
Tanpa banyak basa-basi menembak mati keempat pria langsung di tempat. Alex sampai ketakutan.
"Kamu terlihat seperti orang berbeda, Archilles Lucca?"
"Sisi lain diriku yang gelap dan tak aku mengerti."
Archilles Lucca selundupkan kembali Alex kembali ke ruangan setelah mengatur kematian seakan keempat orang itu saling menembak.
"Aku berharap kamu segera sembuh, Alex."
"Keluar dari sini, Archilles, sebelum petugas menemukanmu! Si ketua geng apakah ...."
"Kami bertemu. Aku telah memenggal semua jemarinya hingga buntung. Hiduplah dengan baik, Alex."
Padre Dominic menunggunya di luar. Menjelang malam kini. Lampu-lampu dinyalakan. Petugas meminta mereka segera pergi karena situasi darurat.
Mobil butut kembali menyusuri jalanan malam kembali ke biara. Mobil dimasukan ke dalam garasi, ponselnya berdering. Ia melirik dan temukan panggilan video berasal dari Tatiana.
Apakah ada yang penting?
Atau wanita itu hanya ingin mulai menggombal?
Archilles abaikan, bersisian dengan Padre Dominic menuju ke halaman dalam biara.
"Bertekunlah bagi pertobatan orang-orang berdosa di seluruh dunia, Anak Muda. Terlebih mereka yang berada di penjara agar dapatkan pengampunan Tuhan," kata Padre Dominic. "Aku tak habis pikir kehidupan gelap seperti apa yang dibawa di dalamnya? Syukurlah kamu telah pergi dari sana."
Ponsel bergetar berturut-turut.
"Kamu pasti baru saja menerima pesan."
"Ya, Padre."
"Sampai jumpa besok, Anak Muda."
Archilles pergi ke kamar. Memeriksa pesan gambar.
Foto Arumi Chavez sedang duduk di sofa depan ruang tidur gadis itu dengan wajah cemberut. Sayangnya, foto itu ia dapat dari nomer ponsel Tatiana.
💌 : Ada seseorang yang bukan milikku tetapi dia tinggal di hatiku. Bukan takdirku tapi melekat di pikiranku. Betapa aku merindukanmu.
💌 : Apa yang kamu lakukan di mansion Diomanta?
Archilles Lucca tak bisa menahan diri untuk membalas pesan karena ia penasaran. Ia mungkin curiga Anna membawa Hedgar menemui Arumi Chavez sebab Piglet yang murka mungkin bisa menarik Anna jauhi Hedgar. Tetapi, bawa-bawa Tatiana?
💌 : Kamu abaikan hatiku, tidak masalah, Baby. But, tak ada maaf bagimu melanggar janji.
💌 : Tak ada janji yang aku langgar. Aku tidak menyentuh Hedgar. Piglet punya urusannya sendiri.
💌 : Aku menerima alasanmu hanya karena aku mencintaimu
💌 : Cintamu mengganggu! Tolong hentikan! Apa yang kamu lakukan di mansion Diomanta?
💌 : Kakak iparku sangat ingin saudaraku membungkuk di kaki kekasihmu dan minta maaf. Aku melihat kesempatan yang bagus untuk mengusik Arumi Chavez. Akan aku ceritakan dongeng yang indah tentang kita padanya.
💌 : Kamu tak akan mengganggunya dengan bualan-mu!
💌 : Ya Tuhan, manis sekali. Aku ingin katakan padanya bahwa aku menciummu suatu malam di rumah nenekmu. Aku yakin Arumi Chavez akan menangis meraung-raung dan membencimu.
💌 : Tatiana berhenti bercanda!
💌 : Baby, kamu baru saja memanggil namaku.
Oh ini, gila. Keluh Archilles Lucca menelpon Arumi Chavez tetapi sepertinya ponsel gadis itu tidak dibawa serta.
Sementara Arumi Chavez tak bisa mengusir tamu yang terus menatapnya tanpa kedip. Tanpa perlu perkenalan Arumi Chavez kenali wanita ini namanya Tatiana Sangdeto. Dia datang bersama Anna Marylin dan suaminya, Tuan Hedgar Sangdeto.
"Para orang tua bicara di bawah sana. Mengapa Anda masih di sini?" tanya Arumi Chavez sedikit mengusir.
Tatiana tersenyum, menyipit pada gadis lima-belas-tahun. Menilai dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Oh astaga.
Apa yang Baby Lucca pikirkan? Jatuh cinta pada balita?
"Kamu tidak ingin tahu kabar tentang temanku? Itzik Damian korbankan kakinya untuk selamatkanmu." Tatiana melipat tangan di depan dada.
"Pertukaran di antara kami adil."
"Aku penasaran."
"Tanya saja padanya," sahut Arumi Chavez tidak suka pada Tatiana tetapi tidak ingin memusuhinya. Hanya ingin ditinggal sendirian. Namun, wanita ini seperti penasaran padanya. Kata Itzik Damian, di dunia Tatiana, Archilles Lucca adalah milik Tatiana Sangdeto. Apakah itu Archilles? Yang kirimkan pesan, sebab Tatiana berbunga-bunga pada ponselnya.
Demi Tuhan, Arumi Chavez cemburu jika benar adanya.
"Aku dekat dengan Archilles Lucca." Tatiana berkata makin bikin Arumi jengkel.
"Ya, aku tahu."
"Kamu mengada-ngada."
"Tidak. Di duniamu, Archilles Lucca adalah milikmu. Bukankah itu konsepnya?"
"Oh?!" Tatiana terkejut.
"Archilles sering ceritakan tentangmu. Trims sudah selamatkan Uncle H dan Archilles." Padahal Archilles tak bilang apapun. Arumi juga tak sepenuhnya tahu. Ia hanya mendengar dari Itzik Damian dan percakapan orang rumah.
"Begitukah? Dia sungguh katakan segalanya padamu tentangku?"
"Hu-uh! Siapa saja yang dekat dengannya. Dia akan beritahu aku."
"Oh, mencengangkan."
"Jangan terkejut, Tatiana. Kamu tidak lebih berbahaya dibanding Eva Romero."
"Eva?!"
Arumi Chavez mengangguk, tadinya Tatiana ingin menggertak. "Aku pikir kamu tahu segalanya tentang suamiku!" Menggertak balik.
Tatiana nyaris tersedak oleh banyak hal lekas tersenyum geli. Arumi Chavez tidak takut padanya. Menggelikan gadis itu menyebut Archilles Lucca, suaminya, dengan rasa percaya diri tinggi.
"Ya, aku yakin aku tahu segalanya tentang Archilles. Kami selalu bersama dalam beberapa urusan."
"Kecuali tentang Eva ...." Arumi Chavez mencela wanita di depannya. Ia ingin mengambil ponsel dan menelpon Archilles. Awas saja. Terlebih foto Archilles hanya gunakan celana b0x3r ada di wallpaper depan ponsel Tatiana. Arumi Chavez kepanasan. Brengsek itu. Awas saja dia.
Tatiana menyipit. Baru ingin membalas. Anna Marylin berdiri di pertengahan tangga mendongak ke arah mereka.
"Tatiana, kamu mau ikut kami pulang atau membual tentang Archilles Lucca di sana?"
Anna Marylin memang suka memotong kesenangannya. Tatiana merengus. Akhirnya Anna Marylin sampai di lantai atas.
"Arumi Chavez, pergilah tidur dan jangan buang-buang tenagamu dengarkan adik iparku. Dia terus menguntit Archilles Lucca meski pria itu menolaknya dengan kasar."
"Ya, bisa aku lihat," balas Arumi Chavez berdecak berpaling pada Tatiana. "Sampaikan salamku untuk Itzik Damian. Katakan padanya, aku telah siapkan tempat baginya untuk menjadi admin fanpageku."
"Admin fanpage? Dia hampir mati terbunuh dan kini susah berjalan hanya agar bisa jadi admin fanpagemu?"
***
Oh, I am sorry Dear. Doakan kesembuhanku ya.... Aku minta maaf sebelumnya.